Lalaukan

Informasi dunia kelautan dan perikanan serta kegiatan penyuluhan perikanan

Wednesday, March 25, 2020

Penanganan Hama dan Penyakit Pada Ikan Bawal

Dalam budidaya ikan, adanya serangan hama dan penyakit merupakan salah satu kendala yang sering dihadapi. Kendala inilah yang paling ditakuti petani karena harapan untuk memperoleh keuntungan bisa pudar. Walaupun sama-sama merugikan, tetapi kerugian yang diakibatkan oleh serangan penyakit lebih besar dibanding kerugian karena hama.

PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN SECARA UMUM
Meski tidak begitu besar kerugian akibat hama, tetapi adanya hama tetap harus dicegah. Ada beberapa cara untuk mencegah hadirnya hama, di antaranya yaitu :
  1. Kolam dikeringkan sampai tanah dasarnya retak-retak,
  2. Dilakukan pengapuran saat persiapan kolam,
  3. Pada pintu pemasukan air dipasang saringan.

Adapun cara mencegah serangan penyakit dapat dengan beberapa cara, di antaranya yaitu
  1. Mengeringkan kolam untuk memotong siklus hidup penyakit,
  2. Melakukan pengapuran saat persiapan kolam agar penyebab penyakit bisa mati,
  3. Menjaga kondisi ikan agar tetap sehat dan tidak stress,
  4. Menjaga kondisi lingkungan hidup agar sesuai kebutuhan ikan
  5. Mengurangi kepadatan ikan untuk mencegah kontak langsung antar-ikan, menghindari terjadinya penurunan kadar oksigen dalam air, serta mengikatnya kadar NH3,
  6. Memberi pakan tambahan yang cukup, tetapi tidak berlebihan
  7. Mencegah terjadinya luka pada tubuh ikan dengan penanganan yang baik,
  8. Mencegah  masuknya binatang pembawa penyakit,  seperti burung, siput, dan lain-lain.

Walaupun usaha pencegahan sudah dilakukan, tetapi terkadang ikan yang dipelihara masih bisa terserang hama maupun penyakit Bila hal itu terjadi, jalan terakhirnya adalah dengan melakukan  pengobatan. Ada beberapa cara pengobatan yang dapat dilakukan di antaranya pengobatan melalui air kolam, perendaman, makanan dan langsung pada ikan.

PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN SECARA KHUSUS
HAMA
Kehadiran hama dapat berasal dari luar maupun dari dalam dalam kolam. Secara umum beberapa jenis hama biasa menyerang ikan bawal tersebut yaitu notonecta, ucrit, belut, dan ular.
a.  Notonecta
Notonecta bentuk binatang ini menyerupai beras dan mempunyai bintik putih. Notonecta memiliki lima pasang kaki. Tiga pasang kaki di bagian belakang digunakan untuk berenang, sedangkan dua pasang di bagian depan digunakan sebagai alat penyengat. Hama ini biasanya menyerang benih, terutama yang berukuran kecil. Serangannya dapat mematikan karena mangsanya dijepit.  Sampai saat ini pencegahan notonecta masih sulit dilakukan. Cara terbaik yang dilakukan yaitu dengan mengurangi jumlahnya. Caranya dengan mengurangi kandungan bahan organik di kolam dan membuang tanaman air yang ada. Jika populasi hama ini sangat banyak maka dilakukan pemberantasan dengan cara menyiram minyak tanah sebanyak 5 1/1000 m2 air kolam.
Notonecta
b.  Ucrit
Larva cybister sering menyerang ikan air tawart. Ucrit  memiliki badan seperti ulat, badannya kaku,  tetapi dapat bergerak dengan cepat. Tubuhnya berwarna agak kehijauan. Ciri khas binatang ini adalah di bagian kepala memiliki taring sebagai alat penjepit mangsa dan di bagian ekornya memiliki alat penyengat. Serangan binatang ini lebih berbahaya dibanding notonecta karena dalam sehari dapat menyerang beberapa ikan. Cara penyerangannya dengan menjepit perut benih sampai robek. kemudian benih dimangsanya.  Keberadaan ucrit dapat dicegah dengan beberapa cara, seperti mengurangi kandungan bahan organik di kolam dan melakukan persiapan kolam yang baik. Adapun pemberantasannya dapat dilakuan dengan menggunakan obat Decis dengan dosis 2 mg/1.
Ucrit
c.  Ular sawah
Ular sawah merupakan sejenis ular yang biasa hidup di sawah. Selain di sawah. binatang ini sering juga ditemukan di saluran-saluran air. Ular sawah aktif pada malam hari, termasuk mencari makan, sedangkan pada siang hari bersembunyi di lubang-lubang. Makanan kesukaannya adalah binatang yang ukurannya lebih kecil dari mulutnya. seperti anak katak. ikan. dan binatang lainnya. Pencegahan ular sawah dapat dilakukan dengan memagar pematang dengan pagar bambu yang rapat. Sedangkan pemberantasan ular dilakukan dengan membunuh ular yang masuk ke kolam pemeliharan.
Ular sawah
PENYAKIT
Penyakit adalah organisme yang hidup dan berkembang dalam tubuh ikan sehingga organ tubuhnya terganggu. Dengan terganggunya salah satu bagian tubuh maka terganggu pula anggota tubuh lainya. Timbulnya penyakit pada ikan dapat disebabkan oleh tiga faktor, yaitu lingkungan,  kondisi ikan,  dan adanya bakteri patogen. Ketiga faktor tersebut saling berhubungan. Ada beberapa penyakit yang biasa menyerang ikan bawal yaitu jamur, bintik putih, dan trichodiniasis.

a.  Jamur
Penyakit jamur pada ikan bawal disebabkan oleh jamur Saprolegnia sp. dan Achlya sp. Selain menyerang bawal, Saprolegnia juga menyerang hampir semua jenis ikan air tawar, termasuk telurnya. Saprolegnia memiliki bentuk tubuh seperti benang halus, berwarna putih atau kadang berwarna cokelat. Pada serangan yang parah, benang tersebut tampak lebih panjang, banyak, dan padat. Timbulnya penyakit jamur dapat disebabkan oleh penanganan ikan yang kurang baik. Di samping itu, kurangnya pakan, suhu air dan kandungan oksigen yang rendah, kualitas telur yang kurang baik, serta kepadatan telur yang terlalu tinggi juga dapat menjadi penyebab timbulnya penyakit ini.  Penyakit jamur dapat dicegah dengan beberapa cara, di antaranya dengan menjaga kualitas air agar tetap baik, menangani ikan atau telur dengan baik, memberi pakan tambahan yang cukup, dan tidak menebarkan telur yang terlalu padat. Apabila telah terjadi serangan, pengobatan dapat dilakukan dengan cara merendam ikan atau telur dalam malachitgreen 1 mg/1 selama 1 jam atau larutan Nad 5 g/1 selama 15 menit.
Ikan yang terken jamur Saprolegnia

b.  Penyakit bintik putih
Penyakit bintik putih (white spot) pada ikan bawal dan ikan air tawar lainnya biasanya disebabkan oleh parasit Ichthyopthirius mulcifilus.  Parasit  ini  termasuk  protozoa yang  memiliki  bulu  getar. Penyakit ini bisa menyerang hampir semua jenis ikan air tawar, terutama benihnya. Ikan yang terserang penyakit ini ditandai dengan adanya bintik-bintik putih pada permukaan tubuh sehingga bagian tersebut akan berwarna pucat. Tanda lainya yaitu ikan sering menggosok-gosokan tubuhnya pada dasar dan dinding kolam, serta sering terlihat megap-megap dan selalu berkumpul di sekitar air masuk.
Ikan bawal yang terkena penyakit whitespot

Usaha pencegahan terhadap penyakit bintik putih yaitu dengan cara menjaga kualitas air tetap baik, mempertahankan suhu air 28° C, dan menggunakan alat yang bersih. Adapun pengobatan yang dilakukan bila ikan telah terserang yaitu dengan merendam ikan dalam larutan formalin 25 ml/m2 yang dicampur dengan malachitgreen oxalate 0,15 g/m2 air selama 24 jam. Cara lain yang lebih praktis dan murah adalah dengan menyurutkan air kolam sampai 10 cm agar suhu air naik di atas 28° C. Keadaan ini dibiarkan selama 2 - 4 hari.

c.  Trichodiniasis
Penyakit trichodiniasis disebabkan oleh parasit yang disebut Trichodina sp. Trichodina termasuk parasit. Cara menyerangnya dengan menempelkan tubuhnya pada organ tubuh yang menjadi sasarannya. Ikan yang terserang ditandai dengan adanya luka atau kerusakan pada organ yang diserang dan ditandai dengan infeksi sekunder. Tanda klinisnya tidak tampak karena ukuran tubuhnya sangat kecil sehingga cara mendiagnosisnya hanya dengan mikroskop.
Ikan yang terkena Trichodiniasis
Usaha pencegahan terhadap penyakit ini dengan memberi pakan tambahan yang cukup dan bergizi tinggi, filterisasi, dan menaikan suhu air (dengan menyurutkan air kolam sampai 10 - 15 cm). Adapun pemberantasan yang dapat dilakukan dengan merendam ikan yang terserang dalam larutan NaCI 500 - 1000 mg/1 selama 24 jam atau dalam larutan formalin 25 mg/1 selama 24 jam.

Sumber : Aripudin, M.Tr.Pi. Pengendalian hama dan penyakit ikan bawal.

Semoga Bermanfaat...

Monday, March 23, 2020

Sifat Fisikawi Ikan

Masalah dalam transportasi, penyimpanan dan penanganan serta pengolahan ikan untuk setiap jenis ikan selalu tidak sama Untuk memecahkan segala permasalahan yang berhubungan dengan transportasi, penyimpanan dan pengolahan ikan perlu menguasai tentang sifat fisik ikan yang meliputi bentuk dan ukuran, densitas dan kekambahan, dan juga sudut natural repose, sudut luncur dan koefisien gesekan. Kapasitas panas, konduktivitas panas, difusivitas panas dan faktor-faktor lain juga perlu untuk diketahui.

1. Bentuk dan warna ikan
Bentuk dan warna ikan berbeda-beda dan secara umum dapat digolongkan menjadi 4 macam sedangkan warna ikan sulit untuk diklasifikasi :
  • Berbentuk seperti peluru torpedo yang paling banyak dijumpai contohnya ikan salem,bandeng, makerel, ikan lemuru ,ikan belanak, tongkol dll.
    Ikan Salem
  • Berbentuk seperti anak panah contohnya ikan cendro,ikan julung-julung, ikan layur, ikan remang.
    Ikan cendro
  • Berbentuk seperti layang-layang pipih contohnya ikan bawal putih,bawal hitam,pari kembang,pari kelapa,pari burung, ikan peperek.
    Ikan pari
  • Berbentuk panjang seperti ular contohnya belut darat,belut laut, uling, moa atau sidat, ikan ular boro,ikan ladu.
    Belut laut

Pada umumnya warna ikan bermacam-macam ikan dari daerah panas (tropis) berwarna putih seperti perak disebabkan karena kristal quanin yang banyak terdapat pada sisik.
  • Warna lain misalnya hitam,kuning, merah orange atau kombinasi warna tersebut disebabkan oleh zat-zat warna yang disebut kromatofor yang terdapat pada sel-sel dermis tergantung dari besarnya konsentrasi kromatofor warna dapat berubah dan bervariasi.
    Berbagai warna ikan
  • Kebanyakan ikan warnanya tidak berubah tetapi pada beberapa jenis ikan warnanya dapat berubah sesuai dengan warna lingkungan.

2. Ukuran Ikan
  • Pada umumnya ikan dikatakan besar panjangnya > 20 cm dan ikan kecil panjangnya < 10 cm dan ikan sedang apabila panjangnya diantara kedua ukuran tersebut.
  • Ukuran ikan juga termasuk tebal ikan garis tengah minimum yaitu jarak terlebar antara tepi badan samping kiri dan tepi badan samping kanan.
    Ukuran ikan
  • Ukuran ikan juga erat hubungannya dengan berat ikan ikan besar mempunyai berat yang tinggi dan sebaliknya, namun ikan panjang belum tentu mempunyai berat yang tinggi begitu pula sebaliknya

3. Sifat fisikawi lainnya
  • Kwantitas berat ikan besarnya ratio berat ikan dengan isi jika sejumlah ikan ditempatkan dalam suatu wadah yang diketahui besarnya (isinya).
  • Contoh: jika diketahui bobot jenis ikan 1,25g/cm3 bukan berarti wadah yang mempunyai 1 m3 dapat menampung ikan sebesar (1.000.000/1,25) gr atau 800 kg umumnya kurang dari jumlah tsb. Besarnya ruang dalam wadah yang secara efektif dapat ditempati oleh sejumlah berat ikan merupakan isi teknis dan jika jumlah/berat ikan dibagi dengan isi teknis kuantitas berat
  • Seperti bahan lainnya ikan mempunyai panas spesifik dan konduktivitas panas dan dapat diperkirakan besarnya jika diketahui komposisi kimia dari ikan tsb.

4. Komposisi berat ikan
  • Komposisi berat ikan, berat masing-masing bagian organ/tubuh ikan, umumnya sebagai persentase terhadap seluruh tubuh ikanpenting diketahui karena tidak semua bagian ikan dapat dimakan tetapi mungkin pula dapat dimanfaatkan sebagai makanan ternak,obat-obatan dll.
  • Komposisi berat dapat digunakan untuk memperkirakan/menghitung berapa bagian dari tubuh ikan yang dapat digunakan sebagai bahan makanan, makanan ternak dan sebagai bahan lainnya
  • Komposisi berat ikan dipengaruhi oleh jenis ikan, jenis kelamin,musim penangkapan dll
  • Untuk mendapatkan komposisi berat ikan; bagian organ ikan tidak dipisahkan secara anatomis dipisahkan dengan cara praktis untuk keperluan pengolahan misal: hanya dipotong dengan menggunakan pisau

Sumber : Sifat Fisikawi Daging Ikan. Gilang Indra Gunawan, S.St.Pi

Semoga Bermanfaat...

Friday, March 20, 2020

Struktur Tubuh Ikan

Berdasarkan UU Perikanan No. 45 Tahun 2009 yang dimaksud dengan Ikan adalah segala jenis organisme yang seluruh atau sebagian dari siklus hidupnya berada di dalam lingkungan perairan.

PENGGOLONGAN JENIS IKAN
  1. Golongan demersal adalah ikan yang diperoleh dari lautan yang dalam Contohnya: ikan kod dan ikan haddock.
    Ikan kod
  2. Golongan pelagik kecil adalah jenis ikan kecil yang hidupnya didaerah permukaan laut ,misal: ikan parang-parang atau ikan herring.
    Ikan herring
  3. Golongan pelagik besar adalah jenis ikan besar yang hidupnya di permukaan laut, misal: ikan tongkol, ikan sarden, ikan makerel.
    Ikan tongkol
  4. Golongan anadromus adalah jenis ikan yang mula-mula hidupnya di laut kemudian migrasi ke air tawar lalu ke pertemuannya, misal : ikan bandeng dan ikan salem.
    Ikan bandeng
  5. Golongan katadromus adalah jenis ikan yang mula-mula hidupnya di  air tawar kemudian migrasi ke laut lalu ke pertemuannya, misal : belut laut
    Ikan sidat
  6. Hasil perikanan berkulit keras (crustacea) adalah jenis hasil perikanan yang berkulit keras, misal: udang, lobster, kepiting, rajungan.
    Lobster
  7. Hasil perikanan berdaging lunak adalah golongan ini kadang dibagi lagi menjadi beberapa golongan antara lain : golongan Chepallopoda misalnya cumi-cumi, golongan Echinodermata misalnya: tiram dan golongan Anadonta misalnya: kerang.
    Cumi - cumi
  8. Hasil perikanan yang tidak dapat diidentifikasi dengan jelas (micillaneous) misalnya ubur-ubur.
    Ubur - ubur
Umumnya badan ikan mempunyai bentuk dan ukuran yang simetris dibagi menjadi 3 bagian : kepala, badan (tubuh) dan ekor.
Struktur tubuh ikan
1. Kulit (skin)
  • Kulit ikan terdiri dari 2 bagian yaitu epidermis dan dermis
  • Epidermis adalah kulit yang mengandung kelenjar muscous yang menghasilkan muscous
  • Dermis adalah terdiri dari beberapa lapisan jaringan pengikat
  • Sisik berkembang dari dermisantara epidermis dan  dermis terdapat pigmencarotenoid dan melanin
  • Guanin dan purin  antara dermis dan daging
  • Warna kompleks dari ikan dibentuk dari refraksi  
  • melalui lapisan epidermis dan dermis
Struktur kulit ikan
2. Organ dalam (Internal organ)
Struktur organ dalam pada ikan
  • Ikan tidak selalu mengunyah makanannya tetapi bisa menelan langsung tanpa pemotonganperanan enzim yang terdapat pada lambung dan usus sangat diperlukan
  • Dinding lambung dan usus  sejumlah kelenjar mikroskopis yang menghasilkan enzim segera setelah makanan dimakan
  • Enzim tidak hanya diproduksi pada lambung dan usus tetapi juga dihasilkan oleh pyloric caeca yang terdapat pada ikan bertulang sejati dan organ ini tidak terdapat pada vertebrata lain dan ikan bertulang rawan
  • Bentuk dan jumlahnya berbeda dari berbagai species   misal: untuk ikan angler jumlahnya hanya satu sedangkan ikan mackerel jumlahnya mendekati 200
a)  Hati
  • Merupakan organ dalam terbesar dari ikan
  • Pada hati gula diubah glikogen yang disimpan sebagai cadangan  energi
  • Lemak banyak terdapat pada hati ikan terutama ikan cod dan cucut
b) Ginjal
  • Jaringan ginjal lebih lunak dan mulai berubah setelah mati
  • Kerusakan daging melalui dekomposisi produk dari ginjal dan gelembung renang merupakan karakteristik selama penyimpanan jangka panjang
c) Organ reproduksi
  • Dapat mengisi > dari ½ bagian perut pada saat tingkat kematangan gonad merupakan pasaran yang penting untuk telur ikan salmon, allaska pollack, herring, belanak(mullet) dan ikan terbang di Jepang.
  • Sperma matang ikan salmon dan skipjackbahan baku untuk protamin sebagai pengawet
3. Tulang
Struktur tulang pada ikan
  • Kerangka ikan bertulang sejati notochard,tulang rawan dan tulang sejati tapi pada ikan elasmobranchi tulang sejatinya sedikit
  • Semua sistim otot dihubungkan ke rangka->beberapa ikan mempunyai penyangga tulang belakang tidak hanya tulang rusuk pada dorsal dan ventral tetapi ada tulang intramuscular
  • Tulang pendek yang tajam mendukung dorsal dan tulang halus ini menggangu konsumen bisa menjadi lunak dengan cara pemasakan pada tekanan tinggi

4. Otot
Struktur otot pada ikan
  • Bagian yang dapat dimakan dari ikan dibagi menjadi 4 bagian secara vertikal dan horisontal yang merupakan jaringan pengikat dan mempunyai struktur yaitu :
  • Urat pada kayusetiap unit dari urat daging disebut myomere yang dihubungkan satu dengan yang lain oleh myoseptum setiap jaringan pengikat-> myomere berbentuk kerucut pada bagian bawah-> jika daging dimasak jaringan ikat tergelatinisasi-> koagulasi dengan pemisahan lapisan atas.
  • Myomere disusun oleh beberapa serat otot (sel otot) bersama dengan pembuluh darah dan urat syaraf dengan beberapa jaringan ikat panjang serat otot hampir sama dengan myomere demikian juga dengan tulang belakang.
  • Panjang dari serat otot dan dari daging ikan-> 3 cm lebih pendek dari otot mamalia. Ultra struktur dari serat otot ikan tidak terlalu berbeda dengan mamalia dan tampak pada susunan filamen tipis dari myofibril
5. Daging merah (red meat)
Daging merah pada ikan
  • Merupakan lapisan dari pigmen merah dibawah kulit ikan-> bervariasi dari yang rendah sampai tinggi.
  • Ikan daging putih-> daging merahnya 1-2% dan untuk ikan daging merahnya tinggi mencapai 20% atau lebih pada daging merah berlemak-> proporsinya bervariasi tergantung pada bagian ikan.
  • Sel atau serat daging merah >kecil diameternya daripada daging putih.
  • Daging merah mempunyai peranan penting dalam proses fisiologi dan biokimia ikan
  • Pada proses teknologi pangan daging merah merupakan masalah besar karena kaya akan lemak dan chromoprotein dalam bentuk myoglobin dan hemoglobin berperan sebagai pro-oksidan bagi lemak.
  • Pada daging merah mudah terjadi ketengikan->flavor yang tajam.
Sumber : Struktur tubuh ikan. Aripudin, M.Tr.Pi

Semoga Bermanfaat...

Monday, March 16, 2020

Koperasi Perikanan

Banyak permasalahan yang dihadapi, sektor perikanan. seperti kerusakan fisik habitat ekosistem pesisir dan perairan, penurunan kualitas perairan, gejala tangkap lebih (overfishing), rendahnya kemampuan penanganan dan pengolahan hasil perikanan, tidak stabilnya harga faktor produksi, persaingan pasar yang semakin ketat, masalah kemiskinan dan permodalan. Selain itu, rendahnya kualitas sumberdaya manusia dan penguasaan teknologi juga menambah permasalahan pembangunan perikanan. Pada nelayan yang dihadapkan pada berbagai masalah dan kendala dalam melakukan aktivitas perikanan yang merupakan kegiatan utama mereka. 

Salah satu wadah masyarakat yang dapat menampung dan menyalurkan berbagai kegiatan yang dapat menunjang kehidupan pelaku perikanan adalah koperasi perikanan. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33 disebutkan bahwa terdapat tiga unsur penting dalam tata perekonomian Indonesia yaitu usaha negara, usaha swasta, dan koperasi. Koperasi pada dasarnya merupakan wadah organisasi sosial yang mengutamakan kepentingan sosial dan ekonomi anggota dengan melakukan kegiatan sesuai dengan kepentingan anggota yang bersifat membina dan memperluas ketrampilan mereka yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan anggota.
Salahsatu kegiatan koperasi perikanan
Koperasi perikanan merupakan alternatif yang dapat dipilih oleh nelayan untuk ikut bergabung di dalamnya. Selain itu, nelayan juga akan memperoleh pelayanan dari koperasi, dapat meningkatkan kesejahteraan, menjadikan koperasi perikanan sebagai wadah untuk berorganisasi, memperluas wawasan serta informasi demi kepentingan nelayan itu sendiri.

Pemerintah negara-negara berkembang menunjang pembentukan organisasi-organisasi koperasi modern dan membentuk lembaga pemerintah khusus untuk itu (seperti departemen, direktorat, dinas-dinas khusus, dan instansi). Lembaga tersebut mendorong pengembangan koperasi yang memperoleh dana dari negara dan swasta untuk membelanjai kegiatan-kegiatannya menjadi organisasi-organisasi (swadaya) koperasi yang berusaha secara efisien dan berorientasi kepada anggota.

Berdasarkan PP 60 tahun 1959 tentang Perkembangan Gerakan Koperasi bahwa perlu menyesuaikan fungsi koperasi sebagaimana dalam pokok-pokoknya diatur dalam Undang-undang Koperasi dengan jiwa semangat Undang-undang Dasar 1945 dan Manifesto Politik Presiden Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1959, dimana koperasi harus diberi peranan sedemikian rupa sehingga gerakan serta penyelenggaraannya benar-benar dapat merupakan:
  1. Alat untuk melaksanakan ekonomi terpimpin berdasarkan sosialisme ala Indonesia;
  2. Sendi kehidupan ekonomi bangsa Indonesia,
  3. Dasar untuk mengatur perekonomian rakyat guna mencapai taraf hidup yang layak dalam susunan masyarakat adil dan makmur yang demokratis.

Pemerintah wajib mengambil sikap yang aktip dalam membina Gerakan Koperasi berdasarkan azas-azas Demokrasi Terpimpin dan perlu diadakan Peraturan Pemerintah untuk menyesuaikan pelaksanaan Undang-undang Koperasi dengan Undang-undang Dasar 1945 dan Manifesto Politik Presiden Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1959, untuk menumbuhkan, mendorong, membimbing, melindungi dan mengawasi perkembangan Gerakan Koperasi; sehingga terjamin, terpelihara dan terpupuknya dinamika baik dikalangan masyarakat sendiri maupun dalam kalangan petugas negara, serta terselenggaranya koperasi secara serentak, intensip, berencana dan terpimpin.

Berdasarkan PP 60 tahun 1959 tentang Perkembangan Gerakan Koperasi bagian II tentang penjenisan koperasi yang merupakan pembedaan koperasi yang didasarkan pada golongan dan fungsi ekonomi. Dalam peraturan ini dasar penjenisan koperasi ditekankan pada lapangan usaha dan tempat tinggal para anggota sesuatu koperasi. Pada pasal 3 peraturan ini mengutamakan diadakannya jenis-jenis koperasi sebagai berikut:
  1. Koperasi Desa
  2. Koperasi Pertanian
  3. Koperasi Peternakan
  4. Koperasi Perikanan
  5. Koperasi Kerajinan/Industri
  6. Koperasi Simpanan Pinjam

Yang dimaksud Koperasi Perikanan ialah koperasi yang anggota-anggotanya terdiri dari pengusaha-pengusaha pemilik alat perikanan, buruh/nelayan yang kepentingan serta mata pencahariannya langsung berhubungan dengan usaha perikanan yang bersangkutan dan menjalankan usaha-usaha yang ada sangkut-pautnya secara langsung dengan usaha perikanan mulai dari produksi, pengolahan sampai pada pembelian atau penjualan bersama hasil-hasil usaha perikanan yang bersangkutan.

Penjenisan koperasi didasarkan pada golongan serta fungsi ekonomi. akan tetapi untuk memudahkan bagi rakyat penjenisan koperasi menurut peraturan ini ditekankan pada lapangan usaha serta tempat tinggal anggota.. Dengan demikian walapun Peraturan ini didasarkan pada lapangan usaha dan atau tempat tinggal para anggota dengan ketentuan ayat tersebut terbuka kemungkinan bagi masyrakat untuk mengadakan jenis-jenis koperasi yang berdasarkan golongan serta fungsi ekonomi.

Berdasarkan UU No 16 tahun 1964 tentang Bagi Hasil Perikanan tentang salah satu usaha untuk menuju kearah perwujudan masyarakat sosialis Indonesia pada umumnya, khususnya untuk meningkatkan taraf hidup para nelayan penggarap dan penggarap tambak serta memperbesar produksi ikan, maka pengusahaan perikanan secara bagi-hasil, baik perikanan laut maupun perikanan darat, harus diatur hingga dihilangkan unsur-unsurnya yang bersifat pemerasan dan semua fihak yang turut serta masing-masing mendapat bagian yang adil dari usaha itu, juga perbaikan daripada syarat-syarat perjanjian bagi-hasil sebagai yang dimaksudkan diatas perlu pula lebih dipergiat usaha pembentukan koperasi-koperasi perikanan, yang anggota-anggotanya terdiri dari semua orang yang turut serta dalam usaha perikanan itu.

Sebagai salah satu usaha menuju ke arah terwujudnya masyarakat sosialis Indonesia pada umumnya sebenarnya untuk meningkatkan taraf hidup para nelayan penggarap dan penggarap tambak serta memperbesar produksi ikan, Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara di dalam Ketetapan No. II./MPRS/1960 dan Resolusinya No. I/MPRS/1963 memerintahkan supaya diadakan Undang- undang yang mengatur soal usaha perikanan yang diselenggarakan dengan perjanjian bagi hasil. Undang-undang ini merupakan realisasi daripada perintah M.P.R.S. tersebut. Sebagaimana ditentukan dalam pasal 12 ayat 1 Undang- undang Pokok Agraria segala usaha bersama dalam lapangan agraria jadi termasuk juga usaha perikanan, baik perikanan laut maupun perikanan darat haruslah diselenggarakan berdasarkan kepentingan bersama dari semua fihak yang turut serta, yaitu baik nelayan pemilik dan pemilik tambak yang menyediakan kapal/perahu, alat-alat penangkapan ikan dan tambak maupun para nelayan penggarap dan penggarap tambak yang menyumbangkan tenaganya, hingga mereka masing-masing menerima bagian yang adil dari hasil usaha tersebut.

Pengusahaan perikanan atas dasar bagi hasil dewasa ini adalah diselenggarakan menurut ketentuan-ketentuan hukum adat setempat yang menurut ukuran sosialisme Indonesia belum memberikan dan menjadi bagian yang layak bagi para nelayan penggarap dan penggarap tambak. Berhubung dengan itu maka pertama-tama perlu diadakan ketentuan untuk menghilangkan unsur-unsur perjanjian bagi hasil yang bersifat pemerasan,hingga dengan demikian semua pihak yang turut serta dalam usaha itu mendapat bagian yang sesuai dengan jasa yang disumbangkannya. Dengan memberikan jaminan yang sedemikian itu maka di samping perbaikan taraf hidup para nelayan penggarap dan penggarap tambak yang bersangkutan. diharapkan pula timbulnya perangsang yang lebih besar di dalam meningkatkan produksi ikan. Dalam pada itu hal tersebut tidaklah berarti, bahwa kepentingan dari pada pemilik kapal/perahu, alat-alat penangkapan ikan dan tambak akan diabaikan.Usaha perikanan, terutama perikanan laut, memerlukan pemakaian alat-alat yang memerlukan biaya pemeliharaan serta perbaikan dan yang pada waktunya bahkan harus diganti dengan yang baru. Menetapkan imbangan bagian yang terlalu kecil bagi golongan pemilik biasa berakibat, bahwa soal pemeliharaan dan perbaikan serta penggantian alat-alat tersebut akan kurang mendapat perhatian atau diabaikan sama sekali. Hal yang demikian pula berpengaruh tidak baik terhadap produksi ikan pada umumnya. Berhubung dengan itu para pemilik tersebut harus pula mendapat bagian yang layak, dengan pengertian, bahwa dengan demikian ia berkewajiban pula untuk menyelenggarakan pemeliharaan dan perbaikan sebagaimana mestinya.

Dalam pada itu perbaikan taraf hidup para nelayan penggarap dan penggarap tambak tidak akan dapat tercapai hanya dengan memperbaiki syarat-syarat perjanjian bagi hasil saja. Untuk itu usaha pembentukan koperasi-koperasi perikanan perlu dipergiat dan lapangan usaha serta keanggotaannya perlu pula diperluas. Keanggotaan koperasi tersebut harus meliputi semua orang yang turut dalam usaha perikanan itu, jadi baik para nelayan penggarap, penggarap tambak, buruh perikanan maupun nelayan pemilik dan pemilik tambak. Lapangan usaha koperasi perikanan hendaknya tidak terbatas pada soal produksi saja, misalnya pembelian kapal-kapal/perahu- perahu dan alat-alat penangkapan ikan, pengolahan hasil ikan serta pemasarannya, tetapi harus juga meliputi soal kredit serta hal-hal yang menyangkut kesejahteraan para anggota dan keluarganya. Misalnya usaha untuk mencukupi keperluan sehari-hari, menyelenggarakan kecelakaan, kematian dan lain-lainnya. Dengan demikian maka mereka itu dapatlah dlepaskan dan dihindarkan dari praktek-praktek para pelepas uang. tengkulak dan lain-lainnya, yang dewasa ini sangat merajalela dikalangan usaha perikanan, terutama 
perikanan laut.

Menurut hukum adat yang berlaku sekarang ini tidak terdapat keseragaman mengenai imbangan besarnya bagian pemilik pada satu pihak dan para nelayan penggarap serta penggarap tambak pada lain fihak. Perbedaan itu disebabkan selain oleh imbangan antara banyaknya nelayan penggarap dan penggarap tambak pada satu fihak serta kapal/perahu, dan tambak akan dibagi hasilkan pada lain fihak, juga oleh rupa-rupa faktor lainnya Diantaranya ialah penentuan tentang biaya-biaya apa saja menjadi beban bersama dan apa yang dipikul oleh mereka masing-masing. Mengenai perikanan darat di tambak letak, luas keadaan kesuburan tambaknya serta jenis ikan yang dihasilkan merupakan faktor pula yang menentukan imbangan bagian yang dimaksudkan itu. Jika tambaknya subur, maka bagian pemiliknya lebih besar dari pada bagian pemilik tambak yang kurang subur. Mengenai perikanan laut, macam kapal,,perahu dan alat-alat serta cara-cara penangkapan yang dipergunakan merupakan pula faktor yang turut menentukan besarnya imbangan itu. Bagian seorang pemilik kapal motor misalnya, adalah lebih besar imbangan persentasinya. jika dibandingkan dengan bagian seorang pemilik perahu layar. Hal itu disebabkan karena biaya eksploitasi yang harus dikeluarkan oleh pemilik motor itu lebih besar, lagipula hasil penangkapan seluruhnya lebih besar, hingga biarpun imbangan persentasi bagi para nelayan penggarap lebih kecil, tetapi hasil yang diterima sebenarnya oleh mereka masing-masing adalah lebih besar jika dibandingkan dengan hasil para nelayan penggarap yang mempergunakan kapal/perahu layar.

Berhubung dengan itu di dalam Undang-undang ini bagian yang harus diberikan kepada para nelayan penggarap dan penggarap tambak sebagai yang tercantum di dalam pasal 3, ditetapkan atas dasar imbangan di dalam pembagian beban-beban dan biaya-biaya usaha sebagai yang tercantum dalam pasal 4. Di daerah-daerah dimana pembagian beban-beban dan biaya-biaya itu sudah sesuai dengan apa yang ditentukan di dalam pasal 4, maka tinggal peraturan tentang pembagian hasil sajalah yang harus disesuaikan, yaitu jika menurut kebiasaan setempat bagian para nelayan penggarap atau penggarap tambak masih kurang dari apa yang ditetapkan dalam pasal 3. Jika bagian mereka sudah lebih besar dari pada yang ditetapkan dalam pasal 3, maka aturan yang lebih menguntungkan pihak nelayan penggarap atau penggarap tambak itulah yang harus dipakai (pasal 5 ayat 1).

Dengan pengaturan yang demikian itu maka ketentuan-ketentuan tentang bagi hasil yang dimuat dalam Undang-undang ini dapat segera dijalankan setelah Undang-undang ini mulai berlaku, dengan tidak menutup sama sekali kemungkinan untuk mengadakan penyesuaian dengan keadaan daerah, jika hal itu memang sungguh-sungguh perlu (pasal 5 ayat 2). Mengenai perikanan darat hanya diberi ketentuan-ketentuan tentang penyelenggaraan bagi hasil tambak. yaitu genangan air yang dibuat oleh orang sepanjang pantai untuk memelihara ikan, dengan mendapat pengairan yang teratur. Usaha pemeliharaan ikan di empang-empang air tawar dan lain-lainnya tidak terkena Undang-undang ini oleh karena umumnya tidak dilakukan secara bagi hasil, tetapi dikerjakan sendiri oleh pemiliknya. Kalau ada pemeliharaan yang dilakukan secara bagi hasil maka hal itu mengenai kolam-kolam yang tidak luas. Kalau ada sawah yang dibagi hasilkan dan selain ditanami padi juga diadakan usaha pemeliharaan ikan.

Sumber : M. Pattekai, Nurfaidah, Sitti Normawati, Verderika Natanggara. Kelembagaan Koperasi Perikanan. 2017. Universitas Hasanuddin.

Semoga Bermanfaat...

Friday, February 21, 2020

Sistem Refrigerasi Untuk Produk Perikanan

Refrigeration adalah Menurunkan (pendinginan), menaikan (pemanasan) dan menjaga temperatur suatu zat atau ruangan, sesuai dengan yang kita inginkan.

Air Conditioning Menaikan, menurunkan temperatur dan menjaganya sesuai dengan yang kita inginkan, agar kita merasa nyaman berada diruangan tersebut.

Sistem Refrigrasi
ISTILAH DALAM REFRIGRASI 
Temparatur : Ukuran Intensitas atau banyaknya panas dari suatu zat. (R, C, F, K dll). Alat Ukurnya Thermometer 

Tekanan : Gaya persatuan luas (psi, Pa, Kg/cm²). Alat ukurnya Pressure gauge

Panas : Panas adalah bentuk dari suatu energi, yang dapat merubah bentuk suatu zat.

1 BTU : Banyaknya panas yang dibutuhkan untuk menaikan atau menurunkan temparatur zat seberat 1 pound dan sebesar 1º F

Macam Panas :
  • Panas sensible : Panas yang dibutuhkan untuk merubah temperatur suatu zat seberat 1 pound sebesar 1º F
  • Panas latent : Panas yang dibutuhkan untuk merubah bentuk suatu zat seberat 1 pound, tanpa merubah temparatur zat tersebut (Pembekuan, Pencairan dan Penguapan). Besar kecilnya dipengaruhi oleh kandungan airnya.
  • Panas Spesifik : Panas yang dibutuhkan untuk merubah temperatur zat seberat 1 pound sebesar 1º F
  • Entrophy (s) : Jumlah panas persatuan temperatur (kJ/ºK, kJ/kg.ºK) 
  • Pengaruh tekanan terhadap temperatur penguapan : Jika tekanan dinaikan, maka temperatur  didih atau temperatur penguapan suatu zat akan naik, begitu juga sebaliknya
  • Pengaruh tekanan terhadap temperatur pembekuan : Jika tekanan dinaikan, akan menurunkan temperatur pembekuan. Begitu juga sebaliknya.


KOMPONEN SISTEM REFRIGRASI 
Komponen Utama
  1. Kompresor :  Berfungsi untuk menghisap dan menekan gas Refrigerant. (Reciprocating, Rotary, Screw, Centrifugal, Scroll).
  2. Kondensor : Berfungsi untuk merubah bentuk gas refrigerant menjadi cairan refrigerant, dengan jalan membuang panasnya. Dikondensor terjadi proses kondensasi atau pembuangan panas. (Water cooled, Air cooled dan Evaporative Condenser).
  3. Receiver : Berfungsi sebagai penampung cairan refrigerant dari kondensor
  4. Katup Expansi : Berfungsi untuk menjatuhkan tekanan cairan refrigerant, sehingga cairan refrigerant akan mulai menguap. (Automatic Exp, Thermostatic Exp, Capillary tube, Distribution tube).
  5. Evaporator : Berfungsi sebagai alat untuk proses penguapan dari cairan refrigerant. Di evaporator terjadi proses penyerapan panas. (Shell Type, Shelf Type, Wall Type, Fin Tube with force Circulation)
ALAT BANTU SISTEM REFRIGRASI 
Alat bantu untuk instalasi pada sistim perpipaan:
a) Oil separator
b) Filter dryer
c) Sight Glass
d) Solenoid Valve
e) Accumulator
f) Economizer/Heat Exchanger/Intercooler
g) LP, HP, Oil pressure switch
h) Gas Purger/Gas cooler
i) Oil Drum

Alat Bantu Sistim Perlistrikan :
a) Thermal Overload protector
b) MCB
c) OCR
d) Timer 
e) Volt meter
f) Ampere Meter
g) Frequensi meter
h) KWH meter
i) Thermostat
j) Module control
Contoh diagram sistem refrigrasi
REFRIGERANT
Refrigerant adalah Bahan pendingin (penukar panas) pada sistem refrigerasi.
Syarat-syarat refrigerant :
  1. Tekanan penguapan yang cukup tinggi, umumnya diatas tekanan atmosphir
  2. Tekanan pengembunan yang rendah, sehingga perbandingan kompresi kompresor tidak terlalu tinggi.
  3. Mempunyai kalor latent penguapan yang tinggi.
  4. Volume spesifik yang cukup kecil, terutama pada fasa.
  5. Mempunyai koefisien prestasi (COP) yang tinggi.
  6. Mempunyai konduktifitas thermal yang tinggi.
  7. Mempunyai viskositas rendah, baik dalam fasa cair maupun gas.
  8. Tidak mempunyai sifat korosif
  9. Stabil dan tidak bereaksi dengan material lain.
  10. Tidak beracun dan berbau menyengat.
  11. Tidak mudah terbakar.
  12. Harus mudah diditeksi jika terjadi kebocoran.
  13. Harganya tidak mahal dan mudah didapat. 

Fungsi Refrigeration Untuk Produk Perikanan :
Menghambat pertumbuhan bakteri pembusukan, sehingga dapat memperpanjang umur ikan (lebih awet) dan tidak menghilangkan gizi yang dikandungnya.

Sumber : Aripudin. Sistem Refrigrasi Produk Perikanan. 2016

Semoga Bermanfaat...