Kegiatan Penyuluhan

Kegiatan Penyuluhan Perikanan Bertujuan Meningkatkan Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan Pelaku Utama dan Pelaku Usaha Perikanan.

Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP)

P2MKP Memberdayakan Pelaku Utama Perikanan dan Masyarakat.

Pelatihan Kelautan dan Perikanan

Meningkatkan keterampilan para pelaku utama kelautan dan perikananm.

AUTO MATIC FEEDER

Solusi Memberi Makan Ikan Menjadi Mudah Dan Tepat.

Monday, August 6, 2018

Ikan Khas Sungai di Indonesia

Sungai adalah aliran air yang besar dan memanjang yang mengalir secara terus-menerus dari hulu (sumber) menuju hilir (muara). [wikipedia]. Perairan sungai menciptakan ekosistem tersendiri bagi makhluk hidup untuk berkembang biak.

Dari sekian banyak makhluk hidup yang memanfaatkan sungai untuk hidup dan berkembang biak, ikan air tawar merupakan makhluk hidup yang banyak ditemui di ekosistem sungai.

Ikan - ikan sungai merupakan jenis ikan yang hidup dan berkembang biak diperairan sungai. Beberapa jenis ikan sungai sudah diintroduksi sehingga dapat dipelihara secara intensif oleh manusia dengan menggunakan media kolam dan diberi pakan buatan seperti ikan tawes, ikan nilem, ikan mas, ikan nila, udang galah, sidat dan sebagainya.
Berbagai jenis ikan sungai [sumber]
Berbicara mengenai ikan sungai khas Indonesia saat ini banyak yang belum diintroduksi dan dibudidayakan secara intensif dikarenakan susah direproduksi dan belum bisa memanipulasi lokasi budidaya. Namun ikan - ikan tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan dan menguntungkan secara ekonomi. Apabila dilihat dipasaran harga ikan sungai rata - rata mempunyai harga jauh diatas ikan hasil budidaya, hal ini dikarenakan masih sedikitnya hasil tangkapan namun permintaan tinggi.

Dengan adanya peluang pengembangan ikan sungai tersebut sebaiknya kita mengenal terlebih dahulu jenis - jenis ikan sungai khas Indonesia yang memiliki potensi untuk dikembangkan dan memiliki keuntungan secara ekonomi.

Berikut adalah beberpa jenis ikan - ikan sungai khas Indonesia :
1. Ikan Balar / Lalawa
2. Ikan Hampala
3. Ikan Baung
4. Ikan Gabus
5. Ikan Jeler / Uceng

 Semoga Bermanfaat...

Friday, August 3, 2018

Syarat Teknis Kultur Artemia

Lokasi untuk budidaya zooplankton terutama artemia harus memiliki sumber air laut yang mampu memasok secara mudah dan kontinu serta memenuhi persyaratan baik secara kualitas maupun kuantitas. Lokasi yang digunakan untuk budidaya pakan hidup harus bebas dari bahaya banjir, erosi dan bebas dari pencemaran.
Kultur artemia [sumber]
Umumnya, untuk budidaya dengan air statis atau sistem sirkulasi tertutup, air lautan atau samudera lebih cocok daripada air di tepi pantai karena adanya sedikit kandungan minyak dan zat organik yang memungkinkan untuk membahayakan binatang. Untuk mengurangi koloni bakteri pada air dan pertumbuhan bakteri dari budidaya zooplankton, antibiotik seperti penisilin atau streptomisin terkadang digunakan. Tetapi, efek dari perbandingan dosis yang diberikan tidak perlu dipelajari untuk beberapa banyak binatang.

SYARAT FISIKA DAN KIMIA 
Persyaratan fisika-kimia antara lain  seperti suhu, salinitas, ph, DO, amonia, nitrat dan nitrit untuk pertumbuhan optimal kutur zooplankton yaitu:
Standar kualitas air untuk kultur artemia
SALINITAS
Salinitas merupakan salah satu faktor pembatas yang sangat penting dalam budidaya Artemia, terutama dalam menghasilkan kista. Tingkat keberhasilan produksi kista Artemia di tambak garam ditentukan oleh tingginya salinitas yang berperan sangat penting sebagai penentu pencapaian pembentukan. kista. Kista Artemia dapat diproduksi dengan menggunakan media salinitas tinggi karena salinitas yang tinggi dapat menyebabkan peningkatan sintesa haemoglobin yang merupakan salah satu unsur utama dalam pembentukan cangkang atau korion pada kista Artemia. Pada salinitas 90-200 ‰, Artemia baru dapat menghasilkan kista. Sedangkan pada salinitas < 85 ‰ Artemia akan memproduksi nauplius. Akibatnya keberhasilan pemeliharaan Artemia untuk memproduksi kista akan mencapai maksimal apabila media ada pada salinitas yang optimal. 
Air laut merupakan media alami penetasan kista artemia [sumber]
Salinitas dapat berfluktuasi karena pengaruh penguapan dan hujan. Salinitas dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangbiakan zooplankton. Pada kisaran salinitas yang tidak sesuai berpengaruh terhadap tingkat kelangsungan hidupnya dan pada tingkat pertumbuhan. Salinitas air laut yg digunakan bekisar antara 30-50 ppt.

SUHU
Suhu yang optimal digunakan untuk kultur zooplankton terutama artemia bekisar antara 25-30oC. Suhu secara langsung berpengaruh terhadap metabolisme organisme air. Pada suhu tinggi metabolisme terpacu, sedangkan pada suhu rendah metabolisme lambat. 
Suhu optimal untuk penetasan kista artemia pada kisaran 25 - 30 derajat celcius [sumber]
Suhu air yang tinggi dan terlalu rendah mengakibatkan kelarutan oksigen dalam air rendah. Pengaruh langsung suhu terhadap kehidupan di laut adalah pada laju fotosintesa tumbuh-tumbuhan dan proses fisiologi hewan khususnya PH, metabolisme dan proses reproduksi.

pH
Salah satu parameter lingkungan penting yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan keberadaan organisme air termasuk zooplankton adalah PH. Dekomposisi bahan organik dan respirasi akan menurunkan kandungan oksigen terlarut, yang berdampak pada meningkatnya kadar CO2 bebas sehingga mengakibatkan menurunnya PH air. Kematian organisme perairan dapat terjadi pada PH 4,0 dan PH 11,0. Beberapa contoh yang diakibatkan oleh pengaruh PH:
pH optimal pada penetasan kista artemia pada kisaran 7,5 - 8,5 [sumber]
  1. Amonia bersifat racun bagi ikan dan organisme lainnya, perbandingan amonia dan amonium tergantung pada PH.
  2. CO2  juga racun bagi ikan, perbandingan hidrogen karbonat CO2 juga tergantung PH.
  3. Fertilitas telur dan zooplankton sangat tergantung pada PH.
  4. Pada PH rendah, iktan logam berat dengan tanah sangat cepat bereaksi dan mudah terlepas.

PH yang optimal digunakan untuk kultur zooplankton terutama artemia yaitu berkisar antara 7,5 - 8,5, Cholik dan Daulay (1985).

OKSIGEN TERLARUT (DO)
Oksigen terlarut dalam perairan sangat dibutuhkan organisme yang ada di dalamnya untuk pernafasan dalam rangka melangsungkan metabolisme tubuh mereka. Oksigen terlarut dalam air dapat melalui difusi dari udara bebas.

Oksigen terlarut dalam air berpengaruh pada penetasan kista artemia [sumber]
Dalam penentuan persyaratan kultur zooplankton kandungan oksigen perairan bukan merupakan faktor utama, karena dalam operasionalnya kebutuhan akan oksigen dapat dipenuhi dengan menggunakan blower.

AMONIAK DAN NITRIT
Amonia (NH2) yang terkandung dalam suatu perairan merupakan salah satu hasil dari proses penguraian bahan organik. Amonia ini berada dalam dua bentuk yaitu amonia tak berion (NH3) dan amonia berion (NH4). 
Amoniak dapat membahayakan pada saat kultur artemia [sumber]
Amonia tak berion bersifat racun sedangkan amonia berion tak beracun. Tingkat peracunan amonia tak berion berbeda untuk setiap  spesies, tetapi pada kadar 0,6 ppm dapat membahayakan organisme tersebut.

Sumber : Paper Kulur Artemia

Semoga Bermanfaat...

Friday, July 20, 2018

Kebiasaan Makan Artemia Salina

Artemia adalah binatang yang sederhana cara makannya, yaitu dengan menyaring makannya atau disebut non-selective filter feeder, maka Artemia akan terus menerus memakan apa saja yang ukurannya lebih kecil dari 50 μm.
Artemia salina [sumber]
Makanan Artemia di alam adalah detritus bahan organik dan ganggang renik (ganggang hijau, ganggang biru, cendawan atau ragi laut). Beberapa jenis ganggang hijau yang sering dijadikan makanan oleh Artemia antara lain Euglena, Dunaliella salina dan Cladophora sp. Seluruh partikel suspensi yang mungkin dapat dimakan oleh artemia secara terus menerus akan diambil dari media kultur dengan gerakan terakopoda yang mempunyai fungsi ganda sebagai respirasi dan pengumpul makanan sehingga tidak ada alternative lain bagi artemia untuk terus menerus menyaring makanan.

Artemia memakan sesuatu yang berasal dari bahan hidup (misal detritus organik dari perairan hutan bakau) dan organisme hidup pada kisaran ukuran yang sesuai bukaan mulut (bakteri dan mikro alga). 

Sumber : Paper Kultur Artemia

Semoga Bermanfaat...

Wednesday, July 18, 2018

Kebiasaan Hidup (Ekologi) Artemia Salina

Artemia dapat tumbuh cepat pada perairan laut, tetapi tidak mempunyai pertahanan tubuh yang mampu melawan predator. Namun demikian, artemia memiliki mekanisme pertahanan ekologik yang sangat efisien melalui adaptasi fisiologik terhadap media hidup yang bersalinitas tinggi, sehingga predator tidak dapat hidup. Artemia memiliki sistem osmoregulasi yang terbaik diantara binatang. Disamping itu, artemia mampu mensintesis pigmen respirasi atau hemoglobin untuk mengatasi kandungan oksigen rendah pada alinitas tinggi. Dengan demikian artemia mempunyai kemampuan menghasilkan kista yang tahan terhadap kondisi lingkungan yang ekstrim.
Artemia salina [sumber]
SUHU
Artemia tidak dapat bertahan hidup pada suhu kurang dari 6oC atau lebih dari 35oC. Akan tetapi, hal ini tergantung pada ras dan kebiasaan tempat hidup mereka. Kista yang kering dapat lebih tahan terhadap perubahan suhu, artemia yang kering dapat tahan pada suhu -273 derajat C sampai 100 derajat C tetapi untuk telur basah tidak demikian halnya.

KANDUNGAN ION
Daya tahan artemia terhadap perubahan kandungan ion kimia dalam air sangat tinggi.apabila kandungan ion natrium (Na+) dibandingkan dengan ion kalium (K+) di dalam air laut alami adalah 28, maka artemia masih dapat bertahan pada perbandingan 8-173. Untuk ion klor (CL) dan karbonat (CO3) di dalam air laut perbandingannya 137. Sedangkan artemia dapat bertahan pada perbandingan antara 101-810. Perbandingan ion klor (CL-) dan ion sulfat (SO4) did dalam air laut sekitar 7. Sedangkan artemia dapat bertahan pada perbandingan 0,5-90.

KADAR GARAM
Untuk perkembangan artemia  membutuhkan kadar garam tinggi. Sebab, pada kadar garam tinggi musuh-musuh bagi artemia tidak dapat hidup lagi, sehingga mereka dapat hidup lebih aman tanpa gangguan. Pada umumnya musuh-musuh artemia sudah mati jika memiliki kadar air garam 80-100 permil. Walaupun demikian terdapat jenis ikan yang belum mati pada kadar garam antara 100-130 permil. Untuk pertumbuhan telur (kista), ternyata dibutuhkan kadar garam yang rendah. Apabila kadar garam lebih tinggidari 85 permil, maka telurnya tidak akan menetas. Sebabnya adalah tekanan osmose di luar telur lebih tinggi, sehingga telurnya tidak dapat menyerap air yang cukup untuk proses metabolismenya (Mudjiman, 1989). Kultur biomassa Artemia yang baik pada kadar garam antara 30-50 ppt. Untuk Artemia yang mampu menghasilkan kista membutuhkan kadar garam diatas 100 ppt.

OKSIGEN TERLARUT
Artemia hidup pada kadar oksigen terlarut antara 1,67-6,21 ml/l, di daerah Tuticorin (India). Yang dikehendaki oleh artemia agar dapat hidup lebih baik, kadar oksigen terlarutnya harus mendekati titik kejenuhan yaitu sekitar 3 ml/l. Artemia sangat pandai menyesuaikan diri terhadap perubahan kadar oksigen, sifat hewan yang demikian disebut dengan euroksibon.

ASAM BASA (pH)
Artemia terdapat pada perairan netral atau sedikit basa (lebih dari 7). Di Tuticorin (India), artemia dapat hidup pada kisaran PH 7,8 - 8,4.  Sebenarnya pengaruh PH terhadap kehidupan artemia muda dan dewasa masih belum jelas. Yang sudah jelas adalah pengaruh PH terhadap penetasan kista. Apabila PH air untuk penetasan artemia kurang dari 8, maka efisiensi penetasan akan menurun.

Sumber : Paper Kultur Artemia Salina

Semoga Bermanfaat..

Monday, July 16, 2018

Morfologi Artemia Salina

Saat ini telur artemia sudah diproduksi secara massal oleh perusahaan pakan ikan yang tujuannya tentu untuk mensuplai pakan bagi larva ikan. Telur - telur artemia dipasarkan dalam wadah kaleng yang dapat bertahan hingga bertahun - tahun. Pada saat akan digunakan baru telur artemia ditetaskan menggunakan air laut /larutan garam sehingga memudahkan pembudidaya ikan dalam penyediaan pakan larva ikan.

Berikut tahapan sikuls hidup artemia dimulai dari telur hingga dewasa.

1. Kista / Telur
Telur artemia atau kista berbentuk bulat berlekuk dalam keadaan kering dan bulat penuh dalam keadaan basah. Warnanya coklat yang diselubungi oleh cangkang yang tebal dan kuat . Kista merupakan telur yang telah berkembang menjadi embrio yang diselubungi oleh cangkang yang tebal dan kuat. Cangkang ini berguna untuk melindungi embrio terhadap pengaruh kekeringan, benturan keras, sinar ultra violet, dan mempermudah pengapungan . Kista merupakan telur yang terbungkus korion, kista dapat diartikan sebagai telur yang mengalami fase cryptobiosis (fase tidur atau istirahat). 

Telur artemia dalam bentuk kista berwarna coklat dengan garis tengah antara 200-300 µm, berat antara 1,60-2,22 µg. Jika dimasukan kedalam air laut, kista kering yang berbentuk cekung akan mengalami hidrasi menjadi berbentuk bulat penuh dan mulai terjadi metabolisme embrio dalam cangkang. 

Kista ini disimpan dalam kantong telur atau uterus dengan jumlah berkisar 38-45 butir kista dalam satu individu betina. Perkembangan warna kista dalam uterus di tubuh induknya dimulai dari warna putih, menjadi hijau muda, biru dan selanjutnya coklat tua.

Pada salinitas 90-200 ‰, Artemia dapat menghasilkan kista. Sedangkan pada salinitas < 85 ‰ Artemia akan memproduksi nauplius. Akibatnya keberhasilan pemeliharaan Artemia untuk memproduksi kista akan mencapai maksimal apabila media ada pada salinitas yang optimal. 

Penampang kista artemia menunjukan dari luar ke dalam lapisan-lapisan korion, kutikula embrio dan embrio atau calon nauplius. Lapisan korion yang keras dan berwarna coklat terdiri dari lapisan epidermis, lapisan kortikal dan lapisan alveolar.
Lapisan cangkang telur/kista Artemia salina
Lapisan korion berfungsi sebagai pelindung terhadap gangguan mekanik, lapisan kutikula embrio berfungsi sebagai pelindung embrio dari goncangan mekanik dan sebagai sumber enzim tahalose yang membantu dalam proses penetasan. Diantara kedua lapisan korion dan kutikula embrio terdapat selaput luar kutikula embrio. Setelah 15-20 jam pada suhu 25oC kista akan menetas menjadi embrio. Artemia selama masa hidupnya yang sekitar 50 hari dalam kondisi super ideal bisa memproduksi kista sebanyak 300 butir per 4 hari.

2. Pre Nauplius
Setelah 24 jam, cangkang kista akan pecah (breaking stage atau E-1) dan akan muncul embrio yang dikelilingi oleh selaput penetasan. Dalam beberapa jam, embrio meninggalkan cangkang kista dan bergantung dibawah cangkang yang kosong dalam keadaan masih melekat (umberella stage atau E-2).

Perkembangan naupli Artemia salina
Di dalam selaput penetasan, nauplius berkembang sempurna dan anggota badan mulai bergerak. Dalam waktu singkat, selaput penetasan pecah dan muncul nauplius yang berenang bebas.

3. Nauplius
Anderson (1967) dalam Cholik dan Daulay (1985) menggambarkan 10 stadia larva artemia :
Stadia I panjangnya antara 450-475 µm dan berwarna jingga kecoklatan karena masih mengandung kuning telur, mempunyai 3 pasang anggota badan yaitu (1) antena sensor kecil yang disebut antena pertama, (2) antena yang berkembang sempurna yang mempunyai alat gerak dan berfungsi sebagai penyaring makanan, dan (3) mandibula yang belum sempurna. Mata nauplius berwarna merah terletak pada bagian kepala diantara antena pertama. Pada stadia I artemia belum dapat mengambil makanan karena sistem pencernaan belum berfungsi (mulut dan anus masih tertutup). Pada suhu 20oC stadia I berlangsung selama 20 jam.

Stadia II panjangnya 630 µm dan nampak lebih bening.makanan yang berukuran partikel kecil (algae, bakteria dan detritus) yang ukurannya berkisar antara 1-40 µm akan disaring oleh antena kedua dan dicerna di dalam saluran pencernaan, Stadia ini berlangsung selama 10 jam.

Stadia III berukuran sekitar 725 µm, saluran pencernaan tampak jelas, kuning telur yang dikandungnya jauh berkurang. Tiga ruas pertama dari tubuhnya semakin nyata dan 3 ruas berikutnya mulai nampak sebagai lingkaran, telson sudah mulai nampak. Stadia ini berlangsung selama 40 jam.

Stadia IV panjangnya sekitar 800 µm. Dapat dibedakan dengan jelas, perkembangan duri yang terletak pada ujung eksopod dari antena telah sempurna. Duri ini dapat digerak-gerakan. Perkembangan lain yaitu pembentukan maksilula dan maksila.
Stadia Artemia salina [sumber]
Artemia tumbuh melalui sekitar 15 ganti kulit, yaitu (1) truncus dan perut memanjang, (2) anggota badan lobular yang berpasangan yang muncul pada bagian truncus dan akan berkembang menjadi thorakopoda dan (3) bagian lateral mata yang berkembang pada kedua sisi mata nauplius.

Perubahan morfologi masih terjadi sebelum artemia menjadi dewasa. Sejak instar ke-10 perubahan-perubahan morfologi yang terpenting antara lain hilangnya fungsi antena sebagai alat gerak dan perubahan bentuk menunjukan terjadinya perbedaan kelamin jantan dan betina. Kaki berkembang menjadi bagian-bagian yang fungsinya berbeda-beda, yaitu menjadi telopodit yang berfungsi sebagai saringan, endopodit untuk bergerak dan eksopodit untuk pernapasan.

4. Dewasa
Setelah stadia X artemia menjadi dewasa. Waktunya berkisar 7- 15 hari tergantung pada keadaan lingkungan. Perubahan morfologi yang tampak setelah artemia menjadi dewasa adalah terbentuknya mata, antenula, alat pencernaan yangmemanjang dan 11 pasang thorakopoda. Perbedaan antara artemia jantan dan betina yaitu pada artemia jantan terdapat alat penangkap dan sepasang penis yang terdapat dibagian belakang tubuhnya. Pada artemia betina, antena berfungsi sebagai alat peraba. Sepasang ovari terletak memanjang pada kedua sisi saluran pencernaan di belakang thorakopoda.
Morfologi Artemia salina
Perbedaan induk jantan dan betina Artemia salina

Sumber : Paper Kultur Artemia Salina

Semoga Bermanfaat...