Lalaukan

Informasi dunia kelautan dan perikanan serta kegiatan penyuluhan perikanan

Friday, October 4, 2019

Penyakit Protozoa : Akibat Infeksi Cryptocaryon sp

Protozoa ini juga merupakan agen penyebab penyakit white spot pada ikan. Penyakit yang ditimbulkan lebih dikenal dengan nama cryptocaryoniosis. Adapun ciri-ciri parasit Cryptocaryon sp antara lain menyerupai buah pear yang dilengkapi dengan silia pada permukaan tubuhnya, berukuran 40-400 ┬Ám, serta bergerak aktif di bawah kulit dan epitel insang. Parasit dewasa akan meninggalkan inang dan berenang bebas selama beberapa jam dan berubah menjadi kista yang berdiam di dasar bak untuk tumbuh dan berkembang lebih lanjut. Fase belum dewasa disebut trophon berbentuk buah pear, sedangkan dewasa berbentuk bulat dan kemudian membentuk kista yang disebut toman dimana setelah 6-8 hari akan berkembang menjadi parasit muda yang mampu hidup tanpa inang dalam waktu
tidak lebih dari 24 jam.

Cryptocaryon sp menyerang pada ikan hias dan tidak jarang juga menyerang ikan konsumsi seperti kakap putih, kakap merah, dan kerapu. Parasit ini biasanya menyerang bagian insang dan kulit. Gejala klinis yang ditimbulkan adalah nafsu makan berkurang dan ikan menjadi lesu, mata suram dan sisik ikan lepas, terdapat bintik-bintik putih pada insang dan permukaan tubuh, serta terjadi peningkatan produksi mucus atau lendir. Penyakit ini dapat mudah menular dan menyebabkan kematian massal dalam waktu yang relatif singkat. Bentuk infeksi dan morfologi Cryptocaryon sp disajikan pada Gambar berikut.

Bentuk infeksi dan morfologi Crytocaryon sp
Penyebab : Cryptocaryon irritans

Bio – Ekologi phatogen :
  1. Berbentuk bulat atau oval berukuran antara 0.3-0.5 mm, dan memunyai silia.
  2. Bersifat obligat parasitik (memiliki karakter biologi yang hampir sama dengan parasit “Ich”)
  3. Sangat ganas, pada infeksi berat dapat mematikan hingga 100% dalam tempo beberapa hari
  4. Menginfeksi jenis ikan budidaya air laut (kerapu, kakap, baronang, dll.) terutama ukuran benih, meskipun ukuran dewasa juga rentan apabila kekebalan tubuhnya merosot

Gejala Klinis :
  1. Nafsu makan menurun, kurus, warna tubuh gelap, gelisah, lesu dan lemas
  2. Menggosok-gosokkan badan pada benda di sekitarnya
  3. Frekwensi pernapasan meningkat (megap-megap), mendekat ke air masuk
  4. Bintik-bintik putih atau kecoklatan di sirip, kulit atau insang, produksi mukus berlebih, dan sirip menguncup
  5. Pada infeksi berat, bintik-bintik putih atau nampak seperti salju yang disertai pendarahan, dan mata buram hingga menyebabkan kebutaan
  6. Infeksi sekunder oleh bakteri akan memperparah kondisi kesehatan hingga mempercepat proses kematian.

Diagnosa :
  1. Pengamatan secara visual terhadap adanya bintik putih (parasit) pada kulit, sirip dan insang ikan
  2. Pengamatan secara mikroskopis untuk melihat morfologi parasit melalui pembuatan preparat ulas dari organ kulit/mukus, sirip dan/atau insang.

Ikan kerapu yang terinfeksi parasit Cryptocaryon irritans, bintik-bintik
putih tampak di seluruh permukaan tubuh ikan

Insang ikan yang dipenuhi oleh infestasi parasitCryptocaryon irritans
Pengendalian :
  1. Mempertahankan suhu agar selalu > 29o C
  2. Pemindahan populasi ikan yang terinfeksi parasit ke air yang bebas parasit sebanyak 2-3 kali dengan interval 2-3 hari.
  3. Pengobatan dan/atau pemberantasan parasit dapat dilakukan melalui perendaman dengan menggunakan: a) Air bersalinitas rendah (0-8 promil) selama beberapa jam (tergantung spesies dan ukuran), dipindahkan ke air yang bebas parasit dan diulang setiap 2-3 hari; b) Larutan hydrogen peroxide (H2O2) pada dosis 150 ppm selama 30 menit, dipindahkan ke air yang bebas parasit dan diulang setiap 2 hari; c) Larutan kupri sulfat (CuSO4) pada dosis 0,5 ppmselama 5-7 hari dengan aerasi yang kuat, dan air harus diganti setiap hari; d) Larutan formalin 25-50 ppm selama 12-24 jam, dilakukan pengulangan setiap 2 hari

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

No comments:

Post a Comment