Lalaukan

Informasi dunia kelautan dan perikanan serta kegiatan penyuluhan perikanan

Friday, June 28, 2019

Penyakit Virus Pada Ikan : Channel Catfish Virus Disease (CCVD)

Channel catfish virus disease (CCVD) pertama kali ditemukan sekitar tahun 1960an yang mengakibatkan kematian pada channel catfish (Ictalurus punctatus). Penyakit ini banyak ditemukan secara spesifik pada channel catfish dan brood stock yang diyakini sebagai sumber infeksi bagi ikan-ikan dewasa. Infeksi CCVD tumbuh optimal pada kondisi suhu perairan di atas 25oC dan dapat menyebabkan efek yang signifikan dimana tingkat mortalitas dapat mencapai 100% tiap unitnya.

Channel catfish virus disease adalah kelompok dari Keluarga Herpesvirus. Beberapa jenis catfish yang menjadi inang bagi kehidupan CCVD adalah blue catfish (Ictalurus furcatus), channel catfish (Ictalurus punctatus), dan white catfish (Ictalurus catus). Penyerangan channel catfish virus disease memiliki gejala klinis seperti penurunan aktivitas makan, pergerakan yang tidak beraturan dimana terkadang membentuk pola spiral, abdomen yang melunak, pendarahan pada sirip dan jaringan otot, pembengkakan pada mata, insang tampak pucat, rongga tubuh dipenuhi oleh cairan kuning dan lendir, hati dan ginjal tampak pucat dan terjadi pendarahan, serta limfa terlihat gelap dan membesar. Bentuk infeksi dan morfologi channel catfish virus disease disajikan pada Gambar berikut.

Bentuk infeksi dan morfologi CCVD

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Monday, June 24, 2019

Penyakit Virus Pada Ikan : Koi Herves Virus (KHV)

Sebuah virus yang menyerupai serangan virus herpes telah ditemukan dan disolasi di Amerika Serikat pada tahun 1998 seiring serangan ikan koi dan jenis ikan Carp lainnya di Israel dan Amerika Serikat. Virus ini diisolasi dari sejumlah jaringan tisu ikan yang menunjukkan gejala-gejala serangan KHV, termasuk hati, ginjal, insang, dan saluran pencernaan. Pertumbuhan optimal bagi KHV terjadi pada suhu 15oC sampai 20oC, sedangkan pada suhu di atas 30oC atau 37oC tidak ditemukan aktivitas pertumbuhan KHV. Virus KHV adalah Herpesvirus dsDNA yang terdiri atas 31 polipeptida virion, sedikitnya 8 glycosylated proteins yang memiliki kapsid dalam dengan bentuk simetris icosahedral berdiameter sekitar 100–110 nm. Komponen utama dari envelope adalah lipoprotein lapis ganda.

Morfologi dan ukuran sangat memiliki kemiripan dengan virus dari Keluarga Herpesviridae yang memiliki estimasi ukuran genom 277 kbp. Pada penelitian lainnya dijelaskan bahwa genom KHV memiliki kemiripan sebagaimana virus yang ditemukan pada kelompok catfish, yaitu channel catfish virus (CCV) dan herpesvirus cyprinid (CHV) dimana sebanyak 12 polipeptida virion memiliki kesamaan berat molekul dengan CHV dan 10 polipeptida mirip dengan CCV.

Infeksi yang disebabkan oleh koi herpes virus merupakan penyakit menular dengan gejala serangan seperti hancurnya jaringan dan organ internal, luka pada kulit, lepasnya sisik, pucat, perubahan warna, hingga kematian massif pada ikan mas koi (Cyprinus carpio koi) dan common carp (Cyprinus carpio carpio) sebagaimana disajikan pada Gambar berikut.
Bentuk infeksi dan morfologi KHV
Pada tahun 1999, referensi pertama terkait kematian massal dari ikan jenis koi dan Carp lainnya disampaikan pada 9th International Conference of European Association of Fish Pathologists (EAFP). Berdasarkan konferensi tersebut diperoleh informasi bahwa KHV merupakan penyakit menular yang belum terlaporkan serta banyak menyerang pada ikan koi dan jenis Carp lainnya. Oleh
karenanya dilakukan kajian terkait infeksi yang menyebabkan kerugian pada budidaya ikan jenis Carp di beberapa negara mulai dari Eropa Barat; Belgia, United Kingdom, Belanda, Jerman, Itali, Austria, Switzerland, dan Luxemburg hingga Afrika Selatan, Israel, Indonesia, dan Japan. Beberapa laporan kejadian serangan KHV pada sektor budidaya tertera pada Tabel berikut.

Beberapa kejadian infeksi KHV diseluruh dunia
Bio-Ekologi Patogen :
  1. Hanya menginfeksi ikan mas dan koi. Jenis ikan lain tidak terinfeksi, termasuk dari family cyprinidae.
  2. Tidak menular ke manusia yang menkonsumsi atau kontak dengan ikan terinfeksi KHV (tidak zoonosis).
  3. Sangat virulen, masa inkubasi 1 - 7 hari dengan kematian mencapai 100%
  4. Keganasan dipicu oleh kondisi lingkungan, terutama suhu air < 26 oC dan kualitas air yang buruk.
  5. Penularan melalui kontak antar ikan, air/lumpur & peralatan perikanan yang terkontaminasi, serta media lain: sarana transportasi, manusia, dll.
  6. Ikan yang bertahan hidup (survivors) dapat berlaku sebagai pembawa (carriers) atau menjadi kebal, namun tetap berpotensi sebagai carriers.
Gejala Klinis :
  1. Nafsu makan menurun, gelisah (nervous).
  2. Megap-megap, lemah dan ekses mukus Insang pucat, terdapat bercak putih (white patch), akhirnya rusak dan membusuk.
  3. Kulit melepuh (umumnya pada ikan koi).
  4. Sering diikuti infeksi sekunder oleh parasit, bakteri dan/atau jamur.
  5. Kematian massal bisa terjadi dalam waktu 24 – 48 jam
Diagnosa :
  1. Diagnosa berbasis molekuler/serologis : Polymerase Chain reaction (PCR), Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA), Immunohistochemistry.
  2. Isolasi virus pada kultur jaringan yang sesuai
Pengendalian :
  1. Desinfeksi sebelum/selama proses produksi.
  2. Manajemen kesehatan ikan yang terintegrasi.
  3. Penggunaa ikan bebas KHV & karantina (biosecurity).
  4. Vaksinasi anti-KHV dan/atau pemberian unsur imunostimulan selama masa pemeliharaan.
  5. Mengurangi padat tebar dan hindari stress.
  6. Budidaya ikan sistem polikultur.
  7. Pengobatan terhadap penginfeksi sekunder (bila diperlukan).
Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Friday, June 21, 2019

Jenis - Jenis Penyakit Viral Pada Ikan

Organisme perairan merupakan salah satu inang yang menjadi objek bagi beberapa kelompok virus untuk hidup. Oleh karena virus bukanlah suatu jenis organisme independen, maka virus berusaha mencari inang penempelan yang memiliki struktur fisiologi sama dengan materi genetik virus. Seiring berkembang ilmu pengetahuan dan teknologi, beberapa kelompok virus yang menyebabkan penyakit pada komoditas perairan telah berhasil diteliti dan diidentifikasi.

Sejumlah komoditas perairan telah menjadi sasaran infeksi berbagai kelompok virus, seperti Iridovirus, Herpesvirus, Birnavirus, Adenovirus, Rhabdovirus, Reovirus, Retrovirus, dan beberapa jenis virus lainnya sebagaimana disajikan pada Tabel berikut.
Jenis virus dan inang yang diinfeksi
Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Monday, June 17, 2019

Penyakit Virus Pada Ikan : Reproduksi Virus

Virus sebagai makhluk hidup antara (metaorganisme) hanya mengalami siklus kehidupan manakala virus menemukan inang yang memiliki kecocokan materi genetik bagi virus mentransfer dan menempelkan materi genetiknya. Virus dapat memperbanyak diri apabila partikel virus menginfeksi inang agar mensintesis semua komponen yang diperlukan untuk membentuk lebih banyak partikel virus. Komponen-komponen tersebut kemudian dirakit menjadi bentuk struktur virus dan partikel virus yang baru tersebut akan keluar dari sel inang untuk menginfeksi sel-sel lain. Perkembangbiakkan virus sering disebut replikasi.

Virus memerlukan lingkungan sel yang hidup sebagai inang sebagai vektor bagi virus untuk mensistesis komponen virus. Virus mengalami dua jenis siklus dalam kehidupannya, yaitu siklus litik dan siklus lisogenik. Secara umum, tahapan reproduksi dilakukan dalam beberapa langkah, yaitu adsorpsi (penempelan), penetrasi (injeksi), replikasi (eklipse), sintesis, dan pelapasan partikel virus yang matang dari sel. Meskipun demikian, siklus litik dan lisogenik tetap memiliki perbedaan mekanisme reproduksi virion baru sebagaimana ilustrasi Gambar berikut.

Proses Reproduksi Virus
Pada daur litik, infeksi virus terjadi melalui beberapa fase kehidupan, yaitu fase adsorpsi, pentrasi, replikasi dan sintesis, perakitan, dan lisis. Fase absorpsi adalah fase dimana fage menempel pada sel inang di daerah pelekatan tertentu yang disebut reseptor. Setelah itu, fage akan melakukan penetrasi materi genetik virus kepada sel inangnya, bersatu dengan materi genetik inang, dan kemudian membentuk komponen-komponen virus yang diikuti terjadi perakitan komponenkomponen tersebut menjadi virion baru. Pada kondisi yang ideal bagi virus untuk hidup, maka virus akan merusak sel inang dan terjadilah lisis sel. virus yang terbentuk akan melakukan aktivitas infeksi berikutnya.

Sedangkan pada daur lisogenik, virus juga melakukan absorpsi pada inang dan melakukan transfer materi genetik ke dalam tubuh inangnya. Setelah itu materi genetik virus dan inang akan menyatu, tetapi tidak diikuti oleh sintesis komponen-komponen virion. Hal ini dapat dipengaruhi oleh lingkungan yang tidak ideal bagi sel inang untuk memfasilitasi aktivitas sintesis tersebut. Oleh karenanya, materi genetik virus bersifat inaktif dan hanya berkembang seiring pembelahan sel inang yang terjadi. Pada saat sel inang membelah, maka inang telah terkontaminasi dan membawa materi genetik virus. Pada suatu saat, sel inang dapat mengalami lisis oleh virus apabila sel inang dalam keadaan yang cocok bagi virus untuk melakukan perakitan komponen-komponen virionnya atau mengalami daur litik.

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Friday, June 14, 2019

Penyakit Bakterial Ikan : Ice - Ice Pada Rumput Laut

Penyakit ini disebabkan oleh faktor lingkungan dan beberapa jenis bakteri: Pseudoalteromonas gracilis, Pseudomonas spp., dan Vibrio spp.

Bio – Ekologi Patogen :
  • Kasus ice-ice pada budidaya rumput laut dipicu oleh fluktuasi parameter kualitas air yang ekstrim (kadar garam, suhu air, bahan organik terlarut dan intensitas cahaya matahari).
  • Pemicu lain adalah serangan hama seperti ikan baronang, penyu hijau, bulu babi dan bintang laut menyebabkan luka pada thallus, sehingga mudah terinfeksi oleh mikroorganisme.
  • Pada keadaan stress, rumput laut akan membebaskan substansi organik yang menyebabkan thallus berlendir dan merangsang bakteri tumbuh melimpah di sekitarnya.
  • Pertumbuhan bakteri pada thallus akan menyebabkan bagian thallus menjadi putih dan rapuh. Selanjutnya, mudah patah, dan jaringan menjadi lunak yang menjadi ciri penyakit ice-ice.
  • Penyebaran penyakit inidapat terjadi secara vertikal (dari bibit) atau horizontal melalui perantaraan air.

Gejala klinis :
  • Penyakit ini ditandai dengan timbulnya bintik/bercak-bercak merah pada sebagian thallus yang lama kelamaan menjadi kuning pucat dan akhirnya berangsur-angsur menjadi putih. Thallus menjadi rapuh dan mudah putus.
  • Gejala yang diperlihatkan adalah pertumbuhan yang lambat, terjadinya perubahan warna menjadi pucat dan pada beberapa cabang thallus menjadi putih dan membusuk.

Thallus Eucheuma yang terinfeksi ice - ice
Thallus Eucheuma yang terinfeksi ice - ice
Pengendalian :
  • Penggunaan bibit unggul merupakan cara yang sangat penting untuk pengendalian penyakit ice-ice.
  • Desinfeksi bibit dapat dilakukan dengan cara dicelupkan pada larutan PK (potasium permanganat) dengan dosis 20 ppm.
  • Pemilihan lokasi budidaya yang memenuhi persyaratan optimum bagi pertumbuhan rumput laut.
  • Penerapan teknik budidaya yang disesuaikan dengan lingkungan perairan
  • Memperhatikan musim dalam kaitannya dengan teknik budidaya yang hendak diterapkan.

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Monday, June 10, 2019

Penyakit Bakterial Ikan : Mycobacteriosis/Fish Tuberculosis (TB)

Penyakit ini disebabkan oleh Mycobacterium marinum (air laut) dan M. fortuitum (air tawar)

Bio – Ekologi Pathogen :
  • Bakteri gram positif, berbentuk batang pendek dan non-motil.
  • Kolam tadah hujan dan pekarangan dengan sumber air terbatas lebih rentan terhadap infeksi jenis penyakit ini.
  • Menunjukkan gejala yang variatif, namun sering pula tidak menunjukkan gejala klinis sama sekali.
  • Pola serangan mycobacteriosis bersifat kronik - sub akut, baik pada ikan air tawar, payau maupun ikan air laut.
  • Suhu optimum berkisar 25–35 °C, tetapi masih dapat tumbuh baik pada suhu 18-20 °C.

Gejala Klinis :
  • Hilang nasfu makan, lemah, kurus, mata melotot (exopthalmia) serta pembengkakan tubuh.
  • Apabila menginfeksi kulit, timbul bercak-bercak merah dan berkembang menjadi luka, sirip dan ekor geripis.
  • Pada fase infeksi lanjut, secara internal telah terjadi pembengkakan empedu, ginjal dan hati; serta sering ditemukan adanya tubercle/nodule yang berwarna putih kecoklatan.
  • Pertumbuhan lambat, warna pucat dan tidak indah terutama untuk ikan hias.
  • Lordosis, skoliosis, ulser dan rusaknya sirip (patah-patah) dapat terjadi pada beberapa ekor ikan yang terserang.

Diagnosa :
• Isolasi dengan menggunakan media selektif, dan diidentifikasi melalui uji bio-kimia.
• Deteksi gen bakteri melalui teknik polymerase chain reaction (PCR)

Ikan gurame yang menderita mycobacteriosis, bercak - bercak merah dikulit
(menyerupai cacar) dan selanjutnya berkembang menjadi luka
Ikan gurame yang menderita mycobacteriosis, tampak dipenuhi tubercle/nodule
yang berwarna putih kecokelatan pada organ dalam dan daging ikan
Pengendalian :
  • Ikan yang terinfeksi segera diambil dan dimusnahkan.
  • Hindari penggunaan air dari kolam yang sedang terinfeksi bakteri tersebut.
  • Memperbaiki kualitas air secara keseluruhan, terutama mengurangi kadar bahan organik terlarut dan/atau meningkatkan frekuensi penggantian air baru.
  • Pengelolaan kesehatan ikan secara terpadu (ikan, lingkungan dan patogen)
  • Perendaman Chloramine B atau T 10 ppm selama 24 jam dan setelah itu dilakukan pergantian air baru.
Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Friday, June 7, 2019

Penyakit Bakterial Ikan : Streptococcus agalactiae, S. iniae

Bio – Ekologi Pathogen :
  • Bakteri gram positif, berbentuk bulat kecil (cocci), bergabung menyerupai rantai, non-motil, koloni transparan dan halus.
  • Infeksi Streptococcus iniae sering terjadi pada budidaya ikan air laut (kakap, kerapu), sedangkan S. agalactiae lebih banyak ditemukan pada ikan budidaya air tawar (nila). Pola serangan kedua jenis bakteri tersebut umumnya bersifat kronik – akut.
  • Target organ infeksi Streptococcus spp. banyak ditemukan di otak dan mata, sehingga disebut “syndrome meningoencephalitis dan panophthalmitis”. Penyakit ini sering dilaporkan pada sistem budidaya intensif, lingkungan perairan tenang (stagnant) dan/atau sistem resirkulasi.
  • Secara kumulatif, akibat serangan penyakit ini dapat menimbulkan mortalitas 30-100% dari total populasi selama masa pemeliharaan; dan penyakit ini merupakan kendala potensial yang harus diantisipasi berkenaan dengan program intensifikasi dan peningkatan produksi nila nasional.

Gejala Klinis :
  • Menunjukkan tingkah laku abnormal seperti kejang atau berputar serta mata menonjol (exopthalmus).
  • Nafsu makan menurun, lemah, tubuh berwarna gelap, dan pertumbuhan lambat.
  • Warna gelap di bawah rahang, mata menonjol, pendarahan, perut gembung (dropsy) atau luka yang berkembang menjadi borok.
  • Adakalanya. tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas kecuali kematian yang terus berlangsung.
  • Pergerakan tidak terarah (nervous) dan pendarahan pada tutup insang (operculum).
  • Sering pula ditemukan bahwa ikan yang terinfeksi terlihat normal sampai sesaat sebelum mati.
Diagnosa :
  • Isolasi dan identifikasi bakteri melalui uji bio-kimia.
  • Deteksi gen bakteri melalui teknik polymerase chain reaction (PCR)
Benih ikan nila yang terinfeksi Streptococcus agalactiae, menunjukkan gejala biexopthalmia
Ikan nila yan terifeksi Streptococcus agalactiae, menunjukkan gejala ulcer (borok) serius
Pengendalian :
  • Desinfeksi sarana budidaya sebelum dan selama proses pemeliharaan ikan.
  • Pencegahan secara dini (benih) melalui vaksinasi anti Streptococcus spp.
  • Pemberian unsur immunostimulan (misalnya penambahan vitamin C pada pakan) secara rutin selama pemeliharaan.
  • Memperbaiki kualitas air secara keseluruhan, terutama mengurangi kadar bahan organik terlarut dan/atau meningkatkan frekuensi penggantian air baru.
  • Pengelolaan kesehatan ikan secara terpadu (ikan, lingkungan dan patogen).
Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Monday, June 3, 2019

Penyakit Virus Pada Ikan :Karakteristik Penyakit Virus

Pengetahuan dunia mikroorganisme semakin berkembang seiring dengan penemuan piranti-piranti yang mampu digunakan untuk menggali informasi terkait mikroorganisme yang dipelajari. Salah satu informasi yang dewasa ini juga menjadi perhatian adalah berhubungan dengan keberadaan virus pada suatu organisme hayati. Virus merupakan organisme mikroskopis selain bakteri, jamur, dan sejumlah parasit lainnya. Virus memiliki keistimewaan dan berkarakteristik ganda, yaitu mampu menyerupai makhluk hidup dan makhluk tidak hidup (mati).

Di dalam aktivitasnya, virus hanya mengandalkan materi genetik untuk hidup melalui proses infeksi pada inang yang spesifik dan kemudian ikut memperbanyak diri bersamaan dengan perkembangan atau pembelahan sel yang terjadi. Akan tetapi apabila virus tidak menemukan inang yang sesuai untuk perkembangannya, virus hanya melakukan proses dormanisasi dan tidak terjadi aktivitas kehidupan virus. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa virus adalah parasit obligat yang hanya mampu bereproduksi sebagai makhluk hidup melalui transfer materi genetik kepada makhluk hidup inangnya (host) karena virus tidak memiliki perlengkapan seluler untuk bereproduksi sendiri.

Secara umum virus merupakan partikel tersusun atas elemen genetik, yaitu asam deoksiribonukleat (DNA) atau asam ribonukleat (RNA). Virus bertindak sebagai agen penyakit melalui pewarisan sifat pada rangkaian proses penetrasi, replikasi, dan sintesis asam nukleat kepada inangnya. Secara morfologi, ukuran virus lebih kecil dibandingkan dengan sel bakteri, yaitu 0,02-0,3 µm dimana 1 µm
setara dengan 1/1000 mm yang terdiri atas materi genetik (DNA atau RNA) dan tiga komponen lainnya, yaitu kepala, seludang, dan serabut ekor. Meskipun demikian, ada sejumlah virus yang tidak memiliki komponen-komponen tersebut dengan lengkap dan bahkan terkadang virus hanya memiliki materi genetik saja.

Berdasarkan materi genetik yang dimiliki, virus dikelompokkan menjadi virus DNA dan virus RNA. Sedangkan berdasarkan alur genomnya, maka virus diklasifikasikan menjadi tujuh kelompok, yaitu virus DNA utas ganda, DNA utas tunggal, RNA utas ganda, RNA utas tunggal (+), RNA utas tunggal (-), RNA utas tunggal (+) dengan DNA perantara, serta DNA utas ganda dengan RNA perantara. Apabila ditinjau dari proses perubahan materi genetik menjadi protein, maka materi genetik RNA akan lebih cepat dipetakan menjadi protein dibandingkan materi genentik DNA. Virus bermateri genetik DNA untuk dapat dibaca menjadi protein antigen diperlukan proses transkripsi menjadi RNA dan translasi dari RNA menjadi protein. Sedangkan virus bermateri genetik RNA hanya perlu satu proses translasi saja untuk dibaca sebagai protein antigen yang mampu memberi pengaruh bagi sel inang yang ditempelinya. Oleh karenanya, virus bermateri genetik RNA dianggap lebih berbahaya dan memiliki penyebaran yang lebih cepat dibandingkan dengan virus bermateri genetik DNA.

Selain berdasarkan materi genetik dan alur genom, virus juga dapat digolongkan menjadi virus berselubung dan virus tidak berselubung dengan berbagai bentuk. Beberapa contoh bentuk virus disajikan pada Gambar berikut.

Gambaran dan Morfologi Virus
Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Monday, May 20, 2019

Penyakit Bakterial Ikan : Columnaris Disease

Penyakit ini disebabkan oleh Flavobacterium columnare atau Fexibacterium columnare. Bakteri gram negatif, berbentuk batang kecil, bergerak meluncur, dan terdapat di ekosistem air tawar. Sifat bakteri ini adalah berkelompok membentuk kumpulan seperti column. Serangan sering terjadi pada kelompok ikan pasca transportasi. Sifat serangan umumnya sub acut – acut, apabila insang yang dominan sebagai target organ, ikan akan mati lemas dan kematian yang ditimbulkannya bisa mencapai 100%.
Insang Ikan Mas (Cyprinus carpio) yang Terinfeksi oleh Bakteri Fexibacterium columnare, Terlihat Adanya Pigmentasi Warna Cokelat Kekuningan diatas 
Insang Ikan Yang Terinfeksi oleh Bakteri Fexibacterium columnare, Terlihat adanya Pigmentasi Warna Cokelat Kekuningan diatas Koloni Bakteri
Gejala klinis :
  1. Luka di sekitar mulut, kepala, badan atau sirip. Luka berwarna putih kecoklatan kemudian berkembang menjadi borok.
  2. Infeksi di sekitar mulut, terlihat seperti diselaputi benang (thread-like) sehingga sering disebut penyakit “jamur mulut”.
  3. Di sekeliling luka tertutup oleh pigmen berwarna kuning cerah.
  4. Apabila menginfeksi insang, kerusakan dimulai dari ujung filamen insang dan merambat ke bagian pangkal, akhirnya filamen membusuk dan rontok (gill rot)

Pengendalian :
  1. Menghindari terjadinya stress (fisik, kimia, biologi)
  2. Mengurangi kadar bahan organik terlarut dan/atau meningkatkan frekuensi penggantian air baru
  3. Melalui perendaman dengan beberapa bahan kimia seperti : Garam dapur 0,5% atau kalium permanganat 5 ppm selama 1 hari. Acriflavine 5-10 ppm melalui perendaman selama beberapa hari. Chloramin B atau T 18-20 ppm melalui perendaman selama 2-3 hari. Benzalkonium chloride pada dosis 18-20 ppm selama 2-3 hari. Oxolinic acid pada dosis 1 ppm selama 24 jam

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Friday, May 17, 2019

Penyakit Bakterial Ikan : Yersinia ruckeri

Bakteri Yersinia ruckeri merupakan bakteri gram negatif, berbentuk batang, dan motil. Bakteri ini penyebab penyakit enteric red mouth (ERM) pada ikan-ikan salmonid, terutama rainbow trout. Gejala klinis serangan Yersinia ruckeri antara lain septicemia disertai exopthalmia, ascites, hemorrhage, serta borok yang terjadi di rahang, langit-langit rongga mulut, insang, dan operkulum. Hemorrhage terjadi pada jaringan otot dan permukaan serosal intestinum, pembengkakan pada limpa dan ginjal. Pada sejumlah kasus ERM, dari muara pengeluaran sering keluar cairan kuning saat perut ditekan, serta necrosis terjadi pada jaringan hati, ginjal, dan limpa. Bentuk infeksi dan morfologi bakteri Yersinia ruckeri ditampilkan pada Gambar berikut.
Bentuk dan Morfologi Yersinia ruckeri
Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Wednesday, May 15, 2019

Penyakit Bakterial Ikan : Edwardsiella sp

Bakteri Edwardsiella sp merupakan salah satu jenis bakteri yang memerlukan kewaspadaan tinggi untuk mencegah penyebaran dan infeksinya di perairan. Bakteri ini tergolong bakteri gram negatif yang berbentuk batang melengkung pleomorfik. Bakteri Edwardsiella sp merupakan penyebab penyakit edwardsilosis dan dikenal sebagai agen penyebab infeksi pada ikan Ictalurus punctatus (septicemia enteric). Sejumlah kejadian ditemukan pada ikan air tawar, yaitu Carassius auratus, Notemigonus crysoleucas (golden shiner), Micropterus salmoides (langermouth bass), dan Ictalurus nebulosus (brown bullhead).

Bentuk infeksi dan morfologi bakteri Edwardsiella sp ditampilkan pada Gambar berikut.
Bentuk Infeksi dan Morfologi Edwardsiella sp
Gejala klinis serangan bakteri Edwardsiella sp mirip infeksi oleh bakteri A. hydrophila berupa seperti borok-borok kecil di kulit dan kerusakan jaringan otot yang biasanya disertai dengan pembentukan gas yang terjebak di antara jaringan yang rusak (malodorous). Ikan yang sakit akan kehilangan kendali separuh tubuh bagian posterior meskipun tetap makan serta terjadi kerusakan jaringan (tonjolan atau borok) terbuka pada tulang kepala depan di antara kedua mata (hole in the head disease atau penyakit kepala berlubang) dan septicemia pada catfish (enteric septicemia of catfish). 
Organ Hati Ikan Flounder yang Terinfeksi Bakteri Edwardsiella tarda Berwarna Pucat dan Terdapat Bercak - Bercak Putih
Pengendalian :
  1. Menghindari terjadinya stress (fisik, kimia, biologi).
  2. Memperbaiki kualitas air secara keseluruhan, terutama mengurangi kadar bahan organik terlarut dan/atau meningkatkan frekuensi penggantian air baru.
  3. Pengelolaan kesehatan ikan secara terpadu (ikan, lingkungan dan patogen).
  4. Membatasi dan/atau mengatur pemberian pakan dan mencampur pakan dengan obat-obatan (medicated feed and feed restriction).
  5. Melakukan vaksinasi anti Edwardsiella tarda.

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Monday, May 13, 2019

Penyakit Bakterial Ikan : Pseudomonas sp

Pseudomonas aeruginosa merupakan salah satu bakteri gram negatif dari Keluarga Pseudomonadaceae yang menjadi penyebab penyakit pada ikan. Bakteri ini memiliki sifat tidak fermentatif, aerob, dan berbentuk batang pendek, motil dengan flagella polar, serta adanya flagellum yang terikat kuat di ujung sel. Di lingkungan perairan seperti laut, air payau, sungai, danau, dan kolam, beberapa spesies dari Pseudomonas yang juga banyak ditemukan adalah P. fluorescens, P. putida, dan P. anguilliseptica dengan bentuk serangan penyakit diantaranya hemorragic bacterial septicaemia akibat bakteri P. fluorescens, red spot disease akibat bakteri P. anguilliseptica, infeksi pada hampir semua jaringan dalam tubuh inang dengan jalan menyebar dari bagian lesi setempat melalui saluran darah mengakibatkan lesi pada jaringan lain, dan menyebabkan kematian ikan nila hingga 30% akibat serangan jenis bakteri P. aeruginosa dengan kelimpahan bakteri sebanyak 192 ×106 CFU/ml.

Bakteri ini merupakan patogen opurtunistik yang menyerang ikan air tawar dan digolongkan ke dalam kelompok bakteri perusak sirip (bacterial fin rot). Gejala klinis serangan bakteri Pseudomonas sp seperti kebanyakan infeksi bakteri lainnya, yaitu mirip seperti infeksi A. hydrophila, terjadi hemorrhage pada insang dan ekor, borok pada kulit, dan septicemia. Bentuk infeksi dan morfologi bakteri Pseudomonas sp disajikan pada Gambar berikut.
Bentuk Infeksi dan Morfologi Pseudomonas sp
Gejala Klinis :
  1. Ikan lemah bergerak lambat, bernafas megap-megap di permukaan air.
  2. Warna insang pucat dan warna tubuh berubah gelap.
  3. Terdapat bercak-bercak merah pada bagian luar tubuhnya dan kerusakan pada sirip, insang dan kulit.
  4. Mula-mula lendir berlebihan, kemudian timbul perdarahan.
  5. Sirip dan ekor rontok (membusuk).
  6. Perdarahan, perut ikan menjadi kembung yang dikenal dengan dropsy.

Ikan Lele yang Terinfeksi Bakteri Pseudomonas sp, Mengalami Pendarahan pada Seluruh Bagian Tubuh
Pengendalian
  1. Menghindari terjadinya stress (fisik, kimia, biologi).
  2. Memperbaiki kualitas air secara keseluruhan, terutama mengurangi kadar bahan organik terlarut dan/atau meningkatkan frekuensi penggantian air baru.
  3. Pengelolaan kesehatan ikan secara terpadu (ikan, lingkungan dan patogen).
  4. Kurangi pemberian pakan dan jumlah ikan dalam kolam.
  5. Perendaman dalam larutan PK 20 ppm selama 30 menit.


Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Friday, May 10, 2019

Penyakit Bakterial Ikan : Flexibacter columnaris

Bakteri Flexibacter columnaris adalah penyebab penyakit columnarisPenyakit columnaris disebut cotton woll disease atau saddle-back disease yang merupakan penyakit serius dan mudah menyebar pada ikan-ikan salmonid, catfish, dan ikan air tawar lainnya pada tingkat juvenil. Bakteri Flexibacter columnaris merupakan bakteri gram negatif dan berbentuk batang dengan ukuran panjang 12 µm dan lebar 0,5 µm. Bakteri ini menyukai perairan yang bersuhu relatif tinggi dan bersifat aerobik, dan tergolong bakteri gram negatif. Penyakit columnaris sering berkaitan dengan stress lingkungan terutama jika temperatur lingkungan meningkat terlalu tinggi. Berbeda dengan kebanyakan kondisi penyakit ikan lain, penyakit columnaris umumnya terjadi pada temperature 18-20oC.

Gejala klinis serangan berupa terjadi peradangan kulit yang disertai dengan bintik-bintik putih kecil pada sirip ekor dan selanjutnya meluas ke arah kepala. Selain itu, sirip ekor dan sirip anal dapat mengalami kerusakan berat, kulit mengalami borok berwarna putih keruh atau kelabu, insang mengalami kerusakan ditandai dengan necrosis di ujung distal lamellae insang dan menyebar ke seluruh lamellae insang, serta sering berkaitan dengan kondisi ikan stress. Bentuk infeksi dan morfologi bakteri Flexibacter columnaris disajikan pada Gambar berikut.
Bentuk Infeksi dan Morfologi Flexibacter columnaris

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Wednesday, May 8, 2019

Penyakit Bakterial Ikan : Vibrio sp

Bakteri Vibrio sp merupakan bakteri gram negatif, berbentuk batang, sebagian besar hidup di perairan laut dan payau, penyebab penyakit pada ikan air payau dan laut. Bakteri ini penyebab penyakit vibriosis atau dikenal juga dengan red pest, salt water furunculosis, red boil, atau pike pest

Gejala klinis serangan Vibrio anguillarum ditandai dengan gerakan latergik, kehilangan nafsu makan, kulit mengalami pemucatan (discolor), terjadi peradangan dan nekrotik, dilanjutkan dengan kulit melepur dan borok, di sekitar mulut dan insang terjadi bercak darah (erythema), jika infeksi berlanjut ke tingkat sistemik, terjadi exopthalmia serta pendarahan pada saluran pernafasan dan muara pengeluaran, necrosis pada jaringan otot, dan beberapa lainnya mirip seperti infeksi bakteri A. salmonicida dan A. hydrophila.

Jenis ikan yang terinfeksi antara lain kerapu (Epinephelus sp), beronang (Siganus sp), bandeng (Chanos chanos), kakap putih (Lates calcarifer). Vibriosis pada umumnya timbul seiring dengan tingginya padat penebaran, salinitas, dan bahan organik. Ikan stres akan lebih mudah terserang oleh Vibrio sp. Pada saat wabah terjadi, pada ikan muda tingkat kematian dapat mencapai 50% atau lebih. Ikan yang terinfeksi nafsu makannya menurun sehingga akan mengakibatkan hambatan pertumbuhan. 

Bentuk infeksi bakteri Vibrio sp pada ikan Sea Bass Dicentrarchus labrax dan mofologi Vibrio sp tertera pada Gambar berikut.
Bentuk Infeksi dan Morfologi Vibrio sp
Pengendalian
  1. Desinfeksi sarana budidaya sebelum dan selama proses pemeliharaan ikan.
  2. Pemberian unsur immunostimulan (misalnya penambahan vitamin C pada pakan) secara rutin selama pemeliharaan.
  3. Menghindari terjadinya stress (fisik, kimia, biologi).
  4. Pengelolaan kesehatan ikan secara terpadu (ikan, lingkungan dan patogen).
  5. Membatasi dan/atau mengatur pemberian pakan dan mencampur pakan dengan obat-obatan (medicated feed and feed restriction).
  6. Melakukan vaksinasi anti vibriosis.

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Monday, May 6, 2019

Penyakit Bakterial Ikan : Aeromonas sp

Aeromonas merupakan salah satu contoh bakteri yang sering dijumpai menyerang ikan sehingga mengakibatkan kematian masal pada ikan budidaya. Bakteri Aeromonas yang sering diidentifikasi menyebabkan penyakit pada ikan berasal dari spesies A. hydrophila dan A. salmonicida.

Bakteri A. hydrophila dimasukkankan ke dalam kelompok bakteri gram negatif dengan ciri-ciri berbentuk batang, motil, terdapat di perairan tawar, opurtunis pada ikan yang mengalami stress atau pada pemeliharaan padat tebar tinggi. Bakteri ini dapat menyerang semua jenis ikan air tawar dan bersifat laten. Penyakit ini dikenal dengan nama motile aeromonas septicemia (MAS) atau disebut juga hemorrhage septicemia.

Ciri - Ciri Serangan A. hydrophila
Serangan bakteri ini baru terlihat apabila pertahanan tubuh ikan menurun dengan menunjukkan gejala klinis seperti adanya hemorrhage pada kulit, insang, rongga mulut, borok pada kulit hingga jaringan otot, exopthalmia, ascites, pembengkakan limpa dan ginjal, dropsy, serta necrosis pada limpa, hati, ginjal, dan jantung.

Bakteri A. salmonicida juga dimasukkankan ke dalam kelompok bakteri gram negatif dengan ciri-ciri berbentuk batang, non motil, serta terdapat di perairan air tawar, payau, dan laut, penyebab utama penyakit pada ikan salmonid dengan penyakit yang dikenal dengan nama furunkulosis.

Ciri - Ciri Serangan A. salmonicida
Tanda-tanda klinis serangan A. salmonicida antara lain adanya hemorrhage pada otot tubuh dan bagian tubuh lainnya, jaringan subkutan seperti melepuh dan berkembang menjadi borok yang dalam (ulcerative dermatitis). Pada beberapa kasus septicemia terjadi pembengkakan limpa, ginjal, dan ascites, necrosis pada jaringan, serta akumulasi sel bakteri dan sel inflamatori (sel fagositosis) akibat eksotoksin leukositolitik. Secara umum, serangan bakteri Aeromonas sp dapat dilihat pada Gambar berikut.
Bentuk Infeksi dan Morfologi Aeromonas sp
Pengendalian
  1. Pencegahan secara dini (benih) melalui vaksinasi antiAeromonas hydrophila (HydroVac).
  2. Desinfeksi sarana budidaya sebelum dan selama proses pemeliharaan ikan.
  3. Pemberian unsur immunostimulan (misalnya penambahan vitamin C pada pakan) secara rutin selama pemeliharaan.
  4. Menghindari terjadinya stress (fisik, kimia, biologi).
  5. Memperbaiki kualitas air secara keseluruhan, terutama mengurangi kadar bahan organik terlarut dan/atau meningkatkan frekuensi penggantian air baru.
  6. Pengelolaan kesehatan ikan secara terpadu (ikan, lingkungan dan pathogen).
  7. Oxolinic acid pada dosis 10 mg/kg bobot tubuh ikan/hari selama 10 hari.

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Friday, May 3, 2019

Jenis - Jenis Penyakit Bakterial Pada Ikan

Beberapa penyakit ikan yang disebabkan oleh bakteri mengakibatkan kematian yang besar baik di alam maupun dalam kegiatan budidaya ikan. Sejumlah bakteri mampu hidup di perairan dan sering juga ditemukan pada setiap komponen akuatik. Sebagian besar bakteri termasuk dalam bagian mikroflora normal di dalam suatu lingkungan perairan. Bakteri tersebut umumnya sebagai mikroorganisme patogen yang opurtunis dan penyebab infeksi sekunder, hanya sedikit bakteri yang bersifat patogen obligat. Meskipun demikian bakteri dapat hidup dalam waktu yang lama dalam jaringan inangnya tanpa menimbulkan gejala klinik. Gejala klinik penyakit bakterial umumnya tarnpak setelah sebelumnya didahului oleh perubahan fisiologi di dalam tubuh inangnya. Oleh karena itu, untuk mengetahui mekanisme infeksi bakteri pada ikan, harus dipahami hubungan antara bakteri (patogen), gejala klinik, inang, dan lingkungannya.
Salahsatu Ikan Yang Terkena Penyakit Bakteri
Penyakit bakterial merupakan salah satu masalah utama di dalam usaha budidaya, terutama berkaitan dengan penurunan produksi. Perlakuan untuk mengurangi infeksi penyakit bakterial dalam kegiatan budidaya dapat dilakukan dengan tindakan pencegahan melalui penanganan yang baik dan mempertahankan kondisi lingkungan yang optimal bagi inang, tetapi tidak cukup baik bagi perkembangan bakteri.

Penyakit bakterial pada ikan biasanya menunjukkan gejal-gejala klinik yang hampir serupa. Infeksi bakteri akan menunjukkan perubahan abnormal (lesi) pada kulit atau sirip, jaringan otot, dan organ-organ internal. Penentuan spesies bakteri yang menginfeksi tidak bisa langsung secara visual, melainkan diuji dalam skala laboratoris baik pengujian morfologi maupun biokimiawinya.

Sejumlah bakteri yang sering ditemukan menginfeksi ikan antara lain :
1. Aeromonas sp, 
2. Vibrio anguillarum,
3. Flexibacter columnaris
4. Pseudomonas sp, 
5. Edwardsiella sp, 
6. Yersinia ruckeri, 
7. Columnaris Disease
8. Streptococcus agalactiae, S. iniae
9. Mycobacteriosis/Fish Tuberculosis (TB)
10. Ice - Ice

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Monday, April 22, 2019

Penyakit Ikan Golongan Bakteri : Klasifikasi Bakteri

Seiring majunya ilmu pengetahuan di bidang mikrobiologi yang diawali dengan penemuan mikroskop oleh Antony Van Leeuwenhoek (1632-1723), morfologi bakteri yang diketahui bukan hanya berbentuk batang. Beberapa bentuk bakteri telah berhasil diidentifikasi memiliki bentuk bulat (coccus), batang (bacil), koma (spiral), serta beberapa bentuk lainnya, seperti Stella yang memiliki bentuk bintang dan Haloarcula yang merupakan Genus Archaea halofilik berbentuk rektangular.

Bakteri dengan bentuk kokus atau bulat dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok dikarenakan jumlah gandengan bulatan pada setiap koloninya, yaitu diplococcus (berbentuk dua bulatan), streptococcus (berbentuk untaian rantai), staphylococcus (bersusun seperti buah anggur), tetracoccus (bergandengan empat bulatan seperti persegi), dan sarcina (berbentuk kubus). Demikian juga pada pengklasifikasian kelompok bakteri yang berbentuk batang (bacil) dimana apabila untaian batang bergandengan dua disebut diplobacil, batang bergandengan banyak disebut streptobacil, serta berbatang pendek menyerupai coccus disebut coccobacilli. Sedangkan bakteri berbentuk spiral merupakan golongan yang paling sedikit dibandingkan dengan kelompok lainnya. Pada bakteri dengan bentuk spiral, morfologi tubuh bakteri berpilin seperti spiral atau membengkok seperti koma atau vibrio.

Klasifikasi bakteri bukan hanya dapat dilihat dari aspek morfologi saja, akan tetapi bakteri juga dapat dibedakan berdasarkan kebutuhan oksigen, yaitu aerob dan anaerob serta klasifikasi berdasarkan sifat pewarnaan biokimiawinya, yaitu bakteri gram positif dan gram negatif. Di dalam Bergey’s Manual of Systematic Bacteriology, bakteri dikelompokkan berdasarkan grup menurut bentuk, sifat pewarnaan gram, dan kebutuhannya akan oksigen, antara lain bakteri basili, koki gram negatif, dan aerobik; bakteri basili gram negatif dan anaerobik fakultatif, bakteri basili gram negatif dan anaerobik; bakteri basili dan kokobasili gram negatif; bakteri koki gram positif; bakteri basili gram positif tidak berspora; bakteri basili gram positif dan berspora; dan bakteri dengan sel bercabang atau bertunas. Gambaran morfologi bakteri disajikan pada Gambar berikut.

Beberapa Bentuk Bakteri
Pewarnaan gram juga menjadi indikator dalam pengklasifikasian bakteri. Pewarnaan gram memberikan gambaran fisiologi, kandungan yang dimiliki oleh dinding sel, ketahanan terhadap perlakuan fisik dan antibiotik, serta tingkat patogensitasnya. Pewarnaan gram merupakan metode diferensial yang sangat berguna dan paling banyak digunakan dalam tahapan penting identifikasi bakteri.

Pewarnaan ini didasarkan jenis lapisan pada dinding sel bakteri dimana sejumlah bakteri memiliki lapisan peptidoglikan yang dominan pada dinding sel dan sebagian lainnya memiliki lapisan lemak pada membran sel. Perbedaan lainnya dari bakteri gram positif dan negatif disajikan pada Tabel berikut.
Tabel Perbedaan Bakteri Gram Positif dan Gram Negatif

Dinding Sel Bakteri Gram Positif dan Gram Negatif 
Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Friday, April 19, 2019

Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mikroba

Mikroorganisme juga bagian dari makhluk hidup dimana pertumbuhan dan perkembangannya dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik faktor biotik maupun faktor abiotik. Faktor biotik ada yang dari dalam dan ada faktor biotik dari lingkungan. Faktor biotik meliputi bentuk mikroorganisme, sifat mikroorganisme terkait respon terhadap perubahan lingkungan, kemampuan menyesuaikan diri (adaptasi), serta keberadaan organisme lainnya di dalam lingkungan tersebut.
Ilustrasi Mikroorganisme
Sedangkan faktor abiotik meliputi susunan dan jumlah senyawa yang dibutuhkan di dalam medium kultur, lingkungan fisik (suhu, kelembaban, cahaya, dan sebagainya), serta keberadaan senyawa-senyawa lain yang dapat bersifat toksik, penghambat, atau pemacu yang berasal dari lingkungaan maupun yang dihasilkan sendiri. Beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan jasad renik heterotrof adalah nutrien, aktivitas air, suhu, pH, oksigen, potensi oksidasi-reduksi, zat penghambat, dan adanya jasad renik lainnya.

A. NUTRISI
Medium pertumbuhan merupakan nutrisi untuk tumbuh mikroba dimana harus mengandung semua elemen yang dibutuhkan untuk pertumbuhan mikroba dalam proporsi yang serupa (isotonik) dengan sel mikroba. Mikroorganisme juga membutuhkan suplai makanan sebagai sumber energi dan penyedia unsur-unsur kimia dasar bagi pertumbuhan sel, seperti karbon, nitrogen, hidrogen, oksigen, sulfur, fosfor, magnesium, zat besi, dan sejumlah kecil logam lainnya. Pada umumnya mikroba memerlukan makro nutrien, yaitu nutrisi yang dibutuhkan dalam jumlah besar seperti C, H, O, dan N. Selain makro nutrient, mikroba juga memerlukan meso nutrien seperti Mg, P, serta S, dan mikro nutrien seperti Fe, Cu, Zn, dan Mo. Pertumbuhan mikroba juga dipengaruhi faktor lainnya dimana mikroba dapat tumbuh dengan baik apabila tersedia cukup air, sumber karbon, sumber nitrogen, vitamin, zat tumbuh lainnya, dan mineral.

B. SUMBER KARBON
Karbon merupakan unsur yang paling penting bagi pertumbuhan mikroba dan bahan yang paling besar dalam medium kultur. Berdasarkan berat mikroba, sekitar 50% dari berat mikroba adalah karbon. Jasad renik yang heterotrof menggunakan karbohidrat sebagai sumber energi dan karbon, walaupun komponen organik lainnya yang mengandung karbon mungkin juga dapat.

C. AKTIVITAS AIR
Semua organisme membutuhkan air untuk kehidupannya, termasuk juga mikroorganisme. Air berperan dalam reaksi metabolisme sel dan merupakan alat pengangkut zat-zat gizi atau bahan limbah ke dalam dan ke luar sel. Semua kegiatan ini membutuhkan air dalam bentuk cair dan apabila air tersebut mengalami kristalisasi serta membentuk es atau terikat secara kimiawi dalam larutan gula atau garam, maka air tersebut tidak dapat digunakan oleh mikroorganisme. Jumlah air yang terdapat dalam bahan pangan atau larutan dikenal sebagai aktivitas air (water activity atau aW). Setiap mikroorganisme membutuhkan air dalam jumlah yang berbeda. Bakteri umumnya membutuhkan nilai aW yang tinggi, yaitu 0,91, sedangkan khamir 0,87-0,91, dan kapang memiliki aW yang paling rendah, yaitu 0,80-0,87.

D. KONSENTRASI OKSIGEN
Konsentrasi oksigen di dalam lingkungan akan mempengaruhi pertumbuhan mikroba. Selama proses pertumbuhan bakteri aerob, oksigen harus diatur sebaik mungkin untuk memperbanyak atau menghambat pertumbuhan mikroba. Di dalam proses peningkatan kandungan oksigen di dalam media dapat dilakukan dengan menggunakan proses aerasi. Proses aerasi berguna untuk mensuplai oksigen, mengusir CO2, uap air, metabolit yang volatil, dan untuk mengatur suhu.

E. SUMBER NITROGEN
Pertumbuhan mikroorganisme memerlukan senyawa nitrogen baik dalam bentuk organik maupun anorganik. Garam organik yang biasanya digunakan adalah garam amonium nitrat atau urea. Sumber Nitrogen organik yang terbukti bermanfaat adalah pepton, ekstrak khamir, tepung kedelai, dan lain-lain. Penambahan senyawa organik sering kali dapat meningkatkan pertumbuhan mikroorganisme dan produk katabolitnya. Kebanyakan mikroorganisme heterotrof menggunakan komponen organik yang mengandung nitrogen sebagai sumber N, tetapi beberapa dapat pula menggunakan sumber nitrogen anorganik.

F. SUHU
Suhu merupakan salah satu faktor penting dalam kehidupan mikroba. Beberapa mikroba dapat tumbuh pada kisran suhu yang luas. Suhu optimum pertumbuhan adalah suhu yang paling baik untuk kehidupan, sedangkan suhu minimum adalah suhu yang paling rendah dimana kegiatan mikroba masih berlangsung dan suhu maksimum adalah suhu tertinggi yang masih dapat menumbuhkan mikroba tetapi pada tingkat kegiatan fisiologi yang paling rendah. Suhu dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme. Berdasarkan suhu pertumbuhannya, mikroorganisme dikelompokkan menjadi psikrofil (mampu bertahan pada suhu dingin), mesofil (mampu bertahan pada suhu normal), dan termofil (mampu bertahan pada suhu tinggi) sebagaimana tertera pada Tabel berikut.
Tabel Kisaran Suhu untuk Pertumbuhan Jasad Renik
G. DERAJAT KEASAMAN (pH)
Salah satu faktor kritis bagi pertumbuhan mikroba adalah pH. Derajat keasaman mempunyai nilai 1 sampai dengan 14. Setiap spesies mikroorganisme mempunyai kisaran hidup pada pH tertentu yang terdiri atas pH minimum, optimum dan maksimum. Bakteri mempunyai kisaran nilai pH pertumbuhan sekitar 6,5 sampai dengan 7,5, sedangkan khamir di daerah asam antara 4,0 sampai 4,5. Jamur benang dan aktinomiset tertentu mempunyai kisaran pH yang lebih luas dibanding bakteri maupun khamir. Oleh karena itu berdasarkan nilai pH, mikroorganisme juga dikelompokan menjadi tiga, yaitu kelompok acidofilik (asam), alkalifilik atau basofilik (basa), serta mesofilik atau neutrofilik (netral).

H. SENYAWA PENGHAMBAT (INHIBITOR)
Keberadaan beberapa senyawa dalam lingkungan dapat menghambat aktivitas mikroorganisme. Senyawa penghambat seperti asam, gula, garam, alkohol, peroksida, dan antibiotik dapat mengganggu metabolisme baik secara langsung merusak sel maupun tidak langsung. Perusakan sel bakteri terjadi melalui aktivitas lisis dimana sitoplasma sel ditarik keluar tubuh, pengrusakan dinding sel, peracunan terhadap sel, dan mengganggu stabilitas lingkungan sehingga berbahaya bagi pertumbuhan dan perkembangan sel bakteri.

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Wednesday, April 17, 2019

Penyakit Ikan Golongan Bakteri : Pertumbuhan Bakteri

Pertumbuhan bakteri pada dasarnya sama seperti makhluk hidup yang lainnya, yaitu mengalami berbagai fase kehidupan, meskipun secara definisi pertumbuhan organisme uniseluler dan multiseluler berbeda. Pada organisme multiseluler, pertumbuhan diartikan sebagai peningkatan jumlah sel per organisme dimana ukuran sel juga menjadi lebih besar. Sedangkan pada organisme uniseluler, pertumbuhan merupakan pertambahan jumlah sel yang berarti juga pertambahan jumlah organisme. Pertumbuhan mikroorganisme dapat ditinjau dari dua sudut, yaitu pertumbuhan individu dan pertumbuhan koloni atau pertumbuhan populasi. Pertumbuhan individu diartikan sebagai bertambahnya ukuran tubuh, sedangkan pertumbuhan populasi diartikan sebagai bertambahnya kuantitas individu dalam suatu populasi atau bertambahnya ukuran koloni. Namun suatu pertumbuhan mikroorganisme unisel (bersel tunggal) sulit diukur dari segi pertambahan panjang, luas, volume, maupun berat karena pertambahannya sangat sedikit dan berlangsung sangat cepat sehingga pertumbuhan mikroorganisme dianggap sama dengan satuan perkembangannya. Secara umumnya, siklus pertumbuhan makhluk hidup mengalami empat fase, yaitu adaptasi, pertumbuhan cepat, pertumbuhan yang stagnan, dan kematian. Demikian juga kehidupan mikroorganisme, termasuk bakteri mengalami fase pertumbuhan sebagaimana digambarkan sebagai kurva pertumbuhan yang tertera pada Gambar berikut.

Fase Pertumbuhan Bakteri
a) Lag Phase atau Fase Adaptasi
Fase lag dapat dikatakan sebagai fase persiapan, permulaan, adaptasi, atau penyesuaian yang merupakan fase pengaturan suatu aktivitas dalam lingkungan baru fase adaptasi dan pertumbuhan lambat. Pada fase lag, bakteri belum tumbuh dengan cepat dikarenakan sel masih beradaptasi dengan kondisi lingkungan di sekitarnya. Pada fase ini juga, pertumbuhan sel berjalan lambat atau bahkan belum terjadi pembelahan dikarenakan beberapa enzim belum disintesis. Kecepatan setiap jenis sel bakteri beradaptasi dengan lingkungannya dipengaruhi oleh banyak faktor, terutama ketersediaan nutrisi, sumber energi, pH, aktivitas air, senyawa penghambat, kompetitor, dan sebagainya. Semakin ideal faktor-faktor lingkungan, maka semakin cepat terjadinya fase adaptasi dan bakteri akan tumbuh dengan baik secara eksponensial.

b) Log Phase atau Fase Eksponensial
Pada fase log, sel membelah dengan cepat dimana pertambahan jumlahnya mengikuti kurva logaritmik. Keberadaan faktor-faktor pertumbuhan yang ideal mempercepat bakteri untuk tumbuh dan berkembang. Pada fase ini sel bakteri juga membutuhkan energi lebih banyak dibandingkan dengan fase lainnya dan sel sangat sensitif dengan keadaan lingkungannya. Pada kondisi ini, metabolisme bakteri sudah aktif, termasuk menghasilkan enzim-enzim yang dibutuhkan oleh bakteri untuk beraktivitas seperti enzim proteolitik, lipolitik, selulolitik, dan sebagainya. Sampai pada batas waktu tertentu, maka produksi metabolik yang dihasilkan akan memberi dampak bagi kehidupan mikroorganisme tersebut. Hasil metabolisme yang diproduksi pada rentang waktu tertentu dapat mengganggu kehidupan bakteri sehingga pertumbuhan pada akhirnya akan berjalan melambat.

c) Stasionary Phase atau Fase Stagnan
Pada fase ini, pertumbuhan populasi melambat, stagnan, atau stasioner. Hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor, antara lain zat nutrisi sudah berkurang, adanya hasil-hasil metabolisme yang mungkin beracun dan dapat menghambat pertumbuhan, adanya kompetitor, dan sebagainya. Meskipun masih menunjukkan peningkatan jumlah sel, tetapi sudah lambat dan bahkan dapat terjadi stagnasi pertumbuhan dimana jumlah sel yang tumbuh sama dengan jumlah sel yang mati. Oleh karena itu, pada fase ini membentuk kurva datar dan akan mengalami kecenderungan menuju fase kematian manakala kondisi tidak ideal terus dibiarkan. Apabila kondisi lingkungan didesain ideal, maka kehidupan bakteri akan berkembang kembali melalui siklus adaptasi atau logaritmik.

d) Death Phase atau Fase Kematian
Pada fase ini, populasi mikroorganisme mulai mengalami kematian yang dikarenakan oleh kehabisan nutrisi di dalam lingkungan dan energi cadangan di dalam sel juga sudah habis. Jumlah sel yang mati semakin lama akan semakin banyak dan kecepatan kematian ini sangat dipengaruhi oleh kondisi nutrisi, lingkungan, dan jenis mikroorganisme tersebut.

Kurva pertumbuhan bakteri memberikan gambaran tentang fase-fase kehidupan dan umur kultur bakteri tersebut. Kurva pertumbuhan dibuat dengan menggunakan dua metode, yaitu berdasarkan densitas optik (optical density-OD) yang menunjukkan jumlah sebaran cahaya oleh suatu populasi, perhitungan jumlah sel dengan haemocytometer yang menunjukkan perhitungan jumlah sel melalui pengamatan secara langsung, serta perhitungan koloni dengan menggunakan metode standard plate count (SPC) yang menunjukkan jumlah koloni bakteri hidup per ml sampel (colony form unit/ml). Gambaran kurva pertumbuhan bakteri yang diuji pada bakteri Micrococcus sp dengan metode yang
berbeda disajikan pada Gambar berikut.
Fase Pertumbuhan Bakteri Micrococcus sp Pada Berbagai Analisis
Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Monday, April 15, 2019

Penyakit Ikan Golongan Bakteri (Bacterial Disease)

Bakteri merupakan salah satu kelompok mikroorganisme yang asal katanya adalah bakterion Yunani) yang berarti tongkat atau batang. Bakteri merupakan mikroorganisme bersel tunggal (uniseluler) berukuran antara 0,5-10 µm x 2,0-5,0 µm. Pengamatan bakteri dilakukan dengan bantuan mikroskop melalui pemeriksaan koloni. Sel bakteri hanya akan terlihat di bawah mikroskop pada ulasan yang diwarnai di atas gelas preparat. Karakteristik lain dari bakteri adalah bakteri berkembangbiak secara aseksual dengan pembelahan biner, yaitu secara amitosis membelah menjadi dua bagian dan secara seksual. Pada umumnya bakteri tidak berklorofil dan beberapa saja yang bersifat fotosintetik, dapat hidup bebas, parasitik, saprofitik, beberapa jenis membentuk spora untuk pertahanan diri dari lingkungan yang tidak sesuai, bergerak dengan flagel, bersigat patogen, serta bebarapa jenis bakteri berguna bagi manusia, hewan, dan tumbuhan. Berkaitan dengan jumlah flagel yang berfungsi sebagai alat gerak, bakteri dapat kelompokkan menjadi monotrik yang memiliki satu flagel di ujung tubuhnya, lofotrik dengan banyak flagel yang hanya terletak di salah satu sisi tubuhnya, amfitrik yang memiliki banyak flagel di kedua sisi tubuhnya, serta peritrik yang memiliki banyak flagel dan tersebar di seluruh sisi tubuhnya sebagaimana tertera pada ilustrasi berikut.
Kelompok Bakteri Berdasarkan Letak Flagel
Bakteri merupakan bagian dari mikroorganisme prokariot (inti sel tidak sejati) yang berbeda dengan organisme maupun mikroorganisme eukariot (inti sel sejati). Pada organisme prokariot, inti sel tidak lindungi oleh dinding inti selnya sehingga dikatakan tidak memiliki dinding inti sel yang sejati. Sedangkan organisme eukariot memiliki dinding inti sel yang membungkus materi inti sel tersebut. Sejumlah perbedaan lainnya antara makhluk hidup prokariot dan eukariot disajikan pada tabel dan gambar berikut.
Tabel Perbedaan Organisme Prokariot dan Eukariot
Perbedaan Sel Prokariot (atas) dan Eukariot (bawah)
Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB KKP

Semoga Bermanfaat...

Friday, April 12, 2019

Hama Ikan : Pengganggu

Hama ikan penganggu adalah adalah organisme atau aktivitas lain diluar ikan budidaya yang keberadaannya dapat mengganggu ikan budidaya. Hewan tersebut dapat merusak pematang (menjadi bocor atau lubang), merobek saringan pada pintu pemasukan,serta merusak atau melubangi bahan-bahan kayu atau jaring. Kebocoran kolam menyebabkan surutnya air kolam, dan banyak benih ikan yang keluar/lolos. Perlakuan manusia yang kurang baik dalam mengelola ikan dapat dikategorikan sebagai pengganggu, seperti saat sampling yang tidak sesuai aturan atau cara panen yang kurang baik.

Selain hewan yang bisa menjadi pengganggu dalam kegiatan budidaya ikan, aktifitas manusia juga bisa menjadi pengganggu kegiatan budidaya bahkan dampaknya bisa lebih parah dari yang diakibatkan hama lain yakni pencuri ikan.
Ilustrasi pencuri [sumber]

Penanganannya : Pengawasan, pemagaran, pemberian ranting di kolam.

Sumber : Materi Pelatihan Penanganan Hama Penyakit Ikan BPPP Tegal

Semoga Bermanfaat...

Monday, April 8, 2019

Hama Ikan : Kompetitor

PENGERTIAN
Hama ikan kompetitor adalah organisme yang menimbulkan persaingan dalammendapatkan oksigen, pakan dan ruang gerak. Kompetitor yang sering menyebabkan terjadinya persaingan dalam memperoleh pakan adalah ikan mujair (Tilapia mossambica).

Spesies ikan mujair ini selain rakus juga mudah berkembangbiak, sehingga populasinya di dalam kolam akan meningkat dengan cepat, sehingga ikan budidaya menjadi terganggu, lambat pertumbuhannya dan dapat menyebabkan kematian.

Masuknya hama ikan kompetitor selain dapat menyebabkan terjadinya persaingan untuk mendapatkan pakan juga akan menyebabkan terjadinya kompetisi untuk memperoleh oksigen dan ruang gerak, sehingga kompetisi yang terjadi adalah kompetisi biological requirement, yakni ruang dan makanan. Contoh hama kompetitor lainnya adalah jenis katak (pada fase berudu), keong, dan sebagainya.

PENANGANAN HAMA IKAN KOMPETITOR
1. Keong Mas
Keong mas [sumber]

















Penanganannya : Pengeringan kolam, pemasangan saringan inlet, penangkapan langsung, meracun ikan gabus pada saat persiapan kolam : akar tuba (rotenone) 10 kg/ha, biji teh (saponin) 150-200 kg/ha, tembakau (nikotin) 200 – 400 kg/ha.

2. Berudu / Kecebong
Berudu / Kecebong [sumber]















Penanganannya : Pengeringan kolam, pemasangan saringan inlet, penangkapan langsung, meracun ikan gabus pada saat persiapan kolam : akar tuba (rotenone) 10 kg/ha, biji teh (saponin) 150-200 kg/ha, tembakau (nikotin) 200 – 400 kg/ha.

Sumber : Materi Pelatihan Penanganan Hama Penyakit Ikan BPPP Tegal

Semoga Bermanfaat...

Friday, April 5, 2019

Hama Ikan : Predator

PENGERTIAN
Hama ikan yang bersifat predator secara harfiah dirtikan sebagai pemangsa. Pada dasarnya predator adalah binatang yang sifatnya karnivora (pemakan daging) dengan cara memangsaatau menyantap targetnya. Predator sejatinya selalu memiliki ukuran tubuhyanglebih besar dari mangsanya atau jika predatornya berukuran kecil, biasanya memiliki “senjata” yang mematikan seperti bisa, racun dan sejenisnya.

Predator yang berukuran jauh lebih besar dari mangsanya, biasanya memangsa santapan dalam jumlah banyak dan biasanya dilakukan berkali-kali. Predator ini hidup menetap di kolam atau di lingkungan sekitar areal budidaya walaupun ada juga yang sekedar mampir di areal budidaya tersebut dalam rangka mencari makan atau bermigrasi (berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya). Jenisnya dapat berupa ikan yang lebih besar, hewan air jenis lain, hewan darat dan beberapa jenis serangga/insekta air. Contohnya ikan tagih ( Mystus nemurus ), lele (Clarias batrachus), kakap ( Lates calcarifer), bulan-bulan (Megalops cyprinides), ikan gabus atau pemangsa lainnya seperti linsang, ular atau burung (seperti bangau, kuntul, blekok, ibis, burung raja udang, dan sebagainya, anjing, katak pada fase dewasa dan lain-lain.

PENANGANAN HAMA IKAN

1. Yuyu / Kepiting
Yuyu / Kepiting Sawah [sumber]













Penanganannya : Perencanaan kolam, menangkap dan membunuhnya, menaburkan sekam padi pada lubang yuyu.

2. Ikan Gabus
Ikan Gabus [sumber]



















Penanganannya : Pengeringan kolam, pemasangan saringan inlet, penangkapan langsung, meracun ikan gabus pada saat persiapan kolam : akar tuba (rotenone) 10 kg/ha, biji teh (saponin) 150-200 kg/ha, tembakau (nikotin) 200 – 400 kg/ha.

3. Belut dan Ular
Belut Sawah [sumber]



















Penanganannya : Menjaga kebersihan kolam, penembokan pematang, penangkapan langsung, meracun belut/ular pada saat persiapan kolam : akar tuba (rotenone) 10 kg/ha, biji teh (saponin) 150-200 kg/ha, tembakau (nikotin) 200 – 400 kg/ha.

4. Burung Udang
Burung Udang [sumber]



















Penanganannya : Pengawasan kolam, menutup area kolam dengan jaring, memberi penghalang dari pita kaset.

5. Kini - Kini (Larva Capung)
Kini - Kini (Larva Capung) [sumber]



















Penanganannya : Hindari penggunaan pupuk kandang berlebih, memasang saringan pada inlet, penangkapan langsung pada malam (fototaksis positif),  kurangi padat tebar benih, penyemprotan minyak tanah diatas permukaan air

6. Ucrit (Larva Cybister)
Ucrit (Larva Cybister) [sumber]

















Penanganannya : Hindari penggunaan pupuk kandang berlebih, memasang saringan pada inlet, penangkapan langsung pada malam (fototaksis positif),  kurangi padat tebar benih, penyemprotan minyak tanah diatas permukaan air

7. Bebeasan (Notonecta)
Bebeasan [sumber]
















Penanganannya : Hindari penggunaan pupuk kandang berlebih, memasang saringan pada inlet, penangkapan langsung pada malam (fototaksis positif),  kurangi padat tebar benih, penyemprotan minyak tanah diatas permukaan air

Sumber : Materi Pelatihan Penanganan Hama dan Penyakit Ikan BPPP Tegal

Semoga Bermanfaat...