Kegiatan Penyuluhan

Kegiatan Penyuluhan Perikanan Bertujuan Meningkatkan Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan Pelaku Utama dan Pelaku Usaha Perikanan.

Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP)

P2MKP Memberdayakan Pelaku Utama Perikanan dan Masyarakat.

Pelatihan Kelautan dan Perikanan

Meningkatkan keterampilan para pelaku utama kelautan dan perikananm.

AUTO MATIC FEEDER

Solusi Memberi Makan Ikan Menjadi Mudah Dan Tepat.

Friday, March 25, 2016

Mengenal Rumput Laut

Gulma  laut  atau rumput  laut  merupakan  salah  satu  sumber  daya  hayati  yang  terdapat  di wilayah  pesisir  dan laut.  Istilah  "rumput  laut"  adalah  rancu  secara  botani  karena  dipakai  untuk dua  kelompok  "tumbuhan"  yang berbeda.  Dalam  bahasa  Indonesia,  istilah  rumput  laut  dipakai untuk  menyebut  baik  gulma  laut  dan  lamun. Yang  dimaksud  sebagai  gulma  laut  adalah anggota  dari  kelompok  vegetasi  yang  dikenal  sebagai  alga ("ganggang").  Sumber  daya  ini biasanya  dapat  ditemui  di  perairan  yang  berasosiasi  dengan  keberadaan ekosistem terumbu karang. Pemanfaatan rumput laut di Indonesia sendiri sebenarnya telah dimulai sejak tahun 1920.
Berbagai jenis rumput laut
Tercatat  ada  22  jenis  rumput  laut  digunakan  secara  tradisional  sebagai  makanan,  baik  dibuat sayuran maupun  sebagai  penganan  dan  obat-obatan.  Sampai  dengan  tahun  1990-an,  penelitian telah  berhasil mengembangkan pemanfaatan 61 jenis dari 27 marga rumput laut. Namun, penggunaannya selama itu masih terbatas untuk makanan dan obat. Belum ada upaya pengembangan lebih lanjut pada produk lain yang punya nilai  ekonomis  lebih  tinggi.  Jenis  rumput  laut  juga banyak  dibudidayakan  oleh  sebagian  masyarakat  pesisir Indonesia.  Contoh  jenis  rumput  laut yang banyak dibudidayakan di antaranya  adalah  Euchema  Cottonii  dan  Gracilaria  spp. Beberapa daerah  dan  pulau  di  Indonesia  yang  masyarakat pesisirnya  banyak  melakukan  usaha  budidaya rumput  laut  ini  di antaranya  berada  di  wilayah  pesisir  Kepulauan  Seribu, Provinsi Kepulauan Riau,  Pulau  Lombok,  Sulawesi,  Maluku  dan  Papua. Rumput  laut  Eucheuma  Cottonii mempunyai  ciri-ciri  yaitu  thallus silindris,  percabangan  thallus  berujung  runcing  atau  tumpul, ditumbuhi  nodulus  (tonjolan- tonjolan),  berwarna  cokelat kemerahan,  cartilageneus  (menyerupai tulang  rawan  atau muda),  percabangan  bersifat  alternates  (berseling),  tidak  teratur serta  dapat bersifat  dichotomus  (percabangan  dua-dua)  atau trichotomus (system percabangan  tiga-tiga) .

Rumput  laut  Eucheuma Cottonii  memerlukan  sinar  matahari  untuk  proses  fotosintesa. Oleh karena  itu,  rumput  laut  jenis  ini  hanya  mungkin  dapat  hidup pada lapisan fotik, yaitu pada kedalaman sejauh sinar matahari masih mampu mencapainya. Di alam, jenis ini biasanya  hidup berkumpul  dalam  satu  komunitas  atau  koloni.  Eucheuma  Cottonii  tumbuh  di  rataan  terumbu karang  dangkal  sampai  kedalaman  6  m,melekat  di  batu  karang,  cangkang  kerang  dan  benda keras  lainnya. Faktor yang sangat berpengaruh pada pertumbuhan jenis ini yaitu cukup arus dan salinitas (kadar garam) yang stabil, yaitu berkisar 28-34 per mil. Oleh karenanya rumput laut jenis ini akan hidup baik bila jauh dari muara sungai. Jenis ini telah dibudidayakan dengan cara diikat pada tali sehingga tidak perlu melekat pada substrat karang  atau  benda lainnya.  Khasiat biologi  dan kimiawi  senyawa  alginat  juga  dimanfaatkan  pada pembuatan obat  antibakteri,  antitumor, penurun tekanan  darah  tinggi,dan  mengatasi  gangguan  kelenjar.  Rumput  laut memang ibarat "tanaman dewa". Itu karena unsur-unsur mineral yang terkandung didalamnya seperti iodium, seng,  dan selenium. Unsur  seng  dan  selenium  diketahui  dapat  mencegah  kanker. Kandungan  seng  dalam rumput  laut  diperkirakan  100  kali  lebih  tinggi  dibandingkan  yang  ditemukan  pada  air  laut. Di pasar  domestik perdagangan komoditas ini lebih banyak dalam bentuk rumput laut kering.

Perdagangan dalam bentuk rumput laut basah belum dikenal, hal ini terkait dengan belum berkembangnya industri pengolahan rumput laut basah yang  dapat  diproses  menjadi  berbagai produk  turunan  alginat. Pada  pasar  domestik  tidak  ada  standar  mutu perdagangan rumput laut.

Sumber : Modul Pengolahan Rumput Laut BPPP Tegal

Semoga Bermanfaat...

Monday, March 21, 2016

Bagan Perahu

Alat tangkap bagan perahu merupakan modifikasi dari bagan yang ada di Indonesia, seperti bagan tancap, bagan motor dan bagan apung.
Bagan Apung
Konstruksi alat tangkap
Konstruksi alat tangkap ini terdiri dari jaring, bambu, pipa besi, tali temali, lampu dan kapal bermesin. Bagian jaring dari bagan ini terbuat dari bahan waring yang dibentuk menjadi kantung. Bagian kantung terdiri dari lembaran-lembaran waring yang dirangkaikan atau dijahit sedemikian rupa sehingga dapat membentuk kantung berbentuk bujur sangkar yang dikarenakan adanya kerangka yang dibentuk oleh bambu dan pipa besi. Mesh size waring 0.5 cm. Kantung waring berukuran 9 m x 9 m x 3 m.

Bambu anjungan berdiameter 10-12 cm serta panjang 10 m sebagai tiang penggantung bagi penurunan dan penarikan waring. Bingkai waring berukuran diameter 11.5-12.5 cm dengan panjang 9 m. Besi bingkai pembentuk kantung merniliki diameter 6.35 cm. Lampu petromaks berjumlah 7 buah. Bambu penggulung berdiameter 12 cm dengan panjang 10 m. Tali/tambang berdiameter 08-1 cm dan panjang keseluruhan 204 m yang dihubungkan di setiap ujung persegi bujur sangkar. Kapal berukuran L x B x D = 13 m x 2,5 mx 1.2 m, dengan motor diesel 19 PK.

Metode pengoperasian
Bagan perahu biasa dioperasikan menjelang malam hingga pagi. Persiapan yang dilakukan antara lain bahan bakar, makanan, kondisi waring dan peralatan lainnya. Untuk mencapai daerah penangkapan, nelayan sebelumnya telah memperkirakan posisi yang akan didatangi. Pengalaman dan kebiasaan nelayan menjadi patokan.

Setelah sampai nelayan melakukan penurunan jangkar untuk memastikan kapal tidak terbawa arus. Nelayan menyalakan lampu petromaks lalu meletakkan pada bambu penyanggah lampu dengan jarak antara lampu dan kapal motor 3-4 m. Ketinggian lampu terhadap permukaan air 1.5 m. Petromaks dipompa setiap 15 menit untuk menjaga cahaya yang ada. Lampu dipindahkan ke lambung kanan kapal sehingga ikan yang terkumpul tidak menyebar.

Setelah perairan mulai tenang waring diturunkan dengan memasang bingkai pada bagian atas kantong dan kondisi lampu tetap terang. Penurunan waring dilakukan perlahan kemudian dibiarkan selama 1 jam sampai diperkirakan ikan sudah terlihat banyak lalu diangkat.

Penarikan waring dilakukan oleh seorang nelayan secara perlahan dan bersamaan dengan penguluran tali jangkar oleh anak buah kapal agar kapal perlahan mundur serta ikan tetap pada area penangkapan. Waring diangkat hingga mencapai permukaan perairan.

Setelah bingkai waring mencapai permukaan kemudian bingkai dilepaskan dan diangkat. Badan jaring ditarik dan ikan yang berada di kantong waring diambil dengan menggunakan serokan. Hasil tangkapan diletakkan di bakul dan dilakukan pemisahan setiap jenis ikan.

Daerah penangkapan
Operasi penangkapan biasa dilakukan dekat dengan pulau atau daerah teluk dengan perairan yang tenang. Kedalaman perairan untuk operasi penangkapan 10-18 m.

Musim penangkapan
Musim penangkapan dari bagan motor ini sepanjang tahun, kecuali pada saat-saat tertentu di mana cuaca tidak memungkinkan seperti pada saat musim barat.
Bagan Apung
Sumber : Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
 
Semoga Bermanfaat...

Friday, March 18, 2016

Kelembagaan Kelompok Masyarakat Pengawas (POKMASWAS)

POKMASWAS adalah kelompok masyarakat pengawas yang merupakan komponen masyarakat yang berpotensi ikut secara aktif dalam pengawasan perikanan dapat terdiri dari unsur agama, unsur adat, nelayan, petani, pengusaha dibidang perikanan.
POKMASWAS sebagai partisipasi aktif yang difasilitasi pemerintah. Adapun sasaran dibentuknya POKMASWAS, adalah pertama terbentuknya mekanisme pengawasan berbasis masyarakat, yang secara integratif dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, organisasi non pemerintah, serta dunia usaha dengan tetap mengacu kepada peraturan dan perundangan yang berlaku.

Berikut presentasi saya mengenai kelembagaan POKMASWAS yang disampaikan pada pelatihan kelautan dan perikanan angkatan 11 bidang pengelolaan kawasan konservasi mangrove bagi masyarakat perikanan Kabupaten Subang dan Karawang.





untuk file aslinya silahkan download disini

Wednesday, March 16, 2016

Motor Diesel Sebagai Penggerak Kapal

Saat ini penggunaan motor untuk penggerak kapal perikanan didominasi oleh motor diesel. hal ini dikarenakan mesin diesel mempunyai daya tahan yang lebih baik dan harganya yang lebih murah.
Mesin kapal
Beberapa keuntungan penggunaan motor diesel
Penggunaan motor diesel lebih menguntungkan dibanding dengan motor bensin, karena :

  1. Mantap dan terpercaya pada saat beroperasi.
  2. Tenaganya lebih besar untuk setiap Kg. Berat mesin.
  3. Konsumsi BBM solar sedikit.
  4. Penyimpanan BBM solar lebih aman.
  5. Momen puntirnya (torque) lebih tinggi.
  6. Perawatannya mudah dan lebih murah biayanya.

Jika menggunakan BBM solar yang bersih, motor diesel dapat dioperasikan secara terus menerus dengan aman. Nilai kalor BBM solar lebih tinggi daripada BBM bensin.

Kemampuan motor diesel
Dengan perbandingan kompresi (compression ratio) yang tinggi, serta tekanan kompresi yang tinggi pula, dan pengabutan BBM solar yang baik dan tepat pada saatnya, pembakaran BBM solar dan udara segar dapat lebih sempurna, sehingga dayaguna (rendemen) mekaniknya tinggi. Disamping itu gas bekas motor diesel tidak berbahaya bagi makluk hidup. Motor bensin, umumnya putaran poros engkolnya tinggi (hight speed engine), sehingga momen puntirnya (torque) rendah. Sedangkan motor diesel umumnya putaran poros engkolnya rendah (disbanding dengan motor bensin), sehingga momen puntirnya tinggi, untuk tenaga (HP) yang sama dengan motor bensin.

Motor diesel sebagai mesin penggerak kapal (marine engine).
Motor penggerak kapal umumnya disebut dengan MARINE ENGINE, disebut demikian karena motor ini dibuat oleh pabriknya secara khusus untuk digunakan sebagai penggerak utama (mesin pokok) kapal. Motor ini dibuat dalam konstruksi yang sudah disesuaikan dengan lingkungan kapal.

Pada umumnya motor penggerak kapal dilengkapi dengan :
1. Kopling (marine gear/gear box) yang berfungsi sebagai :
  • Pemutus hubungan antara putaran mesin dengan poros baling-baling.
  • Penghubung putaran mesin dengan poros baling-baling.
  • Pembalik arah putaran poros baling-baling agar kapal dapat bergerak maju atau mundur.
  • Reductor (mereduksi) putaran mesin untuk keseimbangan torsi (torque) mesin dengan baling-baling.
2. Rangka mesin yang kuat, sehingga mampu menerima dan menyalurkan gaya dorong dari baling-baling ke kapal.
3. Bantalan penahan (thrust bearing), dipasang di poros utama kopling, yang berfungsi untuk :
  • Mendukung poros utama kopling dan poros baling-baling.
  • Menahan gaya dorong dari baling-baling dan meneruskannya ke badan kopling, sehingga gaya dorong ini tidak merusak komponen-komponen mesin yang bergarak.
4. Komponen-komponen mesin yang tahan terhadap air laut, terutama pada bagian-bagian yang berhubungan dengan sistem pendinginan mesin.

Dalam proses kerjanya motor diesel menggerakan baling-baling dengan transmisi kopling dan poros baling-baling, baling-baling berputar menghasilkan gaya dorong maju atau mundur, tergantung putaran baling-baling. Gaya dorong yang dibangkitkan oleh putaran baling-baling dikembalikan lagi ke badan kopling melalui poros baling-baling dan thrust bearing. Akibatnya badan kopling/motor akan terdorong, karena badan kopling/motor terikat kuat dengan kapal melalui engine bed, maka kapalnya akan bergerak.

Motor diesel dan sistem poros baling - baling
Selain itu mesin penggerak yang dipasang duduk didalam kapal dilengkapi dengan :
1. Poros baling-baling, yang berfungsi :
  • Sebagai dudukan baling-baling.
  • Untuk memindahkan (transmisi) tenaga dari motor ke baling-baling.
  • Untuk memindahkan gaya dorong dari baling-baling ke badan kopling lewat thrust bearing.
  • Untuk menyumbat bantalan tabung, sehingga air dari luar kapal tidak masuk.
2. Bantalan tabung, berfungsi sebagai :
  • Pendukung poros baling-baling.
  • Pengatur pelumasan poros baling-baling dan pendukungnya dengan air.
3. Baling-baling, berfungsi untuk mengahasilkan gaya dorong maju atau mundur jika digerakkan oleh motor.
4. Daun kemudi berfungsi untuk mengarahkan jalannya kapal.

Sumber : Bahan ajar Peleatihan Permesinan Perikanan

Semoga Bermanfaat...

Monday, March 14, 2016

Manfaat Refrigerasi Pada Industri Perikanan

Mesin-mesin pendingin dewasa ini semakin banyak dimanfaatkan seirama dengan kemajuan teknologi dan meningkatnya taraf hidup. Penggunaan yang umum adalah untuk mengawetkan makanan. Karena pada pada suhu biasa (suhu kamar) makanan cepat menjadi busuk (karena pada temperatur biasa bakteri akan berkembang cepat). 
Penurunan Suhu Ikan
Menyadari akan besarnya peranan suhu dingin pada daya awet hasil perikanan inilah yang mendorong manusia mengaitkan hasil perikanan itu dengan usaha refrigerasi, yakni memanfaatkan teknologi refrigerasi guna mendinginkan suhu atau menurunkan suhu hasil tangkapan agar panjang daya awetnya. Kegiatan refrigerasi hasil tangkapan adalah usaha mendinginkan ikan agar awet guna memperoleh manfaat biologis (gizi) dan ekonomis yang setinggi-tingginya.

Dalam kehidupan sehari-hari, teknologi refrigerasi lebih dikenal dalam bentuk produknya yang berupa es, lemari dingin (refrigerator rumah tangga), kamar dingin (chillroom), gudang atau kamar beku (cold storage), pabrik es dan lain-lain. Di kota-kota besar produk refrigerasi yang umum dikenal adalah alat pendingin ruangan (AC). Selanjutnya efek refrigerasi dinikmati hampir seluruh umat manusia dalam berbagai jenis dan bentuk pangan yang didinginkan dan dibekukan, seperti minuman dingin, es lilin, es krim, sayuran dan buah-buahan dingin, ikan basah, udang beku, daging, dan ayam beku, dan lain-lain.

Memang demikianlah halnya, teknologi refrigerasi memiliki peranan khusus dalam produksi dan distribusi pangan manusia dan hewan. Teknologi ini tidak hanya diterapkan dalam pemanfaatan pasca-panen (sesudah panen) tetapi juga dalam produksi pangan pra-panen (dalam budidaya tanaman, ternak, ikan, dan lain-lain) jadi diterapkan dalam seluruh mata rantai mulai dari produksi sampai pada penanganan, pengolahan, dan distribusi serta konsumsi pangan.

Pada tahun 1974 G. Lorenzen, menyatakan bahwa produksi pangan di dunia saat itu diperkirakan 3.000 juta ton. Sekitar 45% dari produksi itu adalah kelompok pangan cepat busuk (perisable foods) yang memerlukan usaha pengawetan, yang menggunakan teknik refrigerasi. Padahal yang dapat diawetkan secara refrigerasi saat itu hanya sekitar 2-3 % saja. Sebagian besar tidak dapat diselamatkan, yang tersia-sia besar sekali jumlahnya, sering diperkirakan 20-30%. Akibat pangan yang bersifat mudah busuk tidak dapat mencapai wilayah konsumsi yang jauh, terpaksa harus segera dihabiskan, dibiarkan busuk di lapangan, atau tidak dapat dimanfaatkan sama sekali sumber dayanya.

Mengingat ikan tergolong pangan yang cepat membusuk sehingga pengawetan dengan menggunakan teknik refrigerasi diharapkan mampu mengawetkannya dengan kesegaran ikan yang paling dekat dengan kesegaran ikan yang baru saja ditangkap. Diharapkan juga dengan bantuan teknik refrigerasi itu perikanan modern dunia dapat meningkatkan produksinya beberapa puluh juta ton selama 30 tahun terakhir ini.

Dalam dunia perikanan secara umum dapat dikemukakan bahwa penerapan teknik refrigerasi dalam bentuk pendinginan dan khususnya pembekuan, memberi keuntungan sebagai berikut:
  1. Memperluas jangkauan penangkapan sehingga dapat memanfaatkan sumberdaya perikanan yang berlokasi jauh dari laut dalam dan wilayah ekonomi ekslusif;
  2. Mengamankan hasil tangkapan pada periode tangkapan besar dan menyalurkannya pada periode paceklik, dengan demikian dapat mengatur suplai dan menstabilkan harga;
  3. Memperpanjang masa operasi pabrik pengolahan karena dapat menghimpun stok bahan baku pada waktu musim raya;
  4. Memperpanjang waktu penyimpanan dan memperluas jaringan distribusi;
  5. Memperluas jaringan pemasaran ke luar negeri sehingga memperbesar pemasukan devisa;
  6. Meningkatkan pendapatan nelayan dan petani produsen berhubung dapat memperkuat posisinya dalam proses penawaran dan permintaan.
       Suksesnya suatu usaha perikanan, selain penerapan teknik refrigerasi yang tepat, perlu pula diperhatikan usaha pembinaan mutu (quality control) sehubungan dengan usaha standarisasi, penerapan sanitasi dan hygiene dan peningkatan keahlian dan keterampilan dalam operasi dan pemeliharaan.

Semoga Bermanfaat...

Thursday, March 10, 2016

Udang Galah, Si Capit Panjang

Udang Galah merupakan jenis udang yang termasuk dalam spesies Macrobrachium rosenbergii. Udang galah memiliki ciri-ciri fisik yang lebih besar dari jenis udang lainnya. Udang galah biasanya hidup di daerah perairan air tawar yang dangkal. Udang galah umumnya hidup di daerah perairan air tawar. Udang galah memiliki ciri khas yaitu memiliki kelapa yang berbentuk kerucut, restrum melebar pada bagian ujungnya, bentuk udang galah memanjang dan melengkung ke atas.

Udang galah
KLASIFIKASI UDANG GALAH











KARAKTERISTIK MORFOLOGIS UDANG GALAH
Secara umum, udang galah mempunyai karakteristik morfologis sebagai berikut :
  1. Tubuh beruas–ruas sebanyak 5 ruas yang masing-masing dilengkapi sepasang kaki renang; kulit keras dari chitin; pelura ke dua menutupi pleura pertama dan ke tiga;
  2. Badan terbagi tiga bagian : kepala+dada (cephalothorax); badan (abdomen); dan ekor (uropoda);
  3. Cephalothorax dibungkus karapas (carapace);
  4. Tonjolan seperti pedang pada carapace disebut rostrum dengan gigi atas sejumlah 11-15 buah dan gigi bawah 8-14 buah.;
  5. Kaki jalan ke dua pada udang dewasa tumbuh sangat panjang dan besar, panjangnya bisa mencapai 1,5 kali panjang badan, sedang pada udang betina pertumbuhan tidak begitu mencolok;

Keterangan : 1. Rostrum; 2. Kepala dan Dada (cephalothorax); 3.  Badan (abdomen), 4. Ekor (uropoda), 5. Mata; 6 dan 7. Antena; 8. Capit (ukuran besar/panjang pada jantan); 9. Kaki Jalan (pleopoda); 10. Kaki Renang (peripoda).
KARAKTERISTIK HABITAT/BIOLOGIS UDANG GALAH
Sedang karakteristik habitat/biologis udang galah adalah:
  1. Memiliki dua habitat yaitu air payau salinitas 5-20 ppt (stadia larva-juvenil), dan air tawar (stadia juana-dewasa) (Gambar 2);
  2. Matang kelamin umur 5 – 6 bulan (mendekati muara sungai untuk memijah lagi;
  3. Mengalami beberapa kali ganti kulit (molting) yang diikuti dengan perubahan struktur morfologisnya, hingga akhirnya bermorfologis menjadi juvenil (juana);
Selain morfologi, untuk membudidayakan ikan/udang perlu diketahui sifat-sifatnya; beberapa sifat yang penting diketahui antara lain adalah :
  1. Euryhalin, yaitu dpt hidup pada kisaran salinitas yg lebar (0-20 ppt);
  2. Omnivora, yaitu pemakan segala (tumbuhan dan hewan);
  3. Pada stadia larva, udang galah memakan plankton hewani (zooplankton), seperti rotifera, protozoa, cladocera, dan copepoda;
  4. Stadia Post larva, juvenil, dan dewasa : memakan cacing, serangga air, udang renik, telur ikan, ganggang, potongan tumbuh – tumbuhan air, potongan hewan, jasa penempel, hancuran biji – bijian dan buah – buahan, siput, dan sebagainya, juga memakan jenisnya sendiri (kanibal, khususnya ketika molting);
  5. Nokturnal, yaitu aktif makan malam hari. Jika lingkungan hidupnya dapat dibuat relatif gelap udang akan aktif makan walaupun siang hari;
  6. Larva bersifat planktonis, aktif berenang, tertarik oleh cahaya tetapi menjauhi sinar matahari.
  7. Pada stadium pertama (I), larva cenderung berkelompok dekat permukaan air dan semakin lanjut umurnya akan semakin menyebar dan individual serta suka mendekati dasar. Di alam larva hidup pada salinitas 5 – 10 0/00.
Siklus hidup udang galah

Sumber : Bahan ajar Pelatihan Budidaya Udang Galah

Semoga Bermanfaat...

Wednesday, March 9, 2016

Azolla Microphylla Pakan Ikan Yang Murah dan Mudah

Bentuk Azolla adalah sudut segitiga polygonal dan mengambang di permukaan air secara individu atau bergerombol. Diameter tanaman berkisar antara 0,3 – 1 inchi (1-2,5 cm) bagi spesies kecil seperti Azolla pinnata, sampai 6 inchi (15 cm) atau lebih bagi Azolla nilotica, Azolla filiculoides yang di kembangkan di Hawai awal abad ke-20. Lingkungan ideal bagi Azolla adalah kolam-kolam berisi air segar atau daerah berair/lembab berlumpur.
Azolla microphylla

KANDUNGAN UNSUR HARA AZOLLA



















Sebagai pakan ikan, Azolla menyimpan kandungan nutrisi yang komplit. Selain kaya protein, Azolla juga mengandung Vitamin A, B12, Asam Amino Esensial, Beta Carotene. Lemak, Karbohidrat dan mineral. Kandungan protein Azolla mencapai 25-35%, Mineral 10-15%, Lemak 7-7.5% dan Karbohidrat 6-6.5%.

Jika diberikan sebagai pakan ikan, Azolla dapat diberikan langsung dalam keadaan segar. Alternatif lain, Azolla bisa diolah terlebih dahulu menjadi tepung Azolla. Tepung Azolla ini kemudian dijadikan campuran untuk membuat pellet ikan

Bagi pembudidaya ikan tentunya penggunaan Azolla sebagai pakan ikan akan menekan biaya produksi. Namun sayang, belum banyak pembudidaya yang mengembangkan Azolla sebagai pakan ikan.

CARA MEMPERBANYAK AZOLLA
Buatlah stok Azolla dengan bak plastik atau di kolam yang tidak ada ikannya. Semprot stok setiap 1 bulan sekali dengan pupuk P (satu sendok makan SP-36 per liter air). Sebaiknya Sp-36 digerus halus agar mudah larut dalam air.

Pembiakan Azolla di kolam bisa dilakukan dengan mempersiapkan lahan tanam persis seperti pengolahan tanah untuk bertanam padi. Bedanya ketebalan tanah kolam dari dasar setidaknya antara 5-10 cm, lalu diberi pupuk dasar N,P dan K, di genangi dengan air dan jangan dibiarkan kering. Bila bibit azolla didapat dari lapang jangan di tanam di kolam besar yang terkena sinar matahari langsung. Sebaiknya diadaptasikan dulu di kolam kecil untuk beradaptasikan dengan lingkungan yang baru. Lalu kemudian ditransplantasikan ke kolam induk.

Sumber : Materi Pelatihan Pakan Alternatif

Semoga Bermanfaat...

Monday, March 7, 2016

Mengenal Azolla Pakan Alami Mudah dan Murah

Azolla merupakan satu-satunya genus dari paku air mengapung suku Azollaceae. Terdapat tujuh spesies yang termasuk dalam genus ini. Suku Azollaceae sekarang dianjurkan untuk digabungkan ke dalam suku Salviniaceae.

Azolla dikenal mampu bersimbiosis dengan bakteri biru-hijau Anabaena azollae dan mengikat nitrogen langsung dari udara. Potensi ini membuat Azolla digunakan sebagai pupuk hijau baik di lahan sawah maupun lahan kering. Pada kondisi optimal Azolla akan tumbuh baik dengan laju pertumbuhan 35% tiap hari Nilai nutrisi Azolla mengandung kadar protein tinggi antara 24-30%. Kandungan asam amino essensialnya, terutama lisin 0,42% lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrat jagung, dedak, dan beras pecah (Arifin, 1996) dalam Akrimin 2002.

Tanaman Azolla Sp. memang sudah tidak diragukan lagi konstribusinya dalam memengaruhi peningkatan tanaman padi. Hal ini telah dibuktikan dibeberpa tempat dan beberapa negara. Konstribusi terbesar azolla adalah dengan menjaga hasil panen tetap tinggi. Meskipun penggunaannya sebagai pupuk hijau pada tanaman padi masih dilakukan di China dan Vietnam, dengan adanya peningkatan biaya tenaga kerja, membuatnya kurang diminati.

Meskipun demikian, seiring dengan perkembangan pupuk hijau, penggunaan azolla ini kini lebih banyak dimanfaatkan untuk budidaya perikanan.

SPECIES AZOLLA
  1. Azolla japonica Franch. & Sav. dari Jepang

  2. Azolla filiculoides Lam.

  3. Azolla pinnata R. Br. dari Asia Tenggara, juga dari Afrika

  4. Azolla nilotica Dcne. ex Mett.
  5. Azolla caroliniana Willd., dari Amerika Utara

  6. Azolla mexicana Presl., dari Meksiko

  7. Azolla microphylla Kaulf.


Sumber : Materi Pelatihan Pakan Alternatif

Semoga Bermanfaat...

Thursday, March 3, 2016

Kewirausahaan

Secara harfiah Kewirausahaan terdiri atas kata dasar wirausaha yang mendapat awalan ked an akhiran an, sehingga dapat diartikan kewirausahaan adalah hal-hal yang terkait dengan wirausaha. Sedangkan wira berarti keberanian dan usaha berarti kegiatan bisnis yang komersial atau non-komersial, Sehingga kewirausahaan dapat pula diartikan sebagai keberanian seseorang untuk melaksanakan suatu kegiatan bisnis.
Ilustrasi kewirausahaan
Kewirausahaan (Entrepreneurship) atau Wirausaha adalah : 
  • Proses mengidentifikasi, mengembangkan, dan membawa visi ke dalam kehidupan.
  • Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang dan  cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu (usaha).
  • Hasil akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru.
Beberapa definisi Kewirausahaan menurut ahli :
  • Richard Cantillon (1775): misalnya, mendefinisikan kewirausahaan sebagai bekerja sendiri (self-employment).
  • Penrose (1963): kegiatan kewirausahaan mencakup indentifikasi peluang-peluang di dalam sistem ekonomi .
  • Harvey Leibenstein (1968, 1979):  kewirausahaan mencakup kegiatan yang dibutuhkan untuk menciptakan atau melaksanakan perusahaan pada saat semua pasar belum terbentuk atau belum teridentifikasi dengan jelas, atau komponen fungsi produksinya belum diketahui sepenuhnya.
  • Peter Drucke : kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda. 
Secara etimologi Kewirausahaan berasal dari kata wira dan usaha. 
  • Wira berarti pejuang, pahlawan, manusia unggul, teladan, berbudi luhur, gagah berani dan berwatak agung.
  • Usaha adalah perbuatan amal, bekerja, dan berbuat sesuatu.Jadi wirausaha adalah pejuang atau pahlawan yang berbuat sesuatu.
Orang yang melakukan kegiatan kewirausahaan disebut wirausahawan.
Ilustrasi kewirausahaan
Seorang wirausahawan (entrepreneur) HARUS mempunyai cara berpikir yang berbeda dari manusia pada umumnya. Mereka mempunyai motivasi, panggilan jiwa, persepsi dan emosi yang sangat terkait dengan nilai nilai, sikap dan perilaku sebagai manusia unggul.

Sejarah Kewirausahaan
Wirausaha secara historis sudah dikenal sejak diperkenalkan oleh Richard Castillon pada tahun 1755. Di luar negeri, istilah kewirausahaan telah dikenal sejak abad 16, sedangkan di Indonesia baru dikenal pada akhir abad 20. Kewirausahaan dipelajari baru terbatas pada beberapa sekolah atau perguruan tinggi tertentu saja.

Sejalan dengan perkembangan dan tantangan seperti adanya krisis ekonomi, pemahaman kewirausahaan baik melalui pendidikan formal maupun pelatihan-pelatihan di segala lapisan masyarakat kewirausahaan menjadi berkembang

Sumber : Materi Kewirausahaan pada Pelatihan Kelautan dan Perikanan di Kab. Lebak 2016

Semoga Bermanfaat...

Tuesday, March 1, 2016

Tips Mencegah Pembusukan Ikan

Kita telah mengetahui bahwa pembusukan ikan terutama disebabkan oleh enzym dan bakteri. Oleh karena itu untuk mencegah pembusukan, akan sangat efektif bila kedua penyebab utama itu disingkirkan dari ikan, dibunuh, dan dicegah kedatangan penyebab lain yang berasal dari luar. Pembusukan itu sendiri bagaimana pun tidak dapat dicegah atau dihindari. Sampai saat manusia baru berhasil untuk memperlambat atau menunda proses pembusukan itu.
Ikan Segar
Usaha Mencegah Pembusukan Ikan
Usaha terbaik yang dapat dilakukan untuk mempertahankaan mutu ikan terhadap pembusukan adalah sebagai berikut:
1. Mengurangi sebanyak mungkin jumlah enzim dan bakteri pada tubuh ikan.
Bakteri terdapat pada bagian kulit dan terutama sekali pada insang dan isi perutnya sedangkan enzim pada daging dan sebagian besar pada perutnya. Jika setelah ditangkap dibuang isi perutnya dan insangnya serta kemudian dicuci bersih, dihilangkan lendir-lendirnya maka berarti sebagian besar bakteri dan enzim telah dibuang.

2. Membunuh sisa-sisa bakteri dan enzim atau sekurang-kurangnya menghambat kegiatannya.
Bakteri yang tertinggal pada ikan dapat diperangi dengan berbagai cara yang pada dasarnya dapat dibagi dalam 5 kategori:
  • Penggunaan suhu rendah
    Penggunaan es sebagai salah satu upaya pencegahan pembusukan ikan
  • Penggunaan suhu tinggi
    Pemindangan merupakan salah satu upaya pencegahan pembusukan ikan dengan suhu tinggi 
  • Pengeringan (dehidrasi) 
    Pengeringan ikan
  • Penggunaan zat-zat anti septic
  • Penyinaran atau irradiasi

Untuk dapat hidup dengan baik, bakteri memerlukan suhu tertentu, tergantung dari jenisnya. Ada tiga macam bakteri berdasarkan pertahanannya terhadap suhu seperti pada tabel berikut :
Kisaran suhu bagi kehidupan bakteri
Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa kebanyakan bakteri akan mati atau sekurang-kurangnya akan terhenti kegiatannya bila suhu ikan diturunkan sampai dibawah 0 0 C atau bila dinaikkan sampai diatas 100 derajat celcius. Penggunaan suhu rendah kita lakukan dengan menggunakan es atau dengan cara pendinginan   lainnya. Sedangkan suhu tinggi dipakai misalnya dalam pengalengan atau pemindangan. Ikan asin, ikan asap, ikaan asam, dan sebagainya akan lebih awet jika disimpan pada suhu rendah.

Air merupakan kebutuhan yang pokok bagi pertumbuhan bakteri. 
Bakteri selalu menyerap makanannya dalam bentuk larutan, dan untuk itu diperlukan air. Jadi dalam suasana kering, bakteri tidak akan dapat makan sehingga akan mati. Atas dasar inilah maka ikan dapat diawetkan dengan mengurangi kadar airnya, yaitu dengan cara:

  • Pengeringan dengan udara (Drying)
  • Osmose (penggunaan garam)
  • Pemasakan (perebusan, pengukusan, pengetiman)
  • Pengeringan dengan pembekuan pada ruang hampa ( vacuum freeze drying).

Beberapa zat kimia seperti asam cuka, klor (kaporit), Aureonmycin, asam benzoat, natrium benzoat, dll, sangat efektif dipakai untuk membunuh kuman bakteri dan menghentikan enzym. Zat-zat tersebut dapat dipakai untuk mengawetkan ikan dalam batas-batas tertentu.

3. Melindungi ikan terhadap kontaminasi bakteri dari luar.
Pengawetan tidak akan banyak berarti jika ikan yang telah diawetkan tidak dilindungi dari penyebab kerusakan baru yang datang dari luar ikan. Kerusakan ini bermacam-macam pada ikan olahan dan hasil olahannya, antara lain:

  • Pembusukan akibat pencemaran bakteri dari air, pembungkus, dari ikan lain, dan sebagainnya.
  • Oksidasi lemak yang menimbulkan bau tengik, 
  • Kerusakan-kerusakan fisik karena serangga, jamur, kecerobohan dalam penanganan, dan sebagainya.

Untuk melindungi ikan terhadap kerusakan-kerusakan ini kita harus menyelenggarakan sanitasi dan hygiene yang baik dalam proses penanganan, melakukan pembungkusan / pengepakan yang baik, serta usaha-usaha proteksi yang lain.

Sumber : Modul Teknologi Hasil Perikanan

Semoga Bermanfaat...