Lalaukan

Informasi dunia kelautan dan perikanan serta kegiatan penyuluhan perikanan

Thursday, April 16, 2020

Jenis Es Untuk Penanganan Ikan

Es adalah air yang dibekukan menjadi bentuk padat. Bergantung pada adanya kotoran seperti partikel tanah atau gelembung udara, dapat terlihat transparan atau warna kebiru-biruan yang kurang lebih buram. Pembekuan ini umumnya terjadi bila air didinginkan di bawah 0 °C (273.15 K, 32 °F) pada tekanan atmosfer standar. Es dapat terbentuk pada suhu yang lebih tinggi dengan tekanan yang lebih tinggi juga, dan air akan tetap sebagai cairan atau gas sampai -30 °C pada tekanan yang lebih rendah (Wikipedia).

Proses pendinginan ikan dalam penanganan hasil perikanan dengan es terjadi bila es bersinggungan langsung dengan ikan dimana panas yang ada dalam ikan di serap oleh es. Proses pemindahan panas akan terhenti bila ikan telah mencapai suhu es yaitu 0°C, atau jika es telah habis dan air lelehan es itu telah sama suhunya dengan ikan dan jika es yang diberikan untuk mendinginkan cukup banyak, maka sisa es yang belum meleleh dapat membantu memelihara suhu campuran es dan ikan pada 0°C.

Dimana dalam hal ini fungsi es adalah untuk :
  1. Menurunkan suhu ikan sampai mendekati 0 derajat C
  2. Mempertahankan suhu ikan tetap dingin
  3. Mempertahankan keadaan berudara aerobik pada ikan, selama pengesan.
  4. Menghambat perkembang biakan bakteri pembusuk yang ada pada ikan.
  5. Es memiliki daya pendingin yang sangat besar, tiap 1 kg es yang meleleh pada 0°C dapat menyerap panas sebanyak 80 kkal untuk meleleh menjadi air 0°C dan es memiliki titik cair pada 0°C. Dalam perhitungan jumlah esyang diperlukan,terdapat dua tahapan yang harus diperhatikan yaitu tahap penurunan suhu mencapai suhu yang diinginkan dan tahap pemeliharaan suhu sampai pada pendistribusian.
Jenis Es Yang Biasa Digunakan Untuk Mempertahankan Kesegaran Ikan
  1. Es Balok yaitu es yang berasal dari air yang memenuhi persyaratan mutu air minum yang dibekukan dalam bentuk balok.
    Es balok
  2. Es curai yaitu es yang berasal dari air yang memenuhi persyaratan mutu air minum yang dibekukan dalam bentuk keping (flake ice), tabung (tube ice), kubus (cube ice) dan pelat (plate ice).
    Flake ice

Tube ice
Cube ice
Plate ice
Syarat Bahan Baku
Bahan baku es untuk penanganan ikan memenuhi syarat mutu air minum, sesuai SNI 01-4872.2-2006, Es untuk penanganan ikan − Bagian 2: Persyaratan bahan baku.

Sumber Bahan Baku
Bahan baku yang digunakan adalah air yang berasal dari Perusahaan Air Minum, air tanah,perairan umum dan air laut yang tidak tercemar dan telah mengalami perlakuan sehingga memenuhi persyaratan mutu air minum.

Mutu Bahan Baku
Mutu bahan baku sesuai SNI 01-0220-1987, Air minum.

Penyimpanan Bahan Baku
Air disimpan dalam wadah/bak penampung air yang saniter dan higienis.

Pengolahan dan Penanganan
Cara pengolahan dan penanganan es untuk penanganan ikan yang dimaksud dalam standar ini sesuai SNI 01-4872.3-2006, Es untuk penanganan ikan − Bagian 3: Penanganan dan Pengolahan.

Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam penanganan dan pengolahan es untuk pengolahan dan penanganan ikan adalah sebagai berikut.
  1. Bak penampungan air;
  2. Pompa air;
  3. Penyaring air;
  4. Termometer;
  5. Pan pencetakan / pembeku;
  6. Alat pembekuan;
  7. Bak pembekuan;
  8. Alat pembuat es curai;

Persyaratan Peralatan
Semua peralatan dan perlengkapan yang digunakan dalam pengolahan dan penanganan es untuk penanganan ikan mempunyai permukaan yang halus dan rata, tidak mengelupas, tidak berkarat, tidak merupakan sumber cemaran jasad renik, tidak retak, tidak menyerap air, dirancang sesuai dengan persyaratan sanitasi dan mudah dibersihkan. Semua peralatan dalam keadaan bersih sebelum, selama dan sesudah digunakan.


Teknik Pengolahan dan Penanganan
ES BALOK
Penampungan air
  1. Potensi bahaya: kontaminasi bakteri patogen.
  2. Tujuan: menjamin ketersediaan bahan baku air yang memenuhi persyaratan mutu dan bebas bakteri patogen.
  3. Petunjuk: bahan baku air yang layak minum ditampung dalam tangki/bak penampungan tertutup yang saniter.

Pengisian pan pencetakan
  1. Potensi bahaya: volume tidak sesuai, kontaminasi bakteri patogen, kontaminasi fisik.
  2. Tujuan: mendapatkan volume air sesuai yang ditentukan serta bebas dari bakteri patogen dan kontaminasi fisik.
  3. Petunjuk: air dari tangki penampungan dialirkan ke tangki pengisian dan diteruskan ke pan pencetakan/pembeku. Pengisian air ke dalam pan pencetakan sesuai volume yang ditentukan.

Pembekuan
  1. Potensi bahaya: pembekuan yang tidak sempurna.
  2. Tujuan: mendapatkan es yang bening.
  3. Petunjuk: pan pencetakan yang sudah berisi air disusun dalam bak pembekuan yang berisi air garam yang telah diatur hingga suhu maksimal –13°C. Selanjutnya bak pembekuan ditutup dan ditiupkan udara dingin dengan menggunakan blower untuk meratakan sirkulasi udara dingin/pendinginan. Blower dihentikan sebelum bagian tengah air membeku seluruhnya. Pembekuan terus dilakukan hingga mencapai suhu pusat es maksimal –3°C.


Pelepasan dari pan pencetakan
  1. Potensi bahaya: kerusakan fisik.
  2. Tujuan: melepaskan es yang sudah beku dari pan pencetakan dan melindungi es dari kerusakan fisik.
  3. Petunjuk: es yang sudah matang dilepaskan dari pan pencetakan dengan cara mencelupkan cetakan ke dalam air yang memenuhi persyaratan air minum dengan suhu 5°C-10°C.

Pengangkutan
  1. Potensi bahaya : kerusakan fisik.
  2. Tujuan: melindungi es agar bebas dari kerusakan fisik.
  3. Petunjuk: es diangkut dengan menggunakan wadah bersih dan dapat melindungi kerusakan fisik.


ES CURAI
Penampungan air
  1. Potensi bahaya: kontaminasi bakteri patogen.
  2. Tujuan: menjamin ketersediaan bahan baku air yang memenuhi persyaratan mutu dan bebas bakteri patogen.
  3. Petunjuk: bahan baku air yang layak minum ditampung dalam tangki/bak penampungan tertutup yang saniter.

Pengaliran/penyemprotan air
  1. Potensi bahaya: pembekuan tidak sempurna.
  2. Tujuan: mendapatkan es bening dengan ukuran yang sama.
  3. Petunjuk: mengalirkan/menyemprotkan air secara kontinyu pada permukaan alat pembuat es curai sesuai dengan spesifikasi alat.

Pencetakan dan pembekuan
  1. Potensi bahaya: pembekuan tidak sempurna.
  2. Tujuan: mendapatkan es curai .
  3. Petunjuk: Air dialirkan pada permukaan alat pembeku, sehingga terbentuklah es curai yang jenisnya tergantung pada alat pembuat es yang digunakan.

Teknik Sanitasi dan Higiene
Es untuk penanganan ikan ditangani, disimpan, didistribusikan dan dipasarkan dengan menggunakan wadah, cara dan alat yang sesuai dengan persyaratan sanitasi dan higiene dalam unit pengolahan hasil perikanan.

Sumber : Es Untuk Penanganan Ikan. Gilang Indra Gunawan, S.St.Pi

Semoga Bermanfaat...

Monday, April 6, 2020

Cara Mempertahankan Kesegaran Ikan

Beberapa faktor didalam menentukan mutu teknologis ikan sebagai bahan mentah hubungannya terhadap cara penanganan, pengolahan, permintaan pasar serta penyediaan sarana yang tepat antara lain:
  1. Komposisi kimia terutama kadar lemak,protein
  2. Nilai gizi
  3. Sifat phisik dari tiap jenis ikan
  4. Komposisi berat
  5. Terdapatnya kelainan dan perubahan pada rupa,warna,bau,rasa dan tekstur

Ikan segar
MUTU KESEHATAN 
Untuk mendapatkan produk olahan yang aman dan sehat khususnya bagi konsumsi manusia, maka terhadap bahan mentah ikan perlu diperhatikan hal sebagai berikut:
  1. Perlu diketahui flora bakteria asli dari ikan->perbedaan kwalitatif dan kwantitatif flora bakteria sangat dipengaruhi oleh musim dan keadaan geografis
  2. Adanya penyakit/parasit yang membahayakan kesehatan manusia
  3. Terjadinya kontaminasi oleh bakteri patogen
  4. Terjadinya kontaminasi oleh logam berat seperti Hg dll
  5. Terjadinya kontaminasi oleh pestisida,herbisida dll.
  6. Terdapatnya racun alami yang terdapat dalam jenis ikan tertentu misal: ikan buntel, barracouta dll

MUTU KESEGARAN 
  1. Mutu kesegaran sangat penting dan identik dengan nilai uang
  2. Dalam prinsip teknologi pengolahan dikatakan bahwa hanya dari bahan mentah yang bermutu kesegaran tinggi akan dapat dihasilkan produk olahan yang bermutu tinggi pula
  3. Tingkatan mutu kesegaran ikan dapat digolongkan sebagai berikut :
  • Berkondisi seperti ikan hidup yaitu tahap pre-rigor
  • Amat segar yaitu tahap pre-rigor dan rigor mortis
  • Segar yaitu tahap rigor mortis dan post rigor
  • Kurang segar yaitu tahap post rigor hingga dinyatakan busuk

MEMPERPANJANG MUTU KESEGARAN IKAN 
Mutu kesegaran ikan segera setelah ditangkap dapat diperpanjang dengan berbagai usaha penanganan sebagai berikut:
  1. Mengangkat ikan segera kegeladak,membunuh secara cepat,melakukan pendarahan sempurna,mencuci dengan air bersih
  2. Membuang isi perut,insang dan lendir
  3. Menurunkan suhu pusat ikan secepat mungkin terutama pada saat ikan pada tahap pre-rigor atau rigor mortis
  4. Penanganan terhadap bahan mentah ikan pada setiap tempat dan setiap saat harus dilakukan dengan cepat,tepat,cermat dan dalam suasana bersih

KECEPATAN PENURUNAN MUTU KESEGARAN IKAN 
Kecepatan penurunan mutu kesegaran ikan dipengaruhi pula oleh beberapa faktor antara lain:
  1. Faktor biologis
  2. Faktor lingkungan
  3. Faktor penangkapan
  4. Faktor penanganan dilaut yang meliputi: a) sortasi, preparasi, pencucian dll, b) pendinginan, pembekuan, c) tehnik pendinginan yang digunakan, d) cara penyusunan ikan dalam palka, e) tehnik pembekuan hubungannya dengan  type produk, f) kondisi insulasi ruangan palka dan peralatan penanganan
  5. Faktor penanganan didarat
  6. Hubungan antara waktu dan suhu
Hubungan antara suhu dengan pertumbuhan bakteri

Sumber : Cara Mempertahankan Kesegaran Ikan. Gilang Indra Gunawan, S.St.Pi

Semoga Bermanfaat...

Friday, April 3, 2020

Kontaminasi Bakteri Pada Ikan Yang Dapat Menimbulkan Penyakit Pada Manusia

Ikan dan kerang-kerangan dapat terkontaminasi dari lingkungan hidup ikan tersebut atau dari lingkungan pengolahan. Jika ikan tersebut diperoleh dari laut yang telah terkena polusi limbah, ikan tersebut kemungkinan terkontaminasi bakteri patogen.
Bakteri Vibrio parahaemolyticus
Vibrio parahaemolyticus adalah kontaminan yang umum terdapat pada ikan dan makanan laut lainnya terutama dari perairan Asia Timur. Bakteri ini dapat dihilangkan dengan pemanasan, akan tetapi sanitasi yang kuramg baik dapat menyebabkan terjadinya rekontaminasi. Dalam kerang-kerangan telah ditemukan mikroorganisme patogen seperti Salmonella, E. coli, V. parahemolyticus, clostridia dan virus. Bakteri dapat dihilanhkan dengan cara ini kurang efektif untuk virus.

APA ITU BAKTERI ? 
  • Organisme mikrokospik yang dapat menimbulkan penyakit (infeksi) pada manusia 
  • Bakteri dapat hidup pada berbagai media (tanah,air,dan udara)
  • Pada kondisi suhu yang ideal bakteri akan berkembang biak melalui pembelahan sel maupun dengan spora
  • Faktor lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap aktivitas bakteri yang hidup di perairan yaitu : suhu, pH, nutrisi/makanan yang tersedia,oksigen terlarut serta salinitas

JENIS BAKTERI DOMINAN DI PERAIRAN LAUT 
  1. Streptococcus sp
  2. Aeromonas sp
  3. Pseudomonas sp
  4. Vibrio cholera
  5. Salmonella typi
  6. Stapilococcus aureus 
  7. Bacillus thermosphacta 
  8. Enterococcus
  9. Lactobacillus viridescent
  10. Shigella, dll


Vibrio (Mortimore & Carrol W, 1998)
Bakteri Vibrio
  • Bakteri gram negatif
  • Berbentuk batang yang melengkung 
  • Bersifat fakultatif an-aerob
  • Menghasilkan antero-toksin
  • Sensitif terhadap panas 
  • Dapat hidup pada kisaran suhu 10oC sampai 37oC
  • Ph idealnya 7,6
  • Dapat menyebabkan penyakit diare,dehidrasi,asidosis,syock dan kematian (mikrobiologi kedokteran, 1993)


Staphylococcus  (Mortimore & Carrol W,1998)
Bakteri Staphylococcus
  • Bakteri gram positif
  • Bentuk bulat 
  • Bersifat aerobic atau an-aerobic
  • Dapat memproduksi toksin 
  • Memiliki toleransi yang tinggi terhadap perubahan lingkungan 
  • Dapat hidup pada suhu 7oC sampai 48oC
  • pH ideal 6,5
  • Dapat menimbulkan penyakit keracunan,peradangan,nekrosis, dan pembentukan abses.


Salmonella (Mortimore & Carrol W,1998)
Bakteri Salmonella
  • Bakteri gram negatif
  • Berbentuk tangkai dan tidak berspora serta memiliki motil 
  • Bersifat fakultatif an-aerob 
  • Dapat hidup pada pencernaan manusia dan hewan
  • Dapat hidup pada suhu 5,2oC sampai 43oC
  • Ph ideal 7


Escherichia coli (Mortimore & Carrol W,1998)
Bakteri E. coli
  • Bakteri gram negatif
  • Berbentuk batang dan tidak berspora 
  • Bersifat aerob sampai fakultatif an-aerob
  • Hidup pada pencernaan manusia 
  • Dapat memfermentasi laktosa yang menghasilkan gas dan asam 
  • Dapat hidup pada suhu 35oC
  • Dapat menyebabkan penyakit diare

JENIS - JENIS BAKTERI
  1. Bakteri Aerobic Yaitu bakteri yang menggunakan oksigen untuk pertumbuhannya.
  2. Bakteri Aerob obligat Yaitu bakteri yang harus menggunakan oksigen sebagai aseptor elektron akhir.
  3. Bakteri An – aerob Yaitu bakteri yang harus hidup dalam ketidak adaan oksigen atmosfer.
  4. Bakteri An – aerob obligat Yaitu bakteri yang tidak dapat hidup dengan adanya oksigen.
  5. Bakteri An – aerob fakultatif Yaitu bakteri yang dapat hidup dan tumbuh dalam suasana dengan atau tanpa oksigen.

Tabel jenis bakteri dan gejala yang ditimbulkan pada manusia
 Sumber : Bakteri Pada Ikan. Gilang Indra Gunawan, S.St.Pi

Semoga Bermanfaat...

Monday, March 30, 2020

Teknik Pendederan Ikan Bawal

Pemeliharaan benih mempakan kegiatan memelihara benih yang berasal dari tempat pemeliharaan larva (dari akuarium atau kolam) yang berukuran sampai benih siap dipelihara di kolam pendederan. Tahapan kegiatan mulai dari persiapan kolam, penebaran benih sampai benih dipanen tidak jauh berbeda dengan tahapan pemeliharan larva di kolam. Perbedaannya terletak pada padat tebar benih, yaitu cukup 60 - 70 ekor/m2. Pemeliharaan benih cukup dilakukan selama 21 hari dan biasanya benih yang dihasilkan berukuran 1 - 1,5 inci dengan kelangsungan hidup dapat mencapai 90 %.

SELEKSI BENIH
Seleksi benih dilakukan untuk memisahkan antara benih yang berukuran besar dengan benih yang berukuran kecil. Masing-masing ukuran ditampung dalam bak yang berbeda. Pemisahkan benih berdasarkan ukuran tersebut mempunyai tujuan agar dalam satu kolam hanya berisi benih dengan ukuran seragam sehingga tidak ada persaingan dalam makanan dan bila dijual, akan mendapat harga yang layak karena  ukurannya seragam.
Benih ikan bawal
PENYUCIHAMAAN
Penyucihamaan merupakan usaha untuk menghilangkan dan mencegah adanya penyakit dalam tubuh benih. Hal ini dilakukan agar benih terbebas dari penyakit sehingga bila akan dipelihara lagi atau dijual ikan dalam keadaan sehat. Di samping itu, biasanya benih yang baru dipanen banyak yang terluka akibat goresan alat tangkap. Luka tersebut harus disembuhkan terlebih dahulu sebelum benih dipelihara lagi atau dijual.  Ada dua cara sederhana yang bisa dilakukan untuk menyucihamaan benih, yaitu perendaman dan pencelupan.

1. Perendaman
Perendaman merupakan cara pengobatan dengan cara ikan direndam dalam obat berdosis rendah selama ½ - 6 jam. Ada beberapa jenis obat yang dipakai, seperti kalsium permanganat (PK) dosis 20 mg/1 selama 30 menit, GOLD 100 dosis 2 mg/1 selama 6 jam. 
Penyucihamaan ikan dengan cara direndam
2.  Pencelupan
Pencelupan merupakan pengobatan dengan cara ikan dicelupkan dalam waktu singkat dalam larutan obat bcrdosis tinggi, Ada beberapa obat yang biasa digunakan di antaranya malachitgreen (MG), methylin blue (MB), dan GOLD 100 dengan dosis 60 mg/1 dalam waktu 10 - 20 detik. Cara pengobatan ini yaitu ambil benih dengan sekup net, lalu celupkan ke dalam larutan obat selama waktu tersebut, kemudian angkat dan masukan ke dalam bak lain yang sudah berisi air bersih.  Demikian  cara  ini dilakukan berulang-ulang sampai benihnya habis.

Penyucihamaan ikan dengan cara dicelup
PENEBARAN BENIH
Penebaran benih dilakukan bila kolam sudah siap. Ada empat hal yang harus diperhatikan dalam penebaran benih, yaitu waktu penebaran, ukuran benih, padat tebar, dan cara penebaran. Waktu penebaran sebaiknya pada pagi hari, saat suhu air masih rendah. Ukuran benih yang ditebar harus seragam agar perbedaan ukuran benih dalam pemeliharaan selanjutnya tidak berbeda jauh. Padat benih di kolam pendederan satu sekitar 40 - 60 ekor/m2.  Cara penebaran benih harus dilakukan hati-hati agar tidak banyak yang mati. Cara penebaran yang baik yaitu wadah pengangkut didekatkan dengan permukaan air, biarkan air kolam masuk dalam wadah pengangkut agar suhu air dalam wadah pengangkut sesuai dengan air kolam. Setelah suhu sama, tuangkan benih ke dalam kolam sedikit demi sedikit. Usahakan penebaran benih tidak dilakukan di satu tempat, tetapi di beberapa tempat agar benih tersebar merata.
Penebaran benih ikan bawal
PEMBERIAN PAKAN TAMBAHAN
Setelah 2 - 3 hari ditebar atau bila pakan alami sudah mulai berkurang, benih diberi pakan tambahan berupa tepung pelet atau pelet butiran. Tepung pellet dapat langsung ditebar ke kolam, sedangkan pellet butiran harus dihancurkan dulu sebelum ditebar. Pemberian pakan tambahan ini sebaiknya dilakukan 3 kali sehari, yaitu pagi, siang, dan sore hari. Tujuannya agar pakan yang diberikan dapat dimanfaatkan semua, Jumlah pakan yang diberikan sebanyak 3 % per hari dari berat benih. Benih yang berukuran ¼ - ½  inci rata-rata mempunyai berat 0,5 g/ekor. 
Pemberian pakan
PENGONTROLAN
Setiap hari sebaiknya dilakukan pengontrolan terhadap kolam, pengairan, dan kondisi ikan. Bila ada bocoran pada pematang segera diperbaiki agar ketinggian air dan kesuburan kolam dapat dipertahankan. Air yang masuk ke kolam harus kontinyu dengan debit air sekitar  0,25 - 0,50 1/dtk. Air ini uncuk mengganti air yang hilang akibat penguapan. Kondisi ikan juga harus selalu dikontrol agar bila ada yang sakit dapat segera ditangani,  baik dengan pencegahan maupun pengobatan.    

PEMANENAN
Masa pemeliharaan bawal di kolam pendederan ini sebaiknya tidak terlalu lama, maksimal 1 bulan, karena keadaan kolam sudah tidak cocok lagi, Oleh karenanya, bawal harus dipanen. Pemanenan bawal dilakukan dengan cara menyurutkan air secara perlahan-lahan sampai 10 - 20 cm. Benih ditangkap sedikit demi sedikit dengan menggunakan waring.
Panen benih ikan bawal
Benihnya dimasukkan ke dalam ember dan ditampung dalam hapa yang dipasang tidak jauh dari tempat panen. Bila sudah ditangkap semua, benih dipindahkan ke bak penampungan benih yang ada di hatchery untuk ditangani lebih lanjut. Bila kondisinya baik dan tidak ada kendala, benih yang di hasilkan dari pendederan satu dapat mencapai panjang 2 - 3 inci (5  g),  sedangkan benih  dari pendederan  dua  dapat  mencapai 4 - 5 inci dengan berat rata-rata 25 g/ekor.


Sumber : Aripudin, M.Tr.Pi. Teknik Pendederan Ikan Bawal

Semoga Bermanfaat...

Friday, March 27, 2020

Teknik Pengolahan Tepung Ikan

Tepung ikan adalah sebuah produk komersial yang kebanyakan terbuat dari ikan yang tak ditujukan untuk konsumsi manusia. Tepung ikan umumnya dipakai untuk dijadikan pakan hewan ternak dalam peternakan. Karena tinggi akan kalori dan murah untuk diproduksi, tepung ikan memainkan peran penting dalam pertumbuhan industri pertanian.
Tepung ikan
Ada beberapa cara dalam mengolah ikan agar menjadi tepung ikan yaitu :
  1. Pengeringan Langsung
  2. Pengeringan Dengan Re-Sirkulasi
  3. Cara Reduksi
  4. Cara Whole Meal
  5. Cara Reduksi Kering
  6. Ekstraksi Dengan Bahan Pelarut
  7. Ekstraksi Basah

PENGERINGAN LANGSUNG
  1. Sebaiknya ikan dicincang terlebih dahulu untuk mempercepat proses pengeringa.
  2. Sebaiknya dipakai alat pengering mekanis (artificial dryer) mutu dan warna cukup baik.
  3. Bisa juga dengan pengeringan sinar matahari, tepung ikan menjadi berwarna lebih gelap karena pengeringannya lebih lambat dan kemungkinan akan terjadi proses ketengikan lebig cepat.

PENGERINGAN DENGAN RE-SIRKULASI
  1. Ikan yang telah dimasak tidak perlu lagi dimampatkan/dipres dan untuk menghindari adanya gumpalan yang mempersulit pada saat pengeringan->dilakukan pengeringan bertingkat yaitu tepung ikan setengah kering dicampur dengan bagian yang baru dimasak.
  2. Perbandingan campuran harus tepat agar dihasilkan tepung ikan yang berkadar air cukup rendah->mempermudah pada saat proses pengeringan.
  3. Apabila kadar lemak bahan baku agak tinggi->sebelum dikeringkan sebaiknya dimampatkan dulu->pengeringan tahap kedua kadar lemak tepung sudah cukup rendah.

CARA REDUKSI 
  1. Tahapan proses terdiri dari : pemasakan,pemampatan dan pengeringan dan kadang-kadang diikuti dengan pengolahan minyak ikan dari liquor hasil pemampatan
  2. Pemasakan merupakan tahap yang menentukan; tingkat pemasakan harus tepat sehingga seluruh bahan baku menggumpal/terkoagulasi; memudahkan dalam pemampatan dan menghasilkan press cake  yang berkadar air dan lemak cukup rendah dan juga memudahkan dalam pemisahan minyak dari cairan
  3. Press cake/tepung ikan padat hendaknya dihancurkan/digiling untuk memudahkan dalam proses pengeringan dengan pengering mekanis
  4. Tepung ikan yang sudah kering sebaiknya mengandung kadar air 8-10%; kemudian digiling dan dikemas lalu disimpan
  5. Cara pemisahan minyak dari air dalam liquor dengan penyaringan agar terpisah dari benda-benda padat liquor  dialirkan ke unit pemisah minyak
  6. Cara modern dengan unit sentrifugal karena putaran yang cepat  maka minyak akan terpisah dari air maupun cairan lainnya

CARA WHOEL MEAL 
  1. Didalam liquor terdapat kira-kira 20% bagian padatan yang sebenarnya dapat dijadikan tepung ikan.
  2. Caranya liquor dipekatkan->cairan hasil pemekatan ditambahkan pada tepung ikan dan jadilah tepung ikan yang disebut whole meal.
  3. Pemanfaatan glue water  ( cairan kental yang diperoleh dari liquor yang telah dipisahkan dari minyak) terdapat vit.B yang larut dalam air dari pengolahan glue water dihasilkan fish- soluble caranya dengan memampatkan glue water sampai kadar solidnya mencapai 50% memisahkan dari kelebihan lemak dan cairan sisa (sludge) serta dilakukan pengasaman (acidification)
  4. Cara penggunaan fish soluble untuk menghasilkan whole meal dengan mencampurkan pada press cake pemanfaatan bahan mentah mencapai 100%

REDUKSI KERING 
  1. Ikan dikeringkan dalam keadaan hampa /vacuum tidak memerlukan suhu tinggi tepung ikan yang dihasilkan bergizi tinggi karena komponen penting tidak rusak oleh pemanasan
  2. Pengeringan harus dihentikan pada saat kadar air mencapai kira-kira 8%apabila < 8% kandungan minyak tidak dapat diproses dengan baik
  3. Pemisahan minyak dilakukan secara hydraulisis dan press cake yang dihasilkan berkadar air sampai 10%

EKSTRASI DENGAN BAHAN PELARUT 
  1. Solvent extraction ditujukan untuk memisahkan minyak dari tepung ikan yang sudah dikeringkan dengan cara reduksi basah maupun reduksi kering.
  2. Bahan pelarut (solvent) yang dipakai adalah yang mudah menguap dan mudah melarutkan minyak.
  3. Ekstraksi dilakukan dengan mencampurkan tepung ikan kedalam bahan pelarut yang tidak mengandung lemak sampai tepung ikan kehabisan kandungan minyak dilewatkan pada bahan pelarut yang masih bersih untuk mendapatkan kadar minyak maksimum pada bahan pelarut sebelum diuapkan.
  4. Persentase minyak yang didapat adalah 1-2%.
  5. Tepung ikan berwarna terang dan tidak berbau bau bahan pelarut sudah dihilangkan dengan peniupan uap kering /dry steam.
  6. Tepung ikan initidak akan mengalami ketengikan dan kadar protein cukup tinggi mencapai 80%.
  7. Minyak biasanya berwarna hitam.

EKSTRASI BASAH 
  1. Bahan baku ikan/ sisa pengolahan ikan dalam keadaan basah dicampur dengan satu jenis pelarut minyak (fat solvent) yang mempunyai titik didih tinggi dan larut dalam air campuran ini dipanaskan secata tidak langsung dengan uap.
  2. Sebagian bahan pelarut akan menguap bersama uap air kemudian mengembun dikembalikan pada proses pengolahan.
  3. Setelah bahan baku mencapai kadar air kira-kira 10% pengeringan dihentikan.
  4. Bahan pelarut dan minyak dipisahkan dengan proses destilasi.
  5. Jenis bahan pelarut yang sering dipakai trichlorothylene (bahan pelarut ini bersifat racun maka harus benar-benar dihilangkan dari tepung ikan

Sumber : Gilang Indra Gunawan, S.St.Pi, Macam Cara Pengolahan Tepung Ikan

Semoga Bermanfaat...