Kegiatan Penyuluhan

Kegiatan Penyuluhan Perikanan Bertujuan Meningkatkan Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan Pelaku Utama dan Pelaku Usaha Perikanan.

Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP)

P2MKP Memberdayakan Pelaku Utama Perikanan dan Masyarakat.

Pelatihan Kelautan dan Perikanan

Meningkatkan keterampilan para pelaku utama kelautan dan perikananm.

AUTO MATIC FEEDER

Solusi Memberi Makan Ikan Menjadi Mudah Dan Tepat.

Wednesday, October 15, 2014

Membuat Proposal Usaha

Untuk menunjang program pengembangan iklim kewirausahaan bagi masyarakat pelaku utama dan pelaku usaha kecil di bidang perikanan, maka diperlukan banyak informasi, pengetahuan, keterampilan dan pengalaman kewirausahaan yang harus diberikan. Salah satu keterampilan yang diharapkan dapat dikuasai oleh masyarakat dalam bidang kewirausahaan adalah keterampilan dalam menyusun proposal rencana usaha.

Keterampilan menyusun proposal rencana usaha penting untuk dikuasai oleh masyarakat pelaku utama dan pelaku usaha kecil di bidang perikanan karena tiga alasan, yaitu :

  1. Proposal usaha merupakan representasi pengetahuan dan penguasaan masyarakat pelaku utama dan pelaku usaha kecil terhadap usaha yang akan dijalankan;
  2. Proposal usaha merupakan representasi asumsi terhadap prospek usaha;
  3. Proposal Usaha merupakan tolok ukur dan panduan untuk melaksanakan kegiatan usaha.

Format Proposal

Penulisan proposal usaha/bisnis harus memenuhi syarat - syarat tertulis dan format tertentu, misalnya:
  1. Ukuran kertas            : A4
  2. Warna sampul            : putih
  3. Font                           : 12 point
  4. Huruf                         : Times New Roman
Sistematika Penyusunan Proposal
1. Halaman Sampul
2. Halaman Pengesahan
3. Pendahuluan
  • Judul Kegiatan : diuraikan secara singkat dan jelas jenis kegiatan/usaha yang akan dilakukan
  • Status Usaha : jelaskan status usaha yang akan dilakukan, usaha baru atau pengembangan.
  • Rasional Kegiatan : uraikan secara jelas alasan yang melatarbelakangi dipilihnya kegiatan usaha yang akan dilakukan.
  • Tujuan Kegiatan : uraikan tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan usaha yang akan dilakukan.
4. Metode Pelaksanaan Usaha
  • Produk : uraikan jenis produk (barang/jasa) yagn akan dijual, karakteristik produk, kualitas dan kuantitas produk yang ditawarkan.
  • Bahan Baku : uraikan jenis bahan baku yang akan digunakan untuk produksi, tingkat ketersediaan bahan baku, prosedur perolehan bahan baku.
  • Proses Produksi : uraikan alur produksi, teknologi yang digunakan, keterampilan tenaga kerja yang dibutuhkan, jumlah tenaga kerja yang terlibat.
  • Pemasaran : uraikan dengan jelas kategori/kelas dan perkiraan jumlah konsumen yang dibidik, strategi pemasaran yang dilakukan, sebutkan daerah cakupan pemasaran lokal/regional/nasional.
  • Tempat Produksi : uraikan dengan jelas alamat tempat usaha dilakukan, jelaskan karakteristik tempat usaha, uraikan pula pengaruhnya terhadap prospek usaha.
5. Target Output
  • Target Produk : uraikan jenis produk (barang/jasa) yang akan dijual, karakteristik produk, kualitas dan kuantitas yang akan ditawarkan.
  • Target Konsumen : uraikan jenis dan jumlah calon sasaran yang ditargetkan akan menjadi konsumen.
  • Target Pendapatan : uraikan jumlah pendapatan yang ingin dicapai.
6. Rencana Anggaran
  • Rencana Biaya Usaha : jelaskan secara rinci rancangan usaha yang akan dilakukan, perhitungan pembiayaan bahan, tenaga kerja, alat produksi, harga jual, dan prediksi aliran khas.
  • Rancangan Pengembangan dan Investasi: uraikan rencana pendapatan yang akan diperoleh dan akan digunakan untuk pengembangan modal usaha, jumlah rupiah yang dapat disetor untuk pengembalian modal.
7. Jadwal Pelaksanaan : uraikan jadwal perincian kegiatan, durasi waktu yang dibutuhkan dan waktu pelaksanaan dalam minggu atau bulan dan besarnya volume pekerjaan serta besaran biaya yang dibutuhkan.

8. Organisasi Pelaksana
  • Personil : uraikan nama, kualifikasi dan deskripsi tugas dari personil yang terlibat dalam pelaksanaan usaha.
  • Pendamping : uraikan nama, kualifikasi personil/lembaga pendamping, perantugas pendamping yang diharapkan.
9. Potensi Khusus
  • Peluang Komersil : uraikan peluang komersil dari produk yang akan dijual/ditawarkan.
  • Peluang Patent atau Haki : uraikan peluang produk yang akan dibuat untuk memperoleh patent atau Haki.
  • Peluang Legalitas : uraikan peluang untuk memperoleh legalitas usaha.
10. Lampiran
  • Denah lokasi usaha
  • Surat jaminan pendamping
Cara Menangkap Peluang Bisnis Perikanan Yang Baik
Peluang usaha dibidang perikanan yang ada saat ini sangat luas bila kita dapat melihatnya secara jeli, oleh sebab itu kita harus dapat memanfaatkan peluang tersebut secara bijaksana. Salah satu cara untuk mengambil peluang usaha yang ada tersebut adalah dengan membuat perencanaan bisnis. Perencanaan bisnis dibuat agar kita dapat melihat peluang yang ada tersebut dapat menghasilkan keuntungan atau tidak.

Perencanaan bisnis biasanya dituangkan dalam bentuk proposal bisnis. Proposal bisnis ini dapat berfungsi sebagai alat dalam mencari rekan/mitra/partner bisnis seperti investor, sponsor ataupun sebagai sarana untuk meyakinkan pihak klien terhadap jasa atau produk yang ditawarkan.

Membuat proposal bisnis yang sukses harus memiliki keterampilan khusus, tidak semua orang dapat membaut proposal bisnis dengan baik dan benar serta menarik. Proposal bisnis yang kurang menarik biasanya kurang mendapat respon yang baik dari investor ataupun pelanggan. Dengan menyusun proposal usaha dengan baik dan benar maka kita telah melakukan perencanaan terhadap peluang bisnis yang kita jalani.

Semoga Bermanfaat...

Sumber : Modul Kewirausahaan, Pusat Pelatihan KP

Tuesday, October 14, 2014

Mengoperasikan Mesin Penggerak Perahu (Motor Tempel)

Berbagai jenis mesin penggerak perahu yang digunakan oleh nelayan dalam melaksanakan usahanya yang saat ini, mulai dari merk mesin hingga variasi daya yang dihasilkan oleh mesin itu sendiri dengan berdasarkan lama waktu penangkapan dan ukuran perahunya.
Salah satu contoh motor tempel perahu
Untuk mengupayakan agar masa pemakaian mesin sesuai dengan masa perbaikan (service) maka dalam pengoperasian adalah factor yang sangat menentukan, namun hal ini tidaklah mudah untuk dilakukan, mengingat kondisi perairan laut terbuka yang setiap saat menjalani perubahan tekanan udara berpengaruh pada gelombang.

Sehingga sangatlah bermanfat apabila beberapa aturan pengoperasian  mesin itu sendiri menggunakan nilai patokan yang standard.

Pemasangan Motor Tempel di Perahu/Kapal
Pemasangan motor tempel harus tepat di tengah  buritan perahu, sehingga perahu tidak miring ke kiri atau ke kanan oleh beratnya motor tempel.
1. Tinggi plat kavitasi dari garis lunas 0 – 2.5 cm













2. Kedudukan motor harus tegak lurus terhadap garis lunas













3. Untuk mencegah motor tempel jatuh ke laut saat dioperasikan clem harus dikencangkan sebaik-baiknya.


Persiapan Bahan Bakar
Bahan bakar yang digunakan adalah bensin dan oli, keduanya di campur minyak pelumas dengan perbandingan 50 : 1 (2%).










Menghidupkan Motor






































Running In
  • Saat running ini pada 10 menit pertama motor dioperasikan pada putaran motor serendah-rendahnya.
  • Katup gas dibuka setengah, motor bekerja setengah kecepatan selama 30 menit
  • Lanjutkan dengan ¾ katup gas atau ¾ kecepatan selama 1 jam
  • Pada 8 jam berikutnya motor dioperasikan full. Tetapi tidak boleh lebih dari 5 menit, setelah itu motor boleh dioperasikan secara normal.
Mengoperasikan Handel Porsneling












Berlayar Pada Air Dangkal







Mematikan Motor















Untuk menjamin agar muatan menghasilkan daya yang maksimum setelah dipasang pada perahu, maka jarak dan posisi harus dapat diperhitungkan secara tepat. Begitu juga pada masa percobaan atau sesudah masa percobaan menggunakan bahan bakar yaitu campuran bensin dan oli harus diperhatikan yaitu : pada masa percobaan 25 liter bensin di campur dengan 1 liter oli, tetapi setelah masa percobaan maka perbandingannya adalah 50 liter bensin bensin dicampur dengan 1 liter air.


Sumber : Modul Peremesinan Perikanan, BPPP Tegal

Semoga Bermanfaat...


Wednesday, September 24, 2014

Permesinan Perikanan

Dalam pengertian yang sederhana, permesinan perikanan dapat diartikan sebagai alat/mesin yang digunakan untuk mendukung usaha penangkapan ikan/udang maupun usaha budidaya ikan/udang di kolam/tambak serta usaha pengolahan hasil perikanan.

Untuk itu permesinan perikanan dapat dikelompokan dalam :
1. Mesin Penggerak Mula (Prime Mover). Yang termasuk mesin penggerak mula adalah :
  • Motor bakar, dimana energi hasil pembakaran BBM didalam silinder motor itu sendiri diubah menjadi tenaga mekanik berujud putaran oleh poros engkol.
    Motor bakar
  • Motor listrik, dimana energi listrik diubah menjadi tenaga mekanik (berujud putaran).
    Motor Listrik
  • Turbin uap, dimana uap dari air yang dipanaskan oleh api menggunakan bahan bakar padat (kayu atau batubara) digunakan untuk menggerakkan sudu-sudu turbin, sehingga menghasilkan tenaga mekanik berujud putaran pada poros turbin.
    Turbin Uap
  • Turbin gas, dimana gas dari hasil pembakaran BBM digunakan untuk menggerakkan sudu-sudu turbin, sehingga menghasilkan tenaga mekanik berujud putaran pada poros turbin gas.
    Turbin Gas
  • Mesin uap bertorak, dimana uap dari air yang dipanaskan oleh api menggunakan bahan bakar padat (kayu atau batubara) digunakan untuk menggerakkan torak dalam silinder mesin uap, gerak maju mundur dari torak ini kemudian diubah menjadi gerak putar oleh poros mesin uap.
    Penampang mesin uap torak
Dari beberapa jenis mesin penggerak mula ini, yang paling banyak digunakan dalam dunia perikanan adalah motor bakar dan motor listrik, mengingat :
  • Kebutuhan tenaga yang diperlukan masih relatif sangat kecil.
  • Bentuk motor bakar maupun motor listrik yang kompak, dan bobotnya yang relatif ringan.
  • Mudah untuk mengoperasikan.
  • Biaya perawatan maupun pengoperasiannya murah.
2. Kelistrikan Perikanan, yang terdiri dari :
    a. Listrik Arus Kuat atau AC = Alternating Curent, perlengkapannya meliputi :
  • Mesin pembangkit tenaga listrik, yang umumnya disebut generator set atau genset, yang terdiri generator atau alternator dan mesin penggeraknya motor bakar.
  • Instalasi listrik untuk penerangan.
  • Instalasi listrik tenaga, instalasi listrik yang berkaitan dengan motor listrik.
    b. Listrik Arus Lemah atau DC = Direct Curent, dikapal penangkap ikan digunakan sebagai catu daya (power supply) :
  • Peralatan komunikasi.
  • Peralatan kontrol, umumnya engine control.
  • Peralatan navigasi (misalnya radar).
  • Peralatan bantu penangkapan (fish finder, sonar)
3. Mesin Pendingin
Digunakan untuk mempertahankan mutu hasil perikanan, mesin pendingin yang umum digunakan adalah :
  • Cold Storage adalah suatu fasilitas yang sering digunakan dalam penyimpanan bahan-bahan hasil pertanian, perikanan, peternakan dan industry. Dengan mendinginkan suhu suatu bahan atau produk, maka aktifitas enzim atau mikroba yang berada didalamnya akan berkurang. Sehingga kerusakan atau penurunan mutu dapat dihambat. 
    Cold storage
  • Cool Room adalah gudang berpendingin ( Tidak untuk menurunkan suhu produk )
    Cool room

4. Pesawat Bantu, yang terdiri dari :
  • Pompa-pompa cairan, berguna untuk memindahkan cairan dari satu tempat ke tempat lain, diantaranya adalah : air, bahan bakar minyak, dan minyak pelumas.
    Pompa air
  • Mesin jangkar, yang berguna menurunkan dan mengangkat jangkar.
    Mesin Jangkar
  • Mesin kemudi, yang berfungsi untuk mengemudikan kapal pada waktu berlayar.
  • Power block adalah peralatan untuk menarik jaring purse seine.
    Power block pada kapal purse seine
  • Line houler adalah peralatan untuk menarik tali utama dalam kegiatan penangkapan ikan dengan long line.
    Line houler
  • Winch trawl adalah untuk menarik jaring pukat harimau.
    Winch trawl
5. Mesin-mesin pengolah hasil perikanan, yang terdiri dari :
  • Mesin pemisah daging dengan tulang/duri ikan.
    Meat bone separator
  • Mesin untuk pengalengan ikan.
    Mesin pengalengan ikan
  • Mesin pengasapan ikan.
    Mesin pengasapan ikan
  • Boiler, untuk mengolah ikan dengan hasil ikan duri lunak.
    Panci presto/boiler
Semoga bermanfaat...

Monday, September 22, 2014

Standar Nasional Indonesia (SNI) Perikanan Budidaya

Standar Nasional Indonesia (disingkat SNI) adalah satu-satunya standar yang berlaku secara nasional di Indonesia. SNI dirumuskan oleh Panitia Teknis dan ditetapkan oleh BSN.

Agar SNI memperoleh keberterimaan yang luas antara para stakeholder, maka SNI dirumuskan dengan memenuhi WTO Code of good practice, yaitu:  

  1. Openess (keterbukaan), Terbuka bagi agar semua stakeholder yang berkepentingan dapat berpartisipasi dalam pengembangan SNI;
  2. Transparency (transparansi), Transparan agar semua stakeholder yang berkepentingan dapat mengikuti perkembangan SNI mulai dari tahap pemrograman dan perumusan sampai ke tahap penetapannya . Dan dapat dengan mudah memperoleh semua informsi yang berkaitan dengan pengembangan SNI;
  3. Consensus and impartiality (konsensus dan tidak memihak), Tidak memihak dan konsensus agar semua stakeholder dapat menyalurkan kepentingannya dan diperlakukan secara adil;    
  4. Effectiveness and relevance, Efektif dan relevan agar dapat memfasilitasi perdagangan karena memperhatikan kebutuhan pasar dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
  5. Coherence, Koheren dengan pengembangan standar internasional agar perkembangan pasar negara kita tidak terisolasi dari perkembangan pasar global dan memperlancar perdagangan internasional; dan 
  6. Development dimension (berdimensi pembangunan), Berdimensi pembangunan agar memperhatikan kepentingan publik dan kepentingan nasional dalam meningkatkan daya saing perekonomian nasional. (sumber Strategi BSN 2006-2009)

Berikut Standar Nasional Indonesia pada bidang perikanan :
1. SNI Ikan Bandeng
No
Nomor SNI
Tahun
Judul SNI
1.
01- 6148 - 1999
1999
Induk Ikan Bandeng (Chanos chanos Forskal)
kelas induk pokok (Parent Stock)

2.
01- 6149 - 1999
1999
Benih Ikan Bandeng (Chanos chanos Forskal) kelas benih sebar

3.
01- 6150 - 1999
1999
Produksi Benih Ikan Bandeng (Chanos chanos Forskal)
kelas benih sebar


2. SNI Rumput Laut Eucheuma Cottonii
No
Nomor SNI
Tahun
Judul SNI
1.
7672:2011
2011
Bibit Rumput Laut Kotoni (Eucheuma cottonii)

2.
7673.1:2011
2011
Produksi Bibit Rumput Laut Kotoni (Eucheuma cottonii) - Bagian 1 Metode Lepas Dasar

3.
7673.2:2011
2011
Produksi Bibit Rumput Laut Kotoni (Eucheuma cottonii) - Bagian 2 Metode Longline

4.
7673.3:2011
2011
Produksi Bibit Rumput Laut Kotoni (Eucheuma cottonii) - Bagian 3 Metode Rakit Bambu Apung


3. SNI Ikan Gurame
No
Nomor SNI
Tahun
Judul SNI
1.
01- 6485.1 - 2000
2000
Induk ikan gurame (Osphronemus goramy, Lac) kelas induk pokok (Parent Stock)

2.
01- 6485.2 - 2000
2000
Benih ikan gurame (Osphronemus goramy, Lac) kelas benih sebar

3.
01- 6485.3 - 2000
2000
Produksi benih ikan gurame (Osphronemus goramy, Lac) kelas benih sebar


4. SNI Ikan Kakap Putih
No
Nomor SNI
Tahun
Judul SNI
1.
01- 6145 - 1999
1999
Induk Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer Bloch) kelas induk pokok (Parent Stock)

2.
01- 6146 - 1999
1999
Benih Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer Bloch)
kelas benih sebar

3.
01- 6147 - 1999
1999
Produksi Benih Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer Bloch)
kelas benih sebar


5. SNI Ikan Kerapu Bebek
No
Nomor SNI
Tahun
Judul SNI
1.
6487.1.2011
2011
Ikan Kerapu Bebek (Cromileptes altivelis Valienciences) – Bagian 1 : Induk

2.
6487.2.2011
2011
Ikan Kerapu Bebek (Cromileptes altivelis Valienciences) – Bagian 2 : Benih

3.
6487.3.2011
2011
Ikan Kerapu Bebek (Cromileptes altivelis Valienciences) – Bagian 3 : Produksi Benih


6. SNI Ikan Kerapu Macan
No
Nomor SNI
Tahun
Judul SNI
1.
6488.1:2011
2011
Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fucoguttatus Forskal) – Bagian 1 : Induk

2.
6488.2:2011
2011
Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fucoguttatus Forskal) – Bagian 2 : Benih

3.
6488.3:2011
2011
Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fucoguttatus Forskal) – Bagian 3 : Produksi Benih


7. SNI Katak Lembu
No
Nomor SNI
Tahun
Judul SNI
1.
02- 6730.1 - 2002
2002
Benih Kodok Lembu (Rana catesbeiana Shaw) kelas benih sebar

2.
02- 6730.2 - 2002
2002
Induk Kodok Lembu (Rana catesbeiana Shaw) kelas induk pokok (Parent stock)

3.
02- 6730.3 - 2002
2002
Produksi Benih Kodok Lembu (Rana catesbeiana Shaw) kelas benih sebar

4.
02- 6730.4 - 2002
2002
Produksi Induk Kodok Lembu (bull frog) (Rana catesbeiana Shaw) kelas induk pokok (Parent Stock)


8. SNI Ikan Lele Dumbo
No
Nomor SNI
Tahun
Judul SNI
1.
01- 6484.1 - 2000
2000
Induk ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas induk pokok (Parent Stock)

2.
01- 6484.2 - 2000
2000
Benih ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas benih sebar

3.
01- 6484.3 - 2000
2000
Produksi Induk ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas induk pokok (Parent Stock)

4.
01- 6484.4 - 2000
2000
Produksi Benih ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas benih sebar


9. SNI Ikan Mas Majalaya
No
Nomor SNI
Tahun
Judul SNI
1.
01- 6130 - 1999
1999
Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Majalaya kelas induk Pokok (Parent Stock)

2.
01- 6131 - 1999
1999
Produksi Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Majalaya kelas induk Pokok (Parent Stock)

3.
01- 6132 - 1999
1999
Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Majalaya kelas benih sebar

4.
01- 6133 - 1999
1999
Produksi Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Majalaya kelas benih sebar


10. SNI Ikan Mas Si Nyoya
No
Nomor SNI
Tahun
Judul SNI
1.
01- 6134 - 1999
1999
Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Sinyonya kelas induk pokok (Parent Stock)

2.
01- 6135 - 1999
1999
Produksi Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Sinyonya kelas induk pokok (Parent Stock)

3.
01- 6136 - 1999
1999
Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus)
strain Sinyonya kelas benih sebar

4.
01- 6137 - 1999
1999
Produksi Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus)
strain Sinyonya kelas benih sebar


11. SNI Ikan Nila Hitam
No
Nomor SNI
Tahun
Judul SNI
1.
6138:2009
2009
Induk Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas induk pokok

2.
6139:2009
2009
Produksi Induk Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas induk pokok

3.
6140:2009
2009
Benih Induk Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas benih sebar

4.
6141:2009
2009
Produksi Induk Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas benih sebar


12. SNI Ikan Patin Jambal
No
Nomor SNI
Tahun
Judul SNI
1.
01-7256-2006
2006
Produksi Benih Ikan Patin Jambal (Pangasius djambal) Kelas Benih sebar

2.
7471.1:2009
2009
Ikan Patin Jambal (Pangasius djambal) – Bagian 1: Kelas Induk Pokok (Parent stock)

3.
7471.2:2009
2009
Ikan Patin Jambal (Pangasius djambal) – Bagian 2: Produksi Induk Kelas Induk Pokok (Parent stock)

4.
7471.3:2009
2009
Ikan Patin Jambal (Pangasius djambal) – Bagian 3 : Benih Ikan Patin Kelas Benih Sebar


13. SNI Ikan Patin Siam
No
Nomor SNI
Tahun
Judul SNI
1.
01- 6483.1 - 2000
2000
Induk ikan patin siam (Pangasius hyphthalmus)
kelas induk pokok (Parent Stock)

2.
01- 6483.2 - 2000
2000
Benih ikan patin siam (Pangasius hyphthalmus)
kelas benih sebar

3.
01- 6483.3 - 2000
2000
Produksi induk ikan patin siam (Pangasius hyphthalmus)
kelas induk pokok (Parent Stock)


14. SNI Udang Galah
No
Nomor SNI
Tahun
Judul SNI
1.
01- 6486.1 - 2000
2000
Induk udang galah (Macrobranchium rosenbergii de Man)
kelas induk pokok (Parent Stock)

2.
01- 6486.2 - 2000
2000
Benih udang galah (Macrobranchium rosenbergii de Man) kelas benih sebar

3.
01- 6486.3 - 2000
2000
Produksi benih udang galah (Macrobranchium rosenbergii de Man) kelas benih sebar

4.
02- 6486.2 - 2002
2002
Produksi Induk Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii de Man) kelas induk pokok (Parent Stock)

15. SNI Udang Rostris
No
Nomor SNI
Tahun
Judul SNI
1.
01-7257-2006
2006
Induk udang rostris (Litopenaeus stylirostris) kelas induk pokok)


16. SNI Udang Vaname
No
Nomor SNI
Tahun
Judul SNI
1.
01-7252-2006
2006
Benih udang vaname (Litopenaeus vannamei) kelas benih sebar

2.
01-7253-2006
2006
Induk udang vaname (Litopenaeus vannamei) kelas induk pokok
3.
7311:2009
2009
Produksi benih udang vaname (Litopenaeus vannamei) kelas benih sebar

17. SNI Udang Windu
No
Nomor SNI
Tahun
Judul SNI
1.
01-6142-2006
2006
Induk udang windu (Penaeus monodon) Fabricius, 1798

2.
01-6143-2006
2006
Benih udang windu (Penaeus monodon) Fabricius, 1798 kelas benih sebar
3.
01-6144-2006
2006
Produksi benih udang windu (Penaeus monodon) Fabricius, 1798 kelas benih sebar
4.
01-7258-2006
2006
Penanganan induk udang windu (Penaeus monodon) Fabricius, 1798 di penampungan

Semoga Bermanfaat...