Kegiatan Penyuluhan

Kegiatan Penyuluhan Perikanan Bertujuan Meningkatkan Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan Pelaku Utama dan Pelaku Usaha Perikanan.

Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP)

P2MKP Memberdayakan Pelaku Utama Perikanan dan Masyarakat.

Pelatihan Kelautan dan Perikanan

Meningkatkan keterampilan para pelaku utama kelautan dan perikananm.

AUTO MATIC FEEDER

Solusi Memberi Makan Ikan Menjadi Mudah Dan Tepat.

Sunday, January 19, 2014

FALSAFAH, PRINSIP DAN ETIKA PENYULUHAN

A.  FALSAFAH PENYULUHAN

Falsafah berarti pandangan, yang akan dan harus diterapkan. Falsafah penyuluhan adalah Bekerja bersama masyarakat untuk membantunya agar mereka dapat membantu dirinya meningkatkan harkatnya sebagai manusia.

Falsafah penyuluhan berpijak pada pentingnya pengembangan individu dalam menumbuhkan masyarakat dan bangsa.

Falsafah penyuluhan berakar pada falsafah Negara Pancasila, terutama pada sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradap, dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Jika pelaku utama dan pelaku usaha perikanan  diminta bekerja keras meningkatkan produksinya, seluruh warga Indonesia harus mau mengangkat harkat mereka, demi kemanusiaan dan keadilan sosial, yang berlandaskan pada kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, menghargai prinsip demokrasi, serta demi tercapainya persatuan bangsa (Margono Slamet, 1989).

Falsafah penyuluhan berlandaskan pada falsafah Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, yang membawa konsekwensi pada: (1) perubahan administrasi penyuluhan dari yang bersifat relatif sentralisme menjadi fasilitatif partisipatif, dan (2) pentingnya kemauan penyuluh memahami budaya lokal yang seringkali mewarnai local agricultural praktis.

Landasan falsafah penyuluhan seperti itu mengandung pengertian :
  1. Penyuluh harus bekerjasama dengan masyarakat, bukan bekerja untuk masyarakat (Adicondro, 1990). Kehadiran penyuluh harus mampu menumbuhkan, menggerakkan, serta memelihara partisipasi masyarakat, bukan sebagai penentu atau pemaksa.
  2. Penyuluhan tidak selalu dibatasi oleh peraturan dari pusat yang kaku dan sentralistis. Pelaku utama dan pelaku usaha perikanan berhak memperoleh keleluasaan mengembangkan dirinya, dan secara cepat mampu mengantisipasi permasalahan-permasalahan di daerah dan tidak menunggu petunjuk/restu dari pusat. Dalam setiap permasalahan yang dihadapi, mereka bisa mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan untuk dapat menyelamatkan keluarganya. Dalam hal seperti itu, penyuluh diberi kewenangan  secepatnya mengambil inisiatif sendiri. Administrasi yang terlalu regulatif, sangat membatasi kemerdekaan mereka mengambil keputusan bagi usahanya.
  3. Penyuluh selain memberikan ilmunya kepada pelaku utama dan pelaku usaha agribisnis, ia harus mau belajar untuk mengembangkan dirinya (belajar dianggap tidak rasional, penyuluh menganggap rasional adalah petunjuk pusat). Padahal praktek-praktek usahatani yang berkembang dari budaya lokal, sering sangat rasional, karena telah mengalami proses trial and error dan teruji oleh waktu.
  4. Penyuluhan harus mampu mendorong terciptanya kreativitas dan kemandirian masyarakat, agar memiliki kemampuan berswakarsa, swadaya, dan swakelola bagi terselenggaranya kegiatan guna tercapainya tujuan, harapan dan keinginan-keinginan masyarakat sasarannya. Penyuluhan harus mengacu pada terwujudnya kesejahteraan ekonomi masyarakat dan peningkatan harkatnya sebagai manusia.

Dari falsafah penyuluhan pertanian (Ensminer, 1962) dapat dirumuskan :
  1. Penyuluhan adalah proses pendidikan yang bertujuan untuk mengubah pengetahuan, sikap dan keterampilan masyarakat.
  2. Sasaran penyuluhan adalah segenap warga masyarakat (pria, wanita dan anak-anaknya) untuk menjawab kebutuhan dan keinginannya.
  3. Penyuluhan mengajar masyarakat tentang apa yang diinginkannya, dan bagaimana cara mencapai keinginan-keinginan itu.
  4. Penyuluhan bertujuan membantu masyarakat agar mampu menolong dirinya sendiri.
  5. Penyuluhan adalah “belajar sambil bekerja” dan “percaya tentang apa yang dilihatnya”.
  6. Penyuluhan adalah pengembangan individu, pimpinan mereka, dan pengembangan dunianya secara keseluruhan.
  7. Penyuluhan adalah bentuk kerjasama untuk meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat.
  8. Penyuluhan adalah pekerjaan yang diselaraskan dengan budaya masyarakatnya,
  9. Penyuluhan adalah prinsip hidup dengan saling berhubungan, saling menghormati dan saling mempercayai antara satu sama lainnya.
  10. Penyuluhan merupakan kegiatan dua arah.
  11. Penyuluhan merupakan proses pendidikan yang berkelanjutan.

B.  PRINSIP PENYULUHAN  
Prinsip adalah suatu pernyataan tentang kebijaksanaan yang dijadikan pedoman dalam pengambilan keputusan dan melaksanakan kegiatan secara konsisten (Mathews, 1995). Prinsip berlaku umum, dapat diterima secara umum, dan telah diyakini kebenarannya dari berbagai pengamatan dalam kondisi yang beragam. Prinsip dapat dijadikan sebagai landasan pokok yang benar bagi pelaksanaan kegiatan.

Prinsip penyuluhan (Dahama dan Bhatnagar,1980) mencakup:
  1. Minat dan kebutuhan. Penyuluhan akan efektif jika selalu mengacu kepada minat dan kebutuhan masyarakat. Harus dikaji, apa yang benar-benar menjadi minat dan kebutuhan setiap individu maupun segenap warga masyarakatnya, sesuai dengan sumberdaya, serta minat dan kebutuhan yang perlu mendapat prioritas dipenuhi terlebih dahulu.
  2. Keragaman budaya masyarakat. Penyuluhan akan efektif jika mampu melibatkan /menyentuh organisasi masyarakat bawah, sejak dari keluarga/kekerabatan.
  3. Keragaan budaya. Penyuluhan harus memperhatikan keragaman budaya. Perencanaan penyuluhan harus selalu disesuaikan dengan budaya lokal. Perencanaan penyuluhan yang seragam untuk seluruh wilayah akan menemui hambatan pada keragaman budaya.
  4. Perubahan budaya. Setiap kegiatan penyuluhan akan mengakibatkan perubahan budaya. Kegiatan penyuluhan harus dilaksanakan dengan bijak dan hati-hati agar perubahan yang terjadi tidak menimbulkan kejutan-kejutan. Penyuluh perlu memperhatikan nilai-nilai budaya lokal seperti tabu, kebiasaan-kebiasaan, dll.
  5. Kerjasama dan partisipasi. Penyuluhan akan efektif jika mampu menggerakkan partisipasi masyarakat untuk selalu bekerja sama dalam melaksanakan program penyuluhan yang dirancang.
  6. Demokrasi dalam penerapan ilmu. Penyuluh harus memberi kesempatan pada masyarakat untuk menawar setiap ilmu alternatif yang ingin diterapkan, penggunaan metode penyuluhan, dan pengambilan keputusan yang akan dilakukan masyarakat sasarannya.
  7. Belajar sambil bekerja. Penyuluhan harus diupayakan agar masyarakat dapat belajar sambil bekerja atau belajar dari pengalaman yang ia kerjakan. Penyuluhan menyampaikan informasi atau konsep-konsep teoritis dan memberi kesempatan pada sasaran untuk mencoba memperoleh pengalaman melalui pelaksanaan kegiatan secara nyata.
  8. Penggunaan metode yang sesuai. Penyuluhan harus dilakukan dengan penerapan metode yang selalu disesuaikan dengan kondisi (lingkungan fisik, kemampuan ekonomi, dan nilai sosial budaya) sasarannya. Suatu metode tidak efektif dan efisien diterapkan untuk semua kondisi sasaran.
  9. Kepemimpinan. Penyuluhan harus mampu menumbuhkan dan mengembangkan kepemimpinan lokal atau memanfaatkan pemimpin lokal yang telah ada untuk membantu kegiatannya.
  10. Spesialis yang terlatih. Penyuluh harus benar-benar orang yang telah memperoleh latihan khusus tentang sesuatu yang sesuai dengan fungsinya sebagai penyuluh. Penyuluh yang disiapkan untuk menangani kegiatan khusus akan lebih efektif dibanding  yang disiapkan untuk melakukan beragam kegiatan (meski masih terkait dengan pertanian).
  11. Kepuasan. Penyuluhan harus mampu mewujudkan tercapainya kepuasan. Kepuasan akan sangat menentukan keikutsertaan sasaran pada program-program penyuluhan selanjutnya.
  12. Segenap keluarga. Penyuluhan harus memperhatikan keluarga sebagai satu kesatuan dari unit sosial. , Dalam hal ini terkandung pengertian-pengertian : 

  • Penyuluhan harus dapat mempengaruhi segenap anggota keluarga,
  • Setiap anggota keluarga memiliki peran/pengaruh dalam pengambilan keputusan,
  • Penyuluhan harus mampu mengembangkan pemahaman bersama.
  • Penyuluhan mengajarkan pengelolaan keuangan keluarga,
  • Penyuluhan mendorong keseimbangan antara kebutuhan keluaga  dan kebutuhan usaha perikanan,
  • Penyuluh harus mampu mendidik anggota keluarga yang masih muda,
  • Penyuluh harus mengembangkan kegiatan-kegiatan keluarga,
  • Memperkokoh kesatuan keluarga, baik masalah sosial, ekonomi, maupun budaya, dan
  • Mengembangkan pelayanan keluarga terhadap masyarakatnya.
C. ETIKA PENYULUH
Etika, adalah tata pergaulan yang khas atau  ciri-ciri perilaku yang dapat digunakan untuk mengindentifikasi, mengasosiasikan diri, dan dapat merupakan sumber motivasi untuk berkarya dan berprestasi bagi kelompok tertentu yang memilikinya. Etika bukanlah peraturan, tetapi lebih dekat kepada nilai-nilai moral untuk membangkitkan kesadaran beritikad baik, jika dilupakan atau dilanggar akan berakibat  kepada tercemarnya pribadi yang bersangkutan, kelompoknya, dan anggota kelompoknya (Kartono M, 1987).

Kegiatan penyuluhan bukan lagi menjadi kegiatan sukarela tetapi telah berkembang menjadi profesi, karena itu setiap penyuluh perlu memegang teguh Etika Penyuluhan.

Penyuluh harus mampu berperilaku agar masyarakat selalu memberikan dukungan yang tulus ikhlas terhadap kepentingan nasional. Perilaku yang perlu ditunjukkan atau diragakan oleh setiap penyuluh (SalmonP, 1987) adalah:
  1. Perilaku sebagai manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman kepada Tuhan YME, jujur dan disiplin.
  2. Perilaku sebagai anggota masyarakat, yaitu mau menghormati adat/kebiasaan masyarakatnya, menghormati pelaku utama dan pelaku usaha agribisnis dan keluarganya (apapun keadaan dan status sosial-ekonominya) dan menghormati sesama penyuluh.
  3. Perilaku yang menunjukkan penampilannya sebagai yang andal, yaitu berkeyakinan kuat atas manfaat tugasnya, kerjanya, memiliki jiwa kerjasama yang tinggi  dan berkemampuan untuk bekerja teratur.
  4. Perilaku yang mencerminkan dinamika, yaitu ulet, mental dan semangat kerja yang tinggi, selalu berusaha mencerdaskan diri dan selalu berusaha mengkaitkan kemampuannya.

Semoga Bermanfaat...

Sumber : Ir. Ahmad Syufri, M.Si, Falsafah, Prinsip dan Etika Penyuluhan.

Friday, January 17, 2014

Automatic Feeder : Solusi memberi makan ikan menjadi mudah dan tepat

Faktor yang penting dalam pemeliharaan ikan adalah ketepatan waktu dalam pemberian makan ikan. banyak pembudidaya yang usah mengatur jadwal makan ikan karena terbentur dengan kegiatan lain, sehingga kegiatan pemberian makan ikan menjadi terlambat. Selain ketepatan waktu, ketepatan jumlah pemberian pakan ikan juga mempengaruhi pertumbuhan ikan. Apabila pemberian pakan terlalu banyak maka akan menimbulkan pengendapan sisa makanan yang akan mengakibatkan penurunan kualitas air. Begitu juga apabila pemberian pakan terlalu sedikit, pertumbuhan ikan akan menjadi terlambat.

Dengan melihat kondisi diatas, maka kami membuat alat Automatic Feeder.




SPESIFIKASI MESIN
1. Kapasitas penyimpanan pakan disesuaikan dengan wadah yang diinginkan
2. Jangkauan lemparan sampai 6m2.
Ukuran Pelet
(mm)
Jumlah Pakan (gr/detik)
Jangkauan
(m2)
1
350
2,5
2
260
3,5
3
240
4,5
4
200
4,5
6
200
6

3. Pengaturan waktu pemberian pakan 24 jam.
4. Bahan rangka terbuat dari steinless steel, untuk pelampung terbuat dari paralon dan penampung pakan terbuat dari fibre.

KEUNGGULAN

  1. Sebaran pakan ikan akan merata sehingga ukuran ikan relatif merata
  2. Mengurangi kanibalisme
  3. Pemberian pakan menjadi lebih efisien karena tepat waktu dan tepat jumlah
  4. Penggunaan tenaga kerja menjadi lebih sedikit sehingga biaya produksi lebih rendah
  5. Mudah dioperasikan.
  6. Konsumsi listrik rendah.
  7. Mudah diinstal.
  8. Mudah mengatur waktu dan jumlah pakan.
  9. Refilll / pengisian pakan mudah.


Untuk informasi dan pemesanan lebih dapat menghubungi :
AGUS WIDIYANTO, S.St.Pi
081393100473





















Thursday, January 16, 2014

TEKNIK TRANSPORTASI UDANG GALAH

Udang galah merupakan komoditas air tawar yang mempunyai prospek pasar yang cerah dimasa  yang akan datang karena berbagai alasan yang sangat masuk akal. Diantaranya alasan tersebut adalah udang galah tidak rentan terhadap serangan penyakit yang kini merebak dikalangan pembudidaya udang, cara pembudidayaan relative alami (tidak menggunakan obat-obatan) sehingga tidak menghalangi kepada peluang ekspor, cara pembudidayaan  relative mudah dan berbagai keunggulan lainnya pada udang galah baik  secara teknis maupun non teknis.
Udang Galah
Dengan banyaknya usaha pembesaran menyebabkan kebutuhan benih udang galah meningkat, sehingga untuk memnuhi kebutuhan benih biasanya mendatangkan benih dari luar daerah. salah satu aspek penting dalam kegiatan budidaya adalah menjaga kesehatan benih saat pengangkutan benih dari tempat pembenihan ke lokasi budidaya.

Dalam pengangkutan benih perlu diperhatikan beberapa hal berikut :
1.  Transportasi Juvenil
  • Plastik ukuran lebar 40 cm panjang 80 cm
  • Volume air 5 liter
  • Kapasitas 1.000 - 2.000 ekor
  • Waktu max pengangkutan 12 jam 

2. Transportasi tokolan
    Sistem Terbuka :
Pengangkutan tokolan udang galah sistem terbuka
  • Wadah dari bak/drum plastik dengan kapasitas 200 liter
  • Kapasitas 500 - 1.000 ekor
  • Perlu disediakan aerasi selama pengangkutan
  • Waktu max pengangkutan 10 - 12 jam 
    Sistem Tertutup :
Pengangkutan tokolan udang galah sistem tertutup

  • Wadah dari platik ukuran lebar 50 cm, panjang 100 cm
  • Kapasitas 250 - 750 ekor
  • Diberikan oksigen murni
  • Waktu max pengangkutan 10 - 12 jam
3. Transportasi Induk
    Sistem Terbuka :
Pengangkutan induk udang galah sistem terbuka
  • Wadah dari bak plastik 
  • Kapasitas 15 - 25 ekor / keranjang
  • Waktu max pengangkutan 12 jam 
    Sistem Tertutup
Pengangkutan induk udang galah sistem tertutup



  • Wadah dari platik 
  • Kapasitas 15 - 25 ekor
  • Waktu max pengangkutan 10 jam
Semoga bermanfaat...

Wednesday, January 15, 2014

SISTIM PEMBINAAN MASYARAKAT NELAYAN DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN PERIKANAN YANG BERKELANJUTAN DI INDONESIA

Indonesia adalah merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.508 pulau dan 81.000 Km, garis pantai, dimana sekitar 70 % wilayah teritorialnya berupa laut. Dengan perairan laut seluas total 5,8 juta Km2 (berdasarkan konvensi PBB tahun 1982), Indonesia menyimpan potensi sumberdaya hayati dan non hayati yang melimpah (Simanungkalit dalam Resosudarmo, dkk.,2002).   Hal ini menyebabkan sebahagian besar masyarakat tinggal dan menempati daerah sekitar wilayah pesisir dan menggantungkan hidupnya sebagai nelayan.
Pembinaan Nelayan

Jumlah nelayan perikanan laut di Indonesia menurut kategori nelayan maka status nelayan penuh  merupakan jumlah terbesar dari nelayan sambilan utama maupun nelayan sambilan tambahan dan jumlah ini setiap tahunnya menunjukkan peningkatan (Dirjen Perikanan Tangkap, 2002).Hal ini mempunyai indikasi bahwa jumlah nelayan yang cukup besar ini merupakan suatu potensi yang besar dalam pembangunan perikanan.

Keberadaan kehidupan nelayan selama ini dihadapkan dengan sejumlah permasalahan yang terus membelitnya, seperti lemahnya manajemen usaha, rendahnya adopsi teknologi perikanan, kesulitan modal usaha, rendahnya pengetahuan pengelolaan sumberdaya perikanan, rendahnya  peranan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan,  dan lain sebagainya mengakibatkan  kehidupan nelayan dalam realitasnya menunjukkan kemiskinan. 

Kemiskinan, rendahnya pendidikan dan pengetahuan serta kurangnya informasi sebagai akibat keterisolasian pulau-pulau kecil merupakan karakteristik dari masyarakat pulau-pulau kecil (Sulistyowati, 2003).  Hasil pembangunan selama ini belum dinikmati oleh masyarakat yang tinggal di kawasan pulau terpencil. 

Masyarakat diletakkan sebagai obyek pembangunan dan bukan sebagai subyek pembangunan, dengan demikian dibutuhkan perhatian dan keinginan yang tinggi untuk memajukan kondisi  masyarakat pesisir khususnya nelayan sebagai pengelola sumberdaya pulau-pulau kecil agar dapat berlangsung secara lestari (Sulistyowati, 2003).

Pemerintah melalui Departemen Perikanan dan Kelautan selama ini telah melakukan kebijakan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP) yang berjalan berdasarkan kebijakan KepMen 41 Tahun 2000 Departemen Kelautan dan Perikanan  tentang Pedoman Umum pengelolaan pulau-pulau kecil yang berkelanjutan dan berbasis masyarakat. Tujuan dalam program pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat (DKP, 2002). Kebijakan tersebut menghendaki perlu  adanya partisipasi masyarakat, karena keikut sertaan masyarakat akan membawa dampak positif, mereka akan memahami berbagai permasalahan yang muncul serta memahami keputusan akhir yang akan diambil.  Untuk itu, dalam partisipasi masyarakat diperlukan adanya komunikasi dua arah yang terus menerus dan informasi yang berkenaan dengan program, proyek atau kebijakan yang disampaikan dengan bermacam-macam teknik yang tidak hanya pasif dan formal tetapi juga aktif dan informal (Hadi dalam Harahap, 2001).

Salah satu faktor yang penting untuk menumbuhkan partisipasi masyarakat nelayan adalah pembinaan yaitu antara lain; melalui penyuluhan dan pendidikan yang terus menerus kepada masyarakat setempat. Pembinaan masyarakat dapat dilihat dari beragam pendekatan, sehingga dapat memahami pokok-pokok pikiran tentang pembinaan yaitu antara lain ; pembinaan merupakan suatu sistim pendidikan non formal, yang berupaya mengubah perilaku sasarannya.

Konsep pembinaan masyarakat nelayan dalam kerangka perspektif pembangunan perikanan yang berkelanjutan di Indonesia  perlu dikaji secara baik, tepat dan menyentuh sasaran yang ingin dicapai mengingat pertimbangan beberapa faktor, antara lain; pembinaan masyarakat nelayan melibatkan banyak pihak yaitu, dari pemerintah, lembaga pendidikan, swasta, lembaga-lembaga non pemerintah maupun masyarakat nelayan sendiri; proses pembinaan yang berlangsung  harus dilakukan secara terus menerus dan simultan dengan masyarakat nelayan sehingga menimbulkan perubahan-perubahan yang sesuai dengan tujuan pembangunan perikanan yang diharapkan.

POKOK - POKOK PENGERTIAN PEMBINAAN MASYARAKAT NELAYAN
Pembinaan masyarakat nelayan  sebagai suatu proses penyuluhan dan pendidikan non formal dapat diartikan sebagai berikut : 
  1. Pembinaan masyarakat nelayan  merupakan suatu proses penyebarluasan infor- masi yang diperlukan dan berkembang selama pelaksanaan pembangunan perikanan dan kelautan.  Informasi tersebut dapat berupa inovasi atau teknologi perikanan dan kelautan yang dihasilkan dari penelitian maupun pengalaman lapang, masalah-masalah yang perlu memperoleh pemecahannya, maupun peraturan dan kebijakan yang ditetapkan pemerintah demi terlaksana dan tercapainya tujuan pembangunan perikanan yang direncanakan.  Alur informasinya dapat bersifat vertikal  yaitu : peneliti, pembina, masyarakat nelayan (dan sebaliknya) atau penentu kebijakan, pembina dan masyarakat nelayan (dan sebaliknya).  Dapat juga bersifat horisontal yaitu : antar aparat penentu kebijakan, antar peneliti, antar pembina, antar masyarakat nelayan ataupun antar lembaga sederajat yang saling terkait.
  2. Pembinaan masyarakat nelayan merupakan proses penerangan.  Penerangan kepada masyarakat nelayan tentang segala sesuatu yang belum diketahui dengan jelas untuk dilaksanakan atau diterapkan dalam rangka peningkatan produksi dan pendapatan atau keuntungan yang ingin dicapai melalui proses pembangunan perikanan.  Penerangan yang dilakukan tidaklah sekedar memberikan penerangan, tetapi penerangan yang dilakukan selama pembinaan masyarakat nelayan harus terus menerus dilakukan sampai betul-betul diyakini oleh pembina bahwa segala sesuatu yang telah diterangkan benar-benar telah dipahami, dihayati dan dilaksanakan oleh masyarakat nelayan.  
  3. Pembinaan sebagai proses perubahan perilaku.  Tujuan yang sebenarnya dari pembinaan masyarakat nelayan adalah terjadinya perubahan perilaku yaitu pengetahuan, sikap dan ketrampilan di kalangan masyarakat nelayan agar mereka tau, mau dan mampu melaksanakan perubahan-perubahan dalam pengelolaan wilayah pesisir demi tercapainya peningkatan produksi, pendapatan atau keuntungan dan perbaikan kesejahteraan masyarakat nelayan yang ingin dicapai melalui pembangunan perikanan. Melalui pembinaan, ingin dicapai suatu masyarakat nelayan yang memiliki pengetahuan luas tentang berbagai ilmu dan teknologi perikanan dan kelautan, memiliki sikap yang progresif untuk melakukan perubahan dan inovatif terhadap sesuatu  yang baru, serta trampil dan mampu berswadaya untuk mewujudkan keinginan dan harapan-harapannya demi tercapainya perbaikan kesejahteraan masyarakat nelayan.
  4. Pembinaan merupakan  proses rekayasa sosial dimana perlu dilaksanakan secara bijak dan hati-hati serta harus dijaga agar tidak terperangkap kepada upaya terciptanya tujuan dengan mengorbankan kepentingan masyarakat nelayan yang sebenarnya ingin diperbaiki mutu hidupnya.
  5. Pembinaan merupakan proses pendidikan, memiliki ciri-ciri sebagai :
  • Sistim pendidikan orang dewasa sehingga metoda pendidikan lebih banyak bersifat lateral yang saling mengisi dan berbagi pengalaman dibanding dengan pendidikan yang sifatnya vertikal atau menggurui/ceramah ; keberhasilannya tidak ditentukan oleh jumlah materi atau informasi yang disampaikan tetapi seberapa jauh tercipta dialog antara pendidik dan peserta didik;  sasaran utamanya adalah orang dewasa baik dewasa dalam arti biologis maupun psikologis.
  • Sistim pendidikan non formal yang terencana atau terprogram dapat dilakukan dimana saja baik di dalam ruangan  maupun diluar ruangan bahkan dapat dilakukan sambil bekerja (“learning by doing”); tidak terikat waktu baik, penyelenggara  maupun waktunya disesuaikan dengan kebu-tuhan nelayan ; pembina dapat berasal dari salah satu peserta didik.
Telah dipahami bahwa pembinaan masyarakat nelayan merupakan proses perubahan perilaku sehingga efektivitas pembinaan dapat diukur dari seberapa jauh perubahan perilaku masyarakat nelayan menyangkut pengetahuan,sikap dan ketrampilan yang dapat diamati  pada :
  • Perubahan-perubahan pelaksanaan kegiatan perikanan mencakup macam dan jumlah sarana produksi serta peralatan  penangkapan ikan  yang digunakan maupun teknik penangkapannya. 
  • Perubahan-perubahan tingkat produktivitasnya dan pendapatan masyarakat nelayan 
  • Perubahan dalam pengelolaan usaha (perorangan, kelompok) serta pengelolaan pendapatan yang diperoleh dari usaha perikanannya. 
Faktor faktor yang mempengaruhi proses pembinaan masyarakat nelayan melalui upaya penyuluhan, dapat terjadi karena :
  • Keadaan pribadi masyarakat sasaran, yang terutama tergantung kepada motivasinya untuk melakukan perubahan.
  • Keadaan lingkungan fisik yang mencakup keadaan sumberdaya alam, iklim suhu air, salinitas  yang akan mempengaruhi tingkat kesuburan perairan.
  • Lingkungan sosial dan budaya masyarakat nelayan yang tinggal di pulau-pulau kecil 
  • Macam  dan aktivitas kelembagaan yang tersedia untuk mendukung dan menun- jang kegiatan pembinaan masyarakat nelayan.
ELEMEN - ELEMEN SISTIM PEMBINAAN MASYARAKAT NELAYAN
Pembinaan masyarakat nelayan sebagai suatu sistim berarti  terdiri dari elemen-elemen sistim yang saling terkait satu dengan yang lain dan saling mempengaruhi.  Adapun elemen-elemen sistim yang penting adalah : sasaran pembinaan, metoda pembinaan, dan pembina. 
A. Sasaran Pembinaan
Sasaran pembinaan dapat terdiri dari sasaran utama pembinaan, sasaran penentu pembinaan, dan sasaran pendukung pembinaan.
Yang menjadi sasaran utama pembinaan adalah seluruh warga masyarakat nelayan yang terdiri dari bapak nelayan, ibu nelayan, pemuda ataupun anak-anak  yang secara langsung maupun tidak langsung memiliki peranan  dalam kegiatan dan penge-lolaan usaha perikanan.  Sebagai sasaran utama pembinaan, mereka harus menjadi pusat perhatian pembina, sebab mereka inilah yang selalu terlibat dalam pengambilan keputusan akhir tentang segala sesuatu  baik mengenai teknik penangkapan, peralatan penangkapan,sistim pemasaran dan lain-lain.
Yang dimaksudkan dengan sasaran penentu dalam pembinaan adalah pihak-pihak yang bukan pelaksana kegiatan usaha perikanan tetapi secara langsung atau tidak langsung terlibat sebagai penentu kebijakan pembangunan perikanan.  Sasaran penentu pembinaan antara lain seperti :
  • Pimpinan wilayah  yang memiliki kekuasaan mengambil keputusan  kebijakan pem-bangunan perikanan  dan mempunyai tanggung jawab atas keberhasilan pembangunan di wilayah kerjanya.
  • Tokoh-tokoh  informal seperti tokoh agama, tokoh adat, guru dimana mereka   yang memiliki kekuasaan atau wibawa untuk menumbuhkan opini publik atau dijadikan panutan oleh masyarakat  setempat.
  • Para peneliti dan para ilmuwan sebagai sumber pembawa informasi  atau teknologi seperti teknik penangkapan, pengelolaan usaha perikanan, pengorganisasian kelompok nelayan dimana hal  ini yang diperlukan oleh masyarakat nelayan.
  • Lembaga keuangan dimana dapat menyediakan kemudahan kredit bagi nelayan yang memerlukan. Seperti antara lain untuk keperluan pengelolaan usaha perikanan, dan  peralatan penangkapan.
  • Produsen dan penyalur sarana produksi perikanan atau peralatan penangkapan.
  • Pedagang atau lembaga-lembaga pemasaran hasil-hasil perikanan
  • Pengusaha atau industri pengolahan hasil-hasil perikanan.
Yang dimaksudkan dengan sasaran pendukung dalam pembinaan adalah  pihak-pihak yang secara langsung maupun tak langsung tidak memiliki hubungan  kegiatan dengan pembangunan perikanan, tetapi dapat diminta bantuannya guna melancarkan pembinaan masyarakat nelayan. Seperti antara lain ; para Lembaga Swadaya Masyarakat, para pekerja sosial, seniman, konsumen hasil-hasil perikanan dan biro iklan.

B. METODE PEMBINAAN
Tanggung jawab pembina didalam melaksanakan suatu pembinaan masyarakat nelayan adalah mengkomunikasikan teknologi atau inovasi yang dapat mengubah perilaku masyarakat nelayan  agar tau, mau dan mampu melaksanakan teknologi atau inovasi perikanan  demi untuk terjadinya perbaikan hidup masyarakat nelayan.
Di dalam setiap pelaksanaan pembinaan masyarakat, pembina haruslah memahami dan mampu memilih metode pembinaan yang tepat sebagai suatu cara yang terpilih untuk tercapainya tujuan pembinaan yang dilaksanakan. Ada berbagai metoda yang digunakan dalam pelaksanaan pembinaan masyarakat nelayan, akan tetapi perlu disadari bahwa tidak ada satupun metoda yang paling efektif untuk diterapkan di dalam pembinaan.  Untuk itu, maka dalam pelaksanaan pembinaan masyarakat nelayan perlu menerapkan beragam metoda  sekaligus yang dapat saling menunjang dan melengkapi.
Ada beberapa prisip metoda pembinaan masyarakat nelayan yang perlu dipahami, antara lain :

  • Pembinaan masyarakat nelayan yang dilaksanakan harus mampu menghasilkan  nelayan yang mampu dengan upayanya sendiri  dapat mengatasi masalah-masalah yang dihadapi, serta mampu mengembangkan kreativitasnya untuk memanfaatkan setiap potensi dan peluang yang diketahuinya untuk terus menerus dapat memperbaiki mutu hidupnya.
  • Kegiatan pembinaan masyarakat nelayan sebaiknya dilaksanakan dilingkungan pekerjaan nelayan, agar tidak banyak menyita waktu kegiatan rutinnya dan pembina dapat memahami betul keadaan masyarakat nelayan dengan masalah-masalah yang dihadapi  dan potensi serta peluang yang ditemukan di lingkungan pekerjaannya sendiri sehingga mudah dipahami dan diingat  oleh nelayan.
  • Kegiatan pembinaan akan lebih efisien jika diterapkan hanya kepada beberapa warga masyarakat nelayan terutama yang diakui oleh lingkungannya sebagai panutan yang baik.
  • Ciptakan  hubungan yang akrab antara pembina dengan  masyarakat nelayan.  Hubungan yang akrab ini akan memperlancar kegiatan pembinaan.  Selain itu , akan tercipta suatu keterbukaan dalam mengemukakan masalah-masalah yang dihadapi  dan masyarakat dapat dengan mudah menyampaikan pendapatnya.  Dengan hubungan ini pembina dapat dengan senang hati diterima dalam lingkungan masyarakat tanpa ada prasangka.
  • Dalam kegiatan pembinaan, metoda yang diterapkan dapat merangsang masyarakat nelayan melakukan perubahan-perubahan  demi perbaikan mutu hidupnya sendiri.
Beragam Model Pembinaan
Ragam metoda pembinaan  dapat dibedakan menurut ; media yang digunakan, hubungan pembina dan masyarakat sasaran, serta pendekatan psikososial.
  • Berdasarkan media yang digunakan maka metoda pembinaan dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu; (1) media lisan yang disampaikan secara langsung seperti percakapan tatap muka atau lewat telepon maupun secara tidak langsung, seperti; lewat radio dan televisi. (2) media cetak  baik berupa gambar dan atau tulisan seperti; foto,majalah, selebaran, poster dll, yang dibagi-bagikan, disebarkan atau dipasang  ditempat-tempat strategis yang mudah dijumpai oleh masyarakat nelayan. (3) media terproyeksi, berupa gambar dan atau tulisan lewat slide atau pertunjukkan film. 
  • Berdasarkan hubungan pembina dan masyarakat nelayan, maka metoda pembinaan ada dua macam, yaitu : (1) komunikasi langsung, baik melalui percakapan tatap muka atau lewat media  tertentu, dimana pembina dapat berkomunikasi secara langsung dengan masyarakat nelayan dalam waktu yang relatif singkat ; (2) komunikasi tak langsung, baik lewat perantara orang lain atau media lain yang tidak memungkinkan pembina dapat menerima respons  dari masyarakat nelayan dalam waktu yang relatif singkat.
  • Metoda pembinaan keadaan psiko-sosial masyarakat nelayan maka dapat dibedakan dalam tiga pendekatan, yaitu ; (1) pendekatan perorangan, seperti kunjungan ke rumah, kunjungan ke tempat kegiatan nelayan; (2) pendekatan kelompok, seperti pertemuan di tempat penyelenggaraan latihan , pertemuan kelompok nelayan; (3) pendekatan massal, seperti melalui televisi, radio, penyebaran selebaran. Metoda ini mencakup jumlah nelayan yang sangat banyak dan tersebar tempat tinggalnya .
Metoda yang akan diterapkan dalam pembinaan masyarakat nelayan  dapat juga  menggunakan metoda pendidikan formal seperti; ceramah, diskusi, atau metoda yang tidak pernah diterapkan dalam pendidikan formal, seperti ; pameran, kunjungan ke rumah nelayan. 
Metoda pembinaan masyarakat nelayan  yang akan dipilih harus selalu disesuaikan dengan karakteristik sasaran, sumberdaya yang tersedia atau yang dapat dimanfaatkan  serta keadaan lingkungan  termasuk tempat dan waktu  diselenggarakan kegiatan pembinaan tersebut.

Pemilihan metoda pendidikan orang dewasa harus lebih diutamakan pada metoda-metoda yang memungkinkan  adanya dialog baik antara pendidik (pembina) dan yang didik (masyarakat nelayan) maupun antara peserta didik.  Pemilihan metoda pendidikan orang dewasa  perlu mempertimbangkan : (1) waktu penyelenggaraan yang tidak terlalu mengganggu kegiatan, (2) waktu penyelenggaraan sesingkat mungkin, (3) lebih banyak menggunakan alat peraga.  Selain itu,  pemilihan metoda pembinaan ini  lebih banyak mengacu kepada pemecahan masalah yang sedang dihadapi dan akan dihadapi dibanding dengan upaya menambah pengalaman belajar baik yang berupa pengetahuan, sikap maupun ketrampilan- ketrampilan baru.

C. PEMBINA
Pembina adalah seseorang yang atas nama pemerintah atau lembaga pembinaan  berkewajiban untuk mempengaruhi proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sasaran pembinaan  untuk mengadopsi teknologi.  Untuk itu seorang pembina harus memiliki kualifikasi yang baik seperti kepribadian, pengetahuan, sikap dan ketrampilan  membina yang profesional.

Pembina memiliki peran dalam menyampaikan informasi dan teknologi kepada masyarakat  dan mempengaruhi sasaran pembinaan  melalui metoda dan teknik-teknik tertentu.  Akan  tetapi,  pembina juga harus mampu menjadi jembatan penghubung antara pemerintah atau lembaga pembinaan  yang diwakilinya dengan masyarakat sasarannya, baik dalam menyampaikan kebijakan-kebijakan  yang harus diterima dan dilaksanakan oleh masyarakat sasaran, maupun untuk menyampaikan respons masyarakat  kepada pemerintah  atau lembaga pembinaan yang diwakilinya.

Seorang pembina masyarakat nelayan harus memiliki syarat-syarat tertentu antara lain;  orang dewasa dan mampu berkomunikasi dengan baik.  Ia harus mau dan dapat hidup serta bekerja di desa-desa pesisir yang terpencil, selain mampu mengembangkan kepercayaan dan disegani oleh semua lapisan anggota masyarakat nelayan.  Seorang pembina juga harus bisa berkomunikasi dengan berbagai tingkatan dan golongan di dalam masyarakat.  Memiliki jiwa kepemimpinan, mampu mengkoordinasi masyarakat, memiliki jiwa yang sehat dan fisik yang kuat, mempunyai daya kreatif, jujur, terbuka dan dapat dipercaya.  Menjadi seorang pembina masyarakat juga harus mendapat dukungan dari keluarga dan memiliki komitmen yang kuat untuk bertugas pembinaan setiap saat bagi masyarakat.  

Mengingat bahwa seorang pembina masyarakat nelayan harus dapat berperan dalam masyarakat, baik sebagai fasilitator, organisator, mediator, dll maka untuk menjadi seorang pembina masyarakat nelayan, paling tidak memiki latar belakang pendidikan praktis adalah lulusan universitas (sarjana) ilmu kelautan dan perikanan.  (Tulungen, J.J, dkk, 2002).

Suatu proses pembinaan membutuhkan waktu yang relatif lama,  karena pembinaan masyarakat perlu dilakukan secara terus menerus dan simultan antara pembina dan masyarakat  nelayan sehingga terjadi adanya perubahan-perubahan dalam masyarakat itu sendiri.  Untuk itu seorang pembina harus dapat bersedia mempunyai waktu yang cukup untuk melakukan pembinaan, apalagi kalau wilayah kerjanya cukup jauh dan terpencil.

Dalam kegiatan pembinaan memerlukan suatu bentuk organisasi pembinaan masyarakat nelayan. Pentingnya organisasi pembinaan masyarakat nelayan karena; 
  • Setiap pembina harus diorganiser sebaik-baiknya oleh setiap lembaga pemerintahan yang bersangkutan agar mereka benar-benar memahami latar belakang  sosial budaya masyarakat nelayan, serta menjalin hubungan dengan pusat informasi tentang sosial budaya setempat.
  • Setiap pembina harus memiliki hubungan timbal balik yang erat dengan  para peneliti (sumber informasi lainnya )  maupun dengan masyarakat nelayan.
  • Pengorganisasian  yang efektif di dalam kegiatan pembinaan masyarakat nelayan  memerlukan kaitan dengan sektor-sektor kegiatan lain.
  • Kredibilitas pembina  sebagai sumber informasi yang dapat dipercaya  hanya dimungkinkan jika ada organisasi  pembinaan masyarakat  nelayan   yang memberikan kejelasan  tugas dan tanggung jawab  kepada setiap pembinanya.
PENUTUP
Sistim pembinaan masyarakat nelayan yang merupakan bagian dari pembangunan perikanan yang berkelanjutan di Indonesia perlu memperhatikan dan memahami secara baik setiap elemen-elemen sistim yang terkait dan berpengaruh terhadap kerja sistim pembinaan itu sendiri. Elemen-elemen sistim yang terdiri dari sasaran pembinaan, metoda pembinaan dan pembina, cukup kompleks sehingga untuk itu  perlu adanya keterpaduan berbagai disiplin ilmu dalam merencanakan suatu bentuk kegiatan pembinaan masyarakat nelayan yang berkelanjutan. Dengan demikian  dapat membantu dan membangun  sistim pembinaan bagi masyarakat nelayan yang lebik baik.

Semoga bermanfaat...



Monday, January 13, 2014

Pemilihan Lokasi Untuk Kolam Budidaya Ikan

Dalam membudidayakan ikan atau organisme air lainnya dapat digunakan berbagai wadah budidaya, seperti bak, kolam, tambak atau karamba. Pemilihan wadah yang akan digunakan umumnya didasarkan pada jenis ikan yang akan dipelihara, lokasi budidaya serta biaya yang dimiliki pengelola.
Kolam Tanah

Kolam atau tambak merupakan suatu genangan air atau perairan buatan manusisa yang luasnya terbatas, mudah dikuasai dan digunakan untuk memelihara biota air. Kolam atau tambak terbuat dari tanah dan dibangun diatas hamparan tanah. Wadah ini mudah dikuasai, artinya mudah diisi air, mudah dikeringkan dan mudah diatur penggunaannya sesuai dengan tujuan budidaya.
Keuntungan kolam tanah yaitu pembiayaannya relatif murah dan sangat mendukung pertumbuhan pakan alami atau plankton. Sementara itu, biaya pembuatan kolam tembok atau beton relaitf mahal, tetapi awet dan risiko kebocoran akibat hama kecil. Kelemahan kolam tembok adalah jika seluruh bagiannya ditembok (termasuk dasar kolam), tidak mendukung petumbuhan pakan alami. Karena itu, sebaiknya dasar kolam tidak ditembok. Bagian yang ditembok cukup pematangnya saja.

FUNGSI KOLAM
  1. Kolam penampungan, pengendapan lumpur dan penyaring air, berfungsi untuk menampung air, mengendapkan lumpur dan menyaring air tawar sebelum digunakan untuk budidaya.
  2. Kolam pemeliharaan induk, berfungsi untuk penyimpanan induk – induk ikan yang akan dan telah dikawinkan. Biasanya terdiri dari kolam untuk induk jantan dan kolam induk betina. Sistem pengairanya adalah paralel dan jika terpaksa menggunakan sistem seri, maka kolam induk betina harus memperoleh pengairan terlebih dahulu daripada kolam induk jantan.
  3. Kolam pemijahan, merupakan kolam untuk mempertemukan induk jantan dan betina yang telah matang kelamin dan akan melakukan perkawinan/pemijahan.
  4. Kolam penetasan telur, kolam ini tidak mutlak harus ada, karena penetasan telur dapat dilakukan dikolam pemijahan.
  5. Kolam pendederan benih atau larva ikan adalah kolam untuk membesarkan benih/larva ikan hingga menjadi benih ikan berukuran siap untuk dibesarkan lebih lanjut.
  6. Kolam pembesaran adalah kolam untuk membesarkan benih ikan lebih lanjut menjadi ikan berukuran konsumsi.
  7. Kolam penumbuhan pakan alami, merupakan kolam untuk menumbuhkan makanan alami bagi ikan yang masih lemah.
MEMILIH LOKASI KOLAM
Memilih lokasi budidaya ikan  merupakan langkah awal dalam usaha budidaya ikan . Beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi adalah aspek sosial, ekonomi, budaya maupun aspek teknis.

Aspek Sosial Ekonomi dan Budidaya
  1. Mendapat dukungan dan persetujuan masyarakat, asalkan usaha yang akan dilakukan akan bermanfaat bagi masyarakat.
  2. Mendapat jaminan keamanan dari masyarakat.
  3. Sesuai dengan perencanaan pembangunan daerah.
  4. Memiliki kekuatan hukum, yaitu mendapat izin lokasi usaha maupun izin usaha dari pemerintah setempat.
  5. Mudah mendapatkan tenaga kerja, tenaga kerja haruslah mudah didapatkan dengan imbalan yang wajar. Terlebih baik lagi tenaga kerja tersebut telah terampil untuk mengurusi ikan. Ini biasanya kalau lokasi perkolaman terletak didaerah pengembangan budidaya ikan, maka tenaga kerja didaerah itu bisa kita harapkan telah menguasai teknik perikanan.
  6. Lokasi usaha dekat dengan :
  • Tempat pengelola, agar mudah dalam pengawasan
  • Jalan raya, agar mudah dalam pengangkutan dan pemasaran hasil usaha lokasi pembenihan (hatchery)
  • Pasar, yaitu tempat menerima atau menjual hasil usaha.
Aspek Teknis
a. Topografi (Ketinggian Tempat)
   Topografi adalah bentuk keseluruhan dari permukaan tanah (datar, bergelombang atau curam). Apabila tanahnya terlalu miring, terpaksa harus membuat pematang yang lebar, tinggi dan sangat kuat agar dapat menahan massa air besar yang dikumpulkan dibagian yang terendah.
Demikian pula sebaliknya apabila tanahnya terlalu datar harus menggali tanah yang banyak, untuk memperoleh dasar kolam yang miring. ada 6 tipe area menurut kemiringan tanah :
  • Lembah berbentuk V tajam adalah lembah yang dasarnya bebentuk V tajam, tidak memenuhi syarat untuk dibangun daerah perkolaman. Kita akan membangun bendungan air atau pematang kolam yang luar biasa tingginya. Jadi area yang mempunyai dasar lembah V tajam tidak cocok untuk dijadikan kolam ikan.
  • Lembah berbentuk V tidak begitu tajam, agak lumayan bila akan dijadikan kolam walaupun kita harus membangun kolam yang relatif sempit. Bentuk kolam susunan seri akan lebih cocok pada lokasi seperti ini.
  • Lembah berbentuk V membulat, akan lebih baik untuk dibangun kolam ke kolam dengan sistem seri hanya dalam lokasi ini dapat dibangun kolam yang lebih luas.
  • Lembah yang mendatar di salah satu lerengnya. Pada umumnya dilokasi seperti ini akan terdapat sungai yang mengalir didasar lereng yang lain. Oleh karena itu akan lebih mudah dalam membangun kolam – kolam yang lebih luas. Saluran buatan perlu dibangun yang nantinya akan digunakan sebagai saluran pemasukkan. Sedangkan saluran pembuangan kita pilih sungai aslinya.
  • Lembah yang mendatar dikakai kedua lerengnya. Lokasi seperti ini merupakan area yang paling ideal untuk dijadikan daerah perkolaman. Saluran air pemasukkan dan pembuangan akan lebih mudah diatur tempatnya dan kolam – kolam akan dapat lebih luas untuk dibangunnya. Jadi sungai – sungai yang berada disamping kiri dan kanannya akan dapat berfungsi sebagai saluran pembuangan.
  • Daerah datar (kemiringannya lebih kecil 5%). Umumnya mempunyai permukaan sungai yang tidak jauh berbeda dengan permukaan daratannya. Sehingga boleh dikatakan tidak cocok untuk dijadikan mengingat sukarnya tempat pembuangan air kolam.
b. Kondisi Tanah
   Tanah merupakan faktor mutlak dalam kegiatan budidaya , khususnya untuk kegiatan pendederan dan pembesaran. Untuk membuat suatu unit usaha harus memperhatikan sifat – sifat tanah. Faktor utama yang harus diperhatikan adalah tanah pematang kolam harus kokoh sehingga dapat menahan massa air.
  • Kedap air atau tidak mudah meloloskan air (porous)
  • Subur, berlempung dan berhumus
  • pH atau reaksi tanah netral sampai basa
  • memiliki stabilitas yang tinggi.
c. Kuantitas dan Kualitas Air
   1) Sumber Air   
     Sumber air untuk kolam budidaya  dapat berasal dari saluran irigasi teknis (buatan), sungai, kali, atau sumber air lainnya. Meskipun  tidak membutuhkan sumber air yang selalu mengalir sepanjang waktu, tetapi untuk unit pembenihan (hatchery) kondisi airnya harus benar – benar bersih. Karena itu, jika sulit mendapatkan sumber air irigasi yang baik, petani dapat memanfaatkan air tanah yang diperoleh melalui sumur biasa atau sumur pompa.
Sungai sebagai salah satu sumber air

  2) Debit Air
      Menurut R. Rustami Djayadiredja mengemukakan bahwa kebutuhan air untuk pemeliharaan ikan sebagai berikut :
  • Kultur ekstensif memerlukan air 3 liter/ha, debit air cukup untuk menutupi penguapan saja.
  • Kultur semi ekstensif memerlukan 6 – 12 liter/detik/ha yang dapat ditingkatkan menjadi 25 – 50 liter/detik/ha.
  • Kultur intensif memerlukan air 100 liter/detik/kolam dimana kuantitas ini sangat diperlukan terutama mengenai oksigen (O2¬).
     3) Kontinuitas
       Air harus mencukupi atau tersedia sepanjang tahun atau sepanjang musim pemeliharaan. Di musim kering sering terjadi bahaya yang timbul karena kekeringan dimana pada musim ini air sangat kurang. Untuk menjaga kontinuitas air sehingga dapat terhindar dari bahaya kekeringan pada kompleks perkolaman itu harus ada sumur atau sumber yang lainnya.

     4) Warna hijau jernih, kecerahan 35 cm
     5) Alklainitas yang produktif 50 – 500 ppm CaCO2 organik
     6) Phospat lebih kecil dari 0,002 ppm
     7) Cadmium (Cd) lebih kecil dari 0,002 ppm
     8) Plumbum (Pb) lebih kecil dari 0,002 ppm
     9) Kandungan H2S toxio maksimum 1 ppm
   10) Temperatur air optimal 25o – 300C
   11) Kandungan oksigen dan Karbondioksida
      Termasuk salah satu jenis ikan yang tahan terhadap kekurangan oksigen karena mampu mengambil langsung oksigen dari udara bebas. Pada usaha intensif, kandungan oksigen yang baik minimum 5 – 6 mg/liter air, minimal 2 ppm. Sementara kandungan karbondioksida sebaiknya.
   12) Derajat keasaman (pH) untuk budidaya  adalah 5 – 9. Optimum 6,7 – 8,6.
   13) Senyawa Beracun
       Salah satu senyawa beracun didalam air yang berbahaya bagi kehidupan  adalah amoniak. Ada dua jenis amoniak, yakni amoniak bukan ion (NH3) dan NH4 (amonium). Gas yang berbau menyengat ini berasal dari proses metabolisme ikan dan proses pembusukkan bahan organik yang dilakukan oleh bakteri. Batas konsentrasi kandungan amoniak yang dapat menyebabkan kematian  adalah 0,1 – 0,3 mg/liter air.
   14) Kekeruhan
       Kekeruhan suatu perairan merupakan kebalikan dari kecerahan air. Penyebab kekeruhan adalah partikel – partikel lumpur, bahan organik, sampah atau plankton. Akibat kekeruhan, cahaya matahari yang masuk kedalam air akan terhambat. Kekeruhan yang baik disebabkan oleh plakton tersedia cukup banyak.

Tabel Kekruhan Air.
Kedalaman air (cm)
Kesimpulan
1 – 25
Air keruh disebabkan oleh plankton dan partikel tanah
25 – 50
Optimal (jumlah plankton cukup)
50
Jernih karena jumlah plankton sedikit
Sumber : Arie, 2000

Semoga Bermanfaat...

Thursday, January 9, 2014

Manfaat Sex Reversal Pada Ikan

Sex reversal merupakan cara pembalikan arah perkembangan kelamin ikan yang seharusnya berkelamin jantan diarahkan perkembangan gonadnya menjadi betina atau sebaliknya. Teknik ini dilakukan pada saat
belum terdiferensiasinya gonad ikan secara jelas antara jantang dan betina pada waktu menetas. Sex reversal merubah fenotif ikan tetapi tidak merubah genotifnya. Teknik sex reversal mulai dikenal pada tahun 1937 ketika estradiol 17 disintesis untuk pertama kalinya di Amerika Serikat. Pada mulanya teknik ini diterapkan pada ikan guppy (Poeciliareticulata).Kemudian dikembangkan oleh Yamamato di Jepang pada ikan medaka (Oryzias latipes). Ikan medaka betina yang diberi metiltestosteron akan berubah menjadi jantan. Setelah melalui berbagai penelitian teknik ini menyebar keberbagai negara lain dan diterapkan pada berbagai jenis ikan. Awalnya dinyakini bahwa saat yang baik untuk melakukan sex reversal adalah beberapa hari sebelum menetas (gonad belum didiferensiasikan).Teori ini pun berkembang karena adanya fakta yang menunjukkan bahwa sex reversal dapat diterapkan melalui embrio dan induk yang sedang bunting.

Manfaat
Penerapan sex reversal dapat menghasilkan populasi monosex (kelamin tunggal). Kegiatan budidaya secara monosex (monoculture) akan bermanfaat  dalam mempercepat pertumbuhan ikan. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan tingkat pertumbuhan antara ikan berjenis jantan dengan betina. Beberapa ikan yang berjenis jantan dapat tumbuh lebih cepat daripada jenis betina misalkan ikan nila dan ikan lele Amerika. Untuk mencegah pemijahan liar dapat dilakukan melalui teknik ini. Pemijahan liar yang tidak terkontrol dapat menyebabkan kolam  cepat penuh dengan berbagai ukuran ikan. Total biomass ikan tinggi namun kualitasnya rendah. Pemeliharaan ikan monoseks akan mencegah perkawinan dan pemijahan liar sehingga kolam tidak cepat dipenuhi ikan. Selain itu ikan yang dihasilkan akan berukuran besar dan seragam. Contoh ikan yang cepat berkembangbiak yaitu ikan nila dan mujair.Pada beberapa jenis ikan hias seperti cupang, guppy, kongo dan rainbow akan memiliki penampilan tubuh yang lebih baik pada jantan daripada ikan betina. Dengan demikian nilai jual ikan jantan lebih tinggi ketimbang ikan betina.

Sex reversal juga dapat dimanfaatkan untuk teknik pemurnian ras ikan. Telah lama diketahui ikan dapat dimurnikan dengan teknik ginogenesis yang produknya adalah semua betina. Menjelang diferensiasi gonad sebagian dari populasi betina tersebut diambil dan diberi hormon androgen berupa metiltestosteron sehingga menjadi ikan jantan. Selanjutnya ikan ini dikawinkan dengan saudaranya dan diulangi beberapa kali sampai diperoleh ikan dengan ras murni.

Perbedaan Dengan Hermaprodit
Pada kasus hermaprodit, hormon yang diberikan hanya akan mempercepat proses perubahan sedangkan pada sex reversal perubahannya benar-benar dipaksakan. Ikan yang seharusnyaberkembang menjadi betina dibelokkan perkembangannya menjadi jantan melalui prosespenjantanan (maskulinisasi). Sedangkan ikan yang seharusnya menjadi jantan dibelokkan menjadi betina melalui proses pembetinaan (feminisasi).

Metode Sex Reversal
Sex reversal dapat dilakukan melalui terapi hormon (cara langsung) dan melalui rekayasa kromosom (cara tidak langsung). Pada terapi langsung hormon androgen dan estrogen mempengaruhi fenotif tetapi tidak mempengaruhi genotif. Metode langsung dapat diterapkan pada semua jenis ikan apapun sek kromosomnya.  Cara langsung dapat meminimalkan jumlah kematian ikan. Kelemahan dari cara ini adalah hasilnya tidak bisa seragam dikarenakan perbandingan alamiah kelamin yang tidak selalu sama. Misalkan pada ikan hias, nisbah kelamin anakan tidak selalu 1:1 tetapi 50% jantan:50% betina pada pemijahan pertama, dan 30% jantan:50% betina pada pemijahan berikutnya.

Wednesday, January 8, 2014

Teknik Kultur Daphnia

Daphnia sp adalah jenis pakan alami yang sering digunakan untuk pemenuhan pakan ikan air tawar pada usia larva dan industri ikan hias (Delbare dan Dheart, 1996). Hewan ini termasuk pada subordo Cladocera, yaitu jenis krustacea yang berukuran kecil. Sebutan lain Daphnia sp oleh praktisi ikan hias adalah kutu air.
Daphnia sp

Jenis zooplankton ini biasa hidup di perairan tawar, ditemukan mulai dari perairan tropis hingga artik. Di perairan alam ditemukan ada 50 spesies, namun hanya enam spesies yang ditemukan di daerah tropis. Jenis ini dapat hidup mulai dari perkolaman ukuran kecil hingga danau air tawar yang berukuran luas. Reproduksi dilakukan secara parthenogenesis dan seksual. Pada usia lima hari, induk Daphnia sp akan mulai beranak, dengan jumlah 10 – 28 individu per induk.

ALAT DAN BAHAN
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam budidaya daphnia adalah sebagai berikut :
Alat
Bahan
Akuarium
Aerator
Selang Aerasi
Batu Aerasi
Kain Strimin
Mikrokop
Cawan petri
Alat penghitung
Pipet
Air bersih
Kotoran ayam


LANGKAH KERJA KULTUR DAPHNIA
Langkah kerja yang dilakukan dalam kultur daphnia adalah sebagai berikut :
  1. Masukkan air kedalam akuarium dengan volume 100 liter.
  2. Pada kelompok I media yang dilakukan untuk kultur daphnia adalah kotoran ayan dengan dosis 100 gr/100 liter.
  3. Timbang kotoran ayam, kemudia masukan kedalam kain trilin dan diikat agar tidak tercecer kemana – mana.
  4. Masukkan kotoran ayam yang telah dibungkus dengan kain trilin kedalam air yang ada diakuarium.
  5. Remas – remas kain trilin yang berisi kotoran ayam dengan tangan agar sari – sari kotoran ayam keluar.
  6. Setelah air media berwarna coklat, air media didiamkan selama 1 hari.
  7. Setelah didiamkan 1 hari kemudian masukkan bibit artemia kedalam air media. Bibit daphnia yang dimasukkan kedalam akuarium adalah 1000 ekor.

Panen dilakukan setelah berumur 7 hari dari penebaran bibit dengan daphnia yang dihasilkan berjumlah 5.824 ekor. Adapun cara penghitungan yang dilakukan dengan cara volumetric menggunakan  gelas minum plastic yang bervolume 240 ml caranya sebagai berikut :
Ambil air sampel yang berisi daphnia sebanyak 240 ml sebanyak 2 kali. Pada pengambilan pertama daphnia yang diperoleh sebanyak 13 ekor dan pada pengambilan kedua sebanyak 15 ekor sehingga rata – ratanya adalah 14 ekor. Volume air yang digunakan untuk mengkultur daphnia sebanyak 100 liter (100.000 ml), sehingga daphnia yang dipanen adalah 100.000 ml/240 ml = 416 gelas. 416 gelas x 14 ekor = 5824 ekor. Jadi daphnia yang dipanen totalnya mencapai 5824 ekor.

Semoga Bermanfaat...

Sumber : Hartati, Sri. 1986. Kultur Makanan Alami. Direktorat Jendral Perikanan dan Internasional Development Research Centre. Jakarta.

Monday, January 6, 2014

Makanan Alami Benih Ikan

Pakan alami merupakan pakan hidup bagi larva ikan yang mencakup fitoplankton, zooplankton, dan benthos.
Jenis – jenis makanan alami yang dimakan oleh ikan sangat bermacam – macam, tergantung pada jenis ikan dan tingkat umurnya. Burayak ikan yang baru saja belajar mencari makan, pertama – tama yang mereka makan adalah plankton. Bahkan ada juga beberapa ikan yang tetap setia sebagai pemakan plankton sepanjang hidupnya.

Pada umumnya burayak ikan itu mula – mula makan plankton nabati (fitoplankton). Kemudian semakin besar ikannya, makanannya pun mulai berubah pula. Mula – mula mereka beralih dari fitoplankton ke zoopalankton (plankton hewani), seperti antara lain protozoa (hewan bersel satu), mikrokrustasea (udang – udangan renik), invertebrate mikroskopik (hewan – hewan tak bertulang belakang yang kecil - kecil), dan telur berbagai jenis hewan lainnya termasuk telur ikan.

Beberapa jenis fitoplankton yang sudah banyak dibudidayakan antara lain adalah :
  • Diatomae, yaitu Chaetoceros calcitrans, Skeletonema costatum, Phaeodactylum trocornotum, Nitzschia closterium, Cyclotella mana dan Navicula sp.

  • Chlorophyceae, yaitu Chlorella sp.,Monas sp., Chlamydomonas sp., Platymonas sp (Tetraselmis)tetratele, Isochrysis sp., Monochrysis sp.,  dan Dunaliella terteolecta.

Sedangkan beberapa zooplankton yang sudah banyak dibudidayakan antara lain adalah :
  • Rotifer, terutama Brachionus sp.
  • Cladocera, terutama Moina sp., dan Daphnia sp.
  • Branchiopoda, terutama Artemia sp.
  • Berbagai macam plankton lainnya, seperti infusoria (Paramecium), jentik – jentik nyamuk, anak tiram, anak tritip (Ballanus sp), anak bintang laut (Arabica sp.) dan lain – lain.

KEUNGGULAN MAKANAN ALAMI
Pakan alami untuk larva/benih ikan mempunyai beberapa kelebihan karena ukurannya relative kecil dan sesuai dengan bukaan mulutnya, nilai nutrisinya tinggi, mudah dibudidayakan, gerakannya dapat merangsang ikan untuk memangsanya, dapat berkembangbiak dengan cepat sehingga ketersediaanya dapat terjamin, dan biaya pembudidayaannya relative murah.

Jika dalam awal hidupnya ikan dapat menemukan pakan yang mempunyai ukuran sesuai dengan bukaan mulutnya maka ikan tersebut diperkirakan dapat meneruskan hidupnya. Namun, jika dalam waktu singkat ikan tidak dapat menemukan pakan yang sesuai dengan bukaan mulutnya maka ikan itu akan menjadi lemah dan selanjutnya mati. Hal inilah yang menyebabkan kematian ikan pada tingkat larva cukup tinggi.

Selain kelebihan tersebut, pakan alami juga tidak mencemari media pemeliharaan sehingga diharapkan dapat menekan angka mortalitas benih akibat kondisi air yang kurang baik.
Berikut ini adalah kandungan gizi beberapa jenis pakan alami :

KELEMAHAN MAKANAN ALAMI
Bibit yang ditebar biasanya berasal dari alam sehingga sangat berisiko tinggi. Di kota – kota besar seperti Jakarta, sering ditemui pemburu kutu air di saluran – saluran air yang kemungkinan telah tercemar logam berat. Padahal setiap organism pakan alami sangat responsive dalam menyerap unsure hara/logam dari media hidupnya sehingga pakan alami yang diperoleh kemungkinan besar juga ikut tercemari.

Karena pakan alami merupakan pakan hidup maka dalam membudidayakannya harus mengetahuimorfologi, habitat, daur hidup, cara perkembangbiakannya, kebiasaan makan, serta jenis pakannya.

Semoga Bermanfaat...

Friday, January 3, 2014

PENGERTIAN DAN TATA CARA PELAKSANAAN SEMINAR

Seminar merupakan suatu pertemuan atau persidangan untuk membahas suatu masalah di bawah pimpinan ketua sidang (guru besar atau seseorang ahli). Pertemuan atau persidangan dalam seminar biasanya menampilkan satu atau beberapa pembicaraan dengan makalah atau kertas kerja masing-masing. Seminar biasanya diadakan untuk membahas suatu masalah secara ilmiah. Yang berpartisipasi pun orang yang ahli dalam bidangnya. Seminar tentang pemasaran suatu produk, tentu dihadiri oleh para pakar bidang pemasaran. Seminar pendidikan tentu saja dihadiri oleh para ahli pendidikan.  Sementara itu, peserta berperan untuk menyampaikan pertanyaan, ulasan, dan pembahasan sehingga menghasilkan pemahaman tentang suatu masalah. 

Tidak berarti bahwa kelas tidak bisa menyelenggarakan seminar. Di kelas bisa pula diselenggarakan seminar. Yang penting bahwa kita mencoba membahas suatu masalah dengan argumen-argumen yang logis, tidak emosional. Para pembicaranya pun menggunakan gagasan, pendapat, tanggapan, pembahasan secara ilmiah pula. Lalu ada seotang pemrasaan yang menyajikan makalah.

Dalam melaksanakan sebuah seminar maka harus diperhatikan beberapa hal agar pelaksanaan seminar dapat berjalan dengan baik. Dalam seminar semua perangkat seperti moderator, penyaji dan notulis harus dapat bekerja sesuai dengan fungsinya masing – masing. Untuk itu pada makalah ini akan dibahas mengenai tata cara seminar yang baik.

PENGERTIAN SEMINAR
Seminar pada umumnya merupakan sebuah bentuk pengajaran akademis, baik di sebuah universitas maupun diberikan oleh suatu organisasi komersial atau profesional. Kata seminar berasal dari kata Latin seminarum, yang berarti "tanah tempat menanam benih".

Sebuah seminar biasanya memiliki fokus pada suatu topik yang khusus, di mana mereka yang hadir dapat berpartisipasi secara aktif. Seminar seringkali dilaksanakan melalui sebuah dialog dengan seorang moderator seminar, atau melalui sebuah presentasi hasil penelitian dalam bentuk yang lebih formal. Biasanya, para peserta bukanlah seorang pemula dalam topik yang didiskusikan (di universitas, kelas-kelas seminar biasanya disediakan untuk mahasiswa yang telah mencapai tingkatan atas). Sistem seminar memiliki gagasan untuk lebih mendekatkan mahasiswa kepada topik yang dibicarakan. Di beberapa seminar dilakukan juga pertanyaan dan debat. Seminar memiliki sifat lebih informal dibandingkan sistem kuliah di kelas dalam sebuah pengajaran akademis.

Perlu dicatat bahwa di beberapa universitas Eropa, sebuah seminar dapat berarti kelas kuliah yang besar, khususnya ketika dibawakan oleh ahli yang termasyhur (tanpa memperhatikan jumlah hadirin atau jangkauan mahasiswa yang berpartisipasi dalam diskusi). (Wikipedia, 03/09/2009).

Selain pengertiandiatas ada pengertian lain tentang seminar yaitu menurut Maidar G Arsyad yang mengatakan bahwa seminar adalah suatu pertemuan yang bersifat ilmiah untuk membahas suatu masalah tertentu dengan prasarana serta tanggapan melalui suatu diskusi untuk mendapatkan suatu keputusan bersama mengenai masalah yang diperbincangkan.

PENTINGNTA MELAKUKAN SEMINAR
Seminar dilaksanakan bertujuan agar mahasiswa/taruna terbiasa mengemukakan pendapat dan menyelesaikan masalah akademik secara ilmiah, dan menguasai tekhnik penyelenggaraan seminar sebagai suatu bentuk pertemuan ilmiah.
Selain itu juga seminar dimaksudkan agar mahasiswa/taruna mampu menyampaikan pendapat buah pikiran dalam seminar sebagai forum komunikasi akademik.

PERANGKAT SEMINAR
Dalam sebuah seminar harus ada pembagian tugas kerja. Pembagian tugas ini dimaksudkan agar pelaksanaan seminar dapat berjalan dengan baik. Adapun perangkat – perangkat seminar meliputi :
  1. Moderator, merupakan yang memimpin jalannya seminar. Moderator mempunyai tugas mengatur jalannya seminar dari awal sampai akhir begitu juga pada saat jalannya diskusi.
  2. Penyaji/Pemrasaran, adalah orang yang bertugas menyampaikan materi yang akan disampaikan pada seminar. Penyaji juga bertugas menjawab pertanyaan – pertanyaa yang diajukan oleh para peserta.
  3. Notulis/Sekretaris, bertugas mencatat hasil yg dicapai, mencatat proses dan prosedur diskusi, membantu pimpinan menyimpulkan dan merumuskan hasil seminar.
MENYELENGGARAKAN SEMINAR
Dalam menyelenggarakan seminar kelas, susunlah terlebih dahulu organisasi peleksanaannya. Seorang yang lain ditugasi sebagai pembahas khusus dari makalah yang disajikan. Seorang ditugasi sebagai moderator. Guru sebagai narasumber dan satu atau dua orang bertugas sebagai notulis yang bertugas menyusun laporan. Seminar bukan diadakan untuk menetapkan suatu keputusan terhadap masalah yang dibicarakan. Seminar hanya membahas cara pemecahan masalah. Karena inti dari sebuah seminar merupakan sebuah diskusi, laporan seminar pun merupakan laporan hasil diskusi. Oleh karena itu, laporan seminar hendaknya berisi hal-hal yang penting saja. Susunan acara seminar dapat dibuat seperti berikut.
a. Pembukaan oleh moderator.
b. Penyajian materi oleh penyaji.
c. Diskusi.
d. Penyimpulan.
e. Penutup.

MENGAJUKAN PERTANYAAN DALAM DISKUSI
Diskusi merupakan suatu pembicaraan untuk memecahkan suatu masalah yang dilakukan secara bersama-sama, atas dasar pertimbangan intelektual. Asas yang mendasari kegiatan diskusi adalah asas berpikir dan bersama. Dengan berpegang pada dua asas tersebut, diharapkan agar rumusan simpulan yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan karena sudah dikaji berdasarkan pemikiran banyak orang. Dengan demikian, keterlibatan seluruh peserta secara aktif dalam kegiatan diskusi merupakan tuntutan utama. Untuk dapat bertindak menjadi peserta yang baik dalam sebuah diskusi, kita harus tahu betul masalah yang didiskusikannya. Peserta diskusi harus dapat pula menangkap uraian yang dikemukakan pembicara agar dapat menanggapinya dengan baik. Salah satu bentuk tanggapan terhadap pembicara dalam diskusi di antaranya mengajukan pertanyaan.  Dalam hal itu, kita harus memperhatikan hal-hal berikut:

  1. Pertanyaan diajukan dengan jelas dan mengenai sasaran, jangan berbelit-belit;
  2. Pertanyaan diajukan dengan sopan, hindarkan agar pertanyaan tidak dikemukakan dalam bentuk perintah atau permintaan; dan
  3. Usahakan supaya pertanyaan tidak ditafsirkan sebagai bantahan atau debat.

MEMBERIKAN KRITIKAN DAN DUKUNGAN DALAM DISKUSI
Memberikan tanggapan terhadap suatu pendapat berarti memberikan persetujuan atau ketidaksetujuan kita terhadap pendapat itu. Dalam menyatakan persetujuan atau pendapat pembicara, kita harus memperkuatnya dengan menambahkan bukti atau keterangan. Dalam menyampaikan persetujuan, usaha agar komentar yang diberikan tidak berlebihan, berikan pula alasan yang masuk akal kemudian kemukakan pendapat sendiri dengan alasan yang meyakinkan.
Dalam memberikan kritikan dan sanggahan, tentunya terdapat tata krama yang harus ditaati agar diskusi itu berjalan dengan baik.

MENYAMPAIKAN GAGASAN DALAM DISKUSI
Diskusi adalah pertukaran pikiran,  gagasan, atau pendapat antara dua orang atau lebih secara lisan untuk mencari kesatuan pikiran. Gagasan adalah pemikiran mengenai sesuatu sebagai pokok atau tumpuan untuk pemikiran selanjutnya. Menyampaikan gagasan berarti menyampaikan pemikiran atau ide kepada orang lain. Gagasan dapat diperoleh dari hasil pengamatan lapangan, penelitian, dan hasil kajian. Gagasan yang disampaikan seorang dapat memancing tanggapan dan pertanyaan.

Diskusi merupakan suatu pembicaraan untuk memecahkan suatu masalah yang dilakukan secara bersama-sama, atas dasar pertimbangan intelektual. Asas yang mendasari kegiatan diskusi adalah asas berpikir dan bersama. Dengan berpegang pada dua asas tersebut, diharapkan agar rumusan simpulan yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan karena sudah dikaji berdasarkan pemikiran banyak orang. Dengan demikian, keterlibatan seluruh peserta secara aktif dalam kegiatan diskusi merupakan tuntutan utama. Sebaiknya sebelum mengadakan diskusi, kita harus menetapakan gagasan atau topik diskusi. Gagasan merupakan pedoman yang menjadi fokus pembicaraan dalam dikusi.

MENGEMUKAKAN GAGASAN SECARA JELAS DAN MUDAH DIIKUTI
Untuk mengemukakan gagasan secara jelas maka kita perlu memiliki efektivitas berfikir, kita harus mempergunakan inti atau fokus kalimat yang sama. Jika kita ingin menggabungkan dua atau lebih kalimat atau klausa menjadi satu kalimat majemuk setara atau satu kalimat majemuk bertingkat maka kita harus memperhatikan fokus dalam penggabungkan tersebut, lebih-lebih pada kalimat majemuk bertingkat. Fokus dalam kalimat majemuk bertingkat harus terdapat dalam induk kalimat. Jadi, penulis harus memperhatikan mana dari dua kalimat yang hendak digabungkan itu menjadi fokus.

TATA KRAMA PENYAJI DAN PESERTA
Adapun tata krama dalam seminar ataupun diskusi panel diantaranya adalah,
Tata krama penyaji atau pemrasaran yaitu:

  • Menyiapkan makalah yang sesuai dengan topik dan landasan pemikiran yang akurat;
  • Menyampaikan makalah secara berurutan, singkat, dan jelas;
  • Menerima kritik dan saran dari berbagai pihak;
  • Menjawab pertanyaan dengan objektif.

Tata krama peserta yaitu

  • Mempelajari makalah;
  • Bersikap sopan;
  • Menjaga kelancaran rapat/ diskusi;
  • Tidak berbicara pada waktu seminar/ diskusi;
  • Apabila materi yang disampaikan belum selesai hendaknya jangan ada yang bertanya, bila ingin bertanya ada waktunya yaitu sesi pertanyaan;
  • Apabila peserta ingin bertanya sebaiknya peserta sebelum berbicara mengangkat tangan atau mengacungkan jari. Bila pemandu sudah mempersilahkan barulah berbicara;
  • Menyampaikan pertanyaan dengan singkat dan jelas.
Semoga Bermanfaat...

Sumber :
http://www.wikipedia.com. 
http://treeyoo.wordpress.com.