Lalaukan

Informasi dunia kelautan dan perikanan serta kegiatan penyuluhan perikanan

Friday, September 7, 2018

Penyakit Ikan Bintik Putih (White Spot)

Penyakit white spot merupakan salah satu penyakit ikan yang sering menyerang ikan diwilayah tropis. Penyakit ini disebabkan oleh protozoa Ichthyophthirius multifiliis. Ichthyophthirius multifiliis adalah protozoa bersilia yang menyebabkan "Ich" atau "penyakit white spot." Penyakit ini merupakan masalah besar untuk aquarists dan produsen ikan komersial di seluruh dunia. Ichthyophthirius merupakan penyakit penting dari ikan tropis. Penyakit ini menular dan menyebar dengan cepat dari satu ikan ke ikan yang lain. Hal ini dapat menjadi parah ketika sekelompok ikan berkumpul banyak. Hal ini disebabkan parasit yang menyebabkan penyakit ini mampu membunuh dalam  jumlah besar ikan dalam waktu singkat. diagnosis dan pengobatan dini sangat penting untuk mengendalikan Ich dan mengurangi kerugian kematian ikan.

KLASIFIKASI Ichthyophthirius multifiliis
Ikan yang terinfeksi dengan Ich mungkin memiliki bintik putih pada kulitnya. Karena  penampilan ini, Ich disebut penyakit white spot. Kulit ikan juga terlihat bergelombang. Bentuk dewasa dari parasit yang besar (sampai 1 mm) dan dapat dilihat tanpa pembesaran. Ich sering menyebabkan ikan berlendir dalam jumlah yang besar yang berasal dari peluruhan kulit mereka, penampilan yang menyerupai jamur bila dilihat dari jarak di dalam air. Dalam beberapa kasus Ich parasit dapat hadir hanya pada insang dan bukan pada kulit.

Klasifikasi/Taxonomi : 
Kingdom : Protista
Phylum         : Ciliophora
Class         : Oligohymenophorea
Order : Hymenostomatida
Family : Ichthyophthiriidae
Genus : Ichtyophthirius
Spesies         : multifilis

Ikan yang terserang penyakit white spot [sumber]

Di bawah mikroskop, Ich tampak seperti bola dan bergerak dengan  gerakan bergulir, menggunakan rambut kecil yang disebut silia yang menutupi seluruh parasit. Motilitasnya sering dibandingkan dengan amuba. Pada bagian tengah organisme dewasa memiliki inti berbentuk C. Tahap infektif kecil tidak memiliki inti berbentuk C, dan mereka bergerak kaku di dalam air, karena berlawanan dengan air, bergerakan menggulung-gulung hingga dewasa. Dalam stadium in feksi lanjut, Ich ditemukan meringkuk di bawah lendir dan diatas lapisan sel-sel (epitel) di insang atau kulit. Ich sangat sulit untuk diobati karena lapisan pelindung lendir dan sel host yang melindungi parasit. Pengobatan yang tepat adalah penting untuk membantu mencegah pembentukan infeksi lanjutan.

Ichtyopthirius multifiliis [sumber]
SIKLUS HIDUP
Ichthyophthirius multifiliis adalah parasit protozoa yang biasanya ditularkan ke dalam kolam dengan ikan yang bersifat carrier, hewan lain, atau manusia. Parasit ini didapat dari sungai atau aliran air  yang digunakan sebagai sumber air untuk kolam. Ketika Ich dewasa meninggalkan ikan yang terinfeksi, itu disebut tomont. Tomont menempel pada dasar tambak atau permukaan lain dan membentuk kista berdinding tipis. Dalam kista, tomont membelah berkali-kali, membentuk sebanyak 2.000 tomites kecil. Ketika tomites yang dilepaskan dari kista ke dalam air, mereka memanjang dan menjadi theronts. theronts ini (juga disebut swarmers) berenang ke host ikan dan menembus epitel ikan dan menumbus kelenjar,  kekuatan berenang ini disebabkan oleh silia. Jika mereka tidak menemukan host ikan dalam satu atau dua hari mereka biasanya mati. Ini membuat Ich sebagai parasit obligat; ia harus memiliki sejumlah ikan untuk bertahan hidup. Begitu mereka menembus ikan mereka disebut sebagai trophonts. Trophonts hidup dalam sel  ikan host dan menjdi dewasa, sementara itu ia melindungi dari terhadap perlakuan kimia di bawah lendir atau epitel. Hanya theront dan tomont tahap sensitif terhadap perawatan di dalam air.

Jumlah waktu yang dibutuhkan untuk Ich menyelesaikan siklus hidupnya adalah bergantung pada temperatur. Ich umum menginfeksi ikan antara 68o dan 77oF (20o ke 25oC), namun infeksi yang terjadi biasanya pada suhu dingin (Serendah 33o F, 1oC). Biasanya, Ich tidak dapat bereproduksi dengan baik pada suhu air di atas 85o F (30oC), sehingga parasit biasanya tidak menimbulkan masalah di bulan musim panas yang hangat. Namun, dalam kasus di Florida tengah, Ich bertanggung jawab untuk membunuh ikan di 92o F (33o C). Untuk melengkapi siklus hidupnya, Ich membutuhkan kurang dari 4 hari (pada suhu lebih tinggi dari 75o F atau 24oC) untuk lebih dari 5 minggu (pada suhu lebih rendah dari 45o F atau 7oC).

Siklus hidup Ichtyopthirius multifiliis

GEJALA KLINIS
Tanda klasik dari infeksi "Ich" adalah kehadiran bintik-bintik putih kecil di kulit atau insang. Lesi ini terlihat seperti lecet kecil di kulit atau sirip ikan. Sebelum munculnya bintik-bintik putih, ikan dapat menunjukkan tanda-tanda iritasi, berkedip, kelemahan, kehilangan nafsu makan, dan penurunan aktivitas. Jika parasit hanya hadir pada insang, bintik-bintik putih akan tidak terlihat sama sekali, tetapi ikan akan mati dalam jumlah besar. Pada ikan ini, insang akan terlihat pucat dan sangat bengkak. bintik-bintik putih tidak boleh digunakan sebagai satu-satunya alat diagnosi, karena penyakit lain mungkin memiliki penampilan yang sama. Gill dan kulit kerokan harus diambil ketika tanda-tanda pertama dari penyakit diamati. Jika organisme "Ich" terlihat, ikan harus diobati segera karena ikan yang berat terinfeksi mungkin tidak akan bertahan lama dalam masa pengobatan.

PATOGENESA
Lapisan atas sel-sel insang, epitel, bereaksi terhadap invasi Ich hingga menebal, dan ini akan  menghamabt aliran oksigen dari air ke darah melauli insang. Lipatan dari insang, lamellae, juga menjadi cacat, mengurangi transfer oksigen. Organisme Ich yang meliputi insang juga menyebabkan penyumbatan mekanis Transfer oksigen. kondisi ini  menekankan ikan dengan menghalangi pernafasan. 

Lapisan epitel pada insang mungkin akan terpisah dan menyebabkan hilangnya elektrolit, nutrisi dan cairan dari ikan, sehingga sulit untuk ikan untuk mengatur konsentrasi air di tubuhnya. Infeksi sekunder oleh bakteri dan jamur juga lebih mudah menyerang ketika ikan mengalami infeksi ich.

Sedangkan pada kulit, cara penyerangan parasit ini dengan menempel pada lapisan lender bagian kulit ikan, parasit ini akan menghisap sel darah merah dan sel pigmen pada kulit ikan. Ikan yang terserang parasit ini memperlihatkan gejala sebagai berikut produksi lendir yang berlebihan, adanya bintik-bintik putih (white spote), frekuensi pernafasan meningkat, dan pertumbuhan terhambat.

DIAGNOSIS
Diagnosis "Ich" mudah dikonfirmasi oleh pemeriksaan mikroskopis pada kulit dan insang. Kerok beberapa bintik-bintik putih dari ikan yang terinfeksi, kemudian rekatkan pada objek glass dengan beberapa tetes air dan tutup dengan cover glass. Jika itu parasit dewasa yang besar, akan terlihat berwarna gelap (karena tebal silia meliputi seluruh sel), dan memiliki tapal kuda berbentuk inti yang kadang-kadang terlihat di bawah 100 x pembesaran . Parasit dewasa bergerak  perlahan dengan cara berguling, tanda ini  mudah dikenali. Untuk bentuk-bentuk yang belum matang (tomites) berukuran lebih kecil, tembus, dan bergerak cepat. Tomites mirip protozoa parasit lain yang disebut Tetrahymina. Tetrahymina biasanya tidak memerlukan pengobatan, sehingga penting untuk mengenali perbedaan antara dua parasit. Jika hanya tomites dilihat, siapkan slide kedua dan amati lebih teliti untuk parasit dewasa untuk mengkonfirmasi diagnosa. Pengamatan dari organisme tunggal adalah cukup untuk membuat pengobatan yang diperlukan.

A) Prasit Ich dewasa, B) Tomites atau Parasit Ich yang belum dewasa, C) Parasit Tetrahymena menyerupai tomites
Sumber : 1) Robert M. Durborow, Andrew J. Mitchell and M. David Crosby. 1998. .(White Spot Disease). Southern Regional Aquaculture Center. 2) Ruth Francis-Floyd and Peggy Reed. Ichthyophthirius multifiliis (White Spot) Infections in
Fish. The Institute of Food and Agricultural Sciences (IFAS)

Semoga Bermanfaat...

Wednesday, September 5, 2018

Media Penyuluhan : Flip Chart / Peta Singkap

Flip Chart/Peta Singkap adalah lembaran-lembaran kertas yang berisi gambar dan tulisan yang disusun secara berurutan, bagian atasnya disatukan dengan spiral sehingga mudah disingkap.

Peta singkap / Flip chart [sumber]
Dalam membuat peta singkap perlu diperhatikan ini serta urutan setiap lembarnya. Berikut syarat dalam pembuatan peta singkap :

A. Bentuk
  1. Lembar pertama memuat judul pesan yang akan disampaikan, biasanya ditulis dengan huruf kapital atau huruf balok.
  2. Setiap lembar hanya memuat satu sub judul materi dan penjelasan ringkas
  3. Setiap lembar diusahakan berisi informasi yang tidak padat dan jelas dibaca
  4. Lembaran yang berisi kombinasi tulisan dan gambar atau ilustrasi lain dibuat secara proporsional

B. Isi
  1. Secara keseluruhan peta singkap merupakan satu unit materi pembelajaran.
  2. Setiap lembar hanya berisi pokok-pokok penting dari materi yang akan dibahas. Oleh karena itu hindari pemuatan informasi yang tidak berguna atau berlebihan.
  3. Sebaiknya lembar pertama dan kedua dibiarkan kosong sebagai penutup/pelindung semua lembar berikutnya agar tidak terlebih dahulu terbaca oleh peserta.
  4. Pokok-pokok materi yang ditulis atau digambar harus singkat, jelas dan langsung kepada maksudnya. Jangan terlalu banyak pesan yang ingin disampaikan.
  5. Materi yang disajikan sebaiknya berupa kombinasi antara tulisan dan gambar atau ilustrasi lainnya.
  6. Tulisan, gambar dan ilustrasi lain yang dibuat harus disesuaikan dengan kapasitas kelas (jumlah pembelajar).

C. Ukuran
Ukuran peta singkap perlu disesuaikan dengan jumlah peserta :
  1. Ukuran kecil (30 X 50 cm atau 40 X 60 cm) untuk peserta 10 orang (sedikit)
  2. Ukuran sedang  (60 X 80 cm) untuk peserta 20 orang
  3. Ukuran besar (80 X 100 cm) untuk peserta 30 – 40 orang

D. Cara Pembuatan
  1. Bila tidak yakin akan kemampuan menulis dan menggambar, sebaiknya melakukan penjiplakan tulisan atau gambar yang diinginkan dari sumber lain. Penjiplakan ini dapat dilakukan dengan mengunakan kertas tipis transparan (kertas kalkir).
  2. Penjiplakan tulisan dan gambar dilakukan dengan menggunakan skala tertentu.
  3. Gambar dan tulisan yang dibuat sendiri sebaiknya dibuatkan sketsa terlebih dahulu di atas kertas HVS atau kertas gambar lain.
  4. Gambar yang diperlukan dari majalah, koran dan sumber lain digunting rapi dan ditempel pada lembaran peta singkap.
  5. Tulisan bisa  dibuat dengan menyablon dari huruf pindah (mecanorma, rugos, dan letter set).
  6. Bahan peta singkap  dapat menggunakan kalender bekas.

E. Menulis / Menggambar Pada Peta Singkap
  1. Siapkan isian (tulisan atau gambar) yang akan diterakan di atas lembaran peta singkap.
  2. Siapkan spidol standard dan yang besar, aneka warna (utamakan yang memiliki warna kuat)
  3. Usahakan menulis seringkas mungkin.
  4. Gunakan gambar yang menarik, terutama bila tidak harus menggunakan banyak kata dengan banyak baris.
  5. Batasi satu lembar untuk satu pokok bahasan, dan selalu beri judul.
  6. Biasakan berpikir dengan kata-kata kunci dan ungkapan-ungkapan pendek yang sederhana dan mudah dimengerti.
  7. Batasi penggunaan bahasa asing atau bahasa daerah / lokal, serta kiasan-kiasan ber”sayap” yang membingungkan peserta.
  8. Tampilkan secara berurut dan sistematis.

F. Cara Penggunaan Peta Singkap
  1. Tempatkan peta singkap pada alat penyangga dan yakinkan bahwa peta singkap tersebut sudah terfiksir rapi (dengan menggunakan dua penjepit, atau lak ban), serta kedudukan alat penyangga cukup stabil.
  2. Letakkan peta singkap pada ketinggian ideal, serta jelas terlihat dari setiap penjuru kelas.
  3. Penyaji berdiri di samping kanan papan penyangga (kecuali kidal).
  4. Gunakan alat penunjuk untuk membantu menunjuk materi yang diterangkan dan menyingkap setiap lembaran.
  5. Berikan cukup waktu kepada peserta untuk melihat dan membaca pesan yang dituliskan.
  6. Untuk lembaran yang dapat disobek (dicabut) sebaiknya ditempelkan di dinding atau tempat lain yang mudah dilihat oleh peserta.


Semoga Bermanfaat...

Monday, September 3, 2018

Wadah Budidaya Perikanan : Bak

Desain dan kontruksi bak pada dasarnya hampir sama dengan kolam. Desain dan kontruksi bak terpal/ plastik banyak digunakan dalam kegiatan budidaya ikan konsumsi. Hal ini dilakukan untuk menyiasati lahan yang terbatas dan kemudahan dalam proses pemeliharaan ikan konsumsi.
Bak terpal untuk budidaya ikan [sumber]
Desain dan kontruksi bak terpal/plastik disesuiakan dengan beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
  1. Jenis ikan konsumsi yang akan dibudidayakan
  2. Tahapan budidaya pembenihan atau pembesaran.
  3. Keseimbangan antara volume air dan penyangga bak harus kuat.
  4. Dasar peletakan untuk bak terpal/plastik harus rata agar tidak mudah bocor. Hal ini bisa dilakukan dengan meratakan tanah terlebih dahulu kemudian diberikan sekam.
  5. Ukuran bak disesuikan dengan ketersedian lahan
  6. Distribusi air dan pengeluaran limbah produksi
  7. Adanya jalur panen dan akses pengelolaan ikan
Untuk lebih jelasnya silahkan lihat pada tayang power point berikut :

Wednesday, August 22, 2018

Mengenal Ikan Gabus

Ikan gabus (Channa striata) merupakan jenis ikan yang bernilai ekonomis. Di Indonesia penyebarannya antara lain di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Spesies ini memiliki rasa yang khas, tekstur daging tebal dan putih sehingga harganya pun cukup mahal baik dalam bentuk
segar maupun kering (ikan asin). Selain itu, memiliki kandungan albumin yang diperlukan tubuh manusia dalam mengatasi berbagai penyakit terutama yang disebabkan berkurangnya jumlah protein darah. Ikan ini termasuk salah satu jenis ikan karnivora air tawar dikarenakan sifatnya yang gemar memangsa ikan-ikan kecil sebagai pakannya. Walaupun memiliki potensi strategis serta kegunaan yang luas dalam industri pangan maupun farmasi, namun di Indonesia masih belum banyak dibudidayakan karena belum dikuasai teknik budidayanya. Pemeliharaan bersama ikan mujair di kolam, penggunaan campuran pakan buatan kaya nutrisi, serta pemanfaatan tanaman air dalam proses pemijahan merupakan alternatif budidaya yang perlu dikembangkan.
Ikan gabus [sumber]
Ketersediaan lahan budi daya jenis ikan konsumsi air tawar di Indonesia memberikan peluang besar bagi masyarakat bahkan pengusaha untuk mengembangkan budi daya ikan gabus. Permintaan dan kebutuhan pasar lokal maupun luar negeri semakin meningkat seiring dengan meningkatnya nilai produksi budidaya Channa striata tiap tahunnya. Data statistik FAO (2000) menyebutkan jumlah produksi Channa striata dari hasil budidaya pada tahun 2003 sebanyak 5.448 ton dan meningkat pada tahun 2004 mencapai 11.498 ton, sedangkan dari hasil tangkapan pada tahun 2003 sebanyak 7.327 ton dan meningkat pada tahun 2004 sebesar 16.528 ton. Berdasarkan data di atas memperlihatkan bahwa peluang bisnis budidaya spesies ini menjadi semakin prospektif dan strategis. Jenis-jenis ikan air tawar ekonomis dan strategis di Indonesia yang sudah dikenal dan diperdagangkan secara luas adalah ikan mas, tawes, nilem, jelawat, kowan (grasscarp), patin, baung, lele (lokal dan dumbo), gurami, tambakan, betutu, nila, belut, sidat, dan gabus. Khusus ikan gabus (Channa striata) merupakan jenis ikan air tawar yang bersifat karnivora namun memiliki banyak manfaat baik dari segi nilai ekonomisnya maupun manfaat dalam bidang kesehatan.

DESKRIPSI IKAN GABUS
Ikan gabus merupakan salah satu jenis ikan karnivora air tawar yang menghuni kawasan Asia Tenggara, namun belum banyak diketahui tentang sejarah dan sifat biologisnya. Ikan jenis ini dikenal sebagai ikan konsumsi dan banyak ditemui di pasaran. Dalam ukuran kecil (anakan) ikan gabus terlihat eksotis sehingga banyak dimanfaatkan sebagai ikan hias dalam akuarium. Di Indonesia, ikan ini dikenal dengan banyak nama daerah yaitu aruan, haruan (Malaysia, Banjarmasin, Banjarnegara), kocolan (Betawi), bogo (Sidoarjo), bayong, licingan (Banyumas), kutuk (Jawa). Dalam bahasa Inggris antara lain common snakehead, snakehead murrel, chevron snakehead, dan stripped snakehead. Weber & Beaufort (1922) menyebutkan beberapa nama daerah Channa striata antara lain gabus (Malaysia, Jawa), rajong (Sunda), deluk, kuto (Jawa, Madura), bado (Gaju), bace (Aceh), sepunkat (Palembang), dan haruan (Banjarmasin).

KLASIFIKASI
Ikan gabus dalam taksonomi dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum       : Chordata
Kelas       : Actinopterygii
Ordo        : Perciformes
Familia    : Channidae
Genus      : Channa
Species    : Channa striata
(Bloch, 1793 dalam Weber & Beaufort, 1922).
Synonyms:
- Ophiocephalus wrahl (Lacepede, 1801: 552)
- Ophiocephalus wrahl (Hamilton, 1822: 60, 367)
- Ophiocephalus chena (Hamilton, 1822: 62, 367)
- Ophiocephalus planiceps (Cuvier, 1831: 424)
- Ophiocephalus sowarah (Bleeker, 1845)
- Ophiocephalus vagus (Peters, 1868: 260)
- Ophiocephalus philippinus (Peters, 1868: 262)

Morfologi
Tubuh ikan gabus umumnya berwarna coklat sampai hitam pada bagian atas dan coklat muda sampai  keputihputihan pada bagian perut.
Bentuk badan ikan gabus [sumber]
Kepala agak pipih dan bentuknya seperti ular dengan sisik-sisik  besar di atas kepala, oleh sebab itu, dijuluki sebagai “snake head”.
Kepala ikan gabus [sumber]
Sisi atas tubuh ikan gabus dari kepala hingga ke ekor berwarna gelap, hitam kecoklatan atau kehijauan. Sisi bawah tubuh berwarna putih mulai dagu ke belakang.
Warna ikan gabus [sumber]
Sisi samping bercoret tebal (striata, bercoret-coret) dan agak kabur, warna tersebut seringkali menyerupai lingkungan sekitarnya.
Corak warna ikan gabus [sumber]
Mulut ikan gabus besar, dengan gigi-gigi yang tajam.
Mulut ikan gabus penuh dengan gigi tajam [sumber]
Sirip punggung memanjang dengan sirip ekor membulat di bagian ujungnya.
Bentuk sirip ikan gabus [sumber]
Penyebaran
Channa merupakan jenis ikan air tawar dengan 30 spesies yang tersebar dari Afrika hingga Asia (Lim & Ng, 1990). Di Asia spesies ini tersebar dari Afghanistan, Pakistan bagian barat, Nepal bagian selatan, India, Bangladesh, Srilangka, Myanmar, Indo-China, Cina, Jepang, Taiwan, Philipina, Malaysia, Singapura, dan Indonesia bagian barat.
Peta sebaran ikan gabus [sumber]
Asia Tenggara menjadi pusat penyebaran ikan gabus dengan 10 spesies didalamnya, menurut Lim & Ng (1990) sebanyak lima spesies tersebar di negara Singapura, Malaysia, dan Indonesia antara lain Channa micropeltes, Channa striata, Channa lucius, Channa melasoma, dan Channa gachua. Beberapa spesies Channa yang tersebar di Malaysia, Singapura, Sumatera, Kalimantan (Borneo) antara lain Channa sp. (Scopoli, 1777), Channa bankanensis (Bleeker, 1852), Channa gachua (Hamilton-Buchanan, 1822), Channa lucius (Cuvier & Valenciennes, 1831), Channa marulioides (Bleeker, 1851), Channa melanoptera (Bleeker, 1855), Channa melasoma (Bleeker, 1851), Channa micropeltes Cuvier & Valenciennes, 1831), Channa pleurophthalma (Bleeker, 1851), dan Channa striata (Bloch, 1793).

Habitat
Ikan gabus umumnya didapati pada perairan dangkal seperti sungai dan rawa dengan kedalaman 40 cm dan cenderung memilih tempat yang gelap, berlumpur, berarus tenang, ataupun wilayah bebatuan untuk bersembunyi. Selain itu, spesies ini juga ditemui di danau serta saluransaluran air hingga ke sawah-sawah.
Rawa merupakan salahsatu habitat ikan gabus [sumber]
Day (1967) dalam Tjahjo & Purnomo (1998) menyatakan bahwa ikan gabus termasuk salah satu jenis ikan air tawar yang mempunyai penyebaran yang luas, dan secara alami dapat hidup di danau, sungai, rawa air tawar, dan sawah. Sedangkan menurut Muflikhah (2007) benih ikan gabus banyak ditemukan di daerah perairan yang banyak rerumputan atau tanaman air dan belukar yang terendam air.

Kebiasaan Hidup
Secara umum ikan gabus (Channa striata) memiliki pola pertumbuhan allometrik atau pertambahan bobot lebih cepat daripada pertambahan panjang badan, hal ini berkaitan dengan sifat agresifnya dalam mencari makan. Ikan ini memangsa berbagai ikan kecil, serangga, dan berbagai hewan air lain termasuk berudu dan kodok. Seperti dinyatakan Uchida & Fujimoto (1933) bahwa makanan alami ikan gabus berupa hewan-hewan akuatik seperti ikan-ikan kecil, kodok serta insekta air. Ikan gabus memiliki kemampuan bernapas langsung dari udara, dengan menggunakan semacam organ labirin bernama divertikula yang terletak di bagian atas insang sehingga mampu menghirup udara dari atmosfir (Lagler et al., 1993 dalam Muflikhah, 2007). Sebagaimana ikan - ikan yang mempunyai labirin, ikan gabus mampu bertahan dalam kondisi perairan rawa dengan kandungan oksigen terlarut rendah dan pH berkisar 4,5-6.
Tanaman air merupakan tempat bersembunyi ikan gabus [sumber]
Dalam proses pemijahan spesies ini memiliki kebiasaan membangun sarang berbusa di antara vegetasi di lingkungan hidupnya. Djajadireja et al., (1977) dalam Muflikhah (2007) menyatakan bahwa ikan gabus membuat sarang yang berbentuk busa di sekitar tanaman air di rawa dan perairan dangkal dengan arus lemah. Busa tersebut berbentuk semacam lingkaran yang berfungsi selain sebagai area pemijahan juga sebagai pelindung telur yang telah dibuahi.

JENIS - JENIS IKAN GABUS

1. Channa micropeltes
Channa micropeltes [sumber]
2. Channa striata
Channa striata [sumber]
3. Channa lucius
Channa lucius [sumber]
4. Channa melasoma
Channa melasome [sumber]
5. Channa gachua
Channa gachua [sumber]
6. Channa bankanensis
Channa bankanensis [sumber]
7. Channa marulioides
Channa marulioides [sumber]
8. Channa melanoptera
Channa melanoptera [sumber]
9. Channa pleurophthalma
Channa pleurpohthalma [sumber]
Sumber : Nurbakti Listyantodan Septyan Andriyanto. 2009. Ikan Gabus (Channa striata) Manfaat Pengembangan dan Alternatif Teknik Budidayanya. Nurbakti Listyantodan Septyan Andriyanto. Pusat Riset Perikanan Budidaya KKP.

Semoga Bermanfaat...

Monday, August 20, 2018

Mengenal Ikan Baung

Dalam rangka peningkatan taraf hidup masyarakat, khususnya petani/nelayan, kegiatan budi daya ikan merupakan salah satu alternatif yang dapat ditempuh. Kegiatan budi daya beberapa jenis ikan, seperti ikan mas, nila, mujair, gurame, lele, dan patin sudah umum dikembangkan di masyarakat.

Salah satu jenis ikan yang sangat potensial untuk dibudidayakan adalah ikan baung. Ikan baung adalah sejenis lele (catfish) yang hidup di perairan umum, seperti sungai (dari hulu sampai ke muara) dan danau. Di Indonesia, ikan baung cukup populer dan amat digemari oleh konsumen, khususnya di Sumatra dan Kalimantan karena berdaging tebal dan memiliki rasa yang khas.
Ikan baung [sumber]
Harga satu kilogram ikan baung ukuran konsumsi (1/4 kg - 1 kg) adalah Rp 15.000,00 sampai Rp 40.000,00 sedangkan dalam bentuk ikan salai (asap) dapat mencapai Rp 90.000,00/kg. Karena nilai ekonomisnya tinggi, ikan baung senantiasa diburu dan ditangkap. Sampai saat ini, penyediaan ikan baung untuk konsumsi masih diperoleh dari penangkapan di alam. Ekploitasi alam tanpa memperhatikan kelestarian tentu akan menurunkan populasi ikan baung, bahkan dapat mengakibatkan kepunahan. Gejala kepunahan ikan baung sudah dirasakan oleh masyarakat Sumatra Tengah (Riau, Jambi, dan Bengkulu), Sumatra Selatan, dan Kalimatan.

Klasifikasi Ikan Baung
Ikan baung diklasifikasikan ke dalam Phylum Chordata, Kelas Pisces, Sub-kelas Teleostei, Ordo Ostariophysi, Sub-ordo Siluroidea, Famili Bagridae, Genus Macrones, dan Spesies Macrones nemurus CV. (Saanin, 1968). Menurut Imaki et al. (1978), ikan baung dimasukkan dalam Genus Mystus dengan spesies Mystus nemurus CV.
Ikan baung [sumber]
Sinonim Mystus nemurus adalah Bagrus nemurus CV., Bagrus hoevenii Blkr., Bagrus sieboldi Bikr., Hemibagrus nemurus Bikr., Macrones nemurus Gunther., Macrones bleekeri Volza., Macrones howony Popla., dan Macrones borga Popla (Weber and de Beaufort, 1965).

Di daerah Karawang, ikan baung dikenal dengan nama ikan tagih atau senggal, sedangkan di Jakarta dan Malaysia dikenal sebagai ikan bawon, senggal, singgah, dan singah (Sunda/Jawa Barat); tageh (Jawa); boon (Serawak); niken, siken, tiken, tiken-bato, baungputih, dan kendinya (Kalimantan Tengah); baong (Sumatra) (Weber and de Beaufort, 1965; Djajadiredja et al., 1977).

Morfologi Ikan Baung
Ikan baung mempunyai bentuk tubuh panjang, licin, dan tidak bersisik, kepalanya kasar dan depres dengan tiga pasang sungut di sekeliling mulut dan sepasang di lubang pemafasan; sedangkan panjang sungut rahang atas hampir mencapai sirip dubur.
Ikan baung [sumber]
Pada sirip dada dan sirip punggung, masing-masing terdapat duri patil. Ikan baung mempunyai sirip lemak (adipose fin) di belakang sirip punggung yang kira-kira sama dengan sirip dubur. Sirip ekor berpinggiran tegak dan ujung ekor bagian atas memanjang menyerupai bentuk sungut. Bagian atas kepala dan badan berwama coklat kehitam-hitaman sampai pertengahan sisi badan dan memutih ke arah bagian bawah

Daerah Penyebaran Ikan Baung
Distribusi ekologis ikan baung, selain di perairan tawar, sungai, dan danau, juga terdapat di perairan payau muara sungai dan pada umumnya ditemukan di daerah banjir. Ikan baung berhasil hidup dalam kolam yang dasarnya berupa pasir dan batuan (Madsuly, 1977). Di Jawa Barat, ikan baung banyak ditemukan di sungai Cidurian dan Jasinga Bogor yang airnya cukup dangkal (45 cm) dengan kecerahan 100 %. 

Distribusi geografis ikan baung, selain di perairan Indonesia, juga terdapat di Hindia Timur, Malaya, Indocina, dan Thailand.

Pakan dan Kebiasaan Makan Ikan Baung
Ikan pada umumnya mempunyai kemampuan beradaptasi tinggi terhadap makanan dan pemanfaatan makanan yang tersedia di suatu perairan. Dengan mengetahui kebiasaan makan ikan, maka kita dapat mengetahui hubungan ekologi organisme dalam suatu perairan, misalnya bentuk-bentuk pemangsaan persaingan makanan dan rantai makanan.

Beberapa penelitian menunjukan bahwa ikan baung termasukjenis ikan karnivora dengan susunan makanan yang terdiri atas ikan, insekta, udang, annelida, nematoda, detritus, sisa-sisa tumbuhan, atau organik lainnya. Susunan makanan ikan baung dewasa berbeda dengan susunan makanan ikan baung anakan. Makanan utama ikan baung dewasa terdiri atas ikan dan insekta, sedangkan makanan utama anakan ikan baung hanya berupa insekta. Tetapi, Djajadiredja et al. (1977) mengemukakan bahwa ikan baung termasuk jenis ikan omnivora dengan makanan terdiri atas anak ikan, udang, remis, insekta, moluska, dan rumput. Makanan utama ikan baung yang hidup di Waduk Juanda terdiri atas udang dan makanan pelengkapnya berupa ikan dan serangga air, sehingga digolongkan dalam jenis ikan kamivora.

Cara Berkembang Biak Ikan Baung
Berdasarkan laporan alawi et.al. (1990), ikan baung diperairan sungai Kampar (Riau) memijah pada sekitar bulan Oktober sampai bulan Desember.  Hal ini merupakan fenomena umum karena pada saat itu biasanya musim hujan dan sebagian besar ikan diperairan umum memijah pada awal atau sepanjang musim hujan.  Hal ini terjadi karena ikan yang akan memijah umumnya mencari kawasan yang aman dan banyak makanan.

Kawasan seperti ini didapatkan pada kawasan rerumputan yang digenangi air pada saat musim hujan tiba.  Demikian juga jenis ikan baung mencari tepat perlindungan dan membuat sarang bila melakukan pemijahan (Bardach et.al., 1972).

Sumber : Pembenihan ikan baung. 2008. Bogor

Semoga Bermanfaat...