Lalaukan

Informasi dunia kelautan dan perikanan serta kegiatan penyuluhan perikanan

Friday, July 5, 2019

Penyakit Virus Pada Ikan : White Spot Syndrome Virus (WSSV)

White syndrome disease dikenal juga dengan nama white spot disease (WSD) merupakan penyakit menular akibat virus yang menyerang udang jenis Penaeid. Penyakit lain yang juga sering ditemukan pada udang adalah penyakit yang disebabkan oleh adanya infeksi hepatopancreatic parvovirus (HPV) dan monodon baculovirus (MBV). Berkenaan dengan infeksi virus WSSV, beberapa jenis udang Penaeid yang dibudidayakan dapat menjadi inang bagi WSSV, yaitu P. monodon, Marsupenaeus, L. vannamei, dan Fenneropenaeus. Beberapa jenis crustacea lainnya seperti rajungan (Portunus spp), lobster (Panulirus spp dan Cherax spp), kepiting (Scylla spp), serta udang air tawar (Macrobrachium spp) juga dapat terinfeksi WSSV.

Penyakit ini disebabkan oleh white spot syndrome virus (WSSV), yaitu suatu jenis virus yang memiliki envelope, berbentuk batang (rod) yang mengandung double-stranded DNA genom. Virus WSSV dikelompokkan ke dalam anggota Keluarga Nimaviridae. Virus ini menginfeksi berbagai jenis
crustacean, khususnya udang. Udang yang terkena penyakit ini memiliki gejala klinis, yaitu munculnya bintik-bintik putih berdiameter 0.5-2.0 mm, perubahan warna menjadi kemerahan, dan pelepasan kutikula udang. Luka sering dijadikan indikasi kerusakan sistemik jaringan ektodermal dan mesodermal, termasuk jaringan haemopoietic, insang, epitelium subkutikula, epidermis kutikula perut, dan organ lymphoid. Indikasi terinfeksinya jaringan ditunjukkan oleh adanya titik nekrosis yang tersebar dan sel-sel yang terdegenerasi diitandai dengan adanya inti-inti yang mengalami hiperthrophy (membesar) dengan kromatin yang terpinggirkan, inklusi intranuklear eosinofil sampai basofil, dan enkapsulasi hemosit dari sel nekrosis terlihat sebagai massa berwarna coklat di dalam perut. Bentuk infeksi dan morfologi WSSV dapat dilihat pada Gambar 25.

Bentuk infeksi dan morfologi wssv

Penyebab : White Spot Baculovirus Complex

Bio – Ekologi Patogen :
  1. Memiliki kisaran inang yang luas yaitu golongan udang penaeid (Penaeus monodon, P. japonicus, P. chinensis, P. indicus, Litopenaeus vannamei, dll.) serta beberapa krustase air.
  2. Sangat virulen dan menyebabkan kematian hingga 100% dalam beberapa hari. Individu yang bertahan hidup pada saat terjadi kasus tetap berpotensi sebagai carrier.

Penularan umumnya terjadi melalui kanibalisme terhadap udang yang sakit dan mati, atau langsung melalui air. Beberapa jenis krustase juga diketahui sangat potensial sebagai pembawa (carriers).
  1. Burung dapat menularkan WSSV dari satu petak tambak ke petak lainnya melalui bangkai udang yang lepas dari gigitannya.
  2. WSSV mampu bertahan dan tetap infektif di luar inang (di dalam air) selama 4-7 hari.

Gejala Klinis :
  1. Infeksi akut akan mengakibatkan penurunan konsumsi pakan secara drastic
  2. Lemah, berenang ke permukaan air, tidak tidak terarah atau mengarah ke pematang tambak
  3. Tampak bercak putih di karapas dan rostrum, tidak selalu tampak pada fase acute tetapi akan tampak pada fase subacute dan kronis
  4. Udang yang sekarat umumnya berwarna merah kecoklatan atau pink
  5. Populasi udang dengan gejala-gejala tersebut umumnya akan mengalami laju kematian yang tinggi hingga 100% dalam tempo 3-10 hari.

Diagnosa :
Polymerase Chain Raection (PCR)

Udang windu yang terinfeksi white spot syndrome virus (WSSV),
tampak adanya bercak putih di seluruh tubuhnya

Karapas udang vannamei yang terinfeksi white spot syndrome virus
(WSSV), penuh dengan bercak putih

Pengendalian :
  1. Belum ada teknik pengobatan yang efektif, oleh karena itu penerapan biosecurity total selama proses produksi (a.l penggunaan benur bebas WSSV, pemberian pakan yang tepat jumlah dan mutu, stabilitas kuialitas lingkungan) sangat dianjurkan.
  2. Menjaga kualitas lingkungan budidaya agar tidak menimbulkan stress bagi udang (misalnya aplikasi mikroba esensial: probiotik, bacterial flock, dll.).
  3. Desinfeksi suplai air dan pencucian dan/atau desinfeksi telur dan nauplius juga dapat mencegah transmisi vertikal
  4. Pemberian unsur imunostimulan (misalnya suplementasi vitamin C pada pakan) selama proses pemeliharaan udang.
  5. Teknik polikultur udang dengan spesies ikan (mis: tilapia) dapat dilakukan untuk membatasi tingkat patogenitas virus WSSV dalam tambak, karena ikan akan memakan udang terinfeksi sebelum terjadi kanibalisme oleh udang lainnya.

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

No comments:

Post a Comment