Kegiatan Penyuluhan

Kegiatan Penyuluhan Perikanan Bertujuan Meningkatkan Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan Pelaku Utama dan Pelaku Usaha Perikanan.

Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP)

P2MKP Memberdayakan Pelaku Utama Perikanan dan Masyarakat.

Pelatihan Kelautan dan Perikanan

Meningkatkan keterampilan para pelaku utama kelautan dan perikananm.

AUTO MATIC FEEDER

Solusi Memberi Makan Ikan Menjadi Mudah Dan Tepat.

Friday, August 10, 2018

Mengenal Jenis Kepiting Beracun

Bicara mengenai kepiting, biasanya kita akan mengacu pada kepiting yang bisa dikonsumsi, misalnya kepiting bakau (Scylla spp.) atau rajungan (Portunus pelagicus). Namun, sebenarnya di dunia ini banyak sekali jenis kepiting, baik itu kepiting dari kelompok Brachyura ataupun Anomura. Brachyura merupakan kelompok kepiting sejati, memiliki 4 pasang kaki gerak yang berkembang sempurna, sedangkan Anomura merupakan kelompok kepiting ‘semu’, hanya memiliki 3 pasang kaki gerak yang berkembang sempurna – kaki gerak keempat sangat kecil atau sulit terlihat.

Dari semua spesies yang sekarang dikenal, sesungguhnya hanya beberapa saja yang bisa dikonsumsi. Bahkan, beberapa spesies kepiting diketahui sebagai spesies yang beracun. 

Racun Dalam Tubuh Kepiting
Beberapa jenis racun yang telah diketahui terkandung dalam tubuh kepiting adalah domoic acid, okadaic acid, palytoxin, tetrodotoxin, saxitoxin, neosaxitoxin, surugatoxin, brevetoxin, nereistoxin, dan gonyautoxin. Selain palytoxin, semua racun tersebut termasuk dalam kelompok neurotoxin, yaitu racun yang beraksi terhadap sel saraf, dan biasanya berinteraksi terhadap protein membran.

Domoic acid adalah racun yang bersifat asam. Nama ‘domoic’ berasal dari kata ‘doumoi’, yaitu istilah lokal bahasa Jepang dari alga merah Chondria armata. Menurut Horner (publikasi tahun 1996), racun ini diketahui dapat terakumulasi pada jaringan kepiting dan kerang-kerangan.

Okadaic acid memiliki cara kerja yang mirip dengan domoic acid. Istilah okadaic diambil dari spons laut Halichondria okadai. Namun, penghasil racun ini yang sesungguhnya adalah alga dari kelompok Dinophyta. Meskipun demikian, ternyata racun ini juga dapat terkandung dalam tubuh kepiting.

Palytoxin pertama kali diketahui terdapat pada ikan yang mengkonsumsi zoanthid Palythoa, organisme mirip anemon. Palitoksin bekerja dengan cara membentuk saluran membran baru yang melebihi normal sehingga transpor ion menjadi tidak terkontrol dan menyebabkan malfungsi sel serta jaringan tubuh.

Tetrodotoxin (TTX) dideteksi pertama kali pada ikan suku Tetraodontidae. Racun ini juga merupakan neurotoksin dengan mekanisme penghambatan transpor ion natrium.

Saxitoxin (STX) merupakan senyawa racun nonprotein, bersifat larut air dan juga memiliki efek penghambatan transpor ion natrium. Racun ini memiliki efek yang setara dengan TTX. Menurut Groves dkk (1980), STS dan TTX dihasilkan oleh Dinophyta, meski dapat ditemukan pula pada berbagai macam biota laut.

Racun-racun lain seperti Neosaxitoxin (neoSTX), Brevetoxin, Surugatoxin, Nereistoxin, dan Gonyautoxin juga merupakan neurotoksin yang dapat ditemukan dalam tubuh kepiting meski dalam jumlah yang sedikit. Racun-racun ini juga ditemukan dalam tubuh hewan lain seperti kerang dan cacing laut.

Mengapa kepiting menjadi beracun?

Jika kita melihat klasifikasi racun-racun tersebut, dapat diambil kesimpulan sementara bahwa sesungguhnya penghasil racun-racun tersebut bukanlah spesies kepiting. Beberapa racun bahkan dihasilkan oleh spesies alga. Jadi, bagaimana bisa kepiting menjadi beracun?

Menurut Ng (1998), kepiting beracun dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu beracun permanen (sifat toksisitas permanen) dan temporer. Kepiting-kepiting tersebut umumnya merupakan anggota dari suku Xanthidae. Kepiting yang diketahui bersifat beracun permanen adalah Lopozozymus pictor, Demania spp., Zosimus aeneus, Platypodia granulosa dan Atergatis floridus. Sementara itu, kepiting-kepiting yang bersifat beracun temporer contohnya adalah Atergatis integerrimus dan Atergatis spp. (semua spesies Atergatis kecuali Atergatis floridus). Kepiting kategori beracun temporer ini tingkat toksisitasnya tergantung pada habitatnya.
Beberapa jenis kepiting yang memiliki racun
Sampai saat ini paling tidak ada dua hal yang diyakini dapat menjadi penyebab kepiting menjadi beracun, yaitu:
(1) Kontaminasi dan akumulasi racun dari konsumsi makanan,
(2) Pengaruh habitat (terutama keberadaan bakteri, alga dan organisme penghasil racun).

Beberapa penelitian pada dua atau tiga dekade yang lalu menyebutkan bahwa sumber makanan utama dari spesies kepiting beracun adalah Dinophyta, kerang-kerangan (Bivalvia dan Gastropoda), cacing (Polychaeta) serta beberapa spesies alga. Pola konsumsi semacam ini dapat menyebabkan kepiting mengakumulasi racun-racun tersebut karena ternyata racun-racun seperti TTX, STX dan okadaic acid diketahui dihasilkan oleh Dinophyta.

Pertanyaan menarik adalah, bagaimana racun-racun dari makanan tersebut dapat terakumulasi dan mengapa justru tidak menyebabkan keracunan pada kepiting-kepiting tersebut. Mekanisme eksositosis dan endositosis diduga kuat menjadi jalan bagi zat racun terakumulasi dalam tubuh kepiting. Ng (1998) menyampaikan bahwa senyawa racun paling banyak ditemukan pada organ hati usus dan gonad kepiting. Lehane (2000) menyampaikan keterangan dari penelitian Negri dan Llewllyn bahwa beberapa spesies dari suku Xanthidae memiliki mekanisme pertahanan terhadap racun (STX, TTX dan turunanna). Mekanisme ini adalah dengan menghasilkan protein haemolimph yang secara farmakologi sama dengan saxiphilin, yaitu senyawa yang dapat mengikat racun.

Habitat juga mempengaruhi tingkat toksisitas kepiting, terutama kepiting-kepiting yang bersifat beracun temporer. Keberadaan alga, bakteri dan organisme penghasil racun pada suatu habitat dapat berperan penting sebagai penyebab kepiting (dan juga hewan lain seperti kerang dan ikan) menjadi beracun. Bakteri seperti Pseudomonas sp.,Alteromonas sp., Moraxella sp., dan Acinetobacter sp. diketahui juga mampu menghasilkan STX dan neoSTX secara otonom. Bakteri lain dari kelompok Vibrionaceae diketahui dapat menghasilkan TTX. Bakteri-bakteri ini dapat berasosiasi dengan kepiting (misalnya bersimbiosis dan hidup pada bagian di bawah karapas kepiting) dan menyebabkan meningkatnya toksisitas kepiting tersebut.

Selanjutnya, peristiwa meledaknya populasi alga berbahaya (terutama yang dapat memproduksi racun) pada suatu habitat kepiting juga dapat menjadi penyebab meningkatnya toksisitas kepiting. Kepiting-kepiting suku Xanthidae umumnya memiliki perilaku ‘malas’ bergerak sehingga daerah jelajahnya terbatas. Jika habitatnya sedang mengalami ledakan populasi alga penghasil racun, sifat ‘malas’ bergerak ini akan meningkatkan peluang kontaminasi dan akumulasi senyawa beracun dalam tubuh kepiting.

Sumber : Rubrik Biologi.Majalah 1000 Guru. August 2013

Semoga Bermanfaat...

Wednesday, August 8, 2018

Mengenal Kepiting


Kepiting merupakan hewan yang termasuk dalam subfilum Crustacea ordo Decapoda (yang berarti “berkaki sepuluh” dan mengacu pada 10 alaat gerak). Kepiting dapat dibagi menjadi dua kelompok utama, yaitu kepiting Brachyura (kepiting yang sebenarnya) dan kepiting Anomura (kepiting “semu”). Semua spesies kepiting Brachyura dapat dengan mudah dibedakan dari kepiting Anomura. Kepiting Brachyura pada umumnya memiliki 4 pasang kaki gerak yang berkembang dengan baik, sedangkan kepiting Anomura hanya memiliki 3 pasang kaki gerak. Kaki gerak keempat dari kepiting Anomura sangat kecil dan sulit dilihat.
Liocarcinus vernalis, salah satu contoh Brachyura [sumber]
Selain ciri umum yang disebutkan di atas, ada juga beberapa kepiting Brachyura yang memiliki kaki gerak keempat tereduksi, seperti kepiting dari famili Dynomenidae dan Retroplumidae, atau bahkan hilang sama sekali, seperti kepiting dari famili Hexapodidae (penelitian Peter Ng pada 1998). Kemudian, satu hal lagi yang menjadikan kedua kelompok besar kepiting Brachyura dan Anomura adalah bahwa kepiting “semu” Anomura biasanya menggunakan cangkang kosong Gastropoda atau bambu sebagai ‘rumahnya’ yang melindungi bagian perut yang lunak (hasil penelitian Rahayu dan Wahyudi pada 2008). Contoh kepiting Brachyura adalah kepiting bakau (Scylla serrata) dan rajungan biru (Portunus pelagicus). Sementara itu, contoh kepiting “semu” Anomura adalah kepiting kelapa (Birgus latro) dan kumang (Coenobita spp).

Saat ini, pengumpulan data jumlah spesies kepiting baik Brachyura maupun Anomura masih belum lengkap. Sensus tahun 1951 oleh Fenner Chace Jr. melaporkan bahwa secara keseluruhan jumlah Brachyura dan Anomura masing-masing sebanyak 4.428 and 1.270 spesies. Dalam penelitian baru-baru ini, McLaughlin dkk. (2007) mencatat ada sekitar 1069 spesies Anomura dari superfamili Paguroidea saja. Raoul Serène pada tahun 1968 memperkirakan sekitar 1.000 spesies Brachyura berada di wilayah Indo-Malaya. Namun, jumlah ini semakin meningkat seiring dengan ditemukannya banyak spesies baru.
Pagarus bernhardus, salahsatu contoh Anomura [sumber]
Jumlah total Brachyura dan Anomura diperkirakan masing-masing sekitar 5.000-6.000 dan 1.500-2.000 spesies. Dari semua ini, daerah yang paling banyak dihuni oleh kepiting-kepiting tersebut adalah wilayah Pasifik Barat bagian tengah (termasuk Indonesia), yaitu sekitar 1.500-2.000 Brachyura (spesies air laut maupun air tawar). Selama kurun waktu dari 1999 sampai 2010, telah ditemukan 29 spesies baru Crustacea dari perairan laut Indonesia, 25 spesies di antaranya adalah kepiting (Brachyura dan Anomura). Hal ini berarti 2 spesies baru ditemukan dari perairan laut Indonesia setiap tahunnya, belum termasuk spesies air tawar.

Bagian-bagian tubuh kepiting Anomura serta Brachyura dalam bentuk gambar skema diberikan dalam tulisan ini. Sebagai catatan, istilah yang dipakai untuk menamakan bagian tubuh kepiting di sini adalah istilah yang umum digunakan di kalangan ilmiah internasional. Oleh karena itu, istilah-istilah tersebut diberikan padanan bahasa Indonesianya hanya jika dapat memudahkan pemahaman ataupun terdapat padanannya.
Bagian - bagian tubuh kepiting "semu" Anomura [Rahayu dan wahyudi, 2008]
Bagian tubuh utama kepiting Anomura adalah perisai (shield), perut (abdomen), serta organ gerak yang terdiri dari capit (cheliped) dan kaki gerak (pereopod 2, 3, 4, 5). Pereopod keempat dan kelima biasanya tereduksi. Organ gerak baik capit maupun pereopod terdiri dari bagian-bagian merus, propodus, dactyl.
Bagian - bagian tubuh Brachyura [Peter NG, 1998]
Bagian tubuh kepiting Brachyura yang utama terdiri dari karapas (carapace), perut (abdomen), capit (cheliped) dan kaki gerak (kaki gerak 1, 2, 3, 4). Perlu diperhatikan bahwa ada perbedaan penomoran kaki gerak untuk Anomura dan Brachyura sesuai dengan keumuman yang dipakai dalam deskripsi spesies pada publikasi ilmiah.

Sumber : Rubrik Biologi. Majalah 1000 Guru. June 2013.

Semoga Bermanfaat...

Monday, August 6, 2018

Ikan Khas Sungai di Indonesia

Sungai adalah aliran air yang besar dan memanjang yang mengalir secara terus-menerus dari hulu (sumber) menuju hilir (muara). [wikipedia]. Perairan sungai menciptakan ekosistem tersendiri bagi makhluk hidup untuk berkembang biak.

Dari sekian banyak makhluk hidup yang memanfaatkan sungai untuk hidup dan berkembang biak, ikan air tawar merupakan makhluk hidup yang banyak ditemui di ekosistem sungai.

Ikan - ikan sungai merupakan jenis ikan yang hidup dan berkembang biak diperairan sungai. Beberapa jenis ikan sungai sudah diintroduksi sehingga dapat dipelihara secara intensif oleh manusia dengan menggunakan media kolam dan diberi pakan buatan seperti ikan tawes, ikan nilem, ikan mas, ikan nila, udang galah, sidat dan sebagainya.
Berbagai jenis ikan sungai [sumber]
Berbicara mengenai ikan sungai khas Indonesia saat ini banyak yang belum diintroduksi dan dibudidayakan secara intensif dikarenakan susah direproduksi dan belum bisa memanipulasi lokasi budidaya. Namun ikan - ikan tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan dan menguntungkan secara ekonomi. Apabila dilihat dipasaran harga ikan sungai rata - rata mempunyai harga jauh diatas ikan hasil budidaya, hal ini dikarenakan masih sedikitnya hasil tangkapan namun permintaan tinggi.

Dengan adanya peluang pengembangan ikan sungai tersebut sebaiknya kita mengenal terlebih dahulu jenis - jenis ikan sungai khas Indonesia yang memiliki potensi untuk dikembangkan dan memiliki keuntungan secara ekonomi.

Berikut adalah beberpa jenis ikan - ikan sungai khas Indonesia :
1. Ikan Balar / Lalawa
2. Ikan Hampala
3. Ikan Baung
4. Ikan Gabus
5. Ikan Jeler / Uceng

 Semoga Bermanfaat...

Friday, August 3, 2018

Syarat Teknis Kultur Artemia

Lokasi untuk budidaya zooplankton terutama artemia harus memiliki sumber air laut yang mampu memasok secara mudah dan kontinu serta memenuhi persyaratan baik secara kualitas maupun kuantitas. Lokasi yang digunakan untuk budidaya pakan hidup harus bebas dari bahaya banjir, erosi dan bebas dari pencemaran.
Kultur artemia [sumber]
Umumnya, untuk budidaya dengan air statis atau sistem sirkulasi tertutup, air lautan atau samudera lebih cocok daripada air di tepi pantai karena adanya sedikit kandungan minyak dan zat organik yang memungkinkan untuk membahayakan binatang. Untuk mengurangi koloni bakteri pada air dan pertumbuhan bakteri dari budidaya zooplankton, antibiotik seperti penisilin atau streptomisin terkadang digunakan. Tetapi, efek dari perbandingan dosis yang diberikan tidak perlu dipelajari untuk beberapa banyak binatang.

SYARAT FISIKA DAN KIMIA 
Persyaratan fisika-kimia antara lain  seperti suhu, salinitas, ph, DO, amonia, nitrat dan nitrit untuk pertumbuhan optimal kutur zooplankton yaitu:
Standar kualitas air untuk kultur artemia
SALINITAS
Salinitas merupakan salah satu faktor pembatas yang sangat penting dalam budidaya Artemia, terutama dalam menghasilkan kista. Tingkat keberhasilan produksi kista Artemia di tambak garam ditentukan oleh tingginya salinitas yang berperan sangat penting sebagai penentu pencapaian pembentukan. kista. Kista Artemia dapat diproduksi dengan menggunakan media salinitas tinggi karena salinitas yang tinggi dapat menyebabkan peningkatan sintesa haemoglobin yang merupakan salah satu unsur utama dalam pembentukan cangkang atau korion pada kista Artemia. Pada salinitas 90-200 ‰, Artemia baru dapat menghasilkan kista. Sedangkan pada salinitas < 85 ‰ Artemia akan memproduksi nauplius. Akibatnya keberhasilan pemeliharaan Artemia untuk memproduksi kista akan mencapai maksimal apabila media ada pada salinitas yang optimal. 
Air laut merupakan media alami penetasan kista artemia [sumber]
Salinitas dapat berfluktuasi karena pengaruh penguapan dan hujan. Salinitas dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangbiakan zooplankton. Pada kisaran salinitas yang tidak sesuai berpengaruh terhadap tingkat kelangsungan hidupnya dan pada tingkat pertumbuhan. Salinitas air laut yg digunakan bekisar antara 30-50 ppt.

SUHU
Suhu yang optimal digunakan untuk kultur zooplankton terutama artemia bekisar antara 25-30oC. Suhu secara langsung berpengaruh terhadap metabolisme organisme air. Pada suhu tinggi metabolisme terpacu, sedangkan pada suhu rendah metabolisme lambat. 
Suhu optimal untuk penetasan kista artemia pada kisaran 25 - 30 derajat celcius [sumber]
Suhu air yang tinggi dan terlalu rendah mengakibatkan kelarutan oksigen dalam air rendah. Pengaruh langsung suhu terhadap kehidupan di laut adalah pada laju fotosintesa tumbuh-tumbuhan dan proses fisiologi hewan khususnya PH, metabolisme dan proses reproduksi.

pH
Salah satu parameter lingkungan penting yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan keberadaan organisme air termasuk zooplankton adalah PH. Dekomposisi bahan organik dan respirasi akan menurunkan kandungan oksigen terlarut, yang berdampak pada meningkatnya kadar CO2 bebas sehingga mengakibatkan menurunnya PH air. Kematian organisme perairan dapat terjadi pada PH 4,0 dan PH 11,0. Beberapa contoh yang diakibatkan oleh pengaruh PH:
pH optimal pada penetasan kista artemia pada kisaran 7,5 - 8,5 [sumber]
  1. Amonia bersifat racun bagi ikan dan organisme lainnya, perbandingan amonia dan amonium tergantung pada PH.
  2. CO2  juga racun bagi ikan, perbandingan hidrogen karbonat CO2 juga tergantung PH.
  3. Fertilitas telur dan zooplankton sangat tergantung pada PH.
  4. Pada PH rendah, iktan logam berat dengan tanah sangat cepat bereaksi dan mudah terlepas.

PH yang optimal digunakan untuk kultur zooplankton terutama artemia yaitu berkisar antara 7,5 - 8,5, Cholik dan Daulay (1985).

OKSIGEN TERLARUT (DO)
Oksigen terlarut dalam perairan sangat dibutuhkan organisme yang ada di dalamnya untuk pernafasan dalam rangka melangsungkan metabolisme tubuh mereka. Oksigen terlarut dalam air dapat melalui difusi dari udara bebas.

Oksigen terlarut dalam air berpengaruh pada penetasan kista artemia [sumber]
Dalam penentuan persyaratan kultur zooplankton kandungan oksigen perairan bukan merupakan faktor utama, karena dalam operasionalnya kebutuhan akan oksigen dapat dipenuhi dengan menggunakan blower.

AMONIAK DAN NITRIT
Amonia (NH2) yang terkandung dalam suatu perairan merupakan salah satu hasil dari proses penguraian bahan organik. Amonia ini berada dalam dua bentuk yaitu amonia tak berion (NH3) dan amonia berion (NH4). 
Amoniak dapat membahayakan pada saat kultur artemia [sumber]
Amonia tak berion bersifat racun sedangkan amonia berion tak beracun. Tingkat peracunan amonia tak berion berbeda untuk setiap  spesies, tetapi pada kadar 0,6 ppm dapat membahayakan organisme tersebut.

Sumber : Paper Kulur Artemia

Semoga Bermanfaat...

Friday, July 20, 2018

Kebiasaan Makan Artemia Salina

Artemia adalah binatang yang sederhana cara makannya, yaitu dengan menyaring makannya atau disebut non-selective filter feeder, maka Artemia akan terus menerus memakan apa saja yang ukurannya lebih kecil dari 50 μm.
Artemia salina [sumber]
Makanan Artemia di alam adalah detritus bahan organik dan ganggang renik (ganggang hijau, ganggang biru, cendawan atau ragi laut). Beberapa jenis ganggang hijau yang sering dijadikan makanan oleh Artemia antara lain Euglena, Dunaliella salina dan Cladophora sp. Seluruh partikel suspensi yang mungkin dapat dimakan oleh artemia secara terus menerus akan diambil dari media kultur dengan gerakan terakopoda yang mempunyai fungsi ganda sebagai respirasi dan pengumpul makanan sehingga tidak ada alternative lain bagi artemia untuk terus menerus menyaring makanan.

Artemia memakan sesuatu yang berasal dari bahan hidup (misal detritus organik dari perairan hutan bakau) dan organisme hidup pada kisaran ukuran yang sesuai bukaan mulut (bakteri dan mikro alga). 

Sumber : Paper Kultur Artemia

Semoga Bermanfaat...