Friday, April 25, 2014

Pesut Mahakam : Si Lucu Yang Hampir Punah (Part 2)

Habitat Pesut (Orcaella brevirostris)
Era 1960-an, Pesut Mahakam mudah terlihat, biasanya ia menampakan diri pada pagi hari atau menjelang magrib. Warga Samarinda yang akan mengambil air wudhu sebelum menunaikan sholat Magrib di Masjid Tua (kini disebut Masjid Raya Darussalam) yang berada di Tepian Mahakam (kini Jalan Gajah Mada) sering melihat tiga atau lima ekor Pesut Mahakam bercanda ria sambil menyemburkan air dari puggungnya di tengah sungai. Satwa langka itu secara umum berenang dalam formasi ganjil, tiga atau lima ekor. Kala itu, air Sungai Mahakam sangat jernih karena tidak ada pencemaran serta pembabatan hutan di kawasan pedalaman.
Pesut Mahakan
Namun pada saat sekarang habitat ikan pesut yaitu sungai Mahakam telah ramai oleh lalu lintas masyarakat. Makin ramainya masyarakat ini menyebabkan ikan pesut menjadi takut dan memilih untuk menjauh ke pedalaman sungai yang lebih tenang. Begitu juga dengan kondisi perairan yang semakin tercemar akibat penebangan liar dan penambangan batu bara mengakibatkan ikan pesut tidak mampu untuk bertahan.
Daerah sebarannya yang semula mencapai 600 kilometer persegi pada tahun 1975 menjadi kurang dari 100 kilometer persegi pada tahun 2000. Hal ini akibat tingkat kematian yang relatif tinggi karena terkena kipas kapal motor maupun kena jaring saat mencari makan.
Lalu lintas kapal di sungai Mahakam yang sibuk

Populasi Pesut (Orcaella brevirostris)
Danielle Krab, mahasiswa program doktor bidang konservasi satwa langka dari Universitas Amsterdam dan Yayasan Konservasi RASI (Rare Aquatic Species of Indonesia) pimpinan Budiono yang melakukan pemantauan terakhir kehidupan pesut Mahakam sejak tahun 1999-2000, hanya menemukan dari 50 ekor pesut. 

Penurunan populasi satwa ini juga terungkap dalam hasil penelitian Ade M Rachmat untuk tesis S-2 Studi Ilmu Kehutanan Universitas Mulawarman berjudul Pengamatan Perilaku dan Penyebaran Pesut serta Identifikasi Habitatnya di Daerah Aliran Sungai (DAS) Mahakam, Kalimantan Timur 2000. Penelitian yang dilakukan tahun 1999 ini hanya menemukan 41 pesut dengan kisaran populasi sekitar 30-50 ekor, termasuk di antaranya tiga anak pesut.
Pesut Mahakam yang lucu
Penurunan populasi saat ini dinilai sangat tajam. Menurut Ade Rachmat, populasi pesut tahun 1975 mencapai seribu ekor, tahun 1980 sekitar 800 ekor, tahun 1985 diperkirakan 600 ekor. Pada tahun 1990 tinggal 400 ekor, tahun 1995 kurang dari 150 ekor, dan tahun 2000 kurang dari 50 ekor. 

Selama tahun 1997-1999 ada sekitar 15 ekor pesut yang mati atau sekitar enam ekor tiap tahun. Sekitar 60 persen kematiannya akibat terkena jaring ikan. Dari 41 pesut yang ditemukan, 36 ekor berusia dewasa dan 27 ekor di antaranya betina, dan lima anak pesut. Dari perhitungan siklus melahirkan satu kali dalam empat tahun, maka tiap tahun hanya ada sekitar tiga pesut yang melahirkan.
Pesut Mahakam yang mati
Dilihat perbandingan kematian dan kelahiran pesut tiap tahun, maka tiap tahun berkurang dua ekor pesut. Ini berarti juga, tahun 2025 pesut Sungai Mahakam akan punah. Apalagi, jika pemerintah setempat tidak serius melakukan upaya pelestarian satwa langka ini mulai sekarang.

Penurunan populasi pesut secara drastis juga disebabkan tingkat kematian pesut lebih tinggi dibandingkan tingkat kelahiran. Krab mencatat sejak tahun 1997-2000 ada 18 ekor pesut mati atau rata-rata enam ekor pesut mati setiap tahun. Sedang pada tahun yang sama terjadi kelahiran dua-tiga ekor pesut per tahun. Keadaan kritis ini juga menjadi keprihatinan para penyayang lumba-lumba yang tergabung dalam International of Willing Commision.

Yang menjadi keprihatinan, ada upaya pihak tertentu memburu pesut. Padahal, hasil investigasi Danielle Krab menunjukkan, sekitar 22 ekor pesut yang diambil pihak Taman Impian Jaya Ancol diduga semuanya mati. "Kami juga mendapat keterangan dari penduduk ada kapal asing yang dikawal oknum tentara menangkap pesut secara ilegal," tuturnya.

Penyebab Menurunnya Populasi Ikan Pesut (Orcaella brevirostris)
Perubahan kualitas air sungai akibat tingginya tingkat pencemaran sungai akibat industri perkayuan dan batu bara di sepanjang Sungai Mahakam (Kalimantan Timur) menjadi ancaman serius yang tidak bisa menyelamatkan Pesut Mahakam. Kian sibuknya lalu-lintas sungai dengan hilir-mudiknya baik kapal-kapal besar maupun perahu kecil bermotor jadi ancaman serius lainnya. 

Kehidupan manusia yang bertambah ramai memanfaatkan sungai sebagai urat nadi transportasi telah "merampas" habitat Pesut Mahakam. Pesut Mahakam pun kian terkucil pada habitatnya akibat kalah bersaing dengan mesin-mesin kapal yang menebarkan suara bising serta mencemari sungai dengan limbah-limbah minyak beracun.Belum cukup dengan "penderitaan" itu, Pesut Mahakam juga kini harus berlomba dengan manusia dalam mendapatkan makanan. 

Puluhan tahun kemudian, Sungai Mahakam pada kawasan Samarinda telah menjadi kanal raksasa buangan limbah dari puluhan perusahaan kayu, industri lem, serta perusahaan batu bara di sepanjang Tepian Mahakam sehingga air yang tadinya jernih berubah menjadi coklat kehitaman. Sungai Mahakam yang tadinya hening menjadi sangat bising dengan kehadiran mesin-mesin yang menggunakan pembakar bensin dan solar serta mencemari air dengan pelumas oli. Satwa yang pemalu itu akhirnya kian ke kawasan pedalaman Mahakam kini masuk wilayah Kutai Kartanegara untuk mencari kehidupan lebih tenang.

Nelayan tradisional yang dulunya hanya mengandalkan mata kail atau jaring, kini menjadi "predator buas" dalam memburu ikan dengan menggunakan cara-cara tidak ramah lingkungan, mulai dari menebarkan racun tuba sampai menggunakan listrik untuk menangkap ikan dengan mudah dan ekonomis. Hal lain, kematian itu terjadi juga akibat kegiatan penangkapan pesut untuk diangkut ke luar daerah habitatnya. Pesut ini sangat mudah stres. Tidak heran jika ditemukan kematian ketika ditangkap atau setelah ditangkap dan berada di luar habitatnya. Ironisnya, warga setempat tidak berani menangkap karena memiliki mitos bahwa pesut berasal dari manusia. Justru orang luar berkali-kali menangkap dan akhirnya diduga banyak yang mati. Kematian yang umum terjadi diakibatkan pada badan terdapat luka-luka yang telah terinveksi akibat terkena baling-baling kapal atau perahu, terkena ringgi atau jaring ikan milik nelayan.

Pesut Mahakam kini dianggap sebagai satwa yang paling terancam punah. International Union for Conservation of Nature (IUCN, 2002) telah memberikan status "Critically Endangared" (kritis terancam punah) pada jenis ini, sementara CITES telah menempatkannya pada "Appendix 1" yang berarti jenis ini tidak diperkenankan untuk diperdagangkan. Kenyataannya, Pesut Mahakam tetap dibisniskan, yakni terus diburu di Sungai Mahakam untuk memenuhi permintaan Pengelola Taman Hiburan Ancol, sehingga lebih gampang melihat Pesut Mahakam di Jakarta ketimbang di habitat aslinya baik di Sungai Mahakam, Sungai Malinau maupun Pesisir Balikpapan.

Agaknya, perlu tindakan nyata pemerintah dalam menyelamatkan Pesut Mahakam saat legenda bukan lagi mantera sakti. Termasuk, mengalihkan dana-dana untuk membangun monumen dan patung megah Pesut Mahakam sebagai program penyelamatan melalui konservasi habitat satwa langka yang kondisinya kini seperti "meregang maut.

Lanjut ke Final part, kembali ke Part 1

Sumber : diolah dari berbagai sumber

Semoga Bermafaat...

1 komentar: