Lalaukan

Informasi dunia kelautan dan perikanan serta kegiatan penyuluhan perikanan

Monday, June 15, 2020

Jenis - Jenis Ikan Hiu Yang Ada Di Indonesia [part 1]

Ikan Hiu adalah sekelompok (superordo Selachimorpha) ikan dengan kerangka tulang rawan yang lengkap dan tubuh yang ramping. Mereka bernapas dengan menggunakan lima liang insang (kadang-kadang enam atau tujuh, tergantung pada spesiesnya) di samping, atau dimulai sedikit di belakang, kepalanya. Hiu mempunyai tubuh yang dilapisi kulit dermal denticles untuk melindungi kulit mereka dari kerusakan, dari parasit, dan untuk menambah dinamika air. Mereka mempunyai beberapa deret gigi yang dapat digantikan. (sumber : wikipedia)

Perairan Indonesia memiliki keragaman jenis hiu yang cukup tinggi. Setidaknya 116 jenis hiu yang termasuk kedalam 25 suku ditemukan di wilayah perairan Indonesia. Namun kondisi saat ini menunjukkan bahwa hampir seluruh jenis hiu yang bernilai ekonomis telah dihadapkan kepada ancaman kelangkaan. Upaya pengelolaan diperlukan untuk menjamin keberlanjutan sumberdaya biota perairan tersebut. Salah satunya adalah dengan melakukan pendataan sumber daya sehingga potensinya dapat diketahui dan digunakan sebagai landasan untuk perbaikan kebijakan pengelolaannya.

Sebagai informasi berikut adalah jenis - jenis ikan hiu yang ada di Indonesia :
1. Carcharhinus amblyrhynchos
Nama lokasl : Hiu lonjor, Merak bulu (Lombok); Hiu lanjaman; Cucut lanjaman (Jawa)
Carcharhinus amblyrhynchos
CIRI KHUSUS:
  • Tepi sirip ekor bagian belakang berwarna hitam melebar; ujung sirip dada bagian bawah berwarna hitam
  • Gurat yang menonjol di antara sirip punggung tidak ada atau tidak jelas
  • Ukuran tubuh antara 70- 230 cm
HABITAT:
Hidup di perairan paparan benua, sering ditemukan di daerah terumbu karang, dekat tubir atau batas karang atol, dan di lepas pantai pada lapisan permukaan hingga kedalaman 280 meter.

SEBARAN DI INDONESIA:
Seluruh perairan karang terutama di kawasan timur Indonesia, Samudera Hindia, Laut Cina Selatan

STATUS KONSERVASI :
Near Threatened – Hampir Terancam

2. Carcharhinus brevipinna
Nama Lokal : Hiu plen (Bali); Hiu lonjor, Merak bulu (Lombok); Hiu lanjaman (Jawa), Hiu Bujit (Kalimantan)
Carcharhinus brevipinna
CIRI KHUSUS:
  • Ujung sirip punggung dan ekor berwarna hitam pada ikan dewasa tapi polos pada ikan muda
  • Tidak ada gurat yang menonjol di antara sirip punggung tidak ada
  • Terdapat gurat pada kedua sudut mulutnya
  • Ukuran tubuh antara 80- 280 cm
HABITAT:
Hidup di perairan paparan benua, mulai dari dekat pantai hingga perairan lepas pantai dengan kedalaman 75 meter

SEBARAN DI INDONESIA:
Samudera Hindia, Laut Cina Selatan, Selat Makassar, Laut Natuna, Laut Banda

STATUS KONSERVASI :
Near Threatened – Hampir Terancam

3. Carcharhinus dussumieri
Nama Lokal : Hiu lanjaman, Cucut lanjaman (Jawa)
Carcharhinus dussumieri
CIRI KHUSUS:
  • Sirip punggung pertama agak tinggi, segi tiga (tidak melengkung lancip)
  • Ujung sirip punggung kedua hitam (hingga setengah tinggi siripnya), sedangkan sirip yang lainnya polos
  • Ukuran tubuh antara 30-100 cm
HABITAT:
Umumnya hidup di perairan pantai pada dasar perairan hingga di kedalaman 170 m

SEBARAN DI INDONESIA:
Tersebar luas di perairan dangkal Indonesia (timur Sumatera, Kalimantan, utara Jawa, Sulawesi, utara Papua

STATUS KONSERVASI :
Near Threatened – Hampir Terancam

4. Carcharhinus falciformis
Nama Lokal : Hiu mungsing (Bali); Hiu lonjor (Lombok); Cucut lanjaman, Hiu lanyam (Jawa)
Carcharhinus falciformis
CIRI KHUSUS:
  • Terdapat gurat di antara sirip punggung
  • Pangkal sirip punggung pertama di belakang ujung belakang sirip dada, bagian atasnya membulat
  • Bagian belakang sirip punggung kedua panjang; 1.6–3.0 kali tinggi siripnya
  • Ukuran tubuh antara 50-350 cm
HABITAT:
Oseanik dan pelagis, tetapi lebh banyak terdapat di lepas pantai dekat dengan daratan; biasanya dekat permukaan, tetapi kadang dijumpai hingga kedalaman 500 m

SEBARAN DI INDONESIA:
Perairan Samudera Hindia, Selat Sunda, Selat Makassar, Laut Cina Selatan, Laut Banda

STATUS KONSERVASI :
Near Threatened – Hampir Terancam

5. Carcharhinus leucas
Nama Lokal : Hiu Kerbau; Hiu buas, Cucut bekeman (Jawa); Hiu bujit (Kalimantan)
Carcharhinus leucas
CIRI KHUSUS:
  • Moncong sangat pendek dan bulat melebar ; jarak dari ujung moncong ke mulut lebih pendek dari jarak antara lubang hidung
  • Tinggi sirip punggung pertama mencapai 3 kali tinggi sirip punggung kedua
  • Urat di antara sirip punggung tidak ada, tubuh terlihat gemuk
  • Ukuran tubuh antara 60- 400 cm
HABITAT:
Ditemukan di perairan pantai, estuaria, sungai dan danau berair payau, hidup di dekat dasar hingga kedalaman ~150 m

SEBARAN DI INDONESIA:
Tersebar luas di hampir seluruh wilayah perairan Indonesia

STATUS KONSERVASI :
Near Threatened – Hampir Terancam

Sumber : Fahmi dan Dharmadi. Buku Saku Pengenalan Jenis - Jenis Hiu di Indonesia. KKP. 2013

Semoga bermanfaat...

Friday, June 12, 2020

Pencegahan Pembusukan Pada Ikan

Kita telah mengetahui bahwa pembusukan ikan terutama disebabkan oleh enzym dan bakteri. Oleh karena itu untuk mencegah pembusukan, akan sangat efektif bila kedua penyebab utama itu disingkirkan dari ikan, dibunuh, dan dicegah kedatangan penyebab lain yang berasal dari luar. Pembusukan itu sendiri bagaimana pun tidak dapat dicegah atau dihindari. Sampai saat manusia baru berhasil untuk memperlambat atau menunda proses pembusukan itu.
Pengesan ikan merupakan salahsatu cara mencegah pembusukan pada ikan

USAHA MENCEGAH PEMBUSUKAN IKAN
Usaha terbaik yang dapat dilakukan untuk mempertahankaan mutu ikan terhadap pembusukan adalah sebagai berikut:

a. Mengurangi sebanyak mungkin jumlah enzim dan bakteri pada tubuh ikan.
Bakteri terdapat pada bagian kulit dan terutama sekali pada insang dan isi perutnya sedangkan enzim pada daging dan sebagian besar pada perutnya. Jika setelah ditangkap dibuang isi perutnya dan insangnya serta kemudian dicuci bersih, dihilangkan lendir-lendirnya maka berarti sebagian besar bakteri dan enzim telah dibuang.

b. Membunuh sisa-sisa bakteri dan enzim atau sekurang-kurangnya menghambat kegiatannya.
Bakteri yang tertinggal pada ikan dapat diperangi dengan berbagai cara yang pada dasarnya dapat dibagi dalam 5 kategori : a) Penggunaan suhu rendah. b) Penggunaan suhu tinggi. c) Pengeringan (dehidrasi). d)Penggunaan zat-zat anti septic. e) Penyinaran atau irradiasi.
Untuk dapat hidup dengan baik, bakteri memerlukan suhu tertentu, tergantung dari jenisnya. Ada tiga macam bakteri berdasarkan pertahanannya terhadap suhu seperti pada tabel berikut :

Tabel – 1. Kisaran Suhu bagi kehidupan bakteri.

Jenis Bakteri

Suhu Minimum

Suhu Optimum

Suhu Maksimum

Thermophylic

25 – 45 0 C

50 – 55 0 C

60 – 80 0 C

Mesophylic

5 – 25 0 C

25 – 37 0 C

43 0 C

Psychropylic

0 0 C

14 – 20 0 C

30 0 C


Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa kebanyakan bakteri akan mati atau sekurang-kurangnya akan terhenti kegiatannya bila suhu ikan diturunkan sampai dibawah 0 0 C atau bila dinaikkan sampai diatas 100 0 C. Penggunaan suhu rendah kita lakukan dengan menggunakan es atau dengan cara pendinginan   lainnya. Sedangkan suhu tinggi dipakai misalnya dalam pengalengan atau pemindangan. Ikan asin, ikan asap, ikaan asam, dan sebagainya akan lebih awet jika disimpan pada suhu rendah.

Air merupakan kebutuhan yang pokok bagi pertumbuhan bakteri. 

Bakteri selalu menyerap makanannya dalam bentuk larutan, dan untuk itu diperlukan air. Jadi dalam suasana kering, bakteri tidak akan dapat makan sehingga akan mati. Atas dasar inilah maka ikan dapat diawetkan dengan mengurangi kadar airnya, yaitu dengan cara:
  • Pengeringan dengan udara (Drying)
  • Osmose (penggunaan garam)
  • Pemasakan (perebusan, pengukusan, pengetiman)
  • Pengeringan dengan pembekuan pada ruang hampa ( vacuum freeze drying).
Beberapa zat kimia seperti asam cuka, klor (kaporit), Aureonmycin, asam benzoat, natrium benzoat, dll, sangat efektif dipakai untuk membunuh kuman bakteri dan menghentikan enzym. Zat-zat tersebut dapat dipakai untuk mengawetkan ikan dalam batas-batas tertentu.

c. Melindungi ikan terhadap kontaminasi bakteri dari luar.
Pengawetan tidak akan banyak berarti jika ikan yang telah diawetkan tidak dilindungi dari penyebab kerusakan baru yang datang dari luar ikan. Kerusakan ini bermacam-macam pada ikan olahan dan hasil olahannya, antara lain:
  • Pembusukan akibat pencemaran bakteri dari air, pembungkus, dari ikan lain, dan sebagainnya.
  • Oksidasi lemak yang menimbulkan bau tengik, 
  • Kerusakan-kerusakan fisik karena serangga, jamur, kecerobohan dalam penanganan, dan sebagainya.
Untuk melindungi ikan terhadap kerusakan-kerusakan ini kita harus menyelenggarakan sanitasi dan hygiene yang baik dalam proses penanganan, melakukan pembungkusan / pengepakan yang baik, serta usaha-usaha proteksi yang lain.

Semoga bermanfaat...

Sumber : Bahan Ajar Penanganan Ikan Diatas Kapal. BPPP Tegal.

Monday, June 8, 2020

Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Pembusukan Ikan

Dalam setiap operasi penangkapan, ikan yang tertangkap harus diperlakukan dengan sebaik-baiknya, karena perlakuan ini merupakan langkah pertama yang sangat menentukan mutu ikan dalam proses berikutnya. Ikan yang ditangkap akan segera membusuk, kecepatan pembusukan dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut:
  1. Cara Penangkapan; Ikan yang tertangkap dengan playing, pole & line, trawl akan lebih baik keadaanya bila dibandingkan dengan yang ditangkap dengan gill net, long line, dan sebagainya.
  2. Reaksi ikan menghadapi kematian; Ikan – ikan yang keras menghabiskan banyak tenaganya dalam menghadapi kematiannya, lebih cepat busuk daripada ikan yang mati dengan tenang  atau cepat.
  3. Jenis dan ukuran ikan; a) Kecepatan pembusukan berbeda pada setiap jenis ikan, karena perbedaan komposisi kimianya. b) Ikan yang berukuran kecil cepat membusuk dari pada ikan yang berukuran besar.
  4. Keadaan fisik sebelum ditangkap; Ikan yang sangat kenyang akan makanan saat ditangkap, perut dan dinding perutnya segera diurai oleh enzym isi perut dan akan mengakibatkan perubahan warna.
  5. Ikan yang kondisi physiknya lemah, misalnya ikan yang sakit, lapar atau habis bertelur, akanlebih membusuk.
  6. Keadaan Cuaca; Udara yang panas, suhu air yang tinggi, laut yang banyak gelombang, akan mempercepat pembusukan.
  7. Cara penanganan dan penyimpanan; Jika ikan dalam keadaan rigor diperlakukan dengan kasar, misalnya ditumpuk terlalu banyak, terinjak, terlempar, dan sebagainya, proses pembusukannya akan berlangsung lebih cepat. Pembusukan dapat dicegah atau diperlambat jika ikan disiangi dan disimpan pada suhu yang cukup rendah.

PENURUNAN MUTU IKAN OLEH PENGARUH FISIK
Penanganan ikan dengan dibekukan

Penurunan mutu ikan juga dapat terjadi oleh pengaruh fisik. Misal kerusakan oleh alat tangkap waktu ikan berada di dek, di atas kapal dan selama ikan disimpan di palka. Kerusakan yang dialami ikan secara fisik ini disebabkan karena penanganan yang kurang baik. Sehingga menyebabkan luka-luka pada badan ikan dan ikan menjadi lembek. Hal-hal ini dapat disebabkan karena :
  1. Terlalu lamanya ikan  berada dalam  jaring, misal dalam jaring trawl, penarikan trawl terlalu lama. Kondisi ini dapat menyebabkan kepala atau ekor menjadi luka atau patah.
  2. Pemakaian alat, semisal ganco atau sekop terlalu kasar, sehingga melukai badan ikan dan ikan dapat mengalami pendarahan.
  3. Penyimpanan dalam palka terlalu lama.
  4. Penanganan yang ceroboh sewaktu penyiangan, mengambil ikan dari jaring, sewaktu memasukkan ikan dalam palka, dan membongkar ikan dari palka.
  5. Daging ikan juga akan lebih cepat menjadi lembek, bila kena sinar matahari.
Semoga bermanfaat...

Sumber : Bahan Ajar Penanganan Ikan Diatas Kapal. BPPP Tegal.

Friday, June 5, 2020

Pembusukan Pada Ikan

Ikan adalah suatu bahan makanan yang sangat mudah membusuk (perishable food) sesaat setelah tertangkap, ikan akan segera mati, dan akan mengalami perubahan-perubahan/kerusakan-kerusakan yang mengakibatkan pembusukan.

Ikan busuk

PENYEBAB IKAN MEMBUSUK

Istilah pembusukan meliputi 2 (dua) macam perubahan yang terjadi pada ikan, yaitu:

  1. Hilangnya secara perlahan-lahan ciri – ciri / karakter ikan segar  yang  diinginkan
  2. Timbulnya bau-bau yang tidak diinginkan dan rupa menjadi jelek / tidak menarik 

Secara umum kerusakan / kerusakan ikan dapat digolongkan menjadi:

  1. Kerusakan – kerusakan biologis; disebabkan oleh bakteri, jamur, ragi dan serangga.
  2. Kerusakan – kerusakan Enzymatis; disebabkan oleh adanya reaksi kimia (oksigen), misalnya ketengikan (rancidity) yang diakibatkan oleh oksidasi lemak.
  3. Kerusakan – kerusakan physis; disebabkan oleh kecerobohan dalam handling / processing, misalnya luka-luka memar, patah, kering, dan sebagainya.

Diantara kerusakan-kerusakan tersebut, penyebab utama pembusukan ikan, adalah enzym dan bakteri.

Enzym : Suatu substansi organic yang terdapat di dalam tubuh ikan yaitu didalam daging ikan dan isi perut, terutama pada alat-alat pencernaan. Pada waktu ikan masih hidup enzym berfungsi sebagai katalis-biologi yang membantu proses pencernaan makanan. Setelah ikan mati, enzym tersebut akan berbuat sebaliknya yaitu daging ikan yang dicerna. 

Bakteri : Merupakan jasad renik (mikroba) yang hanya dapat dilihat dengan mokroskope. Pada ikan hidup, bakteri terdapat pada bagian kulit (lendir), insang dan pada makanan didalam perutnya. Selama ikan masih hidup, bakteri tidak berpengaruh buruk terhadap ikaan. Setelah ikan mati, maka bakteri segera meningkatkan aktivitasnya untuk perkembangan dan menyerang tubuh ikan. 

TAHAP PEMBUSUKAN PADA IKAN
Proses pembusukan ikan berjalan melalui beberapa tahap:
  1. Hyperaemia yaitu terlepasnya lendir dari kelenjar-kelenjarnya di dalam kulit, membentuk lapisan bening yang tebal disekeliling tubuh ikan.
  2. Rigor mortis yaitu Mengejangnya tubuh ikan setelah mati (rigor = kaku; mortis = mati; rigor mortis = keadaan kaku setelah mati). Hal ini disebabkan karena otot-otot yang berkontraksi akibat reaksi-reaksi kimia yang dipengaruhi oleh enzym.
  3. Autolysis yaitu Melemasnya kembali tubuh ikan setelah mengalami rigor. Daging menjadi lembek karena kegiatan enzym meningkat. Penguraian daging ikan oleh enzym menghasilkan bahan yang merupakan media yang baik bagi pertumbuhan bakteri. Bakteri sudah mulai merusak ikan dengan mengurangi protein daging.
  4. Bacterial Decomposition yaitu Pada tahapan ini bakteri telah terdapat dalam jumlah yang sangat banyak akibat perkembanganbiakan yang sangat banyak terjadi pada fase-fase sebelumnya. Aksi bakteri itu dimulai pada saat hampir bersamaan dengan tahap antolysis, kemudian berjalan sejajar. Bakteri merusak ikan lebih parah dari kerusakan yang diakibatkan oleh enzym.

Mengapa ikan mudah diserang oleh bakteri? Alasannya adalah sebagai berikut :
  1. Ikan segar mengandung lebih banyak cairan dan sedikit lemak, jika dibanding dengan jenis daging lainnya. Akibatnya bakteri lebih mudah berkembang biak.
  2. Struktur daging ikan tidak begitu sempurna susunannya, dibandingkan jenis daging lainnya. Kondisi ini memudahkan terjadinya penguraian bakteri.
  3. Sesudah terjadi peristiwa rigor, ikan segar mudah bersifat alkaline/basa. Kondisi Ini memberikan lingkungan yang sesuai bagi bakteri untuk berkembang biak.

Tuesday, June 2, 2020

Mekanisme Penyerapan Sari Makanan Oleh Ikan

Makanan yang sudah dicerna halus sekali kemudian sari-sarinya akan diserap oleh dinding usus. Sebenarnya di dalam lambung juga sudah mulai penyerapan, tapi jumlahnya masih sangat sedikit. Penyerapan yang utama terjadi di dalam usus. Untuk menyerap sari makanan tersebut, dinding usus mempunyai jonjot-jonjot agar permukaannya lebih luas. Melalui pembuluh darah rambut pada jonjot usus tersebut, sari makanan akan diserap ke dalam darah.
Ilustrasi ikan saat makan
Karbohidrat diserap dalam bentuk monosakarida, yaitu glukosa, galaktosa, fruktosa dan lain-lain. Proses penyerapannya dipengaruhi oleh hormon insulin. Hormon tersebut dihasilkan oleh kelenjar pankreas. Lemak diserap dalam bentuk asam lemak dan gliserol. Di dalam lapisan lendir dinding usus, asam lemak dan gliserol bersatu lagi, untuk kemudian diedarkan keseluruh tubuh melalui limfe (70%) dan melalui pembuluh darah (30%). Sedangkan protein diserap dalam bentuk asam amino yang dibawa ke hati dulu untuk diubah menjadi protein lagi, akan tetapi yang telah disesuaikan dengan kebutuhan tubuh ikan yang bersangkutan. Zat-zat makanan yang telah diserap oleh darah kemudian diedarkan ke seluruh tubuh untuk keperluan metabolisme, yaitu anabolisme dan katabolisme. Anabolisme adalah pembentukan zat-zat yang lebih kompleks dari zat-zat yang lebih sederhana, misalnya pembentukan protein dan asam-asam amino. 

Sedangkan katabolisme adalah pemecahan zat-zat yang merupakan bahan bakar untuk menghasilkan tenaga, misalnya pemecahan karbohidrat menjadi tenaga, air, dan karbondioksida. Pada hewan-hewan darat, yang digunakan sebagai sumber tenaga pertama-tama adalah karbohidrat kemudian disusul oleh lemak sebagai sumber nomor dua dan terakhir protein. Sedangkan pada ikan adalah kebalikan dari hewan darat, yaitu protein, lemak dan karbohidrat.

Sumber : Makalah Biokimia " Sistem Pencernaan Ikan"

Semoga Bermanfaat...