Monday, July 16, 2018

Morfologi Artemia Salina

Saat ini telur artemia sudah diproduksi secara massal oleh perusahaan pakan ikan yang tujuannya tentu untuk mensuplai pakan bagi larva ikan. Telur - telur artemia dipasarkan dalam wadah kaleng yang dapat bertahan hingga bertahun - tahun. Pada saat akan digunakan baru telur artemia ditetaskan menggunakan air laut /larutan garam sehingga memudahkan pembudidaya ikan dalam penyediaan pakan larva ikan.

Berikut tahapan sikuls hidup artemia dimulai dari telur hingga dewasa.

1. Kista / Telur
Telur artemia atau kista berbentuk bulat berlekuk dalam keadaan kering dan bulat penuh dalam keadaan basah. Warnanya coklat yang diselubungi oleh cangkang yang tebal dan kuat . Kista merupakan telur yang telah berkembang menjadi embrio yang diselubungi oleh cangkang yang tebal dan kuat. Cangkang ini berguna untuk melindungi embrio terhadap pengaruh kekeringan, benturan keras, sinar ultra violet, dan mempermudah pengapungan . Kista merupakan telur yang terbungkus korion, kista dapat diartikan sebagai telur yang mengalami fase cryptobiosis (fase tidur atau istirahat). 

Telur artemia dalam bentuk kista berwarna coklat dengan garis tengah antara 200-300 µm, berat antara 1,60-2,22 µg. Jika dimasukan kedalam air laut, kista kering yang berbentuk cekung akan mengalami hidrasi menjadi berbentuk bulat penuh dan mulai terjadi metabolisme embrio dalam cangkang. 

Kista ini disimpan dalam kantong telur atau uterus dengan jumlah berkisar 38-45 butir kista dalam satu individu betina. Perkembangan warna kista dalam uterus di tubuh induknya dimulai dari warna putih, menjadi hijau muda, biru dan selanjutnya coklat tua.

Pada salinitas 90-200 ‰, Artemia dapat menghasilkan kista. Sedangkan pada salinitas < 85 ‰ Artemia akan memproduksi nauplius. Akibatnya keberhasilan pemeliharaan Artemia untuk memproduksi kista akan mencapai maksimal apabila media ada pada salinitas yang optimal. 

Penampang kista artemia menunjukan dari luar ke dalam lapisan-lapisan korion, kutikula embrio dan embrio atau calon nauplius. Lapisan korion yang keras dan berwarna coklat terdiri dari lapisan epidermis, lapisan kortikal dan lapisan alveolar.
Lapisan cangkang telur/kista Artemia salina
Lapisan korion berfungsi sebagai pelindung terhadap gangguan mekanik, lapisan kutikula embrio berfungsi sebagai pelindung embrio dari goncangan mekanik dan sebagai sumber enzim tahalose yang membantu dalam proses penetasan. Diantara kedua lapisan korion dan kutikula embrio terdapat selaput luar kutikula embrio. Setelah 15-20 jam pada suhu 25oC kista akan menetas menjadi embrio. Artemia selama masa hidupnya yang sekitar 50 hari dalam kondisi super ideal bisa memproduksi kista sebanyak 300 butir per 4 hari.

2. Pre Nauplius
Setelah 24 jam, cangkang kista akan pecah (breaking stage atau E-1) dan akan muncul embrio yang dikelilingi oleh selaput penetasan. Dalam beberapa jam, embrio meninggalkan cangkang kista dan bergantung dibawah cangkang yang kosong dalam keadaan masih melekat (umberella stage atau E-2).

Perkembangan naupli Artemia salina
Di dalam selaput penetasan, nauplius berkembang sempurna dan anggota badan mulai bergerak. Dalam waktu singkat, selaput penetasan pecah dan muncul nauplius yang berenang bebas.

3. Nauplius
Anderson (1967) dalam Cholik dan Daulay (1985) menggambarkan 10 stadia larva artemia :
Stadia I panjangnya antara 450-475 µm dan berwarna jingga kecoklatan karena masih mengandung kuning telur, mempunyai 3 pasang anggota badan yaitu (1) antena sensor kecil yang disebut antena pertama, (2) antena yang berkembang sempurna yang mempunyai alat gerak dan berfungsi sebagai penyaring makanan, dan (3) mandibula yang belum sempurna. Mata nauplius berwarna merah terletak pada bagian kepala diantara antena pertama. Pada stadia I artemia belum dapat mengambil makanan karena sistem pencernaan belum berfungsi (mulut dan anus masih tertutup). Pada suhu 20oC stadia I berlangsung selama 20 jam.

Stadia II panjangnya 630 µm dan nampak lebih bening.makanan yang berukuran partikel kecil (algae, bakteria dan detritus) yang ukurannya berkisar antara 1-40 µm akan disaring oleh antena kedua dan dicerna di dalam saluran pencernaan, Stadia ini berlangsung selama 10 jam.

Stadia III berukuran sekitar 725 µm, saluran pencernaan tampak jelas, kuning telur yang dikandungnya jauh berkurang. Tiga ruas pertama dari tubuhnya semakin nyata dan 3 ruas berikutnya mulai nampak sebagai lingkaran, telson sudah mulai nampak. Stadia ini berlangsung selama 40 jam.

Stadia IV panjangnya sekitar 800 µm. Dapat dibedakan dengan jelas, perkembangan duri yang terletak pada ujung eksopod dari antena telah sempurna. Duri ini dapat digerak-gerakan. Perkembangan lain yaitu pembentukan maksilula dan maksila.
Stadia Artemia salina [sumber]
Artemia tumbuh melalui sekitar 15 ganti kulit, yaitu (1) truncus dan perut memanjang, (2) anggota badan lobular yang berpasangan yang muncul pada bagian truncus dan akan berkembang menjadi thorakopoda dan (3) bagian lateral mata yang berkembang pada kedua sisi mata nauplius.

Perubahan morfologi masih terjadi sebelum artemia menjadi dewasa. Sejak instar ke-10 perubahan-perubahan morfologi yang terpenting antara lain hilangnya fungsi antena sebagai alat gerak dan perubahan bentuk menunjukan terjadinya perbedaan kelamin jantan dan betina. Kaki berkembang menjadi bagian-bagian yang fungsinya berbeda-beda, yaitu menjadi telopodit yang berfungsi sebagai saringan, endopodit untuk bergerak dan eksopodit untuk pernapasan.

4. Dewasa
Setelah stadia X artemia menjadi dewasa. Waktunya berkisar 7- 15 hari tergantung pada keadaan lingkungan. Perubahan morfologi yang tampak setelah artemia menjadi dewasa adalah terbentuknya mata, antenula, alat pencernaan yangmemanjang dan 11 pasang thorakopoda. Perbedaan antara artemia jantan dan betina yaitu pada artemia jantan terdapat alat penangkap dan sepasang penis yang terdapat dibagian belakang tubuhnya. Pada artemia betina, antena berfungsi sebagai alat peraba. Sepasang ovari terletak memanjang pada kedua sisi saluran pencernaan di belakang thorakopoda.
Morfologi Artemia salina
Perbedaan induk jantan dan betina Artemia salina

Sumber : Paper Kultur Artemia Salina

Semoga Bermanfaat...

0 komentar:

Post a Comment