Lalaukan

Informasi dunia kelautan dan perikanan serta kegiatan penyuluhan perikanan

Wednesday, October 24, 2018

Wadah Budidaya Perikanan : Karamba Tancap

Karamba Jaring Tancap (KJT) Jaring tancap merupakan jaring kantong berbentuk persegi yang dipasang pada kerangka bambu atau kayu yang ditancap pada dasar perairan. Pasangan kayu / bambu ditancap rapat, seperti pagar, atau hanya dipasang di bagian sudut kantong jaring. Ikan yang dapat dibudidayakan dengan teknik karamba jaring tancap yaitu ikan mas, nila, patin, lele, bawal, betutu dan jenis ikan air tawar lainnya.
Karamba jaring tancap [sumber]
Berikut ini beberapa keunggulan metode karamba jaring tancap dibandingkan dengan karamba jaring apung, yaitu :
  1. Design lebih mudah dan efisien dalam pembuatannya.
  2. Dana yang diperlukan untuk membuat keramba juga tidak terlalu besar karena tidak memerlukan pemberat ataupun pengapung yang biayanya mahal.
  3. Pengoperasiannya mudah.
  4. Produktivitas lebih tinggi.
  5. Tidak memerlukan kedalaman air yang terlalu dalam seperti keramba jaring apung


Teknik Budidaya Keramba Jaring Tancap

Melakukan budidaya karamba jaring tancap sama halnya dengan karamba jaring apung harus memperhatikan beberapa faktor yang dapat mendukung keberhasilan dalam berbudidaya, yaitu :
  1. Saat budidaya ikan di keramba jaring tancap yang harus diperhatikan pertama kali adalah debit air dan arus air pada kolam atau rawa tersebut. Pemilihan lokasi untuk usaha budidaya ikan perlu dipertimbangkan karena tidak semua sungai dapat dijadikan tempat usaha budidaya dalam keramba jaring tancap. Aspek teknis seperti kondisi perairan (sungai) dan kualitas air sangat berperan penting bagi pertumbuhan ikan yang akan dipelihara.
  2. Sumber air adalah faktor utama dalam keberhasilan melakukan usaha budidaya. Sumber air harus ada sepanjang tahun dan memenuhi standar untuk kegiatan usaha budidaya ikan. Oleh karenanya, sebaiknya pemilihan tempat untuk keramba jaring tancap harus memilih tempat yang susah untuk mengalami kekeringan air.
  3. Peletakan jaring tancap sebaiknya didaerah yang berarus kecil dan dalam. Peletakan di daerah tersebut untuk memudahkan dalam pembuatan, pengoperasionalan serta pemeliharaan karamba jaring tancap tersebut. Oleh karenanya karamba jarring tancap sebaiknya diletakkan pada kedalaman idealnya, yaitu 60-70 cm.
  4. Penebaran benih ikan sebaiknya pada pagi hari sebelum matahari terbit hal ini dikarenakan pada pagi hari suhu air hampir setiap daerah sama. Sebelum ikan ditebarkan perlu dilakukan aklimatisasi atau penyesuaian kondisi lingkungan sekitar. Padat tebar pada keramba jaring tancap idealnya adalah 100-150 ekor/m2 nya.
  5. Selain pakan berupa pelet, pakan tambahan lainnya dapat juga diberikan seperti tanaman air dan daun-daunan. Bulan pertama pemeliharaan, setiap hari pakan diberikan sebanyak 4% dari berat total ikan yang dipelihara. Bulan kedua jumlah pellet dikurangi menjadi 3,5% dan bulan ketiga pemeliharaan maka setiap harinya pakan yang diberikan adalah 3% dari berat total ikan. Agar jumlah pakan yang diberikan dapat ditentukan maka setiap 7-10 hari sekali dilakukan sampling untuk menentukan berat ikan. Pakan diberikan tiga kali sehari, yaitu pada pagi, siang dan sore hari.
  6. Pemenenan ikan dilakukan dengan cara mempersempit ruang gerak ikan di dalam kantong keramba. Hal ini dilakukan dengan cara salah satu sisi kantong jaring dengan sisi lainnya dirapatkan.
  7. Diberi biofilter di sekitar keramba agar zat-zat racun dan amoniak pada air dapat berkurang, pemberian biofilter dapat berupa eceng gondok.
  8. Dilakukan monitoring kualitas air 1 minggu sekali serta melakukan sampling untuk mengetahui kesehatan ikan. Sehingga apabila dalam monitoring dan sampling diketahui ada penyakit dan kuaitas air yang dapat membahayakan ikan yang dibudidayakan dapat dicegah


Semoga Bermanfaat...

Monday, October 22, 2018

Wadah Budidaya Perikanan : Karamba Jaring Apung (KJA)

Teknik budidaya ikan di karamba jaring apung (KJA) sudah dimulai sejak tahun 1954 di Jepang, yaitu untuk memelihara ikan "Yellowtail" (Seriola quinqeuradiata). Metode ini relatif sederhana, sehingga pada akhir-akhir ini banyak negara yang mengikuti penggunaan teknik ini. Keuntungan budidaya ikan dengan metode ini terutama adalah memanfaatkan perairan umum, sungai, waduk dan danau untuk produksi ikan tanpa adanya pengaturan air, suhu, dan saluran perairan. Keuntungan lain dengan menggunakan metode ini adalah memungkinkan penggunaan perairan secara maksimum dan ekonomis, mengurangi penggunaan tanah untuk produksi ikan seperti kolam, tambak, dan sebagainya, reproduksi predator dan populasi ikan mudah dikontrol, mudah dipindahkan bila terjadi hal yang membahayakan, mudah dipanen, transportasi ikan hidup, dan modal awal relatif lebih kecil.
Karamba Jaring Apung [sumber]
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam usaha budidaya ikan dengan metode ini adalah: penempatan karamba harus di lokasi perairan yang bebas dari pencemaran, fluktuasi tahunan sifat-sifat fisika-kimia air tidak terlalu besar sehingga tidak membahayakan bagi kehidupan ikan peliharaan.

Penjagaan harus lebih ketat karena pencurian ikan dapat dilakukan dengan mudah. Beberapa bahan yang digunakan untuk membangun KJA secara umum meliputi: bingkai, pelampung, tali, jaring, jangkar, dan sebagainya. Bingkai KJA dapat dibuat dari bahan kayu, bambu atau besi yang dilapisi bahan anti karat. Pemilihan bahan bingkai sebaiknya disesuaikan dengan tersedianya bahan di lokasi budidaya. Di Indonesia, bambu cukup banyak tersedia dan harganya relatif murah dibandingkan dengan kayu, karenanya untuk pembuatan KJA digunakan bingkai bambu. Ukuran bingkai biasanya 7x7 m.

Pelampung untuk mengapungkan bingkai dapat dibuat dari bahan drum volume air 200 liter yang terlebih dahulu di cat anti karat, styrofoam, dan drum fibreglass. Di Teluk Banten, pelampung yang digunakan biasanya drum atau Styrofoam. Pelampung dari bahan fibreglass harus dipesan khusus karena tidak ada di pasaran. Sebagai bahan perbandingan untuk menentukan pilihan jenis pelampung yang akan digunakan adalah lama pemakaian dan harga dari ketiga jenis pelampung.

Pengikat antara dua bambu untuk pembuatan bingkai karamba sebaiknya digunakan kawat yang bergaris tengah 0,4-0,5 cm. Berdasarkan pengalaman, mengikat dengan menggunakan kawat mudah dan cepat, walaupun mudah berkarat namun dalam jangka waktu satu tahun masih tahan, kalaupun berkarat mudah diganti dalam waktu singkat. Penggunaan tali plastik (polyethilene) untuk mengikat biasanya sering melar karena goyangan ombak sehingga bentuk rakit tidak simetris lagi.

Untuk mengikat pelampung ke bingkai digunakan tali plastik (polyethilene) yang bergaris tengah 0,8 – 1,0 cm. Sebagai penahan karamba apung agar tidak terbawa arus air digunakan jangkar dan karung pasir sebagai pemberat. Untuk tali jangkar digunakan tali plastik (polyethilene) yang bergaris tengah 5,0 cm. Panjang tali jangkar yang dibutuhkan 3 kali kedalaman air. Sebagai contoh bila kedalaman perairan 6 m maka tali yang dibutuhkan kurang lebih 18 m pada setiap jangkar. Untuk satu unit karamba dibutuhkan paling sedikit 4 buah jangkar, tetapi bila lebih dari satu unit, jangkar yang dibutuhkan bukan kelipatan 4 tetapi diatur sedemikian rupa sehingga mengurangi pemakaian jangkar. Jaring sebagai karamba dibuat dari bahan polyethilene, atau sering disebut dengan jaring trawl.

Ukuran mata jaring yang digunakan tergantung dari besar ikan yang dibudidayakan, biasanya berkisar antara 0,5-2,0 cm. Ukuran karamba bermacam-macam, disesuaikan dengan kedalaman perairan.
Konstruksi Karamba Jaring Apung (KJA) [sumber]
Beberapa hal yang perlu diperhatikan di dalam membangun budidaya perikanan di perairan umum adalah perhatian terhadap perairan umum sendiri sebagai suatu ekosistem di mana ikan harus hidup secara layak. Selain itu, kepentingan umum sebagai suatu perairan terbuka (open access) atau sebagai
perairan milik bersama (common property), perlu mendapat perhatian utama, sehingga keberlanjutan usaha dapat dipertahankan (sustainable uses).

Teknik-teknik pengelolaan perikanan di perairan umum harus mempertimbangkan semakin meningkatnya tekanan dari sektor pemanfaat lahan daratan dan perairan serta faktor-faktor sosial ekonomi yang membebani dan mempengaruhi sumber daya akuatik. Pemanfaat lahan daratan antara lain meliputi sektor pertanian, kehutanan, pekerjaan umum, perkotaan, perhubungan, dan pariwisata. Pemanfaat lahan perairan antara lain meliputi sektor tenaga listrik, irigasi kanalisasi pematusan, perikanan, perhubungan, dan permukiman. Faktor-faktor sosial-ekonomi yang harus diperhatikan antara lain adalah peningkatan pertambahan penduduk, kebutuhan pangan, kesempatan kerja, permukiman, dan transmigrasi.

Kegiatan sektor pemanfaat dan faktor-faktor sosek ini seluruhnya merupakan beban yang dapat menimbulkan perubahan fisika termodinamika dan kimiawi serta mempengaruhi sistem morfologi akuatik, kualitas dan kuantitas air, struktur badan air yang akhirnya mempengaruhi sumber daya akuatik dan mengancam kelestarian komunitas ikan dan organisme perairan lain khususnya serta kelestarian lingkungan umumnya. Karena pola dan keragaman faktor yang mempengaruhi komunitas ikan kebanyakan berada di luar sistem akuatik dan perikanan, maka pada setiap badan air harus dipertahankan adanya suatu keseimbangan antara kepentingan perikanan dan nonperikanan serta terpeliharanya sumber daya perikanan berikut lingkungannya.

Pada pengelolaan sistem akuatik bagi tujuan perikanan dalam rangka pemanfaatan jamak bersama sektor nonperikanan, maka pemantauan, pengendalian dan pembinaan harus dilakukan, baik terhadap kegiatan perikanan maupun nonperikanan. Pengelolaan sistem akuatik bagi tujuan perikanan dalam rangka pemanfaatan serba guna bersama sektor nonperikanan sangat tergantung kepada beberapa faktor kebijakan utama baik peranan dan arti penting perikanan terhadap sektor pemanfaat lain maupun sasaran-sasaran pengelolaan perikanan. Misalnya penetapan sasaran pengelolaan perikanan yang ingin dicapai dan pentingnya sektor perikanan di antara sektor nonperikanan.

Teknik pengelolaan perikanan yang diterapkan di badan air yang berfungsi serba guna harus ditujukan untuk mempertahankan dan memanfaatkan sumber daya secara optimal bagi tercapainya sasaran yang telah ditetapkan.

Teknik pengelolaan perikanan di perairan umum mencakup:
  1. Pengaturan untuk mengendalikan usaha perikanan.
  2. Modifikasi atau perlindungan struktur fisik lingkungan dengan memanfaatkan rekayasa lingkungan.
  3. Penebaran (stocking) ikan dari luar dan introduksi unsur-unsur baru ke komunitas perikanan.
  4. Pengembangan penangkapan dan budidaya dalam kondisi yang kurang lebih terkendali, serta pengembangan peran dan aspek sosial budaya dan ekonomi, antara lain melalui Lembaga Swadaya Masyarakat.

Budidaya dengan sistem karamba jaring apung (floating net-cage) telah dikenal secara luas, bahkan di dunia internasional seperti Singapura yang membudidayakan kerapu dan kakap dengan sistem ini.

Sistem budidaya dengan menggunakan karamba jaring apung (KJA) biasanya ditempatkan di perairan yang cukup dalam (> 5m) dan luas seperti perairan pantai, waduk ataupun danau. Sistem ini dibuat dengan cara mengikatkan kantong jaring dengan ukuran tertentu pada kerangka rakit terapung yang ditambatkan pada dasar perairan dengan menggunakan jangkar sehingga rakit tidak hanyut terbawa arus.

Ikan yang biasa dibudidayakan dengan menggunakan sistem ini adalah ikan kerapu tikus/kerapu bebek (Chromileptes altivelis), kakap merah (Lutjanus sanguineus), kakap putih (Lates calcarifer) dan beronang (Siganus spp.). Contoh budidaya dengan sistem KJA dapat dilihat di daerah sekitar perairan kepulauan Seribu (P. Kelapa) yang membudidayakan kerapu tikus dan juga di wilayah sekitar Teluk Banten.

Sumber : Modul Keteknikan Budidaya Perikanan

Semoga Bermanfaat...

Monday, October 15, 2018

Wadah Budidaya Perikanan : Tambak

Sistem budidaya perairan lain yang sedang mengalami ledakan perkembangan adalah budidaya tambak. Sistem ini biasanya dibangun di wilayah yang berdekatan dengan daerah pesisir pantai. Sumber air yang digunakan untuk tambak kebanyakan merupakan air asin, sehingga organisme yang dapat dibudidayakan dengan sistem ini pun terbatas pada organisme air asin atau air payau (campuran air asin/laut dengan air tawar/sungai) saja seperti udang, kakap, dan bandeng.

Berdasarkan luasan tambak dan kepadatan oganisme yang dipelihara maka terdapat tiga jenis tambak yaitu tambak tradisional (ekstensif), tambak semi intensif dan tambak intensif. Usaha budidaya dengan sistem tambak apabila dilakukan dengan cara yang benar, maka akan memberikan banyak keuntungan khususnya bagi pengelola, maupun bagi masyarakat sekitarnya, seperti :
  1. Organisme yang dibudidayakan dalam tambak umumnya berupa organisme dengan harga jual yang tinggi, sehingga usaha tambak jelas mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, terutama untuk tambak intensif.
  2. Dengan adanya usaha tambak di suatu lingkungan pantai, maka diharapkan dapat membuka lahan kerja baru bagi masyarakat di sekitarnya.
  3. Pengontrolan organisme yang dibudidayakan menjadi lebih mudah, karena lingkungan pemeliharaannya yang terbatas.

Secara teknis ketiga jenis tambak tersebut memiliki beberapa perbedaan dalam pengoperasiannya. Letak perbedaan tersebut antara lain adalah :

A. Tambak Tradisional (Tambak Ekstensif)
Tambak sistem ini biasanya dibangun pada lahan pasang surut yang pada umumnya berupa rawa-rawa bakau, atau rawa-rawa pasang surut bersemak dan rerumputan. Luas tambak berkisar antara 1-3 ha dengan satu pintu air di setiap petak. Pengisian dan pembuangan air bergantung sepenuhnya pada daya gravitasi pasang surutnya air laut. Tambak ekstensif sangat bergantung pada keberadaan pakan alami yang ditumbuhkan di dasar tambak yang telah disiapkan dengan pemupukan, kedalaman air sekitar 0,5-0,6 m dan tidak digunakan kincir air, sedangkan pompa air masih digunakan untuk proses
penggantian air.
Tambak Tradisional [sumber]
Kepadatan organisme yang dipelihara sangat rendah misalnya untuk udang windu (Penaeus monodon) hanya sekitar 3-10 ekor/m2.

B. Tambak Semi Intensif
Tambak ini umumnya tidak seluas tambak ekstensif, yaitu hanya berkisar antara 0,5-1 ha. Pengisian dan pembuangan air dilakukan melalui saluran yang berbeda. Tambak dengan luas petakan 0,5 ha, berbentuk bujur sangkar, pintu pembuangan air diletakkan di tengah lantai dasar tambak yang miring ke arah tengah. Pada tambak semi intensif selain penggunaan pompa juga sudah digunakan kincir air yang berfungsi sebagai aerator.
Tambak Semi Intensif [sumber]
Kepadatan organisme yang dipelihara dalam tambak lebih tinggi dibandingkan dengan tambak ekstensif, misalnya untuk udang windu yaitu sekitar 10-25 ekor/m2 dan pakan buatan sudah mulai digunakan sebagai pakan tambahan.

C. Tambak Intensif
Luas petak pemeliharaan yang digunakan untuk tambak intensif adalah yang terkecil dibandingkan dengan kedua tipe tambak lainnya yaitu sekitar 0,3-0,5 ha. Biasanya tambak intensif sudah dilengkapi dengan pintu pembuangan di tengah dan pintu panen model monik yang diletakkan di pematang saluran buangan. Untuk tambak air payau, percampuran air tawar dan air laut dilakukan dalam bak pencampur.
Tambak Intensif [sumber]
Dalam tambak intensif penggunaan kincir dan pompa sudah optimal, kepadatan organisme yang dipelihara dalam tambak sangat tinggi dibandingkan dengan tambak ekstensif, misalnya untuk udang windu yaitu sekitar 30-40 ekor/m2 dan penggunaan pakan buatan merupakan unsur yang sangat penting dalam proses pemeliharaan. Budidaya dengan sistem tambak intensif biasanya dilakukan secara besar-besaran dan hanya dilakukan oleh para pengusaha yang bermodal besar.


Sumber : Modul Keteknikan Budidaya Perikanan

Semoga Bermanfaat...

Friday, October 12, 2018

Wadah Budidaya Perikanan : Kolam Terpal

Wadah budidaya ikan kolam terpal pada dasarnya wadah budidaya ikan di kolam terpal adalah solusi untuk beberapa kondisi antara lain lahan yang sempit, modal yang tidak terlalu besar dan solusi untuk daerah yang minim air. Kolam terpal adalah kolam yang dasarnya maupun sisi-sisi dindingnya dibuat dari terpal. Kolam terpal dapat mengatasi resiko-resiko yang terjadi pada kolam tanah maupun kolam beton. Terpal yang dibutuhkan untuk membuat kolam ini adalah jenis terpal yang dibuat oleh pabrik dimana setiap sambungan terpal dipres sehingga tidak terjadi kebocoran.
Kolam terpal [sumber]
Ukuran terpal yang di sediakan oleh pabrik bermacam ukuran sesuai dengan besar kolam yang kita inginkan. Pembuatan kolam terpal dapat dilakukan di pekarangan ataupun di halaman rumah. Lahan yang digunakan untuk kegiatan ini dapat berupa lahan yang belum dimanfaatkan atau lahan yang telah dimanfaatkan, tetapi kurang produktif.

Kolam terpal adalah kolam yang dasarnya maupun sisi-sisi dindingnya dibuat dari terpal. Kolam terpal dapat mengatasi resiko-resiko yang terjadi pada kolam tanah maupun kolam beton. Terpal yang dibutuhkan untuk membuat kolam ini adalah jenis terpal yang dibuat oleh pabrik dimana setiap sambungan terpal dipres sehingga tidak terjadi kebocoran. Ukuran terpal yang di sediakan oleh pabrik bermacam ukuran sesuai dengan besar kolam yang kita inginkan.

Pembuatan kolam terpal dapat dilakukan di pekarangan ataupun di halaman rumah. Lahan yang digunakan untuk kegiatan ini dapat berupa lahan yang belum dimanfaatkan atau lahan yang telah dimanfaatkan, tetapi kurang produktif. Keuntungan dari kolam terpal adalah :
  1. Terhindar dari pemangsaan ikan liar.
  2. Dilengkapi pengatur volume air yang bermanfaat untuk memudahkan pergantian air maupun panen. Selain itu untuk mempermudah penyesuaian ketinggian air sesuai dengan usia ikan.
  3. Dapat dijadikan peluang usaha skala mikro dan makro.
  4. Lele yang dihasilkan lebih berkualitas, lele terlihat tampak bersih, dan tidak berbau dibandingkan pemeliharaan di wadah lainnya.


Kelebihan dan Kelemahan Bentuk Bahan Kolam Terpal.

















Sumber : BPPP Medan

Semoga Bermanfaat...

Wednesday, October 10, 2018

Parameter Kualitas Air : Parameter Biologi Kualitas Air

Indikator kualitas air yang biasa digunakan untuk menilai kelayakan untuk budidaya biasanya didasarkan pada faktor fisika dan kimia air pada kolom air.

Faktor fisika air yang diamati antara lain :
1. Suhu
2. Kecerahan
3. Partikel tersuspensi

Sedangkan faktor kimia antara lain :
1. Biological oxygen demand (BOD)
2. Chemical oxygen demand (COD),
3. Dissolved oxygen (DO)
4. Alkalinitas
5. Bahan organik
6. Amonia
7. Fosfat, dan lain-lainnya.

Indikator kualitas air yang mulai banyak dikembangkan sekarang ini adalah indikator secara biologi, yaitu pengamatan terhadap organisme yang hidup dalam suatu perairan (Basmi, 2000).

Selanjutnya dikatakan bahwa indikator ini sangat penting karena parameter fisika dan kimia air mempengaruhi keberadaan organisme yang hidup di perairan tersebut. Indikator biologi yang sekarang digunakan antara lain organisme macrobenthic dan plankton. Namun demikian, penggunaan biota tersebut sebagai indikator kualitas air mempunyai beberapa kelemahan. Organisme macrobenthic hanya hidup pada substrat tertentu sedangkan plankton hanya hidup di kolom air (Reynolds, 1990). Indeks keragamanan macrobenthic dan plankton hanya mencerminkan perubahan struktur komunitas pada saat mengalami gangguan (stress period) dan tidak dapat membedakan antara ekosistem yang terganggu dengan ekosistem yang sehat.

Penggunaan diatom yang hidup di dasar perairan atau sedimen (benthic diatom) diduga sangat tepat karena dapat mengatasi kelemahan-kelamahan yang ada pada organisme macrobenthic dan plankton.
Benthic diatom
Benthic diatom yang hidup menempel pada sedimen, mempunyai beberapa kelebihan antara lain : 
  1. Jenis algae yang kelimpahannya paling banyak dan tersebar luas
  2. Berperan penting dalam rantai makanan
  3. Siklus hidup sederhana, beberapa spesies sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan sehingga dapat menggambarkan perubahan lingkungan dalam periode yang pendek dan jangka panjang
  4. Mudah pengambilan sampel dan identifikasinya (Round, 1993; Stevenson, 2002).
Menurut Sukran et al. (2006), keberadaannya dipengaruhi oleh faktor fisika dan kimia air. Struktur komunitas dan kelimpahan benthic diatom sangat penting dalam menentukan status ekologis perairan (Picinska, 2007). Sedangkan menurut Hendrarto (1994), struktur komunitas benthic diatom di daerah mangrove sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, terutama ketersediaan air dan zonasi dari vegetasi mangrove. Kelebihan lain penggunaaan organisme yang menempel (attaching organism) dibandingkan dengan plankton (planktonic community) adalah distribusinya tidak mudah terpengaruh oleh arus (Almeida, 2001).

Monday, October 8, 2018

Parameter Kualitas Air : Parameter Kimia Kualitas Air

Air yang digunakan untuk budidaya udang atau organisme perairan yang lain mempunyai komposisi dan sifat-sifat kimia yang berbeda dan tidak konstan. Komposisi dan sifat-sifat kimia air ini dapat diketahui melalui analisis kimia air. Dengan demikian apabila ada parameter kimia yang keluar dari batas yang telah  ditentukan dapat segera dikendalikan.

Parameter-parameter kimia yang digunakan untuk menganalisis air bagi kepentingan budidaya antara lain :
1. Salinitas
Salinitas dapat didefinisikan sebagai total konsentrasi ion-ion terlarut dalam air. Dalam budidaya perairan, salinitas dinyatakan dalam permil (°/oo) atau ppt (part perthousand) atau gram/liter. Tujuh ion utama yaitu : sodium, potasium, kalium, magnesium, klorida, sulfat dan bikarbonat mempunyai kontribusi besar terhadap besarnya salinitas, sedangkan yang lain dianggap kecil (Boyd, 1990). Sedangkan menurut Davis et al. (2004), ion calsium (Ca), potasium (K), dan magnesium (Mg) merupakan ion yang paling penting dalam menopang tingkat kelulushidupan udang. Salinitas suatu perairan dapat ditentukan dengan menghitung jumlah kadar klor yang ada dalam suatu sampel (klorinitas). Sebagian besar petambak membudidayakan udang dalam air payau (15-30 ppt). Meskipun demikian, udang laut mampu hidup pada salinitas dibawah 2 ppt dan di atas 40 ppt.
Refraktometer adalah alat untuk mengukur salinitas air
2. pH
pH didefinisikan sebagai logaritme negatif dari konsentrasi ion hidrogen [H+] yang mempunyai skala antara 0 sampai 14. pH mengindikasikan apakah air tersebut netral, basa atau asam. Air dengan pH dibawah 7 termasuk asam dan diatas 7 termasuk basa. pH merupakan variabel kualitas air yang dinamis dan berfluktuasi sepanjang hari. Pada perairan umum yang tidak dipengaruhi aktivitas biologis yang tinggi, nilai pH jarang mencapai diatas 8,5, tetapi pada tambak ikan atau udang, pH air dapat mencapai 9 atau lebih (Boyd, 2002). Perubahan pH ini merupakan efek langsung dari fotosintesis yang menggunakan CO2 selama proses tersebut. Karbon dioksida dalam air bereaksi membentuk asam seperti yang terdapat pada persamaan di bawah ini :

CO2 + H2O HCO3 - + H+

Ketika fotosintesis terjadi pada siang hari, CO2 banyak terpakai dalam proses tersebut. Turunnya konsentrasi CO2 akan menurunkan konsentrasi H+ sehingga menaikkan pH air. Sebaliknya pada malam hari semua organisme melakukan respirasi yang menghasilkan CO2 sehingga pH menjadi turun. Fluktuasi pH yang tinggi dapat terjadi jika densitas plankton tinggi. Tambak dengan total alkalinitas yang tinggi mempunyai fluktuasi pH yang lebih rendah dibandingkan dengan tambak yang beralkalinitas rendah. Hal ini disebabkan kemampuan total alkalinitas sebagai buffer atau penyangga (Boyd, 2002).
pH meter merupakan alat untuk mengukur kadar pH air
3. Alkalinitas
Alkalinitas merupakan kapasitas air untuk menetralkan tambahan asam tanpa menurunkan pH larutan. Alkalinitas merupakan buffer terhadap pengaruh pengasaman. Dalam budidaya perairan, alkalinitas dinyatakan dalam mg/l CaCO3. Penyusun utama alkalinitas adalah anion bikarbonat (HC03 -), karbonat (CO3 2- ), hidroksida (OH-) dan juga ion-ion yang jumlahnya kecil seperti borat (BO3 -), fosfat (P04 3-), silikat (SiO4 4-) dan sebagainya (boyd, 1990).
Kertas lakmus dapat digunakan untuk mengukur tingkat alkalinitas air
Peranan penting alkalinitas dalam tambak udang antara lain menekan fluktuasi pH pagi dan siang dan penentu kesuburan alami perairan. Tambak dengan alkalinitas tinggi akan mengalami fluktuasi pH harian yang lebih rendah jika dibandingkan dengan tambak dengan nilai alkalinitas rendah (Boyd, 2002). Menurut Davis et al. (2004), penambahan kapur dapat meningkatkan nilai alkalinitas terutama tambak dengan nilai total alkalinitas dibawah 75 ppm.

4. Oksigen Terlarut (dissolved oxygen)
Oksigen terlarut merupakan variabel kualitas air yang sangat penting dalam budidaya udang. Semua organisme akuatik membutuhkan oksigen terlarut untuk metabolisme. Kelarutan oksigen dalam air tergantung pada suhu dan salinitas. Kelaruran oksigen akan turun jika suhu dan temperatur naik (Boyd, 1990). Hal ini perlu diperhatikan karena dengan adanya kenaikan suhu air, hewan air akan lebih aktif sehingga memerlukan lebih banyak oksigen.

Oksigen masuk dalam air melalui beberapa proses. Oksigen dapat terdifusi secara langsung dari atmosfir setelah terjadi kontak antara permukaan air dengan udara yang mengandung oksigen 21% (Boyd, 1990). Fotosintesis tumbuhan air merupakan sumber utama oksigen terlarut dalam air. Sedangkan dalam budidaya udang, penambahan suplai oksigen dilakukan dengan menggunakan aerator (Hargreaves, 2003).
Siklus oksigen terlarut pada suatu perairan
Pada saat cuaca mendung atau hujan dapat menghambat pertumbuhan fitoplankton karena kekurangan sinar matahari untuk proses fotosintesis. Kondisi ini akan menyebabkan penurunan kadar oksigen terlarut karena oksigen tidak dapat diproduksi sementara organisme akuatik tetap mengkonsumsi oksigen. Keterbatasan sinar matahari menembus badan air dapat juga disebabkan oleh tingginya partikel yang ada dalam kolom air, baik karena bahan organik maupun densitas plankton yang terlalu tinggi. Hal ini dapat menyebabkan terganggunya fotosintesis algae yang ada di dasar tambak (Hargreaves, 1999).

Tingginya kepadatan tebar (stocking density) dan pemberian pakan (feeding rate) dapat menyebabkan turunnya kensentrasi oksigen terlarut dalam air. Sisa pakan (uneaten feed) dan sisa hasil metabolisme mengakibatkan tingginya kebutuhan oksigen untuk menguraikannya (oxygen demand). Kemampuan ekosistem kolam budidaya untuk menguraikan bahan organik terbatas sehingga dapat menyebabkan rendahnya konsentrasi oksigen terlarut dalam air (Boyd, 2004).

5. Biological Oxygen Demand (BOD)
Kebutuhan oksigen biologi (BOD) didefinisikan sebagai banyaknya oksigen yang diperlukan oleh organisme pada saat pemecahan bahan organik pada kondisi aerobik. Pemecahan bahan organik diartikan bahwa bahan organik ini digunakan oleh organisme sebagai bahan makanan dan energinya diperoleh dari proses oksidasi (Pescod dalam Salmin, 2005).
Biological Oxygen Demand
Waktu yang diperlukan untuk proses oksidasi bahan organik secara sempurna menjadi CO2 dan H2O adalah tidak terbatas. Penghitungan nilai BOD biasanya dilakukan pada hari ke 5 karena pada saat itu persentase reaksi cukup besar, yaitu 70-80% dari nilai BOD total (Sawyer dan MC Carty, 1978 dalam Salmin, 2005).

6. Produktivitas primer
Dalam kolam budidaya, tumbuhan air baik macrophyta maupun plankton merupakan produsen primer sebagai sumber utama bahan organik. Melalui proses fotosintetis, tanaman menggunakan karbon dioksida, air, cahaya matahari dan nutrien untuk menghasilkan bahan organik dan oksigen seperti dalam reaksi :
6CO2 + 6H2O C6H12O6 + 6O2

Fotosintesis merupakan proses fundamental dalam kolam budidaya. Oksigen terlarut yang diproduksi melalui fotosintesis merupakan sumber utama oksigen bagi semua organisme dalam ekosistem kolam (Howerton, 2001). Glukosa atau bahan organik yang dihasilkan merupakan penyusun utama material organik yang lebih besar dan kompleks. Hewan yang lebih tinggi tingkatannya dalam rantai makanan menggunakan material organik ini baik secara langsung dengan mengkonsumsi tanaman atau mengkonsumsi organisme yang memakan tanaman tersebut (Ghosal et al. 2000).
Siklus fotosintesis pada suatu perairan
Proses biologi lainnya yang sangat penting dalam budidaya perairan adalah respirasi, dengan reaksi :

C6H12O6 + 6O2 6CO2 + 6H2O

Dalam respirasi, bahan organik dioksidasi dengan menghasilkan air, karbon dioksida dan energi. Pada waktu siang hari proses fotosintesis dan respirasi berjalan secara bersama-sama. Pada malam hari hanya proses respirasi yang berlangsung, sehingga konsentrasi oksigen terlarut dalam air turun sedangkan konsentrasi karbon dioksida naik.

Kedua proses tersebut mempunyai pengaruh langsung dalam budidaya perairan. Oksigen terlarut dibutuhkan organisme untuk hidup sedangkan fitoplankton merupakan sumber utama oksigen terlarut disamping sebagai penyusun utama rantai makanan dalam ekosistem kolam budidaya. Salah satu cara untuk menentukan status suatu ekosistem pada sedimen adalah dengan menghitung fotosintesis/respirasi rasio (P/R ratio). Jika P/R ratio lebih kecil dari satu (1) maka sedimen tersebut termasuk heterotropik, dimana karbon lebih banyak digunakan untuk respirasi dibandingkan yang dihasilkan dari fotosintesis. Sedangkan jika P/R ratio lebih besar dari satu (1) menunjukkan sedimen tersebut termasuk autotofik, dimana karbon lebih banyak diproduksi dari pada digunakan untuk respirasi (Eyre dan Ferguson, 2002).

7. Sedimen
Managemen dasar tambak atau sedimen masih kurang diperhatikan jika dibandingkan dengan managemen kualitas air tambak budidaya. Banyak bukti yang mengindikasikan adanya pengaruh yang kuat pertukaran nutrien antara sedimen dengan air terhadap kualitas air (Boyd, 2002).
Kandungan sedimen pada suatu perairan
8. Oxidized Layer
Oxidized layer merupakan lapisan sedimen yang berada paling atas yang mengandung oksigen. Lapisan ini sangat bermanfaat dan harus dipelihara keberadaannya selama siklus budidaya (Boyd, 2002). Pada lapisan tersebut terjadi dekomposisi aerobik yang menghasilkan antara lain : CO2, air, amonia, dan nutrien yang lainnya. Pada sedimen anaerobik, beberapa mikroorganisme menguraikan material organik dengan reaksi fermentasi yang menghasilkan alkohol, keton, aldehida, dan senyawa organik lainnya sebagai hasil metabolisme. Menurut Blackburn (1987) dalam Boyd (2002), beberapa mikroorganisme anaerobik dapat memanfaatkan O2 dari nitrat, nitrit,ferro, sulfat, dan karbon dioksida untuk menguraikan bahan organik dengan mengeluarkan gas nitrogen, amonia, H2S, dan metan sebagai hasil metabolisme.

Beberapa produk metabolisme, khususnya H2S, nitrit, dan amonia berpotensi toksik terhadap ikan atau udang. Lapisan oksigen yang ada pada permukaan sedimen dapat mencegah difusi sebagian besar senyawa beracun menjadi bentuk yang tidak beracun melalui proses kimiawi dan biologi ketika melalui permukaan yang beroksigen. Nitrit diokdidasi menjadi nitrat, ferro dioksidasi menjadi ferri, dan H2S menjadi sulfat (Boyd, 2004c). Selanjutnya dikatakan bahwa kehilangan oksigen pada sedimen dapat disebabkan oleh akumulasi bahan organik yang tinggi sehingga oksigen terlarut terpakai sebelum mencapai permukaan tanah. Tingkat pemberian pakan yang tinggi dan blooming plankton dapat menyebabkan penurunan oksigen terlarut.

9. Bahan Orgnik
Tanah dasar tambak yang mengandung karbon organik 15-20% atau 30- 40% bahan organik tidak baik untuk budidaya perairan. Kandungan bahan organik yang baik untuk budidaya udang sekitar 10% atau 20% kandungan karbon organik (Boyd, 2002). Kandungan bahan organik yang tinggi akan meningkatkan kebutuhan oksigen untuk menguraikan bahan organik tersebut menjadi molekul yang lebih sederhana sehingga akan terjadi persaingan penggunaan oksigen dengan biota yang ada dalam tambak.

Peningkatan kandungan bahan organik pada tanah dasar tambak akan terjadi dengan cepat terutama pada tambak yang menggunakan sistem budidaya secara semi intensif maupun intensif dengan tingkat pemberian pakan (feeding rate) dan pemupukan yang tinggi (Howerton, 2001). Disamping mengendap di dasar tambak, limbah organik juga tersuspensi dalam air sehingga menghambat penetrasi cahaya matahari ke dasar tambak.
Melimpahnya kerang pada dasar perairan merupakan indikasi tingginya kandungan nutrien pada dasar perairan
Limbah tambak yang terdiri dari sisa pakan (uneaten feed), kotoran udang (feces), dan pemupukan terakumulasi di dasar tambak maupun tersuspensi dalam air. Limbah ini terdegradasi melalui proses mikrobiologi dengan menghasilkan amonia, nitrit, nitrat, dan fosfat (Zelaya et al., 2001). Nutrien ini merangsang tumbuhnya algae/plankton yang dapat menimbulkan blooming. Sementara itu beberapa hasil degradasi limbah organik bersifat toksik terhadap udang pada level tertentu. Terjadinya die off plankton dapat juga menyebabkan udang stress dan kematian karena turunnya kadar oksigen terlarut. Limbah tambak udang mengandung lebih banyak bahan organik, nitrogen, dan fosfor dibanding tanah biasa serta mempunyai nilai BOD dan COD yang lebih tinggi (Latt, 2002).

10. Nutrien
Dua nutrien yang paling penting di tambak adalah nitrogen dan fosfor, karena kedua nutrien tersebut keberadaannya terbatas dan dibutuhkan untuk pertumbuhan fitoplankton (Boyd, 2000). Keberadaan kedua nutrien tersebut di tambak berasal dari pemupukan dan pakan yang diberikan.
Terlalu banyak kandungan nutrien pada perairan dapat mengakibatkan blooming alga
11. Nitrogen
Nitrogen biasanya diaplikasikan sebagai pupuk dalam bentuk urea atau amonium. Di dalam air, urea secara cepat terhidrolisis menjadi amonium yang dapat langsung dimanfaatkan oleh fitoplankton. Melalui rantai makanan, nitrogen pada fitoplankton akan dikonversi menjadi nitrogen protein pada ikan. Sedangkan nitrogen dari pakan yang diberikan pada ikan, hanya 20-40% yang dirubah menjadi protein ikan, sisanya tersuspensi dalam air dan mengendap di dasar tambak (Boyd, 2002).
Siklus nitrogen pada suatu perairan
Amonium dapat juga teroksidasi menjadi nitrat oleh bakteri nitrifikasi yang dapat dimanfaatkan langsung oleh fitoplankton. Nitrogen organik pada plankton yang mati dan kotoran hewan air (feces) akan mengendap di dasar menjadi nitrogen organik tanah. Nitrogen pada material organik tanah akan dimineralisasi menjadi amonia dan kembali ke air sehingga dapat dimanfaatkan kembali oleh fitoplankton (Durborow, 1997).

12. Fosfor
Fosfor yang ada yang ada dalam tambak budidaya berasal dari pupuk seperti ammoniumfosfat dan calsiumfosfat serta dari pakan. Fosf

Siklus fosfor pada suatu perairan
or yang ada dalam pakan tidak semua dikonversi menjadi daging ikan/udang. Menurut Boyd (2002), dua pertiga fosfor dalam pakan terakumulasi di tanah dasar. Sebagian besar diikat oleh tanah dan sebagian kecil larut dalam air. Fosfor dimanfaatkan oleh fitoplankton dalam bentuk ortofosfat (PO4 3-) dan terakumulasi dalam tubuh ikan/udang melalui rantai makanan. Phosphat yang tidak diserap oleh fitoplankton akan didikat oleh tanah. Kemampuan mengikat tanah dipengaruhi oleh kandungan liat (clay) tanah. Semakin tinggi kandungan liat pada tanah, semakin meningkat kemampuan tanah mengikat fosfat.


Sumber : Vutut Tuntun

Semoga Bermanfaat...

Friday, October 5, 2018

Parameter Kualitas Air : Parameter Fisika Kualitas Air

Faktor fisika air merupakan variabel kualitas air yang penting karena dapat mempengaruhi variabel kualitas air yang lainnya. Faktor fisika yang besar pengaruhnya terhadap kualitas air adalah cahaya matahari dan suhu air. Kedua faktor ini berkaitan erat, dimana suhu air terutama tergantung dari intensitas cahaya matahari yang masuk ke dalam air. Cahaya matahari dan suhu air merupakan faktor alam yang sampai saat belum bisa dikendalikan.

1. Cahaya Matahari
Cahaya matahari mempunyai peranan yang sangat besar terhadap kualitas air secara keseluruhan, karena dapat mempengaruhi reaksi-reaksi yang terjadi dalam air. Penetrasi cahaya matahari ke dalam air terutama dipengaruhi oleh sudut jatuh cahaya terhadap garis vertikal. Semakin besar sudut jatuhnya, maka penetrasi cahaya matahari semakin menurun. Cahaya akan berubah kualitas spektrumnya dan turun intensitasnya setelah menembus massa air disebabkan karena dispersi dan absorpsi yang berbeda-beda oleh lapisan air. Pada air murni kira-kira 53% dari cahaya yang masuk akan ditransformasi ke dalam bentuk panas dan selanjutnya akan padam pada kedalaman kurang dari satu meter (Boyd, 1990). Cahaya dengan panjang gelombang panjang (merah dan jingga) dan panjang gelombang pendek (ultra violet dan violet) lebih cepat padam dibandingkan dengan panjang gelombang sedang atau intermediate (biru, hijau dan kuning).
Cahaya matahari
 Turbiditas (kekeruhan) akan menurunkan kemampuan air untuk meneruskan cahaya kedalamnya. Di kolam, turbiditas dan warna air disebabkan oleh koloid dari partikel-pertikel lumpur, organik tcrlarut dan yang paling besar disebabkan oleh densitas plankton (Hargreaves, 1999). Cahaya matahari sangat diperlukan oleh tumbuhan air sebagai sumber energi untuk melakukan fotosintesis. Sebagai produsen primer, tumbuhan hijau melakukan fotosintesis untuk menghasilkan oksigen dan bahan organik, yang akan dimanfaatkan oleh hewan yang lebih tinggi tingkatannya dalam rantai makanan (Ghosal et al. 2000).

2. Suhu Air
Suhu air dipengaruhi oleh : radiasi cahaya matahari, suhu udara, cuaca dan lokasi. Radiasi matahari merupakan faktor utama yang mempengaruhi naik turunnya suhu air. Sinar matahari menyebabkan panas air di permukaan lebih cepat dibanding badan air yang lebih dalam. Densitas air turun dengan adanya kenaikan suhu sehingga permukaan air dan air yang lebih dalam tidak dapat tercampur dengan sempurna. Hal ini akan menyebabkan terjadinya stratifikasi suhu (themal stratification) dalam badan air, dimana akan terbentuk tiga lapisan air yaitu : epilimnion, hypolimnion dan thermocline.
  • Epilimnion adalah lapisan atas yang suhunya tinggi.
  • Hypolimnion adalah lapisan bawah yang suhunya rendah.
  • Thermocline adalah lapisan yang berada di antara epilimnion dan hypolimnion yang suhunya turun secara drastis (Boyd, 1990). Dalam kolam budidaya, kondisi semacam ini dapat diatasi dengan pengadukan air oleh aerator atau kincir (paddle wheel).

Thermometer digunakan untuk mengukur suhu
Air mempunyai kapasitas yang besar untuk menyimpan panas sehingga suhunya relatif konstan dibandingkan dengan suhu udara (boyd, 1990). Perbedaan suhu air antara pagi dan siang hari hanya sekitar 2°C, misalnya suhu pagi 28°C suhu siang 30°C. Energi cahaya matahari sebagian besar diabsorpsi di lapisan permukaan air. Semakin ke dalam energinya semakin berkurang. Konsentrasi bahan-bahan terlarut di dalam air akan menaikkan penyerapan panas. Terjadinya transfer panas dari lapisan atas ke lapisan bawah tergantung dari kekuatan pengadukan air (angin, kincir, dan sebagainya).

Suhu air sangat berpengaruh terhadap proses kimia maupun biologi dalam air. Reaksi kimia dan biologi naik dua kali setiap terjadi kenaikan 10⁰C. Aktivitas metabolisme organisme akuatik juga naik dan penggunaan oksigen terlarut menjadi dua kali lipat. Penggunaan oksigen terlarut dalam penguraian bahan organik juga meningkat secara drastis (Howerton, 2001).

Berdasarkan pada penelitian Wasielesky (2003), suhu mempengaruhi metabolisme udang putih (L. vannamei). Pada suhu 23⁰C, 27⁰C dan 30⁰C, menunjukkan bahwa nafsu makan udang paling tinggi terjadi pada suhu 30oC. Sedangkan berdasarkan penelitian Jackson dan Wang (1998), pertumbuhan udang windu (Penaeus monodon) pada suhu 30⁰C dengan umur 180 hari mencapai 34 g dan pada suhu 20⁰C hanya mencapai 20 g pada umur yang sama.

3. Kecerahan
Kecerahan (transparancy) perairan dipengaruhi oleh bahan-bahan halus yang melayang-layang dalam air baik berupa bahan organik seperti plankton, jasad renik, detritus maupun berupa bahan anorganik seperti lumpur dan pasir (Hargreaves, 1999).
Secchi disk digunakan untuk mengukur tingkat kecerahan perairan
Dalam kolam budidaya, kepadatan plankton memegang peranan paling besar dalam menentukan kecerahan meskipun partikel tersuspensi dalam air juga berpengaruh. Plankton tersebut akan memberikan warna hijau, kuning, biru-hijau, dan coklat pada air (Boyd, 2004a). Selanjutnya dikatakan bahwa kedalaman air yang dipengaruhi oleh sinar matahari (photic zone) di danau atau tambak sekitar dua kali nilai pengamatan dengan menggunakan secchi disk. Semakin kecil kecerahan berarti semakin kecil sinar matahari yang masuk sampai dasar tambak yang dapat mempengaruhi aktvitas biota di daerah tersebut.

4. Muatan Padat Tersuspensi
Muatan padatan tersuspensi (MPT) berasal dari zat organik dan anorganik. Komponen organik terdiri dari fitoplankton, zooplankton, bakteri dan organisme renik lainnya. Sedangkan komponen anorganik terdiri dari detritus partikelpartikel anorganik (Hargreaves,1999). Selanjutnya dikatakan bahwa MPT berpengaruh terhadap penetrasi cahaya matahari ke dalam badan air. Hal ini berpengaruh pada tingkat fotosintesis tumbuhan hijau sebagai produsen primer yang memanfaatkan sinar matahari sebagai energi utama. Kekeruhan karena plankton jika tidak berlebihan bermanfaat bagi ekosistem tambak. Jika densitas plankton terlalu tinggi akan menyebabkan fluktuasi beberapa kualitas air seperti pH dan oksigen terlarut.
Kekeruhan air bisa diakibatkan oleh banyaknya mutan padat tersuspensi

Semoga Bermanfaat...

Wednesday, October 3, 2018

Parameter Kualitas Air : Sumber Air Untuk Budidaya Perikanan

Air adalah komponen penting dalam budidaya perikanan, karena di dalam air ikan dan hewan air lainnya hidup, tumbuh, dan berkembang. Cara yang umum dilakukan dalam pengelolaan kualitas air pada budidaya perikanan adalah melakukan pergantian air secara berkala. Dengan cara demikian air di dalam kolam akan selalu berganti dan mutunya tetap terjaga dan memenuhi kebutuhan ikan untuk hidup.

Air yang dapat digunakan sebagai budidaya ikan harus mempunyai standar kuantitas dan kualitas yang sesuai dengan persyaratan hidup ikan. Air yang dapat digunakan sebagai media hidup ikan harus dipelajari agar ikan sebagai organisme air dapat dibudidayakan sesuai kebutuhan manusia sebagai sumber bahan pangan yang bergizi dan relatif harganya murah. Air yang dapat memenuhi kriteria yang baik untuk hewan dan tumbuhan tingkat rendah yaitu plankton sebagai indikator paling mudah bahwa air tersebut dapat digunakan untuk budidaya ikan.
Sungai sebagai salah satu sumber air pada kegiatan budidaya perikanan
Parameter kualitas air pada proses budidaya ikan berperan dalam menciptakan suasana lingkungan hidup ikan, agar perairan kolam mampu memberikan suasana yang nyaman bagi pergerakan ikan yaitu tersedianya air yang cukup untuk menciptakan kualitas air yang sesuai dengan persyaratan hidup ikan yang optimal (kimia air, fisika air, dan biologi air) sesuai dengan parameter yang disyaratkan, tersedianya pakan alami yang cukup dan sesuai, serta terhindarnya dari biota yang merugikan bagi kelangsungan hidup dan perkembangan ikan (hama dan penyakit ikan).

Agar persyaratan kuantitas dan kualitas air budidaya dapat terpenuhi,keberhasilan budidaya ikan sangat dipengaruhi oleh lingkungan perairan. Lingkungan yang baik akan mampu memberikan stimulus bagi pertumbuhan dan perkembangan ikan, sedangkan lingkungan perairan yang kurang baik akan menghambat terhadap stimulus yang diberikan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan ikan.

Pengkondisian kualitas air sebagai upaya menciptakan parameter kualitas air dan kesuburan air agar sesuai dengan persyaratan untuk hidup dan pertumbuhan ikan, agar lingkungan perairan kolam mampu menyediakan suasana yang optimal bagi kehidupan (survival rate) dan pertumbuhan ikan optimal, sehingga pada akhir masa pemeliharaan dapat diperoleh produktifitas kolam yang tinggi.

PENGELOLAAN KUALITAS AIR
1. Sumber Air
Berdasarkan asalnya sumber air yang dapat digunakan untuk kegiatan budidaya ikan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu air permukaan dan air tanah.
  • Air permukaan yaitu : air hujan yang mengalami limpasan/ berakumulasi sementara ditempat tempat rendah misalnya : air sungai, waduk, danau dan rawa. Selain itu air permukaan dapat juga didefenisikan sebagai air yang berada disungai, danau, waduk, rawa dan badan air lainnya yang tidak mengalami infiltrasi kedalam.Sumber air permukaan tersebut sudah banyak dipergunakan untuk kegiatan budidaya ikan.
  • Air tanah yaitu : air hujan yang mengendap atau air yang berada dibawah permukaan tanah. Air tanah yang saat ini digunakan untuk kegiatan budidaya dapat diperoleh melalui cara pengeboran air tanah dengan kedalaman tertentu sampai diperoleh titik sumber air yang akan keluar dan dapat dipergunakan untuk kegiatan budidaya ikan.

Kelebihan air tanah yaitu air tanah memiliki kelebihan airnya bersih, adapun kekurangan air tanah yaitu mempunyai kandungan oksigen yang rendah, kadar karbondioksida yang tinggi dan kandungan besi yang relatif tinggi.

Solusinya dengan menggunakan aerator/kincir air /blower pada air pemeliharaan dan yang utama air tanah tersebut harus diinapkan minimal semalam (12 jam) untuk meningkatkan kadar oksigen terlarut, selain itu jika air tanah mengalami kontak dengan udara akan mengalami proses oksigenasi sehingga ion feri(besi) yang terdapat pada air tanah akan segera mengalami pengendapan dan akan membentuk warna kemerahan pada air. Air tanah mempunyai kandungan oksigen yang rendah karena air ini pergerakannya di dalam tanah sangat lambat dan sangat dipengaruhi oleh porositas, permeabilitas dari lapisan tanah dan pengisian kembali air. Jika sumber air tanah ini dieksploitasi secara besar-besaran maka jumlah air tanah akan semakin berkurang.

Air tanah berdasarkan kandungan salinitasnya merupakan air tawar yang akan dipergunakan untuk budidaya ikan air tawar. Saat ini dibeberapa kota besar yang telah banyak sekali terjadi pengeboran air tanah secara besar-besaran maka kadar salinitas dari air tanah ini mengalami perubahan karena telah tercemar dengan air laut. Oleh karena itu sumber air yang biasa digunakan di kota besar adalah air yang berasal dari PAM. Air PAM ini berasal dari sumber air permukaan dan mengalami proses tertentu sampai diperoleh kualitas air sesuai baku mutu yang diinginkan. Sumber air tersebut dapat dipergunakan untuk budidaya ikan air tawar karena memiliki kandungan oksigen yang cukup dan pH yang stabil. Kekurangan air PAM ini biasanya mengandung klorin/kaporit yang cukup tinggi dan solusinya sama seperti pada air tanah cukup dilakukan pengendapan air pada wadah terpisah minimal semalam yaitu 12 jam.

Kelebihan air permukaan yaitu air permukaan yang dapat digunakan untuk kegiatan budidaya ikan. Berdasarkan kadar garamnya (salinitas) dibagi menjadi tiga yaitu : air tawar, air payau dan air laut.

  • Air tawar adalah air yang memiliki kadar garam (salinitas) antara 0 – 5 ppt.
    Danau merupakan salah satu sumber air tawar untuk kegiatan budidaya perikanan
  • Air payau adalah air yang memiliki kadar garam (salinitas) antara 6 – 29 ppt.
    Muara merupakan salah satu sumber air payau untuk kegiatan budidaya perikanan
  • Air laut adalah air yang memiliki kadar garam (salinitas) antara 30 – 35 ppt.
    Air Laut
Ketiga air ini dapat dipergunakan untuk kegiatan budidaya ikan, pada air tawar dipergunakan untuk membudidayakan ikan air tawar. pada air payau dipergunakan untuk membudidayakan ikan air payau dan air laut untuk membudidayakan ikan air laut.

Air permukaan ini dapat diklasifikasikan berdasarkan lamanya terakumulasi dalam suatu tempat dibagi menjadi dua yaitu perairan tergenang (Lentik) antara lain adalah danau, waduk dan situ, yang kedua adalah perairan mengalir (Lotik) antara lain adalah sungai, saluran irigasi, air laut.

Sumber : 1. Blog Vuut Tuntun 
             2. BPPP Medan

Semoga Bermanfaat...

Tuesday, October 2, 2018

Wadah Budidaya Perikanan : Kolam Tanah

Penggunaan kolam secara tradisional sudah dimulai sejak lama. Karakteristik dari kolam tradisional adalah sistem budidaya terutama hanya memanfaatkan pakan alami yang terdapat dalam kolam. Kepadatan ikan yang dipelihara dalam kolam umumnya rendah, biasanya hanya terdiri atas satu jenis saja (monokultur) sedangkan lahan yang digunakan biasanya relatif luas.

Dari segi penyerapan tenaga kerja, budidaya ikan dengan menggunakan kolam tradisional hanya melibatkan sedikit saja aktivitas manusia. Meskipun demikian, jika prosesnya dilaksanakan dengan sungguh-sungguh akan memberikan beberapa keuntungan antara lain adalah sebagai berikut. Dari segi ekonomi, pembuatan kolam merupakan salah satu cara pemanfaatan lahan pekarangan/lahan kosong sehingga dapat memberikan tambahan penghasilan. Fungsi sosial di mana hasil yang diperoleh akan memberikan tambahan gizi keluarga petani, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kecerdasan bangsa di masa yang akan datang.

Struktur kolam tradisional umumnya masih menggunakan bahan-bahan alami yang tersedia, seperti untuk pematang biasanya digunakan tanah yang dipadatkan, jadi belum menggunakan bahan modern seperti semen, ataupun beton. Saluran pembuangan dan pemasukan air kebanyakan belum dibuat sesuai prinsip efisiensi atau belum di buat secara permanen. Di samping itu kebanyakan petani mengelola kolam tradisional hanya sebagai usaha tambahan di samping mata pencaharian utama mereka sebagai petani. Berdasarkan kondisi seperti dijelaskan di atas, maka kolam tradisional masih digolongkan ke dalam budidaya sistem ekstensif. Budidaya dengan sistem ini sekarang sudah banyak ditinggalkan karena keuntungan yang dihasilkan pada umumnya tidak terlalu besar. Jenis ikan yang dipelihara di kolam antara lain ikan mas (Cyprinus carpio), lele (Clarias batrachus), mujair (Tilapia mozambica), dan nila (Oreochromis nilotica).

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat kolam ikan. Mulai dari menganalisis jenis tanah, kontur lahan, tata letak kolam, irigasi, penggalian, pembuatan tanggul hingga pengaturan sirkulasi air.

JENIS TANAH
Jenis tanah yang paling baik untuk membuat kolam tanah adalah tanah liat berpasir. Jenis tanah ini cukup kedap air, teksturnya solid sehingga pembuatan tanggulnya pun lebih mudah.

Bila tanah yang tersedia terlalu gembur, perlu usaha ekstra agar berfungsi dengan baik. Misalnya dinding kolam diberi lapisan semen atau batu bata. Cara ini efektif mencegah kebocoran, namun biaya kontruksinya jauh lebih mahal.

Cara sederhana menentukan jenis tanah adalah dengan menggenggam segumpal tanah yang telah dibasahi dengan air. Kemudian kepalkan tanah tersebut kuat-kuat. Kemudian buka telapak tangan Anda. Bila di permukaan telapak tangan hanya ada sedikit pasir maka bisa dikatakan tanah liat berpasir. Bila jumlah pasir yang menempel di telapak tangan banyak, tanah tersebut dikategorikan tanah gembur.

KONTUR LAHAN
Setelah menganalisis jenis tanah, amati kontur lahan yang akan dijadikan kolam ikan. Apakah lahan datar atau lahan miring. Kemiringan lahan menentukan metode penggalian dan pembuatan tanggul. Pada lahan miring, pengaturan pola aliran air lebih mudah.

Penggalian tanah di lahan miring cukup dilakukan pada satu sisi. Kemudian tanah hasil galian digunakan untuk membuat tanggul di sisi lain. Sedangkan pada lahan datar, penggalian dilakukan di semua sisi. Hasil galian dijadikan untuk membuat tanggul. Untuk lebih jelasnya, lihat gambar dibawah ini.
Teknik galian pada lahan miring dan lahan datar
PEMATANG KOLAM
Pematang kolam dibuat untuk menahan massa air didalam kolam agar tidak keluar dari dalam kolam. Oleh karena itu jenis tanah yang akan digunakan untuk membuat pematang kolam harus kompak dan kedap air serta tidak mudah bocor.

Jenis tanah yang baik untuk pematang kolam adalah tanah liat atau liat berpasir. Kedua jenis tanah ini dapat diidentifikasi dengan memperhatikan tanah yang ciricirinya antara lain memiliki sifat lengket, tidak poros, tidak mudah pecah dan mampu menahan air. Ukuran pematang disesuaikan dengan ukuran kolam. Tinggi pematang ditentukan oleh kedalaman air kolam, sebaiknya dasar pematang kolam ini ditanam sedalam 20 cm dari permukaan dasar kolam.

Pematang merupakan salah satu bagian yang sangat penting dari konstruksi kolam. Bentuk pematang harus memadai, karena pematang berfungsi untuk :

  • Menahan volume air dalam kolam
  • Menahan luapan air yang timbul karena banjir maupun hujan lebat

Kedua sisi pematang dibuat miring, kemiringan pematang merupakan perbandingan antara sisi tegak dan sisi mendatar sebesar 1 : 1 sampai 1 : 1 ½ . untuk kemiringan pematang bagian luar kolam adalah sebesar 1 : 1 sampai 1 ¼ , sedangkan kemiringan pematang bagian dalam kolam 1 : 1 ½ , kalau tanahnya tanah lempung atau 1 : 1 ¾ kalau tanahnya kurang mengandung tanah lempung. Lebar bagian atas pematang minimal 1.0 meter.

Tinggi pematang disesuaikan dengan luas kolam, sebagai patokan bagian atas pematang harus berada lebih tinggi dari rencana permukaan air kolam. Luas kolam 2.000 m2 tinggi pematang yang muncul diatas air cukup 30 cm, sedangkan untuk kolam dengan luas 4.000 m2 tinggi pematang yang muncul di atas permukaan harus 50 cm. Yang perlu diingat, bahwa penampang melintang sebuah pematang harus seperti bangun trapesium.

Bentuk pematang yang biasa dibuat dalam kolam budidaya ikan ada dua bentuk yaitu berbentuk trapesium sama kaki dan bentuk trapesium tidak sama kaki. Bentuk pematang trapesium sama kaki artinya perbandingan antara kemiringan pematang 1 : 1
Pematang kolam trapesium sama kaki
Untuk menghindari terjadinya erosi, sebaiknya pada pematang ditanami rumput atau tanaman lain yang juga dapat berfungsi sebagai peneduh.

Sedangkan bentuk pematang trapesium tidak sama kaki artinya perbandingan antara kemiringan pematang 1 : 1,5
Pematang kolam trapesium tidak sama kaki

Apabila jenis tanahnya memungkinkan, kolam ikan bisa dibuat hanya dengan menggunakan tanggul tanah. Dari segi konstruksi, pembuatan tanggul tanah lebih murah dan mudah. Berikut langkah-langkah membuat tanggul :
1. Pematang tanah
Kolam pematang tanah
  • Tetapkan luas kolam yang akan digali, tentukan garis batasnya.
  • Kemudian mulai menggali lapisan tanah atas sedalam kurang lebih 10 cm. Pisahkan tanah lapisan atas ini, untuk nanti ditebarkan kembali ke dasar kolam. Tanah bagian atas ini kaya akan bahan organik yang berguna bagi kehidupan ikan.
  • Mulai gali kembali permukaan tanah sedalam 60 cm. Bagian tanah yang ini digunakan untuk membuat pematang. Bersihkan dari batuan, akar atau pun sampah lainnya agar pematang yang disusun tidak bocor.
  • Pematang dibuat dengan penampang berbentuk trapesium. Lebar di bagian bawah dan menyempit di bagian atas. Semakin lebar pematang semakin baik, karena akan semakin kokoh. Tapi tentunya semakin lebar pematang akan memakan tempat. Sesuaikan lebar pematang dengan luas kolam.
  • Sebelum pematang dibuat, sebaiknya gali dasar tanggul sedalam 20-25 cm sebagai pondasi . Kemudian isi dengan tanah hasil galian dan mampatkan. Tanah galian untuk membentuk pematang bisa diairi terlebih dahulu agar solid.
2. Pematang tembok
Pematang tembok diperlukan apabila kita menginginkan kolam yang lebih permanen dan jenis tanah yang ada tidak memungkinkan untuk membuat pematang tanah. Tembok bisa digunakan sebagai pelapis atau pembatas. Sebagai pelapis artinya, lapisan tembok hanya memperkuat pematang tanah. Biasanya diterapkan pada kolam tunggal.
Kolam pematang tembok
Untuk jumlah kolam yang banyak, biasanya seluruh pematang dibuat dari lapisan batu-bata dan adukan semen atau dibeton. pematang menjadi pembatas antara kolam yang satu dengan kolam yang lain. Pembuatan pematang dari tembok tentunya memerlukan biaya yang jauh lebih besar daripada tanggul tanah.

DASAR KOLAM BUDIDAYA
Dasar kolam untuk budidaya ikan ini dibuat miring ke arah pembuangan air, kemiringan dasar kolam berkisar antara 1-2% yang artinya dalam setiap seratus meter panjang dasar kolam ada perbedaan tinggi sepanjang 1-2 meter .

Cara pengukuran yang mudah untuk mengetahui kemiringan dasar kolam adalah dengan menggunakan selang air yang kecil. Pada masing-masing ujung pintu pemasukan dan pintu pengeluaran air ditempatkan sebatang kayu atau bambu yang sudah diberi ukuran, yang paling bagus meteran, kemudian selang kecil yang telah berisi air direntangkan dan ditempatkan pada bambu, kayu atau meteran. Perbedaan tinggi air pada ujungujung selang itu menunjukkan perbedaan tinggi tanah/ kemiringan dasar kolam.
Kemiringan dasar kolam budidaya ikan
KEMALIR
Kemalir atau parit dangkal yang berada pada bagian tengah atau sekeliling tepi kolam merupakan bagian kolam yang cukup penting. Fungsi kemalir sebagai tempat berlindung ikan terhadap serangan hama, bahaya kekeringan dan sengatan matahari, serta sebagai tempat berkumpulnya ikan pada saat akhir penangkapan ikan.

Ukuran kemalir tergantung pada luas kolam. Bila luas kolam kecil (100 – 500 m2), kemalir dapat dibuat dengan ukuran lebar 1 meter dengan kedalaman 30 cm. Bila kolam lebih luas lagi, kemalir dapat dibuat dengan ukuran lebar 2 – 2,5 meter dengan kedalaman 50 cm.

Saluran air didasar kolam
INLET DAN OUTLET AIR KOLAM
Pintu pemasukkan dan pengeluaran air sangat penting bagi suatu kolam, agar sirkulasi air dapat lancar. Secara tradisional, pintu pemasukkan atau pengeluaran air dapat terbuat dari batang bambu atau pipa PVC. Pintu pemasukkan air diletakkan menembus pada bagian atas pematang kolam, sedangkan pintu pengeluaran air terletak didasar kolam dan sejajar dengan dasar kemalir, menembus pematang kolam sampai kebagian luar kolam. Setiap pintu air ini dilengkapi dengan saringan yang terbuat dari anyaman bambu. Saringan ini berfungsi untuk mencegah masuknya sampah atau ikan lain kedalam kolam atau mencegah keluar ikan yang sedang dipelihara. Setiap saat pintu ini harus diperiksa agar jangan sampai tersumbat oleh kotoran.
Penampang melintang kolam tradisional
Keterangan gambar:
P = pematang
PA = Permukaan Air
B1 = pintu pengeluaran air dengan saringan
DK = dasar kolam
B2 = pintu pemasukkan dengan saringan
K = kemalir


Sumber : 
3. Modul Keteknikan Budidaya Perikanan

Semoga Bermanfaat...

Monday, October 1, 2018

Poin - Poin Cara Budidaya Ikan Yang Baik (CBIB)

Perdagangan bebas antar negara yang sebentar lagi akan diberlakukan, menuntut para pelaku pasar untuk meningkatkan daya saing produknya. Bukan hanya berkualitas, namun juga dengan harga yang murah. Persaingan produk bukan hanya dalam tataran lokal, namun juga akan bertarung dengan pesaing dari luar negeri. Apabila pelaku pasar tidak dapat meningkatkan daya saing produknya, bukan tidak mungkin produk-produk dari luar negeri yang berkualitas tinggi dan murah akan membanjiri pasar dalam negeri, dan menjadi idola konsumen lokal.

Perdagangan bebas antar negara berlaku juga untuk produk-produk perikanan. Untuk dapat bertarung dengan produk-produk perikanan dari luar negeri, kita tentu harus memiliki kualitas produk perikanan yang baik dan juga harga produk yang murah. Nilai kualitas suatu produk didasarkan pada suatu pengakuan system jaminan mutu (standard mutu) pada masing-masing negara berdasarkan transparasi, objektivitas dan kepercayaan. Disamping itu, produk perikanan juga diharapkan aman untuk dikonsumsi dan ramah lingkungan.
Ilustrasi ikan hias yang sehat
Beberapa negara pengimport produk-produk perikanan, memberlakukan aturan yang ketat dan melakukan pemeriksaan sebelum produk perikanan yang masuk ke negaranya beredar bebas. Diantaranya adalah memeriksa residu logam berat dan anti biotik serta kandungan bakteri yang ada. Mereka memberlakukan standard yang ketat dengan memberi nilai ambang batas kandungan-kandungan bahan atau organisme berbahaya tersebut.

Jadi jangan pernah mimpi produk ikan kita akan diterima pasar bebas, apabila kita masih memelihara lele di kolam yang juga berfungsi sebagai jamban, atau mengobati ikan dengan obat yang mengandung antibiotik tinggi. Mungkin saat ini kita beranggapan bahwa toh produk perikanan kita hanya dijual pada pedagang lokal, jadi tidak masalah apabila masih melakukan hal tersebut. Namun ke depan apabila pasar kita sudah dibanjiri produk perikanan dari Vietnam atau RRC yang terkenal murah dan juga siap olah (berupa fillet), kita baru akan sadar dan mulai memperhatikan masalah mutu.

Agar kita tidak terlambat dalam mengantisipasi hal tersebut, ada baiknya apabila kita memulai untuk melakukan sebuah tindakan yang kongkrit dalam meningkatkan mutu produk perikanan kita.

Penerapan Cara Budidaya Ikan Yang Baik (CBIB) merupakan salah satu upaya menciptakan ikan yang berkualitas. CBIB adalah penerapan cara memelihara dan atau membersarkan ikan serta mamanen hasilnya dalam lingkungan yang terkontrol sehingga memberikan jaminan pangan dari pembudidayaan dengan memperhatikan sanitasi, pakan obat ikan dan bahan kimia serta bahan biologi.

Ada beberapa poin yang harus diperhatikan dalam penerapan CBIB, berikut poin - poin tersebut :

1. LOKASI
Unit usaha budidaya berada pada lingkungan yang sesuai, bebas banjir, pencemaran bahan kimiawi, biologis, selengkapnya dapat dilihat disini Pemilihan Lokasi.
Ilustrasi wadah budidaya ikan yang baik

2. SUPLAI AIR
Saluran air
3. TATA LETAK DAN DESAIN
Unit usaha budidaya mempunyai desain dan tata letak yang dapat mencegah pencemaran lingkungan dan dibuat untuk memenuhi persyaratan pertumbuhan dan perkembangan ikan. Toilet, septic tank, gudang dan fasilitas lainnya terpisah dan tidak berpotensi mengkonta-minasi produk budidaya.

Unit usaha budidaya memiliki fasilitas pembuangan limbah yang ditempatkan di area yang sesuai. Wadah budidaya di-desain dan dibangun agar menjamin kerusakan fisik dan kenyamanan ikan selama pemeliharaan dan panen, selengkapnya dapat dilihat di Wadah Budidaya Perikanan.

Ilustrasi tata letak dan desain budidaya ikan
4. KEBERSIHAN FASILITAS DAN PERLENGKAPAN
Unit usaha budidaya dan lingkungannya dijaga kondisi kebersihan&higienis.  Wadah, perlengkapan dan fasilitas budidaya dibuat dari bahan yang tidak menyebabkan Pencemaran lingkungan dan tidak melukai ikan.

Fasilitas dan perlengkapan dijaga dalam kondisi higienis dan dibersihkan sebelum dan sesudah digunakan; serta (bila perlu) didesinfeksi dengan desinfektan yang diizinkan.
Sarana dan prasarana budidaya ikan
5. PERSIAPAN WADAH BUDIDAYA
Wadah budidaya dipersiapkan dengan baik sebelum penebaran benih. Dalam persiapan wadah dan air, hanya menggunakan pupuk, probiotik dan bahan kimia  yang direkomendasikan.

Wadah budidaya ikan
6. PENGELOLAAN AIR
Dilakukan upaya filterisasi air atau pengendapan serta menjamin kualitas air yang sesuai untuk ikan yang dibudidayakan. Monitor kualitas air sumber secara rutin untuk menja min kesehatan & kebersihan ikan yang dibudidayakan. Pengolahan air sesuai sumber air dan jenis ikan yang dibudidayakan (Kesadahan, pH, suhu, CO2).
Sistem filtrasi pada budidaya ikan
Sumber : Panduan Cara Budidaya Ikan Yang Baik

Semoga Bermanfaat...