Kegiatan Penyuluhan

Kegiatan Penyuluhan Perikanan Bertujuan Meningkatkan Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan Pelaku Utama dan Pelaku Usaha Perikanan.

Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP)

P2MKP Memberdayakan Pelaku Utama Perikanan dan Masyarakat.

Pelatihan Kelautan dan Perikanan

Meningkatkan keterampilan para pelaku utama kelautan dan perikananm.

AUTO MATIC FEEDER

Solusi Memberi Makan Ikan Menjadi Mudah Dan Tepat.

Friday, April 28, 2017

Wadah Budidaya Perikanan : Kolam Terpal

Wadah budidaya ikan kolam terpal pada dasarnya wadah budidaya ikan di kolam terpal adalah solusi untuk beberapa kondisi antara lain lahan yang sempit, modal yang tidak terlalu besar dan solusi untuk daerah yang minim air. Kolam terpal adalah kolam yang dasarnya maupun sisi-sisi dindingnya dibuat dari terpal. Kolam terpal dapat mengatasi resiko-resiko yang terjadi pada kolam tanah maupun kolam beton. Terpal yang dibutuhkan untuk membuat kolam ini adalah jenis terpal yang dibuat oleh pabrik dimana setiap sambungan terpal dipres sehingga tidak terjadi kebocoran.
Kolam terpal [sumber]
Ukuran terpal yang di sediakan oleh pabrik bermacam ukuran sesuai dengan besar kolam yang kita inginkan. Pembuatan kolam terpal dapat dilakukan di pekarangan ataupun di halaman rumah. Lahan yang digunakan untuk kegiatan ini dapat berupa lahan yang belum dimanfaatkan atau lahan yang telah dimanfaatkan, tetapi kurang produktif.

Kolam terpal adalah kolam yang dasarnya maupun sisi-sisi dindingnya dibuat dari terpal. Kolam terpal dapat mengatasi resiko-resiko yang terjadi pada kolam tanah maupun kolam beton. Terpal yang dibutuhkan untuk membuat kolam ini adalah jenis terpal yang dibuat oleh pabrik dimana setiap sambungan terpal dipres sehingga tidak terjadi kebocoran. Ukuran terpal yang di sediakan oleh pabrik bermacam ukuran sesuai dengan besar kolam yang kita inginkan.

Pembuatan kolam terpal dapat dilakukan di pekarangan ataupun di halaman rumah. Lahan yang digunakan untuk kegiatan ini dapat berupa lahan yang belum dimanfaatkan atau lahan yang telah dimanfaatkan, tetapi kurang produktif. Keuntungan dari kolam terpal adalah :
  1. Terhindar dari pemangsaan ikan liar.
  2. Dilengkapi pengatur volume air yang bermanfaat untuk memudahkan pergantian air maupun panen. Selain itu untuk mempermudah penyesuaian ketinggian air sesuai dengan usia ikan.
  3. Dapat dijadikan peluang usaha skala mikro dan makro.
  4. Lele yang dihasilkan lebih berkualitas, lele terlihat tampak bersih, dan tidak berbau dibandingkan pemeliharaan di wadah lainnya.


Kelebihan dan Kelemahan Bentuk Bahan Kolam Terpal.

















Sumber : BPPP Medan

Semoga Bermanfaat...

Wednesday, April 26, 2017

Media Penyuluhan Perikanan: Flip Chart

Flip chart atau yang sering disebut sebagai bagan balik adalah kumpulan ringkasan, skema, gambar, tabel yang dibuka secara berurutan berdasarkan topik materi pembelajaran. Bahan flip chart biasanya kertas ukuran plano yang mudah dibuka-buka, mudah ditulisi, dan berwarna cerah. Untuk daya tarik, flip chart dapat dicetak dengan aneka warna dan variasi desainnya.

Flip chart adalah lembaran kertas yang berisi pesan atau bahan pelajaran yang tersusun rapi dan baik.
Flip chart merupakan media menulis yang sangat praktis dan menghemat ruang yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar mengajar ataupun kegiatan-kegiatan yang lainnya.

Flip chart atau dengan nama lain disebut juga sebagai bagan balik yang merupakan kumpulan ringkasan, skema, gambar, tabel yang dibuka secara berurutan berdasarkan topik materi pembelajaran.
Flipchart [sumber]
Adapun chart itu sendiri dapat terbuat dari lembaran kertas karton atau jenis HVS yang cukup tebal. Penggunaan kertas tebal tentu saja agar kertas tidak mudah robek dan tidak ada bayangan antara satu kertas dengan kertas lain sehingga pesan gambar atau tulisan tidak tumpang tindih dengan gambar di lembaran berikutnya.

Kelebihan Menggunakan Flip Chart
  1. Flip Chart dapat digunakan dalam metode pembelajaran inovatif apapun.
  2. Lebih praktis.
  3. Ketika pembelajaran di alam terbuka yang jauh dari aliran listrik, flip chart sangat tepat untuk membantu presentasi guru.
  4. Bendel flip chart mudah dibawa ke mana saja bergantung tempat presentasi.
  5. Menghemat media pengajaran.
  6. Agar siswa telah tidak bosan sehingga siswa lebih berimajinasi dalam mengembangkan ide-idenya dalam belajar.
  7. Flipchart juga dapat mempermudah mengingat suatu materi pelajaran yang di ajarkan guru.
  8. Fleksibilitas, pengajar/pembicara dapat memutuskan kapan harus menulis.
  9. Lebih baik dari white board karena pengajar/pembicara dapat mempersiapkan sebelum pelajaran/presentasi dimulai.
  10. Biaya murah.
  11. Dapat diletakkan dimana saja.
Kelemahan Menggunakan Flip Chart
  1. Sukar dibaca karena keterbatasan tulisan.
  2. Pengajar/pembicara cenderung memunggungi peserta saat menulis.
  3. Biasanya kertas flip chart hanya dapat digunakan untuk satu kali saja.
  4. Tidak sesuai untuk peserta yang lebih dari 15-20 orang.
Pesan penyajian dalam flip chart ini dapat berupa :
  1. Gambar - gambar;
  2. Diagram;
  3. Huruf-huruf ;
  4. Angka-angka.
Sumber : Pengertian Flipchart

Semoga Bermanfaat...

Monday, April 24, 2017

Media Penyuluhan Perikanan: Poster

Poster atau plakat adalah karya seni atau desain grafis yang memuat komposisi gambar dan huruf di atas kertas berukuran besar. Pengaplikasiannya dengan ditempel di dinding atau permukaan datar lainnya dengan sifat mencari perhatian mata sekuat mungkin. [sumber]

Poster merupakan salah satu media publikasi yang terdiri atas tulisan, gambar ataupun kombinasi antar keduanya dengan tujuan memberikan informasi kepada khalayak ramai. Poster biasanya dipasang ditempat-tempat umum yang dinilai strategis seperti sekolah, kantor, pasar, mall dan tempat-tempat keramaian lainnya. Informasi yang ada pada poster umumnya bersifat mengajak masyarakat. [sumber]

Poster dapat diartikan suatu metoda dalam menyampaikan ide, pesan atau ajakan pada sasaran yang bergerak. Poster merupakan suatu perpaduan visual dari desain, warna dan Tulisan/pesan yang kita inginkan agar diperhatikan oleh orang orang yang lewat, agar mereka terkesan. 

Kegunaan Poster :
  1. Meyakinkan, mengajak, menasehati dan memerintah.
  2. Memberi peringatan,menarik perhatian terhadap sesuatu (Teknologi,dll).
  3. Menyarankan untuk tidak berbuat sesuatu atau melarang.
  4. Memberi perintah atau informasi.
  5. Promosi barang/Produk, gagasan dan jasa.
Keunggulan Poster :
  1. Citra visualnya mampu menyampaikan pesan secara cepat dan langsung.
  2. Mampu menjangkau sasaran lebih banyak.
  3. Dapat ditempel ditempat yang strategi.
  4. Mudah dan cepat dimengerti sasaran
Macam-macam Poster :

A. Berdasarkan Isinya :
  1. Poster Niaga, poster ini umumnya menawarkan produk suatu perusahaan.
    Contoh poster niaga [sumber]
  2. Poster Kegiatan, poster ini menginformasi kegiatan kepada khalayak ramai.
    Contoh poster kegiatan [sumber]
  3. Poster Pendidikan, poster ini ditujukan untuk hal-hal bertemakan pendidikan.
    Contoh poster pendidikan [sumber]
  4. Poster Layanan Masyarakat, poster mengenai layanan umum pemerintah.
    Contoh poster layanan masyarakat [sumber]
B. Berdasarkan Tujuannya :
  1. Poster Propaganda, poster ini pengaruh sangat kuat terhadap masyarakat.
    Contoh poster propaganda [sumber]
  2. Poster Kampanye, poster yang seringkali terlihat menjelang Pemilu.
    Contoh poster kampanye [sumber]
  3. Poster "Wanted" atau "Dicari", poster ini umumnya untuk mencari orang.
    Contoh poster wanted/dicari [sumber]
  4. Poster "Cheesecake", poster ini dibuat untuk mencari perhatian masyarakat.
    Contoh poster cheesecake [sumber]
  5. Poster Film, poster ini mempromosikan film agar dikenal masyarakat.
    Contoh poster film [sumber]
  6. Poster Kartun, ini adalah poster publikasi dari komik-komik kartun.
    Contoh poster kartun [sumber]
  7. Poster Afirmasi, poster ini tujuannya untuk memberikan motivasi.
    Contoh poster afirmasi/motivasi [sumber]
  8. Poster Riset, poster ini mempublikasikan riset dan penelitian.
    Contoh poster riset [sumber]
  9. Poster Kelas, poster ini bisa kita jumpai didalam kelas-kelas sekolah.
    Contoh poster kelas [sumber]
Semoga Bermanfaat...

Friday, April 21, 2017

Media Penyuluhan Perikanan: Brosur

Brosur adalah buku yang diterbitkan secara tidak berkala yang dapat terdiri dari satu hingga sejumlah kecil halaman, tidak terkait dengan terbitan lain, dan selesai dalam sekali terbit. [sumber].

Selengkapnya pengertian Brosur adalah suatu media yang digunakan oleh perusahaan atau organiasasi tertentu untuk menawarkan suatu produk, layanan, atau program kepada masyarakat umum. Brosur ini diterbitkan secara tidak berkala (tidak reguler) dan hanya terdiri dari beberapa halaman saja (sedikit halamannya). Brosur juga umumnya memiliki sampul tetapi tidak berjilid. [sumber].
Salah satu contoh cover brosur dengan materi perikanan
Selain pengertian diatas sebuah media penyuluhan dapat dikategorikan sebagai brosur apabila memiliki ciri sebagai berikut :
  1. Bentuk media cetak dalam bentuk lembaran yang tersusun seperti buku.
  2. Jumlah halaman 8-60 lembar.
  3. Materi pokok disajikan secara sederhana dan tuntas.
  4. Dapat disertai gambar – gambar faktual yang dapat menarik  perhatian.

Fungsi Brosur
Brosur dibuat tentu bukan tanpa sebab dan fungsi, brosur juga memiliki fungsi yang penting terutama dalam hal pemasaran dan promosi. Fungsi utama dari sebuah brosur adalah memberikan informasi kepada masyarakat umum mengenai suatu produk yang akan ditawarkan secara detail. Untuk dapat menarik perhatian masyarakat, umumnya brosur dibuat dengan desain yang menarik dan isinya jelas.

Ciri-Ciri Brosur
Segala sesuatu tentu memiliki karakteristik atau ciri-ciri tersendiri, begitu juga dengan brosur. Brosur memiliki ciri-ciri tertentu yang membedakannya dengan media-media promosi lainnya. Adapun ciri-ciri dari brosur antara lain:
  1. Umumnya memiliki pesan yang tunggal.
  2. Tujuannya menginformasikan produk kepada masyarakat luas.
  3. Hanya sekali diterbitkan.
  4. Dibuat semenarik mungkin agar menarik perhatian publik.
  5. Didistribusikan secara tersendiri (oleh perusahaan tersebut).
  6. Desainnya menarik dan isinya jelas.

Keunggulan Brosur
Brosur memiliki keunggulan dibanding media penyuluhan yang lain diantaranya :
  1. Berisi informasi yang lengkap
  2. Dapat dibaca utuh atau sebagian
  3. Mudah dibawa
  4. Dapat dibaca berulang
  5. Dapat digunakan untuk belajar mandiri
  6. Dapat digunakan untuk bahan pendampingan, bahan diskusi atau bahan pustaka

Semoga Bermanfaat...

Wednesday, April 19, 2017

Media Penyuluhan Perikanan : Serial Foto

Media Penyuluhan Perikanan Seri foto adalah materi penyuluhan pertanian berupa rangkaian photo-photo yang disusun secara berurutan sehingga menjadi suatu cerita/proses kegiatan di bidang perikanan.

Berikut contoh media penyuluhan perikanan dalam bentuk serial foto :

SERIAL FOTO
PEMBUATAN TERASI REBON




Semoga Bermanfaat...

Monday, April 17, 2017

Penanganan Rajungan Di Atas Kapal

Penanganan rajungan diatas perahu dilakukan dalam bentuk segar dan perebusan. Perlakuan yang baik adalah menjaga dan membawa rajungan sampai ke pembeli dalam waktu yang sesingkat-singkatnya sehingga daging rajungan terjaga kualitas kekenyalannya maupun aromanya.
Rajungan hasil tangkapan nelayan [sumber]
1). Rajungan Segar
Penangkapan Rajungan segar dengan 1 trip > 1 hari memerlukan coolbox untuk menyimpan hasil tangkapan rajungan segar supaya tetap terjaga tingkat kesegarannya, penanganan rajungan dalam bentuk segar (raw materials) di simpan dalam wadah pada suhu sekitar 0 – 4 derajat celsius dan dipertahankan sampai masuk ke miniplant untuk proses perebusan (cooking). Tubuh rajungan diusahakan tetap utuh dan tidak terintrusi air es hingga penyusunan rajungan dalam wadah teratur tidak tergencet, dalam lingkungan dingin, tidak terbuka oleh sinar panas matahari dan bebas dari pengaruh bahan pencemar. Di atas perahu sudah disediakan box sebagai wadah penyimpanan rajungan atau wadah lain yang sama perannya untuk menjaga kesegaran rajungan dan lebih ringan atau lebih mudah dipindahkan. Adapun tahapan penangan rajungan segar adalah sebagai berikut :
  • Jenis-jenis rajungan hasil tangkap Bubu Rajungan yang dipilih adalah ukuran komersial (> 150 gram).
  • Apabila kapal bubu rajungan berukuran kecil (< 5 GT), digunakan cold-box portable ukuran kapasitas mulai dari 50 kg, 100 kg dan 200 kg yang dilengkapi dengan lubang penirisan (drain hole) untuk membuang air lelehan es. Dengan ukuran kecil ini penempatannya di kapal bubu rajungan lebih luwes, yang penting ditempat yang terlindung dari cahaya matahari langsung.
  • Bak pendinginan (chilling) dan pencuci rajungan ukuran 0,5 – 2 m3, sebagai tempat mencuci sekaligus chilling rajungan setelah dilepas dari Bubu Rajungan saat hauling, dimana bak ini akan diisi air laut yang diberi es. Sebaiknya bak ini bertutup dan berisolasi agar dapat menghemat pemakaian es. Perbandingan es curai dan air laut = 2 : 1.
  • Keranjang plastik. Terbuat dari bahan HDPE yang cukup kuat dengan kapasitas maksimum 25-30 kg rajungan,  agar cukup ringan sehingga mudah ditangani secara manual. Keranjang ini didesign sedemikian rupa sehingga air lelehan es dapat mengalir dengan lancar dan dapat ditumpuk tanpa memberikan tekanan produk rajungan yang ada didalamnya. Keranjang ini memiliki dua fungsi yaitu untuk wadah rajungan hasil seleksi, tempat melakukan pencucian sekaligus wadah rajungan selama penyimpanannnya dalam palkah. Jumlahnya disesuaikan agar dapat menampung semua hasil produksi,
  • Terpal.untuk membuat pelindung dari panas matahari bagi area dek kapal Bubu Rajungan.

2). Rajungan Kukus
  • Penanganan rajungan segar merupakan salah satu bagian penting dari mata rantai perdagangan rajungan ataupun industrial rajungan. Penanganan rajungan pada dasarnya terdiri dari dua tahap, yaitu penanganan di atas kapal dan penanganan di darat. Penanganan rajungan setelah penangkapan memegang peranan penting untuk memperoleh nilai jual rajungan yang maksimal. Tahap penanganan ini menentukan nilai jual dan proses pemanfaatan selanjutnya serta mutu produk olahan rajungan yang dihasilkan.
  • Peralatan perebusan hasil tangkap rajungan berfungsi untuk melindungi rajungan dari kemunduran mutu daging rajungan setelah proses penangkapan sehingga memberikan peluang dapat dipertahankannya mutu dan kualitas rajungan dalam keadaan mati ataupun menjamin daging rajungan hasil tangkapan bubu tidak mengalami kemunduran mutu selama proses operasi penangkapan sehingga memberikan nilai jual rajungan yang lebih tinggi.
  • Peralatan perebusan banyak dipergunakan oleh nelayan rajungan, yang merupakan peralatan perebusan yang cukup sederhana baik kontruksi maupun penggunaan bahan peralatan perebusan. Dengan adanya peralatan perebusan diatas kapal nelayan yang cukup sederhana, maka penanganan rajungan diatas kapal bisa ditingkatkan dengan cara melakukan modernisasi peralatan perebusan sehingga higinitas dan sanitasinya dapat terjamin atau dapat lebih tinggi.
Cara perebusan meliputi :
1) Pensortiran
Pensortiran dilakukan terhadap rajungan hasil tangkapan yang akan direbus. Setelah proses pensortiran dilakukan proses pencucian dilakukan untuk mengurangi mikroba yang ada dipermukaan tubuh rajungan.

2) Pencucian
Rajungan yang sudah dikeluarkan dari bubu dicuci dengan air laut hingga bersih dari lumpur atau kotoran-kotoran yang menempel

3) Perebusan
Setelah proses pencucian dilakukan proses perebusan atau pengukusan pada suhu 80⁰ - 90⁰ C selama 20 – 40 menit sesuai dengan ukuran rajungan. Tujuan dari perebusan ini adalah menghentikan aktifitas bakteri pembusuk jamur maupun enzim sehingga dapat memperpanjang daya awet produk olahan dan mempermudah pengelupasan kulit rajungan. Dalam standard penanganan rajungan diatas perahu untuk produk yang sudah direbus harus diperlakukan dengan kriteria sesuai dengan bentuk produk rajungan yang disediakan dari atas perahu. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan standard dalam proses perebusan di atas perahu/kapal yaitu setiap 50 kg rajungan direbus dengan menggunakan air sebanyak 20 liter dan direbus selama  20 – 40 menit. Langkah selanjutnya setelah perebusan agar dianginkan selama 45 menit lalu disimpan di wadah yang dijaga kebersihannya dan terhindar dari kontaminasi bahan atau benda lain sekecil apapun hingga sampai disetor ke miniplant terdekat.

4) Penyimpanan
Rajungan yang telah direbus selanjutnya disimpan di dalam cool box menggunakan es curah (1 basket ½ balok), maksimal 3 basket @ 25 kg

Friday, April 14, 2017

Rancang Bangun Alat Tangkap Bubu

Rancang bangun alat tangkap bubu dititik beratkan pada konstruksi yang dirancang agar menjadikan alat tangkap ini menjadi alat tangkap yang ramah lingkungan yaitu memberi kesempatan ikan atau rajungan yang berukuran kecil dapat melepaskan diri.

Pertimbangan penting dalam membuat rancang bangun (desain) bubu adalah :
  1. Bubu hendaknya mudah dibawa dalam jumlah banyak dan mudah dioperasikan termasuk mudah penataannya diatas geladak perahu;
  2. Ringan dan cukup kompak sehingga mudah ditenggelamkan dan mudah diangkat selama operasi penarikan;
  3. Stabilitas bubu agar posisinya benar-benar tegak pada saat dipasang di atas dasar perairan; konstruksi bubu yang tidak terlalu tinggi dengan nilai ratio tinggi dan panjang dasar bubu berkisar 0.35 – 0,4 dan berbentuk kubah merupakan salah satu penampilan yang stabil,;
  4. Ketahanan bubu agar dapat digunakan lebih lama sehingga diperlukan bahan jaring sintetis ;
  5. Konstruksi bubu yang sederhana, mudah dilipat dan murah biaya pembuatannya, disamping itu lebih ringan dan mudah sewaktu dilakukan pengangkatan untuk dipindahkan.

Adapun bubu ini terdiri dari bagian-bagian sebagai berikut :
1). Rangka (frame)
Bagian ini berfungsi untuk membentuk badan bubu sehingga dapat mempertahankan bentuk bubu ketika dioperasikan, terbuat dari besi atau kawat.
Kerangka Bubu
2). Bagian badan (rongga).
Pada bagian badan bubu, salah satu bagian badannya (bawah) tertutup rapat dengan jaring (webing), sedangkan bagian lainnya dapat dibuka (pintu bubu) yang berfungsi untuk memasang umpan dan mengambil hasil tangkapan dari dalam rongga bubu. Bahan jaring pada badan bubu ini Polyethylene (PE) berwarna hijau dengan ukuran benang 380/d6 dan ukuran mata jaring 1,25 inci.
Jaring yang menjadi bagian badan bubu
3). Bagian mulut (ijeb) 
Bagian mulut berjumlah 2 buah bagian sisi kiri dan kanan yang berbentuk pipih dan menjorok kedalam (mengerucut kedalam) sepanjang 20 cm. Bagian ini berfungsi sebagai jalur masuknya target tangkapan (ikan atau rajungan) ke dalam bubu, target tangkapan mudah masuk namun kesulitan untuk keluar.
Bagian mulut bubu
Pada bubu lipat bagian ini terlatak di bagian sisi kiri dan kanan, bentuknya seperti corong dengan lubang corong dari bibir dan lubang yang mengarah ke dalam semakin menyempit membentuk celah untuk menyulitkan ikan keluar dari bubu. Bagian mulut ini terbuat dari bahan Polyethylene (PE) berwarna hijau dengan ukuran benang 380/d6 dan ukuran mata jaring 1,25 inci, dengan rincian panjang bibir bawah 15 mata panjang 3 mata, bibir atas 15 mata dan lebar bibir atas 3 mata. 

4). Bagian pintu
Pintu terletak pada bagian tengah badan bubu agar mudah untuk mengeluarkan hasil tangkapa setelah bubu dibuka pada saat hauling. Bagian pintu terletak di bagian atas  bubu dan jaringnya dapat dibuka-tutup. Pada bubu lipat bagian ini digantikan dengan sayap depan dan sayap belakang yang dapat dibuka (dilipat) dan ditutup.
Bagian pintu bubu
5). Celah pelolosan
Celah pelolosan dibuat agar ikan-ikan yang belum layak tangkap dari segi ukuran dapat dapat keluar dari bubu dan hidup bebas untuk melanjutkan pertumbuhannya. Pada bubu lipat celah pelolosan ini terletak antara sayap depan dan sayap belakang yang dapat dibuka-tutup dan diantaranya terdapat celah (tidak tertutup rapat) .
Celah pelolosan bagi ikan yang berukuran lebih kecil
6). Tempat umpan (Bait Hook)
Bagian ini terbuat dari besi (kawat seng) Ø 4 mm ditekuk seperti leter U dan digantungkan ditengah-tengah rongga bubu yang diapit diantara ragangan bubu, berfungsi untuk mengaitkan umpan.
Tempat umpan
7). Tali Utama (main line)
Tali utama (main line) terbuat dari bahan PE Ø 6 - 8  mm  Panjang tali utama ini    disesuaikan dengan jumlah bubu yang dibutuhkan atau diturunkan sewaktu setting. Setiap jarak 10 meter pada tali utama ini terdapat tali cabang penghubung bubu dengan tali utama.
Tali utama pada pembuatan bubu
8). Tali cabang (Branch line) atau tali pengikat
Tali cabang (branch line) terbuat dari PE Ø 4 mm diikat kan pada bubu dengan panjang 200 cm dan dihubungkan dengan tali utama .
Tali pengikat pada pembuatan bubu
9). Tali guci (tali segitiga) yang terbuat dari PE Ø 4 mm diikat kan pada bubu dengan panjang 40 cm dan dihubungkan dengan tali cabang.
Tali segitiga
10). Pelampung tanda
Pelampung tanda berjumlah 2 buah berupa pelampung dari bahan sterafoam yang dilengkapi dengan tiang dan bendera.

Penempatan pelampung pada pemasangan bubu di perairan [sumber]
11). Pemberat
Pemberat dipasang pada bubu berfungsi untuk menahan bubu agar tidak hanyut (bergeser dari tempatnya) akibat pengaruh pasang surut, arus dan gelombang laut. Pemberat diperlukan terutama apabila bubu dianggap terlalu ringan sehingga mudah dihanyutkan arus atau gelombang.

Penempatan pemberat pada pemasangan bubu di perairan [sumber]

Sumber : Modul Pembuatan dan Pengoperasian Alat Tangkap Bubu. BPPP Tegal

Semoga Bermanfaat...

Wednesday, April 12, 2017

Ruang Lingkup Penyuluhan : Berusaha Yang Lebih Menguntungkan (Better Bussiness)

Dalam menghadapi persaingan dunia usaha yang semakin ketat.  Sekarang ini kita dituntut untuk dapat mengembangkan usaha , supaya usaha kita dapat maju dan besar serta menjadi pengusaha yang sukses. Definisi pengembangan usaha itu sendiri adalah terdiri dari sejumlah tugas dan proses yang pada umumnya bertujuan untuk  mengembangkan dan mengimplementasikan peluang pertumbuhan. Tetapi pada kenyataanya untuk mengembangkan usaha yang pada awalnya  dimulai dari nol besar atau baru memulai usaha sangatlah sulit .
Ilustrasi keuntungan [sumber]
Banyak hambatan – hambatan yang dihadapi seperti kekurangan modal, tenaga kerja yang ahli atau terampil, kinerja keuangan usaha yang buruk , dan sebagainya . Tetapi hambatan- hambatan  itu semua dapat diatasi  dengan cara mengembankan dan menerapkan strategi pengembangan usaha yang baik .  Pengembangan usaha bukan saja dibarengi dengan modal yang banyak atau tenaga kerja yang terampil , tetapi juga harus dibarengi dengan niat dari diri kita sendiri. Dengan niat yang sungguh – sungguh kita bisa mengembangkan usaha kita menjadi lebih besar. Jika tidak mengembangkan usaha dengan sungguh – sungguh maka sebaliknya usaha akan kita akan bangkrut.

Cara lain yang harus dilakukan untuk dapat mengembangkan usaha dengan baik adalah dengan memberikan pendidikan meningkatkan keahlian kepada pengusaha (wirausaha) seperti memberi pelatihan workshop tentang pengembangan usaha , dan sebagainya. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan yang  lebih kepada pengusaha terhadap pengembangan usaha yang baik.Dan perlu diingat bahwa pengembangan usaha itu merupakan bagian dari perencanaan pemasaran (marketing plan) oleh karena itu setiap pengusaha baik pengusaha kecil maupun besar harus mampu membuat marketing plan terlebih dahulu sebelum mengembangkan usahanya . Di dalam marketing plan itu dimuat hal- hal sebagai berikut seperti analisa situasi , tujuan pemasaran , anggaran pemasaran , kontrol / pengawasan terhadap pemasaran dan lain sebagainya.

Berikut beberapa upaya yang dapat menunjang kegiatan pengembangan usaha agar lebih menguntungkan :

1. Kemudahan dalam Akses Permodalan
Salah satu permasalahan yang dihadapi UKM adalah aspek permodalan. Lambannya akumulasi kapital di kalangan pengusaha mikro, kecil, dan menengah, merupakan salah satu penyebab lambannya laju perkembangan usaha dan rendahnya surplus usaha di sektor usaha mikro, kecil dan menengah. Faktor modal juga menjadi salah satu sebab tidak munculnya usaha-usaha baru di luar sektor ekstraktif. Oleh sebab itu dalam pemberdayaan UKM pemecahan dalam aspek modal ini penting dan memang harus dilakukan.
Ilustrasi modal [sumber]
Yang perlu dicermati dalam usaha pemberdayaan UKM melalui aspek permodalan ini adalah: (1) bagaimana pemberian bantuan modal ini tidak menimbulkan ketergantungan; (2) bagaimana pemecahan aspek modal ini dilakukan melalui penciptaan sistem yang kondusif baru usaha mikro, usaha kecil, dan usaha menengah untuk mendapatkan akses di lembaga keuangan; (3) bagaimana skema penggunaan atau kebijakan pengalokasian modal ini tidak terjebak pada perekonomian subsisten. Tiga hal ini penting untuk dipecahkan bersama. Inti pemberdayaan adalah kemandirian masyarakat. Pemberian hibah modal kepada masyarakat, selain kurang mendidik masyarakat untuk bertanggungjawab kepada dirinya sendiri, juga akan dapat mendistorsi pasar uang. Oleh sebab itu, cara yang cukup elegan dalam memfasilitasi pemecahan masalah permodalan untuk usaha mikro, usaha kecil, dan usaha menengah, adalah dengan menjamin kredit mereka di lembaga kuangan yang ada, dan atau memberi subsidi bunga atas pinjaman mereka di lembaga keuangan. Cara ini selain mendidik mereka untuk bertanggung jawab terhadap pengembalian kredit, juga dapat menjadi wahana bagi mereka untuk terbiasa bekerjasama dengan lembaga keuangan yang ada, serta membuktikan kepada lembaga keuangan bahwa tidak ada alasan untuk diskriminatif dalam pemberian pinjaman. 

Sebelum krisis ekonomi tahun 1997, kredit Perbankan lebih banyak terkonsentrasi pada kredit korporasi dan juga konsumsi dan hanya segelintir kredit yang disalurkan ke sektor Usaha Kecil dan Menengah. Oleh karena itu, untukmeningkatkan kapasitas UKM ini, Perbankan harus menjadikan sektor ini sebagai pilar terpenting perekonomian negeri. Bank diharapkan tidak lagi hanya memburu perusahaan-perusahaan yang telah mapan, akan tetapi juga menjadi pelopor untuk mengembangkan potensi perekonomian dengan menumbuhkan wirausahawan melalui dukungan akses permodalan bagi pengembangan wirausaha baru di sektor UKM. Perbankan harus meningkatkan kompetensinya dalam memberdayakan Usaha Kecil-Menengah dengan memberikan solusi total mulai dari menjaring wiraushawan baru potensial, membinanya hingga menumbuhkannya. Pemberian kredit inilah satu mata rantai dalam pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah secara utuh. 

2. Bantuan Pembangunan Prasarana 
Usaha mendorong produktivitas dan mendorong tumbuhnya usaha, tidak akan memiliki arti penting bagi masyarakat, kalau hasil produksinya tidak dapat dipasarkan, atau kalaupun dapat dijual tetapi dengan harga yang amat rendah. Oleh sebab, itu komponen penting dalam usaha pemberdayaan UKM adalah pembangunan prasarana produksi dan pemasaran. 
Penyerahan bantuan sarana usaha perikanan [sumber]
Tersedianya prasarana pemasaran dan atau transportasi dari lokasi produksi ke pasar, akan mengurangi rantai pemasaran dan pada akhirnya akan meningkatkan penerimaan petani dan pengusaha mikro, pengusaha kecil, dan pengusaha menengah. Artinya, dari sisi pemberdayaan ekonomi, maka proyek pembangunan prasarana pendukung desa tertinggal, memang strategis. 

3. Pengembangan Skala Usaha 
Pemberdayaan ekonomi pada masyarakat lemah, pada mulanya dilakukan melalui pendekatan individual. Pendekatan individual ini tidak memberikan hasil yang memuaskan, oleh sebab itu, semenjak tahun 80-an, pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan kelompok. Alasannya adalah, akumulasi kapital akan sulit dicapai di kalangan orang miskin, oleh sebab itu akumulasi kapital harus dilakukan bersama-sama dalam wadah kelompok atau usaha bersama. Demikian pula dengan masalah distribusi, orang miskin mustahil dapat mengendalikan distribusi hasil produksi dan input produksi, secara individual.
Ilustrasi pengembangan usaha [sumber]
Melalui kelompok, mereka dapat membangun kekuatan untuk ikut menentukan distribusi. Pengelompokan atau pengorganisasian ekonomi diarahkan pada kemudahan untuk memperoleh akses modal ke lembaga keuangan yang telah ada, dan untuk membangun skala usaha yang ekonomis. Aspek kelembagaan yang lain adalah dalam hal kemitraan antar skala usaha dan jenis usaha, pasar barang, dan pasar input produksi. Aspek kelembagaan ini penting untuk ditangani dalam rangka pemberdayaan ekonomi masyarakat. 

4. Pengembangan Jaringan Usaha, Pemasaran dan Kemitraan Usaha
Upaya mengembangkan jaringan usaha ini dapat dilakukan dengan berbagai macam pola jaringan misalnya dalam bentuk jaringan sub kontrak maupun pengembangan kluster. Pola-pola jaringan semacam ini sudah terbentuk akan tetapi dalam realiatasnya masih belum berjalan optimal. Pola jaringan usaha melalui sub kontrak dapat dijadikan sebagai alternatif bagi eksistensi UKM di Indonesia. Meskipun sayangnya banyak industri kecil yang justru tidak memiliki jaringan sub kontrak dan keterkaitan dengan perusahaan-perusahaan besar sehingga eksistensinya pun menjadi sangat rentan. Sedangkan pola pengembangan jaringan melalui pendekatan kluster, diharapkan menghasilkan produk oleh produsen yang berada di dalam klaster bisnis sehingga mempunyai peluang untuk menjadi produk yang mempunyai keunggulan kompetitif dan dapat bersaing di pasar global.
Ilustrasi pengembangan jaringan usaha [sumber]
Selain jaringan usaha, jaringan pemasaran juga menjadi salah satu kendala yang selama ini juga menjadi faktor penghambat bagi Usaha Kecil Menengah untuk berkembang. Upaya pengembangan jaringan pemasaran dapat dilakukan dengan berbagai macam strategi misalnya kontak dengan berbagai pusat-pusat informasi bisnis, asosiasi-asosiasi dagang baik di dalam maupun di luar negeri, pendirian dan pembentukan pusat-pusat data bisnis UKM serta pengembangan situs-situs UKM di seluruh kantor perwakilan pemerintah di luar negeri. 

Penguatan ekonomi rakyat melalui pemberdayaan UKM, tidak berarti mengalienasi pengusaha besar atau kelompok ekonomi kuat. Karena pemberdayaan memang bukan menegasikan yang lain, tetapi give power to everybody. Pemberdayaan masyarakat dalam bidang ekonomi adalah penguatan bersama, dimana yang besar hanya akan berkembang kalau ada yang kecil dan menengah, dan yang kecil akan berkembang kalau ada yang besar dan menengah. 

Daya saing yang tinggi hanya ada jika ada keterkaiatan antara yang besar dengan yang menengah dan kecil. Sebab hanya dengan keterkaitan produksi yang adil, efisiensi akan terbangun. Oleh sebab itu, melalui kemitraan dalam bidang permodalan, kemitraan dalam proses produksi, kemitraan dalam distribusi, masing-masing pihak akan diberdayakan. 

5. Pengembangan Sumber Daya Manusia 
Sumber daya manusia merupakan faktor penting bagi setiap usaha termasuk juga di sektor usaha kecil. Keberhasilan industri skala kecil untuk menembus pasar global atau menghadapi produk-produk impor di pasar domestik ditentukan oleh kemampuan pelaku-pelaku dalam industri kecil tersebut untuk mengembangkan produk-produk usahanya sehingga tetap dapat eksis. Kelemahan utama pengembangan usaha kecil menengah di Indonesia adalah karena kurangnya ketrampilan sumber daya manusia. Manajemen yang ada relatif masih tradisional. 

Oleh karena itu dalam pengembangan usaha kecil menengah, pemerintah perlu meningkatkan pelatihan bagi Usaha Kecil Menengah baik dalam aspek kewiraswastaan, administrasi dan pengetahuan serta ketrampilan dalam pengembangan usaha. Peningkatan kualitas SDM dilakukan melalui berbagai cara seperti pendidikan dan pelatihan, seminar dan lokakarya, on the job training, pemagangan dan kerja sama usaha. Selain itu, juga perlu diberi kesempatan untuk menerapkan hasil pelatihan di lapangan untuk mempraktekkan teori melalui pengembangan kemitraan rintisan (Hafsah, 2004). 
Ilustrasi sumberdaya manusia [sumber]
Selain itu, salah satu bentuk pengembangan sumber daya manusia di sektor UKM adalah Pendampingan. Pendampingan UKM memang perlu dan penting. Tugas utama pendamping ini adalah memfasilitasi proses belajar atau refleksi dan menjadi mediator untuk penguatan kemitraan baik antara usaha mikro, usaha kecil, maupun usaha menengah dengan usaha besar. Yang perlu dipikirkan bersama adalah mengenai siapa yang paling efektif menjadi pendamping masyarakat. Pengalaman empirik dari pelaksanaan IDT, P3DT, dan PPK, dengan adanya pendamping, ternyata menyebabkan biaya transaksi bantuan modal menjadi sangat mahal. Selain itu, pendamping eksitu yang diberi upah, ternyata juga masih membutuhkan biaya pelatihan yang tidak kecil. Oleh sebab itu, untuk menjamin keberlanjutan pendampingan, sudah saatnya untuk dipikirkan pendamping insitu, bukan pendamping yang sifatnya sementara. Sebab proses pemberdayaan bukan proses satu dua tahun, tetapi proses puluhan tahun. 

6. Mewujudkan iklim bisnis yang lebih kondusif
Perkembangan Usaha Kecil Menengah akan sangat ditentukan dengan ada atau tidaknya iklim bisnis yang menunjang perkembangan Usaha Kecil Menengah. Persoalan yang selama ini terjadi iklim bisnis kurang kondusif dalam menunjang perkembangan usaha seperti terlihat dengan masih rendahnya pelayanan publik, kurangnya kepastian hukum dan berbagai peraturan daerah yang tidak pro bisnis merupakan bukti adanya iklim yang kurang kondusif. Oleh karena perbaikan iklim bisnis yang lebih kondusif dengan melakukan reformasi dan deregulasi perijinan bagi UKM merupakan salah satu strategi yang tepat untuk mengembangkan UKM.
Ilustrasi bisnis yang konduisf [sumber]
Dalam hal ini perlu ada upaya untuk memfasilitasi terselenggaranaya lingkungan usaha yang efisien secara ekonomi, sehat dalam persaingan dan non diskriminatif bagi keberlangsungan dan peningkatan kinerja UKM. Selain itu perlu ada tindakan untuk melakukan penghapusan berbagai pungutan yang tidak tepat, keterpaduan kebijakan lintas sektoral, serta pengawasan dan pembelaan terhadap praktek-praktek persaingan usahah yang tidak sehat dan didukung penyempurnaan perundang-undangan serta pengembangan kelembagaan.

                2. Pengembangan Usaha

Semoga Bermanfaat...

Monday, April 10, 2017

Ruang Lingkup Penyuluhan : Teknik Produksi Perikanan Yang Lebih Baik (Better Farming)

Secara garis besar dunia perikanan dibagi menjadi dua kelompok yaitu perikanan budidaya dan perikanan tangkap, dan mempunyai keunikan tersendiri dalam manajemen perikanan itu sendiri. Dalam upaya meningkatkan produksi perikanan diperlukan suatu manajemen dalah setiap kegiatan usaha perikanan. Di bawah ini ada sedikit pembahasan mengenai peran manajemen dalam pengembangan usaha perikanan.

MANAJEMEN PERIKANAN BUDIDAYA
Bisnis perikanan yang cukup kompleks sifatnya memerlukan pemikiran yang cermat agar terhindar dari resiko yang tidak diharapkan. Aspek produksi ini mencakup hal-hal mengenai persiapan dan proses produksi
Hatchry Budidaya Perikanan [sumber]
A. Persiapan Produksi Budidaya Perikanan
Hal hal yang harus menjadi perhatian dalam persiapan produksi perikanan meliputi:
  1. Perencanaan produk, jenis ikan apa yang hendak diproduksi? Apakah mempunyai pasaran yang baik? Apakah sesuai dengan lahan yang tersedia? Pertanyaan pertanyaan seperti ini perlu dipikirkan dalam mengambil keputusan.
  2. Perencanaan lokasi usaha, lokasi yang tepat akan mempunyai pengaruh positif bagi kelangsungan usaha.oleh karena itu, dalam penentuan lokasi juga di pertimbangkan hal hal yang berdampak positif ataupun negatif dan faktor faktor yang berpengaruh (aspek teknis ekonomis, aspek iklim, aspek agronomis).
  3. Perencanaan standar produksi, pengusaha yang berpikir maju tidak hanya sekedar mementingkan jumlah produksi saja, tetapi juga mengutamakan kualitas produksinya, hal ini sangat berperan dalam menentukan segmen pasar.
  4. Pengadaan tenaga kerja, bisnis perikanan mencakup beberapa bidang pekerjaan, secara mudahmya dibagi menjadi bidang budi daya dan manajemen (administrasi). Kedua bidang ini terdiri dari bermacam macam pekerjaann dari yang sederhana sampai yang rumit. Banyak sedikitnya jumlah pekerja dan tinggi rendahnya suatu upah harus disesuaikan dengan kemampuan dan tanggung jawab yang diemban.

B. Proses Produksi Budidaya Perikanan
Tujuan budi daya perikanan yaitu untuk mendapatkan produksi perikanan yang lebih baik atau lebih banyak dibandingkan dengan hasil dari ikan yang hidup di alam secara liar. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam budidaya perikanan antara lain:
  1. Penyediaan benih, benih yang baik dan berkualitas unggul sangat penting untuk memperoleh produksi yang tinggi.
  2. Pembuatan tempat pemeliharaan, luas tempat yang disediakanuntuk pembudidayaan harus sesuai dengan jumlah populasi yang ditebar, tidak kalah penting yang harus dilakukan adalah untuk memahami karakteristik dan tingkah laku ikan.
  3. Pengairan, tanpa sistem pengairan yang baik tidak mungkin usaha perikanan bisa berhasil. Oleh karena itu kebersihan air dan debit yang cukup, penting demi kelancaran pemeliharaan. Pintu saluran air perlu selalu diperiksa untuk mengatur pengeluaran dan pemasukan air.
  4. Pakan dan Pemupukan, peranan pakan sangat penting untuk meningkatkan produksi. Kandungan gizi pakan lebih berperan dibandingkan dengan jumlah yang deberikan. Usahakan memberi pakan sesuai dengan kebutuhan, jangan kebanyakan atau kekurangan. Baru baru ini banyak di galakkan menggunakan pakan alami, karena ramah lingkungan.
  5. Pengendalian hama dan penyakit, untuk membasmi hama yang hidup di air, dapat digunakan bahan beracun organik, seperti tepung biji teh yang mengandung racun saponin, akar tuba yang mengandung racun rotenon, atau tembakau yang mengandung racun nikotin. Hal yang penting untuk pengendalian hama dan penyakit ini yaitu perawatan dan pemeliharaan kesehatan air serta kebersihan lingkungan disekitar kolam.

C. Pascapanen
Produksi ikan bersifat musiman, terutama ikan laut. Terkadang sangat melimpah, sedangkan pada suatu saat sangat rendah. Oleh karena itu untuk menjaga keseimbangan dan mencegah proses pembusukan perlu dikembangkan dengan berbagai cara pengawetan. Dalam hal ini mencakup:
  1. Penanganan ikan hidup, dalam penanganan ikan hidup ini yang terpenting yaitu cara mengusahakan agar ikan ikan tersebut sampai ke tangan konsumen masih dalam keadaan hidup, segar dan sehat. Hal hal yang harus diperhatikan antara lain adalah: kebutuhan oksigen, alat dan transportasi untuk mengangkut ikan, waktu pengangkutan, jumlah ikan dalam alat pengangkutan jangan terlalu padat.
  2. Penanganan ikan segar, atau istilah lainnya adalah handling, merupakan salah satu bagian penting dalam mata rantai industri perikanan. Baik buruknya ikan segar akan mempengaruhi mutu ikan sebagai bahan makanan atau sebagai bahan mentah untuk proses pengolahan lebih lanjut.
  3. Pengawetan, dasar pengawetan ikan adalah untuk mempertahankan ikan selama mungkin dengan menghambat atau menghentikan proses pembusukan, baik dengan cara tradisional (pengeringan, pengasapan, penggaraman, fermentasi), cara modern (pendinginan, pembekuan, pengalengan ikan, tepung ikan).
  4. Packing, dilakukan terutama untuk konsumsi ikan segar, cara packing harus disesuaikan dengan jarak lokasi usaha ke konsumen. Yang terpengting yaitu mempertahankan keawetan ikan segar sampai ke konsumen agar harganya tidak turun.


D. Aspek Pemasaran
Pasar sangat penting untuk kelangsungan produksi. Bila kemampuan pasar untuk menyerap produksi sangat tinggi maka tidak menjadi masalah. Dengan harga jual yang pas telah dapat menghasilkan keuntungan. Sebaliknya, nbila pasar tidak menyediakan kemungkinan menyerap produk, mau tidak mau usaha yang dirintis mengalami kerugian. Apabila manajemen produksi telah berjalan maka keberhasilan pengusaha perikanan ditentukan oleh kemampuannya dalam menganalisis dan mengantisipasi pasar.

Ada beberapa hal yang harus diketahui oleh seorang manajer atau pengusaha perikanan sebelum melangkah ke aspek pemasaran ini. Hal tersebut yaitu:

  1. Sasaran pemasaran, berkaitan dengan pemilihan jenis ikan yang akan diproduksi. Siapa konsumen yang ingin dituju? Berapa besar kira kira permintaannya? Semua itu tergantung pada keadaan sosial konsumen dan daya belinya.
  2. Persaingan, merupakan suatu hal yang wajar dlama bidang usaha, apalagi dibidang usaha perikanan karena pada umumnya bidang ini tidak mengenal monopoli. Jadi, semua produksi perikanan bersaing bebas di pasaran. Oleh karena itu, usah untuk menghadapi dan mengatasi persaingan harus dilakukan dengan manajemen yang baik, agar produk laku di pasaran.
  3. Strategi pemasaran, suatu tindakan penyesuaian sebagai reaksi terhadap situasi pasar dengan berdasarkan pertimbangan yang matang. Tindakan tindakan yang di ambil itu merupakan pendekatan terhada berbagai faktor.


E. Aspek Permodalan
Pentingnya manajemen permodalan, Setiap orang atau suatu perusahaan yang bergerak dalam suatu bisnis, tak terkecuali bisnis di bidang perikanan, tentu mengharapkan laba atau keuntungan yang sesuai, tak seorangpun berniat merugi. Kerugian berarti kehilangan sebagian modal atau tenaga dan pikiran yang telah dicurahkan untuk kelangsungan bisnis itu. Sedangkan keuntungan berarti memperoleh kelebihan hasil dari modal yang telah ditanamkan (investasi), maka dari itu sangat diperlukan manajemen yang baik agar investasi terus meningkat.Persoalan modal dan keuangan merupakan aspek penting dalam kegiatan suatu bisnis. Tanpa memiliki modal, suatu usaha tidak akan dapat berjalan, walaupun syarat syarat lain untuk mendirikan suatu bisnis sudah dimiliki.

Cara mendapatkan modal, Hal yang lumrah dalam bidang usaha bila seseorang mencari bantuan permodalan untuk memulai usaha atau meiningkatkan usaha. Salah satu lembaga yang dapat memberikan bantuan keuangan adalah bank, bantuan tersebut dalam bentuk kredit. Kita harus cermat memilih dan menentukan besaran pinjaman yang dibutuhkan secara realistis, agar tidak menjadi boomerang bagi kita. Hal ini dikarenakan jika pendapatan kita tidak lebih kecil daripada kewajiban untuk melunasi ke pihak bank. Alternatif lain selain meminjam kredit ke bank adalah kerjasama dengan pihak lain yang berminat dalam bisnis perikanan dengan prjanjian yang telah disepakati bersama. Atau juga dengan kerjasama dengan pihak asing ( joint venture) biasanya dengan skala skala besar.

MANAJEMEN PERIKANAN TANGKAP
Tindakan manajemen perikanan tangkap adalah mekanisme untuk mengatur, mengendalikan dan mempertahankan kondisi sumber daya ikan pada tingkat tertentu yang diinginkan.  Pengendalian perikanan tangkap dilakukan dengan aturan yang bersifat teknis, bersifat manajemen upaya penangkapan dan manajemen hasil tangkapan dan pengendalian ekosistem.
Usaha Perikanan Tangkap [sumber]
Pengaturan bersifat teknis mencakup pengaturan alat tangkap dan pembatasan daerah maupun musim perikanan tangkap.  Pembatasan alat tangkap lebih pada spesifikasi untuk menangkap ikan spesies tertentu atau meloloskan ikan bukan tujuan tangkap serta efek terhadap ekosistem. Guna melindungi komponen stok ikan diberlakukan pembatasan daerah dan musim perikanan tangkap sekaligus dibentuk fisheries refugia maupun daerah perlindungan laut bagi jenis ikan yangkehidupannya relatif menetap.

Manajemen upaya penangkapan umumnya dilakukan dengan pembatasan   jumlah dan ukuran kapal, jumlah waktu penangkapan atau upaya penangkapan. Pengendalian ini lebih mudah dan lebih murah dari sisi pemantauan dan penegakan aturan dibandingkan pengendalian hasil tangkapan.  Namun penentuan jumlah upaya masing-masing unit penangkapan merupakan hambatan dalam memakai aturan pengendalian ini.

Manajemen hasil tangkapan untuk membatasi jumlah hasil tangkapan yang diperbolehkan bagi suatu area dalam waktu tertentu dan selanjutnya menjadi pembatasan jumlah hasil tangkapan setiap unit penangkapan.  Hasil tangkapan yang diperbolehkan berdasarkan jenis spesies tertentu menjadi kendala dalam perikanan multispesies seperti di Indonesia.  Era baru sektor perikanan dalam konteks pembangunan yang berkelanjutan adalah diadosinya Code Of Conduct For Responsible Fisheries (CCRF).  Perikanan yang berkelanjutan bukan ditujukan semata hanya pada kelestarian perikanan dan ekonomi namun pada keberlanjutan komunitas perikanan yang ditunjang oleh keberlanjutan institusi.  Disini diperlukan pendekatan manajemen yang inovatif dan alternatif untuk mencapai tujuan tersebut.

Dengan demikian, beberapa hal perlu ditingkatan sesuai dengan kaidah perikanan berkelanjutan sebagai berikut:

Paradima limited access harus ditingkatkan;
  1. Implementasi log-book penangkapan harus dibarengi dengan peraturan yang berkaitan dengan kerahasiaan;
  2. Perbaikan sistem statistik perikanan;
  3. Meningkatkan kemampuan diplomasi internasional;
  4. Penyusunan rencana manajemen perikanan diterapkan di setiap upaya manajemen perikanan;
  5. Partisipasi pemangku kepentingan diperlukan dalam penyusunan rencana manajemen perikanan;
  6. Meningkatkan efektifitas peradilan perikanan; dan
  7. Meningkatkan peran sebagai negara pelabuhan (port state) dan negara bendera (flag state).

Manajemen perikanan menjamin kegiatan penangkapan ikan dan pengolahan dilaksanakan sesuai dengan kaidah untuk meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan, mengurangi limbah, dan menjaga mutu ikan hasil tangkap.  Nelayan wajib mencatat kegiatan operasi penangkapan mereka dan  pemerintah juga perlu menetapkan prosedur penegakan hukum. Negara perlu menggunakan informasi sains terbaik yang tersedia dalam menyiapkan kebijakan serta mempertimbangkan kegiatan penangkapan ikan tradisional.  Jika informasi yang tersedia terbatas, negara perlu bertindak sangat hati-hati dalam menetapkan batasan perikanan tangkap.

Sumber : Manajemen Perikanan

Semoga Bermanfaat...

Friday, April 7, 2017

Ruang Lingkup Penyuluhan

Penyuluhan dalam arti umum adalah ilmu social yang mempelajari system dan proses perubahan pada individu serta masyarakat agar dapat terwujud perubahan yang lebih baik sesuai dengan yang diharapkan (Setiana. L. 2005). Penyuluhan dapat dipandang sebagai suatu bentuk pendidikan untuk orang dewasa. Dalam bukunya A.W. van den Ban dkk. (1999) dituliskan bahwa penyuluhan merupakan keterlibatan seseorang untuk melakukan komunikasi informasi secara sadar dengan tujuan membantu sesamanya memberikan pendapat sehingga bisa membuat keputusan yang benar. [sumber]

Dalam pelaksanaannya penyuluhan mempunyai ruang lingkup yang diharapkan dapat membuat kehidupan pelaku utama menjadi lebih baik, hal ini tergambar dari ruang lingkup penyuluhan sebagai berikut :
Ilustrasi Penyuluhan [sumber]
1.Teknik Berproduksi Yang Lebih Baik (Better Farming). 
Dimaksud meningkatkan produksi seoptimal mungkin dengan penerapan teknologi penangkapan dan budidaya yang lebih efektif dan efisien, tanpa merusak lingkungan. Untuk memperoleh hasil produksi yang lebih baik diperlukan adanya manajemen yang baik pada setip kegiatan perikanan. Selengkapnya silahkan baca disini.

2. Berusaha Yang Lebih Menguntungkan (Better Businness).
Dimaksudkan mengelola usaha harus secara efisien dan mengikuti serta memanfaatkan perkembangan dari permintaan dan harga pasar,untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya baik dalam pengelolaan maupun dalam penyimpanan hasil produksi. Selengkapnya silahkan baca disini.

3. Kehidupan lebih sejahtera (Better Living).
Dimaksudkan masyarakat yang menjadi sasaran kegiatan penyuluhan dapat hidup layak, artinya cukup makan makanan yang bergizi, kesehatan terpelihara, memiliki tempat tinggal yang memadai, berpakaian yang pantas dan selalu menjaga/  mempertahankan (memelihara) kebersihan, kedamaian dan keindahan,baik di lingkungan keluarganya sendiri maupun di lingkungan masyarakat sekitarnya. 

4. Bermasyarakat Yang Yebih Baik (Better Community).
Perkembangan tatanan sosial yang dapat mewujudkan terciptanya iklim masyarakat yang kreatif, produktif yang berkesinambungan. 

5. Terciptanya Lingkungan Yang Lebih Baik (Better Environment).
Dimaksudkan untuk mewujudkan lingkungan yang lebih sehat, bersih dengan seminimal mungkin. Adanya pencemaran, polusi dan suasana lingkungan aman, tertib, teratur. 

Sumber : Materi Ruang Lingkup dan sasaran Penyuluhan

Semoga Bermanfaat...

Wednesday, April 5, 2017

Wadah Budidaya Perikanan : Tambak

Sistem budidaya perairan lain yang sedang mengalami ledakan perkembangan adalah budidaya tambak. Sistem ini biasanya dibangun di wilayah yang berdekatan dengan daerah pesisir pantai. Sumber air yang digunakan untuk tambak kebanyakan merupakan air asin, sehingga organisme yang dapat dibudidayakan dengan sistem ini pun terbatas pada organisme air asin atau air payau (campuran air asin/laut dengan air tawar/sungai) saja seperti udang, kakap, dan bandeng.

Berdasarkan luasan tambak dan kepadatan oganisme yang dipelihara maka terdapat tiga jenis tambak yaitu tambak tradisional (ekstensif), tambak semi intensif dan tambak intensif. Usaha budidaya dengan sistem tambak apabila dilakukan dengan cara yang benar, maka akan memberikan banyak keuntungan khususnya bagi pengelola, maupun bagi masyarakat sekitarnya, seperti :
  1. Organisme yang dibudidayakan dalam tambak umumnya berupa organisme dengan harga jual yang tinggi, sehingga usaha tambak jelas mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, terutama untuk tambak intensif.
  2. Dengan adanya usaha tambak di suatu lingkungan pantai, maka diharapkan dapat membuka lahan kerja baru bagi masyarakat di sekitarnya.
  3. Pengontrolan organisme yang dibudidayakan menjadi lebih mudah, karena lingkungan pemeliharaannya yang terbatas.

Secara teknis ketiga jenis tambak tersebut memiliki beberapa perbedaan dalam pengoperasiannya. Letak perbedaan tersebut antara lain adalah :

A. Tambak Tradisional (Tambak Ekstensif)
Tambak sistem ini biasanya dibangun pada lahan pasang surut yang pada umumnya berupa rawa-rawa bakau, atau rawa-rawa pasang surut bersemak dan rerumputan. Luas tambak berkisar antara 1-3 ha dengan satu pintu air di setiap petak. Pengisian dan pembuangan air bergantung sepenuhnya pada daya gravitasi pasang surutnya air laut. Tambak ekstensif sangat bergantung pada keberadaan pakan alami yang ditumbuhkan di dasar tambak yang telah disiapkan dengan pemupukan, kedalaman air sekitar 0,5-0,6 m dan tidak digunakan kincir air, sedangkan pompa air masih digunakan untuk proses
penggantian air.
Tambak Tradisional [sumber]
Kepadatan organisme yang dipelihara sangat rendah misalnya untuk udang windu (Penaeus monodon) hanya sekitar 3-10 ekor/m2.

B. Tambak Semi Intensif
Tambak ini umumnya tidak seluas tambak ekstensif, yaitu hanya berkisar antara 0,5-1 ha. Pengisian dan pembuangan air dilakukan melalui saluran yang berbeda. Tambak dengan luas petakan 0,5 ha, berbentuk bujur sangkar, pintu pembuangan air diletakkan di tengah lantai dasar tambak yang miring ke arah tengah. Pada tambak semi intensif selain penggunaan pompa juga sudah digunakan kincir air yang berfungsi sebagai aerator.
Tambak Semi Intensif [sumber]
Kepadatan organisme yang dipelihara dalam tambak lebih tinggi dibandingkan dengan tambak ekstensif, misalnya untuk udang windu yaitu sekitar 10-25 ekor/m2 dan pakan buatan sudah mulai digunakan sebagai pakan tambahan.

C. Tambak Intensif
Luas petak pemeliharaan yang digunakan untuk tambak intensif adalah yang terkecil dibandingkan dengan kedua tipe tambak lainnya yaitu sekitar 0,3-0,5 ha. Biasanya tambak intensif sudah dilengkapi dengan pintu pembuangan di tengah dan pintu panen model monik yang diletakkan di pematang saluran buangan. Untuk tambak air payau, percampuran air tawar dan air laut dilakukan dalam bak pencampur.
Tambak Intensif [sumber]
Dalam tambak intensif penggunaan kincir dan pompa sudah optimal, kepadatan organisme yang dipelihara dalam tambak sangat tinggi dibandingkan dengan tambak ekstensif, misalnya untuk udang windu yaitu sekitar 30-40 ekor/m2 dan penggunaan pakan buatan merupakan unsur yang sangat penting dalam proses pemeliharaan. Budidaya dengan sistem tambak intensif biasanya dilakukan secara besar-besaran dan hanya dilakukan oleh para pengusaha yang bermodal besar.


Sumber : Modul Keteknikan Budidaya Perikanan

Semoga Bermanfaat...

Monday, April 3, 2017

Wadah Budidaya Perikanan : Karamba Jaring Apung (KJA)

Teknik budidaya ikan di karamba jaring apung (KJA) sudah dimulai sejak tahun 1954 di Jepang, yaitu untuk memelihara ikan "Yellowtail" (Seriola quinqeuradiata). Metode ini relatif sederhana, sehingga pada akhir-akhir ini banyak negara yang mengikuti penggunaan teknik ini. Keuntungan budidaya ikan dengan metode ini terutama adalah memanfaatkan perairan umum, sungai, waduk dan danau untuk produksi ikan tanpa adanya pengaturan air, suhu, dan saluran perairan. Keuntungan lain dengan menggunakan metode ini adalah memungkinkan penggunaan perairan secara maksimum dan ekonomis, mengurangi penggunaan tanah untuk produksi ikan seperti kolam, tambak, dan sebagainya, reproduksi predator dan populasi ikan mudah dikontrol, mudah dipindahkan bila terjadi hal yang membahayakan, mudah dipanen, transportasi ikan hidup, dan modal awal relatif lebih kecil.
Karamba Jaring Apung [sumber]
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam usaha budidaya ikan dengan metode ini adalah: penempatan karamba harus di lokasi perairan yang bebas dari pencemaran, fluktuasi tahunan sifat-sifat fisika-kimia air tidak terlalu besar sehingga tidak membahayakan bagi kehidupan ikan peliharaan.

Penjagaan harus lebih ketat karena pencurian ikan dapat dilakukan dengan mudah. Beberapa bahan yang digunakan untuk membangun KJA secara umum meliputi: bingkai, pelampung, tali, jaring, jangkar, dan sebagainya. Bingkai KJA dapat dibuat dari bahan kayu, bambu atau besi yang dilapisi bahan anti karat. Pemilihan bahan bingkai sebaiknya disesuaikan dengan tersedianya bahan di lokasi budidaya. Di Indonesia, bambu cukup banyak tersedia dan harganya relatif murah dibandingkan dengan kayu, karenanya untuk pembuatan KJA digunakan bingkai bambu. Ukuran bingkai biasanya 7x7 m.

Pelampung untuk mengapungkan bingkai dapat dibuat dari bahan drum volume air 200 liter yang terlebih dahulu di cat anti karat, styrofoam, dan drum fibreglass. Di Teluk Banten, pelampung yang digunakan biasanya drum atau Styrofoam. Pelampung dari bahan fibreglass harus dipesan khusus karena tidak ada di pasaran. Sebagai bahan perbandingan untuk menentukan pilihan jenis pelampung yang akan digunakan adalah lama pemakaian dan harga dari ketiga jenis pelampung.

Pengikat antara dua bambu untuk pembuatan bingkai karamba sebaiknya digunakan kawat yang bergaris tengah 0,4-0,5 cm. Berdasarkan pengalaman, mengikat dengan menggunakan kawat mudah dan cepat, walaupun mudah berkarat namun dalam jangka waktu satu tahun masih tahan, kalaupun berkarat mudah diganti dalam waktu singkat. Penggunaan tali plastik (polyethilene) untuk mengikat biasanya sering melar karena goyangan ombak sehingga bentuk rakit tidak simetris lagi.

Untuk mengikat pelampung ke bingkai digunakan tali plastik (polyethilene) yang bergaris tengah 0,8 – 1,0 cm. Sebagai penahan karamba apung agar tidak terbawa arus air digunakan jangkar dan karung pasir sebagai pemberat. Untuk tali jangkar digunakan tali plastik (polyethilene) yang bergaris tengah 5,0 cm. Panjang tali jangkar yang dibutuhkan 3 kali kedalaman air. Sebagai contoh bila kedalaman perairan 6 m maka tali yang dibutuhkan kurang lebih 18 m pada setiap jangkar. Untuk satu unit karamba dibutuhkan paling sedikit 4 buah jangkar, tetapi bila lebih dari satu unit, jangkar yang dibutuhkan bukan kelipatan 4 tetapi diatur sedemikian rupa sehingga mengurangi pemakaian jangkar. Jaring sebagai karamba dibuat dari bahan polyethilene, atau sering disebut dengan jaring trawl.

Ukuran mata jaring yang digunakan tergantung dari besar ikan yang dibudidayakan, biasanya berkisar antara 0,5-2,0 cm. Ukuran karamba bermacam-macam, disesuaikan dengan kedalaman perairan.
Konstruksi Karamba Jaring Apung (KJA) [sumber]
Beberapa hal yang perlu diperhatikan di dalam membangun budidaya perikanan di perairan umum adalah perhatian terhadap perairan umum sendiri sebagai suatu ekosistem di mana ikan harus hidup secara layak. Selain itu, kepentingan umum sebagai suatu perairan terbuka (open access) atau sebagai
perairan milik bersama (common property), perlu mendapat perhatian utama, sehingga keberlanjutan usaha dapat dipertahankan (sustainable uses).

Teknik-teknik pengelolaan perikanan di perairan umum harus mempertimbangkan semakin meningkatnya tekanan dari sektor pemanfaat lahan daratan dan perairan serta faktor-faktor sosial ekonomi yang membebani dan mempengaruhi sumber daya akuatik. Pemanfaat lahan daratan antara lain meliputi sektor pertanian, kehutanan, pekerjaan umum, perkotaan, perhubungan, dan pariwisata. Pemanfaat lahan perairan antara lain meliputi sektor tenaga listrik, irigasi kanalisasi pematusan, perikanan, perhubungan, dan permukiman. Faktor-faktor sosial-ekonomi yang harus diperhatikan antara lain adalah peningkatan pertambahan penduduk, kebutuhan pangan, kesempatan kerja, permukiman, dan transmigrasi.

Kegiatan sektor pemanfaat dan faktor-faktor sosek ini seluruhnya merupakan beban yang dapat menimbulkan perubahan fisika termodinamika dan kimiawi serta mempengaruhi sistem morfologi akuatik, kualitas dan kuantitas air, struktur badan air yang akhirnya mempengaruhi sumber daya akuatik dan mengancam kelestarian komunitas ikan dan organisme perairan lain khususnya serta kelestarian lingkungan umumnya. Karena pola dan keragaman faktor yang mempengaruhi komunitas ikan kebanyakan berada di luar sistem akuatik dan perikanan, maka pada setiap badan air harus dipertahankan adanya suatu keseimbangan antara kepentingan perikanan dan nonperikanan serta terpeliharanya sumber daya perikanan berikut lingkungannya.

Pada pengelolaan sistem akuatik bagi tujuan perikanan dalam rangka pemanfaatan jamak bersama sektor nonperikanan, maka pemantauan, pengendalian dan pembinaan harus dilakukan, baik terhadap kegiatan perikanan maupun nonperikanan. Pengelolaan sistem akuatik bagi tujuan perikanan dalam rangka pemanfaatan serba guna bersama sektor nonperikanan sangat tergantung kepada beberapa faktor kebijakan utama baik peranan dan arti penting perikanan terhadap sektor pemanfaat lain maupun sasaran-sasaran pengelolaan perikanan. Misalnya penetapan sasaran pengelolaan perikanan yang ingin dicapai dan pentingnya sektor perikanan di antara sektor nonperikanan.

Teknik pengelolaan perikanan yang diterapkan di badan air yang berfungsi serba guna harus ditujukan untuk mempertahankan dan memanfaatkan sumber daya secara optimal bagi tercapainya sasaran yang telah ditetapkan.

Teknik pengelolaan perikanan di perairan umum mencakup:
  1. Pengaturan untuk mengendalikan usaha perikanan.
  2. Modifikasi atau perlindungan struktur fisik lingkungan dengan memanfaatkan rekayasa lingkungan.
  3. Penebaran (stocking) ikan dari luar dan introduksi unsur-unsur baru ke komunitas perikanan.
  4. Pengembangan penangkapan dan budidaya dalam kondisi yang kurang lebih terkendali, serta pengembangan peran dan aspek sosial budaya dan ekonomi, antara lain melalui Lembaga Swadaya Masyarakat.

Budidaya dengan sistem karamba jaring apung (floating net-cage) telah dikenal secara luas, bahkan di dunia internasional seperti Singapura yang membudidayakan kerapu dan kakap dengan sistem ini.

Sistem budidaya dengan menggunakan karamba jaring apung (KJA) biasanya ditempatkan di perairan yang cukup dalam (> 5m) dan luas seperti perairan pantai, waduk ataupun danau. Sistem ini dibuat dengan cara mengikatkan kantong jaring dengan ukuran tertentu pada kerangka rakit terapung yang ditambatkan pada dasar perairan dengan menggunakan jangkar sehingga rakit tidak hanyut terbawa arus.

Ikan yang biasa dibudidayakan dengan menggunakan sistem ini adalah ikan kerapu tikus/kerapu bebek (Chromileptes altivelis), kakap merah (Lutjanus sanguineus), kakap putih (Lates calcarifer) dan beronang (Siganus spp.). Contoh budidaya dengan sistem KJA dapat dilihat di daerah sekitar perairan kepulauan Seribu (P. Kelapa) yang membudidayakan kerapu tikus dan juga di wilayah sekitar Teluk Banten.

Sumber : Modul Keteknikan Budidaya Perikanan

Semoga Bermanfaat...