Kegiatan Penyuluhan

Kegiatan Penyuluhan Perikanan Bertujuan Meningkatkan Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan Pelaku Utama dan Pelaku Usaha Perikanan.

Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP)

P2MKP Memberdayakan Pelaku Utama Perikanan dan Masyarakat.

Pelatihan Kelautan dan Perikanan

Meningkatkan keterampilan para pelaku utama kelautan dan perikananm.

AUTO MATIC FEEDER

Solusi Memberi Makan Ikan Menjadi Mudah Dan Tepat.

Friday, July 20, 2018

Kebiasaan Makan Artemia Salina

Artemia adalah binatang yang sederhana cara makannya, yaitu dengan menyaring makannya atau disebut non-selective filter feeder, maka Artemia akan terus menerus memakan apa saja yang ukurannya lebih kecil dari 50 μm.
Artemia salina [sumber]
Makanan Artemia di alam adalah detritus bahan organik dan ganggang renik (ganggang hijau, ganggang biru, cendawan atau ragi laut). Beberapa jenis ganggang hijau yang sering dijadikan makanan oleh Artemia antara lain Euglena, Dunaliella salina dan Cladophora sp. Seluruh partikel suspensi yang mungkin dapat dimakan oleh artemia secara terus menerus akan diambil dari media kultur dengan gerakan terakopoda yang mempunyai fungsi ganda sebagai respirasi dan pengumpul makanan sehingga tidak ada alternative lain bagi artemia untuk terus menerus menyaring makanan.

Artemia memakan sesuatu yang berasal dari bahan hidup (misal detritus organik dari perairan hutan bakau) dan organisme hidup pada kisaran ukuran yang sesuai bukaan mulut (bakteri dan mikro alga). 

Sumber : Paper Kultur Artemia

Semoga Bermanfaat...

Wednesday, July 18, 2018

Kebiasaan Hidup (Ekologi) Artemia Salina

Artemia dapat tumbuh cepat pada perairan laut, tetapi tidak mempunyai pertahanan tubuh yang mampu melawan predator. Namun demikian, artemia memiliki mekanisme pertahanan ekologik yang sangat efisien melalui adaptasi fisiologik terhadap media hidup yang bersalinitas tinggi, sehingga predator tidak dapat hidup. Artemia memiliki sistem osmoregulasi yang terbaik diantara binatang. Disamping itu, artemia mampu mensintesis pigmen respirasi atau hemoglobin untuk mengatasi kandungan oksigen rendah pada alinitas tinggi. Dengan demikian artemia mempunyai kemampuan menghasilkan kista yang tahan terhadap kondisi lingkungan yang ekstrim.
Artemia salina [sumber]
SUHU
Artemia tidak dapat bertahan hidup pada suhu kurang dari 6oC atau lebih dari 35oC. Akan tetapi, hal ini tergantung pada ras dan kebiasaan tempat hidup mereka. Kista yang kering dapat lebih tahan terhadap perubahan suhu, artemia yang kering dapat tahan pada suhu -273 derajat C sampai 100 derajat C tetapi untuk telur basah tidak demikian halnya.

KANDUNGAN ION
Daya tahan artemia terhadap perubahan kandungan ion kimia dalam air sangat tinggi.apabila kandungan ion natrium (Na+) dibandingkan dengan ion kalium (K+) di dalam air laut alami adalah 28, maka artemia masih dapat bertahan pada perbandingan 8-173. Untuk ion klor (CL) dan karbonat (CO3) di dalam air laut perbandingannya 137. Sedangkan artemia dapat bertahan pada perbandingan antara 101-810. Perbandingan ion klor (CL-) dan ion sulfat (SO4) did dalam air laut sekitar 7. Sedangkan artemia dapat bertahan pada perbandingan 0,5-90.

KADAR GARAM
Untuk perkembangan artemia  membutuhkan kadar garam tinggi. Sebab, pada kadar garam tinggi musuh-musuh bagi artemia tidak dapat hidup lagi, sehingga mereka dapat hidup lebih aman tanpa gangguan. Pada umumnya musuh-musuh artemia sudah mati jika memiliki kadar air garam 80-100 permil. Walaupun demikian terdapat jenis ikan yang belum mati pada kadar garam antara 100-130 permil. Untuk pertumbuhan telur (kista), ternyata dibutuhkan kadar garam yang rendah. Apabila kadar garam lebih tinggidari 85 permil, maka telurnya tidak akan menetas. Sebabnya adalah tekanan osmose di luar telur lebih tinggi, sehingga telurnya tidak dapat menyerap air yang cukup untuk proses metabolismenya (Mudjiman, 1989). Kultur biomassa Artemia yang baik pada kadar garam antara 30-50 ppt. Untuk Artemia yang mampu menghasilkan kista membutuhkan kadar garam diatas 100 ppt.

OKSIGEN TERLARUT
Artemia hidup pada kadar oksigen terlarut antara 1,67-6,21 ml/l, di daerah Tuticorin (India). Yang dikehendaki oleh artemia agar dapat hidup lebih baik, kadar oksigen terlarutnya harus mendekati titik kejenuhan yaitu sekitar 3 ml/l. Artemia sangat pandai menyesuaikan diri terhadap perubahan kadar oksigen, sifat hewan yang demikian disebut dengan euroksibon.

ASAM BASA (pH)
Artemia terdapat pada perairan netral atau sedikit basa (lebih dari 7). Di Tuticorin (India), artemia dapat hidup pada kisaran PH 7,8 - 8,4.  Sebenarnya pengaruh PH terhadap kehidupan artemia muda dan dewasa masih belum jelas. Yang sudah jelas adalah pengaruh PH terhadap penetasan kista. Apabila PH air untuk penetasan artemia kurang dari 8, maka efisiensi penetasan akan menurun.

Sumber : Paper Kultur Artemia Salina

Semoga Bermanfaat..

Monday, July 16, 2018

Morfologi Artemia Salina

Saat ini telur artemia sudah diproduksi secara massal oleh perusahaan pakan ikan yang tujuannya tentu untuk mensuplai pakan bagi larva ikan. Telur - telur artemia dipasarkan dalam wadah kaleng yang dapat bertahan hingga bertahun - tahun. Pada saat akan digunakan baru telur artemia ditetaskan menggunakan air laut /larutan garam sehingga memudahkan pembudidaya ikan dalam penyediaan pakan larva ikan.

Berikut tahapan sikuls hidup artemia dimulai dari telur hingga dewasa.

1. Kista / Telur
Telur artemia atau kista berbentuk bulat berlekuk dalam keadaan kering dan bulat penuh dalam keadaan basah. Warnanya coklat yang diselubungi oleh cangkang yang tebal dan kuat . Kista merupakan telur yang telah berkembang menjadi embrio yang diselubungi oleh cangkang yang tebal dan kuat. Cangkang ini berguna untuk melindungi embrio terhadap pengaruh kekeringan, benturan keras, sinar ultra violet, dan mempermudah pengapungan . Kista merupakan telur yang terbungkus korion, kista dapat diartikan sebagai telur yang mengalami fase cryptobiosis (fase tidur atau istirahat). 

Telur artemia dalam bentuk kista berwarna coklat dengan garis tengah antara 200-300 µm, berat antara 1,60-2,22 µg. Jika dimasukan kedalam air laut, kista kering yang berbentuk cekung akan mengalami hidrasi menjadi berbentuk bulat penuh dan mulai terjadi metabolisme embrio dalam cangkang. 

Kista ini disimpan dalam kantong telur atau uterus dengan jumlah berkisar 38-45 butir kista dalam satu individu betina. Perkembangan warna kista dalam uterus di tubuh induknya dimulai dari warna putih, menjadi hijau muda, biru dan selanjutnya coklat tua.

Pada salinitas 90-200 ‰, Artemia dapat menghasilkan kista. Sedangkan pada salinitas < 85 ‰ Artemia akan memproduksi nauplius. Akibatnya keberhasilan pemeliharaan Artemia untuk memproduksi kista akan mencapai maksimal apabila media ada pada salinitas yang optimal. 

Penampang kista artemia menunjukan dari luar ke dalam lapisan-lapisan korion, kutikula embrio dan embrio atau calon nauplius. Lapisan korion yang keras dan berwarna coklat terdiri dari lapisan epidermis, lapisan kortikal dan lapisan alveolar.
Lapisan cangkang telur/kista Artemia salina
Lapisan korion berfungsi sebagai pelindung terhadap gangguan mekanik, lapisan kutikula embrio berfungsi sebagai pelindung embrio dari goncangan mekanik dan sebagai sumber enzim tahalose yang membantu dalam proses penetasan. Diantara kedua lapisan korion dan kutikula embrio terdapat selaput luar kutikula embrio. Setelah 15-20 jam pada suhu 25oC kista akan menetas menjadi embrio. Artemia selama masa hidupnya yang sekitar 50 hari dalam kondisi super ideal bisa memproduksi kista sebanyak 300 butir per 4 hari.

2. Pre Nauplius
Setelah 24 jam, cangkang kista akan pecah (breaking stage atau E-1) dan akan muncul embrio yang dikelilingi oleh selaput penetasan. Dalam beberapa jam, embrio meninggalkan cangkang kista dan bergantung dibawah cangkang yang kosong dalam keadaan masih melekat (umberella stage atau E-2).

Perkembangan naupli Artemia salina
Di dalam selaput penetasan, nauplius berkembang sempurna dan anggota badan mulai bergerak. Dalam waktu singkat, selaput penetasan pecah dan muncul nauplius yang berenang bebas.

3. Nauplius
Anderson (1967) dalam Cholik dan Daulay (1985) menggambarkan 10 stadia larva artemia :
Stadia I panjangnya antara 450-475 µm dan berwarna jingga kecoklatan karena masih mengandung kuning telur, mempunyai 3 pasang anggota badan yaitu (1) antena sensor kecil yang disebut antena pertama, (2) antena yang berkembang sempurna yang mempunyai alat gerak dan berfungsi sebagai penyaring makanan, dan (3) mandibula yang belum sempurna. Mata nauplius berwarna merah terletak pada bagian kepala diantara antena pertama. Pada stadia I artemia belum dapat mengambil makanan karena sistem pencernaan belum berfungsi (mulut dan anus masih tertutup). Pada suhu 20oC stadia I berlangsung selama 20 jam.

Stadia II panjangnya 630 µm dan nampak lebih bening.makanan yang berukuran partikel kecil (algae, bakteria dan detritus) yang ukurannya berkisar antara 1-40 µm akan disaring oleh antena kedua dan dicerna di dalam saluran pencernaan, Stadia ini berlangsung selama 10 jam.

Stadia III berukuran sekitar 725 µm, saluran pencernaan tampak jelas, kuning telur yang dikandungnya jauh berkurang. Tiga ruas pertama dari tubuhnya semakin nyata dan 3 ruas berikutnya mulai nampak sebagai lingkaran, telson sudah mulai nampak. Stadia ini berlangsung selama 40 jam.

Stadia IV panjangnya sekitar 800 µm. Dapat dibedakan dengan jelas, perkembangan duri yang terletak pada ujung eksopod dari antena telah sempurna. Duri ini dapat digerak-gerakan. Perkembangan lain yaitu pembentukan maksilula dan maksila.
Stadia Artemia salina [sumber]
Artemia tumbuh melalui sekitar 15 ganti kulit, yaitu (1) truncus dan perut memanjang, (2) anggota badan lobular yang berpasangan yang muncul pada bagian truncus dan akan berkembang menjadi thorakopoda dan (3) bagian lateral mata yang berkembang pada kedua sisi mata nauplius.

Perubahan morfologi masih terjadi sebelum artemia menjadi dewasa. Sejak instar ke-10 perubahan-perubahan morfologi yang terpenting antara lain hilangnya fungsi antena sebagai alat gerak dan perubahan bentuk menunjukan terjadinya perbedaan kelamin jantan dan betina. Kaki berkembang menjadi bagian-bagian yang fungsinya berbeda-beda, yaitu menjadi telopodit yang berfungsi sebagai saringan, endopodit untuk bergerak dan eksopodit untuk pernapasan.

4. Dewasa
Setelah stadia X artemia menjadi dewasa. Waktunya berkisar 7- 15 hari tergantung pada keadaan lingkungan. Perubahan morfologi yang tampak setelah artemia menjadi dewasa adalah terbentuknya mata, antenula, alat pencernaan yangmemanjang dan 11 pasang thorakopoda. Perbedaan antara artemia jantan dan betina yaitu pada artemia jantan terdapat alat penangkap dan sepasang penis yang terdapat dibagian belakang tubuhnya. Pada artemia betina, antena berfungsi sebagai alat peraba. Sepasang ovari terletak memanjang pada kedua sisi saluran pencernaan di belakang thorakopoda.
Morfologi Artemia salina
Perbedaan induk jantan dan betina Artemia salina

Sumber : Paper Kultur Artemia Salina

Semoga Bermanfaat...

Friday, July 13, 2018

Mengenal Artemia Salina

Artemia merupakan salah satu makanan hidup yang sampai saat ini paling banyak di gunakan dalam kegiatan budidaya ikan, khususnya dalam pengolahan pembenihan. Sebagai makanan hidup, artemia tidak hanya digunakan dalam bentuk nauplius, tetapi juga dalam bentuk dewasanya. Nilai nutrisi artemia dewasa mempuyai kandungan proteinya meningkat dari rata – rata 42%  pada nauplius menjadi 60% pada artemia dewasa yang telah di keringkan.

TAKSONOMI
Pennak (1978) dan Dales (1981) menyatakan bahwa Artemia Salina diklasifikasikan sebagai berikut :
Phylla : Arthropoda 
ClassCrustaceae
Subclass : Branchiopoda
OrdoAnostraca
FamilyArtemiidae
Genus : Artemia
Species : Artemia salina
Artemia salina [sumber]
Nama species tersebut diberikan oleh Schlossser yang menemukan artemia ini untuk pertama kalinya di suatu danau asin pada tahun 1755.

REPRODUKSI DAN DAUR HIDUP
Berdasarkan perkembangbiakannya ada dua jenis yaitu biseksual dan partenogenesis. Perkembangbiakan jenis biseksual melalui proses perkawinan, sedangkan partenogenetik tanpa perkawinan. Selanjutnya pada pekembangbiakan secara biseksual maupun partenogenesis, keduanya dapat terjadi secara ovovivipar maupun ovipar. Pada ovovivipar yang dihasilkan induk adalah burayak yang disebut nauplius dan biasanya terjadi bila keadaan lingkungan cukup baik dengan kadar garam kurang dari 5‰ dan kandungan oksigen terlarutnya cukup. Sedangkan pada cara ovipar yang dihasilkan induk berupa telur bercangkang tebal yang dinamakan kista, dan biasanya terjadi bila kondisi lingkungan memburuk dengan kadar garam diatas 150‰ dan oksigen terlarutnya rendah, Anonimous (2002).
Siklus hidup Artemia salina
Cholik dan Daulay (1985), mengatakan dalam kehidupan artemia dikenal dua macam cara reproduksi yaitu secara ovovivipar dimana telur yang telah dibuahi menetas menjadi nauplius dan kemudian dilepas oleh induknya didalam air. Cara lainya adalah ovipar yaitu telur yang telah dibuahi telah mencapai stadia gastrula yang terbungkus dengan kulit luar yang relatif tebal dikeluarkan oleh induknya dalam bentuk kista.

Reproduksi secara ovovivipar terjadi pada kadar garam rendah, sedangkan ovipar terjadi pada garam tinggi, yaitu 100-200 ppt, dan kadar oksigen rendah. Telur artemia dalam bentuk kista apabila keadaan memungkinkan, pada salinitas 30-35 ppt akan menetas menjadi nauplius yang ukurannya bekisar antara 450-475 mikron, larva ini akan tumbuh dan berkembang setelah melalui 15 kali ganti kulit akan tumbuh menjadi dewasa, (Sorgeloos dan Kulasekarapandian, 1987).

Berdasarkan jenis kelaminnya, artemia dapat dibedakan antara individu yang berkelamin jantan dan betina. Dalam siklus hidupnya, proses reproduksi atau perkembangbiakan dilakukan secara generatif. Dalam proses generatif dihasilkan telur-telur atau kista yang berbentuk butiran-butiran halus. Apabila berada ditempat kering atau di air yang bersalinitas tinggi maka kista tetap dalam keadaan dorman atau tidur. Keadaan tersebut dikenal dengan istilah fase cryptobiosis. Apabila kista tersebut direndam didalam air laut dengan salinitas 30-35 ppt maka akan terjadi hidrasi. Setelah 24 jam, membran luar akan pecah dan kista menetas menjadi embrio. Beberapa jam kemudian, embrio berkembang menjadi nauplius dan mampu berenang bebas didalam air,  Harefa (2003).

Individu yang baru ditetaskan dikenal dengan instar I. Instar I ini akan berganti kulit menjadi instar II, demikian seterusnya sampai 15 kali. Setiap tahap pergantian kulit dinamai nomor instar pada tahap tersebut sehingga pergantian kulit yang terakhir disebut instar XV. Selanjutnya artemia berkembang menjadi individu dewasa dengan ukuran 10-20 mm, Harefa (2003).

Perkembangan artemia dari proses penetasan sampai menjadi individu dewasa membutuhkan waktu sekitar 7-10 hari. Pada saat telah menjadi dewasa, artemia siap untuk melakukan proses proses perkawinan. Proses perkawinan pada artemia ditandai dengan penempelan individu jantan pada tubuh individu betina (riding position). Keadaan seperti ini berlangsung hingga telur masak, Harefa (2003).
Dalam kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan, misalnya salinitas air amat tinggi atau kadar oksigen rendah, telur segera dibungkus oleh kulit luar yang disebut korion. Korion yang diproduksi oleh kelenjar kulit ini cukup keras, tidak mudah pecah, ringan, dan berwarna coklat tua. Dengan terbentuknya korion ini maka telur hanya mampu berkembang hingga fase gastrula dan kemudian berlanjut kepada fase dormansi atau diapauze, Harefa (2003).

Pada saat terbentuk korion, proses metabolisme menjadi terhenti. Telur kemudian disebut dengan kista. Kista ini dilepas induknya kedalam air dan mengapung dibawa oleh angin atau arus air karena beratnya yang sangat ringan. Proses pelepasan kista dari induknya disebut dengan ovipar. Kista artemia terbentuk bulat dan cukup keras sehingga tidak mudah pecah, Harefa (2003).
Dalam kondisi lingkungan yang baik dan salinitas rendah, telur langsung menetas menjadi larva yang disebut nauplius. Larva ini akan membebaskan diri dari induknya dengan berenang bebas didalam air. Proses penetasan telur langsung menjadi larva ini disebut dengan ovovivipar, (Harefa 2003).

Sumber : Paper Kultur Artemia

Semoga Bermanfaat...

Wednesday, July 11, 2018

Teknik Aklimatisasi Benur Udang

Kegiatan aklimatisasi merupakan kegiatan penyesuaian ikan yang baru dibeli atau datang dari tempat asal ke tempat baru terhadap lingkungan baru baik suhu, pH, salinitas, DO dll. Kegiatan ini sangat perlu dilakukan pada ikan yang baru datang agar ikan yang dipelihara tidak stress atau bahkan mengalami kematian.
Aklimatisasi benur udang [sumber]
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat kita akan membeli benur udang untuk dipelihara :
  1. Semua organ tubuh benur yaitu ekor, mata, kaki, antara kulit dalam keadaan lengkap dan tidak cacat; 
  2. Gerakan benur lincah dan suka melawan arus; 
  3. Bentuk tubuh ramping memanjang; 
  4. Warna tubuh jernih / putih kecoklatan; 
  5. Benur sensitif atau peka terhadap gangguan fisik pada lingkungannya, seperti benur akan segera bergerak cepat atau bila dikejutkan; 
  6. Keadaan tubuh benur bersih dari kotoran dan Iumut; 
  7. Benur aktif mencari makan dan nafsu makan tinggi; 
  8. Tidak ada perubahan warna yang mencolok pada benur pada kondisi terang maupun gelap; 
  9. Kuaiitas air berbagai media hidup benur harus benar-benar baik dan bebas penyakit; 
  10. Fototatis positif yaitu suka pada cahaya; 
  11. Ukuran benur relatif seragam. 
  12. Benur berukuran seragam dan berumur sama.
  13. Tubuh benur sehat memiliki garis memanjang yang berwarna cokelat.
Sebelum benur ditebar pastikan kolam pembesaran udang sudah siap bai dari air maupun perlengkapan lainnya.

Cara Aklimatisasi Benur Udang :
  1. Biarkan kantor benur mengapung dikolam pembesaran selama lebih kurang 15 menit;
  2. Setelah 15 menit bukan kantor benur dan masukkan air kolam secara perlahan, biarkan benur udang keluar dengan sendirinya.
Upayakan pada saat penebaran benur udang pada saat suhu rendah (pagi atau sore hari).

Semoga Bermanfaat...