Kegiatan Penyuluhan

Kegiatan Penyuluhan Perikanan Bertujuan Meningkatkan Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan Pelaku Utama dan Pelaku Usaha Perikanan.

Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP)

P2MKP Memberdayakan Pelaku Utama Perikanan dan Masyarakat.

Pelatihan Kelautan dan Perikanan

Meningkatkan keterampilan para pelaku utama kelautan dan perikananm.

AUTO MATIC FEEDER

Solusi Memberi Makan Ikan Menjadi Mudah Dan Tepat.

Wednesday, August 28, 2013

EKONOMI BIRU


Dalam dekade terakhir ini konsepsi ekonomi biru semakin sering diperbincangkan sebagai alternatif kebijakan dalam mencapai peningkatan kesejahteraan masyarakat, ekonomi biru menawarkan  aktivitas ekonomi yang mengedepankan kelestarian lingkungan, menggerakkan perekonomian yang rendah karbon (low carbon economy) dengan meninggalkan praktek ekonomi yang mementingkan keuntungan jangka pendek, yang mengeksploitasi sumber daya alam dan lingkungan.

Gunter Pauli
Konsep ekonomi biru  pertama kali diperkenalkan   oleh   Gunter  Pauli, Pendiri Zero Emissions Research Institute,   pada bukunya  (2010)  yang berjudul Blue Economy: 10 Years-100 initiatives-100 Milion Jobs” buku ini mengungkapkan tujuan akhir dari model ekonomi biru,  yang akan menggeser masyarakat dari kelangkaan menuju  kelimpahan dengan apa yang dimiliki, beberapa prinsip pokok pemikiran  Gunter Pauli  terkait konsep ekonomi biru,  setidaknya mengacu pada  efesiensi sumber daya, nirlimbah (zero waste), inklusi sosial, pemerataan sosial dan kesempatan kerja bagi orang miskin, inovasi dan adaptasi serta  efek ekonomi pengganda.

Lesson Learn  dari implementasi Ekonomi Biru Maroko 

Keberhasilan Pemerintah Maroko dalam memanfaatkan sumber daya alam  secara berkelanjutan dengan prinsip ekonomi biru dan teknologi yang ramah lingkungan dapat dijadikan pelajaran berharga bagi upaya  meningkatkan pendapatan nelayan maupun perekonomian negara. Kendati Maroko sebuah negara kecil, mereka mampu meningkatkan pemanfaatan SDA hingga berlipat ganda, sebelumnya, pendapatan nelayan di Maroko hanya US$2.000 per bulan, namun setelah menerapkan prinsip-prinsip ekonomi biru, naik menjadi US$10.000 per bulan.

Pada saat yang sama, kinerja ekspor  tetap dapat terjaga,  kendati volume ekspor hasil kelautan turun, tetapi nilainya tetap naik,  nelayan di Maroko tidak mengunakan jaring dalam menangkap ikan dan perahu serta  tidak menggunakan bakan bakar minyak, tetapi menggunakan tenaga angin dan surya serta tenaga arus, disamping ramah lingkungan, prinsip inklusi sosial tetap terpelihara karena tidak ada dominasi penguasaan aset ekonomi kelautan pada kelompok besar dan pemiliki modal  yang terbukti menimbulkan kesenjangan pendapatan. 

Ekonomi Biru dan relevansinya bagi Indonesia

Presiden RI dalam  Konferensi Pembangunan Berkelanjutan PBB  Rio+20 di Rio de Janeiro, Brasil, Juni 2012,  menawarkan gagasan akan  perlunya dikembangkan blue economy  dalam mendukung pembangunan berkelanjutan,    ajakan kepada dunia agar berpaling ke laut dan guna mendorong kesadaran global  terhadap pengelolaan laut dan sumber daya pesisir. Prinsip ekonomi biru dinilai tepat dalam membantu dunia untuk menghadapi tantangan perubahan iklim,  sehingga dapat terwujudnya pembangunan berkelanjutan secara terpadu dan selaras dengan  upaya pengentasan kemiskinan, gagasan tersebut mendapatkan apresiasi yang sangat tinggi dari masyarakat internasional.  

Sebagai tindaklanjutnya,  gagasan besar Presiden RI tersebut  telah diangkat sebagai topik bahasan dalam berbagai forum kerjasama internasional, antara lain  pada pertemuan tingkat 'Senior Officials Meeting (SOM) for the Asia Pacific Economic Cooperation' (APEC)  dan puncaknya,   pada pada 2013,  Indonesia akan menjadi tuan rumah terkait Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik APEC,  yang antara  lain  menjadikan  ekonomi biru  sebagai salah satu agenda  yang akan dibahas,  sekaligus membuktikan keseriusan Indonesia   membawa diskusi ekonomi biru pada tingkat bilateral dan multilateral .

Bagi Indonesia pengembangan ekonomi biru bukanlah tanpa alasan, mengingat luas laut Indonesia lebih kurang 5,8 juta km2 atau 2/3 luas wilayah RI dengan garis pantai sepanjang 95.181 km atau terpanjang kedua didunia setelah Kanada, dengan potensi sumberdaya, terutama sumberdaya perikanan laut yang cukup besar, baik dari segi kuantitas maupun diversitas.

Wilayah laut Indonesia yang dimulai dari laut teritorial, Zona Tambahan (contiguous zone), Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) sampai dengan Landas Kontinen (continental shelf), memiliki sumberdaya alam yang sangat berlimpah, baik sumberdaya terbaharukan (renewable resources) seperti perikanan, terumbu karang dan mangrove maupun sumberdaya tak terbaharukan (non-renewable resources) seperti minyak bumi, gas, mineral dan bahan tambang lainnya.

Laut memiliki peran geoekonomi yang sangat vital bagi kemakmuran bangsa Indonesia dalam 11 sektor ekonomi. Sebelas sektor itu di antaranya perikanan tangkap, perikanan budi daya, industri pengolahan hasil perikanan, industri bioteknologi kelautan, pertambangan dan energi, pariwisata bahari, transportasi laut, kehutanan, sumber daya wilayah pulau-pulau kecil, industri dan jasa maritim, serta sumber daya alam nonkonvensional, diperkirakan  potensi  ekonomi  laut Indonesia sekitar 1,2 triliun dolar AS per tahun, atau dapat dikatakan setara dengan 10 kali APBN negara pada 2012. 

Sayangnya, potensi ekonomi kelautan yang sangat besar itu ibarat raksasa yang tertidur, belum dapat kita transformasikan menjadi sumber kemajuan dan kemakmuran bangsa.
Menyatukan visi mentransformasi potensi menjadi sumber kemakmuran bangsa

Salah satu cara untuk mencapai transformasi potensi untuk ekonomi biru melalui konservasi keanekaragaman hayati yang berpusat pada rakyat,  dengan tetap memperhatikan kearifan lokal. Pendekatan ini fokus pada "win-win" yang mengakomodasi kebutuhan dan aspirasi melalui konsultasi termasuk semua pemangku kepentingan. Namun, perlu dibarengi dengan pelestarian  ekosistem yang menyediakan makanan, mata pencaharian dan pendapatan kepada masyarakat setempat.

Masyarakat pesisir dan nelayan perlu diedukasi akan pentingnya memelihara ekosistem dengan menghilangkan praktik-praktik “jalan pintas” dalam memanfaatkan nilai ekonomi kelautan dan perikanan  yang ada, misalnya praktik menangkap ikan dengan bom  ikan, mereduksi pengembangan wisata bahari yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan, serta kegiatan eksplorasi sumber daya  tak terbaharukan  tanpa  mengindahkan keberlanjutan pemanfaatannya pada masa mendatang.

Pendekatan  ini dapat berkembang  dengan  mensinergikan pengelolaan ekosistem laut dengan ketahanan pangan, strategi pembangunan ekonomi dan sosial, serta  transisi ekonomi,  pasar, industri dan masyarakat menuju pola yang lebih berkelanjutan terhadap penggunaan sumber daya kelautan dan pesisir dari waktu ke waktu.

Kolaborasi dan integrasi antara dunia pendidikan atau riset, pemerintah dan swasta adalah kata kunci suksesnya implementasi  ekonomi biru, diperlukan manajemen pesisir dan laut  terpadu yang berbasis riset agar tercipta inovasi-inovasi baru sehingga  dimiliki daya saing dan nilai tambah dari potensi yang ada  sehingga   kita   tidak  mengalami potential lost.

Perubahan besar sangat diperlukan dalam cara kita menggunakan, mengembangkan dan mengelola potensi yang ada, diperlukan adanya  tekad dan semangat  dari para pemangku kepentingan untuk melihat laut sebagai masa depan ekonomi  bangsa Indonesia  sebagai bangsa bahari/maritim,  menyatukan visi memahami boundary object,  fokus, serta sungguh-sungguh dalam mendorong akselerasi sinergitas dan peningkatan kapabilitas koordinasi sebagai prasyarat utama untuk memastikan seluruh subsistem pendukung bekerja,  karena disanalah kemakmuran dan kesejahteraan bangsa Indonesia di masa datang akan dapat diwujudkan.  

Pendekatan ekonomi biru (blue economy) yang menekankan keberlanjutan diharapkan akan mampu mengatasi ketergantungan antara ekonomi dan ekosistem serta dampak negatif akibat aktivitas ekonomi termasuk perubahan iklim dan pemanasan global, serta bersinergi dengan program pro-poor (pengentasan kemiskinan), pro-growth (pertumbuhan), pro-job (penyerapan tenaga kerja) dan pro-environment  (melestarikan lingkungan).  Semoga.

Tuesday, August 27, 2013

Tipe - Tipe Wadah dan Kemasan Olahan Ikan

WADAH

Wadah dapat dibagi secara garis besar menjadi dua macam tergantung pada penggunaannya, yaitu wadah bagian luar atau wadah pengangkutan dan wadah untuk konsumen atau wadah penjualan. Tujuan utama dari wadah pengangkutan adalah sebagai tempat dan juga untuk melindungi isinya selama pengangkutan dari pabrik ke konsumen. Fungsi dari wadah untuk konsumen atau wadah penjualan yaitu memberikan sejumlah tertentu barang dalam satu unit yang akan dibeli oleh konsumen terakhir.

Ada enam tipe utama wadah bagian luar atau wadah pengangkutan Peti-peti atau krat (crates) dari kayu atau plywood.
  1. Kotak-kotak kayu atau baja (kegs) polywood
  2. Drum-drum baja dan alumunium.
  3. Drum dari fibre board.
  4. Peti-peti dari fibre board yang padat dan bergelombang.
  5. Kantung dari tekstil (yute, katun, linen) 
  6. Karung (bales)

Disamping keenam tipe utama tersebut, ada beberapa tipe yang tersusun dari wadah plastik yang diperkuat dengan dengan fibre glass. Wadah plastik seringkali juga digunakan untuk pengangkutan bahan-bahan cair.

Kelompok utama dari wadah-wadah untuk konsumen atau penjualan adalah :
  1. Kaleng-kaleng logam dan wadah yang bagian tutupnya diperkuat dengan logam.
  2. Botol-botol dan stoples gelas.
  3. Wadah-wadah plastik dengan bermacam-macam bentuk yang kaku atau agak kaku.
  4. Tabung-tabung yang tahan rusak kalau jatuh, baik terbuat dari logam maupun plastik.
  5. Kotak yang dibuat dari kertas tebal dan karton yang kaku dan dapat dilipat.
  6. Wadah dari paper-pulp dengan bermacam-macam bentuk.
  7. Pengemasan yang fleksibel terbuat dari kertas, paper board, plastik tipis, foil, laminats yang digunakan untuk membungkus, kantung, amplop, sachet, pelapis luas dan lain-lain.
Disamping ketujuh tipe utama tersebut, ada beberapa tipe yang tersusun dari wadah plastik yang diperkuat dengan dengan fibre glass. Wadah plastik seringkali juga digunakan untuk pengangkutan bahan-bahan cair.
Kelompok utama dari wadah-wadah untuk konsumen atau penjualan adalah :
  1. Kaleng-kaleng logam dan wadah yang bagian tutupnya diperkuat dengan logam.
  2. Botol-botol dan stoples gelas.
  3. Wadah-wadah plastik dengan bermacam-macam bentuk yang kaku atau agak kaku.
  4. Tabung-tabung yang tahan rusak kalau jatuh, baik terbuat dari logam maupun plastik.
  5. Kotak yang dibuat dari kertas tebal dan karton yang kaku dan dapat dilipat.
  6. Wadah dari paper-pulp dengan bermacam-macam bentuk.
  7. Pengemasan yang fleksibel terbuat dari kertas, paper board, plastik tipis, foil, laminats yang digunakan untuk membungkus, kantung, amplop, sachet, pelapis luas dan lain-lain.
Bahan-bahan Kemasan
Pengelompokan dasar bahan-bahan pengemas yang digunakan untuk bahan pangan termasuk hasil perikanan adalah:
  1. Logam seperti lempeng timah, baja bebas timah, alumunium
  2. Gelas
  3. Plastik, termasuk beraneka ragam plastik tipis, yang berlapis laminates dengan plastik lainnya, kertas atau logam (alumunium)
  4. Kertas, paperboard, fibreboard.
  5. Lapisan (laminate) dari satu atau lebih bahan-bahan di atas
PERUBAHAN-PERUBAHAN YANG TERJADI TERHADAP BAHAN YANG DIKEMAS

Penyimpangan mutu bahan pangan termasuk komoditas perikanan dan produk-produk olahannya adalah penyusutan kualitatif dimana bahan tersebut mengalami penurunan mutu sehingga menjadi tidak layak lagi untuk dikonsumsi manusia. Bahan pangan dikatakan rusak apabila telah mengalami perubahan cita rasa, penurunan nilai gizi, atau tidak aman lagi untuk dikonsumsi karena dapat mengganggu kesehatan. Makanan rusak adalah makanan yang sudah kadaluarsa atau melampaui masa simpan (shelf-life). Makanan kadaluarsa barangkali masih tampak bagus akan tetapi mutunya sudah menurun, demikian pula nilai gizinya.
Selain penyusutan kualitatif dikenal pula penyusutan kuantitatif, yaitu kehilangan jumlah atau bobot, karena penanganan yang kurang baik maupun gangguan biologi (serangan serangga dan tikus). Susut kualitatif dan kuantitatif sangat penting dalam proses pengemasan. Apabila dibandingkan antara kedua jenis susut tersebut, maka susut kuantitatif lebih berperan dalam pengemasan.
Pengemasan sebagai bagian integral dari proses pengolahan dan pengawetan komoditas perikanan dapat pula mempengaruhi mutu, yang disebabkan oleh perubahan-perubahan :
  1. Perubahan fisik dan kimia karena migrasi zat-zat kimia dari bahan kemas (monomer plastik, timah putih, korosi).
  2. Perubahan aroma (flavor), warna, tekstur yang dipengaruhi oleh perpindahan uap air dan oksigen.
DESAIN PENGEMASAN

Untuk menambah daya tarik suatu produk, salah satu rangkaian/bagian pengemasan yang penting untuk diperhatikan adalah desain kemasan. Desain kemasan harus dibuat semenarik dan secantik mungkin untuk menambah nilai jual suatu produk. 
Ketika mendesain kemasan, beberapa unsur yang harus tercantum dalam kemasan antara lain: 
o Nama produk
o Nomor pendaftaran produk
o Komposisi bahan penyusun produk
o Kode produksi
o Berat/volume produk
o Aturan pemakaiannya,
o Tanggal kadaluarsa
o Peringatan akan bahaya samping
o Cara penyimpanan
o Nama pabrik pembuatnya
o Merek dagang
o Kualitas produk

Suatu desain bisa saja menjadi trade mark pada masa tertentu namun kita juga harus mempertimbangkan seberapa lama produk tersebut akan bertahan pada posisinya. Oleh karena itu perlu dipikirkan untuk memperbaharui konsep desain yang telah ada. Inovasi pada kemasan produk memang perlu dilakukan asalkan kemasan baru tersebut tetap mempertahankan beberapa unsur lama.

Hal yang perlu diperhatikan ketika ingin mengubah suatu desain adalah respon dari konsumen. Jangan sampai suatu perubahan dilakukan secara drastis dengan mengubah semua sisi. Hal ini akan berdampak buruk dengan hilangnya citra produk yang kita pasarkan. Ada baiknya kita mengubah sedikit demi sedikit sambil mengenalkan perubahan baru tersebut kepada konsumen. Karena tanpa komunikasi maka kemungkinan kecil perubahan baru tersebut dapat diterima dengan cepat.

Desain kemasan kemudian diwujudkan dalam bentuk label kemasan. Teknik pelabelan bisa dicetak, bisa juga secara sederhana yaitu dengan sablon.

Sumber : Modul TOT Pengembangan Produk Berbasis Ikan Pelagis, 2009

PEMBUATAN KECAP IKAN/UDANG

Ikan merupakan salah satu sumber protein hewani yang banyak dikonsumsi masyarakat, mudah didapat, dan harganya murah. Namun ikan cepat mengalami proses pembusukan. Oleh sebab itu pengawetan ikan perlu diketahui semua lapisan masyarakat. Pengawetan ikan secara tradisional bertujuan untuk mengurangi kadar air dalam tubuh ikan, sehingga tidak memberikan kesempatan bagi bakteri untuk berkembang biak. Untuk mendapatkan hasil awetan yang bermutu tinggi diperlukan perlakukan yang baik selama proses pengawetan seperti : menjaga kebersihan bahan dan alat yang digunakan, menggunakan ikan yang masih segar, serta garam yang bersih. Ada bermacam-macam pengawetan ikan, antara lain dengan cara: penggaraman, pengeringan, pemindangan, perasapan, peragian, dan
pendinginan ikan.

Bakteri dan perubahan kimiawi pada ikan mati menyebabkan pembusukan. Mutu olahan ikan sangat tergantung pada mutu bahan mentahnya.

Tanda ikan yang sudah busuk :
- mata suram dan tenggelam;
- sisik suram dan mudah lepas;
- warna kulit suram dengan lendir tebal;
- insang berwarna kelabu dengan lendir tebal;
- dinding perut lembek;
- warna keseluruhan suram dan berbau busuk.

Tanda ikan yang masih segar :
- daging kenyal;
- mata jernih menonjol;
- sisik kuat dan mengkilat;
- sirip kuat;
- warna keseluruhan termasuk kulit cemerlang;
- insang berwarna merah;
- dinding perut kuat;
- bau ikan segar.

Tabel 1. Komposisi Ikan Segar per 100 gram Bahan


Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa ikan mempunyai nilai protein tinggi, dan kandungan lemaknya rendah sehingga banyak memberikan manfaat kesehatan bagi tubuh manusia.
Manfaat makan ikan sudah banyak diketahui orang, seperti di negara Jepang dan Taiwan ikan merupakan makanan utama dalam lauk sehari-hari yang memberikan efek awet muda dan harapan hidup lebih tinggi dari negara lainnya. Penggolahan ikan dengan berbagai cara dan rasa menyebabkan orang mengkonsumsi ikan lebih banyak.

Kecap ikan atau udang adalah kecap yang diolah dengan proses peragian yang berjalan lambat. Warnanya bening kekuningan sampai coklat muda, dan rasanya relatif asin.

BAHAN
1) Ikan-ikan kecil (teri) atau udang atau cumi-cumi 10 kg
2) Garam secukupnya

ALAT
  1. Bak kayu atau semen yang berlubang didasarnya, pada lubang tersebut dipasang pansuran dengan saringan untuk menyaring kecap yang dihasilkan.
  2. Pemberat.
  3. Botol

CARA PEMBUATAN
  1. Cuci ikan atau udang dan tiriskan;
  2. Susun dalam bak (tong kayu) yang diselang-seling dengan lapisan garam. Lapisan garam paling atas harus tebal;
  3. Tutup bak dengan anyaman bambu dan beri pemberat;
  4. Simpan selama 3 bulan untuk berlangsungnya proses peragian;
  5. Setelah penyimpanan menghasilkan cairan, saring, dan masukkan ke dalam botol.

DIAGRAM ALIR PEMBUATAN KECAP IKAN ATAU UDANG



Anda dapat mendownload materi penyuluhan perikanan dalam bentuk folder pada link berikut :

Sumber :
Berbagai cara pengolahan dan pengawetan ikan. Yogyakarta : Proyek Pengembangan Penyuluhan Pertanian Pusat, Departemen Pertanian, 1987.