Lalaukan

Informasi dunia kelautan dan perikanan serta kegiatan penyuluhan perikanan

Monday, May 20, 2019

Penyakit Bakterial Ikan : Columnaris Disease

Penyakit ini disebabkan oleh Flavobacterium columnare atau Fexibacterium columnare. Bakteri gram negatif, berbentuk batang kecil, bergerak meluncur, dan terdapat di ekosistem air tawar. Sifat bakteri ini adalah berkelompok membentuk kumpulan seperti column. Serangan sering terjadi pada kelompok ikan pasca transportasi. Sifat serangan umumnya sub acut – acut, apabila insang yang dominan sebagai target organ, ikan akan mati lemas dan kematian yang ditimbulkannya bisa mencapai 100%.
Insang Ikan Mas (Cyprinus carpio) yang Terinfeksi oleh Bakteri Fexibacterium columnare, Terlihat Adanya Pigmentasi Warna Cokelat Kekuningan diatas 
Insang Ikan Yang Terinfeksi oleh Bakteri Fexibacterium columnare, Terlihat adanya Pigmentasi Warna Cokelat Kekuningan diatas Koloni Bakteri
Gejala klinis :
  1. Luka di sekitar mulut, kepala, badan atau sirip. Luka berwarna putih kecoklatan kemudian berkembang menjadi borok.
  2. Infeksi di sekitar mulut, terlihat seperti diselaputi benang (thread-like) sehingga sering disebut penyakit “jamur mulut”.
  3. Di sekeliling luka tertutup oleh pigmen berwarna kuning cerah.
  4. Apabila menginfeksi insang, kerusakan dimulai dari ujung filamen insang dan merambat ke bagian pangkal, akhirnya filamen membusuk dan rontok (gill rot)

Pengendalian :
  1. Menghindari terjadinya stress (fisik, kimia, biologi)
  2. Mengurangi kadar bahan organik terlarut dan/atau meningkatkan frekuensi penggantian air baru
  3. Melalui perendaman dengan beberapa bahan kimia seperti : Garam dapur 0,5% atau kalium permanganat 5 ppm selama 1 hari. Acriflavine 5-10 ppm melalui perendaman selama beberapa hari. Chloramin B atau T 18-20 ppm melalui perendaman selama 2-3 hari. Benzalkonium chloride pada dosis 18-20 ppm selama 2-3 hari. Oxolinic acid pada dosis 1 ppm selama 24 jam

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Friday, May 17, 2019

Penyakit Bakterial Ikan : Yersinia ruckeri

Bakteri Yersinia ruckeri merupakan bakteri gram negatif, berbentuk batang, dan motil. Bakteri ini penyebab penyakit enteric red mouth (ERM) pada ikan-ikan salmonid, terutama rainbow trout. Gejala klinis serangan Yersinia ruckeri antara lain septicemia disertai exopthalmia, ascites, hemorrhage, serta borok yang terjadi di rahang, langit-langit rongga mulut, insang, dan operkulum. Hemorrhage terjadi pada jaringan otot dan permukaan serosal intestinum, pembengkakan pada limpa dan ginjal. Pada sejumlah kasus ERM, dari muara pengeluaran sering keluar cairan kuning saat perut ditekan, serta necrosis terjadi pada jaringan hati, ginjal, dan limpa. Bentuk infeksi dan morfologi bakteri Yersinia ruckeri ditampilkan pada Gambar berikut.
Bentuk dan Morfologi Yersinia ruckeri
Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Wednesday, May 15, 2019

Penyakit Bakterial Ikan : Edwardsiella sp

Bakteri Edwardsiella sp merupakan salah satu jenis bakteri yang memerlukan kewaspadaan tinggi untuk mencegah penyebaran dan infeksinya di perairan. Bakteri ini tergolong bakteri gram negatif yang berbentuk batang melengkung pleomorfik. Bakteri Edwardsiella sp merupakan penyebab penyakit edwardsilosis dan dikenal sebagai agen penyebab infeksi pada ikan Ictalurus punctatus (septicemia enteric). Sejumlah kejadian ditemukan pada ikan air tawar, yaitu Carassius auratus, Notemigonus crysoleucas (golden shiner), Micropterus salmoides (langermouth bass), dan Ictalurus nebulosus (brown bullhead).

Bentuk infeksi dan morfologi bakteri Edwardsiella sp ditampilkan pada Gambar berikut.
Bentuk Infeksi dan Morfologi Edwardsiella sp
Gejala klinis serangan bakteri Edwardsiella sp mirip infeksi oleh bakteri A. hydrophila berupa seperti borok-borok kecil di kulit dan kerusakan jaringan otot yang biasanya disertai dengan pembentukan gas yang terjebak di antara jaringan yang rusak (malodorous). Ikan yang sakit akan kehilangan kendali separuh tubuh bagian posterior meskipun tetap makan serta terjadi kerusakan jaringan (tonjolan atau borok) terbuka pada tulang kepala depan di antara kedua mata (hole in the head disease atau penyakit kepala berlubang) dan septicemia pada catfish (enteric septicemia of catfish). 
Organ Hati Ikan Flounder yang Terinfeksi Bakteri Edwardsiella tarda Berwarna Pucat dan Terdapat Bercak - Bercak Putih
Pengendalian :
  1. Menghindari terjadinya stress (fisik, kimia, biologi).
  2. Memperbaiki kualitas air secara keseluruhan, terutama mengurangi kadar bahan organik terlarut dan/atau meningkatkan frekuensi penggantian air baru.
  3. Pengelolaan kesehatan ikan secara terpadu (ikan, lingkungan dan patogen).
  4. Membatasi dan/atau mengatur pemberian pakan dan mencampur pakan dengan obat-obatan (medicated feed and feed restriction).
  5. Melakukan vaksinasi anti Edwardsiella tarda.

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Monday, May 13, 2019

Penyakit Bakterial Ikan : Pseudomonas sp

Pseudomonas aeruginosa merupakan salah satu bakteri gram negatif dari Keluarga Pseudomonadaceae yang menjadi penyebab penyakit pada ikan. Bakteri ini memiliki sifat tidak fermentatif, aerob, dan berbentuk batang pendek, motil dengan flagella polar, serta adanya flagellum yang terikat kuat di ujung sel. Di lingkungan perairan seperti laut, air payau, sungai, danau, dan kolam, beberapa spesies dari Pseudomonas yang juga banyak ditemukan adalah P. fluorescens, P. putida, dan P. anguilliseptica dengan bentuk serangan penyakit diantaranya hemorragic bacterial septicaemia akibat bakteri P. fluorescens, red spot disease akibat bakteri P. anguilliseptica, infeksi pada hampir semua jaringan dalam tubuh inang dengan jalan menyebar dari bagian lesi setempat melalui saluran darah mengakibatkan lesi pada jaringan lain, dan menyebabkan kematian ikan nila hingga 30% akibat serangan jenis bakteri P. aeruginosa dengan kelimpahan bakteri sebanyak 192 ×106 CFU/ml.

Bakteri ini merupakan patogen opurtunistik yang menyerang ikan air tawar dan digolongkan ke dalam kelompok bakteri perusak sirip (bacterial fin rot). Gejala klinis serangan bakteri Pseudomonas sp seperti kebanyakan infeksi bakteri lainnya, yaitu mirip seperti infeksi A. hydrophila, terjadi hemorrhage pada insang dan ekor, borok pada kulit, dan septicemia. Bentuk infeksi dan morfologi bakteri Pseudomonas sp disajikan pada Gambar berikut.
Bentuk Infeksi dan Morfologi Pseudomonas sp
Gejala Klinis :
  1. Ikan lemah bergerak lambat, bernafas megap-megap di permukaan air.
  2. Warna insang pucat dan warna tubuh berubah gelap.
  3. Terdapat bercak-bercak merah pada bagian luar tubuhnya dan kerusakan pada sirip, insang dan kulit.
  4. Mula-mula lendir berlebihan, kemudian timbul perdarahan.
  5. Sirip dan ekor rontok (membusuk).
  6. Perdarahan, perut ikan menjadi kembung yang dikenal dengan dropsy.

Ikan Lele yang Terinfeksi Bakteri Pseudomonas sp, Mengalami Pendarahan pada Seluruh Bagian Tubuh
Pengendalian
  1. Menghindari terjadinya stress (fisik, kimia, biologi).
  2. Memperbaiki kualitas air secara keseluruhan, terutama mengurangi kadar bahan organik terlarut dan/atau meningkatkan frekuensi penggantian air baru.
  3. Pengelolaan kesehatan ikan secara terpadu (ikan, lingkungan dan patogen).
  4. Kurangi pemberian pakan dan jumlah ikan dalam kolam.
  5. Perendaman dalam larutan PK 20 ppm selama 30 menit.


Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Friday, May 10, 2019

Penyakit Bakterial Ikan : Flexibacter columnaris

Bakteri Flexibacter columnaris adalah penyebab penyakit columnarisPenyakit columnaris disebut cotton woll disease atau saddle-back disease yang merupakan penyakit serius dan mudah menyebar pada ikan-ikan salmonid, catfish, dan ikan air tawar lainnya pada tingkat juvenil. Bakteri Flexibacter columnaris merupakan bakteri gram negatif dan berbentuk batang dengan ukuran panjang 12 µm dan lebar 0,5 µm. Bakteri ini menyukai perairan yang bersuhu relatif tinggi dan bersifat aerobik, dan tergolong bakteri gram negatif. Penyakit columnaris sering berkaitan dengan stress lingkungan terutama jika temperatur lingkungan meningkat terlalu tinggi. Berbeda dengan kebanyakan kondisi penyakit ikan lain, penyakit columnaris umumnya terjadi pada temperature 18-20oC.

Gejala klinis serangan berupa terjadi peradangan kulit yang disertai dengan bintik-bintik putih kecil pada sirip ekor dan selanjutnya meluas ke arah kepala. Selain itu, sirip ekor dan sirip anal dapat mengalami kerusakan berat, kulit mengalami borok berwarna putih keruh atau kelabu, insang mengalami kerusakan ditandai dengan necrosis di ujung distal lamellae insang dan menyebar ke seluruh lamellae insang, serta sering berkaitan dengan kondisi ikan stress. Bentuk infeksi dan morfologi bakteri Flexibacter columnaris disajikan pada Gambar berikut.
Bentuk Infeksi dan Morfologi Flexibacter columnaris

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Wednesday, May 8, 2019

Penyakit Bakterial Ikan : Vibrio sp

Bakteri Vibrio sp merupakan bakteri gram negatif, berbentuk batang, sebagian besar hidup di perairan laut dan payau, penyebab penyakit pada ikan air payau dan laut. Bakteri ini penyebab penyakit vibriosis atau dikenal juga dengan red pest, salt water furunculosis, red boil, atau pike pest

Gejala klinis serangan Vibrio anguillarum ditandai dengan gerakan latergik, kehilangan nafsu makan, kulit mengalami pemucatan (discolor), terjadi peradangan dan nekrotik, dilanjutkan dengan kulit melepur dan borok, di sekitar mulut dan insang terjadi bercak darah (erythema), jika infeksi berlanjut ke tingkat sistemik, terjadi exopthalmia serta pendarahan pada saluran pernafasan dan muara pengeluaran, necrosis pada jaringan otot, dan beberapa lainnya mirip seperti infeksi bakteri A. salmonicida dan A. hydrophila.

Jenis ikan yang terinfeksi antara lain kerapu (Epinephelus sp), beronang (Siganus sp), bandeng (Chanos chanos), kakap putih (Lates calcarifer). Vibriosis pada umumnya timbul seiring dengan tingginya padat penebaran, salinitas, dan bahan organik. Ikan stres akan lebih mudah terserang oleh Vibrio sp. Pada saat wabah terjadi, pada ikan muda tingkat kematian dapat mencapai 50% atau lebih. Ikan yang terinfeksi nafsu makannya menurun sehingga akan mengakibatkan hambatan pertumbuhan. 

Bentuk infeksi bakteri Vibrio sp pada ikan Sea Bass Dicentrarchus labrax dan mofologi Vibrio sp tertera pada Gambar berikut.
Bentuk Infeksi dan Morfologi Vibrio sp
Pengendalian
  1. Desinfeksi sarana budidaya sebelum dan selama proses pemeliharaan ikan.
  2. Pemberian unsur immunostimulan (misalnya penambahan vitamin C pada pakan) secara rutin selama pemeliharaan.
  3. Menghindari terjadinya stress (fisik, kimia, biologi).
  4. Pengelolaan kesehatan ikan secara terpadu (ikan, lingkungan dan patogen).
  5. Membatasi dan/atau mengatur pemberian pakan dan mencampur pakan dengan obat-obatan (medicated feed and feed restriction).
  6. Melakukan vaksinasi anti vibriosis.

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Monday, May 6, 2019

Penyakit Bakterial Ikan : Aeromonas sp

Aeromonas merupakan salah satu contoh bakteri yang sering dijumpai menyerang ikan sehingga mengakibatkan kematian masal pada ikan budidaya. Bakteri Aeromonas yang sering diidentifikasi menyebabkan penyakit pada ikan berasal dari spesies A. hydrophila dan A. salmonicida.

Bakteri A. hydrophila dimasukkankan ke dalam kelompok bakteri gram negatif dengan ciri-ciri berbentuk batang, motil, terdapat di perairan tawar, opurtunis pada ikan yang mengalami stress atau pada pemeliharaan padat tebar tinggi. Bakteri ini dapat menyerang semua jenis ikan air tawar dan bersifat laten. Penyakit ini dikenal dengan nama motile aeromonas septicemia (MAS) atau disebut juga hemorrhage septicemia.

Ciri - Ciri Serangan A. hydrophila
Serangan bakteri ini baru terlihat apabila pertahanan tubuh ikan menurun dengan menunjukkan gejala klinis seperti adanya hemorrhage pada kulit, insang, rongga mulut, borok pada kulit hingga jaringan otot, exopthalmia, ascites, pembengkakan limpa dan ginjal, dropsy, serta necrosis pada limpa, hati, ginjal, dan jantung.

Bakteri A. salmonicida juga dimasukkankan ke dalam kelompok bakteri gram negatif dengan ciri-ciri berbentuk batang, non motil, serta terdapat di perairan air tawar, payau, dan laut, penyebab utama penyakit pada ikan salmonid dengan penyakit yang dikenal dengan nama furunkulosis.

Ciri - Ciri Serangan A. salmonicida
Tanda-tanda klinis serangan A. salmonicida antara lain adanya hemorrhage pada otot tubuh dan bagian tubuh lainnya, jaringan subkutan seperti melepuh dan berkembang menjadi borok yang dalam (ulcerative dermatitis). Pada beberapa kasus septicemia terjadi pembengkakan limpa, ginjal, dan ascites, necrosis pada jaringan, serta akumulasi sel bakteri dan sel inflamatori (sel fagositosis) akibat eksotoksin leukositolitik. Secara umum, serangan bakteri Aeromonas sp dapat dilihat pada Gambar berikut.
Bentuk Infeksi dan Morfologi Aeromonas sp
Pengendalian
  1. Pencegahan secara dini (benih) melalui vaksinasi antiAeromonas hydrophila (HydroVac).
  2. Desinfeksi sarana budidaya sebelum dan selama proses pemeliharaan ikan.
  3. Pemberian unsur immunostimulan (misalnya penambahan vitamin C pada pakan) secara rutin selama pemeliharaan.
  4. Menghindari terjadinya stress (fisik, kimia, biologi).
  5. Memperbaiki kualitas air secara keseluruhan, terutama mengurangi kadar bahan organik terlarut dan/atau meningkatkan frekuensi penggantian air baru.
  6. Pengelolaan kesehatan ikan secara terpadu (ikan, lingkungan dan pathogen).
  7. Oxolinic acid pada dosis 10 mg/kg bobot tubuh ikan/hari selama 10 hari.

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Friday, May 3, 2019

Jenis - Jenis Penyakit Bakterial Pada Ikan

Beberapa penyakit ikan yang disebabkan oleh bakteri mengakibatkan kematian yang besar baik di alam maupun dalam kegiatan budidaya ikan. Sejumlah bakteri mampu hidup di perairan dan sering juga ditemukan pada setiap komponen akuatik. Sebagian besar bakteri termasuk dalam bagian mikroflora normal di dalam suatu lingkungan perairan. Bakteri tersebut umumnya sebagai mikroorganisme patogen yang opurtunis dan penyebab infeksi sekunder, hanya sedikit bakteri yang bersifat patogen obligat. Meskipun demikian bakteri dapat hidup dalam waktu yang lama dalam jaringan inangnya tanpa menimbulkan gejala klinik. Gejala klinik penyakit bakterial umumnya tarnpak setelah sebelumnya didahului oleh perubahan fisiologi di dalam tubuh inangnya. Oleh karena itu, untuk mengetahui mekanisme infeksi bakteri pada ikan, harus dipahami hubungan antara bakteri (patogen), gejala klinik, inang, dan lingkungannya.
Salahsatu Ikan Yang Terkena Penyakit Bakteri
Penyakit bakterial merupakan salah satu masalah utama di dalam usaha budidaya, terutama berkaitan dengan penurunan produksi. Perlakuan untuk mengurangi infeksi penyakit bakterial dalam kegiatan budidaya dapat dilakukan dengan tindakan pencegahan melalui penanganan yang baik dan mempertahankan kondisi lingkungan yang optimal bagi inang, tetapi tidak cukup baik bagi perkembangan bakteri.

Penyakit bakterial pada ikan biasanya menunjukkan gejal-gejala klinik yang hampir serupa. Infeksi bakteri akan menunjukkan perubahan abnormal (lesi) pada kulit atau sirip, jaringan otot, dan organ-organ internal. Penentuan spesies bakteri yang menginfeksi tidak bisa langsung secara visual, melainkan diuji dalam skala laboratoris baik pengujian morfologi maupun biokimiawinya.

Sejumlah bakteri yang sering ditemukan menginfeksi ikan antara lain :
1. Aeromonas sp, selengkapnya silahkan baca disini
2. Vibrio anguillarum, selengkapnya silahkan baca disini
3. Flexibacter columnaris, selengkapnya silahkan baca disini
4. Pseudomonas sp, selengkapnya silahkan baca disini
5. Edwardsiella sp, selengkapnya silahkan baca disini
6. Yersinia ruckeri, selengkapnya silahkan baca disini

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...