Lalaukan

Informasi dunia kelautan dan perikanan serta kegiatan penyuluhan perikanan

Monday, September 16, 2019

Penyakit Fungal (Jamur) Pada Ikan : Lagenedium sp

Jamur Lagenedium sp merupakan koloni jamur yang berfilamen dengan warna keputih-putihan. Proses pelepasan zoospore terjadi setelah gelembung terpisah dari pembuluh, dan pertumbuhannya sangat cepat. Jamur ini lebih cenderung sebagai parasit fakultatif daripada obligat dan merupakan agen pembawa mycosis udang. Gejala klinis yang ditimbulkan antara lain kista berkecambah dan masuk melalui karapas, pertahanan inang, dan miselia tumbuh ke dalam jaringan syaraf dan kulit, otak, dan mata. Selain itu, terjadi kehilangan kemampuan nokturnal, kehilangan keseimbangan, dan kelumpuhan abdomen. Bentuk infeksi dan morfologi Lagenedium sp disajikan pada Gambar berikut.

Bentuk infeksi dan morfologi Lagenedium sp
Penyebab : Lagenidium spp. dan Sirolpidium spp.

Bio – Ekologi patogen :
  1. Infeksi Lagenidium spp. umumnya terjadi pada stadia nauplius, zoea hingga mysis. Apabila menyerang pada stadia zoea sering menyebabkan kematian masal di panti benih (hatchery).
  2. Infeksi Sirolpidium spp. lebih sering terjadi pada stadia mysis hingga Post Larvae (PL) awal.
  3. Kedua jenis cendawan ini tumbuh optimal pada kisaran suhu air antara 25-34 oC dan kisaran pH 7-9.
  4. Penyakit ini umumnya merupakan kompleks infeksi bersama patogen lainnya, dan mortalitas yang terjadi terutama karena gangguan terhadap proses ganti kulit (moulting).

Gejala Klinis :
  1. Nafsu makan menurun, pergerakan lemah, dan anemia.
  2. Pada tubuh larva udang (nauplius, zoea, mysis, PL) terlihat adanya hifa dan/atau miselia cendawan.
  3. Pada kondisi yang serius, sering dijumpai tubuh larva udang terlilit dan dipenuhi oleh cendawan.

Diagnosa :
  1. Pengamatan secara mikroskopis, pada bagian eksternal terlihat adanya hifa dan/atau miselia cendawan.
  2. Isolasi pada media semi solid (agar), dan diidenfikasi secara morfometris.

Pengendalian :
  1. Desinfeksi bak dan air sebelum digunakan.
  2. Menghindari penumpukan bahan organik dalam media pemeliharaan melalui penyiponan secara berkala.
  3. Hifa dan spora cendawan ini dapat diberantas dengan perendaman desinfektan, antara lain: Larutan Trefflan pada dosis 0,1 ppm selama 24 jam atau lebih untuk tujuan desinfeksi; Larutan Trefflan pada dosis 0,2 ppm selama 24 jam atau lebih untuk tujuan pengobatan; Perendaman formalin 10-25 ppm selama 24 jam.


Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

No comments:

Post a Comment