Kegiatan Penyuluhan

Kegiatan Penyuluhan Perikanan Bertujuan Meningkatkan Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan Pelaku Utama dan Pelaku Usaha Perikanan.

Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP)

P2MKP Memberdayakan Pelaku Utama Perikanan dan Masyarakat.

Pelatihan Kelautan dan Perikanan

Meningkatkan keterampilan para pelaku utama kelautan dan perikananm.

AUTO MATIC FEEDER

Solusi Memberi Makan Ikan Menjadi Mudah Dan Tepat.

Tuesday, May 31, 2016

Apa itu Mangrove??

Asal kata “mangrove” tidak diketahui secara jelas dan terdapat berbagai pendapat mengenai asal-usul katanya. Macnae (1968) menyebutkan kata mangrove merupakan perpaduan antara bahasa Portugis mangue dan bahasa Inggris grove. Sementara itu, menurut Mastaller (1997) kata mangrove berasal dari bahasa Melayu kuno mangi-mangi yang digunakan untuk menerangkan marga Avicennia dan masih digunakan sampai saat ini di Indonesia bagian timur.

Beberapa ahli mendefinisikan istilah “mangrove” secara berbeda-beda, namun pada dasarnya merujuk pada hal yang sama. Tomlinson (1986) dan Wightman (1989) mendefinisikan mangrove baik sebagai tumbuhan yang terdapat di daerah pasang surut maupun sebagai komunitas. Mangrove juga didefinisikan sebagai formasi tumbuhan daerah litoral yang khas di pantai daerah tropis dan sub tropis yang terlindung (Saenger, dkk, 1983). Sementara itu Soerianegara (1987) mendefinisikan hutan mangrove sebagai hutan yang terutama tumbuh pada tanah lumpur aluvial di daerah pantai dan muara
sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut, dan terdiri atas jenis-jenis pohon Aicennia, Sonneratia, Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Lumnitzera, Excoecaria, Xylocarpus, Aegiceras, Scyphyphora dan Nypa.

Sumber : Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia.

Semoga Bermanfaat...

Thursday, May 26, 2016

Perawatan Larva Ikan

Larva adalah telur gurami yang baru menetas sampai pada ukuran 0,5 gram/ekor atau sampai ukuran benih yang siap untuk ditebar dalam kolam pendederan. Larva ikan yang baru menetas tidak langsung diberi makan sampai kuning telur habis (5 s/d 6 hari). Kemudian larva diberi pakan alami yang bergerak (artemia, dapnia,moina atau tubifex).
Larva Ikan

PERAWATAN LARVA IKAN
Larva diberi makan tambahan setelahkuning telur habis, adapun persyaratan pakan untuk larva adalah :

  1.  Pakan berukuran kecil, dimana pakan harus lebih kecil dari bukaan mulut larva.
  2. Pakan harus bergerak sehingga mudah dideteksi dan dimangsa oleh larva.
  3. Mudah dicerna dan mengandung gizi tinggi.
  4. Kandungan protein 60 – 70% 
  5. 2-3 minggu tepung pellet 3-5 %

BEBERAPA JENIS PAKAN HIDUP UNTUK LARVA IKAN
  1. Kutu air (Daphnia sp), Teknik kultur daphnia
  2. Artemia, Teknik kultur artemia
  3. Cacing tubifex/cacing sutra/cacing rambut, Teknik kultur cacing tubifex
WADAH PEMELIHARAAN LARVA
  1. Akuarium
  2. Kolam beton ukuran 2 x 3 meter persegi
  3. Kolam tanah dengan sekatan happa
KEUNTUNGAN WADAH YANG TIDAK TERLALU LUAS
  1. Memudahkan dalam pemantauan pertumbuhan
  2. Memudahkan dalam penanganan hama dan penyakit
  3. Efesiensi dalam penerapan penanganan hama dan penyakit ikan
  4. Mempermudahkan dalam pemanenan
PENGAMATAN PERTUMBUHAN LARVA
  1. Melakukan pegamatan ukuran larva
  2. Melakukan pengamatan kesehatan larva
  3. Melakukan grading jika ukuran banyak yang ekstrim (ukuran tidak seragam)
PERAWATAN KUALITAS AIR
  1. Air dalam masa pemeliharaan larva harus diperhatikan dengan seksama karena larva sangat sensitif terhadap perubahan kualitas air yang mendadak.
  2. Lakukan penyiponan pada dasar pemeliharaan untuk mengurangi sisa pakan dan feces larva.
  3. Pemberian pakan sesuai kebutuhan larva
Semoga bermanfaat...

Monday, May 23, 2016

Analisa SWOT

Analisis SWOT adalah metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (Strengths), kelemahan (Weaknesses), peluang (Opportunities), dan ancaman (Threats) dalam suatu proyek atau spekulasi bisnis.

Analisa SWOT didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman (threats).

Faktor dalam Analisa SWOT
  1. Faktor Internal : Kekuatan (Strengths) dan Kelemahan (Weaknesses).
  2. Faktor Eksternal : Peluang (Opportunities) dan Ancaman (Threats).
Strategi Dalam Analisa SWOT
  1. SO (strenght-opportunities), yaitu menggunakan kekuatan internal yang dimiliki untuk mengambil peluang-peluang yang ada 
  2. ST (strenght-threats), yaitu berusaha menghindari atau mengurangi dampak dari ancaman-ancaman dengan menggunakan kekuatan yang dimiliki 
  3. WO (weakness-opportunities), yaitu bertujuan untuk memperkecil kelemahan-kelemahan internal yang ada dengan memanfaatkan peluang-peluang eksternal 
  4. WT (weakness-threats), yaitu berusaha bertahan dengan cara mengurangi kelemahan internal serta menghindari ancaman.
Kerangka Kerja Analisa SWOT
  1. Analisa dan pembuatan matriks IFE (Internal Factor Evaluation)
  2. Analisa dan pembuatan matriks EFE (External Factor Evaluation)
  3. Pembuatan matriks SWOT
  4. Pembuatan tabel rangking alternatif strategi
Tabel SWOT












Semoga Bermanfaat...



Thursday, May 19, 2016

Peraturan Perundang - Undangan Terkait Pengelolaan Mangrove

Hutan Mangrove penting sekali untuk perikanan apalagi perikanan estuary atau perikanan pantai. Hutan Mangrove juga berguna untuk pelindungan alam dari daerah-daerah di belakangnya terhadap kekuatan alam.
Kawasan mangrove
Sehingga diperlukan adanya perlindungan bagi kawasan hutang mangrove melalui peraturan maupun perundang - undangan.

Berikut peraturan dan perundangan - undangan terkait pengelolaan kawasang mangrove :
  1. Undang-Undang Dasar 1945 pasal 4 ayat (1) dan pasal 33 ayat (3);
  2. Undang-Undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya;
  3. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1994 tentang Pengesahan United Nations Convention On Biological Diversity (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Mengenai Keanekaragaman Hayati);
  4. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1994 tentang Pengesahan United Nations Framework Convention on Climate Change (Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa Mengenai Perubahan Iklim);
  5. Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan;
  6. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Pengelolaan Sumberdaya Air;
  7. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009;
  8. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah dirubah dengan Undang-undang Nomor 23 tahun 2014;
  9. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;
  10. Undang-Undang Nomor 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil sebagaimana telah dirubah dengan Undang-Undang nomor 1 tahun 2014;
  11. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;
  12. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan;
  13. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional;
  14. Peraturan Pemerintah Nomor 76 Tahun 2008 tentang Rehabilitasi dan Reklamasi Hutan;
  15. Peraturan presiden nomor 73 tahun 2012 tentang Strategi Nasional Pengelolaan Ekosistem Mangrove.

Lembaga terkait pengelolaan mangrove :
  1. Kementerian Koordinator Maritim;
  2. Kementerian Kelautan dan Perikanan------Dinas KP Prov/Kab/Kota;
  3. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan------Kantor Pengawasan & Pengendalian Lingkungan Hidup;
  4. Dinas Kehutanan / Perhutani;
  5. Kelompok Masyarakat Pengawas (POKMASWAS);
  6. LSM Konservasi Mangrove;
  7. dll
Semoga bermanfaat...

Tuesday, May 17, 2016

Mengenal Sistematika, Habitat dan Morfologi Ikan Betok (A. testudineus)

Betok adalah nama sejenis ikan yang umumnya hidup liar di perairan tawar. Ikan ini juga dikenal dengan beberapa nama lain seperti bethok atau bethik (Jw.), puyu (Mly.) atau pepuyu (bahasa Banjar). Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai climbing gouramy atau climbing perch, merujuk pada kemampuannya memanjat ke daratan. Nama ilmiahnya adalah Anabas testudineus (Bloch, 1792).
Ikan Betok (Anabas testudineus)

Menurut Jhingran (1975), sistematika ikan ini adalah sebagai berikut :











Morfologi Ikan Betok

Ikan betok umumnya berukuran besar, panjang hingga sekitar 25 cm, berkepala besar dan bersisik keras kaku, bentuk badan agak lonjong. Sisi atas tubuh (dorsal) gelap kehitaman agak kecoklatan atau kehijauan.

Sisi samping (lateral) kekuningan, terutama di sebelah bawah, dengan garis-garis gelap melintang yang samar dan tak beraturan. Sebuah bintik hitam (terkadang tak jelas kelihatan) terdapat di ujung belakang tutup insang. Sisi belakang tutup insang bergerigi tajam seperti duri.

Ikan betok memiliki tipe warna abu-abu sampai kehijauan, dengan satu titik hitam pada bagian dasar ekor dan titik lainnya lagi hanya pada bagian belakang lempeng insang. Bagian ujung sisik dan sirip berwarna cerah.

Pada bagian operkulum dan preoperkulum keduanya bergerigi. Pada bagian pertama/depan dorsal dan anal kedua-duanya pnjang. Model tubuh cekung ke dalam, mulut berukuran lebih lebar dengan gigi berbentuk villiform. Memiliki elaborasi organ labirin pada bagian cekungan atas bagian pertama sampai bagian ketiga tulang lapis insang.

Menurut (Saanin, 1954) betok hanya memiliki satu sirip punggung atau dua sirip punggung yang bersambungan dengan sirip perut yang tidak bersatu. Ikan ini dapat mengambil udara di luar air (mempunyai alat labirin). Sirip punggung dan sirip dubur berjari-jari. Sirip perut dengan 6 jari-jari, sirip punggung dan sirip dubur dengan satu atau lebih dari satu jari-jari keras, sirip perut dengan 5 jari-jari atau kurang dari 5 jari-jari lemah dan 1 jari-jari keras. Rongga di atas rongga insang beralat berbentuk labirin, berbentuk gepeng, agak panjang, lubang insang sempit karena bagian gabungan daun insang lebar.

Pengukuran Morfometrik Ikan Betok (A. testudineus)
Keterangan Gambar:
A) Panjang total, B) Panjang standar, C) Panjang kepala, D) Tinggi kepala, E) Tinggi badan, F) Tinggi batang ekor, G) Jarak mulut ke sirip punggung, H) Jarak mulut ke mata, I) Jarak mulut ke pangkal sirip dada, J) Jarak mulut ke pangkal sirip perut, K) Jarak sirip punggung ke pangkal sirip ekor, L) Jarak sirip perut ke pangkal sirip anus, M) Jarak sirip anus ke pangkal sirip ekor, N) Diameter mata, O) Jarak mata ke tutup insang, P) Panjang dasar sirip dada, Q) Tinggi sirip dada, R) Panjang dasar sirip punggung, S) Tinggi sirip punggung, T) Panjang dasar sirip ekor, U) Tinggi sirip ekor V) Panjang dasar sirip anus, W) Tinggi sirip anus, X) Panjang dasar sirip perut, Y) Tinggi sirip perut.

Ikan betok dalam keadaan normal menggunakan insang sebagai alat untuk bernafas, namun dalam kondisi ekstrim ia menggunakan labirin yang dimilikinya untuk mengambil oksigen langsung di udara. Dengan cara ini pula ia bertahan hidup dalam kondisi air yang minim dan sesekali berpindah dengan menggunakan siripnya sebagai alat untuk bergerak.

Kemampuan ikan betok untuk seperti berjalan didukung oleh gerakan ekornya, sirip dada dan tutup insang yang keras. Namun daya kekuatannya didaratan memang hanya beberapa jam saja, jika terlalu lama maka ia akan mati. Ikan betok bersifat predator dan sebagai hama di kolam budidaya.

Habitat dan Penyebaran Ikan Betok

Betok umumnya ditemukan di rawa-rawa, sawah, sungai kecil dan parit-parit, juga pada kolam-kolam yang mendapatkan air banjir atau berhubungan dengansaluran air terbuka.
Rawa sebagai salah satu habitat ikan betok
Ikan ini memangsa aneka serangga dan hewan-hewan air yang berukuran kecil. Ikan betok jarang dipelihara orang, dan lebih sering ditangkap sebagai ikan liar. Dalam keadaan normal, sebagaimana ikan umumnya, betok bernafas dalam air dengan insang. 

Akan tetapi, seperti ikan gabus dan lele, betok juga memiliki kemampuan untuk mengambil oksigen langsung dari udara. Ikan betok memiliki organ labirin (labyrinth organ) di kepalanya, yang memungkinkan hal itu. Alat ini sangat berguna manakala ikan mengalami kekeringan dan harus berpindah ke tempat lain yang masih berair.

Ikan betok mampu merayap naik dan berjalan di daratan dengan menggunakan tutup insang yang dapat dimegarkan, dan berlaku sebagai semacam “kaki depan”. Namun tentu saja ikan ini tidak dapat terlalu lama bertahan di daratan, dan harus mendapatkan air dalam beberapa jam atau ia akan mati.

Ikan betok merupakan ikan danau atau rawa (blackfishes), namun keika musim kemarau dan ketinggian air berkurang, ikan ini akan berusaha menuju sungai besar melalui sungai-sungai kecil yang merupakan penghubung menuju sungai induk. Ketika musim hujan ikan ini sering terlihat di wilayah daratan yang hanya dipenuhi beberapa sentimeter air saja, namun ketika musim kemarau ikan ini biasanya berada di perairan yang berlumpur (Inger dan Kong, 1962).

Di Indonesia, ikan ini dapat ditemukan di Sulawesi, Daratan Sunda, Sumatra, Kalimantan, dan termasuk ikan introduksi untuk Irian Jaya. Penyebaran ikan betok di dunia cukup luas mulai dari India, Tiongkok, Srilangka, Cina bagian Selatan, Philipina, Asia Tenggara lainnya, dan juga sepanjang garis Wallacea. Ikan ini merupakan ikan asli di wilayah Asia Tenggara, Sri Langka, Filipina, Cina.Ikan ini menyebar di kepulauan Indo-Australia (Berra, 2001).


Sumber 2 : Situmorang Dina, Ridwan Manda Mutra, Deni Efizon. 2014. Study On Morphometric, Meristic And Growth Patterns Of Anabas testudineus In Channel Of Oil Palm Palntation Left Tapung River Bencah Kelubi Village Tapung Kiri Subdustrict Riau Province.

Semoga Bermanfaat.

Friday, May 13, 2016

Bakso Rumput Laut

Bakso merupakan produk pangan yang terbuat dari daging atau ikan yang dihaluskan, dicampur dengan tepung, dibentuk bulat-bulat sebesar kelereng atau lebih besar dan dimasak dalam air panas hingga bakso tersebut mengapung. Masyarakat lebih mengenal bakso sebagai makanan sepinggan yang dihidangkan dengan pelengkap lain seperti mie, sayuran, pangsit, dan kuah. Makanan ini sangat populer dan digemari oleh masyarakat. Hal ini terlihat dari banyaknya penjual mie bakso, mulai dari restoran sampai ke warung-warung kecil dan gerobak dorong. Harga satu porsi mie bakso sangat bervariasi tergantung dari kualitas baksonya.
Bakso Rumput Laut
Kualitas bakso sangat ditentukan oleh kualitas bahan-bahan mentahnya, terutama jenis dan mutu Ikan, jumlah tepung yang digunakan, atau perbandingannya dalam adonan dan faktor-faktor lain, seperti pemakaian bahan-bahan tambahan dan cara pemasakannya, juga sangat mempengaruhi mutu bakso yang akan dihasilkan. Peralatan yang diperlukan untuk membuat bakso juga bervariasi, mulai dari yang sangat sederhana sampai yang serba mesin. Hal ini tergantung dari skala produksinya, pada produksi bakso berskala besar, pemakaian mesin-mesin akan lebih efektif dan menjamin keseragaman bentuk, ukuran, dan kualitas bakso yang dihasilkan. Untuk produksi berskala rumah tangga, penggilingan ikan dan bumbu dapat dilakukan dengan menyewa mesin penggiling yang banyak terdapat dipasar-pasar, sedangkan pencetakan dan perebusan dapat dilakukan dirumah. Cara inilah yang paling banyak dilakukan oleh pedagang bakso keliling.

Rumput laut dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan salah satunya adalah “bakso”. Rumput laut memiliki kelebihan yaitu dapat digunakan sebagai sumber serat pangan dan iodium yang bermanfaat bagi kesehatan. Seringkali bau amis rumput laut menjadi kendala, namun bila penanganan rumput laut dilakukan dengan benar, maka bau amis tersebut akan hilang. Sebelum diolah menjadi aneka makanan, terlebih dahulu rumput laut dicuci dengan air tawar sampai bersih kemudian direndam dalam air tawar selama semalam dan setelah itu dicuci kembali. Penambahan rumput laut ini dimaksudkan untuk meningkatkan kadar serat dan iodium terhadap bakso yang dihasilkan

BAHAN
  1. Daging ikan 1 kg
  2. Rumput laut 200 gram
  3. Tepung tapioka 150 gram
  4. Garam halus 25 gram
  5. Bawang putih halus 30 gram
  6. Lada halus 5 gram
  7. Air es secukupnya
CARA MEMBUAT
  1. Daging ikan lumat ditambah garam diaduk hingga kenyal.
  2. Tambahkan rumput laut segar cincang, bumbu-bumbu dan aduk hingga rata.
  3. Pada saat pengadonan suhu harus dijaga tetap rendah dengan cara menambahkan hancuran es di baskom.
  4. Adonan dicetak bulat dan dimasukkan dalam air hangat dengan suhu 40 derajat celcius selama 20 menit.
  5. Setelah itu, bakso dimasak lagi pada suhu 90 derajat celcius hingga mengapung.
  6. Angkat dan tiriskan hingga dingin.
  7. Siap disajikan atau kemas dengan plastik vakum simpan pada freezer.
Sumber : Materi Pengolahan Hasil Perikanan, BPPP Tegal

Semoga Bermanfaat...

Tuesday, May 10, 2016

Tik - Tik Rumput Laut

Tik-tik rumput laut ini proses pembuatanya sama seperti pembuatan tik-tik ikan, penambahan (fortifikasi) rumput laut ini sebagai salah satu diversifikasi pemanfaatan rumput laut yang dimaksudkan untuk meningkatkan kandungan nutrisi pada produk yang dihasilkan.
Pembuatan tik - tik rumut laut
ALAT
  1. Pisau
  2. Sendok
  3. Kompor
  4. Baskom
  5. Talenan
  6. Cobek
  7. Layah
  8. Gilingan ikan
  9. Pan plastik
  10. Wajan
  11. Gilingan mie
BAHAN
  1. Daging ikan 100 gram
  2. Rumput laut 200 gram
  3. Tepung tapioka 500 gram
  4. Bawang putih 10 gram
  5. Garam 5 gram
  6. Kuning telur 2 butir
  7. Penyedap rasa secukupnya
  8. Baking powder 5 gram
  9. Minyak goreng
CARA PEMBUATAN
  1. Daging ikan dihaluskan, rumput laut segar dihaluskan dengan blender sisihkan.
  2. Telur dan bawang putih dimixer selama 45 detik, hingga tercampur.
  3. Campur daging ikan yang telah digiling dengan garam, aduk hingga kalis.
  4. Masukkan bumbu-bumbu lainnya kecuali tepung tapioka ke dalam campuran telur, lalu masukkan ikan yang telah diaduk dengan garam, aduk hingga rata.
  5. Setelah rata, masukkan tepung tapioka sedikit demi sedikit sampai kalis (tercampur).
  6. Tipiskan adonan (dengan cara menggilas) diatas meja atau dengan alat penggilas hingga ketebalan kurang lebih 2 mm, kemudian dipotong-potong sepanjang kurang lebih 7 cm.
  7. Goreng adonan tik-tik yang telah dibentuk sambil diaduk terus (saat penggorengan, minyak harus penuh sehingga dapat tergoreng merata, selain itu suhu minyak awal penggorengan 90oC dengan api kecil.  Lama penggorengan 30 – 45 menit (sampai bagian dalam garing dan bagian luar jangan sampai hangus).
  8. Angkat, tiriskan dan dinginkan tik-tik kemudian dapat dikemas atau langsung dikonsumsi.

Sumber : Materi Pengolahan Hasil Perikanan, BPPP Tegal

Semoga Bermanfaat...

Friday, May 6, 2016

Titk - Tik Ikan

Tik-tik ikan terbuat dari tepung dan ditambahkan daging ikan. Produk ini biasanya dikategorikan sebagai makanan camilan (snack), produk ini memiliki kandungan gizi yang tinggi sehingga sangat baik  untuk dijadikan pilihan  camilan sehat karena kandungan nutrisinya dan rasanya yang enak.
Tik - Tik Ikan
ALAT
  1. Pisau
  2. Sendok
  3. Langseng
  4. Kompor
  5. Baskom
  6. Talenan
  7. Cobek
  8. Layah
  9. Gilingan Ikan
  10. Pan Plastik
  11. Wajan
  12. Gilingan Mie
BAHAN
  1. Tepung terigu 1 kg
  2. Tepung aci 100 gram
  3. Telur 6 butir
  4. Bumbu masak 2 bungkus
  5. Mentega 150 gram
  6. Daging ikan lumat 250 gram
  7. Garam secukupnya

CARA PEMBUATAN
  1. Kocok telur hingga tercampur rata antara merah dan putih telur.
  2. Masukkan daging lumat, bumbu masak dan garam aduk rata.
  3. Masukkan campuran tepung terigu dan tepung aci sedikit demi sedikit ke dalam adonan telur dan daging sampai rata.
    Mencapur bahan baku
  4. Masukkan mentega sambil diuleni sampai kalis.
    Pengadukan sampai kalis
  5. Tipiskan adonan (dengan cara menggilas) diatas meja atau dengan alat penggilas hingga ketebalan kurang lebih 2 mm, kemudian dipotong-potong sepanjang kurang lebih 7 cm.
    Menipiskan adonan
  6. Goreng sampai berwarna kuning kecoklatan.
    Menggoreng tik - tik
  7. Siap disajikan.
    Tik - tik yang siap saji

Sumber : Materi Pengolahan Hasil Perikanan, BPPP Tegal

Semoga Bermanfaat...

Tuesday, May 3, 2016

Kue Kering Ikan

Usaha masyarakat untuk meningkatkan konsumsi ikan telah banyak dilakukan, diantaranya dengan memperkenalkan berbagai bentuk olahan dari ikan. Pada umumnya produk-produk tersebut masih kurang diminati karena penampilannya kurang menarik dan cita rasa khas ikan sering kurang disukai oleh sebagian masyarakat.

Oleh karena itu dicoba pembuatan makanan ringan atau camilan yang berupa kue kering dari campuran bahan telur, mentega, gula, terigu dan dengan penambahan daging lumat ikan.
Kue Kering Ikan
Ikan yang digunakan untuk pembuatan kue kering ikan ini dapat berasal dari berbagai jenis ikan, baik ikan air tawar maupun ikan air laut. Yang terpenting adalah mutu/kesegaran ikan, karena apabila ikan kurang segar akan  diperoleh produk akhir berbau amis.

BAHAN
  1. Telur 4 butir
  2. Daging ikan lumat 100 gram
  3. Gula halus 175 gram
  4. Mentega 200 gram
  5. Maizena 50 gram
  6. Tepung terigu 400 gram
PERALATAN
  1. Kompor
  2. Oven
  3. Loyang
  4. Mixer
  5. Pan plastik
  6. Cetakan Kue
  7. Timbangan
  8. Sendok Kayu
CARA PEMBUATAN
  1. Terigu disangrai hingga harum lalu didinginkan
  2. Kocok gula dan mentega hingga homogeny dan lembut
  3. Masukkan kuning telur saru per satu dan aduk hingga merata
  4. Masukkan berurutan daging ikan, terigu dan maizena sambil diaduk dengan sendok kayu
  5. Siapkan lembaran plastic di atas meja, lalu letakkan adonan diatasnya dan digilas hingga ketebalan ±0,5 cm.
  6. Cetak adonan tersebut sesuai dengan keinginan lalu letakkan di atas Loyang. Agar tampilan lebih menarik, olesi bagian atas kue dengan kuning telur lalu kocok.
  7. Panggang dalam oven hingga matang.

Sumber : Materi Pengolahan Hasil Perikanan, BPPP Tegal

Semoga Bermanfaat...