Lalaukan

Informasi dunia kelautan dan perikanan serta kegiatan penyuluhan perikanan

Monday, April 22, 2019

Penyakit Ikan Golongan Bakteri : Klasifikasi Bakteri

Seiring majunya ilmu pengetahuan di bidang mikrobiologi yang diawali dengan penemuan mikroskop oleh Antony Van Leeuwenhoek (1632-1723), morfologi bakteri yang diketahui bukan hanya berbentuk batang. Beberapa bentuk bakteri telah berhasil diidentifikasi memiliki bentuk bulat (coccus), batang (bacil), koma (spiral), serta beberapa bentuk lainnya, seperti Stella yang memiliki bentuk bintang dan Haloarcula yang merupakan Genus Archaea halofilik berbentuk rektangular.

Bakteri dengan bentuk kokus atau bulat dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok dikarenakan jumlah gandengan bulatan pada setiap koloninya, yaitu diplococcus (berbentuk dua bulatan), streptococcus (berbentuk untaian rantai), staphylococcus (bersusun seperti buah anggur), tetracoccus (bergandengan empat bulatan seperti persegi), dan sarcina (berbentuk kubus). Demikian juga pada pengklasifikasian kelompok bakteri yang berbentuk batang (bacil) dimana apabila untaian batang bergandengan dua disebut diplobacil, batang bergandengan banyak disebut streptobacil, serta berbatang pendek menyerupai coccus disebut coccobacilli. Sedangkan bakteri berbentuk spiral merupakan golongan yang paling sedikit dibandingkan dengan kelompok lainnya. Pada bakteri dengan bentuk spiral, morfologi tubuh bakteri berpilin seperti spiral atau membengkok seperti koma atau vibrio.

Klasifikasi bakteri bukan hanya dapat dilihat dari aspek morfologi saja, akan tetapi bakteri juga dapat dibedakan berdasarkan kebutuhan oksigen, yaitu aerob dan anaerob serta klasifikasi berdasarkan sifat pewarnaan biokimiawinya, yaitu bakteri gram positif dan gram negatif. Di dalam Bergey’s Manual of Systematic Bacteriology, bakteri dikelompokkan berdasarkan grup menurut bentuk, sifat pewarnaan gram, dan kebutuhannya akan oksigen, antara lain bakteri basili, koki gram negatif, dan aerobik; bakteri basili gram negatif dan anaerobik fakultatif, bakteri basili gram negatif dan anaerobik; bakteri basili dan kokobasili gram negatif; bakteri koki gram positif; bakteri basili gram positif tidak berspora; bakteri basili gram positif dan berspora; dan bakteri dengan sel bercabang atau bertunas. Gambaran morfologi bakteri disajikan pada Gambar berikut.

Beberapa Bentuk Bakteri
Pewarnaan gram juga menjadi indikator dalam pengklasifikasian bakteri. Pewarnaan gram memberikan gambaran fisiologi, kandungan yang dimiliki oleh dinding sel, ketahanan terhadap perlakuan fisik dan antibiotik, serta tingkat patogensitasnya. Pewarnaan gram merupakan metode diferensial yang sangat berguna dan paling banyak digunakan dalam tahapan penting identifikasi bakteri.

Pewarnaan ini didasarkan jenis lapisan pada dinding sel bakteri dimana sejumlah bakteri memiliki lapisan peptidoglikan yang dominan pada dinding sel dan sebagian lainnya memiliki lapisan lemak pada membran sel. Perbedaan lainnya dari bakteri gram positif dan negatif disajikan pada Tabel berikut.
Tabel Perbedaan Bakteri Gram Positif dan Gram Negatif

Dinding Sel Bakteri Gram Positif dan Gram Negatif 
Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Friday, April 19, 2019

Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mikroba

Mikroorganisme juga bagian dari makhluk hidup dimana pertumbuhan dan perkembangannya dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik faktor biotik maupun faktor abiotik. Faktor biotik ada yang dari dalam dan ada faktor biotik dari lingkungan. Faktor biotik meliputi bentuk mikroorganisme, sifat mikroorganisme terkait respon terhadap perubahan lingkungan, kemampuan menyesuaikan diri (adaptasi), serta keberadaan organisme lainnya di dalam lingkungan tersebut.
Ilustrasi Mikroorganisme
Sedangkan faktor abiotik meliputi susunan dan jumlah senyawa yang dibutuhkan di dalam medium kultur, lingkungan fisik (suhu, kelembaban, cahaya, dan sebagainya), serta keberadaan senyawa-senyawa lain yang dapat bersifat toksik, penghambat, atau pemacu yang berasal dari lingkungaan maupun yang dihasilkan sendiri. Beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan jasad renik heterotrof adalah nutrien, aktivitas air, suhu, pH, oksigen, potensi oksidasi-reduksi, zat penghambat, dan adanya jasad renik lainnya.

A. NUTRISI
Medium pertumbuhan merupakan nutrisi untuk tumbuh mikroba dimana harus mengandung semua elemen yang dibutuhkan untuk pertumbuhan mikroba dalam proporsi yang serupa (isotonik) dengan sel mikroba. Mikroorganisme juga membutuhkan suplai makanan sebagai sumber energi dan penyedia unsur-unsur kimia dasar bagi pertumbuhan sel, seperti karbon, nitrogen, hidrogen, oksigen, sulfur, fosfor, magnesium, zat besi, dan sejumlah kecil logam lainnya. Pada umumnya mikroba memerlukan makro nutrien, yaitu nutrisi yang dibutuhkan dalam jumlah besar seperti C, H, O, dan N. Selain makro nutrient, mikroba juga memerlukan meso nutrien seperti Mg, P, serta S, dan mikro nutrien seperti Fe, Cu, Zn, dan Mo. Pertumbuhan mikroba juga dipengaruhi faktor lainnya dimana mikroba dapat tumbuh dengan baik apabila tersedia cukup air, sumber karbon, sumber nitrogen, vitamin, zat tumbuh lainnya, dan mineral.

B. SUMBER KARBON
Karbon merupakan unsur yang paling penting bagi pertumbuhan mikroba dan bahan yang paling besar dalam medium kultur. Berdasarkan berat mikroba, sekitar 50% dari berat mikroba adalah karbon. Jasad renik yang heterotrof menggunakan karbohidrat sebagai sumber energi dan karbon, walaupun komponen organik lainnya yang mengandung karbon mungkin juga dapat.

C. AKTIVITAS AIR
Semua organisme membutuhkan air untuk kehidupannya, termasuk juga mikroorganisme. Air berperan dalam reaksi metabolisme sel dan merupakan alat pengangkut zat-zat gizi atau bahan limbah ke dalam dan ke luar sel. Semua kegiatan ini membutuhkan air dalam bentuk cair dan apabila air tersebut mengalami kristalisasi serta membentuk es atau terikat secara kimiawi dalam larutan gula atau garam, maka air tersebut tidak dapat digunakan oleh mikroorganisme. Jumlah air yang terdapat dalam bahan pangan atau larutan dikenal sebagai aktivitas air (water activity atau aW). Setiap mikroorganisme membutuhkan air dalam jumlah yang berbeda. Bakteri umumnya membutuhkan nilai aW yang tinggi, yaitu 0,91, sedangkan khamir 0,87-0,91, dan kapang memiliki aW yang paling rendah, yaitu 0,80-0,87.

D. KONSENTRASI OKSIGEN
Konsentrasi oksigen di dalam lingkungan akan mempengaruhi pertumbuhan mikroba. Selama proses pertumbuhan bakteri aerob, oksigen harus diatur sebaik mungkin untuk memperbanyak atau menghambat pertumbuhan mikroba. Di dalam proses peningkatan kandungan oksigen di dalam media dapat dilakukan dengan menggunakan proses aerasi. Proses aerasi berguna untuk mensuplai oksigen, mengusir CO2, uap air, metabolit yang volatil, dan untuk mengatur suhu.

E. SUMBER NITROGEN
Pertumbuhan mikroorganisme memerlukan senyawa nitrogen baik dalam bentuk organik maupun anorganik. Garam organik yang biasanya digunakan adalah garam amonium nitrat atau urea. Sumber Nitrogen organik yang terbukti bermanfaat adalah pepton, ekstrak khamir, tepung kedelai, dan lain-lain. Penambahan senyawa organik sering kali dapat meningkatkan pertumbuhan mikroorganisme dan produk katabolitnya. Kebanyakan mikroorganisme heterotrof menggunakan komponen organik yang mengandung nitrogen sebagai sumber N, tetapi beberapa dapat pula menggunakan sumber nitrogen anorganik.

F. SUHU
Suhu merupakan salah satu faktor penting dalam kehidupan mikroba. Beberapa mikroba dapat tumbuh pada kisran suhu yang luas. Suhu optimum pertumbuhan adalah suhu yang paling baik untuk kehidupan, sedangkan suhu minimum adalah suhu yang paling rendah dimana kegiatan mikroba masih berlangsung dan suhu maksimum adalah suhu tertinggi yang masih dapat menumbuhkan mikroba tetapi pada tingkat kegiatan fisiologi yang paling rendah. Suhu dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme. Berdasarkan suhu pertumbuhannya, mikroorganisme dikelompokkan menjadi psikrofil (mampu bertahan pada suhu dingin), mesofil (mampu bertahan pada suhu normal), dan termofil (mampu bertahan pada suhu tinggi) sebagaimana tertera pada Tabel berikut.
Tabel Kisaran Suhu untuk Pertumbuhan Jasad Renik
G. DERAJAT KEASAMAN (pH)
Salah satu faktor kritis bagi pertumbuhan mikroba adalah pH. Derajat keasaman mempunyai nilai 1 sampai dengan 14. Setiap spesies mikroorganisme mempunyai kisaran hidup pada pH tertentu yang terdiri atas pH minimum, optimum dan maksimum. Bakteri mempunyai kisaran nilai pH pertumbuhan sekitar 6,5 sampai dengan 7,5, sedangkan khamir di daerah asam antara 4,0 sampai 4,5. Jamur benang dan aktinomiset tertentu mempunyai kisaran pH yang lebih luas dibanding bakteri maupun khamir. Oleh karena itu berdasarkan nilai pH, mikroorganisme juga dikelompokan menjadi tiga, yaitu kelompok acidofilik (asam), alkalifilik atau basofilik (basa), serta mesofilik atau neutrofilik (netral).

H. SENYAWA PENGHAMBAT (INHIBITOR)
Keberadaan beberapa senyawa dalam lingkungan dapat menghambat aktivitas mikroorganisme. Senyawa penghambat seperti asam, gula, garam, alkohol, peroksida, dan antibiotik dapat mengganggu metabolisme baik secara langsung merusak sel maupun tidak langsung. Perusakan sel bakteri terjadi melalui aktivitas lisis dimana sitoplasma sel ditarik keluar tubuh, pengrusakan dinding sel, peracunan terhadap sel, dan mengganggu stabilitas lingkungan sehingga berbahaya bagi pertumbuhan dan perkembangan sel bakteri.

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Wednesday, April 17, 2019

Penyakit Ikan Golongan Bakteri : Pertumbuhan Bakteri

Pertumbuhan bakteri pada dasarnya sama seperti makhluk hidup yang lainnya, yaitu mengalami berbagai fase kehidupan, meskipun secara definisi pertumbuhan organisme uniseluler dan multiseluler berbeda. Pada organisme multiseluler, pertumbuhan diartikan sebagai peningkatan jumlah sel per organisme dimana ukuran sel juga menjadi lebih besar. Sedangkan pada organisme uniseluler, pertumbuhan merupakan pertambahan jumlah sel yang berarti juga pertambahan jumlah organisme. Pertumbuhan mikroorganisme dapat ditinjau dari dua sudut, yaitu pertumbuhan individu dan pertumbuhan koloni atau pertumbuhan populasi. Pertumbuhan individu diartikan sebagai bertambahnya ukuran tubuh, sedangkan pertumbuhan populasi diartikan sebagai bertambahnya kuantitas individu dalam suatu populasi atau bertambahnya ukuran koloni. Namun suatu pertumbuhan mikroorganisme unisel (bersel tunggal) sulit diukur dari segi pertambahan panjang, luas, volume, maupun berat karena pertambahannya sangat sedikit dan berlangsung sangat cepat sehingga pertumbuhan mikroorganisme dianggap sama dengan satuan perkembangannya. Secara umumnya, siklus pertumbuhan makhluk hidup mengalami empat fase, yaitu adaptasi, pertumbuhan cepat, pertumbuhan yang stagnan, dan kematian. Demikian juga kehidupan mikroorganisme, termasuk bakteri mengalami fase pertumbuhan sebagaimana digambarkan sebagai kurva pertumbuhan yang tertera pada Gambar berikut.

Fase Pertumbuhan Bakteri
a) Lag Phase atau Fase Adaptasi
Fase lag dapat dikatakan sebagai fase persiapan, permulaan, adaptasi, atau penyesuaian yang merupakan fase pengaturan suatu aktivitas dalam lingkungan baru fase adaptasi dan pertumbuhan lambat. Pada fase lag, bakteri belum tumbuh dengan cepat dikarenakan sel masih beradaptasi dengan kondisi lingkungan di sekitarnya. Pada fase ini juga, pertumbuhan sel berjalan lambat atau bahkan belum terjadi pembelahan dikarenakan beberapa enzim belum disintesis. Kecepatan setiap jenis sel bakteri beradaptasi dengan lingkungannya dipengaruhi oleh banyak faktor, terutama ketersediaan nutrisi, sumber energi, pH, aktivitas air, senyawa penghambat, kompetitor, dan sebagainya. Semakin ideal faktor-faktor lingkungan, maka semakin cepat terjadinya fase adaptasi dan bakteri akan tumbuh dengan baik secara eksponensial.

b) Log Phase atau Fase Eksponensial
Pada fase log, sel membelah dengan cepat dimana pertambahan jumlahnya mengikuti kurva logaritmik. Keberadaan faktor-faktor pertumbuhan yang ideal mempercepat bakteri untuk tumbuh dan berkembang. Pada fase ini sel bakteri juga membutuhkan energi lebih banyak dibandingkan dengan fase lainnya dan sel sangat sensitif dengan keadaan lingkungannya. Pada kondisi ini, metabolisme bakteri sudah aktif, termasuk menghasilkan enzim-enzim yang dibutuhkan oleh bakteri untuk beraktivitas seperti enzim proteolitik, lipolitik, selulolitik, dan sebagainya. Sampai pada batas waktu tertentu, maka produksi metabolik yang dihasilkan akan memberi dampak bagi kehidupan mikroorganisme tersebut. Hasil metabolisme yang diproduksi pada rentang waktu tertentu dapat mengganggu kehidupan bakteri sehingga pertumbuhan pada akhirnya akan berjalan melambat.

c) Stasionary Phase atau Fase Stagnan
Pada fase ini, pertumbuhan populasi melambat, stagnan, atau stasioner. Hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor, antara lain zat nutrisi sudah berkurang, adanya hasil-hasil metabolisme yang mungkin beracun dan dapat menghambat pertumbuhan, adanya kompetitor, dan sebagainya. Meskipun masih menunjukkan peningkatan jumlah sel, tetapi sudah lambat dan bahkan dapat terjadi stagnasi pertumbuhan dimana jumlah sel yang tumbuh sama dengan jumlah sel yang mati. Oleh karena itu, pada fase ini membentuk kurva datar dan akan mengalami kecenderungan menuju fase kematian manakala kondisi tidak ideal terus dibiarkan. Apabila kondisi lingkungan didesain ideal, maka kehidupan bakteri akan berkembang kembali melalui siklus adaptasi atau logaritmik.

d) Death Phase atau Fase Kematian
Pada fase ini, populasi mikroorganisme mulai mengalami kematian yang dikarenakan oleh kehabisan nutrisi di dalam lingkungan dan energi cadangan di dalam sel juga sudah habis. Jumlah sel yang mati semakin lama akan semakin banyak dan kecepatan kematian ini sangat dipengaruhi oleh kondisi nutrisi, lingkungan, dan jenis mikroorganisme tersebut.

Kurva pertumbuhan bakteri memberikan gambaran tentang fase-fase kehidupan dan umur kultur bakteri tersebut. Kurva pertumbuhan dibuat dengan menggunakan dua metode, yaitu berdasarkan densitas optik (optical density-OD) yang menunjukkan jumlah sebaran cahaya oleh suatu populasi, perhitungan jumlah sel dengan haemocytometer yang menunjukkan perhitungan jumlah sel melalui pengamatan secara langsung, serta perhitungan koloni dengan menggunakan metode standard plate count (SPC) yang menunjukkan jumlah koloni bakteri hidup per ml sampel (colony form unit/ml). Gambaran kurva pertumbuhan bakteri yang diuji pada bakteri Micrococcus sp dengan metode yang
berbeda disajikan pada Gambar berikut.
Fase Pertumbuhan Bakteri Micrococcus sp Pada Berbagai Analisis
Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Monday, April 15, 2019

Penyakit Ikan Golongan Bakteri (Bacterial Disease)

Bakteri merupakan salah satu kelompok mikroorganisme yang asal katanya adalah bakterion Yunani) yang berarti tongkat atau batang. Bakteri merupakan mikroorganisme bersel tunggal (uniseluler) berukuran antara 0,5-10 µm x 2,0-5,0 µm. Pengamatan bakteri dilakukan dengan bantuan mikroskop melalui pemeriksaan koloni. Sel bakteri hanya akan terlihat di bawah mikroskop pada ulasan yang diwarnai di atas gelas preparat. Karakteristik lain dari bakteri adalah bakteri berkembangbiak secara aseksual dengan pembelahan biner, yaitu secara amitosis membelah menjadi dua bagian dan secara seksual. Pada umumnya bakteri tidak berklorofil dan beberapa saja yang bersifat fotosintetik, dapat hidup bebas, parasitik, saprofitik, beberapa jenis membentuk spora untuk pertahanan diri dari lingkungan yang tidak sesuai, bergerak dengan flagel, bersigat patogen, serta bebarapa jenis bakteri berguna bagi manusia, hewan, dan tumbuhan. Berkaitan dengan jumlah flagel yang berfungsi sebagai alat gerak, bakteri dapat kelompokkan menjadi monotrik yang memiliki satu flagel di ujung tubuhnya, lofotrik dengan banyak flagel yang hanya terletak di salah satu sisi tubuhnya, amfitrik yang memiliki banyak flagel di kedua sisi tubuhnya, serta peritrik yang memiliki banyak flagel dan tersebar di seluruh sisi tubuhnya sebagaimana tertera pada ilustrasi berikut.
Kelompok Bakteri Berdasarkan Letak Flagel
Bakteri merupakan bagian dari mikroorganisme prokariot (inti sel tidak sejati) yang berbeda dengan organisme maupun mikroorganisme eukariot (inti sel sejati). Pada organisme prokariot, inti sel tidak lindungi oleh dinding inti selnya sehingga dikatakan tidak memiliki dinding inti sel yang sejati. Sedangkan organisme eukariot memiliki dinding inti sel yang membungkus materi inti sel tersebut. Sejumlah perbedaan lainnya antara makhluk hidup prokariot dan eukariot disajikan pada tabel dan gambar berikut.
Tabel Perbedaan Organisme Prokariot dan Eukariot
Perbedaan Sel Prokariot (atas) dan Eukariot (bawah)
Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB KKP

Semoga Bermanfaat...

Friday, April 12, 2019

Hama Ikan : Pengganggu

Hama ikan penganggu adalah adalah organisme atau aktivitas lain diluar ikan budidaya yang keberadaannya dapat mengganggu ikan budidaya. Hewan tersebut dapat merusak pematang (menjadi bocor atau lubang), merobek saringan pada pintu pemasukan,serta merusak atau melubangi bahan-bahan kayu atau jaring. Kebocoran kolam menyebabkan surutnya air kolam, dan banyak benih ikan yang keluar/lolos. Perlakuan manusia yang kurang baik dalam mengelola ikan dapat dikategorikan sebagai pengganggu, seperti saat sampling yang tidak sesuai aturan atau cara panen yang kurang baik.

Selain hewan yang bisa menjadi pengganggu dalam kegiatan budidaya ikan, aktifitas manusia juga bisa menjadi pengganggu kegiatan budidaya bahkan dampaknya bisa lebih parah dari yang diakibatkan hama lain yakni pencuri ikan.
Ilustrasi pencuri [sumber]

Penanganannya : Pengawasan, pemagaran, pemberian ranting di kolam.

Sumber : Materi Pelatihan Penanganan Hama Penyakit Ikan BPPP Tegal

Semoga Bermanfaat...

Monday, April 8, 2019

Hama Ikan : Kompetitor

PENGERTIAN
Hama ikan kompetitor adalah organisme yang menimbulkan persaingan dalammendapatkan oksigen, pakan dan ruang gerak. Kompetitor yang sering menyebabkan terjadinya persaingan dalam memperoleh pakan adalah ikan mujair (Tilapia mossambica).

Spesies ikan mujair ini selain rakus juga mudah berkembangbiak, sehingga populasinya di dalam kolam akan meningkat dengan cepat, sehingga ikan budidaya menjadi terganggu, lambat pertumbuhannya dan dapat menyebabkan kematian.

Masuknya hama ikan kompetitor selain dapat menyebabkan terjadinya persaingan untuk mendapatkan pakan juga akan menyebabkan terjadinya kompetisi untuk memperoleh oksigen dan ruang gerak, sehingga kompetisi yang terjadi adalah kompetisi biological requirement, yakni ruang dan makanan. Contoh hama kompetitor lainnya adalah jenis katak (pada fase berudu), keong, dan sebagainya.

PENANGANAN HAMA IKAN KOMPETITOR
1. Keong Mas
Keong mas [sumber]

















Penanganannya : Pengeringan kolam, pemasangan saringan inlet, penangkapan langsung, meracun ikan gabus pada saat persiapan kolam : akar tuba (rotenone) 10 kg/ha, biji teh (saponin) 150-200 kg/ha, tembakau (nikotin) 200 – 400 kg/ha.

2. Berudu / Kecebong
Berudu / Kecebong [sumber]















Penanganannya : Pengeringan kolam, pemasangan saringan inlet, penangkapan langsung, meracun ikan gabus pada saat persiapan kolam : akar tuba (rotenone) 10 kg/ha, biji teh (saponin) 150-200 kg/ha, tembakau (nikotin) 200 – 400 kg/ha.

Sumber : Materi Pelatihan Penanganan Hama Penyakit Ikan BPPP Tegal

Semoga Bermanfaat...

Friday, April 5, 2019

Hama Ikan : Predator

PENGERTIAN
Hama ikan yang bersifat predator secara harfiah dirtikan sebagai pemangsa. Pada dasarnya predator adalah binatang yang sifatnya karnivora (pemakan daging) dengan cara memangsaatau menyantap targetnya. Predator sejatinya selalu memiliki ukuran tubuhyanglebih besar dari mangsanya atau jika predatornya berukuran kecil, biasanya memiliki “senjata” yang mematikan seperti bisa, racun dan sejenisnya.

Predator yang berukuran jauh lebih besar dari mangsanya, biasanya memangsa santapan dalam jumlah banyak dan biasanya dilakukan berkali-kali. Predator ini hidup menetap di kolam atau di lingkungan sekitar areal budidaya walaupun ada juga yang sekedar mampir di areal budidaya tersebut dalam rangka mencari makan atau bermigrasi (berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya). Jenisnya dapat berupa ikan yang lebih besar, hewan air jenis lain, hewan darat dan beberapa jenis serangga/insekta air. Contohnya ikan tagih ( Mystus nemurus ), lele (Clarias batrachus), kakap ( Lates calcarifer), bulan-bulan (Megalops cyprinides), ikan gabus atau pemangsa lainnya seperti linsang, ular atau burung (seperti bangau, kuntul, blekok, ibis, burung raja udang, dan sebagainya, anjing, katak pada fase dewasa dan lain-lain.

PENANGANAN HAMA IKAN

1. Yuyu / Kepiting
Yuyu / Kepiting Sawah [sumber]













Penanganannya : Perencanaan kolam, menangkap dan membunuhnya, menaburkan sekam padi pada lubang yuyu.

2. Ikan Gabus
Ikan Gabus [sumber]



















Penanganannya : Pengeringan kolam, pemasangan saringan inlet, penangkapan langsung, meracun ikan gabus pada saat persiapan kolam : akar tuba (rotenone) 10 kg/ha, biji teh (saponin) 150-200 kg/ha, tembakau (nikotin) 200 – 400 kg/ha.

3. Belut dan Ular
Belut Sawah [sumber]



















Penanganannya : Menjaga kebersihan kolam, penembokan pematang, penangkapan langsung, meracun belut/ular pada saat persiapan kolam : akar tuba (rotenone) 10 kg/ha, biji teh (saponin) 150-200 kg/ha, tembakau (nikotin) 200 – 400 kg/ha.

4. Burung Udang
Burung Udang [sumber]



















Penanganannya : Pengawasan kolam, menutup area kolam dengan jaring, memberi penghalang dari pita kaset.

5. Kini - Kini (Larva Capung)
Kini - Kini (Larva Capung) [sumber]



















Penanganannya : Hindari penggunaan pupuk kandang berlebih, memasang saringan pada inlet, penangkapan langsung pada malam (fototaksis positif),  kurangi padat tebar benih, penyemprotan minyak tanah diatas permukaan air

6. Ucrit (Larva Cybister)
Ucrit (Larva Cybister) [sumber]

















Penanganannya : Hindari penggunaan pupuk kandang berlebih, memasang saringan pada inlet, penangkapan langsung pada malam (fototaksis positif),  kurangi padat tebar benih, penyemprotan minyak tanah diatas permukaan air

7. Bebeasan (Notonecta)
Bebeasan [sumber]
















Penanganannya : Hindari penggunaan pupuk kandang berlebih, memasang saringan pada inlet, penangkapan langsung pada malam (fototaksis positif),  kurangi padat tebar benih, penyemprotan minyak tanah diatas permukaan air

Sumber : Materi Pelatihan Penanganan Hama dan Penyakit Ikan BPPP Tegal

Semoga Bermanfaat...

Monday, April 1, 2019

Hama Ikan dan Penanganannya

Sumber penyakit yang sering menyerang ikan di kolam dikelompokkan menjadi 3, yaitu:

  1. Hama,
  2. Parasiter, dan
  3. Non-parasiter.
Hama adalah hewan yang berukuran lebih besar dan mampu menimbulkan gangguan pada ikan, yangterdiri dari predator, kompetitor, dan pencuri. Parasiter adlaah penyakit yangdisebabkan oleh aktifitas organisme parasit, seperti virus, bakteri, jamur, protozoa,dan udang renik. Non-parasiter adalah penyakit yang disebabkan oleh lingkungan,pakan, dan keturunan (Suwarsito dan Mustafidah, 2011).

Parasit adalah organisme yang hodup pada organisme lain dan mendapat keuntungan dari hasil simbiosenya sedangkan inang dirugikan. Parasit memiliki dua siklus hidup yakni suklus hidup langsung (hanya satu inang dan tidak membutuhkan inang antara) dan siklus hidup tidak langsung (memerlukan lebih dari satu inang) kemudian parasit menginvasi dengan cara kontak langsung, infeksi melalui pencernaan, phoresis, penetrasi parasit melalui kulit.

Hama dan penyakit ikan adalah semua mikroorganisme yang secara langsung maupun tidak langsungdapat menginfeksi tubuh ikan sekaligus dapat menimbulkan gangguan kehidupanikan normal sampai dapat menimbulkan kematian (Anshary, 2006).

Dalam pembahasan blog kali ini akan membahas secara khusus mengenai HAMA IKAN.

PENGERTIAN HAMA
Hama adalah organisme yang dianggap merugikan dan tak diinginkan dalam kegiatan sehari-hari manusia. Walaupun dapat digunakan untuk semua organisme,dalam praktik istilah ini paling sering dipakai hanya kepada hewan.

Suatu hewan juga dapat disebut hama jika menyebabkan kerusakan pada ekosistem alami atau menjadi agen penyebaran penyakit dalam habitat manusia. Contohnya adalah organisme yang menjadi vektor penyakit bagi manusia, seperti tikus dan lalat yang membawa berbagai wabah, atau nyamuk yang menjadi vektor malaria (Aulia, 1991).

Hama ikan merupakan masalah yang sering dihadapi peternak ikan. Kerugian yang ditimbulkan akibat serangan itu sangat besar. Berdasarkan pengamatan dan penelitian, munculnya hama karena faktor lingkungan seperti air, tanah dan cuaca yang tidak mendukung pertumbuhan dan kesehatan ikan (Leonardo, 2010).
Hama yang sering menyerang ikan

SIFAT - SIFAT HAMA IKAN
  1. Predator adalah Hama adalah organisme pengganggu yang dapat memangsa, membunuh dan mempengaruhi produktivitas ikan, baik secara langsung maupun secara bertahap. Selengkapnya silahkan baca disini : 
  2. Kompetitor adalah organisme yang menimbulkan persaingan dalam mendapatkan oksigen, pakan dan ruang gerak. Selengkapnya silahkan baca disini :
  3. Pengganggu adalah organisme atau aktivitas lain diluar ikan budidaya yang keberadaannya dapat mengganggu ikan budidaya. Selengkapnya silahkan baca disini :
PENANGANAN HAMA IKAN SECARA UMUM
Menurut Gusrina (2008) ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah serangan hama terhadap ikan :
  1. Pengeringan dan pengapuran kolam sebelum digunakan. Dalam pengapuran sebaiknya dosis pemakaiannya diperhatikan atau dipatuhi.
  2. Pada pintu pemasukan air dipasang saringan agar hama tidak masuk ke dalamkolam. Saringan air pemasukan ini berguna untuk menghindari masuknya kotoran dan hama ke dalam kolam budidaya.
  3. Secara rutin melakukan pembersihan disekitar kolam pemeliharaan agar hama seperti siput atau trisipan tidak dapat berkembang biak disekitar kolam budidaya. Untuk menghindari adanya hama ikan, dilakukan pemberantasan hama dengan menggunakan bahan kimia. Akan tetapi penggunaan bahan kimia ini harus hati-hati hal ini mengingat pengaruhnya terhadap lingkungan sekitarnya. Bahan kimia sintetis umumnya sulit mengalami penguraian secara alami, sehingga pengaruhnya (daya racunnya) akan lama dan dapat membunuh ikan yang sedang dipelihara. Oleh karena itu sebaiknya menggunakan bahan pemberantas hama yang berasal dari tumbuh-tumbuhan seperti ekstrak akar tuba, biji teh, daun tembakau,dan lain-lain. Bahan ini efektif untuk membunuh hama yang ada dalam kolam dan cepat terurai kembali menjadi netral (Gusrina, 2008).

Sumber : Lathifah. 2015. Hama Ikan dan Pengendaliannya. Universitas Jenderal Soedirman

Semoga Bermanfaat...