Kegiatan Penyuluhan

Kegiatan Penyuluhan Perikanan Bertujuan Meningkatkan Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan Pelaku Utama dan Pelaku Usaha Perikanan.

Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP)

P2MKP Memberdayakan Pelaku Utama Perikanan dan Masyarakat.

Pelatihan Kelautan dan Perikanan

Meningkatkan keterampilan para pelaku utama kelautan dan perikananm.

AUTO MATIC FEEDER

Solusi Memberi Makan Ikan Menjadi Mudah Dan Tepat.

Friday, April 29, 2016

Pembesaran Udang Galah Di Tanaman Padi (UGADI)

Budidaya udang galah bersama padi merupakan pemeliharaan ikan di sawah yang dilakukan bersama dengan tanaman padi. Lama pemeliharaan adalah sejak benih padi ditanam sampai penyiangan I, penyiangan II atau sampai tanaman padi mulai berbunga, kira-kira umur tanaman padi 50 hari. Sistem budidaya minapadi ini sering disebut sebagai sistem tumpangsari.

PERSIAPAN LAHAN
  • Sawah dipersiapkan sesuai dengan kebutuhan penanaman padi dan pemeliharaan udang galah
  • Tanah diolah atau dibajak sampai lumpur mencapai 15 – 30 cm, dengan perbandingan lumpur dan air 1 : 1
  • Pembuatan parit/caren untuk udang galah berukuran lebar 1 m dengan kedalaman 60 – 75 cm.
    Konstruksi Mina Padi
  • Penanaman padi
    Lahan Budidaya Udang Galah di Tanaman Padi

PEMUPUKAN PADI
Pada pemupukan dasar, pupuk ditaburkan secara merata pada keadaan sawah masih melumpur. Urea dan SP-36 tidak dianjurkan untuk dicampurkan pada saat penaburan. Pada pemupukan susulan, air dalam petakan diusahakan dalam keadaan macak-macak sebelum penebaran (udang galah berada pada kemalir atau diungsikan terlebih dahulu). Pupuk ditaburkan diantara barisn tanaman atau ditebar secara merata. Benamkan pupuk dengan landak sambil menyiang atau diinjak-injak khusus agar bisa terbenam pada kedalaman lebih dari 3 cm.
Pemupukan Padi
PENEBARAN UDANG GALAH
Padat penebaran dan ukuran benih ikan disesuaikan dengan tujuan penanaman penanaman. Udang galah yang ditebar berukuran 5 – 8 gram/ekor sebanyak 2 ekor/m2. Jadwal tanam udang galah pada budidaya minapadi sesuai dengan ukuran udang galah dan lama pemeliharaan.
Penebaran Benur Udang Galah
PEMELIHARAAN
  • Apabila pertumbuhan padi tidak normal (anakan kurang) turunkan permukaan air sampai 5 cm selama 2 – 4 hari guna memberi kesempatan padi untuk bertunas.
  • Untuk pakan udang galah diberikan pekan berupa pellet (protein 30 %) sebnayak 1 % dari berat badan udang/hari  dengan frekuensi 3 kali sehari.
  • Selama masa pemeliharaan kedalaman air di pelataran 10 – 15 cm dan parit 30 – 40 cm.
  • Pemasukan dan pengeluaran air dilakukan berdasarkan grafitasi.
  • Lemanya pemeliharaan udang galah tergantung pada ukuran benih dan besarnya udang galah yang hendak dipanen.
    Pemberian Pakan Udang Galah
PEMANENAN UDANG GALAH
  • Pemanenan udang galah sebaiknya dilakukan pada pagi hari atau sore hari pada saat suhu udara rendah.
  • Pengeringan petakan pada waktu panen harus dilakukan perlahan – lahan agar udang galah dapat mencapai parit.
  • Keluarkan air pada bagian kemalir agar ikan berkumpul pada kemalir tersebut samai ketinggian air mencapai 3 – 5 cm.
  • Air yang terkumpul ditangkap dan ditampung dalam hapa yang ditempatkan pada air mengalir. Setelah petakan kering, air dapat dialiran kembali agar udang galah yang masih tersisa dalam petakan dapat terselamatkan
  • Setelah masa pemeliharaan selama 90 hari dihasilkan udang ukuran konsumsi (25 – 35 g/ekor) sebanyak 15.000 – 16.000 ekor setara dengan 450 kg.
    Salah Satu Kegiatan Panen Udang Galah
PENGENDALIAN HAMA PADI DAN UDANG GALAH
Untuk mengantisipasi serangan hama padi pada daerah-daerah endemik, dapat digunakan pestisida alami seperti saponim (terdapat dalam biji teh), retenone (terdapat dalam akar tumbuhan) dan nikotine (terdapat dalam daun tembakau) yang diberikan bersamaan dengan pemupukan dasar. Jenis pestisida seperti Boss 250 EC, Dyvon 95 SP dan Fish free juga dapat digunakan pada budidaya minapadi.

Penyemprotan dilakukan 1- 2 hari seblum penbaran baenih pada pagi atau sore hari dan air dallam petakan sawah setinggi 30 – 40 cm, penyemprotan ulang dilakuakan seminggu sekali selama masa pemeliharaan.

Hama udang galah terdiri dari ulat, belut, ikan gabus, ikan biawak (sero), burumg kuntul, dan kuang-kuang. Untuk mengendalikan hama ulat digunakan bubu perangkap.

Sumber : Materi Budidaya Udang Galah, BPPP Tegal

Semoga Bermanfaat...

Wednesday, April 27, 2016

Alat - Alat Navigasi Elektronik (Modern)

Selain alat - alat navigasi konvensional, pada usaha penangkapan ikan saat ini juga banyak digunakan alat - alat navigasi elektronik untuk memudahkan pada usaha penanagkapan ikan.

Berikut alat - alat navigasi elektronik yang digunakan pada usaha penangkapan ikan :
  1. Radar (Radio detection and range) berfungsi untuk pendeteksi jarak dan haluan.
    Radar
  2. Radio Direction Finding (RDF) berfungsi untuk mengetahuai posisi pelampung tanda.
    Radio Direction Finding (RDF)
  3. Global Positioning System (GPS) berfungsi untuk mengetahui posisi, kecepatan trek pelayaran, haluan kapal.
    Global Positioning System
  4. Echo Sounder berfungsi untuk mengetahuai kedalaman perairan.
    Echo Sounder
  5. Fish Finder  berfungsi untuk mengetahuai ada tidaknya ikan diperairan.
    Fish Finder
  6. Sonar (Sound and range) berfungsi sama dengan fish finder tetapi jangkauanya lebih luas.
    Sonar
  7. Gyro Compas berfungsi untuk mengetahui posisi sejati kapal.
    Gyro Compass
  8. ARPA (Automatic Radar Plotting Aid) merupakan radar otomatis yang berfungsi untuk plot posisi kapal.
    Automatic Radar Plotting Aid
  9. GMDSS (Global Marine Distress Safety System) sebuah kesepakatan internasional berlandaskan beberapa prosedur keselamatan, jenis peralatan dan protokol komunikasi yang digunakan untuk meningkatkan keselamatan dan mempermudah pertolongan bagi kapal dan pesawat terbang yang mengalami bencana.
    Global Marine Distress Safety System
Sumber : Materi Navigasi, BPPP Tegal

Semoga Bermanfaat...

Monday, April 25, 2016

Alat - Alat Navigasi Biasa (Konvensional)

Dewasa ini lalulintas pelayaran dipenuhi oleh kapal tradisional dan modern yang dilengkapi dengan bermacam-macam sistem navigasi antara lain navigasi konvensional dan navigasi elektronik. Alat-alat dan pesawat navigasi adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan tentang navigasi yang harus dipelajari oleh setiap navigator diatas kapal. Oleh karena navigasi mengandung dalam keselamatan perjalanan suatu kapal, maka alat-alat navigasi harus dibuat lebih modern dan mendekati kesempurnaan sesuai dengan perkembangan, dan kemajuan teknologi.

Sehubungan dengan hal itu maka sebagai navigator harus mempelajari dengan baik alat-alat navigasi maupun cara pemakaian alat-alat tersebut sesuai dengan perkembangan teknologi. Alat-alat navigasi dan pesawat-pesawat yang harus ada dikapal-kapal Indonesia ditentukan oleh peraturan-peraturan kapal tahun 1935 (Schepen Ordenensi 1935 dan Schepen Verordening 1935),  ketentuan SOLAS 1974 dan Resolusi IMO (Internasional Marine Organisation)

Secara garis besar alat - alat navigasi dibagi menjadi 2 bagian yakni Alat - Alat Navigasi Biasa (Konvensional) dan Alat - Alat Navigasi Modern (Elektronik).

Berikut alat - alat navigasi biasa (Konvensional) :
  1. Alat-alat yang dipakai diruang peta untuk melukis garis-garis haluan, posisi kapal yang di ploting diatas peta laut yang digunakan.
    Alat - alat yang dugunakan untuk menentukan posisi kapal
  2. Alat-alat untuk menentukan arah dan mengukur sudut dalam bidang datar.
    Mawar pedoman
  3. Alat-alat untuk membaring/membidik benda-benda didarat (penjera celah).
    Penjera Celah
  4. Alat-alat untuk mengetahui kecepatan kapal (topdal).
    Topdal
  5. Alat-alat untuk mengetahui kedalaman air (perum tangan).
    Perum tangan
  6. Alat-alat untuk mengetahui tekanan udara (barometer)
    Barometer
  7. Alat untuk pengukur waktu (Chronometer).
    Chronometer
  8. Alat untuk mengukur kecepatan angin (anemometer).
    Anemometer
  9. Alat untuk mengetahui suhu udara (Thermometer).
    Thermometer
Sumber : Materi Navigasi, BPPP Tegal

Semoga Bermanfaat...

Friday, April 22, 2016

Manfaat Minyak Ikan

Meskipun baunya amis, manfaat minyak ikan bagi kesehatan manusia sangat besar. Selain vitamin A dan D, asam lemak tidak jenuh ganda yang dikandungnya meningkatkan kecerdasan dan sistem kekebalan tubuh anak balita. Bagi orang dewasa, mengonsumsi lemak ikan juga dapat menangkal kanker, diabetes melitus, hipertensi, dan penyakit jantung koroner.
Minyak Ikan

Dibandingkan lemak hewani lainnya, lemak ikan (lebih dikenal dengan istilah minyak ikan) sangat sedikit mengandung kolesterol. Hal ini sangat menguntungkan bagi kesehatan karena kolesterol yang berlebih dapat menimbulkan gangguan kesehatan.  Meningkatnya kesadaran masyarakat akan perlunya gizi yang baik untuk menunjang kesehatan telah mendorong meningkatnya konsumsi minyak ikan di dunia.

Hal ini didasari suatu kenyataan bahwa minyak ikan (khususnya ikan laut) mengandung banyak asam lemak tidak jenuh ganda (polyunsaturated fatty acids/PUFA). Asam lemak tak jenuh ganda tersebut sangat bermanfaat bagi proses kecerdasan, penglihatan, dan sistem kekebalan tubuh. Selain itu, bermanfaat juga dalam menanggulangi masalah aterosklerosis (penyumbatan pembuluh darah) dan penyakit jantung koroner.

Ikan Laut Lebih Baik
Berdasarkan tempat penimbunan minyaknya, ikan dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok. Pertama, kelompok ikan yang menyimpan minyak dalam hati (fish liver oil), seperti ikan kembung, cod, dan hiu. Kedua, kelompok ikan yang menyimpan minyaknya dalam daging (fish body oil), seperti ikan lemuru, paus, sidat, tongkol, makarel, dan ikan herring.

Berdasarkan kandungan minyaknya, ikan dapat dikelompokkan menjadi: (1) ikan berlemak sedikit (lean fish) dengan kandungan minyak kurang dari 2 persen, (2) ikan berlemak rendah (low fat) dengan kandungan minyak 24 persen, (3) ikan berlemak sedang (medium fat) dengan kandungan minyak 48 persen, (4) ikan berlemak tinggi (high fat) dengan kandungan minyak lebih dari 8 persen.
Kadar minyak dalam ikan sangat bervariasi, dipengaruhi oleh banyak faktor, yaitu: spesies (jenis) ikan, jenis kelamin, tingkat kematangan (umur), musim, siklus bertelur, dan lokasi geografis. Komposisi minyak ikan laut lebih kompleks, mengandung asam lemak tak jenuh berantai panjang, yang lebih banyak dibandingkan ikan air tawar.

Asam lemak tak jenuh berantai panjang pada minyak ikan laut umumnya mengandung 18, 20, dan 22 atom karbon, yang dihubungkan oleh 36 ikatan rangkap. Sementara komposisi asam lemak ikan air tawar umumnya mengandung 16 dan 18 atom karbon, yang dihubungkan oleh 13 ikatan rangkap. Makin panjang rantai karbon dan makin banyak jumlah ikatan rangkap penyusun asam lemak, maka makin besar peranan asam lemak tersebut bagi kesehatan.

Lemak ikan terdiri dari unit-unit kecil yang disebut asam lemak. Asam lemak pada minyak ikan terdiri dari tiga tipe, yaitu: (1) asam lemak jenuh (tidak mempunyai ikatan rangkap), contohnya asam palmitat, asam miristat, dan asam stearat, (2) asam lemak tak jenuh tunggal (mempunyai satu ikatan rangkap), contohnya oleat, dan (3) asam lemak tak jenuh ganda (mempunyai lebih dari satu ikatan rangkap), contohnya linoleat, linolenat, arakidonat (AA), eikosapentaenoat (EPA), dan dokosaheksaenoat (DHA). DHA banyak terdapat pada ikan laut jenis salmon, tuna (terutama tuna sirip biru yang memiliki DHA lima kali lebih banyak), sarden, herring, makarel, serta kerang-kerangan. Umumnya minyak ikan mengandung sekitar 25 persen asam lemak jenuh dan 75 persen asam lemak tak jenuh. 

Risiko Kematian Berkurang
Penelitian epidemiologi menunjukkan ada hubungan terbalik antara konsumsi ikan dan terjadinya penyakit jantung koroner. Pada kelompok yang mengonsumsi ikan sekurang-kurangnya 30 gram sehari, risiko kematian karena penyakit jantung koroner menjadi berkurang 50 persen dibandingkan kelompok yang tidak mengonsumsi ikan. Zat aktif yang berperan penting dalam hubungan tersebut adalah asam lemak Omega-3. 

Minyak ikan berbeda dengan minyak nabati dan hewan darat. Minyak ikan umumnya mempunyai komposisi asam lemak dengan rantai karbon yang panjang dan ikatan rangkap yang banyak (polyunsaturated fatty acids/PUFA). Asam lemak pada minyak ikan mempunyai konfigurasi Omega-3, sedangkan pada tumbuhan dan hewan darat sangat sedikit kandungan asam lemak Omega-3-nya. Minyak tumbuhan lebih banyak mengandung asam lemak berkonfigurasi Omega-6 daripada Omega-3. 

Asam lemak Omega-3 yang dominan pada ikan adalah asam linolenat yang tersusun dari 18 atom karbon dan 3 ikatan rangkap, asam eikosapentaenoat (eicosapentaenoic acid/EPA) yang tersusun dari 20 atom karbon dan 5 ikatan rangkap, serta asam dokosaheksaenoat (docosahexaenoic acid/DHA) yang tersusun dari 22 atom karbon dan 6 ikatan rangkap.

Asam lemak Omega-3 banyak dijumpai pada ikan laut, seperti lemuru, herring, makarel, salmon, tuna, dan anchovy. Minyak ikan lemuru kaya akan EPA yang jumlahnya dapat mencapai 7,1 g/100 g, sedangkan minyak ikan tuna kaya akan DHA dengan jumlah 8,2 g/100 g. 

Ikan dalam kaleng bukan merupakan sumber Omega-3 yang baik, karena dalam prosesnya, minyak ikan tersebut sengaja dibuang dan diganti dengan minyak kelapa, saus tomat, atau air garam sebagai media perendam. Penghilangan minyak sengaja dilakukan agar ikan kaleng tidak mudah tengik akibat teroksidasinya asam lemak tidak jenuh dari ikan. 

Asam lemak Omega-3 telah terbukti sangat besar manfaatnya bagi kesehatan, yaitu: (1) bersifat hipokolesterolemik (menurunkan kadar kolesterol darah), (2) mencegah terjadi penggumpalan keping-keping darah sehingga menghindari penyumbatan pembuluh darah (aterosklerosis) dan mencegah penyakit jantung koroner, (3) mengurangi risiko penyakit diabetes melitus (kencing manis), hipertensi (tekanan darah tinggi), aneka kanker, penyakit kulit, serta membantu meningkatkan daya tahan tubuh, (4) berperan penting dalam proses tumbuh kembang otak janin. 

Tiga Masa Kritis
Dalam hubungannya dengan aktivitas Omega-3, terdapat tiga masa kritis dalam kehidupan manusia, yaitu pada saat kehamilan, menyusui, dan masa balita. Selama masa kehamilan, asam lemak Omega-3 ditransfer melalui plasenta menuju fetus. Selama masa menyusui, diet yang diperoleh ibu akan memengaruhi kandungan asam lemak Omega-3 dalam air susunya. Dengan demikian, makanan yang dikonsumsi ibu selama masa kehamilan dan menyusui harus mengandung asam lemak Omega-3 dalam jumlah cukup, terutama yang berasal dari konsumsi ikan maupun konsentrat minyak ikan.

Pada masa balita, Omega-3 akan berakumulasi di dalam otak dan retina mata. Perkembangan otak manusia terjadi sejak bayi masih di dalam kandungan, hingga dua tahun pertama setelah kelahiran. 
Melihat proses tumbuh kembang otak bersifat unik dan berlangsung dalam waktu relatif singkat, status gizi ibu yang buruk selama mengandung dan menyusui akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan terganggunya otak, baik dalam jumlah maupun kelengkapan sel-sel otak. Kondisi tersebut dapat memengaruhi daya ingat dan kecerdasan, yang dapat  berlangsung terus sampai dewasa. 

Mengingat demikian banyak keuntungan yang diperoleh dari minyak ikan, beberapa industri berlomba-lomba membuat konsentrat minyak ikan. Produk tersebut dalam bentuk campuran maupun murni, berupa kapsul EPA dan DHA. Konsentrat minyak ikan tersebut dilapisi dengan gelatin sebagai pelindungnya. 

Pada umumnya yang dijual di pasaran adalah konsentrat minyak ikan dalam bentuk kapsul gelatin ukuran 1 gram dengan vitamin E tambahan sebesar 1 IU per gram sebagai penstabil. Produk ini telah dikembangkan oleh banyak negara (terutama Jepang dan Korea) sebagai bahan obat dan/atau suplemen gizi. Khusus untuk anak balita, minyak ikan juga diperjualbelikan dalam bentuk sirup atau emulsi.  

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan British Nutrition Foundation menyarankan penambahan DHA pada susu formula bayi dengan dosis anjuran 20 miligram per kilogram berat bayi normal, atau 40 miligram per kilogram berat bayi prematur. Asupan DHA yang cukup akan membantu anak berkonsentrasi dan membuat anak-anak yang hiperaktif menjadi lebih tenang. 

Prof. Dr. Made Astawan 
Dosen di Departemen Teknologi Pangan dan Gizi – IPB

Sumber : www.kompas.com

Semoga Bermanfaat...

Tuesday, April 19, 2016

Ikan Umpan Pada Alat Tangkap Rawai Tuna

Dalam mengoperasikan pancing rawai tuna (Tuna Long Line), umpan merupakan komponen penting yang harus diadakan secara khusus karena keberhasilan usaha prenangkapan ditentukan oleh jenis, mutu (tingkat kesegaran), ukuran dan kondisi fisiknya. Oleh sebab itu perlu tersedia umpan segaryang bermutu baik (prima) dalam bentuk segar beku (frozen bait) atau ikan umpan yang masih hidup (life bait) dalam jumlah cukup.

Jenis - Jenis Ikan Umpan Pada Rawai Tuna
  1. Malalugis (Decapterus macarellus)

  2. Layang (Decapterus ruselli)

  3. Layang deles (Decapterus macrosoma)

  4. Banyar (Rastrelliger kanagurta)

  5. Kembung perempuan (Rastrelliger brachyosoma)

  6. Bandeng (Chanos chanos)

  7. Tongkol (Auxis thazard)

  8. Lemuru (Sardinella lemuru)

  9. Saury (Cololabris saira)

  10. Cumi - cumi ( Loligo sp)


Kebutuhan Umpan Beku Pada Rawai Tuna

  1. Kapal rawai mini (mini longline) dengan jumlah pancing 300 - 600 kail dibutuhkan 500 - 1000 kg per 15 hari operasi.
  2. Kapal rawai konvensional (convensional longline) dengan jumlah pancing 700 - 1500 kail dibutuhkan 1000 - 1500 kg per 15 hari operasi.
  3. Kapal rawai perairan dalam (deep longline) dengan jumlah pancing 1500 - 2000 kail dibutuhkan 1500 - 2000 kg per 15 hari operasi.
Bila menggunakan umpan hidup diperlukan 10.000 - 20.000 ekor umpan per 15 hari operasi.

Syarat Ikan Umpan
  1. Warna ikan masih seperti pada kondisi hidup atau baru saja mati. Bagian punggung berwarna gelap kebiru - biruan, bagian bawah berwarna putih kecokelatan.
  2. Bdan ikan masih utuh tidak cacat, sisik melekat kuat pada kulitnya.
  3. Umpan beku tidak berlendirsetelah dilelehkan.
  4. Ukuran pnjang cagak (fork length) 15 - 30 cm atau 5 - 15 ekor per kg tergantung dari jenisnya. Umpan beku biasa dikemas dalam ukuran 10 kg.
  5. Dapat tersedia dalam jumlah banyak. Satu kali operasi penangkapan dengan 200 pancing memerlukan 200 kg umpan. 15 hari operasi diperlukan 3 ton umpan per trip.
Spesifikasi Ikan Bandeng Sebagai Umpan Beku
  1. Ukuran ikan 20 - 30 cm atau 5 - 8 ekor per kg.
  2. Ikan segar tidak cacat.
  3. Warna putih keperakan, cemerlang, sisik tidak ada yang lepas.
Spesifikasi Ikan Bandeng Sebagai Umpan Hidup
  1. Ikan dalam kondisi hidup, tidak cacat dan gerakannya lincah.
  2. Panjang cagak 13 - 19 cm atau 10 - 15 ekor per kg.
  3. Warna putih keperakan, cemerlang, sisik tidak ada yang lepas.

Sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan

Semoga Bermanfaat...

Friday, April 15, 2016

Label Dalam Kemasan Makanan (Olahan Ikan)

Label adalah suatu tanda baik berupa tulisan, gambar atau bentuk pernyataan lain yang disertakan pada wadah atau pembungkus yang memuat informasi tentang produk yang ada didalamnya sebagai keterangan/ penjelasan dari produk yang dikemas. Setidaknya, jenis informasi yang bisa diketahui dari label kemasan produk pangan, yaitu :

1. Sertifikasi halal
Bagi bangsa Indonesia yang sebagian besar penduduknya muslim sertifikasi halal sangat penting. Oleh karena itu produk makanan dalam kemasan yang beredar di Indonesia sekarang harus mencantumkan label halal pada kemasannya. Kehalalan ini sebenarnya tidak terbatas pada bahannya saja, tetapi juga pemrosesannya. Dengan begitu kehalalan mencerminkan tingkat sanitasi dan higiene optimal produk yang dikemasnya. Dengan demikian produk menjadi lebih dipercaya sehingga menguntungkan pengusaha karena pasarnya menjadi terbuka lebar, tidak cuma terbatas pada konsumen muslim, tetapi untuk masyarakat umum secara luas.
Contoh logo halal pada kemasan
2. Nama produk
Adalah nama dari makanan atau produk pangan yang terdapat di dalam kemasan misalnya abon lele, amplang lele, keripik kulit lele, keripik sirip lele, dan lain sebagainya.
Contoh nama produk yang dijual
3. Merek dagang/ Cap
Suatu usaha sebaiknyamemilikimerek dagang atau cap.Merek dagang atau cap berbeda dengan nama produk dan bisa tidak berhubungan dengan produk yang ada di dalamnyamisalnya abon lele cap “Alang-Alang”, keripilk kulit lele Cap “Panda”, ikan asin cap “Wallet”, dsb.
Contoh merk produk yang dijual
4. Komposisi / daftar bahan yang digunakan
Komposisi atau daftar bahan merupakan keterangan yang menggambarkan tentang semua bahan yang digunakan dalam pembuatan produk makanan tersebut. Cara penulisan komposisi bahan penyusun dimulai dari bahan utama atau bahan yang paling banyak digunakan sampai bahan tambahan yang jumlah penggunaannya terkecil.

Contoh komposisi pada kemasan
5. Netto atau berat bersih
Netto atau berat bersih dan volume bersih menggambarkan  bobot atau volume produk yang sesungguhnya. Bobot produk yang dicantumkan dalam kemasan adalah bobot yang sesungguhnya tanpa bobot bahan pengemas.
Contoh pencantuman berat bersih (netto) pada kemasan
6. Nilai Gizi
Untuk label pangan tertentu wajib mencantumkan keterangan tentang kandungan gizi sebagai informasi nilai gizi. Masyarakat berhak untuk memperoleh informasi yang benar dan tidakmenyesatkanmengenai pangan yang akan dikonsumsinya, khususnya yang disampaikan melalui label dan iklan pangan (Anon, 2005). Informasi Nilai Gizi atau Nutrition Facts atau Label Gizi merupakan informasi yang menyebutkan  jumlah zat-zat gizi yang terkandung dalamsuatu produk makanan/minuman. Informasi gizi yang harus dicantumkan meliputi : energi, protein, lemak, karbohidrat,vitamin, mineral atau komponen lain. Untuk makanan tidak boleh mencantumkan pernyataan adanya nilai khusus, bila nilai khusus tersebut  tidak sepenuhnya berasal dari bahan makanan tersebut, tetapi karena dikombinasikan dengan produk lain. Pernyataan bermanfaat bagi kesehatan harus benar-benar didasarkan pada komposisi dan jumlahnya yang dikonsumsi per hari.
Pencantuman nilai gizi sangat penting untuk infomasi kepada konsumen
7. Nama pihak yang memproduksinya
Adalah nama perusahaan atau kelompok yang membuat atau mengolah produk makanan tersebut.
Contoh pencantuman nama perusahaan/kelompok yang memproduksi
8. Nomor Registrasi Dinas Kesehatan
Nomor registrasi ini sebagai bukti bahwa produk  tersebut telah teruji dan dinyatakan aman untuk dikonsumsi.
Contoh pencantuman registerasi dari pihak terkait (Dinas Kesehatan)
9. Keterangan kadaluarsa
Adalah keterangan yangmenyatakan umur produk yang masih  layak untuk dikonsumsi. Permenkes 180/MenKes/Per/IV/1985 menegaskan bahwa tanggal, bulan dan tahun kadaluarsa wajib dicantumkan secara jelas pada label, setelah pencantuman best before / use by. Definisi Kedaluarsa (umur simpan) adalah selang waktu antara saat produksi hingga saat konsumsi dimana produk berada dalam kondisi yang memuaskan pada sifat-sifat penampakan, rasa, aroma, tekstur dan nilai gizi.
Contoh pencantuman tanggal kadaluarsa
Produk pangan yang memiliki umur simpan 3 bulan dinyatakan dalam tanggal, bulan, dan tahun, sedang produk pangan yang memiliki umur simpan lebih dari 3 bulan dinyatakan dalambulan dan tahun. Umur simpan produk pangan biasa dituliskan sebagai :- Best before date : produk masih dalam kondisi baik dan masih dapat dikonsumsi beberapa saat setelah tanggal yang tercantum terlewati dan - Use by date : produk tidak dapat dikonsumsi karena berbahaya bagi kesehatan manusia (produk yang sangat mudah rusak oleh mikroba) setelah tanggal yang tercantum terlewati. Beberapa jenis produk yang tidak memerlukan pencantuman tanggal kadaluarsa adalah sayur dan buah segar, minuman beralkohol, vinegar / cuka, gula / sukrosa dan bahan tambahan makanan dengan umur simpan lebih dari 18 bulan. Masa kedaluarsa dapat ditentukan secara konvensional dengan menyimpan produk dalamjangkawaktu tertentu atau dengan metode percepatan dengan menggunakan persamaan Archenius.

Sumber : Modul Pengolahan Hasil Perikanan BPPP Tegal

Semoga Bermanfaat...

Wednesday, April 6, 2016

Faktor Penting Dalam Pengemasan Makanan

Fungsi kemasan yang dulunya hanya sebagai wadah atau pelindung berubah menjadi alat jual yang memberikan dan menciptakan citra kepada produk yang dijualnya. Demikian juga banyaknya pasar swalayan , menuntut sebuah produk dikemas self service dengan kemasan yang menarik, dengan warna yang menarik mata (eye caching) sehingga produk tersebut mampu menarik dirinya sendiri, dan konsumen mau membelinya. Pengemasan merupakan faktor yang sangat penting yang harus dilakukan dalam usaha meningkatkan penjualan dan pemasaran hasil olahan perikanan.

Adapun fungsi kemasan meliputi sejumlah faktor penting yaitu :

1. Faktor pengamanan yaitu melindungi produk terhadap berbagai kemungkinan yang dapat menjadi penyebab timbulnya kerusakan produk secara kimia,mikrobiologi, biologi atau fisik., seperti kelembaban, gas, bau, mikroorganisme, debu, getaran, tekanan dan sebagainya juga melindungi produk dari pengaruh lingkungan lingkungan.
Kemasan kaleng sebagai salah satu upaya menjaga keamanan makanan
2. Faktor Distibusi yaitu Pengemasan berfungsi memudahkan distribusi dari pabrik ke distributor atau pengecer sampai ke tangan konsumen. Ditingkat distributor atau pengecer dapat memberikan kemudahan penyimpanan dan pemajangan selama penjualan.
Bentuk kemasan menentukan kemudahan dalam mendistribusikan produk
3. Faktor Komunikasi yaitu Pengemasan sebagai media komunikasi yang menerangkan atau mencerminkan produk, citra, merk, dan juga sebagai bagian dari promosi, dengan pertimbangan mudah dilihat, dipahami, dan diingat.
Kejelasan label produk menentukan ketertatikan konsumen
4. Faktor Ergonomi  yaitu Pengemasan harus mempertimbangkan agar kemasan mudah dibawa/ dipegang, dibuka, dan mudah diambil/dihabiskan isinya.
Bentuk kemasan yang ergonomi memudahkan konsumen untuk membawa dan menggunakan produk
5. Faktor Estetika yaitu Keindahaan merupakan daya tarik visual yang mencakup  pertimbangan penggunaan warna, bentuk, merek/logo, ilustrasi, huruf, dan tata ietak, untukmencapai mutu daya tarik visual secara optimal.
Label yang menarik menentukan ketertarikan konsumen untuk membeli produk
6. Faktor Indentitas yaitu Secara keseluruhan, kemasan harus berbeda dengan kemasan lain, yakni memiliki identitas produk agar mudah dikenali dan membedakannya dengan produk-produk yang lain.
Setiap produk mempunyai kemasan yang berbeda dengan produk lainnya

Sumber : Modul Pengolahan Hasil Perikanan BPPP Tegal

Semoga Bermanfaat...