Kegiatan Penyuluhan

Kegiatan Penyuluhan Perikanan Bertujuan Meningkatkan Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan Pelaku Utama dan Pelaku Usaha Perikanan.

Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP)

P2MKP Memberdayakan Pelaku Utama Perikanan dan Masyarakat.

Pelatihan Kelautan dan Perikanan

Meningkatkan keterampilan para pelaku utama kelautan dan perikananm.

AUTO MATIC FEEDER

Solusi Memberi Makan Ikan Menjadi Mudah Dan Tepat.

Tuesday, December 22, 2015

Membuat Ikan Asin

Ikan asin adalah bahan makanan yang terbuat dari daging ikan yang diawetkan dengan menambahkan banyak garam. Dengan metode pengawetan ini daging ikan yang biasanya membusuk dalam waktu singkat dapat disimpan di suhu kamar untuk jangka waktu berbulan-bulan, walaupun biasanya harus ditutup rapat.Selain itu daging ikan yang diasinkan akan bertahan lebih lama dan terhindar dari kerusakan fisik akibat infestasi serangga, ulat lalat dan beberapa jasad renik perusak lainnya.
Ikan Asin
BAHAN BAKU
1. Ikan
Pilihlah ikan yang masih segar karena kesegaramn ikan sangat menentukan mutu produk akhir yang dihasilkan. Bahan baku untuk pembuatan ikan asin dapat dikelompokkan menjadi 3 bagian :
  • Ikan berukuran besar, seperti tenggiri, tongkol, kakap, manyung, dll
    Ikan Manyung
  • Ikan berukuran sedang, seperti kembung, layang, tiga waja, dll
    Ikan Tiga Waja
  • Ikan berukuran kecil, seperti Petek, teri.
    Ikan Petek

Ikan yang berukuran besar dilakukan penyiangan yakni pembersihan dari sisik, insang, isi perut dan dilakukan pembelahan sepanjang garis punggung kearah perut (tetapi tidak sampai terbelah dua). Bagian yang masih tebal diayat miring bagian sampingnya. Jika digunakan ikan yang berukuran sedang dapat dilakukan pembelahan atau tanpa dibelah. Sedangkan ikan yang berukuran kecil cukup dicuci dengan air bersih tanpa perlu penyiangan.

2. Garam
Ikan yang mengalami proses penggaraman menjadi awet karena garam dapat menghambat atau membunuh bakteri penyebab pembusukan pada ikan. Oleh karena itu kemurnian garam sangat menentukan. Garam yang dipakai adalah garam dapur (Na Cl) murni, artinya garam yang sebanyak mungkin mengandung Na Cl dan sekecil mungkin elemen-elemen lainnya.
Garam
METODE PENGGARAMAN
Penggaraman dapat dilakukan dengan 3 cara :
  1. Penggaraman kering (dry salting) : Dapat digunakan baik untuk ikan ukuran besar maupun kecil. Penggaraman ini menggunakan garam berbentuk kristal. Ikan yang akan diolah ditaburi garam lalu disusun secara berlapis-lapis. Setiap lapisan ikan diselingi lapisan garam. 
  2. Penggaraman Basah (wet salting) : Proses penggaraman dengan metode ini menggunakan larutan garam sebagai media untuk merendam ikan.
  3. Kench Salting : Penggaraman ini hampir serupa dengan penggaraman kering. Bedanya  cara ini menggunakan kedap air. Ikan hanya ditumpuk dilantai atau menggunakan keranjang.
MEMBUAT IKAN ASIN DENGAN CARA PENGGARAMAN KERING
  • Lakukan penyiangan ikan yang akan diolah kemudian dicuci dengan agar bersih hingga bebas dari sisa-sisa kotoran.
  • Sediakan sejumlah garam kristal sesuai berat ikan. Untuk ikan berukuran besar, jumlah garam yang harus disediakan berkisar 20 – 30 % dari berat ikan, untuk ikan berukuran sedang 15 – 20 %; sedangkan ikan berukuran kecil 5%.
  • Taburkan garam ke dasar wadah / bak setebal 1 – 5 cm tergantung jumlah garam dan ikan yang akan diolah. Lapisan garam ini berfungsi sebagai alas pada saat proses penggaraman.
  • Susunlah ikan diatas lapisan garam tersebut dengan cara bagian perut ikan menghadap ke dasar bak. Selanjutnya taburkan kembali garam pada lapisan ikan tersebut. Lakukan penyusunan ikan dan garam ini secara berlapis-lapis hingga teratas adalah susunan dengan lapisan lebih banyak / tebal.
  • Tutuplah tumpukan ikan dan garam tersebut dengan keranjang / anyaman bambu dan beri pemberat diatasnya.
  • Biarkan selama beberapa hari untuk terjadinya proses penggaraman.  Bagi ikan berukuran besar 2 – 3 hari, ikan berukuran sedang 1 hari dan ukuran kecil 12 – 24 jam.
  • Selanjutnya cucilah dengan air bersih dan tiriskan. Susun ikan diatas para-para penjemuran.
  • Pada saat proses penjemuran / pengeringan, ikan sekali-kali dibalik agar ikan cepat mengering.

MEMBUAT IKAN ASIN DENGAN CARA PENGGARAMAN BASAH
  • Siapkan larutan garam jenuh dengan konsentrasi lauratan 30 – 50%.
  • Ikan yang telah disiangi disusun didalam wadah / bak kedap air, kemudian tambahkan larutan garam secukupnya hingga seluruh ikan tenggelkam dan beri pemberat agar tidak terapung.
  • Lamanya perendaman 1 – 2 hari, tergantung dari ukuran / tebal ikan dan derajat keasinan yang diinginkan
  • Setelah penggaraman, bongkar ikan dan cuci dengan air bersih. Susun ikan diatas para-para untuk proses pengeringan / penjemuran.
Sumber : Materi Pelatihan Pengolahan Hasil Perikanan BPPP Tegal

Semoga Bermanfaat...

Friday, December 18, 2015

Membuat Ikan Peda

Ikan Peda adalah salah satu produk hasil pengawetan makanan yang diolah menggunakan teknik pengawetan secara fermentasi dan pengaraman. Ikan peda biasanya dibuat dari ikan kembung perempuan (Rasterliger neglectus). Dikenal dua macam ikan peda yaitu ikan peda merah (peda siam) dan ikan peda putih. Ikan peda merah (ikan peda Siam) dibuat dari ikan kembung ber­kadar lemak tinggi dan tidak disiangi dan ikan peda putih dibuat dan ikan kem­bung yang berkadar lemak rendah dan disiangi. lkan peda dibuat secara bertahap yaitu pertama melalui proses penggaraman dan dilanjutkan dengan proses fermentasi untuk pembentukan bau khas peda yang luar biasa.
Ikan Peda

BAHAN BAKU
1. Ikan
Kesegaran ikan sangat mempengaruhi mutu hasil akhir, maka ikan yang akan diolah menjadi peda harus segar karena ikan yang sudah busuk akan menghasilkan peda bermutu rendah dan akan membahayakan kesehatan.
Ikan Kembung
Pada dasarnya semua jenis ikan dapat diolah menjadi peda, akan tetapi umumnya ikan yang digunakan sebagai bahan baku peda adalah ikan kembung (Restrelliger spp). Dipasaran dikenal dua jenis peda yaitu peda merah, yang dibuat dari ikan kembung betina (Restrelliger Neglegtus) dan peda putih yang dibuat dari ikan kembung jantan (Restrelliger Kanagorta)

2. Garam
Garam yang digunakan harus mempunyai kemurnian tinggi, artinya mengandung garam NaCl tinggi minimal 98%. Bila garam yang digunakan mengandung garam-garam calsium dan magnesium lebihd ari 1% maka akan menghasilkan peda yang kurang baik.
Garam
3. Fermentasi
Peda merupakan salah satu produk olahan tradisional yang dibuat dengan cara fermentasi. Fermentasi adalah proses penguraian daging ikan oleh enzym, akan memberikan hasil yang menguntungkan. Proses feremntasi seupa dengan pembusukan tetapi fermentasi ini menghasilkan zat-zat yang memberikan rasa dan aroma yang spesifik. Terjadinya fermentasi diperlukan syarat-syarat sebagai berikut :
  • Suasana lembab
  • Adanya oksigen dalam jumlah terbatas / semi aerob)
  • Adanya garam
TEKNIK MEMBUAT PEDA
1. Bahan
  • Ikan kembung 10 Kg
  • Garam 2,5 Kg
2. Alat 
  • Bak / pan platik / ember
  • Pendil / peti
  • Timbangan
  • Rak penirisan
  • Merang / daun pisang kering
  • Pemberat (kayu, batu)
3. Cara Membuat
  • Cuci ikan ikan dan timbang beratnya untuk menentukan banyaknya garam yang digunakan. Umumnya garam yang digunakan 25 – 30 % dari berat ikan
  • Campurkan ikan dan garam kemudian susun ikan dalam bak / pan plastik selapis demi selapis dengan diselingi garam
  • Pada permukaan paling atas diberi lapisan garam lebih tebal (± 1 cm), tutup dengan penutup dari papan / tampah dan beri pemberat. Simpan di tempat yang bersih dan sejuk selama 3 – 6 hari.
  • Bongkar ikan, kemudian cuci dengan air bersih, dan tiriskan pada rak peniris.
  • Jemur / angin-anginkan sampai ikan kelihatan kesat / padat 
  • Lumuri ikan dengan garam dan susun berlapis dalam pendil / peti yang telah dialasi merang atau daun pisang kering.
  • Tutuplah bagian atas dengan merang / daun pisang kering dan diberi pemberat diatasnya.
  • Pada saat pengepakan harus rapat, jangan sampai oksigen masuk.
  • Simpan di tempat yang bersih selama 10 s/d 15 hari. Untuk proses fermentasi sampai tercium bau peda.
Sumber : Materi Pengolahan Ikan BPPP Tegal

Semoga Bermanfaat...

Wednesday, December 9, 2015

Membuat Dendeng Ikan

Dendeng ikan adalah produk pangan semi basah yang berkadar air antara 20 sampai 40 %. Dendeng ikan termasuk olahan tradisional yang menggunakan rempah-rempah dalam proses produksinya, dan produknya cukup populer dikalangan masyarakat.
Dendeng Ikan
Dalam pembuatan dendeng, bumbu dan rempah-rempah berguna untuk menghasilkan aroma, rasa yang khas dan daya awet tertentu pada ikan. Bumbu ini juga berfungsi untuk menghambat pertumbuhan mikroba.

Jenis ikan sebagai bahan mentah dendeng ikan tidak selektif, bahkan hampir semua jenis ikan dapat dibuat dendeng.

Bumbu dan rempah-rempah yang digunakan adalah garam, gula (gula merah atau gula pasir), bawang merah, bawang putih, jahe, ketumbar, jinten dan lengkuas/laos. Penggunaan rempah dapat dalam bentuk hasil gilingan atau tumbukan halus bersama ampasnya atau dalam bentuk ekstraknya. Ekstrak rempah-rempah dapat dibuat dengan cara membubuhkan air kepada hasil gilingannya kemudian diambil cairan yang mengandung sari rempah-rempah tersebut.

Di pasaran, dendeng ikan dikenal dalam kategori dendeng manis dan dendeng asin, hal ini cara pembuatannya sama, hanya penambahan gula yang berbeda.

PERSIAPAN
1. Bahan Baku Ikan
  • Ikan Kecil seperti tembang, japuh, lemuru udang dan lain-lain ; dibuang sisiknya jika bersisik, potong kepala dan buang isi perut, belah bagian perut hingga membentuk kupu-kupu, buang duri punggung sampai mendekati ekor.
    Ikan Lemuru
  • Ikan besar seperti tongkol, larak/remang, manyung, dll ; ikan diambil bagian dagingnya saja (difillet) kemudian diiris / disayat dengan ukuran sesuai yang dikehendaki.
    Ikan Tongkol
2. Pembuatan Larutan Garam
Larutan garam dibuat dengan konsentrasi 20 %, yaitu 10 liter air untuk melarutkan 2 kg garam. Banyaknya larutan yang digunakan disesuaikan dengan jumlah ikan yang akan diolah, dengan catatan bahwa semua ikan yang akan diolah harus terendam dalam larutan garam.

3. Pembuatan Bumbu
  • Bumbu-bumbu yang akan digunakan dibersihkan, kemudian diambil dengan   Prosentase bumbu berdasarkan berat ikan setelah disiangi dan dicuci.
  • Kemudian bumbu dihaluskan, dan disesuaikan penggunaannya (untuk dendeng keropok/rempah atau dendeng ekstrak).
PROSES PENGOLAHAN
1. Penggaraman
Ikan hasil penyiangan dimasukkan ke dalam larutan garam (20 %) dan direndam selama 15 – 30 menit. Lama penggaraman sangat tergantung dari tingkat keasinan produk yang dikehendaki. Hasil penggaraman ditiriskan beberapa menit, dan ikan siap untuk dibacem.

2. Pembaceman
Lama pembaceman  8  –  16  jam
  • Dendeng bumbu/keropok : Ikan hasil penggaraman yang sudah ditiriskan, ditata dalam wadah dengan bagian kulit menghadap keatas. Kemudian taburi dengan bumbu, demikian seterusnya berlapis-lapis antara ikan dan bumbu. Bagian teratas diberi penutup dan pemberat.

  • Dendeng ekstrak : Cara pembaceman sama seperti di atas, tetapi bumbu yang digunakan berupa ekstrak bumbu yang mengandung gula dan penambahannya juga sama berlapis-lapis dengan ikan.
3. Pengeringan
  • Ikan hasil pembaceman ditata di atas para-para dengan bagian tidak berkulit mengahadap ke atas.
  • Untuk dendeng bumbu keropok, setelah pembaceman dan ditata di atas para-para ditaburi dengan ketumbar halus.
  • Lama penjemuran 12 jam,  jika panas terik ; 8 jam hari pertama dan 4 jam hari berikutnya.
  • Hasil penjemuran dibiarkan dingin sebelum dikemas.

Sumber : Materi Pengolahan Ikan BPPP Tegal

Semoga Bermanfaat...

Thursday, December 3, 2015

Fungsi Padang Lamun


FUNGSI PADANG LAMUN
Secara ekologi fungsi lamun sebagai berikut :

  1. Produsen detritus & zat hara (produsen primer).
  2. Membentuk lingkungan berupa padang lamun yang menjadi salah satu ekosistem terkaya & paling produktif.
  3. Pendaur unsur hara.
  4. Mengikat sedimen & menstabilkan substrat lunak dengan sistem perakaran yang padat & saling menyilang.
  5. Dapat menjaga & memelihara stabilitas pantai pesisir & lingkungan ekosistem estuaria.
  6. Sebagai tempat berlindung, mencari makan, tumbuh besar, & memijah bagi beberapa jenis biota laut, terutama yang melewati masa dewasanya di lingkungan ini.
  7. Merupaken tempat tinggal & tempat berlindung banyak jenis biata dari pemangsa.
  8. Merupakan komoditas yang banyak digunakan sebagai bahan dasar keranjang, pengisi kasur, atap rumbai, pupuk, penyaring limbah, bahan kertas & pakan ternak.
  9. Sebagai tudung pelindung bagi biota padang lamun dari sengatan matahari.

Pemanfaatan Padang Lamun

  1. Tempat kegiatan budidaya laut berbagai jenis ikan, kerang-kerangan & tiram.
  2. Tempat rekreasi atau pariwisata.
  3. Sumber pupuk hijau

BIOTA YANG HIDUP DI PADANG LAMUN

  1. Crustacea : Crustacea paling banyak ditemukan di padang lamun, terdiri atas: Amphipoda (terutama Gammaridae), udang (Macrura), kepiting (Brachyura), & kumang (Anomura); serta Stomatopoda.
  2. Echinodermata : Echinodermata yang sering hadir di padang lamun adalah Asteroidea (Protoreaster nodosus, Protoreaster lincki, Pentaceraster sp., Echinaster luzonicus, Linckia laevigata, Culcita novaeguineae, & Nardoa tuberculata)), Echinoidea (Tripneustes gratilla, Astropyga radiata, Temnopleurus toreumaticus, Echinothrix calamaris, Diadema setosum, & Mespilia globosus.), Holothuroidea, Ophiuroidea, & Crinoidea.
  3. Molusca : Mollusca penghuni padang lamun umunya Gastropoda, Pelecypoda, & Cephalopoda dan  hidup di karang mati, yang hidup di padang lamun hanya sedikit seperti Pyrene versicolor, Strombus labiatus, S. luhuanus, & Cymbiola verpestilio.
  4. Meiofauna : Taksa meiofauna yang umum dijumpai pada sedimen adalah Nematoda, Foraminifera, Copepoda, Ostracoda, Turbellaria, & Polychaeta.
  5. Ikan : Jenis-jenis ikan tipikal padang lamun di antaranya adalah Syngnathoides biaculeatus, Novaculichthys sp., Pervagor sp. & Centrogenys vaigiensis.
Biota yang hidup di padang lamun


Rantai makanan di padang lamun
Sumber : Materi Ekosistem Laut

Semoga Bermanfaat...

Wednesday, November 25, 2015

Ekosistem Lamun

Padang lamun merupakan salah satu ekosistem laut dangkal yang mempunyai peranan penting dalam kehidupan berbagai jenis biota laut serta merupakan salah satu ekosistem bahari yang paling produktif.  Produktivitas total meningkat dengan jelas di perairan dekat pantai. Produktifitas ekosistem lamun di daerah tropis dikenal tinggi namun mempunyai kandungan zat hara yang rendah dalam air tapi tinggi dalam air poros (pore water). Produktivitas lamun berkisar antara 500–1000 gC/m2/tahun.

Padang lamun merupakan ekosistem yang tinggi produktivitas organiknya dengan produktivitas primer berkisar antara 900 - 4650 gC/m2/tahun. Pada ekosistem lamun hidup beragam biota laut, seperti ikan, krustasea, moluska, Ekinodermata, dan cacing

Ekosistem padang lamun bukan merupakan entitas yang terisolasi, tetapi berinteraksi dengan ekosistem lain di sekitarnya. Interaksi terpenting ekosistem padang lamun adalah dengan ekosistem mangrove & terumbu karang, dimana terdapat 5 tipe interaksi antara ketiga ekosistem tersebut, yakni: fisik, bahan organik terlarut, bahan organik partikel, migrasi fauna, dan dampak manusia (Ogden & Gladfelter, 1983).
Hubungan antara terumbu karang, manusia dan lamun

KOMUNITAS LAMUN
Padang lamun dapat berbentuk vegetasi tunggal, tersusun atas 1 atau 2–12 jenis lamun yang tumbuh bersama membentuk vegetasi campuran. Jenis pembentuk komunitas padang lamun tunggal, antara lain: T. hemprichii, E. acoroides, H. ovalis, C. serrulata, & T. ciliatum
Komunitas lamun umumnya hanya terdiri atas 1 atau beberapa jenis dominan & strukturnya sederhana serta homogen.

Komunitas lamun di perairan Indo-Pasifik umumnya terdiri dari jenis yang lebih heterogen & pertumbuhannya tidak merata. Di Indonesia & perairan Indo-Pasifik lain terdapat Enhalus acoroides yang tidak dijumpai di perairan Karibia. E.acoroides dapat membentuk komunitas lamun yang monospesifik.

Padang lamun merupakan komunitas kompleks yang terdiri atas sejumlah besar epifit, epizoik, penggali, & biota lain yang berasosiasi dengan lamun, di mana mereka mendapatkan tempat berlindung dan atau makanan.

FORMASI PADANG LAMUN
Formasi padang lamun dapat dikelompokkan menjadi 5:
  1. Zosteretea : Habitat substrat pasir, lumpur di pantai tropis – subtropis Zostera.
  2. Halodulo – Thallassietea : Habitat substrat lumpur, pasir, pecahan karang mati di pantai tropis ; Halodule, Halophila, Thalassia, Cymodocea, Syringodium, Enhalus
  3. Phyllospadicetea - Phyllopadicetalia : Habitat pantai berbatu di intertidal Pasifik Utara ; Phyllospadix.
  4. Posidonietetea - Posidonietalia : Habitat sublitoral, sublitoral berbatu, pasir, Dapat membangun dasar sampai beberapa meter ; Posidonia, komunitas klimaks & sangat stabil.
  5. Thalassodendretalia ; Terdiri dari satu jenis (Thalassodendron ciliatum) yang tumbuh lebat.

SUKSESI PADANG LAMUN
Suksesi klimaks bila didominasi oleh 1 atau beberapa jenis dengan komunitas yang stabil. Contoh: Posidonia, Thallasia testudinum, kel. Halophilids & Parvozozterid
Suksesi padang lamun
KERAGAMAN JENIS LAMUN
Di seluruh dunia diperkirakan terdapat 58 jenis yang dikelompokkan ke dalam 12 marga, 4 suku, dan 2 ordo. Di Asia Tenggara ada 20 jenis yang tersebar di Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, & Filipina. Di Indonesia ditemukan 12 jenis dominan yang termasuk ke dalam 7 marga & 2 suku (Hydrocharitaceae & Potamogetonaceae). Bila termasuk Halophila beccarii & Ruppia maritima maka jumlahnya 14 jenis (Kiswara, 1994).

Di Indonesia jenis lamun dapat dijumpai dalam skala besar & menutupi dasar perairan yang luas membentuk suatu padang lamun (seagrass bed).

JENIS LAMUN DI INDONESIA
Lamun yang ada di Indonesia
Berbagai jenis lamun
Berbagai jenis lamun
KELOMPOK JENIS LAMUN

SEBARAN LAMUN DI INDONESIA

HABITAT LAMUN DI INDONESIA

Sumber : Ekosistem Lamun

Semoga Bermanfaat...

Thursday, November 19, 2015

Mengenal Tumbuhan Lamun

Lamun (seagrass) merupakan Angiospermae (Spermatophyta), berbiji satu (monokotil) yang hidup terendam di laut. Mengkolonisasi suatu daerah melalui penyebaran buah (propagule) yang dihasilkan secara seksual (dioccious). Umumnya membentuk padang luas di dasar laut yang masih dapat dijangkau cahaya matahari. Hidup di perairan dangkal & jernih di kedalaman 2-12 m dengan sirkulasi air yang baik. Tumbuh pada substrat berlumpur sampai berbatu, dominan tumbuh di substrat lumpur-berpasir.
Padang Lamun
Morfologi Lamun
  1. Umumnya memiliki bentuk morfologi luar yang hampir sama: 
  2. Terdiri dari 3 bagian utama: daun, rimpang (rhizome) & akar.
  3. Tumbuh tegak, berdaun tipis, & memiliki sistem perakaran menjalar. Memiliki rimpang (rhizoma) berbuku-buku yang tumbuh mendatar di dalam sedimen. Akar tumbuh pada buku rimpang.
  4. Tunas berbatang pendek & muncul dari buku-buku rimpang.
  5. Dengan rimpang & akar lamun dapat menancapkan dirinya dengan kokoh pada sedimen hingga tahan terhadap hempasan gelombang dan arus.
Morofologi Lamun
Bentuk Vegetatif Lamun

Bentuk vegetatif lamun memperlihatkan tingkat keseragaman yang tinggi. Hampir semua marga mempunyai rimpang yang berkembang baik & bentuk daun memanjang (linear) atau sangat panjang berbentuk seperti ikat pinggang (strap shaped), kecuali pada Halophila.

Oleh karena itu lamun umumnya dianggap sebagai kelompok tumbuhan yang homogen.  Meskipun demikian bentuk pertumbuhan, sistem percabangan & struktur anatomi lamun memperlihatkan keanekaragaman.

Daun Lamun

  1. Daun lamun tipis berbentuk pita, lidi, atau lonjong  panjang antara 2–220 cm. Pada daun terdapat saluran-saluran air & bentuk pertumbuhannya monopodial.
  2. Lamun yang mempunyai daun berbentuk pita: Enhalus acoroides, Cymodocea rotundata, Halodule pinifolia, H. uninervis, Thalassia hemprichii, & Thalassodendron cilliatum.
  3. Lamun yang mempunyai daun berbentuk lonjong: Halophila minor/ovata, H. ovalis, & H. spinilosa.
  4. Ukuran daun terbesar dimiliki Enhalus acoroides dengan panjang 70–220 cm & lebar 0,7–2,5 cm. Jenis lain mempunyai panjang tidak lebih dari 40 cm.
Bagian Daun Lamun
Habitat Lamun
Daerah muara/estuari bersalinitas cukup tinggi &  selalu tergenang air pada saat surut atau daerah pasut terendah sampai subtidal di kedalaman sampai 40 m selama mosih ada sinar matahari.

Perairan dangkal (2-12 m) yang jernih & cohaya matahari dapat menembus sampai dasar serta sirkulasi air yang baik.

Substrat pasir, pasir‑lumpuran, lumpur‑pasiran, lumpur lunak,fragmen karang, atau berbatu. Padang lamun yang luas lebih sering ditemukan di substrat lumpur-pasiran yang tebal antara hutan mangrove dan terumbu karang.
Habitat Lamun di Pantai
Sebaran Lamun

Tergantung pada luas rataan terumbu & daerah intertidal. Secara vertikal, lamun dapat tumbuh mulai dari permukaan laut s/d kedalaman 40-90 m, di mana cahaya matahari masih dapat menembus dengan tingkat energi yang masih memadai untuk fotosistensis.

Kerapatan Lamun

Kerapatan jenis lamun per luas dipengaruhi oleh:
  1. Kedalaman, kecerahan air, & tipe substrat. Lamun yang tumbuh di tempat yang lebih dalam & berair jernih mempunyai kerapatan yang lebih tinggi daripada yang tumbuh di tempat dangkal & berair keruh. Lamun di substrat lumpur & pasir kerapatannya lebih tinggi daripada lamun yang tumbuh di subtrat karang mati.
  2. Perbedaan morfologi.
  3. Struktur komunitas. Kepadatan lamun dapat mencapai 4000 tumbuhan/m2.
Kelompok Lamun

Berdasarkan karakter vegetatif lamun dikelompokkan dalam 6 kategori (den Hartog, 1967):
A. Herba: percabangan monopodial
Daun panjang/berbentuk ikat pinggang & memiliki saluran udara.
  • Parvozosterid, daun panjang & sempit (Halodule, Zostera)
  • Magnozosterid, daun panjang tidak lebar (Zostera,  Cymodocea, & Thalassia)
  • Syringodiid, daun bulat atau seperti lidi dengan ujung runcing (subulate): Syringodium.
  • Enhalid, daun panjang kaku seperti kulit (leathery linear) atau berbentuk ikat pinggang (coarse strap shape) (Enhalus, Posidonia & Phyllospadix).
Daun elip, bulat telur, tombak (lanceolate)/panjang, rapuh, tanpa saluran udara.
  • Halophilid (Halophila)
B. Bekayu: percabangan simpodial
  • Amphibolid (Amphibolis, Thalassodendron & Heterozostera)

Sumber : Ekosistem Lamun

Semoga Bermanfaat...

Wednesday, November 11, 2015

Cara Memproduksi Fillet Ikan (2)

Fillet adalah bagian daging ikan yang diperoleh dengan penyayatan ikan utuh sepanjang tulang belakang, dimulai dari belakang kepala hingga mendekati bagian ekor. Tulang belakang dan tulang rusuk yang membatasi badan dengan rongga perut tidak terpotong pada waktu penyayatan. Dengan cara penyayatan seperti ini, tulang/duri ikan yang terikut dalam daging fillet umumnya hanya sedikit sekali.
Fillet Ikan
Teknik pembuatan fillet ikan menurut bentuk-bentuk ikan yang umum diketahui adalah sebagai berikut :

1. Ikan yang berbadan bulat 
a. Lele dan sejenisnya :
  • Potong bagian tenggorokan tanpa harus sampai terputus kepalanya; 
  • Belah perutnya mulai dari tenggorokan menuju bagian anus; 
  • Buang seluruh isi perut dan bersihkan rongga perut; 
  • Potong kepala mulai dari belakang sirip insang (pectoral fin) sampai ke tulang belakang pada kedua sisinya; 
  • Patahkan kepala dengan menekan pada ujung meja dan gunakan pisau untuk menyempurnakan potongan; 
  • Buang sirip perut (pelvic fin):
  • Sayat sepanjang sirip punggung (sampai pisau menyentuh tulang rusuk) menuju arah ekor sampai pada ujung tulang rusuk;
  • Setelah sampai ke ujung tulang rusuk, tusukkan pisau sampai tembus dan sayatkan ke arah ekor:
  • Pegang daging yang telah tersayat pada punggung dan sayatkan pisau mengikuti tulang rusuk menuju ke arah perut. Biasanya membutuhkan beberapa kali gerakan sayatan untuk memotong daging dari bagian rusuk;
  • Balikkan ikan pada sisi sebelahnya. Sayat sepanjang garis sirip punggung dimulai dari bagian ekor menuju ke kepala;
  • Tusukkan pisau sampai tembus pada ujung tulang rusuk dan gerakkan pisau ke arah belakang menuju bagian ekor;
  • Pegang daging sayatan pada bagian punggung dan sayat sisa daging pada bagian tulang rusuk menuju ke arah perut;
  • Buang dinding perut



b. Kakap dan sejenisnya :
  • Sayat sisi ikan dari belakang sirip sampai ke belakang kepala;
  • Sayat mulai dari arah kepala ke arah ekor sepanjang sirip punggung; sayatan hanya sedalam tulang belakang.
  • Dari arah tulang belakang disayat sepanjang sirip punggung menuju arah ekor. Pisau harus dipegang sejajar dengan tulang rusuk, dan duri kecil ikut terpotong;
  • Potong pada ujung rusuk menuju ke ekor. Datarkan pisau pada tulang belakang setelah pemotongan pada rusuk. Ambil fillet. Fillet harus dibersihkan dari selaput perut atau sirip.
  • Tulang duri pada fillet dapat dibuang dengan mengiris bentuk V pada daging.
  • Balikkan ikan. Potong di belakang sirip insang dan sekeliling belakang kepala;
  • Sayat dari ekor sedekat mungkin tulang belakang sampai ke sudut di belakang leher;
  • Sayat sejajar terhadap sudut tulang rusuk dan memotong tulang duri, lalu buka fillet;
  • Sayat dari belakang kepala sampai ke ujung rusuk, pisau harus dipegang pada suatu sudut sehingga mengambil daging dari tengah-tengah ikan tanpa memotong sirip. Pada ikan yang besar, dua sayatan diperlukan bila pisau ramping digunakan. Buang selaput perut atau sirip dari fillet.



2. Ikan berbadan tebal dan lebar
Nila dan sejenisnya
  • Sayat mulai dari belakang sirip insang hingga ke belakang kepala;
  • Sayat dari kepala menuju ke ekor sepanjang sirip punggung;
  • Sayat ke depan pada rangka rusuk ke kepala, penyayatan memotong tulang duri;
  • Sayat dari arah kepala ke ekor dengan pisau membentuk sudut pada tulang rusuk dan sejajarkan pisau begitu lepas dari rusuk dan ambil fillet;
  • Balikkan ikan. Potong dari belakang sirip insang hingga ke belakang kepala;
  • Sayat dari ekor menuju ke kepala dengan meletakkan pisau sedekat mungkin sirip punggung;
  • Buka fillet dengan memotong ke arah kepala dengan memegang pisau ke dekat rusuk. Pemotongan melalui tulang duri;


3. Ikan berbentuk pipih 
a. Ikan sebelah
  • Sayat daging sekeliling kepala;
  • Tusukkan pisau dan sayatkan ke arah ekor dengan memegang pisau tetap datar dan pemotongan sedekat mungkin dengan sirip;
  • Sayat dari tengah menuju ke kepala dan pegang pisau mengikuti lekukan tulang belakang;
  • Selanjutnya sayat dari kepala menuju ekor dengan memotong lekukan pada tulang belakang dan ambil filletnya. Pisau harus menembus ikan dan melalui sirip untuk mengambil fillet tanpa sirip;
  • Balikkan ikan dan sayat sekeliling kepala;
  • Sayat dari kepala dengan posisi pisau datar dan tusukkan sampai menyentuh tulang belakang. Pegang pisau mendatar dan sedekat mungkin sirip dan teruskan pemotongan sampai ke ekor;
  • Sayat dari tengah-tengah menuju ke kepala;
  • Sayat dari kepala menuju ke ekor dan ambil filletnya.

b. Ikan pari
  • Letakkan ikan terbalik (punggung di bawah). Potong dari muka kepala mengelilingi insang. Pemotongan harus tembus;
  • Potong bagian sayapnya sampai terpisah dari kepala, perut dan ekor;
  • Potong bagian sayap lainnya. Preparasi ikan pari biasanya hanya dengan mengambil bagian sayapnya tidak dalam arti khusus pem-fillet-an.


Sumber :
Suparno. Pembuatan Fillet Ikan. http://www.bbrp2b.dkp.go.id
https://www.youtube.com/

Semoga Bermanfaat...

Friday, October 23, 2015

Cara Memproduksi Fillet Ikan (1)

Potensi ekspor fillet ikan ke beberapa negara, terutama ke Amerika dan Eropa diperkirakan akan berkembang terus sesuai dengan permintaan di negara-negara tersebut yang makin meningkat. Sementara itu potensi bahan baku di Indonesia cukup banyak untuk dimanfaatkan.

Produk ini lebih rentan terhadap kontaminasi dan penurunan mutu dari pada produk ikan utuh. Konsekuensinya, penanganan dan pengolahan membutuhkan ekstra perhatian yang melebihi komoditas olahan lain. Penerapan rantai dingin serta sanitasi dan higiene yang ketat merupakan persyaratan utama agar memperoleh produk yang memenuhi persyaratan yang telah ditentukan.

BAHAN DAN ALAT
Bahan Baku
Ikan air laut maupun tawar yang berukuran sedang dengan bentuk bulat atau pipih, misalnya : lele, kakap, nila, ikan sebelah, pari, dan lain-lain.
Jenis ikan yang dapat digunakan untuk membuat fillet ikan

Jenis ikan yang digunakan sebagai bahan mentah untuk pengolahan fillet ikan bermacam-macam, baik ikan laut atau ikan air tawar yang umumnya berukuran sedang, dengan bentuk ikan yang badannya bulat maupun yang pipih.

Bahan mentah harus betul-betul segar, tidak hanya untuk memperoleh produk yang bermutu tinggi tetapi juga untuk kemudahan dalam operasi pem-fillet-an. Ikan disiangi sesegera mungkin setelah tertangkap, karena bila sekali darahnya mulai beku maka daging akan mengalami diskolorasi sehingga mustahil mendapatkan fillet putih dan  menarik.

Bahan mentah disimpan dengan kondisi yang baik untuk mempertahankan mutu sampai saatnya dilakukan pem-fillet-an. Sortasi bahan mentah perlu dilakukan untuk memisahkan ikan yang tidak layak diolah, baik ikan yang kesegarannya telah menurun maupun ikan yang cacat atau terkontaminasi oleh bahan-bahan yang mempengaruhi penerimaan produk.

Peralatan
  1. Pisau. Pisau yang digunakan untuk penyayatan fillet umumnya berbentuk panjang dan ramping. Kadang-kadang untuk pengulitan fillet lebih disukai pisau fillet yang sudah usang sehingga bentuknya lebih tipis dan ramping. Jenis-jenis pisau lainnya juga harus tersedia sesuai dengan jenis pekerjaan seperti membuang sirip, memotong tulang belakang, dan lain-lain.
    Pisau fillet
  2. Pengasah pisau. Pisau untuk memfillet ikan harus tajam agar sayatan daging ikan permukaannya halus. Pisau harus diasah dalam dua tahap. Pengasahan pertama dengan gerinda atau batu asah guna memperoleh bentuk sudut dan ujung yang dikehendaki lalu pengasahan kedua dengan pengasah batang baja bulat yang bergerigi halus. Pengasah baja sangat sering digunakan pada waktu kerja.
    Pengasah pisau
  3. Talenan. Terbuat dari papan kayu atau lebih baik lagi papan komposit (sejenis plastik) karena mudah dibersihkan dari pada papan kayu.
    Talenan
  4. Meja. Meja pem-fillet-an harus dibuat dengan konstruksi dari aluminium atau baja tahan karat pada permukaannya dan mudah dibersihkan. Bagian tengah dari meja harus lebih rendah dari permukaan meja kerja dan harus mempunyai lubang penirisan.
    Meja Stainless Steel
  5. Pakaian kerja. Pakaian pelindung selama kerja dalam pemfilletan maupun pengepakan harus dikenakan untuk mengurangi kontaminasi dan menjaga kebersihan seperti apron yang berlapis karet, topi dan sepatu boot.
Seragam pada saat memfillet ikan
Lanjutan...

Wednesday, October 14, 2015

Mengenal Jangkar

Untuk membuat kapal atau perahu berhenti pada suatu tempat diperairan maka diperlukan sebuah jangkar.Sselain itu biasanya juga digunakan ketika kapal atau perahu berhenti di perairan untuk maksud-maksud tertentu dalam waktu yang relatif lama atau ketika kapal mengalami gangguan, rusak atau mogok.
Jangkar
Pengadaan jangkar tergantung:
  1. Ukuran kapal
  2. Tipe perairan
  3. Tujuan penggunaan jangkar

Multak harus ada di atas kapal, karena merupakan jaminan keselamatan bagi kapal untuk tiba ditempat tujuan dengan selamat memperkecil kemungkinan bahaya di laut syarat layak laut.

Clisold n Lynn membedakan jangkar menjadi 7 jenis yaitu :
  1. Admiralty pattern anchor
    Admiralty pattern anchor
  2. Stockless anchor, digunakan untuk dasar perairan berkarang dan berlumpur halus. Semakin besar ukuran jangkar akan semakin efisien
    Stockless anchor
  3. Plough anchor, digunakan pada kapal-kapal berukuran kecil
    Plough anchor
  4. Danforth anchor, digunakan untuk kapal-kapal besar dan kapal tanker
    Danforth anchor
  5. Light fold anchor. Digunakan untuk kapal/perahu yang berukuran kecil
    Light fold anchor
  6. Mushroom anchor. Digunakan pada kapal - kapal kecil dan untuk tujuan berlabuh (mooring) baik di laut maupun di pelabuhan.
    Mushroom anchor
  7. Grafwell anchor. Digunakan untuk dasar perairan berkarang dan berpasir

Secara umum jangkar dibedakan menjadi :

1. Jangkar Paten (Jangkar Tak Bertongkat)
  • Mempunyai 2 lengan, yaitu lengan tetap yang tidak dapat digerakkan dan lengan tidak tetap yang dapat digerakkan terbuat dari besi.
  • Ukurannya besar (untuk kapal-kapal tanker, kontainer, penumpang,kapal penangkap ikan skala besar.
  • Tali jangkar menggunakan rantai.
  • Penyimpanan pada sarang jangkar.
  • Perlu alat khusus untuk mengoperasikan jangkar.
2. Jangkar Bertongkat
  • Punya 2 lengan berupa lengan tetap
  • Terbuat dari besi
  • Umumnya berukuran kecil sampai sedang (untuk kapal-kapal barang, penumpang atau kapal penangkap ikan yang berukuran kecil)
  • Tali jangkat dapat terbuat dari rantai, tali besi/baja ataupun tali manila
  • Penyimpanannya harus dinaikkan keatas dek kapal dibagian haluan
3. Jangkar Luku
  • Mempunyai 1 lengan
  • Berukuran kecil (umumnya hanya digunakan pada kapal ikan berukuran kecil)
  • Penyimpanannya harus dinaikkan keatas dek
  • Tali jangkar terbuat dari tali besi/baja atau tali manila
4. Jangkar Sekoci
  • Mempunyai 4 lengan
  • Terbuat dari besi berdiameter 10 -15 meter
  • Dibuat dalam ukuran kecil (umumnya untuk kapal-kapal perikanan berukuran kecil sampai sedang)
  • Penyimpanannya dinaikkan keatas dek pada bagian haluan kapal
5. Jangkar “danforth”
  • Mempunyai 2 lengan
  • Mempunyai sebuah palang (besi) yang terletak dibawah tajuk jangkar untuk mempercepat tenggelamnya jangkar ke dasar perairan
  • Terbuat dari besi dan berukuran sedang sampai besar (umumnya digunakan pada kapal perang)
  • Penyimpananya digantung pada sarang jangkar
  • Lengan jangkat dapat bergerak kekanan atau kekiri

Sumber : Materi Pelatihan Penangkapan Ikan BPPP Tegal

Semoga Bermanfaat...

Thursday, October 8, 2015

Cara Pemeliharaan Alat Penangkap Ikan Dari Serat Alami

PELAPUKAN
Faktor-faktor yang menyebabkan pelapukan serat yang mengandung cellulose adalah:

  1. jenis serat
  2. suhu air
  3. daya pelapuk air
  4. durasi terendamnya
Perawatan alat penangkap ikan


PENCEGAHAN PELAPUKAN
Metode pengawetan, yang menunjukkan efektivitas tinggi adalah: metode testalin dan metode tannin plus potassium bichromate (Klust, 1973).


1. Metoda Testalin

Menurut Klust (1973) jaring yang terbuat dari serat alami direbus selama 30 menit dalam larutan yang terdiri dari agent tannin (2%) yang ditambah cuprous oxide (1%). Setelah jaring dikeringkan, perlakuan diulangi lagi dengan menambahkan 2% tannin tanpa testalin. Ada juga setelah perlakuan kedua selagi webbing masih basah dicelup dengan carbolineum.



2. Metode tannin plus potassium bichromate
Metoda tannin plus potassium bichromate (terbaik untuk bahan alat penangkap ikan), dilakukan dengan cara : Webbing  yang terbuat dari serat alami direbus selama 30 menit dalam larutan yang terdiri dari agent tannin (2%)  Setelah webbing dikeringkan, direndam selama satu jam dalam larutan potassium bichromate (3%), kemudian dicuci dengan air dan dikeringkan.

Proses ini diulangi dengan menambahkan tannin (2%).  Selanjutnya webbing dicelup dalam larutan carbolineum. Kedua metode ini menyebabkan seluruh permukaan serat terbungkus oleh anti bakteri, merembes ke kulit ari (cuticle) dan dinding-dinding cell.


PENGAWETAN
Tujuan pengawetan (preservation) untuk serat alami secara umum dapat digolongkan menjadi tiga golongan, yaitu :
1. Sterilisasi
Sterilisasi adalah sutau metode membunuh bakteri-bakteri pembusuk yang sudah ada dan hidup di dalam alat (diantara serat). Metode ini dapat dilakukan dengan cara merebus bahan di media air pada suhu dibawah titik leleh bahan dan dapat pula dilakukan dengan cara menjemurnya dibawah sinar matahari langsung. Kedua cara ini tidak menggunakan bahan pengawet.

2. Proteksi
Proteksi adalah suatu metode melindungi bahan  dari pengaruh dan aktifitas bakteri-bakteri pembusuk.Proteksi ini salah satunya dapat dilakukan dengan cara melapisi bahan dengan suatu lapisan tipis (film) dari larutan tembaga sulfat, larutan produk minyak, atau larutan nabati.

3. Gabungan sterilisasi dan proteksi.
Metode pengawetan ini adalah menggabungkan metode pengawetan sterilisasi dan metode pengawetan proteksi. Metode ini dapat dilakukan dengan terlebih dahulu mensterilkan bahan kemudian memproteksinya.
























Thursday, September 24, 2015

Bahan Alat Penangkap Ikan Dari Serat Buatan

Serat buatan (man mad fiber) atau dikenal juga dengan serat sintetis. Sintetis adalah suatu teknologi untuk suatu proses kimia dimana elemen-elemen kimia atau subtansi dasar digabung melalui suatu proses yang rumit sehingga terbentuk produk akhir yang betul-betul baru dengan penggunaan yang baru pula.
Benang
Serat buatan secara sintetis terbuat dari subtansi dasar seperti phenol, benzene, acetylene, prussic acid, chlorine, oleh karenanya disebut “synthetic fiber”.

Tahapan Pembuatan Serat Sintetis
Klust (173) menjelaskan bahwa tahapan pembuatan serat di prabrik secara umum melalui lima tahapan, yaitu :
  1. Penyediaan bahan baku
  2. Pembentukan  macro-molecules yang diperoleh dari  suatu proses kimia
  3. Polymerisasi (polymerization atau polycondensation)
  4. Pengubahan substansi menjadi serat dengan memilin lelehannya
  5. pemintalan serat untuk membentuk benang, sekaligus meningkatkan kekuatan putusnya.
Skema   proses  pembuatan  tali  dari  serat  alami  (hemp) sampai menjadi produk tali (Taito Synthetic Rope).
Skema proses pembuatan tali dari serat alami sampai menjadi produk tali

Skema  proses  pembuatan  tali  dari  sintetis  sampai menjadi produk tali (Taito Synthetic Rope).


Istilah - istilah

  1. Hackling : Proses membuang serat-serat yang keluar dari benang
  2. Silvering : Proses mengubah warna dari coklat kusam menjadi keperak-perakan
  3. Spinning : Proses memilin serat menjadi yarn
  4. Stranding : Proses memintal yarn menjadi twine atau rope
  5. Closing : Proses menggulung rope menjadi coil
  6. Inpection : Proses pengujian kualitas mutu
  7. Product : Hasil akhir berupa rope
  8. Joining : Proses penggabungan sejumlah serat untuk dipilin menjadi yarn
  9. Twisting : Proses pemintalan yarn menjadi strand
  10. Finishing : Proses pemintalan strand menjadi twine untuk pembuatan rope, dan proses penyimpulan pada pembuatan webbing
  11. Heat setting : Proses pendinginan dan pengencangan pintalan pada rope
Mesin pemroses bahan baku dan Mesin pemintal benang

Mesin pembuat tali anyam dan Mesin pembuat webbing grascel

Mesin pembuat webbing yang disimpul dan Proses pengencangan webbing

Contoh kemasan benang jaring

Kemasan benang nilon

Kemasan benang cotton

Kemasan benang PE

Berbagai macam sifat bahan dalam pembuatan BAPI :
  1. Berat jenis yang sesuai
  2. Kecepatan tenggelam
  3. Daya tahan terhadap tarikan
  4. Daya tahan terhadap gesekan
  5. Daya tahan terhadap pembusukan
  6. Elastisitas/kekenyalan
  7. Daya tahan terhadap pengaruh air laut