Kegiatan Penyuluhan

Kegiatan Penyuluhan Perikanan Bertujuan Meningkatkan Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan Pelaku Utama dan Pelaku Usaha Perikanan.

Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP)

P2MKP Memberdayakan Pelaku Utama Perikanan dan Masyarakat.

Pelatihan Kelautan dan Perikanan

Meningkatkan keterampilan para pelaku utama kelautan dan perikananm.

AUTO MATIC FEEDER

Solusi Memberi Makan Ikan Menjadi Mudah Dan Tepat.

Tuesday, February 28, 2017

Hukum Adat Awig - Awig Di Nusa Tenggara Barat

Saat ini, hubungan antara sumberdaya laut dan pesisir dengan kewenangan pengelolaan masyarakat adat mulai menjadi perhatian dan kepentingan dari pemerintah dan pembuat kebijakan. Selain itu, beberapa inisiatif dari masyarakat dan dorongan dunia internasional mulai bermunculan untuk mendukung masyarakat nelayan walaupun hukum nasional yang spesifik, kebijakan-kebijakan, dan instrumen hukum lainnya yang mengakui kewenangan pengelolaan masyarakat adat terhadap sumber daya laut dan pesisir belum terdapat di Indonesia.
Salahsatu daerah yang sudah menerapkan awig - awig
Namun pelaksanaan otonomi daerah dan pelimpahan kewenangan yang sekarang ini sedang di lakukan oleh pemerintah pusat kepada daerah merupakan langkah yang cukup menjanjikan serta mengkhawatirkan untuk mendukung pengelolaan sumber daya laut dan pesisir oleh masyarakat adat, walaupun hal ini masih perlu dilihat lebih jauh lagi. Salah satu keraifan lokal yang sangat menarik untuk di bahas yaitu kearifan lokal masyarakat Lombok Barat Provinsi NTB yang disebut dengan ‘Awig-awig”.

PENGERTIAN AWIG - AWIG
Awig-awig adalah aturan yang dibuat berdasarkan kesepakatan masyarakat untuk mengatur masalah tertentu dengan maksud memelihara ketertiban dan keamanan dalam kehidupan masyarakat. Awig-awig ini mengatur perbuatan yang boleh dan yang dilarang, sanksi serta orang atau lembaga yang diberi wewenang oleh masyarakat untuk menjatuhkan saksi.

Munculnya awig-awig yang berlaku di wilayah Lombok semakin kuat seiring dengan hadirnya UU No.22/1999 tentang Pemerintah Daerah. Seperti aturan-aturan lokal lainnya, di era sentralistik banyak sekali praktik-praktik tradisional pengelolaan perikanan yang mengalami kematian akibat homogenisasi hukum dan pemonopolian pelaksanaan penegakan hukum oleh aparat. Akibatnya, keberadaan aturan-aturan lokal (hak ulayat) yang selama ini berlaku di masyarakat secara turun-menurun menjadi tidak lagi berfungsi dan mengalami degradasi, sehingga masyarakat yang merasa tidak dihargai oleh pemerintah banyak melakukan pembangkangan-pembangkangan terhadap hukum formal. Memudarnya kepercayaan masyarakat dan terjadinya pembangkangan terhadap hukum formal disebabkan oleh pemerintah itu sendiri yang tidak menegakkan hukum secara tegas.

LATAR BELAKANG MUNCULNYA AWIG - AWIG
Sementara itu adanya penguatan awig-awig dalam pengelolaan perikanan di daerah ini dipengaruhi oleh masalah pokok yaitu konflik. Adapun munculnya konflik dalam kegiatan pemanfaatan sumber daya ikan dipengaruhi oleh rusaknya lingkungan (ekologi), pertambahan penduduk (demografi), lapangan pekerjaan yang semakin sedikit (mata pencarian), lingkungan politik legal, perubahan teknologi dan perubahan tingkat komersialisasi (pasar).

Dengan melihat faktor-faktor yang menyebabkan konflik di daerah pesisir, masyarakat Lombok Barat merasa terpanggil dan menyadari untuk mengadakan perbaikan sistem pengelolaan sumber daya. Oleh karena itu, dibentuklah awig-awig secara tertulis sebagai aturan main dalam pengelolaan perikanan demi menciptakan pembangunan pesisir yang berkelanjutan. Kekuatan awig-awig yang mengatur sistem pengelolaan bersama tersebut merupakan suatu kesadaran kolektif dari masyarakat. Peran masyarakat nelayan dalam pembentukan awig-awig sangat besar dibandingkan pemerintah.

Semakin menurunnya hasil tangkapan ikan akibat aktifitas penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, maka masyarakat nelayan menghendaki suatu aturan yang tegas dalam pengelolaan sumber daya pesisir dan laut, sehingga dapat menciptakan kelestarian sumber daya dan peningkatan penghasilan masyarakat nelayan. Permasalahan-permasalahan yang kerap muncul dan menjadi bahan perbincangan masyarakat nelayan tersebut, langsung disikapi oleh pihak pimpinan kelompok untuk ditindaklanjuti di tingkat skala kecil yaitu dengan cara menyelenggarakan diskusi kelompok nelayan. Sehingga dalam pembentukan awig awik berawal dari tahap informal yaitu berawal dari omongan omongan, kemudian berlanjut pada tahap musyawarah antar warga hingga terbentuk sebuah kesepakatan untuk membentuk aturan dan diperkuat dengan campur tangan pemerintah darah dalam bentuk peraturan daerah.

Sumber : Awig-awig” Kearifan Lokal masyarakat Lombok Barat sebagai pengatur sistem perikanan untuk melestarikan Ekositem Laut

Semoga Bermanfaat...

Sunday, February 26, 2017

Tahapan Penyelesaian Masalah Atau Perkara Adat Dalam hukum Adat Lilifuk

Ada tahapan tertentu yang harus ditempuh dalam mengambil tindakan konkrit untuk memperbaiki hukum yang telah dilanggar itu pelanggaran adat. Tahapan penyelesaian masalah atau perkara adat disebut dengan ator sinlasi yang dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Pelaporan (Mu ota lasi atau tatek oko mama)
Apabila terjadi masalah atau pelanggaran adat, pertama-tama akan dilaporkan mengenai masalah atau pelanggaran tersebut kepada kepala desa (temukung), lembaga adat (amnais alat), kepala suku Baineo ataupun amnasit. 
Penyampaian laporan dapat dilakukan oleh korban, pelaku (asanat) maupun orang lain. Proses pelaporan ini dikenal dengan istilah “mu ota lasi” yang artinya “menceritakan masalah/pelanggaran”. Proses ini juga dapat disebut dengan istilah “tatek oko mama” yang artinya “membawa/mendudukkan tempat sirih” apabila yang melaporkan masalah atau pelanggaran adat tersebut adalah pelaku itu sendiri. Hal ini disebabkan pada saat melapor, pelaku akan mengakui kesalahannya dan langsung meminta maaf yang dilambangkan dengan membawa tempat sirih (oko mama).

2. Perundingan (Tok ta bua)
Setelah menerima laporan dari pelapor, maka semua pihak terkait akan melakukan perundingan yang disebut dengan istilah ”tok ta bua” yang artinya “duduk bersama”.

Dalam perundingan tersebut, mereka akan melakukan musyawarah untuk menentukan sanksi adat yang akan dijatuhkan kepada pelaku dengan mendengarkan kesaksian apabila ada pihak lain yang menjadi saksi masalah atau pelanggaran tersebut. Dalam penentuan sanksi, setiap pihak yang berunding akan memperhatikan kemampuan dari pelaku, apakah pelaku dapat memenuhi sanksi adat yang diberikan atau tidak.

3. Putusan (Tafek lasi)
Setelah putusan sanksi adat telah ditetapkan dalam perundingan, maka akan disampaikan kepada pelaku mengenai putusan sanksi yang akan diterimanya yang akan didahului dengan pemberian nasehat dan pedoman hidup oleh salah satu pihak yang telah ditunjuk.

Setelah memberikan nasehat kepada pelaku, maka akan disampaikan putusan mengenai sanksi adat yang diberikan. Dalam hukum adat, sanksi adat yang biasa dijatuhkan adalah sanksi denda (opat). 

4. Eksekusi putusan (Ta naoba fekat)
Pelaksaan putusan ini akan didahului oleh penyembelihan hewan denda yang dibawa oleh pelaku. Hewan yang telah disembelih akan dimasak dan kemudian dinikmati bersama oleh lembaga adat (amnais alat), kepala desa (temukung), amnasit, pelaku (asanat), dan juga masyarakat (toh). 

Proses makan bersama ini juga menjadi lambang bahwa pengikatan diri terhadap ketetapan hukum adat, terutama bagi pelaku untuk kembali mengikatkan dirinya kepada hukum adat yang telah dilanggarnya sehingga di kemudian hari tidak lagi melakukan pelanggaran. Proses ini juga akan membersihkan diri pelaku atas akibat (kesialan) dan kesalahan yang telah dilakukannya saat melanggar hukum adat serta memperbaiki hubungannya dengan masyarakat pasca pelanngarannya.

Sumber : Ranny Unbanunaek. Penerapan Hukum Adat Lilifuk terhadap Perusakan Lingkungan Pesisir Teluk Kupang

Semoga Bermanfaat...

Thursday, February 23, 2017

Nilai - Nilai yang terkandung Pada Hukum Adat Lilifuk

Ada 7 (tujuh) nilai dalam hukum adat lilifuk, di antaranya:
Keindahan Pantai
1. Nilai Religius
Masyarakat Kuanheun percaya akan adanya kekuatan yang menguasai laut yang disebut dengan Raja Laut (Uis Tasi). Hal ini dapat ditemukan dalam mitos-mitos yang dipercayai, yakni apabila seseorang melakukan pelanggaran hukum adat lilifuk (atolan alat lilifuk), seperti menangkap ikan sebelum waktunya, maka orang tersebut dipercaya akan mendapat sial. Hal ini dikarenakan ada keyakinan bahwa lilifuk dijaga oleh sesuatu yang memiliki kekuatan gaib (supernatural power). 

2. Nilai Ekologi
Hukum adat lilifuk mengatur bahwa dalam melakukan penangkapan ikan di lilifuk, setiap orang wajib menggunakan alat tangkap yang tidak merusak lilifuk yang dalam ungkapan adatnya: “het ika at paek at pake bale le kana leu tasi” artinya menangkap ikan menggunakan alat yang tidak merusak laut.

Norma-norma dalam hukum adat lilifuk (atolan alat lilifuk)  bertujuan untuk menjamin keberlangsungan sumber daya laut agar dapat hidup, tumbuh, berkembang secara optimal, serta mendapat perlindungan dari ancaman perusakan, pemusnahan, dan pencemaran dari berbagai kegiatan atau perilaku manusia yang mengabaikan kelestarian sumber daya pesisir. Hukum adat lilifuk (atolan alat lilifuk) ditujukan untuk menjaga lingkungan pesisir mereka. 

3. Nilai Komunal
Sebagai tuan tanah (pah tuaf) dari lilifuk, tidak membuat Suku Baineo memiliki lilifuk secara mutlak. Suku Baineo berkuasa terhadap pengelolaan lilifuk, namun hasil dan manfaat dari lilifuk tetap menjadi milik dari setiap warga Desa Kuanheun.

Sekalipun Suku Baineo memiliki hubungan yang kuat dengan lilifuk sebagai pemilik tanah namun hal tersebut tidak melemahkan nilai kepemilikan bersama atas manfaat lilifuk. selain itu, dalam menyelesaikan setiap pelanggaran lilifuk pun harus dilakukan secara musyawarah dan mufakat dengan melibatkan berbagai pihak dan masyarakat.

4. Nilai Relasi Sosial
Hukum adat lilifuk (atolan alat lilifuk) memberikan gambaran mengenai bagaimana manusia seharusnya membangun relasi sosial yang baik, harmonis, seimbang, serasi dan selaras baik antara manusia dengan manusia, maupun manusia dengan lingkungannya.

Hukum ini berusaha untuk menciptakan jalinan hubungan yang baik antar masyarakat melaluipemberian undangan untuk panen dan musyawarah yang dilakukan dalam menyelesaikan segala permasalahan. Tidak hanya relasi antar manusia, hukum adat lilifuk (atolan alat lilifuk) juga berupaya untuk menciptakan relasi yang baik antar manusia dengan lingkungan dengan cara menjaga dan berusaha melestarikannya. Ada kesadaran bahwa lingkungan sebagai bagian dari hidup mereka yang bersama-sama memiliki keterikatan satu sama lain yang harus selalu dipertahankan.

5. Nilai Solidaritas dan Tanggungjawab
Upaya konservasi yang dilakukan melalui hukum adat lilifuk menunjukan adanya rasa tanggung jawab dan solidaritas dari masyarakat Kuanheun terhadap keberlangsungan hidup biota laut serta kelestarian lingkungan. Masyarakat merasa bertanggungjawab untuk menjasa kelangsungan hidup biota laut dengan menjaganya agar tidak punah dan terancam hidupnya oleh tindakan serakah manusia.

Melalui upaya penangkapan ikan yang ramah lingkungan dan tidak merusak lingkungan lilifuk, masyarakat telah memberikan perhatian terhadap kehidupan laut dengan berusaha membangun lingkungan yang baik bagi perkembangbiakan biota laut agar dapat terus lestari. Masyarakat merasa bertanggung jawab terhadap keberlangsungan lingkungan hidup.

6. Nilai Kepemimpinan Sosial
Pengakuan dan penghargaan terhadap keberadaan pemimpin adat terdapat dalam hukum adat lilifuk. Pemimpin adat, seperti lembaga adat (amnais alat), kepala desa (temukung), tuan tanah (pah tuaf), dan amnasit memiliki peran sentral dalam penyelesaian masalah dan ritual-ritual adat. Masyarakat menaruh ketaatan terhadap keputusan yang dibuat oleh pemimpin adat.
Setiap keputusan yang dibuat oleh seorang pemimpin akan diikuti oleh masyarakat sebagai sesuatu yang benar. Peran dan tugas yang dilakukan oleh pemimpin mereka telah membangun rasa kepemimpinan di dalam masyarakat. Nilai kepemimpinan ini juga terlihat dari sikap masyarakat yang jika ingin melakukan sesuatu di wilayah tuan tanah, maka akan meminta izin kepada tuan tanah sebagai pemimpin mereka dalam ungkapan (“a etun auf tuaf” artinya “kasih tahu tuan tanah”)

7. Nilai Pendidikan
Hukum adat lilifuk (atolan alat lilifuk) menjadi sarana pembelajaran banyak hal, baik mengenai ekologi, komunal (kebersamaan), solidaritas dan tanggung jawab, relasi sosial maupun mengenai kepemimpinan sosial.

Hukum adat lilifuk (atolan alat lilifuk) mengajarkan pentingnya menjaga lingkungan dan bagaimana seharusnya manusia menjalin hubungan yang baik dan harmonis dengan sesama dan lingkungan.

Sumber : Ranny Unbanunaek. Penerapan Hukum Adat Lilifuk terhadap Perusakan Lingkungan Pesisir Teluk Kupang

Semoga Bermanfaat...

Monday, February 20, 2017

Hukum adat Lilifuk di Nusa Tenggara Timur

Wilayah pesisir Teluk Kupang mengalami peningkatan aktivitas pembangunan, baik yang dilakukan oleh pihak swasta maupun masyarakat sekitar. Banyaknya aktivitas pembangunan ini memberikan efek buruk bagi lingkungan pesisir karena pembangunan yang dilakukan masih di dominasi oleh kepentingan ekonomi dengan mengesampingkan keberlanjutan lingkungan pesisir dan sumber daya alamnya. Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir saja wilayah ini telah mengalami perubahan yang signifikan dengan didirikannya bangunan-bangunan perhotelan dan industri, baik itu pertokoan maupun restaurant. Bangunan-bangunan tersebut didirikan tepat di wilayah pesisir sehingga menyebabkan reklamasi pantai. Selain itu aktivitas dari masyarakat sekitar wilayah pesisir juga memberikan sumbangan besar terhadap kerusakan lingkungan di wilayah pesisir. Salah satu aktivitas tersebut adalah aktivitas penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan.
Laut dan pesisir tejaga kelestarianya dengan diterapkannya hukum adat lilifuk
Pengelolaan wilayah pesisir membutuhkan kerjasama dari berbagai pihak baik pemerintah maupun pihak swasta termasuk masyarakat, terkhusus masyarakat pesisir memiliki peran yang besar sebagai pihak yang paling dekat dengan wilayah pesisir itu sendiri. Masyarakat pesisir dapat memberikan dukungan nyata terhadap pengelolaan wilayah pesisir yang berkelanjutan. Masyarakat di wilayah pesisir Teluk Kupang memiliki hukum adat yang dapat mendukung keberlangsungan dari sumber daya alam di wilayah pesisir yakni hukum adat lilifuk (atolan alat lilifuk) yang berlaku di wilayah pesisir Desa Kuanheun, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang. Perairan laut Desa Kuanheun yang juga merupakan bagian dari Taman Nasional Perairan (TNP) Laut Sawu.

Hukum adat lilifuk adalah suatu budaya penangkapan ikan dengan alat dan cara yang ramah lingkungan dengan memperhatikan kelestarian ekosistem pesisir dan juga keberlangsungan biota yang ada.

Ketetapan Pada Hukum Adat Lilifuk
Kata lilifuk berasal dari Bahasa Dawan (Bahasa Suku Timor), yaitu kata “nifu” yang artinya kolam. Dinamai demikian karena sesungguhnya lilifuk merupakan suatu cekungan di permukaan dasar perairan pantai yang digenangi air pada saat surut tertinggi. Daerah cekungan ini akan menyerupai kolam yang besar dengan kedalaman maksimum 5 (lima) meter dan luasnya mencapai ± 20.000 (dua puluh ribu) m2. Ketika air laut surut, lilifuk akan dipenuhi dengan berbagai biota laut yang terjebak di dalamnya, seperti: ikan lada dan ikan dusung sertai ditumbuhi beberapa jenis tanaman rumput laut. Ketetapan mengenai pengelolaan lilifuk dibuat oleh Suku Baineo sebagai tuan tanah (pah tuaf) atau pemilik dari lilifuk. Adapun hal-hal yang ditetapkan adalah sebagai berikut:
  1. Panen lilifuk dilakukan setahun sekali pada bulan Desember yang dikenal dengan istilah “tut nifu”.
  2. Ketika akan melakukan panen, diwajibkan untuk mengundang seluruh masyarakat desa dan desa-desa tetangga.
  3. Setiap orang dilarang untuk memasuki atau mengambil biota laut di wilayah lilifuk di luar dari waktu panen yang ditetapkan.
  4. Pada saat panen, setiap orang wajib menggunakan alat penangkapan ikan yang tidak merusak lilifuk.
  5. Setiap orang yang mengikuti panen diwajibkan untuk memberikan upeti kepada Suku Baineo berupa beberapa ekor ikan dari hasil tangkapannya. Pemberian upeti ini dikenal dengan istilah “tanaib ika” yang artinya ”memotong hasil ikan”.
  6. Setiap orang yang melakukan pelanggaran terhadap ketetapan Suku Baineo dikenakan sanksi adat, yakni denda (opat) berupa seekor babi (fafi).

Eksistensi Hukum Adat Lilifuk dalam Menyelesaikan Masalah Perusakan Lingkungan Pesisir Teluk Kupang
Hukum adat lilifuk (atolan alat lilifuk) mengenal beberapa larangan sebagai berikut:
  1. Dilarang mengunakan alat tangkap yang merusak lilifuk (kais taleu talas);
  2. Dilarang melakukan penangkapan ikan di lilifuk jika bukan waktunya (at panen an mui oras);
  3. Dilarang mengambil penyu (kaisat het hek ke);
  4. Dilarang mengambil pasir dan batu laut (kais taitis snaen);
  5. Dilarang mencemari laut (kais taleu tasi);
  6. Dilarang merusak tempat pengeringan garam (kais taleu atoni in masi).
Nilai - Nilai Dalam Hukum Adat Lilifuk, selengkapnya silahkan baca pada artikel disini

Tahapan Penyelesaian Masalah Atau Perkara Adat, selengkapnya silahkan baca pada artikel disini


Sumber : Ranny Unbanunaek. Penerapan Hukum Adat Lilifuk terhadap Perusakan Lingkungan
Pesisir Teluk Kupang.

Semoga Bermanfaat...

Friday, February 17, 2017

Hukum Adat Laot Aceh Bagian 2

Keputusan musyawarah panglima laot tentang hukum adta laot merupakan ketetapn dari hukum yang sudah ada sebelumnya dari masing-masing wilayah adat dalam provinsi Aceh dengan demikian seluruh panglima laot se-Aceh dapat mengumumunkan kepada seluruh nelayan yang ada didaerahnya masing-masing.

Hukum adat laut di Aceh merupakan hukum adat yang berlaku dalam masyarakat nelayan diwilayah masing-masing. Nelayan atau pengusaha perikanan laut didaerah melakukan usaha penangkapan ikan pada wilayah hukum adat tersebut harus tunduk pada hukum adat yang berlaku didaerah itu (hak ulayat laut).

Panglima laot merupakan lembaga adat yang keduduknanya berfungsi sebagai ketua adat bagi kehiduoan masyarakat nelayan: (a) resolusi konflik; (b) advokasi nelayan; (c) koordinasi dengan berbagai pihak, pemerintahan, dan nonpemerintahan, demi kesejahteran masyarakat nelayan pantai.

Di wilayah perairan laot Aceh terdapat sejumlah aturan penankapan ikan dan bagi hasil ikan. Aturan tersebut tetap merupakan hukum aat bag nelayan yang melakukan penangkapan didaerah itu.

Diwilayah Aceh juga dikenal beberapa hari pantang melaut, yakni sebagai berikut:
  1. Kenduri adat laot dilaksanakan selambat-lambatnya 3 tahun sekali atau tergantung kesepakatan dan kesanggupan nelayan setempat, dinyatakan 3 hari pantang melaut pada acera kenduri tersebut dihitung sejak keluar matahari pada hari kenduri hingga tenggelam matahari pada hari ketiga.
  2. Hari jum’at dilarang melaut selama satu hari, terhitung dari terbenamnya matahari hari kamis samapai dengan terbenamnya matahari pada hari jum’at.
  3. Hari raya idul fitri, dilatng melaut selama 4 hari terhitung sejak tebenamnya matahari pada satu hari sebelum hari raya sampai dengan terbenamnya matahari pada hari kedua hari raya.
  4. Hari raya idul Adha dilarang melaut selama 4 hari, terhitung mulai terbenamnya matahari pada satu hari sebelum hari raya sampai dengan terbenamnya matahari hari ketiga hari raya.
  5. Hari kemerdekaan 17 agustus dilarang melaut selama satu hari terhitung mulai tenggelamnya matahari pada tanggal 16 agustus sampai dengan terbenamnya matahari pada 17 agustus.
  6. Terakhir pantang melaot ditambah satu hari lagi pada tanggal 26 desember sebagai usaha untuk selalu mengingat musibah terbesar sepanjang abad, gempa yang disusul gelombang tsunami di Aceh yang terjadi pada Ahad, 26 desember 2004. Pantang laot 26 desember ini, diputuskan setelah musyawarah panglima laot se-Aceh pada 9-12 desember 2005 di Banda Aceh.

Ada empat aspek adat laot yang sekarng berlangsung, yakni pertama, adat sosial. Adat sosial dalam operasional dan kehidupan nelayan diantaranya:
  1. Pada saat terjadi kerusakan kapal/perahu atau alat alat tangkap lainnya dilaut mereka memberikan suatu tanda yaitu menaikkan bendera tanda meminta bantuan (SOS), bagi perahu yang melihat aba-aba terseburt langsunf datang mendekati dan memberi bantuan. (b) jika terjadi musibah nelayan tenngelam dilaut, seluruh perahu mencari mayat dilaut, perhai tersebut berkewajiban mengambil dan membawa mayat tersebut kedaratan.
  2. Kedua, adat pemeliharaan lingkungan yang mencakup: (a) dilarang melakukan pemboman, peracunan, pembiusan, penglistrikan, pengambilan terumbu karang dan bahan-bahan lain yang dapat merusak lingkungan hidup ikan dan biota lainnya, (b) dilarang menebang-merusak poho-pohon kayu dipesisir panatai laut seperti pohon arun/cemara,, pandan, ketapang, bakau dan pohon lainnya yang hidup di pantai, (c) dilarang menangkap ikan/biota laut lainnya yang dilindungi (lumba-lumba, penyu dan lain sebagainya)
  3. Ketiga adat kenduri laut. Adat kenduri laut dimasing-masing lhok dan kabupaten/kota dalam provinsi Aceh mempunyai ciri sendiri dan bervariasi satu dengan lainnya, menurut keadaan masing-masing daerah, dan tetap mempertahankan nilai-nilai islami.
  4. Keempat adat barang hanyut. Setiap barang (perahu, perahu panglong dll) yang hanyut dilaut dan ditemukan oleh seorang nelayan, harus diserahkan kepada panglima laot setempat untuk pengurusan selanjutnya.

Untuk keberlangsugan adat tersebut juga ada sanksi hukumnya. Bagi nelayan yang melanggar ketentuan akan dikenakan tindakan hukum, berupa: (a) seluruh hasil tnagkapannya disita, (b) dilarang melaut minimun selam 3 hari dan selama-lamanya 7 hari.

Jika terjadi pelanggaran-pelanggaran terhadap tindakan hukum yang telah ditetapkan, maka lembaga hukom adat laot akan mengambil tindakan administratif melalui pejabat yang berwenang setelah terlebih dahulu bermusyawarah dengan staf lembaga hukum adat laot.

Diseluruh Aceh tercata ada 146 lhok yang masing-masing dipimpin panglima laot lhok. Seiring dengan kebutuhan masing-masing dan makin luasnya jangkauan wilayah, para panglima laot kemudian membentuk organisasi ditingkat kecamatan, kabupaten, dan provinsi.

Pembentukan panglima laot diwilayah provinsi, pernah mendapat kritikan dari beberapa kalangan pemerhati adat. Kritikan bahkan protes ini lahir karena dalam sejarahnya panglima laot ini hanya ada di Lhok. Masalahnya, bagaimana dengan kepentingan yang lintas lhok atau lintas kabupaten dan kota. Ketika masalah ditangkapnya banyak nelayan Aceh diluar negeru, tentu peran ini tak bisa dilaksanakan oleh panglima laot lhok. Yang lebih penting lagi, lembaga ini diputuskan oleh panglima laot dan para pelaku dan pemerhati adat, bukan sebagai top down tapi buttom up

Dalam satu wilayah lhok, dimana nelayan berpangkalan dan masyarakat nelayan berdomisili, dipimpin oleh seorang panglima laot. Wilayah lhok yang dimaksud adalah suatu wilayah pesisir pantai atau nelayan dimana nelayan berdomisili dan melakukan penangkapan ikan. Wilayah tersebut dapat berorientasi untuk satu gampong pantai, beberapa gampong (satu kemukiman), kecamatan, atau satu kepulauan seperti halnya pulo Aceh.

Sumber Hukum Adat Laot Aceh

Semoga Bermanfaat...

Wednesday, February 15, 2017

Hukum Adat Laot Aceh Bagian 1

Dalam masyarakat Aceh, terdapat pengelompokan penting dalam pembagian dan pengaturan kekuasaan adat yang jelas pada suatu wilayah.

Pertama : Panglima Laot. Lembaga hukum adat laot/panglima laot merupakan suatu lembaga yang memimpin adat dan kebiasaan yang berlak dibidang penangkapan ikan dilaut, termasuk dalam hal mengatur tempat (areal) penangkapan, penambatan perahu dan penyelesain sengketa bagi hasil. Pada dasarnya panglima laot merupakan tugas pokok dalam menjaga persatuan dan kesatuan kaum nelayan, dan tugas ini tidaklah mudah mengingat perilaku nelayan kadang kala menyerupai ganasnya laut (dalam penelitian hakim disebutkan nelayan sedikit tempramen. Hakim Nya’pha (1980) memberi catatan bahwa panglima laot harus mampu dan arif dalam bertindak.

Lembaga ini juga bertugas menegakkan aturan adat dan memberi sanksi berupa denda dan melaksanakan kenduri bagi nelayan diwilayahnya yang melanggar aturan berupa serangan-serangan karena suatu hal. Disamping itu panglima laut juga mempunyai kewenangan dibidang adat kelautan dalam hal mengurus dan mengatur batas wilayah lautan yang dapat untuk dilayari dan dapat dipunguti hasil.

Kedua, Keujreun Blang. Keujreun blang berkaitan dengan kegiatan bersawah, figur  yang menjadi keujreun blang pun biasanya berasal dari petani yang tekun dan disiplin. Biasanya untuk dapat menduduki jabatan fungsionaris lembaga keujreun blang harus memenuhi syarat-syarat, selain hasil pemilihan dan persetujuan pejabat setempat, yakni (1) berpengalam dalam bidang kemasyarakatan, (2) menguasai hukum pertanian, (3) memahami keuneunong. Disamping itu keujreun blang dalam hal lain bersama para pimpinan adat lainnya berwenang mengadili dan memberi sanksi pada pelanggaran hukum adat dibidang pertanian, baik itu pada prosesi pelaksanaan itu sendiri, maupun dalam hal-hal lain yang berkaitan lansung dengan pelaksanaan adat istiadat pertanian.

Ketiga Lembaga Petuah Seneubok, yang merupakan salah satu lembaga yang memimpin dan mengatur tentang pembukaan lahan (hutan) untuk pertanian dan perkebunan. Lembaga ini berwenang dalam mengatur dan mengatur proses pembukaan lahan yang dilakukan masyarakat adat sehingga setiap masyarkat akan memperoleh hak yang sam dalam pembukaan hutan. Lembaga ini menjadi lambaga yang harus dipatuhi oleh setiap masyarakat adat yang ingin membuka ladang untuk pertanian karena lembaga ini dapat memberi sanksi bagi yang melanggarnya.

Bidang perburuan pun sebagai bagian dari keberadaan hutan, para pemburu harus mematuhi adat gle yang diatur lembaga seunebok. Dalam adat Aceh, lembaga seunebok mengatur masalah perburuan untuk kelestarian alam dan lingkungan hutan, baik dengan memilih hewan (berdasarkan jenis dan usia) yang boleh diburu, maupun dalam hal perilaku pemburu yang tidak boleh seenaknya membakar hutan dikala memburu, karena dapat merusak hutan (alam) dan merugikan.

Seperti halnya dalam proses turun kesawah, kenduri juga dikenal dalam lembaga seunebok ini, biasanya dilakukan sebelum atau sesudah membuka lahan kawasan seunebok dan sehabis panen. Pada waktu-waktu tertentu juga diadakan pada saat tanaman mulai berbungan dengan makna religius yang sangat dalam.

Melihat adat laot Aceh, kita kemudian perlu melihat pasal 7 UU Nomor 44 tahun 1999, yang menyebutkan bahwa daerah dapat membentuk lembaga adat dan mengakui lembaga-lambaga adat dan mengakui lembaga-lembaga adat yang sudah ada sesuai dengan kedudukannya masing-masing diprovinsi, kabupaten/kota, kecamatan, kemukiman, dan kelurahan/desa atau gampong.

Diperjelas lagi dengan pasal 1 ayat (5) perda nomor 7 tahun 200, menegaskan: “lembaga adat sesuatu organisasi kemasyarakatan adar yang dibentik oleh suatu masyarakat hukum adat tertentu, mempunyai wilayah tertentu dan harta kekayaan sendiri serta berhak dan berwenang untuk mengatur dan mengurus serta menyelesaikan hal-hal yang berkaitan dengan adat Aceh.

Pemimpin hukum adat laut dalam masyarakat Aceh disebut panglima laot atau abu laot. Pengangkatannya dilakukan melalui suatu pemilihan dalam musyawarah. Jabatan ini bersifat profesional. Calon yang dipilih dari kalangan pawang laot, yang tentu sangat berpengalaman dalam bidang kelautan.

Utuk menjadi panglima laot harus mengerti masalah-masalah adat laot, cara menangkap ikan, arif dan bijaksana, serta berwibawa. Tugas dan tanggung jawab panglima laot menggambarkan bahwa cukup berat dan penuh resiko. Apalagi dalam melaksanakan tugas tersebut, harus berhadapan dengan para nelayan, para pawang, atau para mereka yang umumnya beremosial tinggi. Semetara, untuk melaksanakan itu, mereka mendapatkan imbalan yang tidak seberapa. Namun, suasana yang berwibawa membuat jabatan ini dihormati.

Dalam pengaturan hukum, pasal 1 ayat (14) perda nomor 7 tahun 2000 disebutkan: “lembaga panglima laut merupakan suatu lembaga yang berlaku dibidang penangkapan ikan dilaut, termasuk dalam hal mengatur tempat (areal) penangkapan, penambatan perahu dan penyelesain sengketa”
Sebagai lemabaga hukum adat, panglima laot yang dikenal turun temurun oleh rakyat Aceh, mempunyai peran yang sangat strategis dalam bidang kelautan. Masalah telah pula secara tegas diatur dalam UU nomor 22 tahun 1999, UU nomor 44 tahun 1999, UU nomor 18 Tahun 2001, dan perda nomor 7 tahun 2000.

Jadi secara eksplisit tak ada alasan adat laot di Aceh tidak bisa dilaksanakan, karena hal ini telah ditegaskan dalam peraturan perundang-undangan. Satu hal lagi yang menjadi keunggulan hukum adat laot, dimana masyarakat patuh pada hukum adat laut, karena hukum tersebut mereka sepakati sendiri. Penyelesainnya pun dilakukan oleh lembaga sendiri secara musyawarah dan kekeluargaan.

Sumber : Hukum Adat Laot Aceh

Semoga Bermanfaat...

Sunday, February 12, 2017

Kearifan Lokal dalam Mengelola Laut dan Pesisir di Indonesia

Pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut melalui penguatan kearifan lokal merupakan suatu kegiatan atau aktifitas stakeholders dalam memanfaatkan segala yang ada di pesisir dan laut, khususnya sumberdaya ikan, terumbu karang, dan mangrove dengan cara-cara yang ramah lingkungan untuk kesejahteraan hidup manusia. Pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut juga mencakup aspek upaya atau usaha stakeholders dalam mengubah ekosistem pesisir dan laut untuk memperoleh manfaat maksimal dengan mengupayakan kesinambungan produksi dan menjamin kelestarian sumberdaya tersebut.

Aspek kearifan lokal dalam pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut tersebut termanifestasikan pada kegiatan atau aktivitas yang ramah lingkungan karena kearifan lokal itu sendiri merupakan berbagai gagasan berupa pengetahuan dan pemahaman masyarakat setempat terkait hubungan manusia dengan alam dalam mengelola sumberdaya pesisir dan laut yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, dan bernilai baik. Kearifan lokal juga menyangkut keyakinan, budaya, adat kebiasaan dan etika yang baik tentang hubungan manusia dengan alam (sumberdaya pesisir dan laut) sebagai suatu komunitas ekologis.

Berikut merupakan contoh Kearifan Lokal Dalam Mengelola Laut dan Pesisir di Indonesia :

1. Hukum Adat Laot Di Aceh
Hukum adat laut di Aceh merupakan hukum adat yang berlaku dalam masyarakat nelayan diwilayah masing-masing. Nelayan atau pengusaha perikanan laut didaerah melakukan usaha penangkapan ikan pada wilayah hukum adat tersebut harus tunduk pada hukum adat yang berlaku didaerah itu (hak ulayat laut). Selengkapnya silahkan baca :
a. Hukum Adat Laot Aceh Bagian 1
b. Hukum Adat Laot Aceh Bagian 2.
Logo Lembaga Hukum Adat Laut
2. Tradisi Lilifuk Di Nusa Tenggara Timur
Kata lilifuk berasal dari Bahasa Dawan (Bahasa Suku Timor), yaitu kata “nifu” yang artinya kolam. Dinamai demikian karena sesungguhnya lilifuk merupakan suatu cekungan di permukaan dasar perairan pantai yang digenangi air pada saat surut tertinggi. Selengkapnya silahkan baca :
a. Hukum Adat Lilifuk Di Nusa Tenggara Timur
b. Nilai - Nilai Yang Terkandung Pada Hukum Adat Lilifuk
c. Tahapan Penyelesaian Masalah atau Perkara Adat Dalah Hukum Adat Lilifuk
Persiapan Tradisi Lilifuk
3. Tradisi Awig - Awig Di Nusa Tenggara Barat
Awig-awig adalah aturan yang dibuat berdasarkan kesepakatan masyarakat untuk mengatur masalah tertentu dengan maksud memelihara ketertiban dan keamanan dalam kehidupan masyarakat. Awig-awig ini mengatur perbuatan yang boleh dan yang dilarang, sanksi serta orang atau lembaga yang diberi wewenang oleh masyarakat untuk menjatuhkan saksi. Selengkapnya silahkan baca :
a. Hukum Adat Awig - Awig Di Nusa Tenggara Barat
b. Peran Awig - Awig Bagi Masyarakat
Tradisi Awig - Awig Banyak Diterapkan di Daerah Bali dan Nusa Tenggara Barat
4. Tradisi Hadingmulung Di Nusa Tenggara Timur
Hadingmulung merupakan sebuah kearifan lokal masyarakat hukum adat Kerajaan Baranusa dalam melakukan pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut dengan melakukan sistem pengaturan pemanfaatan yang diatur secara berkala. Selengkapnya silahkan baca Hadingmulung, Kearifan Lokal di Perairan Alor Nusa Tenggara Timur.
Kondisi Alam Yang Terjaga Melalui Penerapan Tradisi Hadingmulung
5. Tradisi Mane'e Di Sulawesi Utara
Tradisi mane’e merupakan tradisi upacara adat masyarakat pesisir kepulauan talaud, yang berisi kegiatan menangkap ikan secara tradisional yang dilakukan setahun sekali pada waktu yang telah di tentukan. Selengkapnya silahkan baca Tradisi Mane'e Di Sulawesi Utara.
Tradisi Mane'e
6. Tradisi Sasi Di Maluku
Sasi dapat diartikan sebagai larangan untuk mengambil hasil sumberdaya alam tertentu sebagai upaya pelestarian demi menjaga mutu dan populasi sumberdaya hayati (hewani maupun nabati) alam tersebut. Selengkapnya silahkan baca Hukum Adat Sasi Di Maluku.
Tradisi Sasi di Maluku
7. Tradisi Bameti dan Balobe Di Maluku Tengah
Kegiatan bameti dilakukan hampir pada semua negeri di pulau Saparua, apalagi pada negeri-negeri yang memiliki hamparan pantai yang luas. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada saat air meti (air surut) dan lebih banyak dilakukan oleh kaum perempuan dan biasanya pada saat musim timur di mana ikan banyak dan gelombang besar. Selengkapnya silahkan baca Tradisi Bameti dan Balobe Di Maluku Tengah.
Penggunaan Tombak Pada Tradisi Bameti dan Balobe
8. Tradisi Huhate di Nusa Tenggara Timur
Huhate sebenarnya mirip seperti joran yang dipakai kebanyakan nelayan, namun masih sangat tradisional. Tangkai pancingnya menggunakan bambu khusus yang lentur, kemudian kail yang tidak berkait diikat pada seutas tali. Pada kail Huhate biasanya diberi bulu ayam atau potongan tali rafia sehingga menyamarkannya dari penglihatan ikan. Tak lupa diberi pemberat untuk memudahkan pemancing mengarahkan kailnya ke laut. Apabila tidak menggunakan pemberat, kemungkinan besar kail akan melayang tak karuan karena angin. Selengkapnya silahkan baca Tradisi Menangkap Ikan Dengan Teknik Huhate Di Larantuka.
Penangkapan Ikan Menggunakan Alat Tangkap Huhate
9. Tradisi Petik Laut Di Banyuwangi
Sebagai wujud rasa syukur dan juga hormat kepada alam, beberapa warga di Indonesia kerap melakukan tradisi sesaji kepada laut. Pada bulan-bulan tertentu nelayan atau penduduk di pesisir pantai melakukan larung sesaji ke lautan. Salah satu tradisi larung sesaji yang cukup terkenal di Indonesia adalah Petik Laut. Selengkapnya silahkan baca Tradisi Petik Laut Di Banyuwangi.
Tradisi Petik Laut Di Banyuwangi
Diolah dari berbagai sumber

Semoga Bermanfaat...

Friday, February 10, 2017

10 Makhluk Aneh Penghuni Palung Mariana Bagian 2

Berikut adalah lanjutan dari Artikel 10 Makhluk Aneh Penghuni Palung Mariana :

6. GOBLIN SHARK
Seperti halnya kebanyakan makhluk laut dalam, sains tidak banyak mengetahui tentang hiu ini. Tak ada seorang pun yang tahu bagaimana tepatnya mereka bereproduksi, ikan ini tetap menjadi misteri dan contoh bagaimana sebuah keanekaragaman hayati yang luar biasa terjadi di Bumi.
Goblin Shark
7. DEEP SEA HATCHETFISH
Ada banyak ikan yang berpenampilan aneh di lautan, tapi tak banyak yang menyerupai peralatan buatan manusia. Deep Sea Hatchetfish menyerupai sebuah kapak yang bisa berenang. Ada lebih dari 40 spesies ikan ini, semuanya memiliki tubuh yang kurus, dan banyak dari mereka memiliki sisik yang mengkilap yang membuat mereka memiliki penampilan seperti kapak berwarna metalik. Ikan ini berukuran kecil dan bahkan yang terbesar hanya bisa tumbuh sepanjang 15 cm. Penampilan mereka yang nampak rapuh ini sangat menarik mengingat mereka hidup di kedalaman 1.524 meter.
Deep Sea Hatchetfish
Tubuh ikan ini memiliki kemampuan bioluminens dan mereka dapat mengatur kecerahan cahaya mereka tergantung seberapa banyak cahaya yang mereka terima dari permukaan. Mereka melakukannya dengan teknik kamuflase yang pandai. Cahaya redup yang mereka hasilkan mengurangi intensitas bayangan mereka, membuatnya semakin sulit disergap oleh predator dari bawah.

8. FRILLED SHARK
Hiu yang satu ini memiliki bentuk tubuh bulat gabungan dari seekor belut dan kepala datar yang cukup aneh, mirip kepala dinosaurus.Hiu ini mendapatkan namanya dari sederetan insang berenda yang ada pada tubuhnya, dan hiu ini bisa tumbuh hingga 1,8 meter. Hiu ini memiliki lebih dari 20 baris gigi berbentuk segitiga setajam pisau yang siap merobek-robek daging mangsanya.
Frilled Shark
Hiu ini kemungkinan menghabiskan hidupnya di dekat dasar laut dan mereka menyukai perairan dengan kedalaman 1.219 meter. Terkadang, hiu ini tak sengaja tertangkap jala manusia dan terbawa sampai ke permukaan, dan hampir semuanya, mereka langsung tewas saat itu juga, membuatnya semakin sulit bagi kita untuk mengamati dan mempelajari perilaku mereka berikut siklus hidupnya.

Selama bertahun-tahun, banyak orang beranggapan bahwa hiu ini berenang dan berburu seperti belut. Beberapa peneliti beranggapan bahwa struktur anatomi dan organ pada hiu ini membuatnya tak mungkin melakukan pergerakan seperti belut, melainkan menurut mereka, hiu ini mungkin berburu menangkap mangsanya seperti cara ular berburu di darat, dan hal ini semakin membuat sosok hiu ini semakin aneh dan misterius.

9. TELESCOPE OCTOPUS
Seperti penghuni laut dalam yang lain, gurita yang satu ini mengapung di kegelapan pada perairan terdalam di lautan Bumi. Tidak seperti gurita pada umumnya, gurita ini tidak berkeliaran di dasar laut. Melainkan berenang di air pada kedalaman lebih dari 1.981 meter dan ia tidak berenang dengan arah horizontal tapi lebih cenderung vertikal, mungkin ini semacam cara agar predator dari bawah kesulitan melihat bentuknya.
Telescope Octopus
Jika kita cukup beruntung bertemu dengan gurita ini, kita mungkin akan bertanya-tanya terkait penampilannya. Tubuh gurita ini hampir transparan dan diantara kedelapan tentakelnya ada sebuah jaring yang membuat penampilan gurita ini menyerupai hantu. Pada tubuhnya kita akan melihat dua bola mata yang menonjol, tidak seperti yang kita lihat pada gurita pada umumnya. Sepasang mata ini memberikan sudut pandang yang luas sehingga sang gurita dapat melihat predator dan mangsanya lebih baik. Seperti sesuatu hal yang ada pada film fiksi ilmiah, kedua mata itu juga dapat berputar, mungkin hal ini adalah cara mereka agar dapat melihat dengan baik dalam kegelapan pekat.

10. ZOMBIE WORM
Resminya, makhluk ini bernama Osedax, dan dengan penampilannya yang berbulu, cacing ini juga disebut dengan Bone Worm atau Zombie Worm. Cacing ini bisa memakan batu karang atau bahkan tulang makhluk terbesar yang ada di Bumi, termasuk Paus Biru.
Cacing ini mengeluarkan asam untuk membantunya menembus dan mengakses isi dari tulang belulang paus yang telah mati. Kemudian ia akan menggunakan bakteri untuk mengubah protein dan lemak yang ada pada tulang menjadi nutrisi yang menjadi santapannya. “Cabang” berbulunya yang bergoyang melambai-lambai di dalam air berfungsi untuk menyerap oksigen agar si cacing tetap hidup.
Zombie Worm
Cacing betina dapat tumbuh sampai 5 cm. Pejantannya memiliki ukuran yang jauh lebih kecil (berukuran mikroskopis) jika dibandingkan dengan betina, dan si betina akan mengumpulkan para pejantan kecil ini di dalam tubuh mereka. Kemudian para pejantan akan mencari jalan untuk menemukan telur si betina. Cacing betina kemudian akan melepaskan telurnya yang telah dibuahi ke dalam air, siklus hidup cacing pun sudah dimulai dan cacing ini kembali melanjutkan tugasnya membersihkan bangkai paus di dasar lautan terdalam.



Semoba Bermanfaat...

Monday, February 6, 2017

10 Makhluk Aneh Penghuni Palung Mariana Bagian 1

Adalah sebuah struktur akibat kondisi geologis yang sangat masif, begitu besar dan luas sampai-sampai membuat sesuatu seperti Mount Everest hanya seperti sebuah tahi lalat jika dibandingkan dengannya, ini adalah sesuatu yang hampir tak terlihat dan sepertinya selamanya akan tetap tak bisa terlihat oleh mata manusia tanpa bantuan peralatan. Ini adalah Palung Mariana, sebuah jurang di dalam laut di kerak Bumi yang berukuran 5 kali Grand Canyon dan sangat sangat sangat dalam. 
Palung Mariana
Faktanya, Palung Mariana adalah bagian terdalam dari lautan yang ada di Bumi. Sebuah lipatan yang disebut dengan “Challenger Deep”, adalah sebuah jurang yang memiliki kedalaman 10.984 meter, dengan kata lain, jika kita mengangkat mount Everest membalikkannya dan memasukkannya ke dalam, maka puncak tertingginya akan masuk sedalam 2.134 meter.

Palung ini terbentuk ketika dua lempeng tektonik Bumi bertubrukan satu sama lain. Ketika tubrukan terjadi dalam gerakan lambat, masing-masing tepinya terdorong ke bawah membentuk bentukan huruf V, menciptakan sebuah lembah yang sangat berbeda di planet kita.Tempat ini masih menjadi sebuah tempat yang sangat asing hingga beberapa dekade, para ilmuwan pun bahkan hampir tak tahu apapun tentang apa dan bentuk kehidupan apa yang bisa bertahan di sana (jika ada). Jika kita menyelam sampai kedalaman lebih dari 1.000 meter ke dalam samudera, cahaya matahari tidak bisa menembus mencapai kedalaman ini dan tentu saja tak memungkinkan kehidupan untuk tumbuh. Suhu air juga seringkali sedikit diatas titik beku, zat makanan juga tidak banyak.
Kondisi Palung Mariana
Tekanan air di palung ini 1000 kali lebih besar daripada di permukaan. Tekanan yang begitu besar itu tentu saja akan menghancurkan hampir semua obyek, makhluk atau benda buatan manusia kecuali hewan atau peralatan yang memang didesain agar bisa bertahan di lingkungan ekstrim seperti itu. Namun meski demikian, bagian lain dari samudera ini bukannya tak berpenghuni.Sejumlah kapal selam berawak dan tak berawak telah bertemu dengan palung ini dalam beberapa waktu terakhir, sekaligus membuktikan bahwa memang benar ada organisme dan kehidupan di lingkungan yang sangat “Asing” ini. Menariknya, beberapa dari makhluk-makhluk penghuni lingkungan ekstrim ini sangat luar biasa dan juga aneh.

Mari kita menyelam lebih dalam lagi masuk ke dalam dunia misterius ini dan mengintip sambil menyapa para penghuninya. Perlu diketahui, spesies-spesies ini tidak hanya aneh dan menakjubkan tapi sebagian dari mereka juga adalah spesies yang sangat tangguh.

1. DUMBO OCTOPUS
Ini adalah seekor gurita yang memiliki penampilan unik, mengapa disebut Dumbo Octopus ? karena ia memiliki telinga kecil imut yang mirip telinga gajah pada bagian atas tubuhnya. Hewan lucu ini juga memiliki mata yang bergoyang-goyang dan mulut yang kartun abis deh. Gurita ini mungkin nampak rapuh dan lembut, tapi sebenarnya ia cukup kuat untuk dikategorikan sebagai salah satu spesies gurita yang paling tangguh dalam sains yang hidup di kedalaman ekstrim. Gurita ini banyak beraktivitas pada kedalaman antara 2.987 – 3.962 meter.
Dumbo Octopus
Ketika kita membicarakan gurita, yang terbersit di pikiran kita mungkin adalah seekor makhluk berbentuk bulat dengan delapan tentakel. Namun pada si Dumbo ini, termasuk kategori yang disebut “Umbrella Octopuses” atau “Gurita Payung”, mereka memiliki tentakel seperti jaring yang ah tentu saja sekaligus memberikan mereka penampilan seperti sebuah payung. Tidak seperti gurita pada umumnya, spesies yang satu ini tidak mengunyah makanannya dengan mulut yang seperti paruh. Namun si Dumbo langsung menelan mangsanya utuh

2. DEEP SEA DRAGONFISH
Beberapa jenis dragonfish juga berevolusi memiliki kemampuan untuk menghasilkan cahaya berwarna merah, sebuah cahaya yang tidak umum pada penghuni laut dalam. Cahaya merah ini mereka gunakan sebagai sinyal untuk berkomunikasi dengan sesamanya, namun nampaknya mereka cenderung menggunakan lampu merah ini untuk menerangi mangsa mereka sesaat sebelum melancarkan serangan. 
Deep Sea Dragonfish

3. BARRELEYE FISH
Cahaya adalah sesuatu yang sangat langka dan berharga pada laut dalam. Kemampuan untuk mendeteksi secercah cahaya matahari yang redup bisa menciptakan perbedaan signifikan antara pemangsa dan yang dimangsa. Jadi, makhluk-mahluk yang hidup di palung ini, seperti Barreleye Fish mengembangkan fitur yang tak biasa untuk memanfaatkan cahaya seredup apapun demi keuntungan mereka. 
Barreleye Fish
Seperti apa fitur anehnya ? Ikan ini memiliki kepala yang transparan, di dalamnya terdapat sepasang mata berbentuk silinder yang lebih sering menghadap ke atas, yang membantu ikan ini melihat bayangan mangsanya. Kepalanya yang transparan itu menurut para ilmuwan, adalah sebuah bentuk adaptasi agar ikan semakin mudah mengumpulkan cahaya lebih banyak.

Ikan ini masih belum dikenal manusia sampai tahun 1939, ketika ikan ini berhasil diangkat dari habitatnya (pada kedalaman 762 meter). Bahkan spesimen ikan tersebut akhirnya mati akibat perubahan tekanan dari kedalaman berubah ke tekanan perairan dangkal. Saat ini, para peneliti memiliki perangkat ROV (Remotely Operated Vehicles) untuk melakukan penyelaman di kedalaman ekstrim, dengan dilengkapi lampu dan kamera yang tahan terhadap tekanan ekstrim, mereka bisa mengamati dan mempelajari ikan ini lebih dekat lagi. Meski demikian, ikan aneh ini masih menyimpan banyak misteri, membuat banyak ilmuwan masih diliputi penasaran dan ketidaktahuan tentang siklus hidupnya serta pola reproduksinya.

4. BENTHOCODON
Meski sebagian besar jenis ubur-ubur memiliki tubuh yang transparan, Benthocodon memiliki warna kemerahan pada perutnya. Para ilmuwan meyakini bahwa warna ini membantu menutupi cahaya bioluminens dari hewan kecil yang menjadi santapan ubur-ubur dan sekaligus menyembunyikan Benthocodon dari bahaya yang mengancam. Seperti kebanyakan hewan yang hidup di palung ini, spesies ini masih merupakan sebuah misteri bagi para ilmuwan.
Benthocodon

5. SEADEVIL ANGLERFISH
Jika seekor ikan memiliki nama “Devil” maka tidak heran jika nampak menakutkan. Seadevil anglerfish adalah contoh perwujudan akan hal itu, memiliki karakteristik yang unik namun sekaligus aneh. Seperti namanya yang sudah sangat jelas menunjukkan wujudnya, ikan ini adalah makhluk yang dapat berenang langsung dari dalam neraka dengan bentuk tubuhnya yang seperti cacat, gigi setajam silet dan tatapan mata yang dingin. Meskipun mereka aneh dan penampilannya menakutkan, setidaknya ukuran mereka tidaklah besar.
Seadevil Anglerfish
Ikan betina umumnya maksimal tumbuh mencapai 20 cm panjangnya sementara yang pejantan berukuran lebih kecil, sekitar 2,5 cm. Dengan pola reproduksi mereka yang aneh, sang pejantan akan menggabungkan diri dengan betina, sirip mereka, gigi mereka dan mata mereka menghilang, diiringi dengan beberapa organ dalam, dan akhirnya dua individu itu pun menyatu. Yang tersisa dari tubuh si pejantan menjadi tempat penyimpanan sperma yang akan membantu membuahi telur si betina ketika waktunya tiba.

Ikan ini tidak memburu mangsanya, melainkan ia memancing dengan cara yang unik, ia memiliki semacam tonjolan di dahinya yang menjuntai dengan cahaya sebagai umpannya. Dengan rahangnya yang berukuran besar, ikan ini dapat menelan mangsa yang ukurannya lebih besar dari ukuran tubuhnya sendiri.


Thursday, February 2, 2017

Wadah Budidaya Perikanan : Kolam Drum

Budidaya dengan menggunakan kolam drum sudah cukup lama dikenal, tetapi baru mengalami perkembangan yang pesat pada akhir 70-an. Seperti juga budidaya air deras umumnya yang hanya memerlukan modal kecil budidaya kolam drum memanfaatkan aliran air untuk menyediakan kandungan oksigen bagi ikan yang dipelihara dan untuk mempermudah upaya pembuangan sisa pakan dan sisa metabolisme ikan. Budidaya ini menggunakan drum (biasanya terbuat dari plastik) yang disusun sedemikian rupa dan dilengkapi dengan saluran pembuangan dan pemasukan air, drum disusun secara seri.

Kolam Drum
Sumber : Modul Keteknikan Budidaya Perikana