Kegiatan Penyuluhan

Kegiatan Penyuluhan Perikanan Bertujuan Meningkatkan Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan Pelaku Utama dan Pelaku Usaha Perikanan.

Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP)

P2MKP Memberdayakan Pelaku Utama Perikanan dan Masyarakat.

Pelatihan Kelautan dan Perikanan

Meningkatkan keterampilan para pelaku utama kelautan dan perikananm.

AUTO MATIC FEEDER

Solusi Memberi Makan Ikan Menjadi Mudah Dan Tepat.

Monday, August 20, 2018

Mengenal Ikan Baung

Dalam rangka peningkatan taraf hidup masyarakat, khususnya petani/nelayan, kegiatan budi daya ikan merupakan salah satu alternatif yang dapat ditempuh. Kegiatan budi daya beberapa jenis ikan, seperti ikan mas, nila, mujair, gurame, lele, dan patin sudah umum dikembangkan di masyarakat.

Salah satu jenis ikan yang sangat potensial untuk dibudidayakan adalah ikan baung. Ikan baung adalah sejenis lele (catfish) yang hidup di perairan umum, seperti sungai (dari hulu sampai ke muara) dan danau. Di Indonesia, ikan baung cukup populer dan amat digemari oleh konsumen, khususnya di Sumatra dan Kalimantan karena berdaging tebal dan memiliki rasa yang khas.
Ikan baung [sumber]
Harga satu kilogram ikan baung ukuran konsumsi (1/4 kg - 1 kg) adalah Rp 15.000,00 sampai Rp 40.000,00 sedangkan dalam bentuk ikan salai (asap) dapat mencapai Rp 90.000,00/kg. Karena nilai ekonomisnya tinggi, ikan baung senantiasa diburu dan ditangkap. Sampai saat ini, penyediaan ikan baung untuk konsumsi masih diperoleh dari penangkapan di alam. Ekploitasi alam tanpa memperhatikan kelestarian tentu akan menurunkan populasi ikan baung, bahkan dapat mengakibatkan kepunahan. Gejala kepunahan ikan baung sudah dirasakan oleh masyarakat Sumatra Tengah (Riau, Jambi, dan Bengkulu), Sumatra Selatan, dan Kalimatan.

Klasifikasi Ikan Baung
Ikan baung diklasifikasikan ke dalam Phylum Chordata, Kelas Pisces, Sub-kelas Teleostei, Ordo Ostariophysi, Sub-ordo Siluroidea, Famili Bagridae, Genus Macrones, dan Spesies Macrones nemurus CV. (Saanin, 1968). Menurut Imaki et al. (1978), ikan baung dimasukkan dalam Genus Mystus dengan spesies Mystus nemurus CV.
Ikan baung [sumber]
Sinonim Mystus nemurus adalah Bagrus nemurus CV., Bagrus hoevenii Blkr., Bagrus sieboldi Bikr., Hemibagrus nemurus Bikr., Macrones nemurus Gunther., Macrones bleekeri Volza., Macrones howony Popla., dan Macrones borga Popla (Weber and de Beaufort, 1965).

Di daerah Karawang, ikan baung dikenal dengan nama ikan tagih atau senggal, sedangkan di Jakarta dan Malaysia dikenal sebagai ikan bawon, senggal, singgah, dan singah (Sunda/Jawa Barat); tageh (Jawa); boon (Serawak); niken, siken, tiken, tiken-bato, baungputih, dan kendinya (Kalimantan Tengah); baong (Sumatra) (Weber and de Beaufort, 1965; Djajadiredja et al., 1977).

Morfologi Ikan Baung
Ikan baung mempunyai bentuk tubuh panjang, licin, dan tidak bersisik, kepalanya kasar dan depres dengan tiga pasang sungut di sekeliling mulut dan sepasang di lubang pemafasan; sedangkan panjang sungut rahang atas hampir mencapai sirip dubur.
Ikan baung [sumber]
Pada sirip dada dan sirip punggung, masing-masing terdapat duri patil. Ikan baung mempunyai sirip lemak (adipose fin) di belakang sirip punggung yang kira-kira sama dengan sirip dubur. Sirip ekor berpinggiran tegak dan ujung ekor bagian atas memanjang menyerupai bentuk sungut. Bagian atas kepala dan badan berwama coklat kehitam-hitaman sampai pertengahan sisi badan dan memutih ke arah bagian bawah

Daerah Penyebaran Ikan Baung
Distribusi ekologis ikan baung, selain di perairan tawar, sungai, dan danau, juga terdapat di perairan payau muara sungai dan pada umumnya ditemukan di daerah banjir. Ikan baung berhasil hidup dalam kolam yang dasarnya berupa pasir dan batuan (Madsuly, 1977). Di Jawa Barat, ikan baung banyak ditemukan di sungai Cidurian dan Jasinga Bogor yang airnya cukup dangkal (45 cm) dengan kecerahan 100 %. 

Distribusi geografis ikan baung, selain di perairan Indonesia, juga terdapat di Hindia Timur, Malaya, Indocina, dan Thailand.

Pakan dan Kebiasaan Makan Ikan Baung
Ikan pada umumnya mempunyai kemampuan beradaptasi tinggi terhadap makanan dan pemanfaatan makanan yang tersedia di suatu perairan. Dengan mengetahui kebiasaan makan ikan, maka kita dapat mengetahui hubungan ekologi organisme dalam suatu perairan, misalnya bentuk-bentuk pemangsaan persaingan makanan dan rantai makanan.

Beberapa penelitian menunjukan bahwa ikan baung termasukjenis ikan karnivora dengan susunan makanan yang terdiri atas ikan, insekta, udang, annelida, nematoda, detritus, sisa-sisa tumbuhan, atau organik lainnya. Susunan makanan ikan baung dewasa berbeda dengan susunan makanan ikan baung anakan. Makanan utama ikan baung dewasa terdiri atas ikan dan insekta, sedangkan makanan utama anakan ikan baung hanya berupa insekta. Tetapi, Djajadiredja et al. (1977) mengemukakan bahwa ikan baung termasuk jenis ikan omnivora dengan makanan terdiri atas anak ikan, udang, remis, insekta, moluska, dan rumput. Makanan utama ikan baung yang hidup di Waduk Juanda terdiri atas udang dan makanan pelengkapnya berupa ikan dan serangga air, sehingga digolongkan dalam jenis ikan kamivora.

Cara Berkembang Biak Ikan Baung
Berdasarkan laporan alawi et.al. (1990), ikan baung diperairan sungai Kampar (Riau) memijah pada sekitar bulan Oktober sampai bulan Desember.  Hal ini merupakan fenomena umum karena pada saat itu biasanya musim hujan dan sebagian besar ikan diperairan umum memijah pada awal atau sepanjang musim hujan.  Hal ini terjadi karena ikan yang akan memijah umumnya mencari kawasan yang aman dan banyak makanan.

Kawasan seperti ini didapatkan pada kawasan rerumputan yang digenangi air pada saat musim hujan tiba.  Demikian juga jenis ikan baung mencari tepat perlindungan dan membuat sarang bila melakukan pemijahan (Bardach et.al., 1972).

Sumber : Pembenihan ikan baung. 2008. Bogor

Semoga Bermanfaat...

Wednesday, August 15, 2018

Mengenal Ikan Hampal/Hampala

Hampal, adungan atau kebarau (Hampala macrolepidota) adalah sejenis ikan air tawar anggota suku Cyprinidae (kerabat ikan mas). Ikan ini menyebar luas di Asia Tenggara daratan dan Indonesia bagian barat. Nama-nama lokalnya, di antaranya, hampal, hambal, hampalong (Sd.); ampalong (Btw); wader, suco, palung (Jw.); adungan, dungan, dongan (Klm.); kabarau, kebarau, barau, sebarau (Mly.); sebaju (Lamp.). Dalam bahasa Inggris spesies ini dikenal sebagai Hampala Barb dan juga Large-scaled Hampal, sebagaimana nama penunjuk jenisnya (specific ephitet) yang merujuk pada sisik-sisiknya yang berukuran besar. Nama marganya dipinjam dari nama lokalnya dalam bahasa Sunda.

Kalsifikasi Ilmiah
Kingdom         : Animalia
Filum              : Chordata
Kelas               : Actinopterygii
Ordo                : Cypriniformes
Famili              : Cyprinidae
Genus              : Hampala
Spesies            : H. macrolepidota; H. ampalong; H. bimaculata

Moroflogi Ikan Hampala
Ikan Hampala adalah salah satu genus dari famili Cyprinidae yang memiliki ciri-ciri bibir atas terpisah dari moncong oleh suatu lekukan yang jelas, pangkal bibir atas terpisah oleh lapisan kulit moncong, mulut terminal atau subterminal, gurat sisi mempunyai 25-30 sisik, sirip perut depan datar atau membulat, sirip anal memiliki 5 jari-jari bercabang tidak memiliki duri pada sirip punggung, hidup di perairan air tawar yaitu di danau dan sungai dan tersebar luas di perairan Indo-Australia (Sumatra, Jawa, Borneo), Malaka, Siam, Indo-China. (Weber and Beaufort, 1916 ; Kottelat et al. 1993 ; Sulaiman & Mayden, 2012).

Weber and Beaufort (1916), membagi genus Hampala menjadi tiga jenis berdasarkan pola bercak hitam di tubuhnya yaitu, Hampala ampalong mempunyai dua bercak hitam besar sepanjang gurat sisi, satu dibawah sirip punggung dan satu terletak di ujung sirip dubur. Hampala bimaculata mempunyai dua bercak hitam melintang sisi badan, satu dibawah sirip punggung dan satu di depan batang ekor. Hampala macrolepidota pada ikan yang berukuran besar memiliki bercak hitam antara sirip punggung dengan sirip perut yang kemudian menjadi samar-samar pada ikan yang sangat besar

Habitat
Hampal diketahui menyebar luas mulai dari Tenasserim, Thailand, Indocina, Semenanjung Malaya, Sumatera, Kalimantan, dan Jawa. Spesimina didapatkan di antaranya dari Padang, Solok Danau Singkarak, Danau Maninjau, Serdang (Sungai Ular), Sungai Kampar, Sungai Kuantan, Langkat, Deli, Jambi, Palembang, Lahat; Sambas, Seminis, Sungai Kapuas, Sungai Baram, Sarawak, Sungai Barito, Banjarmasin, Sungai Mahakam; Jakarta, Pondok Gede, Ciampea, Bogor, Garut, Situ Bagendit, Panjalu, Ngawi, Kediri, Surabaya, Grati.

Ikan hampala berhabitat biasanya di sungai berair jernih,berarus,dengan kadar oksigen tinggi, dengan dasar pasir,batu2an sungai,atau juga lumpur meski juga didapati di sungai hampir tidak berarus, ditemui di daerah rendah juga tinggi. Dibeberapa lokasi mereka lebih sering berkumpul di aliran utama sungai,dan sering berada diantara ranting atau kayu2 dari pohon yg tumbang.. Ditemukan pada kebanyakan badan air, termasuk waduk dan danau. Termasuk ikan predator: ikan dewasa tercatat memangsa ikan-ikan kecil (di Malaysia), tetapi pengamatan di Waduk Saguling mendapatkan bahwa 74% makanannya adalah serangga akuatik.

Jenis - Jenis Ikan Hampala
1. Hampala macrolepidota
Hampala macrolepidota [sumber]
2. Hampala ampalong
Hampala ampalong [sumber]
3. Hampala bimaculata
Hampala bimaculata [sumber]
4. Hampala dispar
Hampala dispar [sumber]
5. Hampala lopezi

6. Hampala sabana
Hampala sabana [sumber]
7. Hampala salweenensis
Hampala salweenensis [sumber]


Semoga bermanfaat...

Monday, August 13, 2018

Mengenal Ikan Balar / Lalawak

Ikan lalawak atau yang bisa disebut juga dengan ikan balar atau ceceperan merupakan ikan air tawar yang hidup di sungai yang berarus cukup deras dan landai. Karakteristik dari lalawak sama dengan ikan-ikan arus deras lainnya, yaitu agresif dalam pergerakannya.

Jenis ikan ini mirip dengan ikan tawes yang biasa dibudidayakan di kolam, yang menjadi pembedanya yaitu dari warna ujung siripnya. Ujung sirip Tawes berwarna hitam sedangkan lalawak berwarna kemerah-merahan meskipun ada juga yang berwarna kekuning-kuningan. Ukuran berat maksimal dewasa bisa mencapai 1 kg dengan panjang 25 cm.

Warna badan ikan lalawak berwarna perak kehijauan, sebagian mata berwarna merah. Sirip punggung dan sirip ekor berwarna abu-abu sampai kehitaman. Sirip dada berwarna kuning pucat sampai kuning terang. Bedanya, sirip lalawak berwarna merah, demikian halnya mata dan ekornya. Ukuran sisik lebih kecil dibanding tawes dan berwarna cerah. Itu sebabnya lalawak bisa dipelihara sebagai ikan hias.
Ikan Balar/Lalawak [sumber]
Ikan balar / lalawak (Barbodes sp) merupakan salah satu jenis ikan yang hidup di perairan umum (seperti sungai) dan memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai ikan konsumsi, walaupun belum menjadi jenis ikan yang terancam punah, kan ini perlu mendapat perhatian karena dibeberapa lokasi keberadaannya sudah sangat berkurang.

Klasifikasi Ikan Balar / Lalawak
Klasifikasi ikan Lalawak (Barbode sp) menurut Kottela et al (1993):
Kingdom        : Animalia
Phylum           : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Class : Pisces
Ordo : Cypriniformes
Subordo          : Cyprinoidei
Family : Cyprinidae
Genus : Barbodes
Species           : Barbodes sp

Morfologi Ikan Balar / Lalawak
Genus Barbodes mempunyai ciri-ciri mulut kecil, terminal dan subterminal, celahnya tidk memanjang melebihi garis vertikal yang melalui pinggiran depan mata, mempunyai bibir halus berpapila atau tidak tetapi tanpa liapatan, bibir bagian atas terpisah dari moncongnya oleh suatu lekukan yang jelas, pangkal bibir atas tertutup oleh lipatan kulit moncong, pada ujung rahang bawah tidak ada tonjolan. Bagian perut di depan sirip perut datar atau membulat tidak memipih membentuk geligir taja, jika terdapat geligir hanya di bagian belakang sirip perut. Gurat sisi sempurna, tidak ada pori tambahan pada sisik sepanjang gurat sisi. Terdapat 7-10½ jari-jari bercabang pada sirip punggung, jari-jari terakhir sirip punggung lemah atau keras tapi tidak bergerigi, tidak ada duri mendatar didepan sirip punggung, 5-8½ jari-jari bercabang pada sirip dubur. Sisik dengan struktur beberapa jari-jari sejajar atau melengkung ke ujung, sedikit atau tidak ada proyeksi jari-jari ke samping.

Habitat Ikan Balar / Lalawak
Ikan lalawak adalah ikan yang memiliki habitat asli di sungai dan dewasa ini telah dibudidayakan di kolam-kolam peliharaan.

Kebiasaan Makan Ikan Balar / Lalawak
Ikan balar / lalawak merupakan jenis ikan omnivor karena selain memakan organisme nabati juga memakan organisme hewani.

Sumber : IPBJitunews

Semoga bermanfaat...

Friday, August 10, 2018

Mengenal Jenis Kepiting Beracun

Bicara mengenai kepiting, biasanya kita akan mengacu pada kepiting yang bisa dikonsumsi, misalnya kepiting bakau (Scylla spp.) atau rajungan (Portunus pelagicus). Namun, sebenarnya di dunia ini banyak sekali jenis kepiting, baik itu kepiting dari kelompok Brachyura ataupun Anomura. Brachyura merupakan kelompok kepiting sejati, memiliki 4 pasang kaki gerak yang berkembang sempurna, sedangkan Anomura merupakan kelompok kepiting ‘semu’, hanya memiliki 3 pasang kaki gerak yang berkembang sempurna – kaki gerak keempat sangat kecil atau sulit terlihat.

Dari semua spesies yang sekarang dikenal, sesungguhnya hanya beberapa saja yang bisa dikonsumsi. Bahkan, beberapa spesies kepiting diketahui sebagai spesies yang beracun. 

Racun Dalam Tubuh Kepiting
Beberapa jenis racun yang telah diketahui terkandung dalam tubuh kepiting adalah domoic acid, okadaic acid, palytoxin, tetrodotoxin, saxitoxin, neosaxitoxin, surugatoxin, brevetoxin, nereistoxin, dan gonyautoxin. Selain palytoxin, semua racun tersebut termasuk dalam kelompok neurotoxin, yaitu racun yang beraksi terhadap sel saraf, dan biasanya berinteraksi terhadap protein membran.

Domoic acid adalah racun yang bersifat asam. Nama ‘domoic’ berasal dari kata ‘doumoi’, yaitu istilah lokal bahasa Jepang dari alga merah Chondria armata. Menurut Horner (publikasi tahun 1996), racun ini diketahui dapat terakumulasi pada jaringan kepiting dan kerang-kerangan.

Okadaic acid memiliki cara kerja yang mirip dengan domoic acid. Istilah okadaic diambil dari spons laut Halichondria okadai. Namun, penghasil racun ini yang sesungguhnya adalah alga dari kelompok Dinophyta. Meskipun demikian, ternyata racun ini juga dapat terkandung dalam tubuh kepiting.

Palytoxin pertama kali diketahui terdapat pada ikan yang mengkonsumsi zoanthid Palythoa, organisme mirip anemon. Palitoksin bekerja dengan cara membentuk saluran membran baru yang melebihi normal sehingga transpor ion menjadi tidak terkontrol dan menyebabkan malfungsi sel serta jaringan tubuh.

Tetrodotoxin (TTX) dideteksi pertama kali pada ikan suku Tetraodontidae. Racun ini juga merupakan neurotoksin dengan mekanisme penghambatan transpor ion natrium.

Saxitoxin (STX) merupakan senyawa racun nonprotein, bersifat larut air dan juga memiliki efek penghambatan transpor ion natrium. Racun ini memiliki efek yang setara dengan TTX. Menurut Groves dkk (1980), STS dan TTX dihasilkan oleh Dinophyta, meski dapat ditemukan pula pada berbagai macam biota laut.

Racun-racun lain seperti Neosaxitoxin (neoSTX), Brevetoxin, Surugatoxin, Nereistoxin, dan Gonyautoxin juga merupakan neurotoksin yang dapat ditemukan dalam tubuh kepiting meski dalam jumlah yang sedikit. Racun-racun ini juga ditemukan dalam tubuh hewan lain seperti kerang dan cacing laut.

Mengapa kepiting menjadi beracun?

Jika kita melihat klasifikasi racun-racun tersebut, dapat diambil kesimpulan sementara bahwa sesungguhnya penghasil racun-racun tersebut bukanlah spesies kepiting. Beberapa racun bahkan dihasilkan oleh spesies alga. Jadi, bagaimana bisa kepiting menjadi beracun?

Menurut Ng (1998), kepiting beracun dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu beracun permanen (sifat toksisitas permanen) dan temporer. Kepiting-kepiting tersebut umumnya merupakan anggota dari suku Xanthidae. Kepiting yang diketahui bersifat beracun permanen adalah Lopozozymus pictor, Demania spp., Zosimus aeneus, Platypodia granulosa dan Atergatis floridus. Sementara itu, kepiting-kepiting yang bersifat beracun temporer contohnya adalah Atergatis integerrimus dan Atergatis spp. (semua spesies Atergatis kecuali Atergatis floridus). Kepiting kategori beracun temporer ini tingkat toksisitasnya tergantung pada habitatnya.
Beberapa jenis kepiting yang memiliki racun
Sampai saat ini paling tidak ada dua hal yang diyakini dapat menjadi penyebab kepiting menjadi beracun, yaitu:
(1) Kontaminasi dan akumulasi racun dari konsumsi makanan,
(2) Pengaruh habitat (terutama keberadaan bakteri, alga dan organisme penghasil racun).

Beberapa penelitian pada dua atau tiga dekade yang lalu menyebutkan bahwa sumber makanan utama dari spesies kepiting beracun adalah Dinophyta, kerang-kerangan (Bivalvia dan Gastropoda), cacing (Polychaeta) serta beberapa spesies alga. Pola konsumsi semacam ini dapat menyebabkan kepiting mengakumulasi racun-racun tersebut karena ternyata racun-racun seperti TTX, STX dan okadaic acid diketahui dihasilkan oleh Dinophyta.

Pertanyaan menarik adalah, bagaimana racun-racun dari makanan tersebut dapat terakumulasi dan mengapa justru tidak menyebabkan keracunan pada kepiting-kepiting tersebut. Mekanisme eksositosis dan endositosis diduga kuat menjadi jalan bagi zat racun terakumulasi dalam tubuh kepiting. Ng (1998) menyampaikan bahwa senyawa racun paling banyak ditemukan pada organ hati usus dan gonad kepiting. Lehane (2000) menyampaikan keterangan dari penelitian Negri dan Llewllyn bahwa beberapa spesies dari suku Xanthidae memiliki mekanisme pertahanan terhadap racun (STX, TTX dan turunanna). Mekanisme ini adalah dengan menghasilkan protein haemolimph yang secara farmakologi sama dengan saxiphilin, yaitu senyawa yang dapat mengikat racun.

Habitat juga mempengaruhi tingkat toksisitas kepiting, terutama kepiting-kepiting yang bersifat beracun temporer. Keberadaan alga, bakteri dan organisme penghasil racun pada suatu habitat dapat berperan penting sebagai penyebab kepiting (dan juga hewan lain seperti kerang dan ikan) menjadi beracun. Bakteri seperti Pseudomonas sp.,Alteromonas sp., Moraxella sp., dan Acinetobacter sp. diketahui juga mampu menghasilkan STX dan neoSTX secara otonom. Bakteri lain dari kelompok Vibrionaceae diketahui dapat menghasilkan TTX. Bakteri-bakteri ini dapat berasosiasi dengan kepiting (misalnya bersimbiosis dan hidup pada bagian di bawah karapas kepiting) dan menyebabkan meningkatnya toksisitas kepiting tersebut.

Selanjutnya, peristiwa meledaknya populasi alga berbahaya (terutama yang dapat memproduksi racun) pada suatu habitat kepiting juga dapat menjadi penyebab meningkatnya toksisitas kepiting. Kepiting-kepiting suku Xanthidae umumnya memiliki perilaku ‘malas’ bergerak sehingga daerah jelajahnya terbatas. Jika habitatnya sedang mengalami ledakan populasi alga penghasil racun, sifat ‘malas’ bergerak ini akan meningkatkan peluang kontaminasi dan akumulasi senyawa beracun dalam tubuh kepiting.

Sumber : Rubrik Biologi.Majalah 1000 Guru. August 2013

Semoga Bermanfaat...

Wednesday, August 8, 2018

Mengenal Kepiting


Kepiting merupakan hewan yang termasuk dalam subfilum Crustacea ordo Decapoda (yang berarti “berkaki sepuluh” dan mengacu pada 10 alaat gerak). Kepiting dapat dibagi menjadi dua kelompok utama, yaitu kepiting Brachyura (kepiting yang sebenarnya) dan kepiting Anomura (kepiting “semu”). Semua spesies kepiting Brachyura dapat dengan mudah dibedakan dari kepiting Anomura. Kepiting Brachyura pada umumnya memiliki 4 pasang kaki gerak yang berkembang dengan baik, sedangkan kepiting Anomura hanya memiliki 3 pasang kaki gerak. Kaki gerak keempat dari kepiting Anomura sangat kecil dan sulit dilihat.
Liocarcinus vernalis, salah satu contoh Brachyura [sumber]
Selain ciri umum yang disebutkan di atas, ada juga beberapa kepiting Brachyura yang memiliki kaki gerak keempat tereduksi, seperti kepiting dari famili Dynomenidae dan Retroplumidae, atau bahkan hilang sama sekali, seperti kepiting dari famili Hexapodidae (penelitian Peter Ng pada 1998). Kemudian, satu hal lagi yang menjadikan kedua kelompok besar kepiting Brachyura dan Anomura adalah bahwa kepiting “semu” Anomura biasanya menggunakan cangkang kosong Gastropoda atau bambu sebagai ‘rumahnya’ yang melindungi bagian perut yang lunak (hasil penelitian Rahayu dan Wahyudi pada 2008). Contoh kepiting Brachyura adalah kepiting bakau (Scylla serrata) dan rajungan biru (Portunus pelagicus). Sementara itu, contoh kepiting “semu” Anomura adalah kepiting kelapa (Birgus latro) dan kumang (Coenobita spp).

Saat ini, pengumpulan data jumlah spesies kepiting baik Brachyura maupun Anomura masih belum lengkap. Sensus tahun 1951 oleh Fenner Chace Jr. melaporkan bahwa secara keseluruhan jumlah Brachyura dan Anomura masing-masing sebanyak 4.428 and 1.270 spesies. Dalam penelitian baru-baru ini, McLaughlin dkk. (2007) mencatat ada sekitar 1069 spesies Anomura dari superfamili Paguroidea saja. Raoul Serène pada tahun 1968 memperkirakan sekitar 1.000 spesies Brachyura berada di wilayah Indo-Malaya. Namun, jumlah ini semakin meningkat seiring dengan ditemukannya banyak spesies baru.
Pagarus bernhardus, salahsatu contoh Anomura [sumber]
Jumlah total Brachyura dan Anomura diperkirakan masing-masing sekitar 5.000-6.000 dan 1.500-2.000 spesies. Dari semua ini, daerah yang paling banyak dihuni oleh kepiting-kepiting tersebut adalah wilayah Pasifik Barat bagian tengah (termasuk Indonesia), yaitu sekitar 1.500-2.000 Brachyura (spesies air laut maupun air tawar). Selama kurun waktu dari 1999 sampai 2010, telah ditemukan 29 spesies baru Crustacea dari perairan laut Indonesia, 25 spesies di antaranya adalah kepiting (Brachyura dan Anomura). Hal ini berarti 2 spesies baru ditemukan dari perairan laut Indonesia setiap tahunnya, belum termasuk spesies air tawar.

Bagian-bagian tubuh kepiting Anomura serta Brachyura dalam bentuk gambar skema diberikan dalam tulisan ini. Sebagai catatan, istilah yang dipakai untuk menamakan bagian tubuh kepiting di sini adalah istilah yang umum digunakan di kalangan ilmiah internasional. Oleh karena itu, istilah-istilah tersebut diberikan padanan bahasa Indonesianya hanya jika dapat memudahkan pemahaman ataupun terdapat padanannya.
Bagian - bagian tubuh kepiting "semu" Anomura [Rahayu dan wahyudi, 2008]
Bagian tubuh utama kepiting Anomura adalah perisai (shield), perut (abdomen), serta organ gerak yang terdiri dari capit (cheliped) dan kaki gerak (pereopod 2, 3, 4, 5). Pereopod keempat dan kelima biasanya tereduksi. Organ gerak baik capit maupun pereopod terdiri dari bagian-bagian merus, propodus, dactyl.
Bagian - bagian tubuh Brachyura [Peter NG, 1998]
Bagian tubuh kepiting Brachyura yang utama terdiri dari karapas (carapace), perut (abdomen), capit (cheliped) dan kaki gerak (kaki gerak 1, 2, 3, 4). Perlu diperhatikan bahwa ada perbedaan penomoran kaki gerak untuk Anomura dan Brachyura sesuai dengan keumuman yang dipakai dalam deskripsi spesies pada publikasi ilmiah.

Sumber : Rubrik Biologi. Majalah 1000 Guru. June 2013.

Semoga Bermanfaat...

Monday, August 6, 2018

Ikan Khas Sungai di Indonesia

Sungai adalah aliran air yang besar dan memanjang yang mengalir secara terus-menerus dari hulu (sumber) menuju hilir (muara). [wikipedia]. Perairan sungai menciptakan ekosistem tersendiri bagi makhluk hidup untuk berkembang biak.

Dari sekian banyak makhluk hidup yang memanfaatkan sungai untuk hidup dan berkembang biak, ikan air tawar merupakan makhluk hidup yang banyak ditemui di ekosistem sungai.

Ikan - ikan sungai merupakan jenis ikan yang hidup dan berkembang biak diperairan sungai. Beberapa jenis ikan sungai sudah diintroduksi sehingga dapat dipelihara secara intensif oleh manusia dengan menggunakan media kolam dan diberi pakan buatan seperti ikan tawes, ikan nilem, ikan mas, ikan nila, udang galah, sidat dan sebagainya.
Berbagai jenis ikan sungai [sumber]
Berbicara mengenai ikan sungai khas Indonesia saat ini banyak yang belum diintroduksi dan dibudidayakan secara intensif dikarenakan susah direproduksi dan belum bisa memanipulasi lokasi budidaya. Namun ikan - ikan tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan dan menguntungkan secara ekonomi. Apabila dilihat dipasaran harga ikan sungai rata - rata mempunyai harga jauh diatas ikan hasil budidaya, hal ini dikarenakan masih sedikitnya hasil tangkapan namun permintaan tinggi.

Dengan adanya peluang pengembangan ikan sungai tersebut sebaiknya kita mengenal terlebih dahulu jenis - jenis ikan sungai khas Indonesia yang memiliki potensi untuk dikembangkan dan memiliki keuntungan secara ekonomi.

Berikut adalah beberpa jenis ikan - ikan sungai khas Indonesia :
1. Ikan Balar / Lalawa
2. Ikan Hampala
3. Ikan Baung
4. Ikan Gabus
5. Ikan Jeler / Uceng

 Semoga Bermanfaat...

Friday, August 3, 2018

Syarat Teknis Kultur Artemia

Lokasi untuk budidaya zooplankton terutama artemia harus memiliki sumber air laut yang mampu memasok secara mudah dan kontinu serta memenuhi persyaratan baik secara kualitas maupun kuantitas. Lokasi yang digunakan untuk budidaya pakan hidup harus bebas dari bahaya banjir, erosi dan bebas dari pencemaran.
Kultur artemia [sumber]
Umumnya, untuk budidaya dengan air statis atau sistem sirkulasi tertutup, air lautan atau samudera lebih cocok daripada air di tepi pantai karena adanya sedikit kandungan minyak dan zat organik yang memungkinkan untuk membahayakan binatang. Untuk mengurangi koloni bakteri pada air dan pertumbuhan bakteri dari budidaya zooplankton, antibiotik seperti penisilin atau streptomisin terkadang digunakan. Tetapi, efek dari perbandingan dosis yang diberikan tidak perlu dipelajari untuk beberapa banyak binatang.

SYARAT FISIKA DAN KIMIA 
Persyaratan fisika-kimia antara lain  seperti suhu, salinitas, ph, DO, amonia, nitrat dan nitrit untuk pertumbuhan optimal kutur zooplankton yaitu:
Standar kualitas air untuk kultur artemia
SALINITAS
Salinitas merupakan salah satu faktor pembatas yang sangat penting dalam budidaya Artemia, terutama dalam menghasilkan kista. Tingkat keberhasilan produksi kista Artemia di tambak garam ditentukan oleh tingginya salinitas yang berperan sangat penting sebagai penentu pencapaian pembentukan. kista. Kista Artemia dapat diproduksi dengan menggunakan media salinitas tinggi karena salinitas yang tinggi dapat menyebabkan peningkatan sintesa haemoglobin yang merupakan salah satu unsur utama dalam pembentukan cangkang atau korion pada kista Artemia. Pada salinitas 90-200 ‰, Artemia baru dapat menghasilkan kista. Sedangkan pada salinitas < 85 ‰ Artemia akan memproduksi nauplius. Akibatnya keberhasilan pemeliharaan Artemia untuk memproduksi kista akan mencapai maksimal apabila media ada pada salinitas yang optimal. 
Air laut merupakan media alami penetasan kista artemia [sumber]
Salinitas dapat berfluktuasi karena pengaruh penguapan dan hujan. Salinitas dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangbiakan zooplankton. Pada kisaran salinitas yang tidak sesuai berpengaruh terhadap tingkat kelangsungan hidupnya dan pada tingkat pertumbuhan. Salinitas air laut yg digunakan bekisar antara 30-50 ppt.

SUHU
Suhu yang optimal digunakan untuk kultur zooplankton terutama artemia bekisar antara 25-30oC. Suhu secara langsung berpengaruh terhadap metabolisme organisme air. Pada suhu tinggi metabolisme terpacu, sedangkan pada suhu rendah metabolisme lambat. 
Suhu optimal untuk penetasan kista artemia pada kisaran 25 - 30 derajat celcius [sumber]
Suhu air yang tinggi dan terlalu rendah mengakibatkan kelarutan oksigen dalam air rendah. Pengaruh langsung suhu terhadap kehidupan di laut adalah pada laju fotosintesa tumbuh-tumbuhan dan proses fisiologi hewan khususnya PH, metabolisme dan proses reproduksi.

pH
Salah satu parameter lingkungan penting yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan keberadaan organisme air termasuk zooplankton adalah PH. Dekomposisi bahan organik dan respirasi akan menurunkan kandungan oksigen terlarut, yang berdampak pada meningkatnya kadar CO2 bebas sehingga mengakibatkan menurunnya PH air. Kematian organisme perairan dapat terjadi pada PH 4,0 dan PH 11,0. Beberapa contoh yang diakibatkan oleh pengaruh PH:
pH optimal pada penetasan kista artemia pada kisaran 7,5 - 8,5 [sumber]
  1. Amonia bersifat racun bagi ikan dan organisme lainnya, perbandingan amonia dan amonium tergantung pada PH.
  2. CO2  juga racun bagi ikan, perbandingan hidrogen karbonat CO2 juga tergantung PH.
  3. Fertilitas telur dan zooplankton sangat tergantung pada PH.
  4. Pada PH rendah, iktan logam berat dengan tanah sangat cepat bereaksi dan mudah terlepas.

PH yang optimal digunakan untuk kultur zooplankton terutama artemia yaitu berkisar antara 7,5 - 8,5, Cholik dan Daulay (1985).

OKSIGEN TERLARUT (DO)
Oksigen terlarut dalam perairan sangat dibutuhkan organisme yang ada di dalamnya untuk pernafasan dalam rangka melangsungkan metabolisme tubuh mereka. Oksigen terlarut dalam air dapat melalui difusi dari udara bebas.

Oksigen terlarut dalam air berpengaruh pada penetasan kista artemia [sumber]
Dalam penentuan persyaratan kultur zooplankton kandungan oksigen perairan bukan merupakan faktor utama, karena dalam operasionalnya kebutuhan akan oksigen dapat dipenuhi dengan menggunakan blower.

AMONIAK DAN NITRIT
Amonia (NH2) yang terkandung dalam suatu perairan merupakan salah satu hasil dari proses penguraian bahan organik. Amonia ini berada dalam dua bentuk yaitu amonia tak berion (NH3) dan amonia berion (NH4). 
Amoniak dapat membahayakan pada saat kultur artemia [sumber]
Amonia tak berion bersifat racun sedangkan amonia berion tak beracun. Tingkat peracunan amonia tak berion berbeda untuk setiap  spesies, tetapi pada kadar 0,6 ppm dapat membahayakan organisme tersebut.

Sumber : Paper Kulur Artemia

Semoga Bermanfaat...

Friday, July 20, 2018

Kebiasaan Makan Artemia Salina

Artemia adalah binatang yang sederhana cara makannya, yaitu dengan menyaring makannya atau disebut non-selective filter feeder, maka Artemia akan terus menerus memakan apa saja yang ukurannya lebih kecil dari 50 μm.
Artemia salina [sumber]
Makanan Artemia di alam adalah detritus bahan organik dan ganggang renik (ganggang hijau, ganggang biru, cendawan atau ragi laut). Beberapa jenis ganggang hijau yang sering dijadikan makanan oleh Artemia antara lain Euglena, Dunaliella salina dan Cladophora sp. Seluruh partikel suspensi yang mungkin dapat dimakan oleh artemia secara terus menerus akan diambil dari media kultur dengan gerakan terakopoda yang mempunyai fungsi ganda sebagai respirasi dan pengumpul makanan sehingga tidak ada alternative lain bagi artemia untuk terus menerus menyaring makanan.

Artemia memakan sesuatu yang berasal dari bahan hidup (misal detritus organik dari perairan hutan bakau) dan organisme hidup pada kisaran ukuran yang sesuai bukaan mulut (bakteri dan mikro alga). 

Sumber : Paper Kultur Artemia

Semoga Bermanfaat...

Wednesday, July 18, 2018

Kebiasaan Hidup (Ekologi) Artemia Salina

Artemia dapat tumbuh cepat pada perairan laut, tetapi tidak mempunyai pertahanan tubuh yang mampu melawan predator. Namun demikian, artemia memiliki mekanisme pertahanan ekologik yang sangat efisien melalui adaptasi fisiologik terhadap media hidup yang bersalinitas tinggi, sehingga predator tidak dapat hidup. Artemia memiliki sistem osmoregulasi yang terbaik diantara binatang. Disamping itu, artemia mampu mensintesis pigmen respirasi atau hemoglobin untuk mengatasi kandungan oksigen rendah pada alinitas tinggi. Dengan demikian artemia mempunyai kemampuan menghasilkan kista yang tahan terhadap kondisi lingkungan yang ekstrim.
Artemia salina [sumber]
SUHU
Artemia tidak dapat bertahan hidup pada suhu kurang dari 6oC atau lebih dari 35oC. Akan tetapi, hal ini tergantung pada ras dan kebiasaan tempat hidup mereka. Kista yang kering dapat lebih tahan terhadap perubahan suhu, artemia yang kering dapat tahan pada suhu -273 derajat C sampai 100 derajat C tetapi untuk telur basah tidak demikian halnya.

KANDUNGAN ION
Daya tahan artemia terhadap perubahan kandungan ion kimia dalam air sangat tinggi.apabila kandungan ion natrium (Na+) dibandingkan dengan ion kalium (K+) di dalam air laut alami adalah 28, maka artemia masih dapat bertahan pada perbandingan 8-173. Untuk ion klor (CL) dan karbonat (CO3) di dalam air laut perbandingannya 137. Sedangkan artemia dapat bertahan pada perbandingan antara 101-810. Perbandingan ion klor (CL-) dan ion sulfat (SO4) did dalam air laut sekitar 7. Sedangkan artemia dapat bertahan pada perbandingan 0,5-90.

KADAR GARAM
Untuk perkembangan artemia  membutuhkan kadar garam tinggi. Sebab, pada kadar garam tinggi musuh-musuh bagi artemia tidak dapat hidup lagi, sehingga mereka dapat hidup lebih aman tanpa gangguan. Pada umumnya musuh-musuh artemia sudah mati jika memiliki kadar air garam 80-100 permil. Walaupun demikian terdapat jenis ikan yang belum mati pada kadar garam antara 100-130 permil. Untuk pertumbuhan telur (kista), ternyata dibutuhkan kadar garam yang rendah. Apabila kadar garam lebih tinggidari 85 permil, maka telurnya tidak akan menetas. Sebabnya adalah tekanan osmose di luar telur lebih tinggi, sehingga telurnya tidak dapat menyerap air yang cukup untuk proses metabolismenya (Mudjiman, 1989). Kultur biomassa Artemia yang baik pada kadar garam antara 30-50 ppt. Untuk Artemia yang mampu menghasilkan kista membutuhkan kadar garam diatas 100 ppt.

OKSIGEN TERLARUT
Artemia hidup pada kadar oksigen terlarut antara 1,67-6,21 ml/l, di daerah Tuticorin (India). Yang dikehendaki oleh artemia agar dapat hidup lebih baik, kadar oksigen terlarutnya harus mendekati titik kejenuhan yaitu sekitar 3 ml/l. Artemia sangat pandai menyesuaikan diri terhadap perubahan kadar oksigen, sifat hewan yang demikian disebut dengan euroksibon.

ASAM BASA (pH)
Artemia terdapat pada perairan netral atau sedikit basa (lebih dari 7). Di Tuticorin (India), artemia dapat hidup pada kisaran PH 7,8 - 8,4.  Sebenarnya pengaruh PH terhadap kehidupan artemia muda dan dewasa masih belum jelas. Yang sudah jelas adalah pengaruh PH terhadap penetasan kista. Apabila PH air untuk penetasan artemia kurang dari 8, maka efisiensi penetasan akan menurun.

Sumber : Paper Kultur Artemia Salina

Semoga Bermanfaat..

Monday, July 16, 2018

Morfologi Artemia Salina

Saat ini telur artemia sudah diproduksi secara massal oleh perusahaan pakan ikan yang tujuannya tentu untuk mensuplai pakan bagi larva ikan. Telur - telur artemia dipasarkan dalam wadah kaleng yang dapat bertahan hingga bertahun - tahun. Pada saat akan digunakan baru telur artemia ditetaskan menggunakan air laut /larutan garam sehingga memudahkan pembudidaya ikan dalam penyediaan pakan larva ikan.

Berikut tahapan sikuls hidup artemia dimulai dari telur hingga dewasa.

1. Kista / Telur
Telur artemia atau kista berbentuk bulat berlekuk dalam keadaan kering dan bulat penuh dalam keadaan basah. Warnanya coklat yang diselubungi oleh cangkang yang tebal dan kuat . Kista merupakan telur yang telah berkembang menjadi embrio yang diselubungi oleh cangkang yang tebal dan kuat. Cangkang ini berguna untuk melindungi embrio terhadap pengaruh kekeringan, benturan keras, sinar ultra violet, dan mempermudah pengapungan . Kista merupakan telur yang terbungkus korion, kista dapat diartikan sebagai telur yang mengalami fase cryptobiosis (fase tidur atau istirahat). 

Telur artemia dalam bentuk kista berwarna coklat dengan garis tengah antara 200-300 µm, berat antara 1,60-2,22 µg. Jika dimasukan kedalam air laut, kista kering yang berbentuk cekung akan mengalami hidrasi menjadi berbentuk bulat penuh dan mulai terjadi metabolisme embrio dalam cangkang. 

Kista ini disimpan dalam kantong telur atau uterus dengan jumlah berkisar 38-45 butir kista dalam satu individu betina. Perkembangan warna kista dalam uterus di tubuh induknya dimulai dari warna putih, menjadi hijau muda, biru dan selanjutnya coklat tua.

Pada salinitas 90-200 ‰, Artemia dapat menghasilkan kista. Sedangkan pada salinitas < 85 ‰ Artemia akan memproduksi nauplius. Akibatnya keberhasilan pemeliharaan Artemia untuk memproduksi kista akan mencapai maksimal apabila media ada pada salinitas yang optimal. 

Penampang kista artemia menunjukan dari luar ke dalam lapisan-lapisan korion, kutikula embrio dan embrio atau calon nauplius. Lapisan korion yang keras dan berwarna coklat terdiri dari lapisan epidermis, lapisan kortikal dan lapisan alveolar.
Lapisan cangkang telur/kista Artemia salina
Lapisan korion berfungsi sebagai pelindung terhadap gangguan mekanik, lapisan kutikula embrio berfungsi sebagai pelindung embrio dari goncangan mekanik dan sebagai sumber enzim tahalose yang membantu dalam proses penetasan. Diantara kedua lapisan korion dan kutikula embrio terdapat selaput luar kutikula embrio. Setelah 15-20 jam pada suhu 25oC kista akan menetas menjadi embrio. Artemia selama masa hidupnya yang sekitar 50 hari dalam kondisi super ideal bisa memproduksi kista sebanyak 300 butir per 4 hari.

2. Pre Nauplius
Setelah 24 jam, cangkang kista akan pecah (breaking stage atau E-1) dan akan muncul embrio yang dikelilingi oleh selaput penetasan. Dalam beberapa jam, embrio meninggalkan cangkang kista dan bergantung dibawah cangkang yang kosong dalam keadaan masih melekat (umberella stage atau E-2).

Perkembangan naupli Artemia salina
Di dalam selaput penetasan, nauplius berkembang sempurna dan anggota badan mulai bergerak. Dalam waktu singkat, selaput penetasan pecah dan muncul nauplius yang berenang bebas.

3. Nauplius
Anderson (1967) dalam Cholik dan Daulay (1985) menggambarkan 10 stadia larva artemia :
Stadia I panjangnya antara 450-475 µm dan berwarna jingga kecoklatan karena masih mengandung kuning telur, mempunyai 3 pasang anggota badan yaitu (1) antena sensor kecil yang disebut antena pertama, (2) antena yang berkembang sempurna yang mempunyai alat gerak dan berfungsi sebagai penyaring makanan, dan (3) mandibula yang belum sempurna. Mata nauplius berwarna merah terletak pada bagian kepala diantara antena pertama. Pada stadia I artemia belum dapat mengambil makanan karena sistem pencernaan belum berfungsi (mulut dan anus masih tertutup). Pada suhu 20oC stadia I berlangsung selama 20 jam.

Stadia II panjangnya 630 µm dan nampak lebih bening.makanan yang berukuran partikel kecil (algae, bakteria dan detritus) yang ukurannya berkisar antara 1-40 µm akan disaring oleh antena kedua dan dicerna di dalam saluran pencernaan, Stadia ini berlangsung selama 10 jam.

Stadia III berukuran sekitar 725 µm, saluran pencernaan tampak jelas, kuning telur yang dikandungnya jauh berkurang. Tiga ruas pertama dari tubuhnya semakin nyata dan 3 ruas berikutnya mulai nampak sebagai lingkaran, telson sudah mulai nampak. Stadia ini berlangsung selama 40 jam.

Stadia IV panjangnya sekitar 800 µm. Dapat dibedakan dengan jelas, perkembangan duri yang terletak pada ujung eksopod dari antena telah sempurna. Duri ini dapat digerak-gerakan. Perkembangan lain yaitu pembentukan maksilula dan maksila.
Stadia Artemia salina [sumber]
Artemia tumbuh melalui sekitar 15 ganti kulit, yaitu (1) truncus dan perut memanjang, (2) anggota badan lobular yang berpasangan yang muncul pada bagian truncus dan akan berkembang menjadi thorakopoda dan (3) bagian lateral mata yang berkembang pada kedua sisi mata nauplius.

Perubahan morfologi masih terjadi sebelum artemia menjadi dewasa. Sejak instar ke-10 perubahan-perubahan morfologi yang terpenting antara lain hilangnya fungsi antena sebagai alat gerak dan perubahan bentuk menunjukan terjadinya perbedaan kelamin jantan dan betina. Kaki berkembang menjadi bagian-bagian yang fungsinya berbeda-beda, yaitu menjadi telopodit yang berfungsi sebagai saringan, endopodit untuk bergerak dan eksopodit untuk pernapasan.

4. Dewasa
Setelah stadia X artemia menjadi dewasa. Waktunya berkisar 7- 15 hari tergantung pada keadaan lingkungan. Perubahan morfologi yang tampak setelah artemia menjadi dewasa adalah terbentuknya mata, antenula, alat pencernaan yangmemanjang dan 11 pasang thorakopoda. Perbedaan antara artemia jantan dan betina yaitu pada artemia jantan terdapat alat penangkap dan sepasang penis yang terdapat dibagian belakang tubuhnya. Pada artemia betina, antena berfungsi sebagai alat peraba. Sepasang ovari terletak memanjang pada kedua sisi saluran pencernaan di belakang thorakopoda.
Morfologi Artemia salina
Perbedaan induk jantan dan betina Artemia salina

Sumber : Paper Kultur Artemia Salina

Semoga Bermanfaat...