Kegiatan Penyuluhan

Kegiatan Penyuluhan Perikanan Bertujuan Meningkatkan Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan Pelaku Utama dan Pelaku Usaha Perikanan.

Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP)

P2MKP Memberdayakan Pelaku Utama Perikanan dan Masyarakat.

Pelatihan Kelautan dan Perikanan

Meningkatkan keterampilan para pelaku utama kelautan dan perikananm.

AUTO MATIC FEEDER

Solusi Memberi Makan Ikan Menjadi Mudah Dan Tepat.

Wednesday, April 30, 2014

BPPP Tegal Tingkatkan Kompetensi 250 Orang Pelaku Utama Perikanan Se – Kaupaten/Kota Bogor dan Depok

Bogor, 30/04/2014 – Dalam rangka meningkatkan kompetensi pelaku utama/pelaku usaha perikanan serta mencetak wirausaha baru dalam dunia perikanan, Badan Pengembangan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Balai Pendidikan dan Pelatihan Perikanan Tegal melaksanakan Pelatihan Perikanan bekerjasama dengan P2MKP se Kabupaten/Kota Bogor dan Depok. Pelatihan dilaksanakan mulai tanggal 27 – 30 April 2014. Jumlah peserta yang dilatih sebanyak 250 orang yang tersebar pada 25 P2MKP Se – Kabupaten/Kota Bogor dan Depok.

Adapun P2MKP yang melaksanakan pelatihan serta bidangnya adalah sebagai berikut :

  1. P2MKP Pondok Jaya Bidang Budidaya dan Pemasaran Ikan Hias
  2. P2MKP Tunas Mina Terpadu Bidang Budidaya Ikan Gurame
  3. P2MKP Asa Nusantara Bidang Pengolahan dan Pemasaran Ikan
  4. P2MKP Mitra Tani Bidang Budidaya Ikan Lele, Paatin, gurame dan pengendalian penyakit
  5. P2MKP Omega outlet Bidang Pembenihan ikan patin dan lele dumbo 
  6. P2MKP Jumbo Lestari Bidang Pendederan dan Pembesaran ikan lele
  7. P2MKP Cipta Sejahtera Agro Bidang Budidaya Ikan Gurame, Lele, Nila, Mas dan Tawes,Pembuatan Pakan ikan
  8. P2MKP Setuju Mekar Jaya Bidang Pembenihan, Pendederan, dan Pembesaran ikan lele
  9. P2MKP Bina Sejahtera Bidang Manajemen Usaha, Teknis Budidaya dan Pengolahan Ikan Mas, Lele, Bawal dan Nila
  10. P2MKP Kabita Bidang Pembenihan dan Pembesaran Ikan Lele dan Gurame
  11. P2MKP Pandan Wangi Bidang Pengolahan Hasil perikanan
  12. P2MKP Nurul Huda Bidang Pembenihan dan pembesaran ikan lele dan mas
  13. P2MKP Bina Tular Bidang Pmebenihan dan pembesaran ikan lele
  14. P2MKP Sri Rejeki I Bidang budidaya belut, nila dan lele
  15. P2MKP Tirta Bidang budidaya ikan lele, nila dan gurame
  16. P2MKP Darma Tirta Bidang pengolahan hasil perikanan dan budidaya ikan air tawar dan kemasan produk ikan
  17. P2MKP Saluyu Bidang Pembenihan dan pembesaran ikanmas, lele dan nila
  18. P2MKP Sinapeul I Bidang Pembibitan dan pembesaran ikan lele sangkuriang
  19. P2MKP Mina Srikandi Bidang Pembenihan dan pembesaran ikan lele
  20. P2MKP Lucky Food Bidang Pengolahan hasil perikanan
  21. P2MP Winner Perkasa Indonesia Unggul Bidang pengolahan rumput laut
  22. P2MKP Mina Family Sejahtera Bidang budidaya ikan air tawar
  23. P2MKP Padepokan Sangkuriang Bidang pembenihan dan pembesaran ikan lele, patin dan gurame
  24. P2MKP Sakana Indo Prima Bidang pengolahan value added ikan dan udang (produk turunan surimi, ikan segar, ikan beku)
  25. P2MKP Bina Tenaga Inti Rakyat Bidang pembuatan pakan ikan/pelet, probiotik/pupuk cair.


Pada hari terakhir kegiatan pelatihan dilaksanakan penutupan dan unjuk kerja yang dihadiri oleh Kepala Pusat Pelatihan KP, Ir. Balok Budiyanto, MM, Kepala BPPP Tegal, Ir. Mochammad Heri Edy, MS dan Ketua Forkom P2MKP Kab. Bogor, Surya Purnama. Tujuan dilaksanakannya kegiatan unjuk kerja yang dilaksanakan oleh peserta pelatihan adalah untuk menunjukkan bahwa peserta telah kompeten pada bidang yang dilatihkan. Kegiatan dilaksanakan di P2MKP Cipta Sejahtera Agro.
Kepala BPPP Tegal menyampaikan “P2MKP merupakan sarana bagi pelaku utama perikanan untuk meningkatkan kompetensinya sedangkan bagi masyarakat merupkan peluang dalam menciptakan usaha baru , hal ini sangat baik dan membantu KKP dalam meningkatkan jumlah pelaku usaha dibidang perikanan”.

Dalam kegiatan ini Kepala Pusat Pelatihan KP menyampaikan “P2MKP sangat membantu Balai diklat yang dimiliki KKP dalam rangka mengakselerasi kegiatan pelatihan bagi masyarakat di Indonesia. Sebagaimana diketahui BPSDMKP ditargetkan oleh KKP dalam melatih masyarakat dari tahun 2010 – 2014 sebanyak 55.000 orang. Sampai pada Bulan April 2014 ini jumlah masyarakat yang sudah dilatih telah melampaui target yang ditentukan yakni sebanyak 57.000 orang hal ini berkat sinergi yang baik antara Pusat Pelatihan KP, Balai Diklat Perikanan Tegal dan P2MKP.

Pada akhir acara penutupan Kepala Pusat Pelatihan Kp dan Kepala BPPP Tegal didampingi pengelola P2MKP Kabupaten Bogor melihat secara langsung unjuk kerja yang dilaksanakan oleh peserta pelatihan P2MKP.

Monday, April 28, 2014

Pesut Mahakam : Si Lucu Yang Hampir Punah (Final Part)

Kegiatan konservasi dilakukan segera setelah data tentang perkiraan awal dan daerah-daerah yang disukai pesut tersedia. Langkah awal dilakukan pada tahun 1999, bekerjasama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur (Departemen Kehutanan) berupa upaya meningkatkan kesadaran masyarakat di sepanjang sungai mengenai status perlindungan Pesut Mahakam melalui penyebaran informasi dan leaflet ke seluruh desa. Pada tahun 2000, didirikan sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lokal, Yayasan Konservasi RASI (Rare Aquatic Species of Indonesia) yang memiliki tujuan khusus untuk melindungi Pesut Mahakam dan habitatnya. Sejauh ini kegiatan yang telah dilakukan meliputi :
  • Kampanye kesadaran lingkungan untuk masyarakat umum dan khusus, seperti sekolah-sekolah dasar dan menengah, nelayan, pemerintah, dan perusahaan
  • Survei monitoring
  • Survei sosial ekonomi
  • Prakiraan sikap masyarakat nelayan terhadap konservasi Pesut Mahakam
  • Lokakarya bagi para nelayan untuk berlatih cara-cara pelepasan pesut yang terperangkap rengge dengan aman dan alternatif teknik penangkapan ikan yang lestari
  • Pembatasan daerah yang penting bagi pesut
  • Membentuk tim patroli untuk melaporkan kegiatan penangkapan ikan illegal
  • Mendirikan Pusat Informasi Mahakam (Februari 2006) di daerah utama pesut yang besar yaitu Muara Pahu untuk menyebarkan informasi kepada masyarakat lokal dan turis mengenai arti penting dari lokasi pesut ini dan untuk meningkatkan perhatian pemerintah setempat
  • Memperkenalkan teknik budidaya ikan yang lestari kepada para nelayan dan membentuk koperasi nelayan untuk mengelola pinjaman modal
  • Menyusun paket pendidikan lingkungan sebagai muatan lokal atau ekstra kurikuler bagi sekolah menengah pertama dan atas (masih dalam proses penyelesaian)
  • Lokakarya untuk berbagai stakeholder
  • Pengajuan proposal pembentukan dua kawasan pelestarian pesut dan daerah perkembangbiakan ikan yang penting di Kutai Barat dan Kutai Kartanegara.


Pesut Mahakam
Masyarakat, pemerintah daerah Kutai Barat, perusahaan dan LSM telah mencapai sebuah kesepakatan umum tentang kawasan pelestarian pesut yang pertama di kecamatan Muara Pahu dan rancangan peraturannya, walaupun legalisasinya mungkin akan memakan waktu cukup lama karena harus menunggu persetujuan pemerintah propinsi disamping dari pemerintah kabupaten, tapi diharapkan status resminya melalui SK Bupati dan Perda akan keluar pada tahun 2008. Hal ini akan menjadi suatu langkah maju bagi bertahun-tahun usaha konservasi yang berfokus pada pesut Mahakam yang sangat terancam dan habitatnya. Kegiatan konservasi tahun ini akan difokuskan pada pelatihan materi pendidikan lingkungan untuk guru-guru serta memulai langkah-langkah awal untuk mengajukan usulan pembentukan kawasan pelestarian pesut kedua di Kutai Kartanegara (seperti survei perkiraan masyarakat dan lokakarya stakeholder).

Daerah-daerah konservasi ini akan dilindungi berdasarkan perda kabupaten. Peraturan-peraturannya terutama berfokus pada peraturan pemasangan rengge (dari segi waktu, lokasi dan ukuran mata rengge) dan penghapusan pemakaian rengge di daerah utama pesut secara bertahap, peraturan kecepatan kapal, pelarangan ponton pengangkut batubara untuk melewati anak sungai utama yang merupakan habitat pesut serta patrol yang dilakukan masyarakat setempat untuk mengontrol kegiatan penangkapan ikan ilegal.

Penghapusan pemakaian rengge akan didahului dengan memperkenalkan budidaya ikan dalam keramba terapung kepada para nelayan. Ikan yang dibudidayakan adalah yang berdaya jual tinggi dan diberi pakan buatan serta sayuran, bukan pakan berupa ikan yang diambil dari sungai. Tentu dibutuhkan pinjaman modal awal untuk dapat mewujudkan proyek ini. Kami berharap nantinya daerah-daerah konservasi ini dapat ditingkatkan status pelestariannya dari tingkat lokal menjadi tingkat nasional.

Kegiatan lain sehubungan dengan konservasi adalah rencana untuk mengadakan sebuah lokakarya internasional antar negara-negara Asia Tenggara di Kalimantan Timur, dengan menghadirkan para ahli internasional (dari LSM-LSM), peneliti dan pengambil kebijakan (dari pemerintah). Lokakarya ini bertujuan untuk menyusun rekomendasi tentang bagaimana suatu daerah pelindungan dapat memperoleh keuntungan maksimum dengan menggabungkan berbagai aspek, yaitu tidak hanya berfokus pada perlindungan lumba-lumba saja, tapi juga memperhatikan spesies lain, memperbaiki mutu ekosistem sungai dan membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Selain itu, lokakaryasecara langsung akan mendukung penetapan dua kawasan pelestarian (yang masih diusahakan) untuk populasi lumba-lumba Irrawaddy atau Pesut di Sungai Mahakam dengan menerapkan ilmu yang dipelajari dari pengalaman negara lain yang juga memiliki populasi cetacea air tawar. Karena peraturan-peraturan untuk kawasan pelestarian ini masih dalam tahap penyusunan, usulan-usulan bagus yang dapat dimasukkan ke dalam perda kabupaten juga masih sangat dibutuhkan.

Rencana Penelitian Saat Ini dan Masa Mendatang
Rencana penelitian saat ini dan masa mendatang adalah survei monitoring dua tahun sekali untuk: 
  1. Monitoring ancaman-ancaman, angka kematian dan ukuran populasi (menggunakan perhitungan langsung dan metode analisa penandaan-penangkapan ulang) untuk mengetahui kecenderungan perubahannya dalam jangka panjang.
  2. Memperbaharui katalog foto identitas untuk mengetahui daerah yang disukai, sosial ekologi, dan khususnya perkembangbiakan.
  3. Memperkirakan apakah daerah-daerah utama yang sebelumnya telah diidentifikasi akan tetap menjadi daerah yang disukai dalam jangka waktu lama.
  4. Memperoleh informasi terbaru mengenai ancaman-ancaman (penurunan kualitas habitat) dan angka kematian.
  5. Mengumpulkan contoh jaringan dari bangkai pesut yang ditemui untuk mengetahui variasi genetik dan hubungan demografik antara populasi sungai dan laut.

Rencana kegiatan konservasi
Rencana kegiatan konservasi meliputi penetapan kawasan pelestarian di dua kabupaten. Yang pertama, di Kecamatan Muara Pahu, Kabupaten Kutai Barat, telah diusulkan dan disetujui oleh masyarakat, pemerintah dan stakeholder; saat ini sedang dalam proses legalisasi. Daerah tersebut mencakup sungai utama sepanjang 36 km antara Tepian Ulak – Rambayan dan Sungai Kedang Pahu kira-kira sepanjang 20 km antara Muara Pahu - Muara Jelau, yang merupakan habitat utama pesut. Zona penyangga sepanjang 27 km di sebelah hilir Tepian Ulak hingga Penyinggahan juga diusulkan untuk dilindungi oleh pemerintah setempat, hal ini didukung oleh masyarakat. Selain itu, daerah ini meliputi 45 km anak sungai yang dilindungi serta habitat hutan rawa gambut dan rawa air tawar (dengan hutan tepian sungai yang dilindungi seluas 30-200 m); bagian sungai ini sebenarnya jarang dikunjungi oleh pesut tapi secara langsung menyediakan pasokan ikan bagi pesut karena merupakan habitat yang penting bagi perkembangbiakan ikan.

Kawasan pelestarian kedua yang akan diusulkan mencakup sungai utama sepanjang 27 km antara Pela – Muara Kaman, termasuk bagian sepanjang 17 km di sebelah hulu Sungai Kedang Rantau hingga Sebintulung, bagian sepanjang 7 km di sebelah hulu Sungai Kedang Kepala hingga Muara Siran, muara anak Sungai Belayan, anak sungai Pela dan bagian selatan dari Danau Semayang. Kebijakan umum yang nantinya diterapkan di daerah ini akan disusun dalam laporan/rencana kegiatan tersendiri Secara garis besar, kegiatan konservasi selanjutnya yang akan dilaksanakan di daerah ini meliputi sosialisasidan survei perkiraan pendapat masyarakat mengenai kebutuhan mereka dan kawasan pelestarian yang diusulkan, selain itu juga pertemuan berbagai stakeholder untuk memperoleh persetujuan resmi sehingga legalisasinya dapat diproses.

Kembali ke Part 1 dan Part 2

Sumber : Diolah dari berbagai sumber

Semoga Bermanfaat...

Friday, April 25, 2014

Pesut Mahakam : Si Lucu Yang Hampir Punah (Part 2)

Habitat Pesut (Orcaella brevirostris)
Era 1960-an, Pesut Mahakam mudah terlihat, biasanya ia menampakan diri pada pagi hari atau menjelang magrib. Warga Samarinda yang akan mengambil air wudhu sebelum menunaikan sholat Magrib di Masjid Tua (kini disebut Masjid Raya Darussalam) yang berada di Tepian Mahakam (kini Jalan Gajah Mada) sering melihat tiga atau lima ekor Pesut Mahakam bercanda ria sambil menyemburkan air dari puggungnya di tengah sungai. Satwa langka itu secara umum berenang dalam formasi ganjil, tiga atau lima ekor. Kala itu, air Sungai Mahakam sangat jernih karena tidak ada pencemaran serta pembabatan hutan di kawasan pedalaman.
Pesut Mahakan
Namun pada saat sekarang habitat ikan pesut yaitu sungai Mahakam telah ramai oleh lalu lintas masyarakat. Makin ramainya masyarakat ini menyebabkan ikan pesut menjadi takut dan memilih untuk menjauh ke pedalaman sungai yang lebih tenang. Begitu juga dengan kondisi perairan yang semakin tercemar akibat penebangan liar dan penambangan batu bara mengakibatkan ikan pesut tidak mampu untuk bertahan.
Daerah sebarannya yang semula mencapai 600 kilometer persegi pada tahun 1975 menjadi kurang dari 100 kilometer persegi pada tahun 2000. Hal ini akibat tingkat kematian yang relatif tinggi karena terkena kipas kapal motor maupun kena jaring saat mencari makan.
Lalu lintas kapal di sungai Mahakam yang sibuk

Populasi Pesut (Orcaella brevirostris)
Danielle Krab, mahasiswa program doktor bidang konservasi satwa langka dari Universitas Amsterdam dan Yayasan Konservasi RASI (Rare Aquatic Species of Indonesia) pimpinan Budiono yang melakukan pemantauan terakhir kehidupan pesut Mahakam sejak tahun 1999-2000, hanya menemukan dari 50 ekor pesut. 

Penurunan populasi satwa ini juga terungkap dalam hasil penelitian Ade M Rachmat untuk tesis S-2 Studi Ilmu Kehutanan Universitas Mulawarman berjudul Pengamatan Perilaku dan Penyebaran Pesut serta Identifikasi Habitatnya di Daerah Aliran Sungai (DAS) Mahakam, Kalimantan Timur 2000. Penelitian yang dilakukan tahun 1999 ini hanya menemukan 41 pesut dengan kisaran populasi sekitar 30-50 ekor, termasuk di antaranya tiga anak pesut.
Pesut Mahakam yang lucu
Penurunan populasi saat ini dinilai sangat tajam. Menurut Ade Rachmat, populasi pesut tahun 1975 mencapai seribu ekor, tahun 1980 sekitar 800 ekor, tahun 1985 diperkirakan 600 ekor. Pada tahun 1990 tinggal 400 ekor, tahun 1995 kurang dari 150 ekor, dan tahun 2000 kurang dari 50 ekor. 

Selama tahun 1997-1999 ada sekitar 15 ekor pesut yang mati atau sekitar enam ekor tiap tahun. Sekitar 60 persen kematiannya akibat terkena jaring ikan. Dari 41 pesut yang ditemukan, 36 ekor berusia dewasa dan 27 ekor di antaranya betina, dan lima anak pesut. Dari perhitungan siklus melahirkan satu kali dalam empat tahun, maka tiap tahun hanya ada sekitar tiga pesut yang melahirkan.
Pesut Mahakam yang mati
Dilihat perbandingan kematian dan kelahiran pesut tiap tahun, maka tiap tahun berkurang dua ekor pesut. Ini berarti juga, tahun 2025 pesut Sungai Mahakam akan punah. Apalagi, jika pemerintah setempat tidak serius melakukan upaya pelestarian satwa langka ini mulai sekarang.

Penurunan populasi pesut secara drastis juga disebabkan tingkat kematian pesut lebih tinggi dibandingkan tingkat kelahiran. Krab mencatat sejak tahun 1997-2000 ada 18 ekor pesut mati atau rata-rata enam ekor pesut mati setiap tahun. Sedang pada tahun yang sama terjadi kelahiran dua-tiga ekor pesut per tahun. Keadaan kritis ini juga menjadi keprihatinan para penyayang lumba-lumba yang tergabung dalam International of Willing Commision.

Yang menjadi keprihatinan, ada upaya pihak tertentu memburu pesut. Padahal, hasil investigasi Danielle Krab menunjukkan, sekitar 22 ekor pesut yang diambil pihak Taman Impian Jaya Ancol diduga semuanya mati. "Kami juga mendapat keterangan dari penduduk ada kapal asing yang dikawal oknum tentara menangkap pesut secara ilegal," tuturnya.

Penyebab Menurunnya Populasi Ikan Pesut (Orcaella brevirostris)
Perubahan kualitas air sungai akibat tingginya tingkat pencemaran sungai akibat industri perkayuan dan batu bara di sepanjang Sungai Mahakam (Kalimantan Timur) menjadi ancaman serius yang tidak bisa menyelamatkan Pesut Mahakam. Kian sibuknya lalu-lintas sungai dengan hilir-mudiknya baik kapal-kapal besar maupun perahu kecil bermotor jadi ancaman serius lainnya. 

Kehidupan manusia yang bertambah ramai memanfaatkan sungai sebagai urat nadi transportasi telah "merampas" habitat Pesut Mahakam. Pesut Mahakam pun kian terkucil pada habitatnya akibat kalah bersaing dengan mesin-mesin kapal yang menebarkan suara bising serta mencemari sungai dengan limbah-limbah minyak beracun.Belum cukup dengan "penderitaan" itu, Pesut Mahakam juga kini harus berlomba dengan manusia dalam mendapatkan makanan. 

Puluhan tahun kemudian, Sungai Mahakam pada kawasan Samarinda telah menjadi kanal raksasa buangan limbah dari puluhan perusahaan kayu, industri lem, serta perusahaan batu bara di sepanjang Tepian Mahakam sehingga air yang tadinya jernih berubah menjadi coklat kehitaman. Sungai Mahakam yang tadinya hening menjadi sangat bising dengan kehadiran mesin-mesin yang menggunakan pembakar bensin dan solar serta mencemari air dengan pelumas oli. Satwa yang pemalu itu akhirnya kian ke kawasan pedalaman Mahakam kini masuk wilayah Kutai Kartanegara untuk mencari kehidupan lebih tenang.

Nelayan tradisional yang dulunya hanya mengandalkan mata kail atau jaring, kini menjadi "predator buas" dalam memburu ikan dengan menggunakan cara-cara tidak ramah lingkungan, mulai dari menebarkan racun tuba sampai menggunakan listrik untuk menangkap ikan dengan mudah dan ekonomis. Hal lain, kematian itu terjadi juga akibat kegiatan penangkapan pesut untuk diangkut ke luar daerah habitatnya. Pesut ini sangat mudah stres. Tidak heran jika ditemukan kematian ketika ditangkap atau setelah ditangkap dan berada di luar habitatnya. Ironisnya, warga setempat tidak berani menangkap karena memiliki mitos bahwa pesut berasal dari manusia. Justru orang luar berkali-kali menangkap dan akhirnya diduga banyak yang mati. Kematian yang umum terjadi diakibatkan pada badan terdapat luka-luka yang telah terinveksi akibat terkena baling-baling kapal atau perahu, terkena ringgi atau jaring ikan milik nelayan.

Pesut Mahakam kini dianggap sebagai satwa yang paling terancam punah. International Union for Conservation of Nature (IUCN, 2002) telah memberikan status "Critically Endangared" (kritis terancam punah) pada jenis ini, sementara CITES telah menempatkannya pada "Appendix 1" yang berarti jenis ini tidak diperkenankan untuk diperdagangkan. Kenyataannya, Pesut Mahakam tetap dibisniskan, yakni terus diburu di Sungai Mahakam untuk memenuhi permintaan Pengelola Taman Hiburan Ancol, sehingga lebih gampang melihat Pesut Mahakam di Jakarta ketimbang di habitat aslinya baik di Sungai Mahakam, Sungai Malinau maupun Pesisir Balikpapan.

Agaknya, perlu tindakan nyata pemerintah dalam menyelamatkan Pesut Mahakam saat legenda bukan lagi mantera sakti. Termasuk, mengalihkan dana-dana untuk membangun monumen dan patung megah Pesut Mahakam sebagai program penyelamatan melalui konservasi habitat satwa langka yang kondisinya kini seperti "meregang maut.

Lanjut ke Final part, kembali ke Part 1

Sumber : diolah dari berbagai sumber

Semoga Bermafaat...

Wednesday, April 23, 2014

Pesut Mahakam : Si Lucu Yang Hampir Punah (Part 1)

Indonesia, khususnya Propinsi Kalimantan Timur dengan hutan hujan tropisnya merupakan habitat bagi berbagai jenis flora (tumbuhan) dan fauna (hewan). Namun sangat disayangkan saat ini habitat tersebut terancam punah akibat pemanfaatan sumber daya alam yang tak berkelanjutan. Kerusakan habitat menjadi faktor terpenting dalam proses menurunnya populasi jenis flora dan fauna secara drastis.  Jika hal ini tidak segera dihentikan, tidak mustahil dalam beberapa tahun mendatang kita akan kehilangan banyak jenis flora dan fauna langka yang merupakan ciri khas dan endemik di Kalimantan Timur.

Potensi keanekaragaman hayati di Daerah Mahakam Tengah (DMT) sangatlah tinggi. Keberadaan satwa-satwa khas seperti mamalia air tawar Pesut Mahakam, burung enggang dan reptilia endemik seperti Buaya Sapit atau disebut Senyulong serta Biawak Kalimantan. Jenis satwa-satwa tersebut merupakan jenis yang dilindungi dan memiliki status mendekati terancam hingga sangat terancam. Beberapa factor penyebab terjadinya ancaman ketidakberlangsungan hidup satwa tersebut di daerah ini meliputi kebakaran dan penebangan hutan, penangkapan satwa, habitat tercemar, konversi hutan, ditambah pemanfaatan SDA secara berlebihan. Ancaman ini dapat berdampak pada suatu kemiskinan akan hutan, flora dan fauna, air bersih dan ekonomi.
Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris)
Salah satu makhluk yang terancam punah adalah Ikan Pesut. Kehidupan pesut memang sangat memprihatinkan. Populasinya terus menurun sejalan dengan aktivitas sosial ekonomi masyarakat yang menjadikan sungai ini sebagai alur lalu lintas utama. Sungai dan daerah alirannya, termasuk danau atau pantai yang mengitarinya yang mengalirkan air Sungai Mahakam, secara umum memang termasuk paling rawan mengalami kerusakan. Keberadaan habitat pesut tidak semata-mata terancam oleh lalu lintas sungai, tetapi juga oleh makin meningkatnya eksploitasi sumber daya alam di daerah ini.

Legenda Pesut Mahakam
Pada zaman dahulu di rantau Mahakam hiduplah keluarga yang rukun. Keluarga ini terdiri dari ibu, ayah dan 2 orang anak. Pada suatu hari si ibu menderita penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh siapapun termasuk tabib. Dan akhirnya ibunya meninggal. Hal ini menyebabkan ayahnya menjadi orang yang pemurung.

Suatu ketika di dusun tersebut diadakan pesta adat panen yang biasa dilakukan setiap tahun. Pesta ini dilakukan selama 7 hari 7 malam. Pada suatu ketika untuk menghibur ayahnya ke-2 anaknya mengajak ayahnya untuk menyaksikan pertunjukan yang diadakan pada pesta tersebut. Pada malam terakhir pesta diadakan pertujukan tarian yang dilakukan oleh seorang wanita yang cantik dan banyak dibicarakan oleh para penduduk. Hal ini menimbulkan rasa penasaran sang ayah untuk melihatnya. Akhirnya ayah dan 2 anak itu pun berangkat. Pada saat pertunjukkan sang ayah tidak terlalu banyak tertawa seperti warga lain yang menontonnya. Suatu saat, akhirnya bertemu jua pandangan antara si gadis dan sang ayah tadi. Kejadian ini berulang beberapa kali, dan tidak lah diperkirakan sama sekali kiranya bahwa terjalin rasa cinta antara sang gadis dengan sang ayah dari dua orang anak tersebut.

Atas persetujuan tua kampong maka menikahlah sang ayah dan wanita tersebut. Namun sikap baik sang ibu tiri hanya diperlihatkan apabila sang ayah berada di rumah. Apabila tidak ada maka ke-2 anak tersebut diperlakukan tidak baik. Suatu saat sang anak disuruh mengambil kayu bakar yang banyak. Setelah anak tersebut pergi ke hutan ibu dan ayah meniggalkan mereka.

Esok harinya mereka bersikeras mencari ke-2 orang tua mereka. Setelah 2 hari mencari ternyata belum ketemu juga. Akhirnya mereka melihat sebuah gubug yang sudah reot, disana ada kakek tua dan mereka pun menanyakannya. Kakek tua berkata bahwa pernah ada 2 orang yang meminjam perahunya untuk tinggal di seberang sana. Ke -2 anak tersebut akhirnya meminjam perahu kakek untuk menyusul keseberang. Setelah menyebaerang mereka pun menemukan sebuah rumah dan setelah diperiksa ternyata memang benar disana terdapat barang – barang milik ayahnya. Akan tetapi pada saat itu  ke-2 orang tua mereka sedang tidak ada. di pondok tersebut ada bubur yang masih tersimpan di kuali. Saking laparnya ke-2 anak tersebut langsung memakan bubur tersebut. Setelah memakan bubur tersebut suhu badan ke-2 anak tersebut semakin meningkat. Karena panic maka mereka langsung berlari keluar dan mencari sungai. Setelah mereka menceburkan diri ke sungai mereka berubah wujud menjadi seekor ikan yang mempunyai kepala mirip manusia.

Masyarakat yang berada di tempat itu memperkirakan bahwa air semburan kedua makhluk tersebut panas sehingga dapat menyebabkan ikan-ikan kecil mati jika terkena semburannya. Oleh masyarakat Kutai, ikan yang menyembur-nyemburkan air itu dinamakan ikan Pasut atau Pesut. Sementara masyarakat di pedalaman Mahakam menamakannya ikan Bawoi.

Morofologi Ikan Pesut
Di perairan Indonesia ada 20 jenis lumba-lumba, namun pesut mahakam merupakan satu-satunya yang hidup di air tawar. Pesut dewasa rata-rata memiliki berat 90-200 kilogram dengan panjang antara 2-2,75 meter. 

Pesut mempunyai kepala berbentuk bulat (seperti umbi) dengan kedua matanya yang kecil (mungkin merupakan adaptasi terhadap air yang berlumpur). Tubuh Pesut berwarna abu-abu sampai wulung tua, lebih pucat dibagian bawah - tidak ada pola khas. Sirip punggung kecil dan membundar di belakang pertengahan punggung. Dahi tinggi dan membundar; tidak ada paruh. Sirip dada lebar membundar. 
Bentuk Tubuh Pesut
Pesut bergerak dalam kawanan kecil. Walaupun pandangannya tidak begitu tajam dan kenyataan bahwa pesut hidup dalam air yang mengandung lumpur, namun pesut merupakan 'pakar' dalam mendeteksi dan menghindari rintangan-rintangan. Barangkali mereka menggunakan ultrasonik untuk melakukan lokasi gema seperti yang dilakukan oleh kerabatnya di laut.

Kebiasaan Hidup Ikan Pesut
Tidak seperti mamalia air lain yakni lumba-lumba dan ikan paus yang hidup di laut, pesut (Orcaella brevirostris) hidup di sungai-sungai daerah tropis. Populasi satwa langka yang dilindungi Undang-Undang ini hanya terdapat pada tiga lokasi di dunia yakni Sungai Mahakam, Sungai Mekong, dan Sungai Irawady.

Dahulu pesut pernah ditemukan di banyak muara-muara sungai di Kalimantan, tetapi sekarang pesut menjadi satwa langka. Kecuali di sungai Mahakam, di tempat ini habitat Pesut Mahakam dapat ditemukan ratusan kilometer dari lautan yakni di wilayah kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Habitat hewan pemangsa ikan dan udang air tawar ini dapat dijumpai di perairan Sungai Mahakam, Danau Jempang (15.000 Ha),  danau Semayang (13.000 Ha) dan danau Melintang (11.000Ha).
Namun, habitat yang sesungguhnya berada di sungai besar seperti Sungai Gangga, Mekong, Chaophya, Mahakam, Doly, dan Milingimbi, serta di pesisir yang agak dangkal berair hangat. Kesamaan sejenis ini diduga berkaitan sejarah zoogeografi kawasan Asia. Sekitar 18.000 tahun lalu, daratan Sumatera, Jawa, dan Kalimantan masih menyatu dengan daratan Asia.

Di Indonesia, Weber yang pada tahun 1962 pertama kali menyebutkan adanya pesut. Ia menyebutkan penyebaran pesut Kaltim berasal dari Kecamatan Longiram atau sekitar 100 mil dari laut. Pada waktu itu disebutkan penyebaran pesut ditemukan mulai muara Sungai Mahakam atau delta Mahakam hingga sejauh 200 km dalam kelompok yang cukup banyak, termasuk perairan Samarinda hingga Tenggarong.

Kebiasaan Makan Ikan Pesut
Pesut dewasa merupakan ikan yang rakus dalam satu bulan diperkirakan bisa melahap dua ton ikan dan udang. Asumsinya, apabila populasinya 50 ekor maka setidaknya dalam sebulan konsumsinya adalah 100 ton ikan dan udang. Potensi perikanan darat di Kutai Kartanegara, termasuk kawasan Sungai Mahakam yang menjadi habitat Pesut Mahakam adalah sekitar 30.000 ton yang sebagiannya sudah "dimakan" oleh nelayan setempat.
Kawanan Pesut
Kebiasaan Berkembangbiak Ikan Pesut
Mamalia berwarna abu-abu kebiruan ini diperkirakan secara biologis hanya mencapai umur 26-30 tahun. Dalam masa itu, untuk pesut betina hanya mampu maksimal melahirkan lima kali. Seekor pesut betina hanya melahirkan satu ekor anak dengan masa hamil 14 bulan dan masa menyusui dua tahun.
Induk Pesut dan salah satu anaknya
Lanjut ke Part 2 dan Final Part
Sumber : Diolah dari berbagai sumber

Semoga Bermanfaat...

Monday, April 21, 2014

Membuat Anyaman Pada Tali (Rope Slicing) Yang Sering Digunakan Dalam Pembuatan Alat Penangkapan Ikan

Beberapa jenis splicing yang sering digunakan dalam pembuatan alat penangkapan ikan adalah :
1. Simpul Dasar (Perisai)

2. Anyaman Mata (Eye Splicing)

3. Anyaman Pendek (Short Spilicing)

4. Anyaman Antara (Cut Splicing)

5. Anyaman Panjang (Long Splicing)

6. Anyaman Balik (BackSplicing)

Sumber : Modul Tali Menali

Semoga Bermanfaat...

Friday, April 18, 2014

Penanganan Udang di Tambak

Dalam penanganan ikan segar, diusahakan suhu selalu rendah mendekati 0º C. Selain itu dijaga pula jangan sampai suhu ikan naik, misalnya terkena sinar matahari langsung atau kekurangan es selama pengangkutan. Sebab makin tinggi suhu, kecepatan membusuk juga makin besar. Sebaliknya bila suhu ikan dipertahankan serendah-rendahnya, maka proses pembusukan bisa diperlambat. Untuk itu, dalam pengemasan dan pengangkutan ikan segar harus diusahakan supaya es tidak cepat mencair. Caranya adalah dengan menggunakan peti-peti atau wadah berinsulasi (insulated box), atau diangkut dengan truk-truk yang dilengkapi dengan unit pendingin (refrigerated truck).
Panen Udang
Seperti halnya ikan, udang juga memerlukan penanganan yang teliti agar kesegarannya dapat tahan lama. Segera setelah dipanen, udang harus ditangani dengan memperhatikan beberapa faktor berikut ini :
  1. Proses panen dilakukan dalam waktu yang singkat, dimana antara kegiatan yang satu dan berikutnya tidak boleh terjadi penangguhan waktu yang lama, lebih-lebih bila suhu saat itu tinggi.
  2. Semua peralatan  dan bahan yang dipergunakan harus benar-benar bersih dan saniter.
  3. Penangkapan dan penanganan harus diusahakan pada suhu lingkungan yang rendah, jangan diterik matahari.
  4. Udang hasil panen segera dicuci  sampai bersih dari lumpur yang melekat dan kotoran lainnya dengan air bersih yang diberi hancuran es, kemudian dimasukkan kedalam wadah untuk penanganan berikutnya.

Cara penanganan bentuk/tipe hasil panen  :
  1. Penanganan udang hidup, Penanganan udang hidup harus memperhatikan agar udang tersebut tidak mengalami cacat fisik, bergerak aktif, daya hidup panjang. Untuk itu sebelum penangkapan perlu dipersiapkan sarana, wadah, air payau, oksigen, dll yang diperlukan. Penanganan udang hidup berarti memberi perlakuan khusus yang sesuai dengan kebutuhan biologisnya, agar tetap dalam keadaan hidup hingga saat diterima oleh pembeli. 
  2. Penanganan udang segar utuh, Udang tersebut ditangani dengan menerapkan prinsip pendinginan pada suhu sekitar 0º C selama penanganan dan distribusi.
    Penanganan udang segar
  3. Penanganan udang segar tanpa kepala, Segera setelah udang dipanen/tangkap, dicuci hingga bersih dari lumpur dan kotoran lainnya, kemudian disortasi untuk mengelompokkan ukuran/berat udang. Selanjutnya dibuang kepalanya, dicuci bersih , dan dimasukkan dalam wadah penampungan. Setiap pencucian usahakan selalu menggunakan air bersih yang dingin (diberi es), begitu di wadah penampungan, setiap lapisan udang diberi hancuran es (es curai), sehingga suhu udang dapat dipertahankan hingga di tempat tujuan.
    Udang tanpa kepala
Semoga Bermanfaat...

Tuesday, April 15, 2014

Berbagai Simpul Yang Sering Digunakan Pada Perikanan

Dalam pembuatan alat penangkapan ikan baik itu alat tangkap yang bahan utamanya terbuat dari tali maupun tali itu sendiri sebagai alat kelengkapan pembuatan alat penangkapan ikan, sangat dibutuhkan ketrampilan membuat macam macam simpul maupun menganyam (splicing).
Diantara sekian banyak simpul – simpul dan anyaman pada tali ada beberapa yang sering digunakan dalam istilah perikanan yaitu :

1. Simpul Delapan (Eight Knot)

2. Simpul Bendera (English Knot / Sheet Bend)

3. Simpul Bendera Ganda (Double English Knot / Double Sheet Bend)

4. Simpul Mati (Reef Knot)

5. Sosok Pangkal (Sock Knot On Bag Knot)

6. Sosok Pangkal Ganda

7. Sosok Pangkal Berlilit

8. Simpul Nelayan (Fisherman Knot)

9. Barrel Knot

10. Simpul Tiang Tetap (Bowlime Knot)
 

11. Simpul Tiang Bergerak

12. Simpul Tiang Ganda

13. Simpul Erat (Nafiri)

14. Simpul Tumit

15. Simpul Taiwan

Sumber : Modul Tali Menali

Semoga Bermanfaat...





Monday, April 14, 2014

Macam - Macam Konstruksi Tali Yang Digunakan Pada Usaha Penangkapan Ikan

Dalam dunia perikanan yang dimaksud dengan tali ialah semua jenis, bentuk dan ukuran tali yang digunakan sebagai bahan utama atau penunjang dalam penangkapan ikan. 
Pengertian kata tali disini adalah termasuk benang, tambang, dadung dan sebagainya. Beberapa istilah mengenai tali yang berasal dari bahasa asing yang umum digunakan dalam istilah perikanan adalah :

  1. Netting twine (twine) : Tali / benang untuk pembuatan jarring
  2. Rope : Tali yang mempunyai ukuran besar
  3. Thread : Tali benang yang berukuran kecil

Proses Pembuatan Tali
Untuk pembuatan tali dari bahan baku diperlukan beberapa kali pemintalan. Dari sejumlah serat (fibres) dipintal (twisted) menjadi yarn kemudian beberapa yarn dipintal menjadi strand dan selanjutnya sejumlah strand dipintal lagi menjadi thread / twine / rope . Sehingga dengan demikian dari bahan baku fibres menjadi thread / twine / rope diperlukan tiga tahapan pemintalan yaitu ;
  1. Pemintalan dari fibres menjadi yarn biasanya disebut dengan lower twist.
  2. Pemintalan dari yarn menjadi strand biasanya disebut middle twist.
  3. Pemintalan dari strand menjadi thread / twine / rope biasanya disebut dengan upper twist.
Skema Proses Pembuatan Tali
Konstruksi Tali
Konstruksi tali atau benang kalau dilihat menurut bentuknya, dibedakan menjadi dua bentuk yaitu :
A. Bentuk tali yang dipintal ( twisted )
Bentuk tali yang dipintal ada dua arah pintalan yang dipergunakan dalam proses pembuatannya yaitu pintalan arah kanan (right twist) dan pintalan arah kiri (left twist). Yang dimaksud dengan pintalan arah kanan sebuah tali adalah tali yang proses pembuatannya yang terakhir, mempunyai pintalan dari arah kiri ke kanan dari orang yang memegang tali tersebut, sedangkan pintalan kiri adalah sebaliknya.

Pintalan tali arah kanan diberi symbol huruf Z sedangkan pintalan arah kiri diberi symbol huruf S. Hal ini karena alur-alur dari pintalan tali tersebut seolah-olah membentuk huruf-huruf  Z atau S yang disambung-sambung.

Sebagai pedoman untuk menentukan mana yang tali pintalan kanan Z yang mana  yang pintalan kiri S, dapat diperhatikan dengan cara melihat alur-alur pitalannya yang disesuaikan dengan arah jari telunjuk sipemegang tali tersebut. Apabila arah alur pintalan tali searah dengan jari telunjuk tangan kanan sipemegang tali berarti tali tersebut pintalan kanan ( Z ) sedangkan bila alur tali tersebut berlawanan    dengan jari telunjuk sipemegang tali berarti tali tersebut pintalan kiri ( S ).

B. Bentuk tali yang dianyam ( braided )
  1. Anyaman silang ( crossing laid ), Umumnya tali yang mempunyai jumlah 8 strand keatas dianyam dimana setiap strandnya tidak searah tetapi saling bersilang satu dengan yang lainnya  ( istilah bahasa Jawa seperti rambut dikepang ).
  2. Anyaman berongga ( Tube shaped ), Anyaman berongga hampir sama dengan anyaman silang hanya bedanya pada bagian tengahnya berlubang seperti selang 
C. Konstruksi tali menurut tingkat pintalannya dibedakan menjadi : 
  1. Tali pintalan lunak (Soft) dengan symbol (S )
  2. Tali pintalan sedang (Middle) dengan symbol ( M )
  3. Tali pintalan keras (Hard) dengan symbol ( H )
D. Konstruksi tali menurut bahan yang digunakan
1)  Bahan tekstil yang berasal dari serat-serat alam yang digunanakan untuk pembuatan tali umumnya berasal dari serat tumbuh-tumbuhan antara lain adalah :
  • Serat biji seperti kapas untuk pembuatan benang
  • Serat kulit batang seperti rami, hennep, ijuk untuk pembuatan tali
  • Serat daun seperti manila, sisal.
  • Serat buah seperti sabut kelapa
2) Bahan tekstil yang berasal dari serat-serat sintetis (buatan) adalah serat serat yang diperoleh dari hasil persenyawaan kimia melalui proses penggandaan   (polimerisasi) molekul-molekul dari bahan-bahan persediaan alam seperti batu bara, minyak bumi dan sebagainya.

Beberapa jenis serat dan nama dagang yang banyak digunakan sebagai bahan pembuatan tali antara lain adalah :    
  • Nylon dengan nama kimianya polyamide (PA)
  • Polytene dengan nama kimia polyethylene (PE)
  • Tetoron dengan nama kimia polyester (PES)
  • Meraklon dengan nama kimia polypropilene (PP)
  • Kuralon dengan nama kimia polyvinyl alcohol (PVA)
E. Konstruksi tali menurut jumlah strandnya :

  1. Tali dua strand
  2. Tga strand
  3. Tali tiga strand
  4. Tali empat stand
  5. Tali kombinasi (combination rope)
Keterangan :

  1. Penampang tali yang terdiri dari dua srands
  2. Penampang tali yang terdiri dari tiga strands
  3. Penampang tali yang terdiri dari empat strands (sebelum terjadi ketegangan)
  4. Penampang tali yang terdidi dari empat strands ( sesudah terjadi ketegangan )
Syarat-Sarat Pemintalan Tali
Agar tali dapat berbentuk dengan baik dan sesuai yang diharapkan pada dasarnya arah pintalan kanan (Z) maka pada pintalan strand haruslah dengan arah yang berlawanan (S) sedangkan arah pintalan yarn adalah bebas (boleh Z boleh S), Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table di bawah ini :

Skema Konstruksi Tali

Sumber : Modul Tali Temali

Semoga Bermanfaat...


Sunday, April 13, 2014

Klinik IPTEK Mina Bisnis (KIMBis)

Klinik IPTEK Mina Bisnis (KIMBis) merupakan lembaga masyarakat kelautan dan perikanan yang dibentuk secara partisipatif oleh berbagai pemangku kepentingan, untuk mengembangkan berbagai peluang dalam rangka mewujudkan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kelembagaan ini dikembangkan dengan pendekatan bottom - up.
Salah satu Sekretariat KIMBis
Pemangku kepentingan yang berperan adalah : instansi pemerintah pusat dan daerah, kelompok masyarakat, swasta, LSM, peneliti dan penyuluh. Potensi yang dimiliki pemangku kepentingan adalah : teknologi, program bantuan, jaringan pasar dan lain sebagainya. keberadaan KIMBis diharapkan membantu tercapainya tujuan dari setiap pemangku kepentingan.

Pembentukan KIMBis terkait dengan kebijakan pemerintah tentang program pengentas kemiskinan dan program - program pro rakyat. Tahun 2011 dibentuk 5 KIMBis, yaitu : 

  1. di Desa Langensari Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang
  2. di DesaEretanWetan Kecamatan Kandanghaur Kabupaten Indramayu
  3. di DesaSidharjo Kecamatan Pacitan Kabupaten Pacitan
  4. di Desa Weru Komplek Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan
  5. di Desa Kampuh Bungan dan DesaMuara Tinobu Kecamatan Lasolo Kabupaten Konawe Utara
Pada tahun 2012 dibentuk KIMBis :


  1. di Pelabuhan Perikanan Pantai Tegalsari, Kecamatan Tegal Barat Kota Tegal
  2. di Desa Gringsing Kecamatan Bulakamba Kabupaten Brebes
  3. di Desa Deah Baro Kecamatan Meuraxa Kota Banda Aceh
  4. di Desa Ponjong Kecamatan Genjahan Kabupaten Gunung Kidul
  5. di Desa Wiring Kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang
  6. di Desa Wuryantoro Kecamatan Wuryantoro Kabupaten Wonogiri
Pada tahun 2013 dibentuk KIMBis di Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Lombok Timur dan Kawasan Danau Toba.


TUJUAN
Tujuan jangka panjang KIMBis adalah untuk mewujudkan tumbuh dan berkembangnya kelembagaan yang mampu mewujudkan kewirausahaan masyarakat yang memanfaatkan IPTEK dalam rangka meningkatkan kesejahteraannya.

Adapaun tujuan jangka pendeknya adalah :

  1. Mendorong percepatan peningkatan kemandirian ekonomi masyarakat kelautan dan perikanan.
  2. Mempercepat dan mengkaji proses penerapan teknologi hasil penelitian dari satker lingkup Balitbang Kelautan dan Perikanan.
  3. Mendorong data dan informasi, serta menganalisis perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat sebagai dampak dari penerapan IPTEK.

IMPLEMENTASI
Operasional KIMBis pada setiap lokasi dilaksanakan oleh manajer KIMBis yang dibantu oleh 3 asisten manajer KIMBis. dalam melaksanakan tugasnya, Manajer KIMBis berkoordinasi dengan liasson officer dan unsur dari Dinas Kelautan dan Perikanan. Oleh sebab itu, dalam rangka pemeberdayaan masyarakat KIMBis tersebut melakukan empat hal, yaitu :

  1. Membantu percepatan penyebaran teknologi hasil introduksi dari program IPTEKMAS.
  2. Mengimplementasikan prinsip - prinsip Blue Economy usaha perikanan.
  3. Membangun jaringan kerja dengan SKPD dalam rangka memperoleh kegiatan pemberdayaan masyarakat dan penerapan IPTEK.
  4. Membantu pencapaian program perbantuan dan mengoptimalkan pemanfaatannya untuk masyarakat banyak.
Konsisi KIMBis dalam penerapan IPTEK, bermitra dengan satker lingkup Balitbang KP yang memiliki teknologi tersebut. Sedangkan dalam pemberdayaan masyarakat bermitra dengan berbagai tenaga profesional : peneliti, penyuluh, maupun tenaga dari universitas dan LSM. Supporting donasi untuk melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat dan penerapan IPTEK diharapkan berasal dari institusi pemerintah pusat, SKPD - SKPD dan program Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan swasta nasional dan asing.


Sumber : Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan

Semoga Bermanfaat...

Wednesday, April 9, 2014

Sistem Kelistrikan Pada Kapal Perikanan

Kelistrikan kapal khususnya untuk kapal perikanan, secara garis besar dapat kita bedakan menjadi dua, yaitu :
  • Kelistrikan arus searah (DC), dan
  • Kelistrikan arus bolak balik (AC)
Untuk kelisitrikan kapal perikanan yang tidak memiliki sumber tegangan listrik sendiri atau biasa disebut dengan Generator, akan menggunakan accu sebagai sumber tegangannya dan kita gunakan istilah “Kelistrikan arus searah”. Pada kelistrikan arus searah terdiri dari :
  • Accu : sebagai penyimpan arus dan sumber tegangan
  • Alternator : sebagai alat pengisi accu
  • Motor stater : sebagai alat penggerak awal mesin
  • Instalasi listrik penerangan, alat-alat pemakai arus

SISTEM KELISTRIKAN ARUS SEARAH (DC)
Sistem hubungan kelistrikan arus searah dapat kita lihat pada Gambar 1. Saat kelistrikan arus searah kita operasikan, maka akan terjadi perubahan data atau tenaga yaitu tenaga listrik menjadi tenaga mekanik ataupun sebaliknya. Dari sumber tegangan accu ke motor starter terjadi perubahan tenaga listrik menjadi tenaga mekanik untuk menggerakan awal mesin. Dari mesin penggerak ke alternator terjadi perubahan tenaga mekanik (untuk memutar alternator) menjadi tenaga listrik untuk mengisi accu. Disamping untuk menggerakan motor starter sebagai penggerak awal mesin, accu juga digunakan untuk instalasi penerangan, atau lampu-lampu navigasi kapal serta dapat juga digunakan untuk catu daya alat-alat navigasi elektronik dan radio komunikasi.

Sebuah generator tetap membutuhkan mesin penggerak (Prime Mover) sehingga secara utuh kita sebut sebagai Generator Set (GEN-SET). Karena untuk menjalankan awal mesin diperlukan motor starter maka accu dan alternator kita perlukan.

SISTEM KELISTRIKAN ARUS BOLAK - BALIK (AC)
Untuk kelistrikan kapal perikanan yang sudah dilengkapi dengan pembangkit listrik atau generator, maka sumber tegangan untuk instalasi penerangan dan alat-alat pemakai tidak lagi mengambil dari accu tetapi mengambil dari generator dan kita gunakan istilah “Kelistrikan Arus Bolak Balik”.

Sistem kelistrikan arus bolak balik terdiri dari :
  • Accu : sebagai penyimpan arus dan sumber tegangan
  • Alternator : sebagai alat pengisi accu hubungan kelistrikan 
  • Motor stater : sebagai alat penggerak awal mesin
  • Generator : sebagai pembangkit listrik arus bolak balik
  • Instalasi listrik penerangan, alat-alat pemakai arus.

Saat kelistrikan arus bolak balik kita operasikan akan terjadi :
  1. Dari accu ke motor starter terjadi perubahan tenaga listrik arus searah menjadi tenaga mekanik untuk menggerakan awal mesin.
  2. Dari penggerak ke alternator terjadi perubahan tenaga mekanik untuk memutar alternator menjadi tenaga listrik arus searah untuk mengisi accu.
  3. Dari mesin penggerak ke generator terjadi perubahan tenaga mekanik untuk memutar generator menjadi tenaga listrik arus bolak balik untuk instalasi penerangan dan alat-alat pemakai arus.


Untuk kapal-kapal yang besar, kedua sistim kelistrikan kita gunakan, dimana untuk kelistrikan arus searah digunakan sebagai instalasi penerangan darurat, pada saat terjadi gangguan atau kerusakan pada generator.

Sumber : Modul kelistrikan kapal perikanan

Semoga Bermanfaat...

Monday, April 7, 2014

Mengenal Jenis - Jenis Kapal Perikanan

Berdasarkan FAO, pada tahun 2004 terdapat setidaknya empat juta kapal penangkap ikan komersial. Sekitar 1,3 juta merupakan kapal yang memiliki geladak. Hampir semua kapal bergeladak ini sudah termekanisasi, dan 40 ribu diantaranya berbobot lebih dari 100 ton. Sekitar dua per tiga dari empat juta kapal tersebut merupakan perahu penangkap ikan tradisional dengan berbagai tipe, digerakkan dengan layar dan dayung. Perahu tersebut biasanya digunakan oleh nelayan tradisional.

Sebelum tahun 1950an, hanya ada sedikit standarisasi kapal penangkap ikan. Desain dapat bervariasi antar pelabuhan dan galangan kapal. Sebelumnya perahu dibuat dari kayu. Namun karena biaya perawatan tinggi dan dengan perkembangan teknologi material, baja, fiberglass, dan serat karbon lebih banyak digunakan. Lamanya pembuatan perahu penangkap ikan tradisional bervariasi antara enam bulan hingga satu tahun. (wikipedia.com).

Kapal Perikanan adalah Setiap kapal yang menangkap ikan dengan jaring, tali, pukat atau alat penangkap ikan lainnya yang membatasi  kemampuan olah geraknya, tetapi tidak termasuk kapal yang menangkap ikan dengan tali pancing atau alat penangkap ikan lain yang tidak membatasi kemampuan olah gerak.

UKURAN - UKURAN PADA KAPAL PERIKANAN
  1. LOA ( LENGTH OVER ALL ) : Panjang keseluruhan dari kapal yang di ukur dari ujung buritan ke ujung halauan.
  2. MAXIMUM BREADTH / LEBAR MAXIMUM : Lebar terbesar dari kapal yang diukur dari kulit lambung kapal di samping kiri sampai kulit lambung kapal samping kanan.
  3. TINGGI KAPAL ( DEPTH ) : Jarak tegak dari garis dasar sampai garis geladak yang terendah dari tepi di ukur di tengah – tngah panjang kapal.
  4. DRAUGHT ( Sarat yang direncanakan ) : Jarak tegak dari garis dasar sampai pada garis air muat.
  5. MAX DRAUGHT : Tinggi terbesar dari lambung kapal yang terendam di dalam air yang di ukur dari garis air muat sampai bagian kapal yang terendah.

JENIS - JENIS KAPAL IKAN
A. KAPAL LONG LINE : Mempunyai bright di tengah dengan deck halauan di depannya untuk haulling dengan alat bantu Line Hauler.
Kapal Long Line

B. KAPAL TRAWL : Mempunyai bright di depan dan deck buritan terbuka untuk bekerja dengan alat winchi.
Kapal Trawl

C. KAPAL PURSE SEINE : Mempunyai bright di depan dengan power block di buritan untuk bekerja atau bright di tengah dengan alat bantu gardan untuk menarik purse – line
Kapal Purse Seine
D. KAPAL POLE & LINE
Kapal Pole And Line

SIFAT - SIFAT KAPAL IKAN
A. Kapal Stiff (Kaku)
Kapal stiff ( kaku ) adalah kapal yang mempunyai stabilitas positif hanya saja GM kapal tersebut terlalu besar sehingga moment penegaknya pun terlalu besar. Apabila kapal tersebut senget karena pengaruh gaya dari luar maka kembalinya ke kedudukan tegaknya sangat cepat sekali.

Sifatnya :
Olengan kapal cepat dan menyentak – nyentak
Penyebabnya :
Terlalu bayak konsentrasi muatan berat pada bagian bawah kapal
Kerugiannya
1. Tidak nyaman bagi crew kapal 
2. Dapat merusak konstruksi kapal terutama pada bagian sambungan 
3. Pergeseran muatan 
Mengatasinya
1. Mengosongkan tangki double bottom 
2. Memindahkan bobot dari bawah ke atas.

B. Kapal Tender (Langsar)
Kapal Tender ( langsar ) adalah  kapal yang mempunyai stabilitas positif hanya saja GM nya terlalu kecil, dengan demikian moment penegaknya terlalu kecil sehingga apabila senget akibat gaya dari luar maka akan kembali ke kedudukan tegaknya lambat sekali.

Sifatnya :
Olengan kapal lambat sekali 
Penyebabnya :
Terlalu banyak konsentrasi muatan berat pada bagian atas kapal 
Kerugian :
Dalam cuaca buruk maka kapal bisa terbalik. 
Mengatasinya
1. Mengisi penuh tangki Double bottom
2. Memindahkan bobot dari atas ke bawah

Sumber : Wikipedia.com

Semoga Bermanfaat...