Lalaukan

Informasi dunia kelautan dan perikanan serta kegiatan penyuluhan perikanan

Monday, October 14, 2019

Penyakit Protozoa : Dinoflagellata

Penyakit yang disebabkan oleh Golongan Dinoflagellata memiliki ciri-ciri penyakit beludru (velvet). Penyakit ini juga dikenal dengan nama penyakit ikan koral (coral fish disease) atau oodiniasis. Secara morfologi, Dinoflagellata memiliki ukuran diameter tubuh 100 ┬Ám, terdapat flagella, dan penempelan pada sel inang dilakukan dengan pseudopodia. Salah satu spesies yang patogen adalah Oodinum sp dimana Protozoa Oodinium sp yang sering menyerang ikan berasal dari spesies O. pillularis dan O. ocellatum yang dimasukkan ke dalam Filum Saccomastigophora.

Serangan parasit Oodinium sp tertuju pada berbagai jenis ikan air tawar dengan menunjukkan gejala klinis antara lain ikan yang sakit bergerak cepat dan liar, kadang-kadang gerakan ikan menjadi lemah, kulit dan insang tertutup mucus kuning tua, pengamatan histologis menunjukkan kehadiran organisme berbentuk oval, sering megap-megap di permukaan perairan, terjadi kerusakan pada kulit dan insang, adanya pendarahan, inflamasi, dan necrosis di bagian insang, serta dapat juga mengakibatkan kematian massal. Bentuk infeksi dan morfologi Oodinium sp disajikan pada Gambar berikut.

Bentuk infeksi dan morfologi Oodinium sp
Penyebab : Piscinoodinium sp. (Synonim: Oodinium sp.)

Bio – Ekologi phatogen :
  1. Merupakan ekto-parasit berbentuk bulat
  2. Fase parasitik berbentuk seperti buah pir, diselaputi membran dan apendik menyerupai rizoid sebagai alat penempel pada ikan. Lamanya fase ini tergantung pada suhu air, pada suhu 25 oC selama ± 6 hari akan mencapai dewasa.
  3. Infeksi yang berat dapat mematikan hingga 100% dalam tempo beberapa hari.
  4. Organ yang menjadi target infeksi meliputi kulit, sirip dan insang.
  5. Setelah dewasa, parasit melepaskan diri dari inang, berubah menjadi tomont dan membelah diri menjadi gymnospore. Gymnospore adalah stadia infektif yang berenang seperti spiral untuk mencari inang, apabila dalam tempo 15–24 jam tidak menemukan inang, stadia tersebut akan mati.

Gejala Klinis :
  1. Ikan terlihat gelisah, tutup insang mengembang, sirip-sirip terlipat, dan cepat kurus. Populasi parasit di kulit mengakibatkan warna keemasan, berkarat atau putih kecoklatan (dekil) sehingga sering disebut “velvet disease”.
  2. Ikan sering melakukan gerakan mendadak, cepat dan tak seimbang “flashing” dan akan terlihat jelas pada saat pagi atau sore hari.
  3. Menggosok-gosokkan tubuhnya di benda keras yang ada di sekitarnya, dan warna tubuh pucat.

Diagnosa :
  1. Pengamatan secara visual terhadap adanya parasit pada kulit, sirip dan insang ikan
  2. Pengamatan secara mikroskopis untuk melihat morfologi parasit melalui pembuatan preparat ulas dari organ kulit/mukus, sirip dan/atau insang.

Ikan yang terserang penyakit oodiniasis, seluruh permukaan
tubuhnya diselaputi parasit
Insang ikan yang dipenuhi oleh infeksi parasit Oodinium ocellatum
Pengendalian :
  1. Mempertahankan suhu agar selalu > 29o C
  2. Pemindahan populasi ikan yang terinfeksi parasit ke air yang bebas parasit sebanyak 2-3 kali dengan interval 2-3 hari.
  3. Pengobatan dan/atau pemberantasan parasit, antara lain dapat dilakukan melalui perendaman dengan: a) Air garam (1-10 promil, tergantung spesies dan ukuran ikan) selama beberapa jam, dipindahkan ke air yang bebas parasit dan diulang setiap 2-3 hari.; b) Larutan hydrogen peroxide (H2O2) pada dosis 150 ppm selama 30 menit, dipindahkan ke air yang bebas parasit dan diulang setiap 2 hari.; c) Larutan kupri sulfat (CuSO4) pada dosis 0,5-1,0 ppm selama 5-7 hari dengan aerasi yang kuat, dan air harus diganti setiap hari.; d) Larutan formalin 25-50 ppm selama 12-24 jam, dilakukan pengulangan setiap 2 hari. Methylene blue pada dosis 2 - 6 ppm selama 3 – 5 hari.; e) Larutan Acriflavin pada dosis 0,6 ppm selama 24 jam, dan diulang setiap dua hari sekali.


Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

No comments:

Post a Comment