Lalaukan

Informasi dunia kelautan dan perikanan serta kegiatan penyuluhan perikanan

Friday, August 30, 2019

Penyakit Fungal (Jamur) Pada Ikan : Aphanomyces sp

Jamur ini merupakan jenis lain penyebab penyakit saproligniasis. Jamur Aphanomyces sp termasuk ke dalam Kelas Phycomycetes, Ordo Saprolegniales, dan Keluarga Saprolegniaceae yang membentuk zoospore, dan selanjutnya akan membentuk spora yang berukuran 8,1-9,5 μm dan miselium dengan ukuran 7,5-10,00 μm. Jamur Aphanomyces sp dapat bereproduksi secara seksual maupun aseksual dan bersifat parasit obligat.

Gejala klinis serangan Aphanomyces sp pada ikan mirip seperti infeksi yang disebabkan oleh Saprolegnia sp maupun Achlya sp penyebab saproligniasis. Jamur ini menginfeksi daerah persendian, syaraf, dan otak yang menimbulkan kerusakan pada ganglion otak. Ikan yang terserang mengalami paralisis sehingga tidak mampu bergerak dan telentang di dasar kolam sampai mati. Bentuk infeksi
dan morfologi Aphanomyces sp disajikan pada Gambar berikut.

Bentuk infeksi dan morfologi Aphanomyces sp

Penyebab : Aphanomyces invadans

Bio-Ekologi Patogen :

  1. Merupakan penyakit borok (ulcer) disebabkan infeksi cendawan Aphanomyces invadans.
  2. Spora cendawan menginfeksi permukaan tubuh ikan, sehingga menimbulkan borok.
  3. Inang meliputi ikan air tawar dan payau antara lain: betutu, gabus, betok, gurame, lele dan tambakan.
  4. Tingkat kematian berkisar antara 20-80%

Gejala Klinis :

  1. Infeksi berawal dari adanya bintik merah pada permukaan tubuh.
  2. Hilang nafsu makan, warna tubuh gelap, berenang ke permukaan dan hiperaktif.
  3. Bintik merah berkembang menjadi luka/borok yang berwarna merah cerah dan/atau merah kecoklatan.

Diagnosa :

  1. Pengamatan hifa dan/atau miselia cendawan di bawah luka/borok pada tubuh ikan.
  2. Isolasi cendawan pada media agar dan diidentifikasi secara morfometris.
  3. Secara histopatologis ditemukan adanya hifa cendawan yang terletak di tengah sel granuloma pada jaringan di bawah luka/borok.

Ikan gurame (Osphronemus gouramy) yang mengalami luka akibat
terserang penyakit Epizootic Ulcerative Syndrome (EUS)

Luka/borok yang serius pada ikan belanak (Mugil spp.) akibat
terserang penyakit Epizootic Ulcerative Syndrome (EUS)
Pengendalian :

  1. Menetralkan kadar keasaman dan/atau alkalinitas air melalui pengapuran.
  2. Mengisolasi ikan sakit dan/atau membuang ikan yang telah mati.
  3. Persiapan wadah/kolam secara higienis dan steril terhadap keberadaan spora cendawan tersebut melalui pengeringan, pengapuran, desinfeksi, dll.


Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Monday, August 26, 2019

Penyakit Fungal (Jamur) Pada Ikan : Achlya sp

Achlya sp juga merupakan jenis jamur yang banyak ditemukan sebagai agen infeksius pada penyakit ikan. Jamur ini juga penyebab penyakit saproligniasis, selain yang disebabkan oleh Saprolegnia sp dan Aphanomyces sp. Gejala klinis mirip seperti serangan Saprolegnia sp, yaitu menyerang organ eksternal ikan seperti kulit, sirip, dan insang, telur, serta organ yang terserang menujukkan indikasi ditumbuhi benang-benang halus seperti kapas. Gejala klinis lainnya adalah timbulnya borok akibat serangan sekunder, kemudian berkembang menembus jaringan kulit, dan meluas hingga ke tulang belakang ikan yang mengakibatkan ikan kehilangan sebagian komponen tubuh posteriornya. Bentuk infeksi dan morfologi Achlya sp tertera pada Gambar berikut.
Bentuk infeksi dan morfologi Achlya sp
Penyebab : Saprolegnia spp. dan Achlya spp.

Bio – Ekolgi Patogen :
  1. Memiliki hifa yang panjang dan tidak bersepta, hidup pada ekosistem air tawar namun ada yang mampu hidup pada salinitas 3 promil.
  2. Tumbuh optimum pada suhu air 18-26 oC. Reproduksi secara aseksual, melalui hifa fertil untuk memproduksi spora infektif.
  3. Menginfeksi semua jenis ikan air tawar dan telurnya.
  4. Serangan bersifat kronis hingga akut, dapat mengakibatkan kematian hingga 100%.

Gejala Klinis :
  1. Terlihat adanya benang-benang halus menyerupai kapas yang menempel pada telur atau luka pada bagian eksternal tubuh ikan.
  2. Miselia (kumpulan hifa) berwarna putih atau putih kecoklatan.

Diagnosa :
  1. Pengamatan hifa dan/atau miselia cendawan pada tubuh ikan, terutama pada luka dan/atau di sekitar sirip ikan.
  2. Pengamatan hifa dan/atau miselia cendawan secara mikroskopis pada slide glass.
  3. Isolasi cendawan pada media agar dan diidentifikasi secara morfometris.


Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Friday, August 23, 2019

Penyakit Fungal (Jamur) Pada Ikan : Saprolegnia sp

Salah satu kelompok jamur yang sering menyerang ikan air tawar adalah Saprolegnia sp. Saprolegnia sp merupakan penyebab penyakit saproligniasis. Penyakit ini dikenal dengan nama fish mold yang dapat menyerang ikan dan telur ikan. Saprolegnia sp termasuk ke dalam Subdivisi Zygomycotina/ Zygomycetes, Kelas Oomycetes, Ordo Saprolegniales dan kelompok fungi non septat. Jamur ini bereproduksi secara seksual (spora~oospora) dan juga aseksual (antheridia dan oogonia) yang mengalami kematangan. Jamur ini menyerang sebagian besar ikan air tawar, umumnya ikan mas, tawes, gabus, gurami, nila, dan lele. Selain itu, juga menyerang ikan kakap yang dipelihara di salinitas rendah.

Gejala klinis serangan Saprolegnia sp antara lain ikan dan telur yang terserang dapat diketahui dengan mudah karena terlihat benang putih yang kasat mata, terjadi peradangan, granuloma, bagian yang diserang ditumbuhi misellium seperti kapas (white cotton growth), serta dapat menyebabkan kematian akibat masalah osmosis atau respirasi yang berat pada kulit dan insang. Bentuk infeksi
Saprolegnia sp dan morfologi Saprolegnia sp disajikan pada Gambar berikut.

Bentuk infeksi dan morfologi Saprolegnia sp

Penyebab : Saprolegnia spp. dan Achlya spp.

Bio – Ekolgi Patogen :
  1. Memiliki hifa yang panjang dan tidak bersepta, hidup pada ekosistem air tawar namun ada yang mampu hidup pada salinitas 3 promil.
  2. Tumbuh optimum pada suhu air 18-26 oC. Reproduksi secara aseksual, melalui hifa fertil untuk memproduksi spora infektif.
  3. Menginfeksi semua jenis ikan air tawar dan telurnya.
  4. Serangan bersifat kronis hingga akut, dapat mengakibatkan kematian hingga 100%.
Gejala Klinis :
  1. Terlihat adanya benang-benang halus menyerupai kapas yang menempel pada telur atau luka pada bagian eksternal tubuh ikan.
  2. Miselia (kumpulan hifa) berwarna putih atau putih kecoklatan.
Diagnosa :
  1. Pengamatan hifa dan/atau miselia cendawan pada tubuh ikan, terutama pada luka dan/atau di sekitar sirip ikan.
  2. Pengamatan hifa dan/atau miselia cendawan secara mikroskopis pada slide glass.
  3. Isolasi cendawan pada media agar dan diidentifikasi secara morfometris.

Benih ikan patin (Pangasius spp.) yang terserang penyakit
saprolegniasis akibat penanganan yang kurang baik.
Ikan mas (Cyprinus carpio) yang terlebih dahulu terinfeksi oleh virus,
selanjutnya diperparah dengan serangan penyakit saprolegniasis

Pengendalian :
  1. Menaikkan dan mempertahankan suhu air ≥ 28 oC dan/atau penggantian air baru yang lebih sering.
  2. Pengobatan dapat dilakukan dengan cara perendaman dengan : Kalium Permanganate (PK) pada dosis 1 gram/100 liter air selama 90 menit.; Formalin pada dosis 100-200 ppm selama 1-3 jam.; Garam dapur pada konsentrasi 1-10 promil (tergantung spesies dan ukuran) selama 10-60 menit; Methylene Blue pada dosis 3-5 ppm selama 24 jam.

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Monday, August 19, 2019

Penyakit Fungal (Fungal Disease)

Fungi (cendawan atau jamur) merupakan organisme heterotrofik yang memerlukan senyawa organik sebagai nutrisi pertumbuhannya. Fungi memiliki sifat parasit dan saprofit yang mencari makanan dari inang hidup maupun mati. Perkembangbiakan jamur dapat berlangsung secara seksual dan aseksual serta mempunyai ciri yang khas, yaitu berupa benang putih (hifa), meskipun beberapa kelompok fungi tidak berhifa. Jamur juga dapat menyebabkan penyakit pada komoditas perikanan.
Ikan yang terkena serangan jamur saprolegnia
Beberapa jenis jamur, seperti Achlya sp, Fusarium sp, Saprolegnia sp, Phoma sp, dan sebagainya adalah spesies yang telah berhasil diidentifikasi sebagai agen infeksius. Meskipun pertumbuhan serabut hifa jamur lebih lambat yang berarti bahwa infeksi jamur relatif lebih lambat, akan tetapi infeksi jamur tidak bisa dianggap ringan karena dapat menyebabkan kegagalan budidaya yang signifikan.

Karakteristik Fungal
Fungi atau cendawan merupakan organisme heterotrofik yang memerlukan senyawa organik sebagai nutrisi pertumbuhan dan perkembangannya. Kelompok fungi tidak mampu menghasilkan makanan sendiri melalui proses fotosintesis dikarenakan fungi tidak memiliki klorofil dan bersifat non fotosintesik. Oleh karenanya, kecenderungan fungi bersifat saprofit yang berarti hidup dari benda organik mati yang terlarut, menghancurkan sisa-sisa tumbuhan ataupun hewan yang kompleks ataupun mati, atau menjadikan senyawa kompleks tersebut menjadi senyawa yang lebih sederhana sebagai nutrisinya atau dikenal juga dengan istilah khemoorganoheterotrof. Di dalam dunia mikrobiologi khususnya mikologi (telaah terkait fungi), fungi dimasukkan ke dalam Divisio Mycota. Kata Mycota itu sendiri berasal dari kata mykes dalam bahasa Yunani yang diartikan fungi dalam bahasa Latin.

Terdapat beberapa istilah yang dikenal untuk menyebut jamur (fungi), yaitu mushroom dimana jamur ini dapat menghasilkan badan buah besar, termasuk jamur yang dapat dimakan. Selain mushroom, fungi dapat menunjukkan sifatnya sebagai dimorfisme, yaitu mold merupakan jamur yang berbentuk seperti benangbenang (filamentus) atau dikenal sebagai kapang, dan khamir yang merupakan kelompok fungi bersifat uniseluler (bersel satu) atau diistilahkan sebagai yeast. Selain secara morfologi, fungi juga memiliki perbedaan dengan mikroorganisme lainnya. Perbedaan yang paling nyata dari suatu kelompok fungi, khususnya fungi filementus adalah terbentuknya hifa atau benang-benang yang tidak dimiliki oleh mikroorganisme lainnya. Pertumbuhan hifa mempengaruhi waktu regenerasi atau pertumbuhan fungi yang relatif lebih lambat dibandingkan dengan bakteri atau virus. Perbedaan lainnya bukan hanya pada morfologi dan kecepatan pertumbuhan, tetapi juga fisiologi dan sifat atau karakteristik kehidupannya yang berbeda dengan mikroorganisme lainnya, seperti bakteri.

Beberapa sifat fisiologi yang menjadi komparasi atau perbandingan antara kelompok fungi dengan bakteri disajikan pada Tabel berikut.


Tabel Fisiologi Komperatif antara Fungi dan Bakteri

Morfologi Jamur Benang

Salah satu karakteristik dari jamur benang adalah membentuk filamentus  atau benang-benang di dalam siklus perkembangannya. Benang-benang tersebut terdiri atas massa benang bercabang-cabang yang disebut miselium yang tersusun dari hifa (filamen) atau benang-benang tunggal. Ukuran hifa beragam berkisar antara 5-10 µm. Berdasarkan fungsinya hifa dibedakan menjadi dua macam, yaitu hifa fertil dan hifa vegetatif. Hifa fertil adalah hifa yang dapat membentuk sel-sel reproduksi atau spora-spora dan apabila hifa tersebut arah pertumbuhannya keluar dari media disebut hifa udara. Selain hifa fertil, terdapat juga hifa vegetatif yang berfungsi untuk menyerap makanan dari suatu substrat

Berdasarkan bentuknya dibedakan pula menjadi dua macam hifa, yaitu hifa tidak berseptat dan hifa berseptat. Hifa yang tidak berseptat merupakan ciri jamur yang termasuk Phycomycetes (fungi tingkat rendah). Hifa ini merupakan sel yang memanjang, bercabang-cabang, dan terdiri atas sitoplasma dengan banyak inti (soenositik). Hifa yang berseptat merupakan ciri dari fungi tingkat tinggi atau yang termasuk Eumycetes. Secara umum, berdasarkan morfologi benang-benang hifa, filamentus fungi dapat dikelompokkan menjadi:
  1. Aseptat (senosit) merupakan kelompok fungi dimana hifa tidak mempunyai dinding sekat (septum)
  2. Septat dengan sel-sel uninukleat dimana sekat membagi hifa menjadi ruangruang atau sel-sel yang berisi nukleus tunggal
  3. Septat dengan sel-sel multinukleat dimana sekat membagi hifa menjadi ruang-ruang atau sel-sel yang berisi lebih dari satu nukleus dalam setiap ruangnya.

Perkembangbiakkan Jamur

Secara alami, perkembangbiakan jamur dapat berlangsung melalui dua cara, yaitu perkembangbiakan secara vegetatif (aseksual) dan generatif (seksual). Perkembangbiakan jamur secara aseksual dapat dilakukan dengan fragmentasi atau pemisalah misellium (thalus), pembelahan, penguncupan, dan pembentukan spora aseksual. Perkembangbiakan jamur melalui spora aseksual berfungsi untuk menyebarkan spesies dalam jumlah yang besar. Beberapa macam spora aseksual dari jamur, yaitu:
  1. Konidiospora atau konidium yang dibentuk di ujung atau di sisi hifa. Konidium yang kecil dan bersel satu disebut mikrokonidium, sedangkan yang lebih besar dan bersel banyak dinamakan makrokonidium.
  2. Sporangiospora, yaitu spora sel satu yang terbentuk di dalam kantung sporangium di ujung hifa khusus (sporangiosfor). Sporangiospora ada yang bergerak dikarenakan memiliki flagellum disebut zoospora, sedangkan sporangiospora yang tidak motil disebut aplanospora.
  3. Oidium atau artrospora yang bersel satu dan terbentuk karena terputusnya sel-sel hifa. Segmentasi terjadi pada ujung-ujung hifa, lalu sel-sel membulat, dan akhirnya lepas menjadi spora.
  4. Klamidiospora dimana spora sel tunggal ini berdinding tebal dan sangat resisten terhadap keadaan yang buruk. Spora ini terbentuk dari sel-sel hifa somatik.
  5. Blastospora, yaitu bagian dari calon tunas atau kuncup pada sel-sel jamur uniseluler atau khamir (yeast).

Perkembangbiakan secara seksual dilakukan dengan pembentukan spora seksual dan peleburan gamet (sel seksual). Di dalam perkembangbiakan secara seksual, terdapat dua tipe kelamin (mating type) dari sel seksual, yaitu tipe kelamin jantan (+) dan tipe kelamin betina (-). Peleburan gamet terjadi antara dua tipe kelamin yang berbeda. Adapun proses reproduksi secara seksual dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu (a) plasmogami merupakan proses meleburnya dua plasma sel, (b) kariogami merupakan proses meleburnya dua inti haploid yang menghasilkan satu inti diploid, dan (c) meiosis merupakan pembelahan reduksi yang menghasilkan inti haploid. Spora seksual yang dihasilkan dari peleburan dua nukleus terbentuk lebih jarang, jumlahnya lebih sedikit dibandingkan  spora aseksual, dan hanya terbentuk dalam keadaan tertentu saja. Beberapa tipespora seksual yang dihasilkan, yaitu:
  1. Askopora, yaitu spora bersel satu yang terbentuk di dalam kantung disebut askus. Biasanya terdapat delapan askospora di dalam setiap askus.
  2. Basidiospora, yaitu spora yang bersel satu dan terbentuk di atas struktur berbentuk gada yang disebut basidium.
  3. Zigospora, yaitu spora besar yang memiliki dinding tebal dan terbentuk apabila ujung-ujung dua hifa yang secara seksual serasi atau disebut juga gametangia.
  4. Oospora, yaitu spora yang terbentuk di dalam struktur betina khusus atau dikenal dengan ooginium. Pembuahan telur atau oosfer oleh gamet jantan yang terbentuk di dalam anteredium menghasilkan oospora. Di dalam setiap ooginium terdapat satu atau beberapa oosfer.

Spora aseksual maupun seksual dapat dilapisi oleh struktur pelindung yang sangat terorganisasi disebut tubuh buah. Tubuh buah spora aseksual disebut aservulus dan piknidium. Sedangkan tubuh buah spora seksual disebut peritesium dan apotesium. Spora merupakan salah satu pembeda beberapa jenis kelas fungi. Beberapa ciri lain pada masing-masing kelas fungi disajikan pada Tabel berikut.

Tabel Ciri - Ciri Utama Kelas Fungi

Penyakit Fungal Pada Ikan
Jenis penyakit yang disebabkan oleh jamur bersifat infeksi sekunder. Hal ini berarti bahwa serangan jamur biasanya lebih dipicu karena adanya luka akibat serangan primer, seperti parasit. Kebanyakan jenis ikan air tawar termasuk telurnya rentan terhadap infeksi jamur. Beberapa faktor yang sering memicu terjadinya infeksi jamur adalah penanganan yang kurang baik sehingga menimbulkan luka pada tubuh ikan, kekurangan gizi, suhu, oksigen terlarut yang rendah, bahan organik tinggi, kualitas telur buruk atau tidak terbuahi, serta padatnya telur. Jamur terdapat di semua jenis perairan air tawar terutama yang mengandung banyak bahan organik. Jamur hidup sebagai saprofit pada jaringan tubuh merupakan penyakit sejati karena jamur tidak dapat menyerang ikan-ikan yang sehat, melainkan menyerang ikan-ikan yang sudah luka atau lemah. Penyakit akibat serangan jamur menular terutama melalui spora jamur yang ada di perairan.


Gejala-gejala serangan jamur dapat dilihat secara visual, yaitu adanya benang-benang halus menyerupai kapas yang menempel pada telur atau luka pada bagian eksternal ikan. Jamur juga menyerang telur-telur yang gagal menetas dan kemudian menulari telur-telur lain yang sehat bahkan dapat menyerang larvanya. Sejumlah jamur yang sering ditemukan menginfeksi ikan antara lain jenis jamur Saprolegnia sp, Achlya sp, Aphanomyces sp, Ichthyosporidium sp atau dikenal juga sebagai Ichtyophonus sp, Branchiomyces sp, Fusarium sp, Lagenedium sp, Exophiala sp, dan Phoma sp.


Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Friday, August 16, 2019

Penyakit Virus Pada Ikan : Macrobranchium White Tail Disease (Penyakit Ekor Putih Pada Udang Galah)

Penyebab : Macrobrachium rosenbergii nodavirus (MrNV) dan extra small virus (XSV)

Bio – Ekologi Patogen :
  1. Inang penyakit sangat species spesifik yaitu udang galah (Macrobrachium rosenbergii)
  2. Keganasan: tinggi, dalam tempo 2-3 hari mematikan 100% populasi di perbenihan.
  3. Melalui infeksi buatan pada PL, gejala klinis dan mortalitas yang terjadi sama dengan infeksi alamiah; sedangkan pada udang dewasa, bagian sepalotorak lembek diikuti munculnya struktur dua kantung yang menggembung berisi cairan di kanan-kiri hepatopancreas.
  4. Gejala klinis yang sama, menyerupai branchiostegite blister disease (BBD) yang diikuti dengan kematian dilaporkan terjadi pada kolam pembesaran udang galah.
  5. Distribusi: India dan Asia Tenggara (Thailand).

Gejala Klinis :
  1. Lemah, anorexia dan memutih pada otot abdominal pada PL.
  2. Kondisi tersebut secara bertahap meluas ke dua sisi sehingga mengakibatkan degenerasi telson dan uropod.
  3. Warna keputihan pada ekor merupakan gejala klinis yang definitif, sehingga disebut penyakit ekor putih.
  4. Warna kehitaman (melanisasi) akan mengembang ke 2 sisi (anterior & posterior) dan menunjukkan degenerasi dari telson dan uropod

Diagnosa :
  1. Polymerase Chain Reaction (PCR)
  2. In situ hybridization

Larva udang galah yang menderita penyakit ekor putih (white tail
disease)
Udang galah yang menderita penyakit ekor putih di kolam
pembesaran

Pengendalian :
  1. Tindakan karantina terhadap calon induk dan larva udang galah yang baru
  2. Hanya menggunakan induk dan benih yang bebas MrNV dan XSV.
  3. Menjaga status kesehatan udang agar selalu prima melalui pemberian pakan yang tepat jumlah dan mutu
  4. Menjaga kualitas lingkungan budidaya agar tidak menimbulkan stress bagi udang









Monday, August 12, 2019

Penyakit Virus Pada Ikan : Monodon Baculo Virus (MBV) atau Spherical baculovirosis

Penyebab : Penaeus monodon-type Baculovirus

Bio - Ekologi Patogen :
  1. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit virus yang pertama kali dikenal pada budidaya udang penaeid di Indonesia, pada awalnya sangat ganas dan dapat mengakibatkan kematian PL dan juvenil udang windu hingga mencapai 90%.
  2. Penularan terjadi secara horizontal melalui air atau kanibalisme terhadap udang yang sedang sakit. Ada keyakinan bahwa trasmisi juga terjadi secara vertikal melalui induk yang sudah terinfeksi, meskipun belum terbukti secara ilmiah.
  3. Krustase yang diketahui sensitif terhadap infeksi jenis virus ini antara lain: Penaeus monodon, P. merguensis, P. semisulcatus, Metapenaeus ensis, dll. Beberapa jenis udang penaeid yang terekspose oleh virus tersebut juga berpotensi sebagai pembawa (carrier).

Gejala Klinis :
  1. Lemah, dan kurang nafsu makan
  2. Infeksi sekendur oleh organisme penempel (ekto parasit) pada organ insang ataupun permukaan tubuh lainnya.
  3. Terdapat bintik-bintik hitam di cangkang dan biasanya diikuti dengan infeksi bakteri, sehingga berlanjut pada terjadinya kerusakan alat tubuh udang.
  4. Hepatopankreas dan saluran pencernaan berwarna keputihan.

Diagnosa :
  1. Secara mikroskopis (preparat basah)
  2. Polymerase Chain Reaction (PCR)

Juvenil udang windu yang terinfeksi Monodon Baculo Virus (MBV)
dengan intensitas tinggi, terlihat warna garis keputihan pada saluran pencernaan
Preparat basah dari isi saluran pencernaan udang windu dewasa
yang terinfeksi oleh Monodon Baculo Virus (MBV) dengan intensitas tinggi,
tampak adanya kluster spherical occlusion bodies (tanda panah)

Pengendalian :
  1. Zonasi melalui pengaturan daerah bebas dan daerah terinfeksi yang didasarkan pada kegiatan monitoring & surveillance yang dilakukan secara longitudinal dan integratif.
  2. Penggunaan induk dan benur yang bebas infeksi MBV
  3. Penerapan sistem budidaya yang dapat menjamin bebas dari masuknya media pembawa MBV (biosecurity)
  4. Menghindari stress (fisik, biologi dan kimia)
  5. Menjaga status kesehatan udang agar selalu dalam kondisi prima, kualitas lingkungan budidaya yang nyaman serta kualitas dan kuantitas pakan yang sesuai.
  6. Pemberian unsur imunostimulan (vitamin C), serta penggunaan materi bioremediasi/probiotik untuk mengurangi stressor biologis dan kimiawi sangat disarankan.


Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Friday, August 9, 2019

Penyakit Virus Pada Ikan : Infectious Myonecrosis (IMNV) atau “Penyakit udang rebus”


Penyebab : Toti-like virus (Totiviridae)

Bio-Ekologi Patogen :
  1. Pola serangan penyakit bersifat akut, ditandai munculnya gejala klinis secara tiba-tiba dan tingkat kematian yang semakin meningkat hingga mencapai antara 60-85%.
  2. Sering merupakan kompleks infeksi yang melibatkan lebih dari satu jenis virus (misalnya TSV bersama IMNV, atau IMNV bersama WSSV). Kondisi tersebut yang sering mengakibatkan tingkat kematian yang sporadis.
  3. Pola serangan dapat pula bersifat kronis dengan tingkat kematian yang rendah namun persisten.
  4. Mekanisme penularan penyakit ini dapat berlangsung secara vertical (dari induk ke keturunannya) atau horizontal (dari udang yang telah terinfeksi atau lingkungan yang terkontaminasi).
  5. Jenis udang vannamei rentan terhadap infeksi Infectious Myonecrosis Virus (IMNV).
  6. Penyakit IMN tidak sama dengan penyakit ekor putih pada udang penaeid. Meskipun penyakit ekor putih memiliki gejala klinis dan kerusakan jaringan yang mirip dengan penyakit IMNV

Gejala Klinis
  1. Kerusakan (nekrosa) berwarna putih keruh pada otot/daging menyerupai guratan, terutama pada otot perut bagian atas (abdomen) dan ekor.
  2. Pada beberapa kasus, kerusakan daging putih keruh ini berubah menjadi kemerahan sehingga menyerupai warna udang rebus.

Diagnosa
Polymerase Chain Reaction (PCR)

Gejala klinis udang vannamei yang terinfeksi Infectious Myonecrosis
Virus (IMNV)
Kerusakan otot/daging udang vannamei akibat infeksi Infectious
Myonecrosis Virus (IMNV)
Pengendalian
  1. Zonasi melalui pengaturan daerah bebas dan daerah terinfeksi yang didasarkan pada kegiatan monitoring & surveillance yang dilakukan secara longitudinal dan integratif.
  2. Penggunaan benur yang bebas infeksi IMNV
  3. Penerapan sistem budidaya yang dapat menjamin bebas dari masuknya media pembawa IMNV (biosecurity)
  4. Menghindari stress (fisik, biologi dan kimia)
  5. Menjaga status kesehatan udang agar selalu dalam kondisi prima, kualitas lingkungan budidaya yang nyaman serta kualitas dan kuantitas pakan yang sesuai.
  6. Pemberian unsur imunostimulan (vitamin C), serta penggunaan materi bioremediasi/probiotik untuk mengurangi stressor biologis dan kimiawi sangat disarankan.

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Monday, August 5, 2019

Penyakit Virus Pada ikan : Grass Carp Reovirus (GCRV)

Penyakit grass carp reovirus (GCRV) dikenal juga dengan nama grass carp hemorrhagic disease merupakan agen patogen penyebab pandemik penyakit hemmorhage. Virus grass carp reovirus adalah salah satu anggota dari Genus Aquareovirus pada Keluarga Reoviridae, tergolong ke dalam tipe virus dengan genom double-stranded RNA (dsRNA) yang memiliki 11 segmen, berdiameter sekitar 75 nm, resisten terhadap chloroform, serta tidak sensitive pada perlakuan pH asam (pH 3) dan basa (pH 10). Virus ini banyak menginfeksi tanaman, insekta, ikan, dan mamalia yang mengakibatkan tingkat mortalitas cukup tinggi. Bentuk infeksi yang paling sering dijumpai adalah timbulnya hemorrhage atau luka pendarahan sebagaimana tertera pada Gambar berikut.

Bentuk infeksi dan morfologi GCRV

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Friday, August 2, 2019

Penyakit Virus Pada Ikan : Spring Viremia of Carp Virus (SVCV)

Spring viraemia of carp virus (SVCV) merupakan bagian dari kelompok Rhabdovirus yang memiliki kedekatan dengan infectious hypodermal and haematopoietic necrosis virus dan viral hemorrhagic septicaemia. Virus ini dikelompokan sebagai single stranded RNA (-) yang secara tentatif  dimasukkan ke dalam Genus Vesiculovirus dengan karakteristik genom tidak bersegmen. Genom virus SVC mengandung 11,019 nukleotida yang menyandikan lima jenis protein, yaitu nucleoprotein (N), phosphoprotein (P), matrix protein (M), glycoprotein (G), dan RNA-dependent, RNA polymerase (L). Infeksi SVC dapat menyebabkan hemorrhage akut dan menyebar dalam darah spesies Carp. Beberapa jenis ikan yang dapat menjadi media SVC antara lain bighead carp (Aristichthys nobilis), common carp dan koi carp (Cyprinus carpio), crucian carp (Carassius carassius), grass carp (Ctenopharyngodon idellus), ide (Leuciscus idus), pike (Esox lucius), silver carp (Hypophthalmichthys molitrix), tench (Tinca tinca), goldfish (Carassius auratus), wels catfish (Silurus glanis), guppy (Poecilia reticulata), pumpkinseed (Lepomis gibbosus), roach (Rutilus rutilus), dan zebra danio (Danio rerio)

Penyebaran virus ini ditransmisi secara horizontal melalui air, feces, infeksi pada insang, dan beberapa jenis parasit darah dapat menjadi vektor VSC. Gejala klinis dari serangan VSC adalah terjadinya pembengkakan mata (exopthalmia) akibat penumpukan cairan, dropsy, hemorrhage pada jaringan lemak, otot, dan kulit, serta timbulnya ascites dan bahkan kematian 30% sampai 100%. Bentuk infeksi dan morfologi VSC disajikan pada Gambar berikut.

Bentuk infeksi dan morfologi VSC

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...