Lalaukan

Informasi dunia kelautan dan perikanan serta kegiatan penyuluhan perikanan

Monday, October 28, 2019

Penyakit Protozoa Pada Ikan : Trypanasomiosis

Protozoa dari jenis Trypanosoma spp adalah agen infeksi penyakit trypanasomiosis. Protozoa ini memiliki flagella serta hidup di darah yang ditularkan oleh lintah ketika menghisap darah dan di dalam jaringan cairan interseluler seperti Trypanosoma cruzi yang ditemukan di dalam sistem reticuloendothelial dan otot. Severitas dari trypanosomiosis dipengaruhi oleh patogenisitas Trypanosoma spp, kemampuan infeksi, stress, dan kondisi nutrisi di dalam inangnya.

Gejala klinis serangan antara lain ikan mengalami kekurangan darah atau anemia, pergerakan kurang gesit, sering megap-megap di permukaan perairan, terjadi kerusakan kulit dan insang yang disertai dengan pendarahan, serta dapat juga menyebabkan terjadinya kegagalan produksi. Serangan Trypanosoma spp umumnya terjadi pada musim kemarau. Bentuk infeksi dan morfologi Trypanasoma spp disajikan pada Gambar berikut.

Bentuk infeksi dan morfologi Trypanosoma sp

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Friday, October 25, 2019

Penyakit Protozoa Pada Ikan : Zoothamniumiosis

Protozoa ini merupakan penyebab penyakit zoothamniumiosis. Protozoa ini biasanya menyerang ikan kakap putih (Lates calcalifer dan Psammoperca waigiensis) di tambak atau keramba. Selain itu, Zoothamnium sp juga ditemukan menyerang udang windu. Gejala klinis serangan seperti pada umumnya, yaitu nafsu makan berkurang dan ikan kelihatan lesu, terdapat bintik-bintik seperti lumut di permukaan tubuh, dan produksi mucus yang berlebih. Bentuk infeksi dan morfologi Zoothamnium sp disajikan pada Gambar berikut.

Bentuk infeksi dan morfolozi Zoothamnium sp
Bio – Ekologi Patogen :
  1. Umumnya disebabkan oleh mikroorganisme dari kelompok Protozoa, meskipun sering pula berasosiasi dengan algae seperti Nitzschia spp., Amphiprora spp., Navicula spp., Enteromorpha spp., dll.
  2. Kompleks infeksi mikroorganisme tersebut akan mengganggu pergerakan udang terutama larva, kesulitan makan, berenang, serta proses molting karena organ insang dan/atau seluruh tubuh dipenuhi organisme penempel.
  3. Faktor pemicu terjadinya ledakan penyakit antara lain, kepadatan tinggi, malnutrisi, kadar bahan organik yang tinggi, dan fluktuasi parameter kualitas air terutama suhu

Gejala Klinis :
  1. Berenang ke permukaan air dan tubuhnya berwarna buram/kotor
  2. Insang yang terinfeksi berwarna kemerahan atau kecoklatan
  3. Lemah, kesulitan bernafas dan nafsu makan menurun, akhirnya mati
  4. Proses ganti kulit (moulting) terhambat, dan timbul peradangan pada kulit

Diagnosa :
  1. Pengamatan secara visual terhadap tingkah laku dan gejala klinis yang timbul
  2. Pengamatan secara mikroskopis untuk melihat morfologi organisme penempel melalui pembuatan preparat ulas dari organ kulit/mukus, sirip dan/atau insang.
Pengendalian:
  1. Desinfeksi wadah/petak pemeliharaan dan sumber air yang bebas mikroorganisme penempel)
  2. Memperbaiki kualitas air secara keseluruhan, terutama mengurangi kadar bahan organik terlarut dan/atau meningkatkan frekuensi penggantian air baru
  3. Pemberian unsur immunostimulan (misalnya penambahan vitamin C pada pakan) secara rutin selama pemeliharaan
  4. Merangsang proses ganti kulit melalui memanipulasi parameter kualitas air yang yang merupakan faktor determinan
  5. Ikan yang terserang “fouling disease” dengan tingkat prevalensi dan intensitas yang rendah, pengobatan dapat dilakukan dengan beberapa jenis desinfektan, antara lain: Perendaman dalam larutan formalin pada dosis 25-50 ppm selama 24 jam atau lebih


Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Monday, October 21, 2019

Penyakit Protozoa Pada Ikan : Myxosporidiasis (Penyakit Gembil)

Penyebab : Myxosporea dari genera Myxobolus, Myxosoma, Thelohanellus, dan Henneguya

Myxobolus sp merupakan Protozoa penyebab penyakit myxosporeasis atau myxosporidiosis. Protozoa ini memiliki ukuran yang kecil, yaitu sekitar 10-20 µm sehingga sering tertelan oleh ikan. Di dalam usus ikan, spora Myxobolus sp akan melepaskan sejenis anak panah yang terikat dengan semacam benang halus ke polar kapsulnya dan apabila anak panah mencapai dinding usus, maka spora akan bergantungan pada dinding usus. Pada mekanisme infeksi selanjutnya akan terjadi kerusakan jaringan dengan gejala klinis antara lain timbul bintil berwarna kemerah-merahan yang sebenarnya merupakan kumpulan dari ribuan spora dimana bintil ini sering menyebabkan tutup insang selalu terbuka. Pada ikan yang terserang terdapat benjolan menyerupai tumor, terjadi gangguan pada sirkulasi pernafasan akibat penghambatan konsumsi oksigen, penurunan aktivitas insang serta fungsi organ pernafasan, serta necrosis. Bentuk infeksi dan morfologi Myxobolus sp disajikan pada gambr berikut.
Bentuk infeksi dan morfologi Myxobolus sp
Selain Myxobolus sp, penyakit myxosporeasis atau myxosporidiosis dapat disebabkan oleh Protozoa lain yang memiliki karakter serangan mirip dengan Myxobolus sp. Protozoa yang juga berperan sebagai agen penyakit myxosporeasis (myxosporidiosis) adalah Myxosoma sp, Henneguya sp Thelohanellus sp. Jenis Myxosoma sp menimbulkan bengkak di sekitar punggung ikan seperti bisul dan apabila pecah akan mengeluarkan cairan keruh kemerahan atau menyerupai nanah. M. cerebralis merupakan parasit yang menginfeksi telinga dan merusak tulang rawan telinga. Penyakit ini disebut juga whirling diseases karena ikan akan berenang berputar-putar pada porosnya dengan kepala menghadap ke atas.

Jenis lainnya adalah Henneguya sp yang membentuk kista dan ditemukan di dalam atau pada organ pernafasan dan menimbulkan pembengkakan jaringan dan pada infeksi yang berat menimbulkan kematian. Sedangkan Thelohanellus sp menyebabkan penyakit bisul berwarna putih seperti kista yang terdapat di bawah kulit. Parasit ini juga ditemukan pada insang, hati, ginjal, dan dinding usus. Gejala klinis tidak berbeda jauh dengan serangan Myxobolus sp, yaitu adanya kista atau bintil pada insang, kulit, ginjal, dan bagian lainnya, kerusakan alat pernafasan, necrosis, dan bahkan menyebabkan kematian ikan. 

Myxosoma sp (a), Henneguya sp (b), dan Thelohanellus sp (c)
Bentuk Infeksi Myxosoma sp, Henneguya sp, dan Thelohanellus sp

Bio – Ekologi Patogen :
  1. Myxosporea berbentuk seperti buah pir atau biji semangka (kwaci), terbungkus dalam kista yang berisi ribuan spora.
  2. Memiliki vakuola yang disebut vakuola iodinophilous yang menjadi pembeda dua genera Myxosporea, yaitu Myxosoma (tanpa vakuola iodinophilous) dan Myxobolus (dengan vakuola iodinophilous).
  3. Spora yang dimakan oleh inang dan masuk ke dalam usus akan pecah mengeluarkan sporoplasma, dan bergerak secara amoeboid masuk dalam sirkulasi darah dan terbawa ke organ target infeksi.
  4. Inang umumnya jenis-jenis ikan dari kelompok cyprinidae, labirinth dan salmonidae. Di Indonesia, jenis ikan yang sering terinfeksi myxosporea antara lain benih ikan mas, tawes, sepat, gurame dan tambakan.
  5. Prevalensi serangan bervariasi dari rendah sampai sedang dengan mortalitas berpola kronis

Gejala Klinis :
  1. Menginfeksi jaringan ikat tapis insang, tulang kartilag, otot/daging, dan beberapa organ dalam ikan (terutama benih).
  2. Terlihat benjolan putih seperti tumor berbentuk bulat-lonjong menyerupai butiran padi pada insang ikan.
  3. Pada infeksi berat, tutup insang (operkulum) tidak dapat menutup sempurna, sirip ekor bengkok dan berwarna gelap
  4. Bengkak-bengkak/gembil di bagian tubuh (kanan/kiri), struktur tulang yang tidak normal
  5. Berenang tidak normal, berdiam di dasar dan akhirnya mati.

Diagnosa :
  1. Pengamatan secara visual terhadap tingkah laku dan gejala klinis yang cukup jelas
  2. Pengamatan secara mikroskopis untuk melihat morfologi myxosporidia melalui pembuatan preparat ulas dari organ target infeksi. Pengamatan yang lebih jelas terhadap karakteristik spora diperlukan pewarnaan yang spesifik.

Benih ikan mas (Cyprinus carpio) dan ikan trout pelangi(Oncorhynchus mykiss) yang terserang penyakit myxosporidiasis

Morfologi parasit myxosporidia (Myxosoma cerebralis, kiri) dan
insang ikan mas yang dipenuhi kista myxosporidia (kanan)
Pengendalian :
  1. Persiapan kolam (pengeringan dan desinfeksi kolam) untuk memutus siklus hidup parasit.
  2. Ikan yang terinfeksi segera diambil dan dimusnahkan
  3. Hindari penggunaan air dari kolam yang sedang terinfeksi parasit
  4. Pengendapan yang dilengkapi dengan filtrasi fisik (batu, ijuk, kerikil dan pasir)
  5. Belum ada bahan kimia yang efektif untuk mengobati penyakit ini.

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Friday, October 18, 2019

Penyakit Protozoa : Dekil (Fouling Disease)

Penyebab : Zoothamnium spp., Epistylis spp., Vorticella spp., Acineta spp.

Epistylis sp merupakan Protozoa penyebab penyakit epistialiasis atau red sore disease. Protozoa ini bertangkai dan memiliki bulu getar, hidup bebas dan melekat pada tanaman air, sering dijumpai pada ikan-ikan liar bersisik, ikan mas, gurami, lele, ikan budidaya terutama Salmo salar dan Ichtalurus punctatus, dan lain sebagainya. Selain menyerang telur ikan, Epistylis sp juga menyerang pada bagian kulit, sisik, sirip, dan insang dengan gejala klinis serangan antara lain ikan yang sakit menunjukkan adanya borok yang tumbuh di kulit, sisik, atau sirip, terjadi pendarahan, serta memperlihatkan gejala flashing. Bentuk infeksi dan morfologi Epistylis sp disajikan pada Gambar berikut.

Bentuk infeksi dan morfologi Epistylis sp
Bio – Ekologi Patogen :
  1. Umumnya disebabkan oleh mikroorganisme dari kelompok Protozoa, meskipun sering pula berasosiasi dengan algae seperti Nitzschia spp., Amphiprora spp., Navicula spp., Enteromorpha spp., dll.
  2. Kompleks infeksi mikroorganisme tersebut akan mengganggu pergerakan udang terutama larva, kesulitan makan, berenang, serta proses molting karena organ insang dan/atau seluruh tubuh dipenuhi organisme penempel.
  3. Faktor pemicu terjadinya ledakan penyakit antara lain, kepadatan tinggi, malnutrisi, kadar bahan organik yang tinggi, dan fluktuasi parameter kualitas air terutama suhu

Gejala Klinis :
  1. Berenang ke permukaan air dan tubuhnya berwarna buram/kotor
  2. Insang yang terinfeksi berwarna kemerahan atau kecoklatan
  3. Lemah, kesulitan bernafas dan nafsu makan menurun, akhirnya mati
  4. Proses ganti kulit (moulting) terhambat, dan timbul peradangan pada kulit
Diagnosa :
  1. Pengamatan secara visual terhadap tingkah laku dan gejala klinis yang timbul
  2. Pengamatan secara mikroskopis untuk melihat morfologi organisme penempel melalui pembuatan preparat ulas dari organ kulit/mukus, sirip dan/atau insang.
Juvenil udang yang diselimuti algae Enteromorpha spp.

Morfologi orgnisme penempel yang sering dijumpai pada kasusfouling disease (Epistylis spp. dan Vorticella spp.)

Morfologi orgnisme penempel yang sering dijumpai pada kasusfouling disease (Scypidia spp. dan Zoothamnium spp.)
Pengendalian:
  1. Desinfeksi wadah/petak pemeliharaan dan sumber air yang bebas mikroorganisme penempel)
  2. Memperbaiki kualitas air secara keseluruhan, terutama mengurangi kadar bahan organik terlarut dan/atau meningkatkan frekuensi penggantian air baru
  3. Pemberian unsur immunostimulan (misalnya penambahan vitamin C pada pakan) secara rutin selama pemeliharaan
  4. Merangsang proses ganti kulit melalui memanipulasi parameter kualitas air yang yang merupakan faktor determinan
  5. Udang yang terserang “fouling disease” dengan tingkat prevalensi dan intensitas yang rendah, pengobatan dapat dilakukan dengan beberapa jenis desinfektan, antara lain: a) Perendaman dalam larutan formalin pada dosis 25-50 ppm selama 24 jam atau lebih

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Monday, October 14, 2019

Penyakit Protozoa : Dinoflagellata

Penyakit yang disebabkan oleh Golongan Dinoflagellata memiliki ciri-ciri penyakit beludru (velvet). Penyakit ini juga dikenal dengan nama penyakit ikan koral (coral fish disease) atau oodiniasis. Secara morfologi, Dinoflagellata memiliki ukuran diameter tubuh 100 µm, terdapat flagella, dan penempelan pada sel inang dilakukan dengan pseudopodia. Salah satu spesies yang patogen adalah Oodinum sp dimana Protozoa Oodinium sp yang sering menyerang ikan berasal dari spesies O. pillularis dan O. ocellatum yang dimasukkan ke dalam Filum Saccomastigophora.

Serangan parasit Oodinium sp tertuju pada berbagai jenis ikan air tawar dengan menunjukkan gejala klinis antara lain ikan yang sakit bergerak cepat dan liar, kadang-kadang gerakan ikan menjadi lemah, kulit dan insang tertutup mucus kuning tua, pengamatan histologis menunjukkan kehadiran organisme berbentuk oval, sering megap-megap di permukaan perairan, terjadi kerusakan pada kulit dan insang, adanya pendarahan, inflamasi, dan necrosis di bagian insang, serta dapat juga mengakibatkan kematian massal. Bentuk infeksi dan morfologi Oodinium sp disajikan pada Gambar berikut.

Bentuk infeksi dan morfologi Oodinium sp
Penyebab : Piscinoodinium sp. (Synonim: Oodinium sp.)

Bio – Ekologi phatogen :
  1. Merupakan ekto-parasit berbentuk bulat
  2. Fase parasitik berbentuk seperti buah pir, diselaputi membran dan apendik menyerupai rizoid sebagai alat penempel pada ikan. Lamanya fase ini tergantung pada suhu air, pada suhu 25 oC selama ± 6 hari akan mencapai dewasa.
  3. Infeksi yang berat dapat mematikan hingga 100% dalam tempo beberapa hari.
  4. Organ yang menjadi target infeksi meliputi kulit, sirip dan insang.
  5. Setelah dewasa, parasit melepaskan diri dari inang, berubah menjadi tomont dan membelah diri menjadi gymnospore. Gymnospore adalah stadia infektif yang berenang seperti spiral untuk mencari inang, apabila dalam tempo 15–24 jam tidak menemukan inang, stadia tersebut akan mati.

Gejala Klinis :
  1. Ikan terlihat gelisah, tutup insang mengembang, sirip-sirip terlipat, dan cepat kurus. Populasi parasit di kulit mengakibatkan warna keemasan, berkarat atau putih kecoklatan (dekil) sehingga sering disebut “velvet disease”.
  2. Ikan sering melakukan gerakan mendadak, cepat dan tak seimbang “flashing” dan akan terlihat jelas pada saat pagi atau sore hari.
  3. Menggosok-gosokkan tubuhnya di benda keras yang ada di sekitarnya, dan warna tubuh pucat.

Diagnosa :
  1. Pengamatan secara visual terhadap adanya parasit pada kulit, sirip dan insang ikan
  2. Pengamatan secara mikroskopis untuk melihat morfologi parasit melalui pembuatan preparat ulas dari organ kulit/mukus, sirip dan/atau insang.

Ikan yang terserang penyakit oodiniasis, seluruh permukaan
tubuhnya diselaputi parasit
Insang ikan yang dipenuhi oleh infeksi parasit Oodinium ocellatum
Pengendalian :
  1. Mempertahankan suhu agar selalu > 29o C
  2. Pemindahan populasi ikan yang terinfeksi parasit ke air yang bebas parasit sebanyak 2-3 kali dengan interval 2-3 hari.
  3. Pengobatan dan/atau pemberantasan parasit, antara lain dapat dilakukan melalui perendaman dengan: a) Air garam (1-10 promil, tergantung spesies dan ukuran ikan) selama beberapa jam, dipindahkan ke air yang bebas parasit dan diulang setiap 2-3 hari.; b) Larutan hydrogen peroxide (H2O2) pada dosis 150 ppm selama 30 menit, dipindahkan ke air yang bebas parasit dan diulang setiap 2 hari.; c) Larutan kupri sulfat (CuSO4) pada dosis 0,5-1,0 ppm selama 5-7 hari dengan aerasi yang kuat, dan air harus diganti setiap hari.; d) Larutan formalin 25-50 ppm selama 12-24 jam, dilakukan pengulangan setiap 2 hari. Methylene blue pada dosis 2 - 6 ppm selama 3 – 5 hari.; e) Larutan Acriflavin pada dosis 0,6 ppm selama 24 jam, dan diulang setiap dua hari sekali.


Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Friday, October 11, 2019

Penyakit Protozoa : Trichodina sp

Trichodina sp merupakan jenis Protozoa penyebab penyakit trichodiniasis (penyakit gatal). Trichodina sp memiliki berbentuk bundar seperti cawan atau topi yang berukuran 50-100 µm. Secara mikroskopis, Trichodina sp terlihat seperti lingkaran transparan dengan sejumlah silia. Trichodina sp dan Cyclochaeta sp merupakan spesies yang sama, sebab bentuknya tidak berbeda. Namun, ada juga
peneliti yang memisahkannya menjadi dua genus dari Keluarga Urceolaridae. Biasanya Trichodina sp menyerang pada bagian kulit, sirip, kepala, dan insang sehingga menyebabkan iritasi. Gejala-gejala klinis ikan yang terserang Trichodina sp antara lain terdapat bintik-bintik putih terutama di bagian kepala dan punggung, nafsu makan hilang dan ikan menjadi sangat lemah, produksi mucus bertambah sehingga tubuh ikan tampak mengkilap, sering dijumpai terjadinya pendarahan dan warna tubuh kusam, memperlihatkan gejala flashing yang memantulkan cahaya, serta sering menggosok-gosokkan tubuh ke pinggiran dan dasar wadah, atau benda keras di sekelilingnya. Bentuk infeksi dan morfologi Trichodina sp disajikan pada Gambar berikut.

Bentuk infeksi dan morfologi Trichodina sp
Penyebab : Trichodina spp., Trichodinella spp., dan Tripartiella spp.

Bio-Ekologi Patogen :
  1. Protozoa dari golongan ciliata, berbentuk bundar, simetris dan terdapat di ekosistem air tawar, payau dan laut. Trichodina spp. berukuran 45-78 μm, Trichodinella (24-37 μm) dan Tripartiella (lebih dari 40 μm)
  2. Memiliki cincin dentikel berupa cakram yang berfungsi sebagai alat penempel
  3. Inang parasit adalah semua benih ikan air tawar, payau dan laut. Menginfeksi organ kulit, sirip dan insang ikan yang baru menetas hingga umur 1 bulan
  4. Kelompok parasit ini umumnya lebih bersifat komensalis dari pada parasitik sejati, karena hanya memakan sel-sel kulit ikan yang mati/hancur.
  5. Kematian ikan yang diakibatkannya bisa mencapai 50% dari total populasi, terutama akibat infeksi sekunder oleh bakteri dan/atau cendawan.

Gejala Klinis :
  1. Warna tubuh pucat, nafsu makan menurun, kurus, gelisah dan lamban
  2. Menggosok-gosokkan badan pada benda di sekitarnya (gatal)
  3. Frekwensi pernapasan meningkat dan sering meloncatloncat
  4. Mengakibatkan iritasi dan luka pada kulit ikan karena struktur alat penempel yang keras (chitin),
  5. Iritasi sel epitel kulit, produksi lendir berlebih sehingga berwarna kecoklatan atau kebiruan
  6. •Sirip rusak, menguncup atau rontok
Diagnosa :
  1. Pengamatan secara visual terhadap tingkah laku dan gejala klinis yang timbul
  2. Pengamatan secara mikroskopis untuk melihat morfologi parasit melalui pembuatan preparat ulas dari organ kulit/mukus, sirip dan/atau insang.
Insang benih ikan yang terinfeksi oleh parasit Trichodinella spp.

Morfologi Trichodina spp. yang diwarnai dengan pewarna trichrome
silvernitrate
Pengendalian :
  1. Mempertahankan kualitas air terutama stabilisasi suhu air ≥ 29oC
  2. Mengurangi kadar bahan organik terlarut dan/atau meningkatkan frekwensi pergantian air
  3. Ikan yang terserang trichodiniasis dengan tingkat prevalensi dan intensitas yang rendah, pengobatan dapat dilakukan dengan perendaman beberapa jenis desinfektan, antara lain: a) Larutan garam dapur (untuk ikan air tawar) pada konsentrasi 500-10.000 ppm (tergantung jenis dan umur ikan) selama 24 jam; b) Air tawar (untuk ikan air laut) selama 60 menit, dilakukan pengulangan setiap hari; c)Larutan Kalium Permanganate (PK) pada dosis 4 ppm selama 12 jam; d) Larutan formalin pada dosis 200 ppm selama 30-60 menit dengan aerasi yang kuat, atau pada dosis 25-50 ppm selama 24 jam atau lebih; e) Larutan Acriflavin pada dosis 10-15 ppm selama 15 menit; f) Glacial acetic acid 0,5 ml/L selama 30 detik setiap 2 hari selama 3 – 4 kali; g) Copper sulphate 0,0001 mg/L selama 24 jam atau lebih, diulang setiap 2 hari sekali; h) Hidrogen peroxide (3%) 17,5 ml/L selama 10 menit, diulang setiap 2 hari

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Monday, October 7, 2019

Penyakit Protozoa : Ichthyobodo necator

Ichthyobodo necator yang dikenal juga dengan nama Costia necatrix merupakan Protozoa penyebab penyakit costiasis. Protozoa ini berbentuk buah pear berukuran 6-12 µm dengan sepasang flagella panjang dan sepasang flagella pendek sehingga dapat bergerak bebas. Parasit I. necator menyerang pada bagian eksternal ikan seperti kulit dan insang. Gejala klinis ikan yang terserang antara lain timbulnya mucus yang berlebihan, nafsu makan hilang dan ikan terlihat sangat lemah, warna tubuh yang terinfeksi menjadi gelap atau keabu-abuan, kulit luar rusak dan terjadi pendarahan, tampak sering menggosok-gosokkan tubuh ke pinggir, dasar, atau benda keras di sekelilingnya, dan menyebabkan kematian massal, terutama pada fase benih ikan. Bentuk infeksi dan morfologi I. necator disajikan pada Gambar berikut.

Bentuk infeksi dan morfologi Ichtyobodo necator
Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Friday, October 4, 2019

Penyakit Protozoa : Akibat Infeksi Cryptocaryon sp

Protozoa ini juga merupakan agen penyebab penyakit white spot pada ikan. Penyakit yang ditimbulkan lebih dikenal dengan nama cryptocaryoniosis. Adapun ciri-ciri parasit Cryptocaryon sp antara lain menyerupai buah pear yang dilengkapi dengan silia pada permukaan tubuhnya, berukuran 40-400 µm, serta bergerak aktif di bawah kulit dan epitel insang. Parasit dewasa akan meninggalkan inang dan berenang bebas selama beberapa jam dan berubah menjadi kista yang berdiam di dasar bak untuk tumbuh dan berkembang lebih lanjut. Fase belum dewasa disebut trophon berbentuk buah pear, sedangkan dewasa berbentuk bulat dan kemudian membentuk kista yang disebut toman dimana setelah 6-8 hari akan berkembang menjadi parasit muda yang mampu hidup tanpa inang dalam waktu
tidak lebih dari 24 jam.

Cryptocaryon sp menyerang pada ikan hias dan tidak jarang juga menyerang ikan konsumsi seperti kakap putih, kakap merah, dan kerapu. Parasit ini biasanya menyerang bagian insang dan kulit. Gejala klinis yang ditimbulkan adalah nafsu makan berkurang dan ikan menjadi lesu, mata suram dan sisik ikan lepas, terdapat bintik-bintik putih pada insang dan permukaan tubuh, serta terjadi peningkatan produksi mucus atau lendir. Penyakit ini dapat mudah menular dan menyebabkan kematian massal dalam waktu yang relatif singkat. Bentuk infeksi dan morfologi Cryptocaryon sp disajikan pada Gambar berikut.

Bentuk infeksi dan morfologi Crytocaryon sp
Penyebab : Cryptocaryon irritans

Bio – Ekologi phatogen :
  1. Berbentuk bulat atau oval berukuran antara 0.3-0.5 mm, dan memunyai silia.
  2. Bersifat obligat parasitik (memiliki karakter biologi yang hampir sama dengan parasit “Ich”)
  3. Sangat ganas, pada infeksi berat dapat mematikan hingga 100% dalam tempo beberapa hari
  4. Menginfeksi jenis ikan budidaya air laut (kerapu, kakap, baronang, dll.) terutama ukuran benih, meskipun ukuran dewasa juga rentan apabila kekebalan tubuhnya merosot

Gejala Klinis :
  1. Nafsu makan menurun, kurus, warna tubuh gelap, gelisah, lesu dan lemas
  2. Menggosok-gosokkan badan pada benda di sekitarnya
  3. Frekwensi pernapasan meningkat (megap-megap), mendekat ke air masuk
  4. Bintik-bintik putih atau kecoklatan di sirip, kulit atau insang, produksi mukus berlebih, dan sirip menguncup
  5. Pada infeksi berat, bintik-bintik putih atau nampak seperti salju yang disertai pendarahan, dan mata buram hingga menyebabkan kebutaan
  6. Infeksi sekunder oleh bakteri akan memperparah kondisi kesehatan hingga mempercepat proses kematian.

Diagnosa :
  1. Pengamatan secara visual terhadap adanya bintik putih (parasit) pada kulit, sirip dan insang ikan
  2. Pengamatan secara mikroskopis untuk melihat morfologi parasit melalui pembuatan preparat ulas dari organ kulit/mukus, sirip dan/atau insang.

Ikan kerapu yang terinfeksi parasit Cryptocaryon irritans, bintik-bintik
putih tampak di seluruh permukaan tubuh ikan

Insang ikan yang dipenuhi oleh infestasi parasitCryptocaryon irritans
Pengendalian :
  1. Mempertahankan suhu agar selalu > 29o C
  2. Pemindahan populasi ikan yang terinfeksi parasit ke air yang bebas parasit sebanyak 2-3 kali dengan interval 2-3 hari.
  3. Pengobatan dan/atau pemberantasan parasit dapat dilakukan melalui perendaman dengan menggunakan: a) Air bersalinitas rendah (0-8 promil) selama beberapa jam (tergantung spesies dan ukuran), dipindahkan ke air yang bebas parasit dan diulang setiap 2-3 hari; b) Larutan hydrogen peroxide (H2O2) pada dosis 150 ppm selama 30 menit, dipindahkan ke air yang bebas parasit dan diulang setiap 2 hari; c) Larutan kupri sulfat (CuSO4) pada dosis 0,5 ppmselama 5-7 hari dengan aerasi yang kuat, dan air harus diganti setiap hari; d) Larutan formalin 25-50 ppm selama 12-24 jam, dilakukan pengulangan setiap 2 hari

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...