Lalaukan

Informasi dunia kelautan dan perikanan serta kegiatan penyuluhan perikanan

Tuesday, September 25, 2018

Penyakit Argulosis (Kutu Ikan)

Argulus sp adalah salah satu parasit eksternal yang paling popular dan banyak ditemukan menyerang ikan. Argulus sp merupakan kutu ikan penyebab penyakit argulosis atau juga dikenal dengan istilah penyakit kutu ikan (fish louse).
Argulus (Kutu ikan)
Parasit Argulus sp mempunyai tubuh berbentuk pipih dan pada bagian dorsalnya dilindungi oleh karapas yang menutupi hampir seluruh tubuhnya dimana bagian karapas sedikit dapat digerakkan ke bawah menyerupai sayap. Argulus sp melakukan penempelan pada bagian luar tubuh ikan (ektoparasit) dan dapat menyesuaikan cengkeramannya dengan kecepatan gerak ikan sehingga tidak mudah lepas.

Beberapa spesies Argulus sp yang terkenal yang menginfeksi komoditas perikanan antara lain A. indicus, A. siamensis, dan A. foliaceus. Gejala klinis serangan Argulus sp antara lain iritasi akibat gigitan dan racun yang diinjeksikan, kehilangan keseimbangan dan melompat-lompat keluar air, ikan sangat kurus karena disengat dan dihisap darahnya, produksi mucus berlebihan, sisik terkuak dan kadang-kadang terlepas, muncul titik darah di bekas gigitan, rongga tubuh berisi cairan kekuningan, kulit pecah dan borok, serta ikan menggosok-gosokkan tubuhnya pada daerah pinggiran atau dasar wadah dan benda-benda keras di sekelilingnya.

KLASIFIKASI











BIO-EKOLOGI
  1. Parasit ini dikenal sebagai “kutu ikan” dan penghisap darah, berbentuk datar, dan lebih nampak seperti piring.
  2. Melukai tubuh ikan dengan bantuan enzim cytolytic, selain pada kulit, kutu ini juga sering dijumpai di bawah tutup insang ikan.
  3. Hampir semua jenis ikan air tawar rentan terhadap infeksi parasit ini.
  4. Pada intensitas serangan yang tinggi, ikan dewasapun dapat mengalami kematian karena kekurangan darah.
Ikan yang terkena Argulus


GEJALA KLINIS
  1. Secara visual parasit ini tampak seperti kutu yang menempel pada tubuh ikan, disertai dengan pendarahan di sekitar tempat gigitannya.
  2. Iritasi kulit, hilang keseimbangan, berenang zig-zag, melompat ke permukaan air dan menggosok-gosokkan badannya pada benda keras yang ada di sekitarnya.
Siklus hidup argulus
PENGENDALIAN

  1. Pengeringan dasar kolam yang diikuti dengan pengapuran.
  2. Perendaman dapat dilakukan dengan :
  • Larutan Dylox pada dosis 0,25 ppm selama 24 jam atau lebih di kolam.
  • Larutan Amonium Klorida (NH4Cl) pada dosis 1,0 - 1,5% selama 15 menit, atau garam dapur pada dosis 1,25% selama 15 menit.
  • Larutan Dichlorvos 0,2 mg/L selama 24 jam atau lebih, setiap minggu selama 4 minggu berturut-turut.
  • Garam dapur 500 – 1000 ppm selama 24 jam atau lebih, diulang setiap minggu selama 4 kali pemberian.
  • Potassium permanganate (PK) 2-5 mg/L selama 24 jam atau lebih.

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB KKP

Semoga Bermanfaat...

Friday, September 21, 2018

Mengenal Lebih Jauh Jenis Sisik Ikan

Sisik secara umumnya berarti semacam lapisan kulit yang keras dan berhelai-helai, seperti pada ikan, ular atau kaki ayam. Dalam ilmu botani, sisik digunakan pula untuk menyebut dedaunan kecil yang tidak hijau, seperti yang terdapat pada kuncup atau batang yang termodifikasi.
Sisik Ikan
Dalam ilmu zoologi, sisik (Ingg. scale, Gr. lepid, dan Lat. squama) umumnya merujuk kepada keping-keping kecil yang kaku, yang tumbuh di kulit binatang sebagai pelindung tubuhnya. Misalnya pada ikan, kadal atau ular. Kupu-kupu juga memiliki sisik, yakni keping-keping amat kecil di atas sayapnya, yang mudah rontok dan berfungsi untuk membentuk pola warna di atas sayap tersebut.

Sisik-sisik pada hewan, secara struktur umumnya merupakan bagian dari sistem integumen, yakni penutup luar tubuh binatang.

Ikan merupakan salah satu hewan yang memiliki sisik, namun kita jarang sekali mengetahui kegunaan dari sisik yang menempel pada tubuh ikan tersebut.

Ada beberapa macam sisik ikan yang dikenal, yakni:

  1. Sisik kosmoid (cosmoid) yang sesungguhnya hanya dijumpai pada ikan-ikan bangsa Crossopterygi yang telah punah. Sisik ini berlapis-lapis, di mana lapisan terdalam terbangun dari tulang yang memipih. Di atasnya berada selapis tulang yang berpembuluh darah, dan di atasnya lagi, selapis bahan serupa email gigi yang disebut kosmin (cosmine). Kemudian di bagian terluar terdapat lapisan keratin. Ikan coelacanth memiliki semacam sisik kosmoid yang telah berkembang, yang kehilangan lapisan kosmin dan lebih tipis dari sisik kosmoid sejati.
    Ikan Coelacanth merupakan salah satu ikan yang memiliki sisik kosmoid
  2. Sisik ganoid ditemukan pada ikan-ikan suku Lepisosteidae dan Polypteridae. Sisik-sisik ini serupa dengan sisik kosmoid, dengan sebuah lapisan ganoin terletak di antara lapisan kosmin dan enamel. Sisik-sisik ini berbentuk belah ketupat, mengkilap dan keras.
    Sisik Ganoid
  3. Sisik plakoid dimiliki oleh ikan hiu dan ikan-ikan bertulang rawan lainnya. Sisik-sisik ini memiliki struktur serupa gigi.
    Sisik Plakoid
  4. Sisik leptoid didapati pada ikan-ikan bertulang keras, dan memiliki dua bentuk. Yakni sisik sikloid (cycloid) dan ktenoid (ctenoid).
  5. Sisik-sisik sikloid memiliki tepi luar yang halus, dan paling umum ditemukan pada ikan-ikan yang lebih primitif yang memiliki sirip-sirip yang lembut. Misalnya adalah ikan-ikan salem dan karper.
    Sisik Sikloid
  6. Sisik-sisik ktenoid bergerigi di tepi luarnya, dan biasanya ditemukan pada ikan-ikan yang lebih ‘modern’ yang memiliki sirip-sirip berduri.
    Sisik Ktenoid


Sejalan dengan pertumbuhannya, sisik-sisik sikloid dan ktenoid terus bertambah lingkaran tahunnya. Sisik-sisik ini tersusun di tubuh ikan seperti genting, dengan arah menutup ke belakang. Dengan demikian memungkinkan aliran air yang lebih lancar di sekeliling tubuh dan mengurangi gesekan.
Sisik pada ikan merupakan bagian yang penting dan perkembangan yang istimewa untuk evolusi pada ikan. Meskipun belum banyak diketahui secara dekat, beberapa jenis ikan telah berubah sisiknya menjadi lebih keras seperti tulang.

Sisik sangat berguna bagi ahli ichtyologi dalam pekerjaan identifikasi. Sering bahwa sebuah sisik sudah cukup untuk mengklasifikasikan seekor ikan, paling tidak hingga famili dimana dia termasuk di dalamnya. Perhitungan jumlah sisik merupakan alat Bantu lain yang terbukti berguna dalam taksonomi.

Sisik dari banyak species ikan dapat digunakan untuk menaksir umur ikan. Lingkaran dasar sebagaimana terdapat pada batang pohon, terbentuk setiap tahun sejalan dengan tumbuhnya ikan dan sisiknya berkembang bersama dengan itu.

Warna indah dari banyak ikan juga berasal dari sisik ikan tersebut.  Warna cemerlang bergantung pada pemantulan cahaya secara fisik, yang meningkatkan pengaruhnya pada warna yang dipantulkan kembali kepada yang melihatnya, dari pigmen-pigmen gelap di bawah kulit ikan tersebut.

Perubahan warna memegang peranan penting sebagai sinyal dalam tingkah laku ikan., dan dapat digunakan untuk persembunyian dan kamuflase. Dalam perubahan warna ini telah ditemukan dua mode cara kontrol. Mode pertama adalah pengaruh hormonal yang berpusat di pituitary, yang mengeluarkan hormon-hormon yang umumnya berkenaan dengan penguatan warna. Adrenalin menumpahkan epinephrine, yang mempunyai pengaruh pada penumpukan melanopora dan dengan demikian menyebabkan warna ikan menjadi pucat. This is typical fright response. Mode ke dua adalah kontrol syarat. Dua set ujung syarat antagonik berakhir pada kromatophora-kromatopora.

Sumber : Buku Tingkah Laku Ikan

Semoga Bermanfat...

Wednesday, September 12, 2018

Penyakit Ikan Lernea (Cacing Jangkar)

Parasit ini merupakan penyebab penyakit lerneasis. Penyakit lerneasis disebabkan oleh Lernea sp yang lebih dikenal dengan nama cacing jangkar (anchor worm). Sebenarnya, Lernea sp tidak termasuk golongan cacing, akan tetapi jenis udang renik yang berbentuk bulat panjang seperti cacing dan memiliki cengkeraman seperti jangkar sehingga disebut cacing jangkar. Jenis Lernea banyak ditemukan menyerang ikan air tawar, yaitu dari spesies Lernea cyprinacea. Lernea sp biasanya melekat di insang, tubuh, ataupun sirip dan merupakan parasit eksternal yang sering dijumpai pada ikan mas hias dan ikan air tawar lainnya. Selain Lernea sp, terdapat Crustacea lainnya seperti Ergasilus sp dan Argulus sp yang juga menyerang ikan air tawar ataupun laut.

KLASIFIKASI
Kingdom: Animalia
Filum: Arthropoda
Classis: Maxillopoda
Ordo: Cyclopoida
Familia: Lernaeidae
Genus: Lernaea
Spesies: Lernaea sp

Parasit Lernea

BIO-EKOLOGI
Parasit ini dikenal sebagai cacing jangkar (anchor worm) :
Siklus hidup lernea
  1. Menempel ke tubuh ikan dengan “jangkar” yang menusuk dan berkembang di bawah kulit.
  2. Badan parasit dilengkapi dengan dua buah kantung telur akan terlihat menggantung di luar tubuh ikan.
  3. Hampir semua jenis ikan air tawar rentan terhadap infeksi parasit ini, terutama yang berukuran benih.
  4. Pada tingkat infeksi yang tinggi dapat mengakibatkan kasus kematian yang serius.


GEJALA KLINIS
Gejala klinis serangan Lernea sp antara lain ikan yang terserang mengalami luka pada tubuhnya dan terlihat jelas cacing jangkar yang menempel dengan kuat pada bagian badan, sirip, insang, dan mata, pembengkakan, sisik terkelupas, dan necrosis, penurunan berat tubuh, perkembangan gonad terhambat, terdapat ulcer (borok), mengalami kesulitan bernafas, dan sangat memungkinkan serangan
sekunder dari bakteri atau jamur infeksius lainnya.
Ikan yang terserang lernea
PENGENDALIAN
  1. Pengendapan dan penyaringan air masuk.
  2. Pemusnahan ikan yang terinfeksi dan pengeringan dasar
  3. kolam yang diikuti dengan pengapuran.
  4. Perendaman dengan :
  • Larutan formalin pada 250 ppm selama 15 menit.
  • Larutan Abate pada dosis 1 ppm (akuarium) dan 1,5 ppm (kolam)
  • Larutan Dichlorvos 0,2 mg/L selama 24 jam atau lebih, setiap minggu selama 4 minggu berturut-turut

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB KKP

Semoga Bermanfaat...

Penyakit Ikan Trichodiniasis (Penyakit Gatal)

Trichodina sp merupakan jenis Protozoa penyebab penyakit trichodiniasis (penyakit gatal). Trichodina sp memiliki berbentuk bundar seperti cawan atau topi yang berukuran 50-100 µm. Secara mikroskopis, Trichodina sp terlihat seperti lingkaran transparan dengan sejumlah silia. Trichodina sp dan Cyclochaeta sp merupakan spesies yang sama, sebab bentuknya tidak berbeda. Namun, ada juga
peneliti yang memisahkannya menjadi dua genus dari Keluarga Urceolaridae.

Biasanya Trichodina sp menyerang pada bagian kulit, sirip, kepala, dan insang sehingga menyebabkan iritasi. Gejala-gejala klinis ikan yang terserang Trichodina sp antara lain terdapat bintik-bintik putih terutama di bagian kepala dan punggung, nafsu makan hilang dan ikan menjadi sangat lemah, produksi mucus bertambah sehingga tubuh ikan tampak mengkilap, sering dijumpai terjadinya pendarahan dan warna tubuh kusam, memperlihatkan gejala flashing yang memantulkan cahaya, serta sering menggosok-gosokkan tubuh ke pinggiran dan dasar wadah, atau benda keras di sekelilingnya.

KLASIFIKASI
Klasifikasi dari parasit Trichodina sp. menurut Kabata (1985), adalah sebagai berikut:
Filum               : Protozoa
Subfilum         : Ciliophora
Class                : Ciliata
Ordo                : Petrichida
Famili              : Trichodinidae
Genus              : Trichodina

Bentuk protozoa Trichodina
GEJALA KLINIS
  1. Warna tubuh pucat, nafsu makan menurun, kurus, gelisah dan lamban.
  2. Menggosok-gosokkan badan pada benda di sekitarnya (gatal).
  3. Frekwensi pernapasan meningkat dan sering meloncat - loncat.
  4. Mengakibatkan iritasi dan luka pada kulit ikan karena struktur alat penempel yang keras (chitin)
  5. Iritasi sel epitel kulit, produksi lendir berlebih sehingga berwarna kecoklatan atau kebiruan.
  6. Sirip rusak, menguncup atau rontok.
Ikan yang terserang Trichodina

BIO-EKOLOGI
Protozoa dari golongan ciliata, berbentuk bundar, simetris dan terdapat di ekosistem air tawar, payau dan laut.
  1. Trichodina spp. berukuran 45-78 μm, Trichodinella (24-37 μm) dan Tripartiella (lebih dari 40 μm).
  2. Memiliki cincin dentikel berupa cakram yang berfungsi sebagai alat penempel.
  3. Inang parasit adalah semua benih ikan air tawar, payau dan laut. Menginfeksi organ kulit, sirip dan insang ikan yang baru menetas hingga umur 1 bulan.
  4. Kelompok parasit ini umumnya lebih bersifat komensalis dari pada parasitik sejati, karena hanya memakan sel-sel kulit ikan yang mati/hancur.
  5. Kematian ikan yang diakibatkannya bisa mencapai 50% dari total populasi, terutama akibat infeksi sekunder oleh bakteri dan/atau cendawan.
Trichodina menginfeksi insang ikan
PENGENDALIAN

  1. Mempertahankan kualitas air terutama stabilisasi suhu air ≥ 29oC
  2. Mengurangi kadar bahan organik terlarut dan/atau meningkatkan frekwensi pergantian air
  3. Ikan yang terserang trichodiniasis dengan tingkat prevalensi dan intensitas yang rendah, pengobatan dapat dilakukan dengan perendaman beberapa jenis desinfektan, antara lain:
  • Larutan garam dapur (untuk ikan air tawar) pada konsentrasi 500-10.000 ppm (tergantung jenis dan umur ikan) selama 24 jam.
  • Air tawar (untuk ikan air laut) selama 60 menit, dilakukan pengulangan setiap hari
  • Larutan Kalium Permanganate (PK) pada dosis 4 ppm selama 12 jam
  • Larutan formalin pada dosis 200 ppm selama 30-60 menit dengan aerasi yang kuat, atau pada dosis 25-50 ppm selama 24 jam atau lebih
  • Larutan Acriflavin pada dosis 10-15 ppm selama 15 menit
  • Glacial acetic acid 0,5 ml/L selama 30 detik setiap 2 hari selama 3 – 4 kali
  • Copper sulphate 0,0001 mg/L selama 24 jam atau lebih, diulang setiap 2 hari sekali
  • Hidrogen peroxide (3%) 17,5 ml/L selama 10 menit, diulang setiap 2 hari

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB KKP

Semoga Bermanfaat...

Monday, September 10, 2018

Penyakit Ikan Saprolegnia (Penyakit Kapas)

Salah satu kelompok jamur yang sering menyerang ikan air tawar adalah Saprolegnia sp. Saprolegnia sp merupakan penyebab penyakit saproligniasis. Penyakit ini dikenal dengan nama fish mold yang dapat menyerang ikan dan telur ikan.

KLASIFIKASI
Saprolegnia sp termasuk ke dalam
Subdivisi : Zygomycotina / Zygomycetes
Kelas : Oomycetes
Ordo : Saprolegniales dan kelompok fungi non septat.
Ikan yang terkena jamur saprolegnia
Jamur ini bereproduksi secara seksual (spora~oospora) dan juga aseksual (antheridia dan oogonia) yang mengalami kematangan. Jamur ini menyerang sebagian besar ikan air tawar, umumnya ikan mas, tawes, gabus, gurami, nila, dan lele. Selain itu, juga menyerang ikan kakap yang dipelihara di salinitas rendah.
Bentuk fisik jamur saprolegnia
GEJALA KLINIS
Gejala klinis serangan Saprolegnia sp antara lain ikan dan telur yang terserang dapat diketahui dengan mudah karena terlihat benang putih yang kasat mata, terjadi peradangan, granuloma, bagian yang diserang ditumbuhi misellium seperti kapas (white cotton growth), serta dapat menyebabkan kematian akibat masalah osmosis atau respirasi yang berat pada kulit dan insang.
Siklus hidup jamur saprolegnia
BIO-EKOLOGI
Memiliki hifa yang panjang dan tidak bersepta, hidup pada ekosistem air tawar namun ada yang mampu hidup pada salinitas 3 promil.
  1. Tumbuh optimum pada suhu air 18-26 oC. Reproduksi secara aseksual, melalui hifa fertil untuk memproduksi spora infektif.
  2. Menginfeksi semua jenis ikan air tawar dan telurnya.
  3. Serangan bersifat kronis hingga akut, dapat mengakibatkan kematian hingga 100%.

PENGENDALIAN
Menaikkan dan mempertahankan suhu air ≥ 28 oC dan/atau penggantian air baru yang lebih sering.
Pengobatan dapat dilakukan dengan cara perendaman dengan :
  1. Kalium Permanganate (PK) pada dosis 1 gram/100 liter air selama 90 menit.;
  2. Garam dapur pada konsentrasi 1-10 promil (tergantung spesies dan ukuran) selama 10-60 menit;
  3. Methylene Blue pada dosis 3-5 ppm selama 24 jam.

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB KKP

Semoga Bermanfaat...

Friday, September 7, 2018

Penyakit Ikan Bintik Putih (White Spot)

Penyakit white spot merupakan salah satu penyakit ikan yang sering menyerang ikan diwilayah tropis. Penyakit ini disebabkan oleh protozoa Ichthyophthirius multifiliis. Ichthyophthirius multifiliis adalah protozoa bersilia yang menyebabkan "Ich" atau "penyakit white spot." Penyakit ini merupakan masalah besar untuk aquarists dan produsen ikan komersial di seluruh dunia. Ichthyophthirius merupakan penyakit penting dari ikan tropis. Penyakit ini menular dan menyebar dengan cepat dari satu ikan ke ikan yang lain. Hal ini dapat menjadi parah ketika sekelompok ikan berkumpul banyak. Hal ini disebabkan parasit yang menyebabkan penyakit ini mampu membunuh dalam  jumlah besar ikan dalam waktu singkat. diagnosis dan pengobatan dini sangat penting untuk mengendalikan Ich dan mengurangi kerugian kematian ikan.

KLASIFIKASI Ichthyophthirius multifiliis
Ikan yang terinfeksi dengan Ich mungkin memiliki bintik putih pada kulitnya. Karena  penampilan ini, Ich disebut penyakit white spot. Kulit ikan juga terlihat bergelombang. Bentuk dewasa dari parasit yang besar (sampai 1 mm) dan dapat dilihat tanpa pembesaran. Ich sering menyebabkan ikan berlendir dalam jumlah yang besar yang berasal dari peluruhan kulit mereka, penampilan yang menyerupai jamur bila dilihat dari jarak di dalam air. Dalam beberapa kasus Ich parasit dapat hadir hanya pada insang dan bukan pada kulit.

Klasifikasi/Taxonomi : 
Kingdom : Protista
Phylum         : Ciliophora
Class         : Oligohymenophorea
Order : Hymenostomatida
Family : Ichthyophthiriidae
Genus : Ichtyophthirius
Spesies         : multifilis

Ikan yang terserang penyakit white spot [sumber]

Di bawah mikroskop, Ich tampak seperti bola dan bergerak dengan  gerakan bergulir, menggunakan rambut kecil yang disebut silia yang menutupi seluruh parasit. Motilitasnya sering dibandingkan dengan amuba. Pada bagian tengah organisme dewasa memiliki inti berbentuk C. Tahap infektif kecil tidak memiliki inti berbentuk C, dan mereka bergerak kaku di dalam air, karena berlawanan dengan air, bergerakan menggulung-gulung hingga dewasa. Dalam stadium in feksi lanjut, Ich ditemukan meringkuk di bawah lendir dan diatas lapisan sel-sel (epitel) di insang atau kulit. Ich sangat sulit untuk diobati karena lapisan pelindung lendir dan sel host yang melindungi parasit. Pengobatan yang tepat adalah penting untuk membantu mencegah pembentukan infeksi lanjutan.

Ichtyopthirius multifiliis [sumber]
SIKLUS HIDUP
Ichthyophthirius multifiliis adalah parasit protozoa yang biasanya ditularkan ke dalam kolam dengan ikan yang bersifat carrier, hewan lain, atau manusia. Parasit ini didapat dari sungai atau aliran air  yang digunakan sebagai sumber air untuk kolam. Ketika Ich dewasa meninggalkan ikan yang terinfeksi, itu disebut tomont. Tomont menempel pada dasar tambak atau permukaan lain dan membentuk kista berdinding tipis. Dalam kista, tomont membelah berkali-kali, membentuk sebanyak 2.000 tomites kecil. Ketika tomites yang dilepaskan dari kista ke dalam air, mereka memanjang dan menjadi theronts. theronts ini (juga disebut swarmers) berenang ke host ikan dan menembus epitel ikan dan menumbus kelenjar,  kekuatan berenang ini disebabkan oleh silia. Jika mereka tidak menemukan host ikan dalam satu atau dua hari mereka biasanya mati. Ini membuat Ich sebagai parasit obligat; ia harus memiliki sejumlah ikan untuk bertahan hidup. Begitu mereka menembus ikan mereka disebut sebagai trophonts. Trophonts hidup dalam sel  ikan host dan menjdi dewasa, sementara itu ia melindungi dari terhadap perlakuan kimia di bawah lendir atau epitel. Hanya theront dan tomont tahap sensitif terhadap perawatan di dalam air.

Jumlah waktu yang dibutuhkan untuk Ich menyelesaikan siklus hidupnya adalah bergantung pada temperatur. Ich umum menginfeksi ikan antara 68o dan 77oF (20o ke 25oC), namun infeksi yang terjadi biasanya pada suhu dingin (Serendah 33o F, 1oC). Biasanya, Ich tidak dapat bereproduksi dengan baik pada suhu air di atas 85o F (30oC), sehingga parasit biasanya tidak menimbulkan masalah di bulan musim panas yang hangat. Namun, dalam kasus di Florida tengah, Ich bertanggung jawab untuk membunuh ikan di 92o F (33o C). Untuk melengkapi siklus hidupnya, Ich membutuhkan kurang dari 4 hari (pada suhu lebih tinggi dari 75o F atau 24oC) untuk lebih dari 5 minggu (pada suhu lebih rendah dari 45o F atau 7oC).

Siklus hidup Ichtyopthirius multifiliis

GEJALA KLINIS
Tanda klasik dari infeksi "Ich" adalah kehadiran bintik-bintik putih kecil di kulit atau insang. Lesi ini terlihat seperti lecet kecil di kulit atau sirip ikan. Sebelum munculnya bintik-bintik putih, ikan dapat menunjukkan tanda-tanda iritasi, berkedip, kelemahan, kehilangan nafsu makan, dan penurunan aktivitas. Jika parasit hanya hadir pada insang, bintik-bintik putih akan tidak terlihat sama sekali, tetapi ikan akan mati dalam jumlah besar. Pada ikan ini, insang akan terlihat pucat dan sangat bengkak. bintik-bintik putih tidak boleh digunakan sebagai satu-satunya alat diagnosi, karena penyakit lain mungkin memiliki penampilan yang sama. Gill dan kulit kerokan harus diambil ketika tanda-tanda pertama dari penyakit diamati. Jika organisme "Ich" terlihat, ikan harus diobati segera karena ikan yang berat terinfeksi mungkin tidak akan bertahan lama dalam masa pengobatan.

PATOGENESA
Lapisan atas sel-sel insang, epitel, bereaksi terhadap invasi Ich hingga menebal, dan ini akan  menghamabt aliran oksigen dari air ke darah melauli insang. Lipatan dari insang, lamellae, juga menjadi cacat, mengurangi transfer oksigen. Organisme Ich yang meliputi insang juga menyebabkan penyumbatan mekanis Transfer oksigen. kondisi ini  menekankan ikan dengan menghalangi pernafasan. 

Lapisan epitel pada insang mungkin akan terpisah dan menyebabkan hilangnya elektrolit, nutrisi dan cairan dari ikan, sehingga sulit untuk ikan untuk mengatur konsentrasi air di tubuhnya. Infeksi sekunder oleh bakteri dan jamur juga lebih mudah menyerang ketika ikan mengalami infeksi ich.

Sedangkan pada kulit, cara penyerangan parasit ini dengan menempel pada lapisan lender bagian kulit ikan, parasit ini akan menghisap sel darah merah dan sel pigmen pada kulit ikan. Ikan yang terserang parasit ini memperlihatkan gejala sebagai berikut produksi lendir yang berlebihan, adanya bintik-bintik putih (white spote), frekuensi pernafasan meningkat, dan pertumbuhan terhambat.

DIAGNOSIS
Diagnosis "Ich" mudah dikonfirmasi oleh pemeriksaan mikroskopis pada kulit dan insang. Kerok beberapa bintik-bintik putih dari ikan yang terinfeksi, kemudian rekatkan pada objek glass dengan beberapa tetes air dan tutup dengan cover glass. Jika itu parasit dewasa yang besar, akan terlihat berwarna gelap (karena tebal silia meliputi seluruh sel), dan memiliki tapal kuda berbentuk inti yang kadang-kadang terlihat di bawah 100 x pembesaran . Parasit dewasa bergerak  perlahan dengan cara berguling, tanda ini  mudah dikenali. Untuk bentuk-bentuk yang belum matang (tomites) berukuran lebih kecil, tembus, dan bergerak cepat. Tomites mirip protozoa parasit lain yang disebut Tetrahymina. Tetrahymina biasanya tidak memerlukan pengobatan, sehingga penting untuk mengenali perbedaan antara dua parasit. Jika hanya tomites dilihat, siapkan slide kedua dan amati lebih teliti untuk parasit dewasa untuk mengkonfirmasi diagnosa. Pengamatan dari organisme tunggal adalah cukup untuk membuat pengobatan yang diperlukan.

A) Prasit Ich dewasa, B) Tomites atau Parasit Ich yang belum dewasa, C) Parasit Tetrahymena menyerupai tomites
Sumber : 1) Robert M. Durborow, Andrew J. Mitchell and M. David Crosby. 1998. .(White Spot Disease). Southern Regional Aquaculture Center. 2) Ruth Francis-Floyd and Peggy Reed. Ichthyophthirius multifiliis (White Spot) Infections in
Fish. The Institute of Food and Agricultural Sciences (IFAS)

Semoga Bermanfaat...

Wednesday, September 5, 2018

Media Penyuluhan : Flip Chart / Peta Singkap

Flip Chart/Peta Singkap adalah lembaran-lembaran kertas yang berisi gambar dan tulisan yang disusun secara berurutan, bagian atasnya disatukan dengan spiral sehingga mudah disingkap.

Peta singkap / Flip chart [sumber]
Dalam membuat peta singkap perlu diperhatikan ini serta urutan setiap lembarnya. Berikut syarat dalam pembuatan peta singkap :

A. Bentuk
  1. Lembar pertama memuat judul pesan yang akan disampaikan, biasanya ditulis dengan huruf kapital atau huruf balok.
  2. Setiap lembar hanya memuat satu sub judul materi dan penjelasan ringkas
  3. Setiap lembar diusahakan berisi informasi yang tidak padat dan jelas dibaca
  4. Lembaran yang berisi kombinasi tulisan dan gambar atau ilustrasi lain dibuat secara proporsional

B. Isi
  1. Secara keseluruhan peta singkap merupakan satu unit materi pembelajaran.
  2. Setiap lembar hanya berisi pokok-pokok penting dari materi yang akan dibahas. Oleh karena itu hindari pemuatan informasi yang tidak berguna atau berlebihan.
  3. Sebaiknya lembar pertama dan kedua dibiarkan kosong sebagai penutup/pelindung semua lembar berikutnya agar tidak terlebih dahulu terbaca oleh peserta.
  4. Pokok-pokok materi yang ditulis atau digambar harus singkat, jelas dan langsung kepada maksudnya. Jangan terlalu banyak pesan yang ingin disampaikan.
  5. Materi yang disajikan sebaiknya berupa kombinasi antara tulisan dan gambar atau ilustrasi lainnya.
  6. Tulisan, gambar dan ilustrasi lain yang dibuat harus disesuaikan dengan kapasitas kelas (jumlah pembelajar).

C. Ukuran
Ukuran peta singkap perlu disesuaikan dengan jumlah peserta :
  1. Ukuran kecil (30 X 50 cm atau 40 X 60 cm) untuk peserta 10 orang (sedikit)
  2. Ukuran sedang  (60 X 80 cm) untuk peserta 20 orang
  3. Ukuran besar (80 X 100 cm) untuk peserta 30 – 40 orang

D. Cara Pembuatan
  1. Bila tidak yakin akan kemampuan menulis dan menggambar, sebaiknya melakukan penjiplakan tulisan atau gambar yang diinginkan dari sumber lain. Penjiplakan ini dapat dilakukan dengan mengunakan kertas tipis transparan (kertas kalkir).
  2. Penjiplakan tulisan dan gambar dilakukan dengan menggunakan skala tertentu.
  3. Gambar dan tulisan yang dibuat sendiri sebaiknya dibuatkan sketsa terlebih dahulu di atas kertas HVS atau kertas gambar lain.
  4. Gambar yang diperlukan dari majalah, koran dan sumber lain digunting rapi dan ditempel pada lembaran peta singkap.
  5. Tulisan bisa  dibuat dengan menyablon dari huruf pindah (mecanorma, rugos, dan letter set).
  6. Bahan peta singkap  dapat menggunakan kalender bekas.

E. Menulis / Menggambar Pada Peta Singkap
  1. Siapkan isian (tulisan atau gambar) yang akan diterakan di atas lembaran peta singkap.
  2. Siapkan spidol standard dan yang besar, aneka warna (utamakan yang memiliki warna kuat)
  3. Usahakan menulis seringkas mungkin.
  4. Gunakan gambar yang menarik, terutama bila tidak harus menggunakan banyak kata dengan banyak baris.
  5. Batasi satu lembar untuk satu pokok bahasan, dan selalu beri judul.
  6. Biasakan berpikir dengan kata-kata kunci dan ungkapan-ungkapan pendek yang sederhana dan mudah dimengerti.
  7. Batasi penggunaan bahasa asing atau bahasa daerah / lokal, serta kiasan-kiasan ber”sayap” yang membingungkan peserta.
  8. Tampilkan secara berurut dan sistematis.

F. Cara Penggunaan Peta Singkap
  1. Tempatkan peta singkap pada alat penyangga dan yakinkan bahwa peta singkap tersebut sudah terfiksir rapi (dengan menggunakan dua penjepit, atau lak ban), serta kedudukan alat penyangga cukup stabil.
  2. Letakkan peta singkap pada ketinggian ideal, serta jelas terlihat dari setiap penjuru kelas.
  3. Penyaji berdiri di samping kanan papan penyangga (kecuali kidal).
  4. Gunakan alat penunjuk untuk membantu menunjuk materi yang diterangkan dan menyingkap setiap lembaran.
  5. Berikan cukup waktu kepada peserta untuk melihat dan membaca pesan yang dituliskan.
  6. Untuk lembaran yang dapat disobek (dicabut) sebaiknya ditempelkan di dinding atau tempat lain yang mudah dilihat oleh peserta.


Semoga Bermanfaat...

Monday, September 3, 2018

Wadah Budidaya Perikanan : Bak

Desain dan kontruksi bak pada dasarnya hampir sama dengan kolam. Desain dan kontruksi bak terpal/ plastik banyak digunakan dalam kegiatan budidaya ikan konsumsi. Hal ini dilakukan untuk menyiasati lahan yang terbatas dan kemudahan dalam proses pemeliharaan ikan konsumsi.
Bak terpal untuk budidaya ikan [sumber]
Desain dan kontruksi bak terpal/plastik disesuiakan dengan beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
  1. Jenis ikan konsumsi yang akan dibudidayakan
  2. Tahapan budidaya pembenihan atau pembesaran.
  3. Keseimbangan antara volume air dan penyangga bak harus kuat.
  4. Dasar peletakan untuk bak terpal/plastik harus rata agar tidak mudah bocor. Hal ini bisa dilakukan dengan meratakan tanah terlebih dahulu kemudian diberikan sekam.
  5. Ukuran bak disesuikan dengan ketersedian lahan
  6. Distribusi air dan pengeluaran limbah produksi
  7. Adanya jalur panen dan akses pengelolaan ikan
Untuk lebih jelasnya silahkan lihat pada tayang power point berikut :