Lalaukan

Informasi dunia kelautan dan perikanan serta kegiatan penyuluhan perikanan

Friday, June 28, 2019

Penyakit Virus Pada Ikan : Channel Catfish Virus Disease (CCVD)

Channel catfish virus disease (CCVD) pertama kali ditemukan sekitar tahun 1960an yang mengakibatkan kematian pada channel catfish (Ictalurus punctatus). Penyakit ini banyak ditemukan secara spesifik pada channel catfish dan brood stock yang diyakini sebagai sumber infeksi bagi ikan-ikan dewasa. Infeksi CCVD tumbuh optimal pada kondisi suhu perairan di atas 25oC dan dapat menyebabkan efek yang signifikan dimana tingkat mortalitas dapat mencapai 100% tiap unitnya.

Channel catfish virus disease adalah kelompok dari Keluarga Herpesvirus. Beberapa jenis catfish yang menjadi inang bagi kehidupan CCVD adalah blue catfish (Ictalurus furcatus), channel catfish (Ictalurus punctatus), dan white catfish (Ictalurus catus). Penyerangan channel catfish virus disease memiliki gejala klinis seperti penurunan aktivitas makan, pergerakan yang tidak beraturan dimana terkadang membentuk pola spiral, abdomen yang melunak, pendarahan pada sirip dan jaringan otot, pembengkakan pada mata, insang tampak pucat, rongga tubuh dipenuhi oleh cairan kuning dan lendir, hati dan ginjal tampak pucat dan terjadi pendarahan, serta limfa terlihat gelap dan membesar. Bentuk infeksi dan morfologi channel catfish virus disease disajikan pada Gambar berikut.

Bentuk infeksi dan morfologi CCVD

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Monday, June 24, 2019

Penyakit Virus Pada Ikan : Koi Herves Virus (KHV)

Sebuah virus yang menyerupai serangan virus herpes telah ditemukan dan disolasi di Amerika Serikat pada tahun 1998 seiring serangan ikan koi dan jenis ikan Carp lainnya di Israel dan Amerika Serikat. Virus ini diisolasi dari sejumlah jaringan tisu ikan yang menunjukkan gejala-gejala serangan KHV, termasuk hati, ginjal, insang, dan saluran pencernaan. Pertumbuhan optimal bagi KHV terjadi pada suhu 15oC sampai 20oC, sedangkan pada suhu di atas 30oC atau 37oC tidak ditemukan aktivitas pertumbuhan KHV. Virus KHV adalah Herpesvirus dsDNA yang terdiri atas 31 polipeptida virion, sedikitnya 8 glycosylated proteins yang memiliki kapsid dalam dengan bentuk simetris icosahedral berdiameter sekitar 100–110 nm. Komponen utama dari envelope adalah lipoprotein lapis ganda.

Morfologi dan ukuran sangat memiliki kemiripan dengan virus dari Keluarga Herpesviridae yang memiliki estimasi ukuran genom 277 kbp. Pada penelitian lainnya dijelaskan bahwa genom KHV memiliki kemiripan sebagaimana virus yang ditemukan pada kelompok catfish, yaitu channel catfish virus (CCV) dan herpesvirus cyprinid (CHV) dimana sebanyak 12 polipeptida virion memiliki kesamaan berat molekul dengan CHV dan 10 polipeptida mirip dengan CCV.

Infeksi yang disebabkan oleh koi herpes virus merupakan penyakit menular dengan gejala serangan seperti hancurnya jaringan dan organ internal, luka pada kulit, lepasnya sisik, pucat, perubahan warna, hingga kematian massif pada ikan mas koi (Cyprinus carpio koi) dan common carp (Cyprinus carpio carpio) sebagaimana disajikan pada Gambar berikut.
Bentuk infeksi dan morfologi KHV
Pada tahun 1999, referensi pertama terkait kematian massal dari ikan jenis koi dan Carp lainnya disampaikan pada 9th International Conference of European Association of Fish Pathologists (EAFP). Berdasarkan konferensi tersebut diperoleh informasi bahwa KHV merupakan penyakit menular yang belum terlaporkan serta banyak menyerang pada ikan koi dan jenis Carp lainnya. Oleh
karenanya dilakukan kajian terkait infeksi yang menyebabkan kerugian pada budidaya ikan jenis Carp di beberapa negara mulai dari Eropa Barat; Belgia, United Kingdom, Belanda, Jerman, Itali, Austria, Switzerland, dan Luxemburg hingga Afrika Selatan, Israel, Indonesia, dan Japan. Beberapa laporan kejadian serangan KHV pada sektor budidaya tertera pada Tabel berikut.

Beberapa kejadian infeksi KHV diseluruh dunia
Bio-Ekologi Patogen :
  1. Hanya menginfeksi ikan mas dan koi. Jenis ikan lain tidak terinfeksi, termasuk dari family cyprinidae.
  2. Tidak menular ke manusia yang menkonsumsi atau kontak dengan ikan terinfeksi KHV (tidak zoonosis).
  3. Sangat virulen, masa inkubasi 1 - 7 hari dengan kematian mencapai 100%
  4. Keganasan dipicu oleh kondisi lingkungan, terutama suhu air < 26 oC dan kualitas air yang buruk.
  5. Penularan melalui kontak antar ikan, air/lumpur & peralatan perikanan yang terkontaminasi, serta media lain: sarana transportasi, manusia, dll.
  6. Ikan yang bertahan hidup (survivors) dapat berlaku sebagai pembawa (carriers) atau menjadi kebal, namun tetap berpotensi sebagai carriers.
Gejala Klinis :
  1. Nafsu makan menurun, gelisah (nervous).
  2. Megap-megap, lemah dan ekses mukus Insang pucat, terdapat bercak putih (white patch), akhirnya rusak dan membusuk.
  3. Kulit melepuh (umumnya pada ikan koi).
  4. Sering diikuti infeksi sekunder oleh parasit, bakteri dan/atau jamur.
  5. Kematian massal bisa terjadi dalam waktu 24 – 48 jam
Diagnosa :
  1. Diagnosa berbasis molekuler/serologis : Polymerase Chain reaction (PCR), Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA), Immunohistochemistry.
  2. Isolasi virus pada kultur jaringan yang sesuai
Pengendalian :
  1. Desinfeksi sebelum/selama proses produksi.
  2. Manajemen kesehatan ikan yang terintegrasi.
  3. Penggunaa ikan bebas KHV & karantina (biosecurity).
  4. Vaksinasi anti-KHV dan/atau pemberian unsur imunostimulan selama masa pemeliharaan.
  5. Mengurangi padat tebar dan hindari stress.
  6. Budidaya ikan sistem polikultur.
  7. Pengobatan terhadap penginfeksi sekunder (bila diperlukan).
Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Friday, June 21, 2019

Jenis - Jenis Penyakit Viral Pada Ikan

Organisme perairan merupakan salah satu inang yang menjadi objek bagi beberapa kelompok virus untuk hidup. Oleh karena virus bukanlah suatu jenis organisme independen, maka virus berusaha mencari inang penempelan yang memiliki struktur fisiologi sama dengan materi genetik virus. Seiring berkembang ilmu pengetahuan dan teknologi, beberapa kelompok virus yang menyebabkan penyakit pada komoditas perairan telah berhasil diteliti dan diidentifikasi.

Sejumlah komoditas perairan telah menjadi sasaran infeksi berbagai kelompok virus, seperti Iridovirus, Herpesvirus, Birnavirus, Adenovirus, Rhabdovirus, Reovirus, Retrovirus, dan beberapa jenis virus lainnya sebagaimana disajikan pada Tabel berikut.
Jenis virus dan inang yang diinfeksi
Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Monday, June 17, 2019

Penyakit Virus Pada Ikan : Reproduksi Virus

Virus sebagai makhluk hidup antara (metaorganisme) hanya mengalami siklus kehidupan manakala virus menemukan inang yang memiliki kecocokan materi genetik bagi virus mentransfer dan menempelkan materi genetiknya. Virus dapat memperbanyak diri apabila partikel virus menginfeksi inang agar mensintesis semua komponen yang diperlukan untuk membentuk lebih banyak partikel virus. Komponen-komponen tersebut kemudian dirakit menjadi bentuk struktur virus dan partikel virus yang baru tersebut akan keluar dari sel inang untuk menginfeksi sel-sel lain. Perkembangbiakkan virus sering disebut replikasi.

Virus memerlukan lingkungan sel yang hidup sebagai inang sebagai vektor bagi virus untuk mensistesis komponen virus. Virus mengalami dua jenis siklus dalam kehidupannya, yaitu siklus litik dan siklus lisogenik. Secara umum, tahapan reproduksi dilakukan dalam beberapa langkah, yaitu adsorpsi (penempelan), penetrasi (injeksi), replikasi (eklipse), sintesis, dan pelapasan partikel virus yang matang dari sel. Meskipun demikian, siklus litik dan lisogenik tetap memiliki perbedaan mekanisme reproduksi virion baru sebagaimana ilustrasi Gambar berikut.

Proses Reproduksi Virus
Pada daur litik, infeksi virus terjadi melalui beberapa fase kehidupan, yaitu fase adsorpsi, pentrasi, replikasi dan sintesis, perakitan, dan lisis. Fase absorpsi adalah fase dimana fage menempel pada sel inang di daerah pelekatan tertentu yang disebut reseptor. Setelah itu, fage akan melakukan penetrasi materi genetik virus kepada sel inangnya, bersatu dengan materi genetik inang, dan kemudian membentuk komponen-komponen virus yang diikuti terjadi perakitan komponenkomponen tersebut menjadi virion baru. Pada kondisi yang ideal bagi virus untuk hidup, maka virus akan merusak sel inang dan terjadilah lisis sel. virus yang terbentuk akan melakukan aktivitas infeksi berikutnya.

Sedangkan pada daur lisogenik, virus juga melakukan absorpsi pada inang dan melakukan transfer materi genetik ke dalam tubuh inangnya. Setelah itu materi genetik virus dan inang akan menyatu, tetapi tidak diikuti oleh sintesis komponen-komponen virion. Hal ini dapat dipengaruhi oleh lingkungan yang tidak ideal bagi sel inang untuk memfasilitasi aktivitas sintesis tersebut. Oleh karenanya, materi genetik virus bersifat inaktif dan hanya berkembang seiring pembelahan sel inang yang terjadi. Pada saat sel inang membelah, maka inang telah terkontaminasi dan membawa materi genetik virus. Pada suatu saat, sel inang dapat mengalami lisis oleh virus apabila sel inang dalam keadaan yang cocok bagi virus untuk melakukan perakitan komponen-komponen virionnya atau mengalami daur litik.

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Friday, June 14, 2019

Penyakit Bakterial Ikan : Ice - Ice Pada Rumput Laut

Penyakit ini disebabkan oleh faktor lingkungan dan beberapa jenis bakteri: Pseudoalteromonas gracilis, Pseudomonas spp., dan Vibrio spp.

Bio – Ekologi Patogen :
  • Kasus ice-ice pada budidaya rumput laut dipicu oleh fluktuasi parameter kualitas air yang ekstrim (kadar garam, suhu air, bahan organik terlarut dan intensitas cahaya matahari).
  • Pemicu lain adalah serangan hama seperti ikan baronang, penyu hijau, bulu babi dan bintang laut menyebabkan luka pada thallus, sehingga mudah terinfeksi oleh mikroorganisme.
  • Pada keadaan stress, rumput laut akan membebaskan substansi organik yang menyebabkan thallus berlendir dan merangsang bakteri tumbuh melimpah di sekitarnya.
  • Pertumbuhan bakteri pada thallus akan menyebabkan bagian thallus menjadi putih dan rapuh. Selanjutnya, mudah patah, dan jaringan menjadi lunak yang menjadi ciri penyakit ice-ice.
  • Penyebaran penyakit inidapat terjadi secara vertikal (dari bibit) atau horizontal melalui perantaraan air.

Gejala klinis :
  • Penyakit ini ditandai dengan timbulnya bintik/bercak-bercak merah pada sebagian thallus yang lama kelamaan menjadi kuning pucat dan akhirnya berangsur-angsur menjadi putih. Thallus menjadi rapuh dan mudah putus.
  • Gejala yang diperlihatkan adalah pertumbuhan yang lambat, terjadinya perubahan warna menjadi pucat dan pada beberapa cabang thallus menjadi putih dan membusuk.

Thallus Eucheuma yang terinfeksi ice - ice
Thallus Eucheuma yang terinfeksi ice - ice
Pengendalian :
  • Penggunaan bibit unggul merupakan cara yang sangat penting untuk pengendalian penyakit ice-ice.
  • Desinfeksi bibit dapat dilakukan dengan cara dicelupkan pada larutan PK (potasium permanganat) dengan dosis 20 ppm.
  • Pemilihan lokasi budidaya yang memenuhi persyaratan optimum bagi pertumbuhan rumput laut.
  • Penerapan teknik budidaya yang disesuaikan dengan lingkungan perairan
  • Memperhatikan musim dalam kaitannya dengan teknik budidaya yang hendak diterapkan.

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Monday, June 10, 2019

Penyakit Bakterial Ikan : Mycobacteriosis/Fish Tuberculosis (TB)

Penyakit ini disebabkan oleh Mycobacterium marinum (air laut) dan M. fortuitum (air tawar)

Bio – Ekologi Pathogen :
  • Bakteri gram positif, berbentuk batang pendek dan non-motil.
  • Kolam tadah hujan dan pekarangan dengan sumber air terbatas lebih rentan terhadap infeksi jenis penyakit ini.
  • Menunjukkan gejala yang variatif, namun sering pula tidak menunjukkan gejala klinis sama sekali.
  • Pola serangan mycobacteriosis bersifat kronik - sub akut, baik pada ikan air tawar, payau maupun ikan air laut.
  • Suhu optimum berkisar 25–35 °C, tetapi masih dapat tumbuh baik pada suhu 18-20 °C.

Gejala Klinis :
  • Hilang nasfu makan, lemah, kurus, mata melotot (exopthalmia) serta pembengkakan tubuh.
  • Apabila menginfeksi kulit, timbul bercak-bercak merah dan berkembang menjadi luka, sirip dan ekor geripis.
  • Pada fase infeksi lanjut, secara internal telah terjadi pembengkakan empedu, ginjal dan hati; serta sering ditemukan adanya tubercle/nodule yang berwarna putih kecoklatan.
  • Pertumbuhan lambat, warna pucat dan tidak indah terutama untuk ikan hias.
  • Lordosis, skoliosis, ulser dan rusaknya sirip (patah-patah) dapat terjadi pada beberapa ekor ikan yang terserang.

Diagnosa :
• Isolasi dengan menggunakan media selektif, dan diidentifikasi melalui uji bio-kimia.
• Deteksi gen bakteri melalui teknik polymerase chain reaction (PCR)

Ikan gurame yang menderita mycobacteriosis, bercak - bercak merah dikulit
(menyerupai cacar) dan selanjutnya berkembang menjadi luka
Ikan gurame yang menderita mycobacteriosis, tampak dipenuhi tubercle/nodule
yang berwarna putih kecokelatan pada organ dalam dan daging ikan
Pengendalian :
  • Ikan yang terinfeksi segera diambil dan dimusnahkan.
  • Hindari penggunaan air dari kolam yang sedang terinfeksi bakteri tersebut.
  • Memperbaiki kualitas air secara keseluruhan, terutama mengurangi kadar bahan organik terlarut dan/atau meningkatkan frekuensi penggantian air baru.
  • Pengelolaan kesehatan ikan secara terpadu (ikan, lingkungan dan patogen)
  • Perendaman Chloramine B atau T 10 ppm selama 24 jam dan setelah itu dilakukan pergantian air baru.
Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Friday, June 7, 2019

Penyakit Bakterial Ikan : Streptococcus agalactiae, S. iniae

Bio – Ekologi Pathogen :
  • Bakteri gram positif, berbentuk bulat kecil (cocci), bergabung menyerupai rantai, non-motil, koloni transparan dan halus.
  • Infeksi Streptococcus iniae sering terjadi pada budidaya ikan air laut (kakap, kerapu), sedangkan S. agalactiae lebih banyak ditemukan pada ikan budidaya air tawar (nila). Pola serangan kedua jenis bakteri tersebut umumnya bersifat kronik – akut.
  • Target organ infeksi Streptococcus spp. banyak ditemukan di otak dan mata, sehingga disebut “syndrome meningoencephalitis dan panophthalmitis”. Penyakit ini sering dilaporkan pada sistem budidaya intensif, lingkungan perairan tenang (stagnant) dan/atau sistem resirkulasi.
  • Secara kumulatif, akibat serangan penyakit ini dapat menimbulkan mortalitas 30-100% dari total populasi selama masa pemeliharaan; dan penyakit ini merupakan kendala potensial yang harus diantisipasi berkenaan dengan program intensifikasi dan peningkatan produksi nila nasional.

Gejala Klinis :
  • Menunjukkan tingkah laku abnormal seperti kejang atau berputar serta mata menonjol (exopthalmus).
  • Nafsu makan menurun, lemah, tubuh berwarna gelap, dan pertumbuhan lambat.
  • Warna gelap di bawah rahang, mata menonjol, pendarahan, perut gembung (dropsy) atau luka yang berkembang menjadi borok.
  • Adakalanya. tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas kecuali kematian yang terus berlangsung.
  • Pergerakan tidak terarah (nervous) dan pendarahan pada tutup insang (operculum).
  • Sering pula ditemukan bahwa ikan yang terinfeksi terlihat normal sampai sesaat sebelum mati.
Diagnosa :
  • Isolasi dan identifikasi bakteri melalui uji bio-kimia.
  • Deteksi gen bakteri melalui teknik polymerase chain reaction (PCR)
Benih ikan nila yang terinfeksi Streptococcus agalactiae, menunjukkan gejala biexopthalmia
Ikan nila yan terifeksi Streptococcus agalactiae, menunjukkan gejala ulcer (borok) serius
Pengendalian :
  • Desinfeksi sarana budidaya sebelum dan selama proses pemeliharaan ikan.
  • Pencegahan secara dini (benih) melalui vaksinasi anti Streptococcus spp.
  • Pemberian unsur immunostimulan (misalnya penambahan vitamin C pada pakan) secara rutin selama pemeliharaan.
  • Memperbaiki kualitas air secara keseluruhan, terutama mengurangi kadar bahan organik terlarut dan/atau meningkatkan frekuensi penggantian air baru.
  • Pengelolaan kesehatan ikan secara terpadu (ikan, lingkungan dan patogen).
Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Monday, June 3, 2019

Penyakit Virus Pada Ikan :Karakteristik Penyakit Virus

Pengetahuan dunia mikroorganisme semakin berkembang seiring dengan penemuan piranti-piranti yang mampu digunakan untuk menggali informasi terkait mikroorganisme yang dipelajari. Salah satu informasi yang dewasa ini juga menjadi perhatian adalah berhubungan dengan keberadaan virus pada suatu organisme hayati. Virus merupakan organisme mikroskopis selain bakteri, jamur, dan sejumlah parasit lainnya. Virus memiliki keistimewaan dan berkarakteristik ganda, yaitu mampu menyerupai makhluk hidup dan makhluk tidak hidup (mati).

Di dalam aktivitasnya, virus hanya mengandalkan materi genetik untuk hidup melalui proses infeksi pada inang yang spesifik dan kemudian ikut memperbanyak diri bersamaan dengan perkembangan atau pembelahan sel yang terjadi. Akan tetapi apabila virus tidak menemukan inang yang sesuai untuk perkembangannya, virus hanya melakukan proses dormanisasi dan tidak terjadi aktivitas kehidupan virus. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa virus adalah parasit obligat yang hanya mampu bereproduksi sebagai makhluk hidup melalui transfer materi genetik kepada makhluk hidup inangnya (host) karena virus tidak memiliki perlengkapan seluler untuk bereproduksi sendiri.

Secara umum virus merupakan partikel tersusun atas elemen genetik, yaitu asam deoksiribonukleat (DNA) atau asam ribonukleat (RNA). Virus bertindak sebagai agen penyakit melalui pewarisan sifat pada rangkaian proses penetrasi, replikasi, dan sintesis asam nukleat kepada inangnya. Secara morfologi, ukuran virus lebih kecil dibandingkan dengan sel bakteri, yaitu 0,02-0,3 µm dimana 1 µm
setara dengan 1/1000 mm yang terdiri atas materi genetik (DNA atau RNA) dan tiga komponen lainnya, yaitu kepala, seludang, dan serabut ekor. Meskipun demikian, ada sejumlah virus yang tidak memiliki komponen-komponen tersebut dengan lengkap dan bahkan terkadang virus hanya memiliki materi genetik saja.

Berdasarkan materi genetik yang dimiliki, virus dikelompokkan menjadi virus DNA dan virus RNA. Sedangkan berdasarkan alur genomnya, maka virus diklasifikasikan menjadi tujuh kelompok, yaitu virus DNA utas ganda, DNA utas tunggal, RNA utas ganda, RNA utas tunggal (+), RNA utas tunggal (-), RNA utas tunggal (+) dengan DNA perantara, serta DNA utas ganda dengan RNA perantara. Apabila ditinjau dari proses perubahan materi genetik menjadi protein, maka materi genetik RNA akan lebih cepat dipetakan menjadi protein dibandingkan materi genentik DNA. Virus bermateri genetik DNA untuk dapat dibaca menjadi protein antigen diperlukan proses transkripsi menjadi RNA dan translasi dari RNA menjadi protein. Sedangkan virus bermateri genetik RNA hanya perlu satu proses translasi saja untuk dibaca sebagai protein antigen yang mampu memberi pengaruh bagi sel inang yang ditempelinya. Oleh karenanya, virus bermateri genetik RNA dianggap lebih berbahaya dan memiliki penyebaran yang lebih cepat dibandingkan dengan virus bermateri genetik DNA.

Selain berdasarkan materi genetik dan alur genom, virus juga dapat digolongkan menjadi virus berselubung dan virus tidak berselubung dengan berbagai bentuk. Beberapa contoh bentuk virus disajikan pada Gambar berikut.

Gambaran dan Morfologi Virus
Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...