Lalaukan

Informasi dunia kelautan dan perikanan serta kegiatan penyuluhan perikanan

Friday, June 7, 2019

Penyakit Bakterial Ikan : Streptococcus agalactiae, S. iniae

Bio – Ekologi Pathogen :
  • Bakteri gram positif, berbentuk bulat kecil (cocci), bergabung menyerupai rantai, non-motil, koloni transparan dan halus.
  • Infeksi Streptococcus iniae sering terjadi pada budidaya ikan air laut (kakap, kerapu), sedangkan S. agalactiae lebih banyak ditemukan pada ikan budidaya air tawar (nila). Pola serangan kedua jenis bakteri tersebut umumnya bersifat kronik – akut.
  • Target organ infeksi Streptococcus spp. banyak ditemukan di otak dan mata, sehingga disebut “syndrome meningoencephalitis dan panophthalmitis”. Penyakit ini sering dilaporkan pada sistem budidaya intensif, lingkungan perairan tenang (stagnant) dan/atau sistem resirkulasi.
  • Secara kumulatif, akibat serangan penyakit ini dapat menimbulkan mortalitas 30-100% dari total populasi selama masa pemeliharaan; dan penyakit ini merupakan kendala potensial yang harus diantisipasi berkenaan dengan program intensifikasi dan peningkatan produksi nila nasional.

Gejala Klinis :
  • Menunjukkan tingkah laku abnormal seperti kejang atau berputar serta mata menonjol (exopthalmus).
  • Nafsu makan menurun, lemah, tubuh berwarna gelap, dan pertumbuhan lambat.
  • Warna gelap di bawah rahang, mata menonjol, pendarahan, perut gembung (dropsy) atau luka yang berkembang menjadi borok.
  • Adakalanya. tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas kecuali kematian yang terus berlangsung.
  • Pergerakan tidak terarah (nervous) dan pendarahan pada tutup insang (operculum).
  • Sering pula ditemukan bahwa ikan yang terinfeksi terlihat normal sampai sesaat sebelum mati.
Diagnosa :
  • Isolasi dan identifikasi bakteri melalui uji bio-kimia.
  • Deteksi gen bakteri melalui teknik polymerase chain reaction (PCR)
Benih ikan nila yang terinfeksi Streptococcus agalactiae, menunjukkan gejala biexopthalmia
Ikan nila yan terifeksi Streptococcus agalactiae, menunjukkan gejala ulcer (borok) serius
Pengendalian :
  • Desinfeksi sarana budidaya sebelum dan selama proses pemeliharaan ikan.
  • Pencegahan secara dini (benih) melalui vaksinasi anti Streptococcus spp.
  • Pemberian unsur immunostimulan (misalnya penambahan vitamin C pada pakan) secara rutin selama pemeliharaan.
  • Memperbaiki kualitas air secara keseluruhan, terutama mengurangi kadar bahan organik terlarut dan/atau meningkatkan frekuensi penggantian air baru.
  • Pengelolaan kesehatan ikan secara terpadu (ikan, lingkungan dan patogen).
Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

No comments:

Post a Comment