Lalaukan

Informasi dunia kelautan dan perikanan serta kegiatan penyuluhan perikanan

Monday, April 27, 2020

Mengenal Istilah Dalam Ilmu Makanan Ikan/ Ternak

Beberapa istilah yang sering dijumpai dalam pengetahuan bahan makanan ternak diantaranya :
Bahan Baku Pakan Ikan / Ternak

  1. Ampas : Residu limbah industri pangan yang telah diambil sarinya melalui proses pengolahan secara basah (ampas kelapa, ampas kecap, ampas tahu, ampas bir, ampas ubi kayu/onggok).
  2. Abu / ash / mineral : Sisa pembakaran pakan dalam tungku/tanur 500 – 600 derajat C sehingga semua bahan organik terbakar habis.
  3. Analisis proksimat (Proximate analysis ) : Analisa kimiawi pada pakan/bahan yang berlandaskan cara Weende yang akan menghasilkan air, abu, protein kasar, lemak dan serat kasar dalam satuan persen.
  4. Analisis Van Soest : Metoda analisa berdasarkan kelarutannya dalam larutan detergen asam dan detergen netral..
  5. BETN (Bahan Ekstrak Tanpa N) / NFE (Nitrogen Free Extract) : Karbohidrat bukan serat kasar. Dihitung sebagai selisih kandungan kerbohidrat dengan serat kasar. Merupakan tolak ukur secara kasar kandungan karbohidrat pada suatu pakan/ransum.
  6. Bahan kering (Dry Matter) : Pakan bebas air. Dihitung dengan cara 100 – kadar air, di mana kadar air diukur merupakan persen bobot yang hilang setelah pemanasan pada suhu 105 0C sampai beratnya tetap.
  7. Bahan makanan ternak / pakan (Feeds, Feedstuff) : Semua bahan yang dapat dimakan ternak.
  8. Bahan organik (Organik matter) : Selisih bahan kering dan abu yang secara kasar merupakan kandungan karbohidrat, lemak dan protein.
  9. Bahan organik tanpa nitrogen (BOTN) / Non nitrogenous organik matter : Selisih bahan organik dengan protein kasar yang merupakan gambaran kasar kandungan karbohidrat dan lemak suatu bahan/pakan.
  10. Dedak (Bran) : Limbah industri penggilingan bijian yang terdiri dari kulit luar dan sebagian endosperm seperti dedak padi, dedak gandum (pollard), serta dedak jagung.
  11. Energi bruto / Gross energy (GE) : Jumlah kalori (panas) hasil pembakaran pakan dalam bom kalorimeter.
  12. Fodder : Hijauan dari kelompok rumput bertekstur kasar seperti jagung dan sorghum beserta bijinya yang dikeringkan untuk pakan.
  13. Hijauan makanan ternak (Forage) : Pakan yang berasal dari bagian vegetatif tumbuhan/tanaman dengan kadar serat kasar > 18 % dan mengandung energi tinggi.
  14. Hijauan kering (Hay) : Hijauan makan ternak (HMT) yang dikeringkan dengan kadar air biasanya < 10 %.
  15. Jerami (Straw) : Hijauan limbah pertanian setelah biji dipanen dengan kadar serat kasar umumnya tinggi, bisa berasal dari gramineae maupun leguminoceae.
  16. Karbohidrat : Senyawa C, H dan O bukan lemak. Merupakan selisih BOTN dan lemak.
  17. Bungkil : Bahan limbah industri minyak seperti bungkil kelapa, bungkil kacang tanah, bungkil kedele, dll.
  18. Lemak kasar (Ether extract) : Semua senyawa pakan/ransum yang dapat larut dalam pelarut organik.
  19. Lignin : Bagian serat detergen asam yang tidak larut dalam H2SO4 72 % dan terbakar habis pada tanur 500– 600 0C pada metoda analisis Van Soest.
  20. Pakan imbuhan / Feed additive : Zat yang ditambahkan dalam ransum untuk memperbaiki daya guna ransum yang bersifat bukan zat makanan.
  21. Protein kasar (PK) / Crude protein : Kandungan nitrogen pakan/ransum dikalikan faktor protein rata-rata (6,25) karena rata-rata nitrogen dalam protein adalah 16 %, sehingga faktor perkalian protein 100/16 = 6,25. Terdiri dari asam-asam amino yang saling berikatan (ikatan peptida), amida, amina dan semua bahan organik yang mengandung Nitrogen.
  22. Ransum (Ration, Diet) : Sejumlah pakan/campuran pakan yang dijatahkan untuk ternak dalam sehari.
  23. Ransum konsentrat : Campuran pakan yang mengandung serat kasar < 18 % dan tinggi protein.
  24. Selulosa : Rangkaian molekul glukosa dengan ikatan kimia b - 1,4 glukosida dan terdapat dalam tanaman.
  25. Serat detergen asam (SDA, ADF) : Bagian dinding sel tanaman yang tidak larut dalam detergen asam pada metoda analisis Van Soest.
  26. Serat kasar (SK) / Crude fiber (CF) : Bagian karbohidrat yang tidak larut setelah pemasakan berturut-turut, masing-masing 30 menit pada H2SO4 1,25 % (0,255 N) dan NaOH 1,25 % (0,312 N).
  27. Setara protein telur (Chemical score) : Kadar asam amino esensial pembatas protein suatu bahan dibandingkan dengan asam amino protein telur sebagai standar.
  28. Silase / Silage : Hasil pengawetan hijauan dalam bentuk segar dengan cara menurunkan pH selama penyimpanan.
  29. Silika (SiO2) / Insoluble ash : Bagian serat detergen asam yang tidak larut dalam H2SO4 72 % dan tersisa sebagai abu pada pembakaran 500 – 600 0C pada metoda analisis Van Soest.
  30. Zat makanan (Nutrient) : Zat organik dan inorganik dalam pakan yang dibutuhkan ternak untuk mempertahankan hidup, memelihara keutuhan tubuhnya dan mencapai prestasi produksinya.
  31. Pakan tambahan (Feed supplement) : Pakan/campuran pakan yang sangat tinggi kandungan salah satu zat makanannya, seperti protein suplemen, mineral suplemen, vitamin suplemen, dll.
  32. Total digestible nutrient (TDN) : Total energi zat makanan pada ternak yang disetarakan dengan energi dari karbohidrat. Dapat diperoleh secara uji biologis ataupun perhitungan menggunakan data hasil analisis proksimat.
  33. Asam amino esensial (EAA) : Asam amino yang kerangka karbonnya tidak cukup/tidak dapat dibuat oleh tubuh sehingga harus cukup tersedia dalam protein makanan/ransum sehari-hari.
  34. Asam amino pembatas (Limiting amino acid) : Asam amino esensial yang paling kurang dalam protein suatu pakan dibandingkan dengan asam amino tersebut dalam protein telur. Erat kaitannya dengan kualitas protein.
  35. Probiotik : Kultur mikroorganisme yang dapat merangsang/meningkatkan pertumbuhan dari mikroorganisme saluran pencernaan yang diinginkan.
Sumber : Pengetahuan Bahan Makanan Ternak. Tim Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan IPB

Semoga Bermanfaat...

Friday, April 24, 2020

Sumber Bahan Makanan Untuk Ikan / Ternak

Pakan merupakan faktor tumbuh terpenting karena merupakan sumber energi yang menjaga pertumbuhan, serta perkembangbiakan. Nutrisi yang terkandung dalam pakan harus benar-benar terkontrol dan memenuhi kebutuhan ikan tersebut. Kualitas dari pakan ditentukan oleh kandungan yang lengkap mencakup protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Pakan merupakan sumber energi dan materi bagi kehidupan ikan.
Bahan Baku Dalam Pembuatan Pakan Ikan

Ketersediaan pakan berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan. Jumlah pakan yang dibutuhkan oleh ikan setiap harinya berhubungan erat dengan ukuran berat dan umurnya. Tetapi persentase jumlah pakan yang dibutuhkan semakin berkurang dengan bertambahnya ukuran dan umur ikan.

Pakan ikan adalah campuran dari berbagai bahan pangan (biasa disebut bahan mentah), baik nabati maupun hewani yang diolah sedemikian rupa sehingga mudah dimakan dan dicerna sekaligus merupakan sumber nutrisi bagi ikan yang dapat menghasilkan energi untuk aktivitas hidup. Kelebihan energi yang dihasilkan akan disimpan dalam bentuk daging yang dipergunakan untuk pertumbuhan (Djarijah.

Pakan ikan terdiri dari dua macam yaitu pakan alami dan pakan buatan. Pakan ikan alami merupakan makanan ikan yang tumbuh di alam tanpa campur tangan manusia secara langsung. Pakan ikan alami biasanya digunakan dalam bentuk hidup dan agak sulit untuk mengembangkannya. Pakan ikan buatan merupakan makanan ikan yang dibuat dari campuran bahan-bahan alami dan atau bahan olahan yang selanjutnya dilakukan proses pengolahan serta dibuat dalam bentuk tertentu sehingga tercipta daya tarik (merangsang) ikan untuk memakannya dengan mudah dan lahap. Pakan buatan dapat diartikan secara umum sebagai pakan yang berasal dari olahan beberapa bahan baku pakan yang memenuhi nutrisi yang diperlukan oleh ikan.

PEMBAGIAN JENIS BAHAN BAKU PAKAN IKAN
1. Berdasarkan Kandungan Serat Kasar Bahan Baku
Berdasarkan kandungan serat kasarnya bahan makanan ternak/ikan dapat dibagi kedalam dua golongan yaitu :
  • Bahan penguat (konsentrat). Konsentrat dapat berasal dari bahan pangan atau dari tanaman seperti serealia (misalnya jagung, padi atau gandum), kacang-kacangan (misalnya kacang hijau atau kedelai), umbi-umbian (misalnya ubi kayu atau ubi jalar), dan buah-buahan (misalnya kelapa atau kelapa sawit). Konsentrat juga dapat berasal dari hewan seperti tepung daging dan tepung ikan. Disamping itu juga dapat berasal dari industri kimia seperti protein sel tunggal, limbah atau hasil ikutan dari produksi bahan pangan seperti dedak padi dan pollard, hasil ikutan proses ekstraksi seperti bungkil kelapa dan bungkil kedelai, limbah pemotongan hewan seperti tepung darah dan tepung bulu, dan limbah proses fermentasi seperti ampas bir.
  • Hijauan. Hijauan dapat berupa rumput-rumputan dan leguminosa segar atau kering serta silase yang dapat berupa jerami yang berasal dari limbah pangan (jerami padi, jerami kedelai, pucuk tebu) atau yang berasal dari pohon-pohonan (daun gamal dan daun lamtoro).
2. Berdasarkan Kandungan Gizi Bahan Baku
Klasifikasi berdasarkan kandungan gizinya bahan makanan ternak dapat dibagi atas :
  • Sumber energi (misalnya dedak ubi kayu),
  • Sumber protein yang berasal dari tanaman (misalnya bungkil kedelai dan bungkil kelapa) dan sumber protein hewani (tepung darah, tepung bulu dan tepung ikan). 
  • Sumber mineral (misalnya tepung tulang, kapur dan garam), serta sumber vitamin (misalnya ragi dan minyak ikan).
  • Feed Aditif. Beberapa bahan seperti antibiotika, preparat hormon, preparat enzim, dan buffer dapat digunakan untuk meningkatkan daya guna ransum. Bahan-bahan tersebut digolongkan dalam pakan imbuhan (feed aditif).
3. Berdasarkan Penggunaan Bahan Baku
Pengelompokan yang lain adalah berdasarkan penggunaannnya. Pakan berdasarkan penggunaannya dibagi atas :
  • Bahan makanan konvensional (seperti bungkil kedelai dan dedak)
  • Nonkonvensional (seperti ampas nenas dan isi rumen).

Komposisi kimia bahan makanan ternak sangat beragam karena tergantung pada varieteas, kondisi tanah, pupuk, iklim, cara pengolahan, lama penyimpanan dan lain-lain. Berdasarkan penelitian, beberapa padi yang berasal dari beberapa pola tanam yang berbeda digiling disuatu penggilingan yang sama maka keragaman dedak padi dari beberapa pola tanam berbeda tersebut tidak banyak berbeda komposisinya. Sedangkan bila padi dari beberapa pola tanam yang sama digiling dibeberapa penggilingan, maka komposisi dedak padi tersebut akan beragam. Dari hal ini cara pengolahan lebih menyebabkan keragaman komposisi dedak padi dibandingkan dengan pola tanam.

Umumnya bahan makanan ternak yang berasal dari limbah pertanian/industri tidak dapat digunakan sebagai bahan satu-satunya (pakan tunggal) dalam ransum baik untuk hewan ruminansia maupun non ruminansia, oleh karena kandungan zat-zat makanannya tidak dapat memenuhi standar kebutuhan ternak. Disamping itu, bahan-bahan makanan tersebut sering mempunyai kendala-kendala baik berupa racun maupun antinutrisi sehingga penggunaannya pada ternak perlu dibatasi.

Sumber : Pengetahuan Bahan Makanan Ternak. Tim Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan IPB

Semoga Bermanfaat...

Monday, April 20, 2020

Parasit Pisciola Sp "Lintah Ikan"

Piscicola sp merupakan penyebab penyakit piscicolasis. Piscicola sp adalah parasit Annelida dari jenis lintah (Hirudinea). Annelida ini memiliki tubuh terdiri atas segmen-segmen dengan berbagai sistem organ tubuh yang baik dengan sistem peredaran darah tertutup. Annelida sebagian besar memiliki dua kelamin sekaligus dalam satu tubuh atau hermafrodit. Pada umumnya, jenis Piscicola sp ini menyerang ikan air tawar dan juga ikan air laut, serta menyerang benih-benih ikan yang kondisi tubuhnya kurang kuat. Parasit Piscicola sp memiliki dua cakram penghisap pada bagian anterior dan posterior, serta memiliki kemampuan melekat di insang dan kulit ikan dengan tingkat kerusakan tergantung banyak sedikitnya parasit yang menyerang dan lama pelekatannya pada inang.

Lintah Piciola sp
EPIZOOTIOLOGI
Lintah air tawar paling banyak ditemukan di perairan dangkal di danau dan  sungai dimana tanaman, batu, dan berbagai material lainnya cocok untuk melekat. Lintah berkumpul di area yang terdapat banyak makanan seperti di inlet dan outlet juga di tepian dimana terdapat banyak organisme lainnya. Lintah umunya ditemukan pada perairan umum atau kolam tanah.

SIKLUS HIDUP
Cukup sederhana hanya telur, juvenil, dan dewasa hermafrodit yang menghasilkan telur. Setelah mencerna darah, lintah melekat pada ikan lain untuk melanjutkan siklus selanjutnya yakni memproduksi telur. Telur yang diselubungi “coccon” oval melekat di substrat di dasar sungai atau danau. Lintah juvenil menetas dari telur dan masuk ke kolom air untuk mencari hospes.Lintah juvenil biasanya membutuhkan sejumlah darah untuk menjadi dewasa. Lintah dari genus Piscicola  ini dapat menjadi vector IHNV. Tak hanya IHNV, lintah juga menjadi vektor berbagai parasit ikan.
Siklus hidup lintah air tawar
GEJALA KLINIS
Lintah biasanya tidak menyebabkan kerusakan yang serius pada hospesnya. Kelukaan biasanya terlokalisir di tempat melekat saja. Namun bila lintah ada dalam jumlah banyak dapat menyebabkan kerusakan jaringan yang meluas hingga menyebabkan erosi epidermis, ulcerasi, hemoragi, nekrosis, dan anemia. Lokasi yang mengalami luka ini dapat menjadi portal bagi masuknya bakteri dan fungi. Pada ikan dewasa, lintah baru akan menimbulkan gejala klinis anemia apabila menyerang dalam jumlah banyak. Lintah jenis Piscicola melekat di tubuh ikan hanya untuk beberapa hari saja kemudian melepaskan diri dan tenggelam ke dasar untuk mencerna makanan. Lintah ini dapat terlihat dengan kasat mata di tubuh, operculum, mulut, rahang, dan di pangkal insang.

PERUBAHAN PATOLOGI
Lintah yang melekat di area mulut dan tepian dapat menimbulkan perubahan patologi. Ikan yang terinfestasi akan mengalami anemia dan terdapat ulcerasi di kulit. Perubahan patologi ini hanya terbatas pada jaringan yang tergigit dan bersifat ringan (kecuali infestasi mencapai lebih dari 100). Kerusakan yang lebih parah adalah apabila lintah menginfeksi bagian dalam kulit (palatum/ langit-langit mulut dan sudut rahang). Lokasi yang paling disukai oleh lintah adalah anterior langit-langit mulut dan area lipatan persendian seperti antara rahang atas dan bawah. Pada kulit kerusakan berupa gigitan, hemoragi, erosi dari membrana mukosa. Pada hiperinfeksi lintah dapat menginduksi hiperplasia epitel dengan respon keradangan dan hemoragi pada dermis. Pada Myzobdella urguayensis yang menginfestasi Hoplias alabaricus dan Rhamdia quelen di tempat melekatnya lintah teramati hemoragi dengan pembentukan klot dan deposit fibrin. Filamen insang mengalami peradangan dengan oedema dan infiltrasi leukosit mononuklear.

METODE DIAGNOSA
Diagnosa dapat dilakukan dengan mengamati parasit di bawah mikroskop. Secara makroskopis linta h mudah diamati. Pengamatan mikroskopis ditujukan untuk pengamatan morfologi dan karakteristik termasuk warna dan pola pigmentasi, jumlah eye spot, sucker dan bentukan lainnya untuk menentukan genus. Infestasi lintah juga dapat diamati secara histopatologi. Lintah dapat dibedakan dengan monogenea dengan melihat segmen pada tubuh dan ukurannya yang lebih besar.

DIAGNOSA DIFERENSIAL
Lintah sulit dibedakan antar spesiesnya. Dibutuhkan pengalaman untuk itu. Lintah mirip dengan trematoda digenea namun memiliki saluran pencernaan yang lengkap dan terdapat mulut di sucker anterior dan anus di sucker posterior.

PROGNOSIS
Parasit ini dalam jumlah sedikit tidak menimbulkan permasalahan. Namun jika dalam jumlah banyak, peradangan akan makin banyak terjadi dan prognosis menjadi moderat.

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN
Lintah dalam jumlah sedikit dapat ditangani dengan mengambil secara manual. Namun dalam jumlah banyak harus dilakukan pengeringan untuk memusnahkan stadium telur dan dewasa. Parasit ini peka terhadap pengeringan dan pembekuan. Coccon dapat dimusnahkan melalui pengeringan. Sedangkan lintah dewasa sensitif terhadap klorin. Bahan ini dapat digunakan untuk mengatasi lintah. Lintah juga dapat diatasi dengan menggunakan organofosfat. Organofosfat yang bisa digunakan antara lain dipterex (0,25-0,8ppm), malathion. Dosis lebih tinggi direkomendasikan pada aplikasi di cuaca terik. Namun bahan ini sangat berbahaya dan dibatasi penggunaannya.  Bahan lain yang dapat digunakan untuk menghilangkan lintah dari ikan antara lain :

Berbagai bahan yang dapat digunakan untuk penanganan lintah air tawar pada ikan

Setelah penggunaan obat untuk penanganan, sebaiknya ikan dipindahkan ke wadah lain yang bersih dari lintah. Media dan wadah budidaya yang menjadi tempat hidup lintah harus dikosongkan dan disetrilkan sebelum dapat digunakan kembali.  Hindarkan menambah ikan baru dari luar. Jebakan untuk lintah dapat dilakukan untuk penanganan secara sederhana. Cara ini tidak membutuhkan bahan kimia. Tehniknya adalah dengan meletakkan sepotong daging atau hati di sebuah plastik yang telah dilubangi. Kemudian plastik berisi daging atau hati diberi pemberat agar tenggelam dan tali untuk mengangkat. Letakkan di beberapa sisi di kolam. Lintah akan tertarik pada “jebakan” tersebut dan dapat dibuang secara rutin.. Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan membuang semua tanaman, batu, batang tanaman, dan segala sesuatu yang dapat menjadi tempat melekatnya coccon dengan telur.

Sumber : http://www.catatandokterikan.com/2017/09/lintah-pada-ikan-air-tawar.html?m=1

Semoga Bermanfaat...

Thursday, April 16, 2020

Jenis Es Untuk Penanganan Ikan

Es adalah air yang dibekukan menjadi bentuk padat. Bergantung pada adanya kotoran seperti partikel tanah atau gelembung udara, dapat terlihat transparan atau warna kebiru-biruan yang kurang lebih buram. Pembekuan ini umumnya terjadi bila air didinginkan di bawah 0 °C (273.15 K, 32 °F) pada tekanan atmosfer standar. Es dapat terbentuk pada suhu yang lebih tinggi dengan tekanan yang lebih tinggi juga, dan air akan tetap sebagai cairan atau gas sampai -30 °C pada tekanan yang lebih rendah (Wikipedia).

Proses pendinginan ikan dalam penanganan hasil perikanan dengan es terjadi bila es bersinggungan langsung dengan ikan dimana panas yang ada dalam ikan di serap oleh es. Proses pemindahan panas akan terhenti bila ikan telah mencapai suhu es yaitu 0°C, atau jika es telah habis dan air lelehan es itu telah sama suhunya dengan ikan dan jika es yang diberikan untuk mendinginkan cukup banyak, maka sisa es yang belum meleleh dapat membantu memelihara suhu campuran es dan ikan pada 0°C.

Dimana dalam hal ini fungsi es adalah untuk :
  1. Menurunkan suhu ikan sampai mendekati 0 derajat C
  2. Mempertahankan suhu ikan tetap dingin
  3. Mempertahankan keadaan berudara aerobik pada ikan, selama pengesan.
  4. Menghambat perkembang biakan bakteri pembusuk yang ada pada ikan.
  5. Es memiliki daya pendingin yang sangat besar, tiap 1 kg es yang meleleh pada 0°C dapat menyerap panas sebanyak 80 kkal untuk meleleh menjadi air 0°C dan es memiliki titik cair pada 0°C. Dalam perhitungan jumlah esyang diperlukan,terdapat dua tahapan yang harus diperhatikan yaitu tahap penurunan suhu mencapai suhu yang diinginkan dan tahap pemeliharaan suhu sampai pada pendistribusian.
Jenis Es Yang Biasa Digunakan Untuk Mempertahankan Kesegaran Ikan
  1. Es Balok yaitu es yang berasal dari air yang memenuhi persyaratan mutu air minum yang dibekukan dalam bentuk balok.
    Es balok
  2. Es curai yaitu es yang berasal dari air yang memenuhi persyaratan mutu air minum yang dibekukan dalam bentuk keping (flake ice), tabung (tube ice), kubus (cube ice) dan pelat (plate ice).
    Flake ice

Tube ice
Cube ice
Plate ice
Syarat Bahan Baku
Bahan baku es untuk penanganan ikan memenuhi syarat mutu air minum, sesuai SNI 01-4872.2-2006, Es untuk penanganan ikan − Bagian 2: Persyaratan bahan baku.

Sumber Bahan Baku
Bahan baku yang digunakan adalah air yang berasal dari Perusahaan Air Minum, air tanah,perairan umum dan air laut yang tidak tercemar dan telah mengalami perlakuan sehingga memenuhi persyaratan mutu air minum.

Mutu Bahan Baku
Mutu bahan baku sesuai SNI 01-0220-1987, Air minum.

Penyimpanan Bahan Baku
Air disimpan dalam wadah/bak penampung air yang saniter dan higienis.

Pengolahan dan Penanganan
Cara pengolahan dan penanganan es untuk penanganan ikan yang dimaksud dalam standar ini sesuai SNI 01-4872.3-2006, Es untuk penanganan ikan − Bagian 3: Penanganan dan Pengolahan.

Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam penanganan dan pengolahan es untuk pengolahan dan penanganan ikan adalah sebagai berikut.
  1. Bak penampungan air;
  2. Pompa air;
  3. Penyaring air;
  4. Termometer;
  5. Pan pencetakan / pembeku;
  6. Alat pembekuan;
  7. Bak pembekuan;
  8. Alat pembuat es curai;

Persyaratan Peralatan
Semua peralatan dan perlengkapan yang digunakan dalam pengolahan dan penanganan es untuk penanganan ikan mempunyai permukaan yang halus dan rata, tidak mengelupas, tidak berkarat, tidak merupakan sumber cemaran jasad renik, tidak retak, tidak menyerap air, dirancang sesuai dengan persyaratan sanitasi dan mudah dibersihkan. Semua peralatan dalam keadaan bersih sebelum, selama dan sesudah digunakan.


Teknik Pengolahan dan Penanganan
ES BALOK
Penampungan air
  1. Potensi bahaya: kontaminasi bakteri patogen.
  2. Tujuan: menjamin ketersediaan bahan baku air yang memenuhi persyaratan mutu dan bebas bakteri patogen.
  3. Petunjuk: bahan baku air yang layak minum ditampung dalam tangki/bak penampungan tertutup yang saniter.

Pengisian pan pencetakan
  1. Potensi bahaya: volume tidak sesuai, kontaminasi bakteri patogen, kontaminasi fisik.
  2. Tujuan: mendapatkan volume air sesuai yang ditentukan serta bebas dari bakteri patogen dan kontaminasi fisik.
  3. Petunjuk: air dari tangki penampungan dialirkan ke tangki pengisian dan diteruskan ke pan pencetakan/pembeku. Pengisian air ke dalam pan pencetakan sesuai volume yang ditentukan.

Pembekuan
  1. Potensi bahaya: pembekuan yang tidak sempurna.
  2. Tujuan: mendapatkan es yang bening.
  3. Petunjuk: pan pencetakan yang sudah berisi air disusun dalam bak pembekuan yang berisi air garam yang telah diatur hingga suhu maksimal –13°C. Selanjutnya bak pembekuan ditutup dan ditiupkan udara dingin dengan menggunakan blower untuk meratakan sirkulasi udara dingin/pendinginan. Blower dihentikan sebelum bagian tengah air membeku seluruhnya. Pembekuan terus dilakukan hingga mencapai suhu pusat es maksimal –3°C.


Pelepasan dari pan pencetakan
  1. Potensi bahaya: kerusakan fisik.
  2. Tujuan: melepaskan es yang sudah beku dari pan pencetakan dan melindungi es dari kerusakan fisik.
  3. Petunjuk: es yang sudah matang dilepaskan dari pan pencetakan dengan cara mencelupkan cetakan ke dalam air yang memenuhi persyaratan air minum dengan suhu 5°C-10°C.

Pengangkutan
  1. Potensi bahaya : kerusakan fisik.
  2. Tujuan: melindungi es agar bebas dari kerusakan fisik.
  3. Petunjuk: es diangkut dengan menggunakan wadah bersih dan dapat melindungi kerusakan fisik.


ES CURAI
Penampungan air
  1. Potensi bahaya: kontaminasi bakteri patogen.
  2. Tujuan: menjamin ketersediaan bahan baku air yang memenuhi persyaratan mutu dan bebas bakteri patogen.
  3. Petunjuk: bahan baku air yang layak minum ditampung dalam tangki/bak penampungan tertutup yang saniter.

Pengaliran/penyemprotan air
  1. Potensi bahaya: pembekuan tidak sempurna.
  2. Tujuan: mendapatkan es bening dengan ukuran yang sama.
  3. Petunjuk: mengalirkan/menyemprotkan air secara kontinyu pada permukaan alat pembuat es curai sesuai dengan spesifikasi alat.

Pencetakan dan pembekuan
  1. Potensi bahaya: pembekuan tidak sempurna.
  2. Tujuan: mendapatkan es curai .
  3. Petunjuk: Air dialirkan pada permukaan alat pembeku, sehingga terbentuklah es curai yang jenisnya tergantung pada alat pembuat es yang digunakan.

Teknik Sanitasi dan Higiene
Es untuk penanganan ikan ditangani, disimpan, didistribusikan dan dipasarkan dengan menggunakan wadah, cara dan alat yang sesuai dengan persyaratan sanitasi dan higiene dalam unit pengolahan hasil perikanan.

Sumber : Es Untuk Penanganan Ikan. Gilang Indra Gunawan, S.St.Pi

Semoga Bermanfaat...

Monday, April 6, 2020

Cara Mempertahankan Kesegaran Ikan

Beberapa faktor didalam menentukan mutu teknologis ikan sebagai bahan mentah hubungannya terhadap cara penanganan, pengolahan, permintaan pasar serta penyediaan sarana yang tepat antara lain:
  1. Komposisi kimia terutama kadar lemak,protein
  2. Nilai gizi
  3. Sifat phisik dari tiap jenis ikan
  4. Komposisi berat
  5. Terdapatnya kelainan dan perubahan pada rupa,warna,bau,rasa dan tekstur

Ikan segar
MUTU KESEHATAN 
Untuk mendapatkan produk olahan yang aman dan sehat khususnya bagi konsumsi manusia, maka terhadap bahan mentah ikan perlu diperhatikan hal sebagai berikut:
  1. Perlu diketahui flora bakteria asli dari ikan->perbedaan kwalitatif dan kwantitatif flora bakteria sangat dipengaruhi oleh musim dan keadaan geografis
  2. Adanya penyakit/parasit yang membahayakan kesehatan manusia
  3. Terjadinya kontaminasi oleh bakteri patogen
  4. Terjadinya kontaminasi oleh logam berat seperti Hg dll
  5. Terjadinya kontaminasi oleh pestisida,herbisida dll.
  6. Terdapatnya racun alami yang terdapat dalam jenis ikan tertentu misal: ikan buntel, barracouta dll

MUTU KESEGARAN 
  1. Mutu kesegaran sangat penting dan identik dengan nilai uang
  2. Dalam prinsip teknologi pengolahan dikatakan bahwa hanya dari bahan mentah yang bermutu kesegaran tinggi akan dapat dihasilkan produk olahan yang bermutu tinggi pula
  3. Tingkatan mutu kesegaran ikan dapat digolongkan sebagai berikut :
  • Berkondisi seperti ikan hidup yaitu tahap pre-rigor
  • Amat segar yaitu tahap pre-rigor dan rigor mortis
  • Segar yaitu tahap rigor mortis dan post rigor
  • Kurang segar yaitu tahap post rigor hingga dinyatakan busuk

MEMPERPANJANG MUTU KESEGARAN IKAN 
Mutu kesegaran ikan segera setelah ditangkap dapat diperpanjang dengan berbagai usaha penanganan sebagai berikut:
  1. Mengangkat ikan segera kegeladak,membunuh secara cepat,melakukan pendarahan sempurna,mencuci dengan air bersih
  2. Membuang isi perut,insang dan lendir
  3. Menurunkan suhu pusat ikan secepat mungkin terutama pada saat ikan pada tahap pre-rigor atau rigor mortis
  4. Penanganan terhadap bahan mentah ikan pada setiap tempat dan setiap saat harus dilakukan dengan cepat,tepat,cermat dan dalam suasana bersih

KECEPATAN PENURUNAN MUTU KESEGARAN IKAN 
Kecepatan penurunan mutu kesegaran ikan dipengaruhi pula oleh beberapa faktor antara lain:
  1. Faktor biologis
  2. Faktor lingkungan
  3. Faktor penangkapan
  4. Faktor penanganan dilaut yang meliputi: a) sortasi, preparasi, pencucian dll, b) pendinginan, pembekuan, c) tehnik pendinginan yang digunakan, d) cara penyusunan ikan dalam palka, e) tehnik pembekuan hubungannya dengan  type produk, f) kondisi insulasi ruangan palka dan peralatan penanganan
  5. Faktor penanganan didarat
  6. Hubungan antara waktu dan suhu
Hubungan antara suhu dengan pertumbuhan bakteri

Sumber : Cara Mempertahankan Kesegaran Ikan. Gilang Indra Gunawan, S.St.Pi

Semoga Bermanfaat...

Friday, April 3, 2020

Kontaminasi Bakteri Pada Ikan Yang Dapat Menimbulkan Penyakit Pada Manusia

Ikan dan kerang-kerangan dapat terkontaminasi dari lingkungan hidup ikan tersebut atau dari lingkungan pengolahan. Jika ikan tersebut diperoleh dari laut yang telah terkena polusi limbah, ikan tersebut kemungkinan terkontaminasi bakteri patogen.
Bakteri Vibrio parahaemolyticus
Vibrio parahaemolyticus adalah kontaminan yang umum terdapat pada ikan dan makanan laut lainnya terutama dari perairan Asia Timur. Bakteri ini dapat dihilangkan dengan pemanasan, akan tetapi sanitasi yang kuramg baik dapat menyebabkan terjadinya rekontaminasi. Dalam kerang-kerangan telah ditemukan mikroorganisme patogen seperti Salmonella, E. coli, V. parahemolyticus, clostridia dan virus. Bakteri dapat dihilanhkan dengan cara ini kurang efektif untuk virus.

APA ITU BAKTERI ? 
  • Organisme mikrokospik yang dapat menimbulkan penyakit (infeksi) pada manusia 
  • Bakteri dapat hidup pada berbagai media (tanah,air,dan udara)
  • Pada kondisi suhu yang ideal bakteri akan berkembang biak melalui pembelahan sel maupun dengan spora
  • Faktor lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap aktivitas bakteri yang hidup di perairan yaitu : suhu, pH, nutrisi/makanan yang tersedia,oksigen terlarut serta salinitas

JENIS BAKTERI DOMINAN DI PERAIRAN LAUT 
  1. Streptococcus sp
  2. Aeromonas sp
  3. Pseudomonas sp
  4. Vibrio cholera
  5. Salmonella typi
  6. Stapilococcus aureus 
  7. Bacillus thermosphacta 
  8. Enterococcus
  9. Lactobacillus viridescent
  10. Shigella, dll


Vibrio (Mortimore & Carrol W, 1998)
Bakteri Vibrio
  • Bakteri gram negatif
  • Berbentuk batang yang melengkung 
  • Bersifat fakultatif an-aerob
  • Menghasilkan antero-toksin
  • Sensitif terhadap panas 
  • Dapat hidup pada kisaran suhu 10oC sampai 37oC
  • Ph idealnya 7,6
  • Dapat menyebabkan penyakit diare,dehidrasi,asidosis,syock dan kematian (mikrobiologi kedokteran, 1993)


Staphylococcus  (Mortimore & Carrol W,1998)
Bakteri Staphylococcus
  • Bakteri gram positif
  • Bentuk bulat 
  • Bersifat aerobic atau an-aerobic
  • Dapat memproduksi toksin 
  • Memiliki toleransi yang tinggi terhadap perubahan lingkungan 
  • Dapat hidup pada suhu 7oC sampai 48oC
  • pH ideal 6,5
  • Dapat menimbulkan penyakit keracunan,peradangan,nekrosis, dan pembentukan abses.


Salmonella (Mortimore & Carrol W,1998)
Bakteri Salmonella
  • Bakteri gram negatif
  • Berbentuk tangkai dan tidak berspora serta memiliki motil 
  • Bersifat fakultatif an-aerob 
  • Dapat hidup pada pencernaan manusia dan hewan
  • Dapat hidup pada suhu 5,2oC sampai 43oC
  • Ph ideal 7


Escherichia coli (Mortimore & Carrol W,1998)
Bakteri E. coli
  • Bakteri gram negatif
  • Berbentuk batang dan tidak berspora 
  • Bersifat aerob sampai fakultatif an-aerob
  • Hidup pada pencernaan manusia 
  • Dapat memfermentasi laktosa yang menghasilkan gas dan asam 
  • Dapat hidup pada suhu 35oC
  • Dapat menyebabkan penyakit diare

JENIS - JENIS BAKTERI
  1. Bakteri Aerobic Yaitu bakteri yang menggunakan oksigen untuk pertumbuhannya.
  2. Bakteri Aerob obligat Yaitu bakteri yang harus menggunakan oksigen sebagai aseptor elektron akhir.
  3. Bakteri An – aerob Yaitu bakteri yang harus hidup dalam ketidak adaan oksigen atmosfer.
  4. Bakteri An – aerob obligat Yaitu bakteri yang tidak dapat hidup dengan adanya oksigen.
  5. Bakteri An – aerob fakultatif Yaitu bakteri yang dapat hidup dan tumbuh dalam suasana dengan atau tanpa oksigen.

Tabel jenis bakteri dan gejala yang ditimbulkan pada manusia
 Sumber : Bakteri Pada Ikan. Gilang Indra Gunawan, S.St.Pi

Semoga Bermanfaat...