Kegiatan Penyuluhan

Kegiatan Penyuluhan Perikanan Bertujuan Meningkatkan Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan Pelaku Utama dan Pelaku Usaha Perikanan.

Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP)

P2MKP Memberdayakan Pelaku Utama Perikanan dan Masyarakat.

Pelatihan Kelautan dan Perikanan

Meningkatkan keterampilan para pelaku utama kelautan dan perikananm.

AUTO MATIC FEEDER

Solusi Memberi Makan Ikan Menjadi Mudah Dan Tepat.

Friday, December 20, 2013

Peringatan Hari Nusantara dan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) di Kota Tegal

Tegal (20/12/2013). Dalam rangka meningkatkan kecintaan terhadap tanah air dan meningkatkan konsumsi makan ikan, Dinas Kelautan dan Pertanian Kota Tegal melaksanakan Peringatan Hari Nusantara dan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) di Pendopo Kantor Walikota Tegal.

Sebanyak 16 sekolah yang terdiri dari  PAUD, TK dan SD yang berada di Kota Tegal diundang untuk meramaikan kegiatan. 
Wakil Walikota Tegal menyalami anak - anak dalam acara Peringatan Hari Nusantara dan GEMARIKAN

Dalam sambutannya Noor Fuady, selaku ketua panitia menyampaikan "kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Nusantara dan Memasyarakatkan makan ikan".

Selanjutnya Wakil Walikota Tegal, Habib Ali memberikan sambutan sekaligus membuka acara Peringatan Hari Nusantara dan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) di Kota Tegal. "Kita harus bangga menjadi warga negara Republik Indonesia, karena Indonesia merupakan negara yang kaya, mempunyai kekayaan alam yang melimpah terutama sumberdaya kelautan, dengan melimpahnya sumberdaya kelautan diharapkan masyarakat Indonesia terutama Kota Tegal banyak mengkonsumsi ikan baik segar maupun olahan." ujarnya. 

Ikan merupakan bahan pangan yang mempunyai keunggulan dibanding bahan pangan daging lain, diantaranya mempunyai kandungan protein yang tinggi, mempunyai kandungan Omega 3 yang sangat penting bagi pertumbuhan anak - anak serta dapat diolah menjadi berbagai macam olahan yang nikmat", tambah Habib Ali.

Untuk itu pada kegiatan ini disediakan berbagai macam olahan ikan yang dibuat oleh kelompok pengolah perikanan yang ada di Kota Tegal yakni Kelompok Maju Jaya, Kelompok Ulam Sari, dan Kelompok Harum Sari. Hidangan ini disediakan untuk anak - anak dan tamu undangan.

Selain menyampaikan mengenai hari Nusantara dan GEMARIKAN juga disampaikan mengenai bahayanya Narkoba bagi masyarakat terutama anak - anak dan remaja. Habib Ali menghimbau agar orangtua lebih menjaga anak -anaknya dan menjauhkan dari Narkoba. Apabila terlanjur terjerat Narkoba agar segera dimasukan ke Panti Rehabilitasi yang biayanya ditanggung oleh Pemerintah.

Diakhir sambutannya Wakil Walikota Tegal berpesan agar menjadikan ikan sebagai menu favorit keluarga.

Friday, December 13, 2013

Klasifikasi Alat Tangkap Menurut Beberapa Ahli

Teknik penangkapan ikan ialah teknik atau cara-cara mempergunakan alat penangkapan ikan (Ayodhyoa, 1981). Menangkap ikan membutuhkan peralatan dan teknik yang tepat untuk menangkap ikan, baik yang masih traditional maupun yang menggunakan teknologi moderen.
Penangkapan Ikan

Sedangkan yang dimaksud dengan alat penangkapan ikan adalah segala macam alat yang di pergunakan dalam proses penangkapan ikan  termasuk kapal, alat tangkap dan alat bantu penangkapan (Pranoto, 1997). Dengan peralatan dan teknik penangkapan yang tepat akan dapat menangkap ikan dengan hasil yang baik. 

Untuk mempermudah pengenalan dan mempelajari beberapa jenis alat penangkap  ikan ini, para ahli perikanan membagi atas beberapa golongan ditinjau dari :
  • Bahan pembuat alat penangkapan ikan
  • Cara penangkapan
  • Hasil tangkapan
  • Daerah penangkapan

Klasifikasi Alat Tangkap Menurut Y. IITAKA
Seorang ahli perikanan dari Jepang telah membagi cara penangkapan kedalam 3 (tiga) klasifikasi adalah sebagai berikut :
1. Fishing With Net Gear adalah penangkapan dengan menggunakan alat tangkap berupa jaring sebagai alat tangkap pokoknya. Contoh :

  • Purse seine
  • Gillnet
  • Payang
  • Lampara
  • Beach seine
  • Trawl
  • Trammel net
  • Stick held dip net

2. Fishing with line gear adalah penangkapan dengan menggunakan alat tangkap berupa tali dan pancing. Kadang-kadang digunakan juga joran atau gandar sebagai alat bantunya. Contoh :
  • Long line
  • Hand line atau pancing ulur
  • Trolling atau pancing tonda
  • Pole and line
3. Fishing with miscellaneous gear adalah penangkapan dengan menggunakan alat tangkap non jaring bukan tali. Contoh :
  • Bubu (terbuat dari bambu, kawat atau rotan)
  • Panah (terbuat dari kayu dan besi)
  • Harpun (terbuat dari besi dan tali serta kayu)
  • Sero (terbuat dari bambu atu batu)
  • Tombak (terbuat dari bambu, kayu dengan mata tombak dri besi)
  • Alat tangkap yang dalam penangkapannya dengan cara menyelam, memungut ataupun membacok.
Klasifikasi Alat Tangkap menurut  ANDREAS VON BRANDT
Seorang ahli perikanan dari Jerman Barat dalam usahanya untuk memudahkan pengenalan dan pemahaman berbagai jenis alat tangkap  membagi 15 klasifikasi alat tangkap sebagai berikut :
  1. Fishing without gear atau penangkapan tanpa alat ialah usaha penangkapan ikan maupun hasil laut lainnya yang pada prinsipnya tanpa menggunakan alat yang berarti, dan umumnya dilakukan oleh satu orang saja. Contoh : Memungut, jerat (untuk udang pengko), capit (untuk udang barong, menyelam, sosok dan tongkat (untuk menangkap kura-kura).
  2. Fishing with wounding gear atau penangkapan dengan menimbulkan luka pada ikan yang ditangkap. Contoh  :  Panah, tombak dan harpan, dll
  3. Fishing by stupefying atau penangkapan dengan cara memabukkan. Pada metode ini ikan-ikan dimabukkan terlebih dahulu sebelum dilakukan penangkapan atau pemungutan hasil. Contoh :  Dengan racun akar pohon tuba, bahan peledak, pengeruhan air dan menggunakan aliran listrik.
  4. Line fishing atau penangkapan dengan menggunakan tali dan pancing, atau kadang-kadang dibantu dengan tangkai / joran. Contoh : Hand line/pancing ulur, long line, pole and line, trolling line.
  5. Fishing with traps atau penangkapan dengan menggunakan perangkap. Contoh  :  Bubu, jermal.
  6. Fishing with areal traps atau penangkapan dengan menggunakan satu areal perairanContoh  :  Sero, sero batu, perangkap setengah lingkaran, jaring siang, dll.
  7. Fishing with bags with fixed mounth atau penangkapan dengan jaring berkantong dengan mulut tetap. Contoh  : Jaring tadah (filter net), jermal.
  8. Fishing with dragged gear, atau penangkapan dengan alat tangkap yang ditarik/diseret pada dasar perairan. Contoh  :  Trawl
  9. Seining atau penangkapan dengan jaring yang dilingkarkan setengah lingkaran terhadap pantai atau kapal. Contoh  : Beach seine / jaring kantong
  10. Fishing with surrounding net atau penangkapan dengan jaring yang dilingkarkan pada gerombolan ikan (dengan lingkaran penuh). Contoh  :  Payang, lampara, purse seine, encircling Gill Net
  11. Fishing with the drive in methods yaitu penangkapan yang dalam operasinya alat tangkap ditenggelamkan kemudian didorong dan dikendalikan. Contoh  :  Seser (untuk menangkap nener) dan sudu (menangkap udang)
  12. Fishing with life nets atau penangkapan dengan jaring angkat. Contoh  :  Bagan, ancho, bouke-ami (stick held dip net)
  13. Fishing with falling gear atau penangkapan menggunakan alat tangkap jaring dengan cara menjatuhkan alat tersebut untuk mengurung ikan. Contoh :  Jala (cash net), squid drop net
  14. Fishing with Gill Net atau penangkapan dengan Gill Net (jaring insang), dimana ikan tertngkap dengn cra terjerat pada bagian insangnya. Contoh  : Bermacam-macam Gill Net
  15. Fishing with tagle net, atau penangkapan dimana ikan yng tertangkap terbelit pada badan jaring. Contoh  : Trammel net
Klasifikasi menurut  NOMURA & YAMAZAKI
Cara penggolongan lain dari alat tangkap  dapat dibedakan atas 2 (dua) macam yaitu :
1. Berdasarkan hasil-hasil yang tertangkap, dibedakan atas 3 golongan, yaitu  :
  • Penangkapan ikan satu persatu : Penangkapan tanpa alat, Penangkapan dengan alat menimbulkan luka, Penangkapan dengan menggunakan line fishing
  • Penangkapan ikan yang tidak pandang jenis atau berhambur. Contoh : dengan cara memabukkan (stuefying methods)
  • Penangkapan kelompok-kelompok atau kumpulan ikan, Dalam golongan ini termasuk golongan lain dari klasifikasi A. Von Brandt yang termasuk golongan  a dan b tersebut di atas.
2. Berdasarkan keadaan alat tangkap pada saat operasi maupun cara pengoperasiannya dapat dibedakan menjadi 2 (dua) cara, yaitu :
  • Alat tangkap aktif yaitu alat tangkap yang dalam penggunaannya digerakkan secara aktif oleh penangkap. Contoh : Purse seine, Trawl, lampara, pole and line, trolling line, tombak, harpun, lampara dsar, dan lain-lain.
  • Alat tangkap pasif yaitu alat tangkap yang dalam penggunaannya dibiarkan pasif di dalm air, hingga ikan terperangkap/terjebak pada alat tersebut. Contoh : Gill Net, long line, sero, jermal, bubu, dan lain-lain

Thursday, December 12, 2013

Mengenal Peta Laut (Nautical Chart)

Map atau Peta ialah pemindahan bentuk lengkung bumi yang dipindahkan ke atas sebuah bidang datar. Secara umum map dan peta mempunyai pengertian yang sama, tetapi pada dasarnya mempunyai perbedaan – perbedaan yang sangat  prinsip.

Map yaitu  lebih menjurus kepada keadaan umum, keadaan daratan dan batas-batasnya secara geografis maupun politis. Map tidak dilengkapi dengan benda bantu navigasi dan tidak ada peruman – peruman, Sehingga tidak dapat digunakan untuk bernavigasi.

Peta Laut yaitu lebih menjurus ke hal-hal dan keterangan-keterangan yang dibutuhkan oleh Seorang navigator dalam hal menentukan posisi, jarak, haluan serta hal-hal yang menyangkut keselamatan bernavigasi di laut. Dengan sendirinya dilengkapi dengan benda bantu navigasi dan peruman - peruman.

Peta laut adalah peta yang dibuat sedemikian rupa sehingga dapat dipakai untuk merencanakan suatu pelayaran baik di laut lepas pantai maupun diperairan umum. Peta laut merupakan salah satu alat bantu bernavigasi untuk keselamatan pelayaran. Teknologi navigasi termasuk membaca peta laut merupakan salah satu pengetahuan / kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh para calon jurumudi kapal penangkapan ikan.

Sehubungan dengan definisi dan pemakaiannya tersebut di atas, maka peta perlu dibedakan sesuai dengan sifat pemakaiannya ;
a. Peta laut ( Nautical Chart )
Peta Laut
 b. Peta Penerbangan ( Aeronautical Chart )
Peta Penerbangan
c. Peta Cuaca ( Weather Chart )
Peta Cuaca
d. Peta Bintang ( Star Chart )
Peta Bintang
Peta Laut merupakan gambaran sebagian permukaan bola bumi dalam bidang datar yang dipakai untuk suatu pelayaran baik di laut lepas maupun di peraiaran, seperti ; danau, Sungai, terusan dan lain-lainnya. Dengan kata lain peta laut merupakan peta yang dapat dipergunakan untuk berlalu lintas di atas air.

Pembagian Peta Laut menurut Skala
  • Peta Ikhtisar : Peta yang menggambarkan daerah yang luas dengan ukuran skala kecil 1: 1.000.000 atau lebih kecil. Dipergunakan terutama menunjukkan variasi, angin, arus, dan lain-lain.
  • Peta Haluan atau Peta Perantau : Peta dengan ukuran skala lebih besar yaitu  1 :  1 000 000 sampai dengan 1 : 600 000. Dipergunakan untuk pelayaran pada jarak yang jauh dari pantai atau untuk menarik garis haluan.
  • Peta Pantai : Peta dengan ukuran skala makin besar yaitu 1: 600.000 sampai dengan 1 : 100.000. Dipergunakan untuk pelayaran antara pulau- pulau ataupun pelayaran sepanjang pantai.
  • Peta Penjelas : Peta dengan ukuran skala 1  :  50 000 atau lebih besar. Dipergunakan untuk navigasi di selat-selat atau di air pelayaran sulit/sempit.
  • Peta Rencana : Peta dengan ukuran skala 1 :  50.000 atau lebih besar. Namun menggambarkan bandar-bandar, pelabuhan, tempat berlabuh. Dipergunakan oleh kapal yang akan menyinggahi atau menuju tempat - tempat tersebut. 
Semakin besar skala suatu peta, semakin banyak detail-detail perairan yang ditunjukkan secara teliti demi keselamatan navigasi.

Satuan Jarak di Laut
Satuan jarak yang dipergunakan dalam bernavigasi di laut adalah Mil Laut ( International Nautical Mile ). Panjang keliling lingkaran katulistiwa bumi adalah 40.070.368 meter, sedangkan panjang lingkaran derajah bumi sepanjang 40.003.423 meter. Panjang rata-rata keliling lingkaran – lingkaran besar di bola bumi adalah 40.000.000 meter.

Keliling busur lingkaran besar bola bumi tersebut adalah 360º atau dalam satuan menit menjadi sebesar 21 600 menit. Ukuran 1 mil laut sama dengan 1 menit busur lingkaran besar rata-rata sehingga panjang 1 mil laut adalah 40.000.000 meter dibagi 21.600 = 1.851,851 meter dibulatkan menjadi 1.852 meter.

Skala Grafik        
Untuk mengukur atau menjangka jarak dari suatu tempat ke tempat lain di peta laut dipergunakan skala grafik peta. Skala grafik terdapat di garis-garis tepian peta sepanjang derajah yang berada di kiri dan kanan peta dimana sepanjang garis tersebut tertera nilai-nilai busur suatu lintang dari daerah yang dipetakan. Skala grafik merupakan skala yang dipergunakan untuk menyatakan besarnya jarak di peta. Setiap 1 derajat busur lintang menyatakan jarak 60 mil laut, dan 1 menit busur lintang menyatakan jarak 1 mil laut. 

Mawar Peta             
Mawar peta selalu tertera disetiap peta laut ini merupakan busur lingkaran yang menyatakan arah dengan pernyataan notasi angka. Mawar peta mempunyai fungsi sebagai petunjuk arah dari suatu tempat ke berbagai tempat lainnya di areal yang dipetakan. Notasi angka adalah nilai-nilai arah yang dinyatakan dengan angka-angka busur derajat yang dihitung mulai dari 0º ( Utara ) ke arah kanan searah putaran jarum jam menuju 90º ( Timur ), 180º ( Selatan ), 270º ( Barat ), menuju 359 º dan kembali ke 0º ( Utara = 360º ).
Notasi angka sangat dominan dipakai dalam proses perhitungan-perhitungan untuk menentukan arah haluan kapal maupun arah baringan.

Hal utama yang harus ada di dalam peta laut ;
  1. Garis batas kedalaman harus nyata dan merata. Mengenai kedalaman air ini harus diberikan cukup jelas dan terperinci mengenai dalamnya air yang terkecil sampai pada yang terbesar.
  2. Sifat utama dari penerangan – penerangan navigasi yang utama, seperti ; suar, kapal suar, dan lain-lain harus ada. Demikian juga benda-benda darat, garis merkah, tempat-tempat labuh jangkar serta Tanda-tanda lainnya yang diperlukanharus ada.
  3. Bagian darat tidak hanya menuujukan sifat serta bentuk garis pantai saja, tetapi harus menyatakan pula apakah daratan itu landai, rata, berbukut, curam atau bergunung-gunung.
  4. Keterangan yang bertautan dengan arus – arus tertentu.
  5. Keterangan-keterangan peta pada umumnya harus ada.
  6. Kerangka- kerangka serta bahaya-bahaya navigasi yang lainnya.
Judul peta harus menggambarkan daerah yang dipetakan. Yang terpenting dalam keterangan ini antara lain skala, tahun percetakan, tahun survey, koreksi besar terakhir dan tahun koreksi kecil terakhir.

Peta dikatakan baik , artinya :
  1. Pemetaan harus dilakukan secara modern
  2. Peruman harus berdekatan dan merata tanpa ada tempat-tempat yang kosong.
  3. Garis batas kedalaman perairan harus ada dan nyata tidak terputus-putus 
  4. Keterangan-keterangan dan tanda-tanda yang diperlukan seorang navigator harus nyata dan jelas
  5. Garis pantai harus nyata, jelas, dan tidak terputus-putus
  6. Warna peta harus jelas, tiap peta diberi judul/title yang sesuai dengan daerah yang dipetakan.
  7. Kertas yang dipakai harus baik dan ukuran peta normal.
Semoga Bermanfaat...

Thursday, December 5, 2013

Mengenal BIOSECURITY Pada Kegiatan Budidaya Perikanan

Biosecurity didefinisikan sebagai suatu perangkat aturan, perlengkapan atau peralatan yang sangat penting untuk melakukan pencegahan, pengendalian dan pemberantasan  penyakit infeksi yang bisa menyebabkan kerugian besar secara ekonomi (Zavala, 1999).

Biosecurity didefinisikan sebagai suatu kemampuan untuk mencegah kerugian-kerugian yang ditimbulkan oleh penyakit melalui pemberantasan patogen penyebab penyakit beserta carriernya (Maria Haws et. al., 2001) .

Pentingnya menerapkan Biosecurity pada kegiatan perikanan adalah :
  • Adanya bakteri patogen dan bakteri yang merugikan di lingkungan/perairan
  • Kondisi lingkungan terus berubah
  • Food  Safety  bagi konsumen
  • Mencegah kerugian secara ekonomi akibat kegagalan panen
Apabila kita mengabaikan penerapan Biosecurity maka berbagai penyakit akan muncul, sebagai contoh :
1. Virus IHHNV ((Infectious Hypodermal and Haematopoietic Necrosis Virus)
Udang yang terkena Virus IHHNV
2. Taura Syndrome Virus
Udang yang terkena Taura Syndrome Virus
3. White Spot Syndrome Virus (WSSV)
Udang yang terkena WSSV
4. Infectious Myonecrosis Virus (IMNV)
Udang yang terkena IMNV
5. White Fesces
Kotoran udang menjadi putih akibat penyakit White Fesces
Penular penyakit ini dapat melalui udara, darat dan air. adapun yang berpotensi menyebarkan penyakit pada kegiatan perikanan diantaranya Manusia, Hewan, Peralatan, Kondisi Alam, dan Sistem.
A. Manusia
Mobilitas manusia sangat tinggi, bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Manusia merupakan carrier penyakit yang paling berbahaya. Oleh karena itu, semua yang terlibat dalam kegiatan budidaya baik langsung maupun tidak langsung, harus memperoleh informasi yang lengkap dan jelas mengenai biosecurity.
Aktivitas manusia yang tinggi di kolam meningkatkan penyebaran penyakit
Penerapan Biosecurity pada manusia :
1. Alas kaki dilepas dan diganti dengan perlengkapan khusus ketika memasuki daerah sensitif.
Penggantian alas kaki

2. Menggunakan pakaian khusus bila memasuki fasilitas sensitif
Pakaian khusus
3. Peralatan tidak steril tidak boleh berada di tambak
Sandal tidak boleh naik ke jembatan anco dan pematang tambak
 
B. Hewan
Hewan bisa masuk ke kawasan budidaya melalui :
  • Darat : kepiting, kodok, ular, ayam, kambing, bebek, angsa, unggas liar dan hewan liar lainnya.
  • Air : ikan liar, udang liar, crustaceae kecil, kepiting, ular, serangga air.
  • Udara : Burung, serangga, mikroorganisme yang terbawa angin atau aerosol.
Berbagai jenis hewan liar yang biasa masuk ke tambak
yang berpotensi menyebarkan penyakit
Penerapan Biosecurity untuk mencegah hewan liar masuk lahan budidaya:
1. Multiple Screening
Penerapapa Multiple Screening di Tambak
2. Crab Protecting Wall
Penerapan jaring pencegah kepiting
 3. Bird Scaring Line
Penerapan Bird Scaring Line di Tambak
C. Peralatan
Peralatan yang biasa digunakan di tambak
Setiap selesai menggunakan peralatan di tambak/lahan perikanan, peralatan tersebut harus dicuci dan dikeringkan.

D. Kondisi Alam
1. Lokasi pertambakan di bawah garis pasang surut, sehingga air pasang bisa masuk ke tambak dan ada potensi terjadi kontaminasi.
Air pasang tinggi bisa melimpas diatas tanggul tambak

2. Lokasi tambak berpasir, porous, sehingga bisa terjadi kontaminasi silang antar tambak atau antara tambak dengan kanal distribusi.

E. Sistem
Sistem budidaya terbuka (Open System) lebih besar kemungkinan terjadi kontaminasi, baik secara mikrobiologis maupun kimiawi. Carrier  bisa masuk ke dalam sistem melalui air.

Upaya Pencegahan kontaminasi penyakit :
1. Bak pencuci
Pembuatan bak pencuci sebelum masuk ke area tambak
2. Foot Bath dan Disinfectant
Penerapan Foot Bath dan Penyemprotan Disinfectant untuk mencegah kontaminasi bibit penyakit

Semoga Bermanfaat...

Sumber : Presentasi Wayan Agus Edy