Kegiatan Penyuluhan

Kegiatan Penyuluhan Perikanan Bertujuan Meningkatkan Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan Pelaku Utama dan Pelaku Usaha Perikanan.

Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP)

P2MKP Memberdayakan Pelaku Utama Perikanan dan Masyarakat.

Pelatihan Kelautan dan Perikanan

Meningkatkan keterampilan para pelaku utama kelautan dan perikananm.

AUTO MATIC FEEDER

Solusi Memberi Makan Ikan Menjadi Mudah Dan Tepat.

Tuesday, February 17, 2015

Alat Tangkap Ikan Ramah Lingkungan : Penangkapan Ikan Dengan Melukai Ikan

Jangkauan dan kapasitas manusia untuk meraih ikan yang hidup, baik yang sudah dilumpuhkan atau dengan cara lain dari kejauhan, dibatasi oleh panjang lengannya. Implementasi paling sederhana mencapai jangkauan yang lebih jauh dengan maksud memungut atau mengumpulkan hasil tangkapannya adalah dengan menggunakan tongkat (lance atau spear) dengan tujuan agar ikan atau hewan akuatik yang terletak jauh dari tangannya dapat dijangkau atau dikait.

Metoda penangkapan ini telah dikenal sejak jaman pra sejarah, namun metoda ini masih tetap digunakan pada perikanan konvensional (penangkapan ubur-ubur dengan menggunakan trisula) dan perikanan komersil modern sekarang (penangkapan ikan paus dengan menggunakan harpoon) (Brand, 1984).

1. JENIS SPEAR DAN LANCE
Alat penangkap ikan dengan bentuk yang sangat sederhana dan primitif ini telah dikenal sejak 10.000 tahun yang lalu. Alat ini lebih berkembang pada sport fishing, namun di beberapa Negara alat ini sudah tidak boleh dipergunakan. Long line menggunakan alat ini hanya sebagai perlengkapan bantu, yaitu digunakan untuk menangkap ikan yang agar tidak terlepas dari pancingnya.
Spear dan Lance
Alat Bantu Penangkapan Spear dan Lance
Alat tangkap Spears dan Lance tidak memiliki alat bantu khusus.

Daerah Operasi Spears dan Lance
Daerah operasi spear dan lance yakni di perairan yang sangat dangkal seperti pelataran atoll

Cara Pengoperasian Spears dan Lance
Metoda menangkap ikan dengan alat ini tidaklah mudah, karena adanya refraksi cahaya dari dua media yang berbeda, selain membutuhkan teknik juga pengalaman. Cara pengoperasian alat ini yaitu dengan cara dihujam langsung ke tubuh ikan.

Jenis Ikan Hasil Tangkapan

















2. JENIS FISH PLUMMETS
Di atas telah dijelaskan bahwa tombak hanya  mampu digunakan pada perairan yang sangat dangkal, maka untuk menangkap ikan di perairan yang lebih dalam lagi menggunakan fish plummet.
Fish Plummets
Alat Bantu Penangkapan Fish Plummets
Alat bantu yang digunakan adalah seutas tali.

Daerah Operasi Fish Plummets
Daerah pengoperasian biasa di wilayah yang lebih dalam dari pelataran atoll.

Cara Pengoperasian Fish Plummets
Metoda yang digunakan sama dengan metoda menombak bedanya tangkai tombak diganti dengan seutas tali dengan panjang disesuaikan dengan kedalaman perairan.

3. JENIS FISH COMB
Alat ini dianggap termasuk bentuk dari jenis penggaruk (rake), berbentuk datar, bercabang sejajar mirip dengan sisir rambut.
Fish Comb
Alat Bantu Penangkapan Fish Comb
Alat ini tidak memiliki alat bantu

Daerah Operasi Fish Comb
Alat ini sering digunakan oleh nelayan di wilayah perairan payau. Sangat efektif untuk menangkap belut

Cara Pengoperasian Fish Comb
Jaman dahulu sebelum alat dilarang digunakan, alat ini dijatuhkan ke dasar laut dari perahu layar kemudian ditarik sepanjang dasar perairan dengan menggunakan tenaga layar.

Jenis Ikan Hasil Tangkapan









4. JENIS PANAH DAN SEJENISNYA
Tombak dalam bentuknya yang kecil disebut panah yang dapat ditembakkan melalui sebuah busur panah. Busur dan tali busur berfungsi sebagai alat pemindah dan melipatgandakan tenaga tangan dan bahu manusia. Dengan menggunakan busur panah dapat melesat jauh dengan kecepatan yang sangat tinggi dibandingkan jika panah dilemparkan langsung dengan tangan. Panah untuk menangkap ikan digunakan hampir di seluruh dunia termasuk Indonesia.


Panah dan Sejenisnya
Alat Bantu Penangkapan Panah dan Sejenisnya
Pada bentuknya yang modern panah diberi tali, sehingga entah mengenai atau tidak sasaran panah masih bisa ditarik kembali.

Daerah Operasi Panah dan Sejenisnya
Umumnya ikan yang tertangkap adalah ikan-ikan yang berenang lambat di permukaan. Karena itu daerah penangkapan ikan dengan memanfaatkan panah biasanya dilakukan di daerah yang tenang dan jernih.

Cara Pengoperasian Panah dan Sejenisnya
Memanah ikan dari jarak jauh sangatlah sulit, sering banyak melesetnya. Hal ini disebabkan adanya penetrasi cahaya, refraksi, pengaruh angin, dan gerakan itu sendiri, sehingga memanah memerlukan keterampilan khusus dan pengalaman. Untuk mengatasi hal ini banyak dibuat panah dengan mata jamak (2-3 mata).

Jenis Ikan Hasil Tangkapan

















5. HARPOON
Harpoon telah lama menggantikan tombak dan panah, tidak saja pada perikanan skala kecil tapi yang berskala besarpun banyak yang menggunakan harpoon, terutama pada sport fishing dan penangkapan ikan paus. Mata harpoon umumnya dapat dipisahkan dari tangkainya dengan jumlah mata 1 – 3 buah, tapi tetap dihubungkan dengan tali. Setelah harpoon mengenai sasaran mata harpoon tertinggal dalam tubuh sasaran sedangkan tangkainya akan terlepas. pada pengembangan selanjutnya harpoon dihubungkan dengan tali ke pelemparnya atau ke kapal. Harpoon modern yang ditembakkan dengan menggunakan senapan atau meriam, mata dan tangkainya menyatu (tidak dipisah) (Brand, 1984).

Dalam perikanan komersil sudah tidak digunakan lagi (kelestarian, terutama ikan paus) kecuali untuk penangkapan ikan - ikan tertentu yang memiliki nilai individual yang tinggi seperti ikan paus dan ikan layaran. Penangkapan ikan paus secara internasional sudah dilarang dengan alasan untuk menghindari kepunahan, kecuali Negara Jepang dengan berbagai alasan hingga sekarang masih melakukan penangkapan ikan paus. Hanya penangkapan ikan layaran dan hiu masih banyak dilakukan hampir di seluruh dunia dimulai dari Mediterranean, seluruh pantai Atlantic, sepanjang pantai California, Peru, Chili, Jepang, Taiwan, China, India hingga Afrika.

Harpoon


Model Harpoon
Alat Bantu Penangkapan Harpoon
Harpoon biasa menggunakan tali yang dikaitkan pada mata harpoon agar sasaran dapat dengan mudah ditarik ke atas kapal.

Daerah Operasi Harpoon
Harpoon dapat digunakan di perairan dangkal maupun perairan dalam.

Cara Pengoperasian Harpoon
Harpoon berbeda dengan tombak entah dilengkapi dengan tali atau tidak, namun keduanya dapat dilemparkan dengan tangan atau menggunakan busur.

Jenis Ikan Hasil Tangkapan
Ikan Paus












6. JENIS SUMPIT DAN BLOW GUN
Umumnya sumpit digunakan untuk berburu burung di hutan belantara. Hanya Thailand, India Selatan dan Filipina yang sering menggunakan alat ini untuk menangkap ikan. Sumpit terbuat dari batang bamboo atau pipa besi. Panjang sumpit sekitar 1,8 meter.


Sumpit dan Blow Gun
Alat Bantu Penangkapan
Pada jaman dahulu untuk berburu hewan besar mata sumpit diberi racun.

Daerah Operasi
Alat tangkap ini biasa digunakan oleh nelayan di pesisir dekat hilir sungai.

Cara Pengoperasian
Mata sumpit dipasang di ujung pipa. Mata sumpit ditembakkan dengan satu hembusan kuat.

Jenis Ikan Hasil Tangkapan





















Sumber

Semoga Bermanfaat...

Friday, February 6, 2015

Teknik Pemilihan Benur Udang

Benur merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan dalam budidaya udang. Jika ada 100% yang mendorong keberhasilan dalam budidaya, maka benur memegang peranan sebanyak 50%. Sehingga di sini sangatlah penting jika kita bisa mengetahui ciri-ciri benur yang kualitasnya baik. Kualitas benur yang baik akan memberikan pertumbuhan yang lebih baik dan panen lebih cepat, selain itu juga pemilihan benur yang baik dapat mengurangi resiko penyakit dan kegagalan. Kualitas benur yang baik dapat diamati dan diuji baik secara visual, mikroskopis, mikrobiologis hingga PCR.
Benur udang
Sejarah Pemilihan Benur
  • Sebelum tahun 1990 : Pengamatan visual saja
  • Tahun 1990 - 2000 : Pengamatan mikroskopis (Skoring), Tes MBV, Tes Vibrio
  • Tahun 2000 - sekarang : Tes PCR, Benur SPF
Pemeriksaan Kualitas Benur
Tingkat 1 : Pengamatan visual, Stress test, Formaline test
Pengamatan Visual
  • Benur windu PL-13 : 10 mm
  • Benur vaname PL-10 : 8 mm
  • Keseragaman: Coeff. Variation < 25% (ideal < 15%)
  • Warna : pigmen bening atau gelap (tidak merah, putih keruh atau kebiru-biruan).
  • Aktivitas : gerakan aktif dan tidak ada kematian.
  • Antena lurus (tidak membentuk huruf V), ekor membuka.
  • Tingkah laku : melompat ketika wadah diketuk, berenang melawan arus, menempel di dasar/dinding.
  • Hepatopancreas penuh berwarna gelap (kecoklatan / kehitaman tergantung makanan)
  • Usus penuh membentuk garis lurus.

CV (Coeffisien Variation)












Stress Test
  1. Air dari bak benur dicampur dengan air tawar dengan perbandingan 1 : 1.
  2. Masukkan benur 300 ekor tunggu 3 jam.
  3. Setelah 3 jam hitung benur yang masih aktif (bergerak ketika disentuh).

Penghitungan :
SR = (benur yang aktif/total sampel benur) x 100%
Dinyatakan lolos jika SR > 75%
Jelek jika SR < 75%

Formaline test
  1. Air dari bak benur diberi formaline dengan dosis 100 ppm (0,1 ml / liter).
  2. Masukkan benur 300 ekor tunggu 1 jam.
  3. Setelah 1 jam hitung benur yang masih aktif (bergerak ketika disentuh).

Penghitungan :
SR = (benur yang aktif/total sampel benur) x 100%
Dinyatakan lolos jika SR > 75% (>90% excelent)
Jelek jika SR < 75%

Tingkat 2 : Pengamatan mikroskopis
Fungsinya untuk mendapatkan informasi yang lebih detail tentang kondisi benur. Peralatan yang diperlukan :
  1. Mikroskop, beaker, slide / coverslip
  2. Malachyte green (pewarnaan MBV)
  3. Drop pipet, disecting set
  4. Random sampling: 100 ekor / bak; 15 – 25 untuk diperiksa
  5. Hasil secara kuantitatif - metode skoring.

Kriteria Pemeriksaan
1. Kondisi hepatopancreas : Menunjukkan kemampuan cerna, penyakit

2. Kondisi otot : Harus mulus/bersih. Kelainan otot menandakan stress













3. Muscle-gut ratio (MGR) : Perkembangan otot baik.













4. Fouling : Tidak ada penempelan





















5. Necrosis (deformity) : Perkembangan abnormal





















5. MBV Occlusion bodies : Indikasi stress















Tingkat 3 : Pengamatan mikrobiologi, Tes penyakit dengan PCR
Meliputi pemeriksaan mikrobiologis dan tes PCR.
1. Uji Mikrobiologis
  • Hancurkan sampel udang yang telah diambil secara random, kultur 1 loop sampel pada media TCBS.
  • Kriteria lolos tes: Vibrio kuning < 80 koloni; Vibrio hijau    < 60 koloni; Vibrio nyala (tidak ada)
  • Vibrio hijau lebih bersifat pathogen.









2. Uji PCR (Polymerase Change Reaction)
Uji PCR pada benur meliputi:
  • WSSV (white spot)
  • IHHNV
  • TSV
  • IMNV

Hasil uji keempat virus harus menunjukkan negative test
Bila salah satu positif, maka benur dinyatakan tidak lolos tes.


















KESIMPULAN
Kriteria benur yang baik :
  1. Uji PCR semua harus negatif
  2. Uji mikroskopis nilai tertinggi 60, bila total nilai 50 atau lebih berarti lolos dan bila kurang dari 50 berarti tidak lolos (jelek), bila ada 3 yang nilainya 0 berarti tidak lolos
  3. Pengamatan visual, stress test, tes vibrio harus baik. (lihat hasil tes)

sumber : Suprapto. Shrimp Club Indonesia.

Semoga Bermanfaat...











Tuesday, February 3, 2015

Penggunaan Vaksin Pada Ikan

Budidaya ikan tak lepas dari beberapa hambatan yang harus dilalui dan dipecahkan. Salah satu penghambat dalam budidaya perikanan adalah adanya penyakit yang menyerang ikan. Cara penanganan ikan yang sakit (atau pengendalian penyakit) bisa dengan pencegahan maupun pengobatan.

Obat dan antibiotika efektif dalam pengobatan penyakit parasitikdan bakterial, tetapi antibiotika menimbulkan masalah, antara lain resistensi bakteri, residu antibiotika di ikan (untuk keamanan pangan) dan residu antibiotika di perairan yang menyebabkan kerusakan lingkungan. Karena itulah beberapa produk perikanan Indonesia di tolak pasar Uni Eropa karena terdapat residu antibiotik.

Cara yang paling murah dan efisien dalam pengendalian penyakit adalah dengan pencegahan. Mencegah timbulnya penyakit dapat dengan pengelolaan lingkungan, penggunaan pakan yang tepat mutu, tepat jumlah,dan tepat pemberiannya. Salahsatu cara pencegahan yang sekarang sudah mulai diaplikasikan adalah dengan cara menimbulkan kekebalan tubuh.
Gerakan Vaksinasi Ikan
Kekebalan pada ikan dapat ditimbulkan baik dengan menggunakan vaksin maupun dengan menggunakan imunostimulator lain. Prinsip dasar vaksinasi yaitu memasukkan vaksin/antigen kedalam tubuh ikan sehingga antigen tersebut merangsang system imun tubuh ikan untuk memproduksi antibodi(kekebalan specifik). Dengan hanya 1 atau dua kali pemberian vaksin biasanya daya tahan tubuh/kekebalan akan bertahan sampai akhir masa pemeliharaan ikan. Vaksinasi memiliki beberapa keunggulan, yaitumampu menggantikan antibiotik, tidak ada dampak negatifpada ikan, tanpa residu berbahaya, tidak membuat patogen resisten, serta bisa diterima pasar (ekspor). (sumber)

Mengapa VAKSINASI IKAN..??
Dalam budidaya oerikanan faktor yang diperlukan untuk memperoleh kemungkinan pencapaian Survival Rate (SR) tertinggi, yaitu:

  1. Nutrisi yang baik
  2. Benih berkualitas yang baik
  3. Cara penanganan dan budidaya yang baik
  4. Diterapkan manajemen kesehatan
  5. Vaksin merupakan metode terbaik untuk meningkatkan SR dan keuntungan budidaya ikan. 

Apa itu VAKSIN..?
Suatu produk biologi yang terbuat dari mikroorganisme, komponen tersebut yang telah dilemahkan, dimatikan atau direkayasa genetika dan berguna untuk merangsang kekebalan tubuh secara aktiv.

Persyaratan VAKSIN yang ideal
Penggunaan vaksin pada ikan budidaya harus memperhatikan beberapa faktor sehingga dalam penggunaan vaksin akan tepat guna dan manfaat. Adapun persyaratan vaksin yang ideal adalah sebagai berikut :
  1. Aman bagi ikan, lingkungan air dan konsumen
  2. Vaksin harus spesifik untuk pathogen tertentu
  3. Vaksin harus dapat melindungin ikan dalam waktu yang lama minimal satu siklus produksi
  4. Mudah didapat, mudah diterapkan dan ekonomis
  5. Terdaftar di Kementerian Kelautan dan Perikanan

Pertimbangan dalam melakukan VAKSINASI IKAN
  1. Spesies ikan
  2. Status sistem imun
  3. Siklus produksi dan siklus hidup
  4. Penyakit apa yang akan dikendalikan
  5. Kapan wabah penyakit biasa terjadi
  6. Tingkat  teknologi yang diterapkan
  7. Lingkungan (temperature)
  8. Faktor-faktor stress
  9. Nutrisi
Metode VAKSINASI IKAN
  1. Perendaman
  2. Media Pakan
  3. Penyuntikan
Hal-hal yang perlu diketahui saat aplikasi VAKSIN pada ikan, antara lain :
  1. Pemberian vaksin pada ikan melalui teknik yang direkomendasikan misalkan melalui penyuntikan, perendaman atau melalui pakan.
  2. Untuk pemberian vaksin yang memiliki proteksi yang relatif singkat (beberapa hari atau minggu) harus diperlukan vaksinasi ulang (booster).
  3. Pemberian vaksin harus mempertimbangkan umur/ukuran ikan yang rentan terhadap jenis penyakit yang menjadi target untuk dicegah, serta saat/musim muncul penyakit tersebut.
  4. Perhatikan dan ikuti prosedur transportasi, penyimpanan dan pemberian vaksin sesuai dengan yang direkomendasikan.
Beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum melakukan VAKSINASI IKAN :
  1. Bila pemberian vaksin melalui perendaman atau pakan sebaiknya ikan telah berumur 1 minggu atau lebih
  2. Pemberian vaksin dengan penyuntikan maka ukuran jarum suntik harus disesuaikan dengan ukuran ikan
  3. Ikan harus dalam kondisi sehat (tidak sakit/stress)
  4. Suhu air relatif hangat (diatas 25ÂșC) karena respon antibodi ikan akan lebih cepat
  5. Air yang digunakan untuk aplikasi vaksin dan pemeliharaan harus bebas dari polutan
Perbandingan Keunggulan dan Kelemahan metode VAKSINASI IKAN


Beberapa VAKSIN IKAN yang digunakan untuk akuakultur di Indonesia














Aplikasi VAKSINASI IKAN
* TEKNIK PERENDAMAN
Penggunaan Vaksin KV3 untuk pencegahan penyakit Koi Herves Virus (KHV)
Vaksin KV3 untuk penyakit Koi Herves Virus
  1. Pilih ikan yang akan divaksin adalah hanya ikan mas yang dalam kondisi sehat, dengan bobot minimal 10 gr/ ekor dan umur minimal 3 bulan sejak menetas.
  2. Jumlah ikan yang akan divaksin sebanyak 250 – 300 Kg atau sekitar 25.000 – 30.000 ekor ( @ 10 gr ) per 100 ml vaksin KV 3 ( per botol ).
  3. Siapkan bak metal/ fiberglass/kolam keramik untuk proses vaksinasi dengan kapasitas  minimal  1500 liter.
  4. Isi dengan  air sumur atau air tampungan hujan ( lebih baik yang sudah diendapkan lebih dahulu ) sebanyak 1000 liter.
  5. Jaga parameter kondisi air dengan kisaran suhu 200C - 250C.
  6. Gunakan aerator, water pump dan es balok jika diperlukan untuk menjaga kestabilan parameter air
  7. Siapkan vaksin KV 3 beku 100 ml di dalam wadah freezer/ ice cooler.
  8. Masukan benih ikan mas yang sudah dipersiapkan untuk divaksin sebanyak 250- 300 Kg atau sekitar  25.000 – 30.000 ekor ( @ 10 gr )  ke dalam bak vaksinasi tersebut.
  9. Pelarutan vaksin dilakukan dengan cara memasukan botol vaksin yang dalam keadaan beku,  lalu buka tutupnya dan langsung masukan ke dalam tangki vaksinasi sambil digoyang2kan hingga larut seluruhnya.
  10. Laksanakan proses vaksinasi selama 45 - 60 menit sejak seluruh vaksin larut.
  11. Jaga parameter kondisi air agar tetap stabil selama proses vaksinasi ( suhu 200C - 250C, kandungan oksigen terlarut 6 ppm, ph 6,8 – 7,4 ).
  12. Setelah selesai proses vaksinasi 45 - 60 menit, pindahkan benih ikan mas  tersebut  ke bak penampungan.
  13. Larutan bekas rendaman masih dapat digunakan 1 kali lagi dengan jumlah ikan yang sama.
Teknik vaksinasi ikan dengan perendaman

* TEKNIK PENYUNTIKAN
Penggunaan Vaksin Anti Aeromonas dan Vaksin Streptococcus
Vaksin untuk Aeromonas

Vaksin 
  1. Teknik ini cocok untuk calon induk atau induk ikan.
  2. Aplikasi dapat dilakukan secara intraperitoneal (i.p)/ bagian perut atau intramuskuler (i.m)/ bagian otot.
  3. Dosis yang diberikan adalah 0.1-0.2 ml/kg bobot ikan.
Pemberian vaksin dengan teknik penyuntikan

* TEKNIK ORAL (PEMBERIAN PAKAN)
Pemberian vaksin dengan teknik oral (pemberian pakan)
  1. Larutkan progol dalam air hangat, 2-3 gr progol dengan 1 gelas air. Fungsinya sebagai perekat.
  2. Campurkan dengan vaksin 3 ml
  3. Campurkan ke dalam pakan untuk 1kg pakan
  4. Dikering anginkan dan siap diberikan ke ikan
  5. Pemberian vaksin melalui pakan dilakukan selama 5 hari berturut-turut

sumber : Astuti, SP. Aplikasi Vaksin. Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan Balai Pengembangan Teknologi Perikanan dan Kelautan

Semoga Bermanfaat...