Lalaukan

Informasi dunia kelautan dan perikanan serta kegiatan penyuluhan perikanan

Showing posts with label penangkapan ikan. Show all posts
Showing posts with label penangkapan ikan. Show all posts

Thursday, April 16, 2020

Jenis Es Untuk Penanganan Ikan

Es adalah air yang dibekukan menjadi bentuk padat. Bergantung pada adanya kotoran seperti partikel tanah atau gelembung udara, dapat terlihat transparan atau warna kebiru-biruan yang kurang lebih buram. Pembekuan ini umumnya terjadi bila air didinginkan di bawah 0 °C (273.15 K, 32 °F) pada tekanan atmosfer standar. Es dapat terbentuk pada suhu yang lebih tinggi dengan tekanan yang lebih tinggi juga, dan air akan tetap sebagai cairan atau gas sampai -30 °C pada tekanan yang lebih rendah (Wikipedia).

Proses pendinginan ikan dalam penanganan hasil perikanan dengan es terjadi bila es bersinggungan langsung dengan ikan dimana panas yang ada dalam ikan di serap oleh es. Proses pemindahan panas akan terhenti bila ikan telah mencapai suhu es yaitu 0°C, atau jika es telah habis dan air lelehan es itu telah sama suhunya dengan ikan dan jika es yang diberikan untuk mendinginkan cukup banyak, maka sisa es yang belum meleleh dapat membantu memelihara suhu campuran es dan ikan pada 0°C.

Dimana dalam hal ini fungsi es adalah untuk :
  1. Menurunkan suhu ikan sampai mendekati 0 derajat C
  2. Mempertahankan suhu ikan tetap dingin
  3. Mempertahankan keadaan berudara aerobik pada ikan, selama pengesan.
  4. Menghambat perkembang biakan bakteri pembusuk yang ada pada ikan.
  5. Es memiliki daya pendingin yang sangat besar, tiap 1 kg es yang meleleh pada 0°C dapat menyerap panas sebanyak 80 kkal untuk meleleh menjadi air 0°C dan es memiliki titik cair pada 0°C. Dalam perhitungan jumlah esyang diperlukan,terdapat dua tahapan yang harus diperhatikan yaitu tahap penurunan suhu mencapai suhu yang diinginkan dan tahap pemeliharaan suhu sampai pada pendistribusian.
Jenis Es Yang Biasa Digunakan Untuk Mempertahankan Kesegaran Ikan
  1. Es Balok yaitu es yang berasal dari air yang memenuhi persyaratan mutu air minum yang dibekukan dalam bentuk balok.
    Es balok
  2. Es curai yaitu es yang berasal dari air yang memenuhi persyaratan mutu air minum yang dibekukan dalam bentuk keping (flake ice), tabung (tube ice), kubus (cube ice) dan pelat (plate ice).
    Flake ice

Tube ice
Cube ice
Plate ice
Syarat Bahan Baku
Bahan baku es untuk penanganan ikan memenuhi syarat mutu air minum, sesuai SNI 01-4872.2-2006, Es untuk penanganan ikan − Bagian 2: Persyaratan bahan baku.

Sumber Bahan Baku
Bahan baku yang digunakan adalah air yang berasal dari Perusahaan Air Minum, air tanah,perairan umum dan air laut yang tidak tercemar dan telah mengalami perlakuan sehingga memenuhi persyaratan mutu air minum.

Mutu Bahan Baku
Mutu bahan baku sesuai SNI 01-0220-1987, Air minum.

Penyimpanan Bahan Baku
Air disimpan dalam wadah/bak penampung air yang saniter dan higienis.

Pengolahan dan Penanganan
Cara pengolahan dan penanganan es untuk penanganan ikan yang dimaksud dalam standar ini sesuai SNI 01-4872.3-2006, Es untuk penanganan ikan − Bagian 3: Penanganan dan Pengolahan.

Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam penanganan dan pengolahan es untuk pengolahan dan penanganan ikan adalah sebagai berikut.
  1. Bak penampungan air;
  2. Pompa air;
  3. Penyaring air;
  4. Termometer;
  5. Pan pencetakan / pembeku;
  6. Alat pembekuan;
  7. Bak pembekuan;
  8. Alat pembuat es curai;

Persyaratan Peralatan
Semua peralatan dan perlengkapan yang digunakan dalam pengolahan dan penanganan es untuk penanganan ikan mempunyai permukaan yang halus dan rata, tidak mengelupas, tidak berkarat, tidak merupakan sumber cemaran jasad renik, tidak retak, tidak menyerap air, dirancang sesuai dengan persyaratan sanitasi dan mudah dibersihkan. Semua peralatan dalam keadaan bersih sebelum, selama dan sesudah digunakan.


Teknik Pengolahan dan Penanganan
ES BALOK
Penampungan air
  1. Potensi bahaya: kontaminasi bakteri patogen.
  2. Tujuan: menjamin ketersediaan bahan baku air yang memenuhi persyaratan mutu dan bebas bakteri patogen.
  3. Petunjuk: bahan baku air yang layak minum ditampung dalam tangki/bak penampungan tertutup yang saniter.

Pengisian pan pencetakan
  1. Potensi bahaya: volume tidak sesuai, kontaminasi bakteri patogen, kontaminasi fisik.
  2. Tujuan: mendapatkan volume air sesuai yang ditentukan serta bebas dari bakteri patogen dan kontaminasi fisik.
  3. Petunjuk: air dari tangki penampungan dialirkan ke tangki pengisian dan diteruskan ke pan pencetakan/pembeku. Pengisian air ke dalam pan pencetakan sesuai volume yang ditentukan.

Pembekuan
  1. Potensi bahaya: pembekuan yang tidak sempurna.
  2. Tujuan: mendapatkan es yang bening.
  3. Petunjuk: pan pencetakan yang sudah berisi air disusun dalam bak pembekuan yang berisi air garam yang telah diatur hingga suhu maksimal –13°C. Selanjutnya bak pembekuan ditutup dan ditiupkan udara dingin dengan menggunakan blower untuk meratakan sirkulasi udara dingin/pendinginan. Blower dihentikan sebelum bagian tengah air membeku seluruhnya. Pembekuan terus dilakukan hingga mencapai suhu pusat es maksimal –3°C.


Pelepasan dari pan pencetakan
  1. Potensi bahaya: kerusakan fisik.
  2. Tujuan: melepaskan es yang sudah beku dari pan pencetakan dan melindungi es dari kerusakan fisik.
  3. Petunjuk: es yang sudah matang dilepaskan dari pan pencetakan dengan cara mencelupkan cetakan ke dalam air yang memenuhi persyaratan air minum dengan suhu 5°C-10°C.

Pengangkutan
  1. Potensi bahaya : kerusakan fisik.
  2. Tujuan: melindungi es agar bebas dari kerusakan fisik.
  3. Petunjuk: es diangkut dengan menggunakan wadah bersih dan dapat melindungi kerusakan fisik.


ES CURAI
Penampungan air
  1. Potensi bahaya: kontaminasi bakteri patogen.
  2. Tujuan: menjamin ketersediaan bahan baku air yang memenuhi persyaratan mutu dan bebas bakteri patogen.
  3. Petunjuk: bahan baku air yang layak minum ditampung dalam tangki/bak penampungan tertutup yang saniter.

Pengaliran/penyemprotan air
  1. Potensi bahaya: pembekuan tidak sempurna.
  2. Tujuan: mendapatkan es bening dengan ukuran yang sama.
  3. Petunjuk: mengalirkan/menyemprotkan air secara kontinyu pada permukaan alat pembuat es curai sesuai dengan spesifikasi alat.

Pencetakan dan pembekuan
  1. Potensi bahaya: pembekuan tidak sempurna.
  2. Tujuan: mendapatkan es curai .
  3. Petunjuk: Air dialirkan pada permukaan alat pembeku, sehingga terbentuklah es curai yang jenisnya tergantung pada alat pembuat es yang digunakan.

Teknik Sanitasi dan Higiene
Es untuk penanganan ikan ditangani, disimpan, didistribusikan dan dipasarkan dengan menggunakan wadah, cara dan alat yang sesuai dengan persyaratan sanitasi dan higiene dalam unit pengolahan hasil perikanan.

Sumber : Es Untuk Penanganan Ikan. Gilang Indra Gunawan, S.St.Pi

Semoga Bermanfaat...

Monday, April 6, 2020

Cara Mempertahankan Kesegaran Ikan

Beberapa faktor didalam menentukan mutu teknologis ikan sebagai bahan mentah hubungannya terhadap cara penanganan, pengolahan, permintaan pasar serta penyediaan sarana yang tepat antara lain:
  1. Komposisi kimia terutama kadar lemak,protein
  2. Nilai gizi
  3. Sifat phisik dari tiap jenis ikan
  4. Komposisi berat
  5. Terdapatnya kelainan dan perubahan pada rupa,warna,bau,rasa dan tekstur

Ikan segar
MUTU KESEHATAN 
Untuk mendapatkan produk olahan yang aman dan sehat khususnya bagi konsumsi manusia, maka terhadap bahan mentah ikan perlu diperhatikan hal sebagai berikut:
  1. Perlu diketahui flora bakteria asli dari ikan->perbedaan kwalitatif dan kwantitatif flora bakteria sangat dipengaruhi oleh musim dan keadaan geografis
  2. Adanya penyakit/parasit yang membahayakan kesehatan manusia
  3. Terjadinya kontaminasi oleh bakteri patogen
  4. Terjadinya kontaminasi oleh logam berat seperti Hg dll
  5. Terjadinya kontaminasi oleh pestisida,herbisida dll.
  6. Terdapatnya racun alami yang terdapat dalam jenis ikan tertentu misal: ikan buntel, barracouta dll

MUTU KESEGARAN 
  1. Mutu kesegaran sangat penting dan identik dengan nilai uang
  2. Dalam prinsip teknologi pengolahan dikatakan bahwa hanya dari bahan mentah yang bermutu kesegaran tinggi akan dapat dihasilkan produk olahan yang bermutu tinggi pula
  3. Tingkatan mutu kesegaran ikan dapat digolongkan sebagai berikut :
  • Berkondisi seperti ikan hidup yaitu tahap pre-rigor
  • Amat segar yaitu tahap pre-rigor dan rigor mortis
  • Segar yaitu tahap rigor mortis dan post rigor
  • Kurang segar yaitu tahap post rigor hingga dinyatakan busuk

MEMPERPANJANG MUTU KESEGARAN IKAN 
Mutu kesegaran ikan segera setelah ditangkap dapat diperpanjang dengan berbagai usaha penanganan sebagai berikut:
  1. Mengangkat ikan segera kegeladak,membunuh secara cepat,melakukan pendarahan sempurna,mencuci dengan air bersih
  2. Membuang isi perut,insang dan lendir
  3. Menurunkan suhu pusat ikan secepat mungkin terutama pada saat ikan pada tahap pre-rigor atau rigor mortis
  4. Penanganan terhadap bahan mentah ikan pada setiap tempat dan setiap saat harus dilakukan dengan cepat,tepat,cermat dan dalam suasana bersih

KECEPATAN PENURUNAN MUTU KESEGARAN IKAN 
Kecepatan penurunan mutu kesegaran ikan dipengaruhi pula oleh beberapa faktor antara lain:
  1. Faktor biologis
  2. Faktor lingkungan
  3. Faktor penangkapan
  4. Faktor penanganan dilaut yang meliputi: a) sortasi, preparasi, pencucian dll, b) pendinginan, pembekuan, c) tehnik pendinginan yang digunakan, d) cara penyusunan ikan dalam palka, e) tehnik pembekuan hubungannya dengan  type produk, f) kondisi insulasi ruangan palka dan peralatan penanganan
  5. Faktor penanganan didarat
  6. Hubungan antara waktu dan suhu
Hubungan antara suhu dengan pertumbuhan bakteri

Sumber : Cara Mempertahankan Kesegaran Ikan. Gilang Indra Gunawan, S.St.Pi

Semoga Bermanfaat...

Monday, January 13, 2020

Destuctive Fishing

Pengertian Destructive Fishing
Destructive fishing merupakan kegiatan mall praktek dalam penangkapan ikan atau pemanfaatan sumberdaya perikanan yang secara yuridis menjadi pelanggaran hukum. Secara umum, maraknya destructive fishing disebabkan oleh beberapa faktor ; (1) Rentang kendali dan luasnya wilayah pengawasan tidak seimbang dengan kemampuan tenaga pengawas yang ada saat ini (2) Terbatasnya sarana dan armada pengawasan di laut (3) Lemahnya kemampuan SDM Nelayan Indonesia dan banyaknya kalangan pengusaha bermental pemburu rente ekonomi (4) Masih lemahnya penegakan hukum (5) Lemahnya koordinasi dan komitmen antar aparat penegak hukum.

Bentuk Destructive Fishing
Komponen destructive fishing, yaitu :

  1. Penangkapa ikan dengan bahan peledak dan bahan kimia seperti : bom (dengan bahan berupa pupuk (cap matahari, beruang,obor), bius (kalium cianida – KCn) dan Tuba (akar tuba).
    Penangkapan ikan menggunakan bom
  2. Penangkapan ikan dengan trawl (pukat harimau). Pukat harimau (trawl) merupakan salah satu alat penangkap ikan yang digunakan oleh nelayan. Alat ini berupa jaring dengan ukuran yang sangat besar, memilki lubang jaring yang sangat rapat sehingga berbagai jenis ikan mulai dari ikan berukuran kecil sampai dengan ikan yang berukuran besar dapat tertangkap dengan menggunakan jaring tersebut. Cara kerjanya alat tangkap ditarik oleh kapal yang mana menyapu ke dasar perairan. akibat penggunaan pukat harimau secara terus menerus menyebabkan kepunahan terhadap berbagai jenis sumber daya perikanan.
    Penangkapan ikan dengan menggunakan trawl
  3. Penangkapan ikan dengan Racun Sianida, Pembiusan. Bahan beracun yang sering dipergunakan dalam penangkapan ikan, seperti sodium atau potassium sianida. Penangkapan dengan cara ini dapat menyebabkan kepunahan jenis-jenis ikan karang, misalnya ikan hias, kerapu (Pinephelus spp.), dan ikan napoleon (Chelinus). Racun tersebut dapat menyebabkan ikan besar dan kecil menjadi "mabuk" dan mati. Disamping mematikan ikan-ikan yang ada, sisa racun dapat menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan terumbu karang, yang ditandai dengan perubahan warna karang yang berwarna warni menjadi putih yang lama kelamaan karang menjadi mati. Indikatornya adalah karang mati, memutih, meninggalkan bekas karang yang banyak akibat pengambilan ikan di balik karang.
    Penangkapan ikan dengan pembiusan
Jenis Bahan Beracun dan Berbahaya (B3) Untuk Destructive Fishing
Berdasarkan temuan yang ditemukan terhadap pelaku destructive fishing bahan-bahan yang sering digunakan adalah :
Bahan Beracun :
  1. Potasium Cianida digunakan untuk penangkapan ikan didaerah karang, bahan ini biasa digunakan tukang mas.
  2. Racun hama pertanian seperti merek Dexon, Diazino, Basudin, Acodan digunakan untuk penangkapan ikan air tawar di sungai atau perairan umum, bahan ini sering digunakan didaerah transmigrasi dan masyarakat lain disekitar perairan umum.
  3. Deterjen digunakan untuk penangkapan ikan didaerah karang.
  4. Akar Tuba digunakan untuk penangkapan ikan didaerah karang.
  5. Tembakau digunakan untuk penangkapan ikan didaerah karang.
Bahan Berbahaya :
  1. Belerang korek api seperti merek Diponegoro, Segi tiga ungu digunakan untuk penangkapan ikan teri dan ikan karang. 
  2. Pupuk urea seperti merek matahari, tiga obor dan tengkorak digunakan untuk penangkapan ikan didaerah karang dan permukaan. Bahan ini bersama korek api diatas diracik sebagai bahan peledak diisi dalam botol korek api sebagai sumbu bahan peledak.
  3. Aliran listrik (strom) digunakan untuk penangkapan ikan di sawah, kali-kali kecil dan daerah genangan air.
Sumber : http://mukhtar-api.blogspot.sg/2008/09/destructive-fishing-di-perairan.html

Semoga Bermanfaat...

Friday, January 10, 2020

Mengenal Bubu Gurita

Penangkapan gurita yang umum dilakukan di Indonesia biasanya hanya dilakukan dengan cara menggunakan tombak, yang dilakukan dengan cara sambil menyelam. Alat tangkap yang secara khusus digunakan untuk menangkap gurita boleh dikatakan masih belum ada. Sebagai gambaran, di bawah ini dijelaskan mengenai konstruksi, metode operasi musim penangkapan dan daerah penangkapan dengan menggunakan Bubu Gurita, yang dapat dijadikan sebagai acuan sebelum melakukan usaha penangkapan dengan bubu gurita.

KONSTRUKSI
Untuk bubu keramik, lebar mulut (pintu masuk) 15-25 cm, tinggi 30-40 cm, diameter bawah 15-20 cm dan berat antara 1-1.5 kg. Untuk bubu yang memakai  cangkang kerang, dapat memakai cangkang kerang dari jenis Scaparca Subcrenata, Rapana thomasiana yang ukuran panjangnya antara 15-20 cm atau jenis cangkang kerang lain dengan ukuran yang hampir sama. Tali pelampung, tali pemberat dan tali utama memakai tali berdiameter 15 mm sedangkan tali cabang berdiameter 10 mm. Jarak antara satu bubu dan bubu lainnya antara 8-12 m, panjang tali utama disesuaikan dengan banyak sedikitnya jumlah bubu yang digunakan, sedangkan untuk tali pelampung disesuaikan dengan kedalaman.

METODE OPERASI
Metode pengoperasian dari bubu gurita pada prinsipnya hampir sama dengan pengoperasian bubu lainnya hanya saja dalam pengoperasian bubu tidak memakai umpan. Lama perendaman tergantung nelayan yang mengoperasikannya sesuai dengan pengalaman tapi umumnya antara 2-3 hari. Pemasangan dan pengangkatan bubu dilakukan setiap hari di pagi hari.

Pemasangan bubu di daerah penangkapan dipasang satu demi satu kemudian diuntai dengan jarak satu dengan lainnya antara 6-10 m. Dalam satu set bubu biasanya dipasang antara 20-30 buah bubu atau tergantung dari kapasitas perahu, bubu yang tersedia dan kemampuan nelayan yang mengoperasikannya.
Metode pengoperasian bubu gurita
ALAT BANTU PENANGKAPAN
Alat bantu penangkapan dapat memakai gardan yang dibuat dari bambu, kayu atau besi.

JENIS HASIL TANGKAPAN
Jenis gurita seperti Ocellated octopus, Octopus ocelatus, Octopus vulgaris dan jenis Octopus dofleini.

PERAHU DAN NELAYAN
Pengoperasian bubu dapat dilakukan dengan mernpergunakan perahu tanpa motor atau perahu motor tempel dengan jumlah nelayan berkisar antara 1-2 orang.

UMPAN
Dalam pengoperasian bubu gurita tidak memakai umpan.

MUSIM PENANGKAPAN
Musim penangkapan disesuaikan dengan musim keberadaan gurita di daerah penangkapan masing-masing. Pada musim memijah, gurita akan lebih mudah untuk memasuki bubu daripada musim setelah memijah, gurita susah untuk memasuki bubu.

DAERAH PENANGKAPAN
Daerah penangkapan adalah daerah penangkapan yang mempunyai dasar perairan lumpur berpasir, berarus kecil dengan kedalaman antara 5-40 m. Daerah penangkapan yang berarus cepat tidak cocok untuk pengoperasian bubu gurita.

PEMELIHARAAN ALAT
Pemeliharaan alat harus dilakukan secara rutin. Semakin bersih semakin mudah gurita untuk memasuki bubu.

PENGADAAN ALAT DAN BAHAN
Bahan dan alat untuk pembuatan bubu gurita bisa dicari di toko kelontong atau mencari cangkang kerang.

Sumber : Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil

Semoga Bermanfaat...

Friday, January 3, 2020

Pemasaran Hasil Produk Perikanan

A. DEFINISI PASAR
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang mendefinisikan pasar tidak terlepas dari peran orang tersebut dalam pasar. Apakah ia sebagai produsen, lembaga pemasaran atau sebagai konsumen.

Definisi pasar bagi produsen adalah sebagai tempat untuk menjual barang atau jasa yang dihasilkan.

Bagi lembaga pemasaran, pasar merupakan tempat untuk melakukan aktifitas usaha dengan melaksanakan fungsi - fungsi pemasaran tertentu sehingga lembaga pemasaran mendapatkan keuntungan.

Konsumen mendefinisikan pasar sebagai tempat untuk membeli barang atau jasa sehingga konsumen tersebut dapat memenuhi kebutuhan dan keinginannya.
Kegiatan pemasaran hasil perikanan. 
B. DEFINISI PEMASARAN
Ada beberapa definisi pemasaran yang dikemukakan oleh para ahli, antara lain adalah :

1. Dahl dan Hammond (1977). Pemasaran digambarkan sebagai urutan, langkahlangkah atau tahapan-tahapan yang merupakan gerakan produksi dari satu titik produksi sampai titik konsumsi akhir.

2. Hanafiah dan Saefuddin (1986). Pemasaran merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk menciptakan, menjaga dan meningkatkan nilai dan kegunaan dari barang dan jasa. Kegunaan yang
mampu diciptakan oleh kegiatan pemasaran meliputi penciptaan dan peningkatan nilai kegunaan tempat, waktu dan kepemilikan.

3. Rifianto (1989). Pemasaran adalah kegiatan yang bertalian dengan penciptaan atau penambahan kegunaan daripada barang dan jasa dengan tujuan untuk menempatkan barangbarang ke konsumen akhir. Untuk mencapai tujuan tersebut, perlu dilaksanakan kegiatan-kegiatan pemasaran yang dilihat
berdasarkan arus barang yang meliputi beberapa proses, yaitu pengumpulan (konsentrasi), pengimbangan (equalisasi) dan penyebaran (dispersi).


3. Downey dan Erikson (1989). Pemasaran merupakan ilmu yang menelaah terhadap aliran produk secara fisik dan ekonomis melalui lembaga pemasaran kepada konsumen.

4. Philip Kotler dan Gary Amstrong (1990). Pemasaran merupakan suatu usaha dengan menggunakan pasar untuk melakukan pertukaran yang bertujuan untuk memenuhi keinginan manusia.

5. Bell (1996). Pemasaran merupakan bagian manajemen yang diterapkan secara strategis dalam perencanaan, pengaturan dan pengawasan dengan motivasi untuk mencapai keuntungan dengan jalan memenuhi kebutuhan konsumen secara baik dengan melakukan integrasi usaha ke belakang (backward inkage) maupun integrasi ke depan (forward linkage). Integrasi usaha ke belakang pada umumnya bertujuan untuk menjamin ketersediaan bahan baku, sedangkan integrasi ke depan lebih menekankan aspek pemasaran. Integrasi usaha ini dapat dilakukan melalui kegiatan pengolahan, pendirian lembaga keuangan dan penjualan dalam suatu sistem pemasaran.

C. PEMASARAN HASIL PERIKANAN

Sebagai proses produksi yang komersial, maka pemasaran hasil perikanan merupakan syarat mutlak yang diperlukan dalam pembangunan perikanan. Sistem pemasaran yang berfungsi dengan baik, ditunjukkan melalui harga, kecendrungan konsumen terhadap satu jenis komoditas dan nilai ekonomi yang menyertai kecendrungan tersebut.

Peranan pemasaran hasil perikanan dalam mempertahankan produksi sangat penting sekali karena :
  1. Keberhasilan dalam mengatur pola produksi tergantung pada sistem pemasaran yang efektif untuk menjembatani permasalahan yang kompleks dalam kaitannya dengan permintaan dan penawaran pada sistem pemasaran.
  2. Pengetahuan pasar yang terperinci tentang dimana, kapan dan berapa jumlah produk yang dapat dijual adalah penting dalam menentukan produk perikanan mana yang akan dikembangkan.

Dalam pemasaran hasil perikanan, perludiperhatikan ciri-ciri dari produk perikanan yaitu (Hanafiah dan Saefuddin, 1986) :
  1. Produk perikanan bersifat musiman. Produksi hasil perikanan hanya dapat dihasilkan pada musim-musim tertentu, jauh berbeda dengan produk-produk industri yang dapat dihasilkan setiap waktu. Tetapi sekarang dengan teknologi yang baru sudah mulai dikembangkan usaha-usaha produksi dengan harapan hasilnya akan mampu memenuhi permintaan konsumen. Salah satu usaha peningkatan produksi di bidang perikanan adalah usaha budidaya seperti peternakan dan pembesaran ikan.
  2. Produk perikanan tidak bisa dihasilkan di sembarang tempat. Produk hasil perikanan hanya dihasilkan di daerah-daerah yang berhubungan dengan wilayah perairan, baik perairan laut maupun perairan darat. Produksi yang dilakukan oleh nelayan dan petani ikan terpencar di daerah-daerah dimana perairan, tanah dan iklimnya memberi kemungkinan cocok untuk berproduksi dan kadang-kadang lokasinya sangat jauh dari pusat-pusat konsumsi atau pasar. Dengan tidak dapat diproduksi disembarang tempat, maka diperlukan juga aktifitas pengangkutan dan pendistribusian yang tepat untuk mengantarkan produk perikanan dari daerah produsen ke daerah konsumen.
  3. Produk perikanan bersifat segar dan mudah rusak. Kesegaran produk perikanan yang dihasilkan nelayan atau petani ikan biasanya tidak dapat bertahan lama setelah ditangkap, hal itu mengakibatkan produk tersebut harus dijual secepatnya. Apabila terjadi keterlambatan dalam penanganan produk segar ini, maka akan menurunkan kualitas dan mutu sehingga dikhawatirkan harganya pun akan menjadi turun. Dengan sifat mudah rusak, maka perlu menjadi perhatian yang serius baik nelayan maupun lembagalembaga pemasaran yang ikut terlibat didalamnya.
  4. Jumlah atau kualitas hasil perikanan dapat berubah-ubah. Jumlah dan kualitas dari hasil perikanan tidak selalu tetap, tetapi berubah-ubah dari tahun ke tahun. Ada tahun-tahun dengan jumlah dan kualitas hasil perikanan baik dan ada pula tahun-tahun dengan jumlah dan kualitas hasil perikanan merosot, karena sangat tergantung pada keadaan cuaca serta kondisi perairan.
  5. Produk perikanan merupakan bahan dasar. Berbagai produk perikanan sebagian besar merupakan bahan dasar, yang dapat diproses lebih lanjut menjadi bahan setengah jadi atau bahan jadi. Berbagai usaha untuk memperoleh nilai tambah dapat dilakukan, apalagi jika dikaitkan dengan penyerapan tenaga kerja misalnya dalam bentuk agroindustri perikanan dengan pertimbangan mana yang lebih menguntungkan dan mempunyai prospek pasar yang lebih baik. Pemasaran hasil perikanan meliputi berbagai aktivitas yang dilakukan mulai dari pengadaan sarana produksi, produksi, pengolahan pasca panen serta bagaimana pemasaran bisa dilakukan. Tanpa kegiatan pemasaran maka produk perikanan yang dihasilkan akan menjadi barang yang tidak bermanfaat.


Pemasaran hasil perikanan mempunyai sejumlah ciri, diantaranya adalah (Hanafiah dan Saefuddin, 1986) :

  1. Sebagian besar dari hasil perikanan berupa bahan makanan yang dipasarkan diserap oleh konsumen akhir secara relatif stabil sepanjang tahun, sedangkan penawarannya sangat tergantung kepada produksi yang sangat dipengaruhi oleh iklim.
  2. Pada umumnya pedagang pengumpul memberi kredit (advanced payment ) kepada produsen sebagai ikatan atau jaminan untuk dapatmemperoleh bagian terbesar dari hasil perikanan dalam waktu tertentu.
  3. Saluran pemasaran hasil perikanan umumnya terdiri dari produsen (petani ikan), pedagang perantara sebagai pengumpul, grosir (wholesaler ), pedagang eceran, dan konsumen (industri pengolahan atau konsumen akhir).
  4. Pergerakan hasil perikanan berupa bahan makanan dari produsen sampai konsumen pada umumnya meliputi proses pengumpulan, pengimbangan, dan penyebaran, dimana proses pengumpulan merupakan proses yang terpenting.
  5. Kedudukan terpenting dalam pemasaran hasil perikanan terletak pada pedagang pengumpul karena berhubungan dengan fungsinya sebagai pengumpul dari daerah produksi yang terpencar-pencar, skala produksi kecilkecil, dan produksinya bersifat musiman.

Sumber : Emmy Lilimantik. Definisi Pasar, Pemasaran dan Pemasaran Hasil Perikanan. Universitas Lambung Mangkurat Kal-Sel.

Semoga Bermanfaat...

Monday, March 25, 2019

Pemliharaan Alat Tangkap Ikan


Dalam melakukan perawatan alat tangkap merupakan hal yang harus dilakukan oleh nelayan karena perawatan alat yang baik dapat memperpanjang umur alat tangkap sehingga dapat meningkatkan kinerja dan produktifitas alat tangkap ikan.
Perawatan Alat Tangkap Ikan [sumber]
Kerusakan atau penurunan kekuatan alat penangkap ikan disebabkan oleh :
  1. Pengaruh mekanis
  2. Perubahan sifat-sifat bahan karena reaksi kimia
  3. Pengerusakan oleh jasad-jasad renik
  4. Pengaruh alam
Kerusakan tidak dapat dicegah, tetapi hanya dapat menghambat yaitu memelihara dengan jalan mengawetkan agar tahan lama.

PEMELIHARAAN ALAT TANGKAP IKAN
  1. Menyimpan dalam tempat yang aman. Disimpan pada tempat yang bebas dari binatang mengerat dan bebas atau jauh dari sumber api. Perlu disimpan dalam gudang yang baik dan bersih serta jauh dari kemungkinan bahaya kebakaran.
  2. Menghindarkan dari sinar matahari terik. Bahan jaring hendaknya jangan dijemur dari sinar matahari langsung. Bila kena sinar matahari langsung akan menjadi lapuk.
  3. Alat yang baru dipakai hendaknya dicuci dengan air tawar, kemudian ditiriskan di tempat yang sejuk sampai kering. Kemudian baru diangkat dan dimasukkan dalam gudang.
  4. Tempat penyimpanan hendaknya bersih dari bekas minyak, bekas kotoran ikan dll. Hal ini untuk menghindari kerusakan secara kimia maupun jasad renik.
  5. Pemakaian alat dengan hati-hati.
  6. Terutama pada saat setting maupun hauling. Pastikan fishing ground aman dari batu karang, tonggak-tonggak dll.
  7. Bersihkan alat penangkap ikan dari sampah atau kotoran lain yang menempel, terutama gill net dan trawl.
  8. Memperbaiki kerusakan kecil sedini mungkin
Kerusakan awal kebanyakan disebabkan oleh :
  1. Pergesekan alat dengan benda lain (badan kapal dsb).
  2. Tersangkut oleh benda lain (karang, tonggak dll)
  3. Digigit atau kena sirip ikan atau gerakan ikan yang akan melepaskan diri.
  4. Sengaja disobek oleh nelayan (kerusuhan)Kerusakan tersebut biasanya disebut kerusakan mekanis. Hal ini harus segera diperbaiki. Kalau tidak akan menyebabkan kerusakan yang lebih parah sehingga akan menurunkan hasil tangkapan
CARA PENGAWETAN ALAT TANGKAP IKAN
Tujuan umum pengawetan
1. Untuk mempertahankan agar alat dapat tahan lama
2. Penghematan biaya dan tenaga
3. Memperlancar operasional
Tujuan khusus pengawetan, yaitu menjaga dan mencegah kerusakan dari kerusakan mekanis, proses kimia, jasad renik dan pengaruh alam (terutama sinar matahari).

Cara pengawetan ada 2, yaitu :
  1. Secara tidak langsung, yaitu dengan jalan pemeliharaan.
  2. Secara langsung, yaitu : a). dengan cara mencegah kontaminasi;  b). dengan cara sterilisasi; c). dengan cara kombinasi.
1. Cara mencegah kontaminasi
Dilakukan dengan cara menyamak alat penangkap ikan dengan bahan penyamak. Tujuan penyamakan, yaitu bahan dapat terlindung oleh bahan penyamak dari kontaminasi bakteri atau jasad renik lainnya. Ada 3 bahan penyamak yang biasa digunakan oleh nelayan :
a. Bahan penyamak nabati : tingi, turi dsb
b. Bahan penyamak hewani : putih telur dan darah
c. Bahan penyamak kimia : ter, coffer dan napthenase

2. Cara sterilisasi
  1. Pengawetan secara ini hampir tidak pernah dilakukan oleh nelayan.
  2. Tujuannya adalah untuk membunuh mikroorganisme yang melekat pada alat penangkap ikan, agar tidak merusak
  3. Cara sterilisasi :
  • Menjemur alat pada panas matahari. Bahan jaring dari serat alam harus dijemur dengan sinar matahari terik, tetapi bahan dari serat sintetis tidak boleh dijemur dengan sinar matahari terik. Penjemuran pada serta alam untuk membunuh atau mencegah aktifitas miokroorganisme yang menempel pada alat jaring.
  • Perebusan. Alat direbus atau dimasukkan pada air yang mendidih, agar mikroorganisme yang menempel akan mati. Setelah direbus, lalu dijemur pada matahari sampai kering

3. Cara kombinasi. Secara tidak sadar cara ini paling banyak dilakukan oleh nelayan

Anda dapat mendownload materi penyuluhan perikanan dalam bentuk folder pada link berikut :

Semoga Bermanfaat...

Monday, February 18, 2019

Penanganan Rajungan Di Atas Kapal

Penanganan rajungan diatas perahu dilakukan dalam bentuk segar dan perebusan. Perlakuan yang baik adalah menjaga dan membawa rajungan sampai ke pembeli dalam waktu yang sesingkat-singkatnya sehingga daging rajungan terjaga kualitas kekenyalannya maupun aromanya.
Rajungan hasil tangkapan nelayan [sumber]
1). Rajungan Segar
Penangkapan Rajungan segar dengan 1 trip > 1 hari memerlukan coolbox untuk menyimpan hasil tangkapan rajungan segar supaya tetap terjaga tingkat kesegarannya, penanganan rajungan dalam bentuk segar (raw materials) di simpan dalam wadah pada suhu sekitar 0 – 4 derajat celsius dan dipertahankan sampai masuk ke miniplant untuk proses perebusan (cooking). Tubuh rajungan diusahakan tetap utuh dan tidak terintrusi air es hingga penyusunan rajungan dalam wadah teratur tidak tergencet, dalam lingkungan dingin, tidak terbuka oleh sinar panas matahari dan bebas dari pengaruh bahan pencemar. Di atas perahu sudah disediakan box sebagai wadah penyimpanan rajungan atau wadah lain yang sama perannya untuk menjaga kesegaran rajungan dan lebih ringan atau lebih mudah dipindahkan. Adapun tahapan penangan rajungan segar adalah sebagai berikut :
  • Jenis-jenis rajungan hasil tangkap Bubu Rajungan yang dipilih adalah ukuran komersial (> 150 gram).
  • Apabila kapal bubu rajungan berukuran kecil (< 5 GT), digunakan cold-box portable ukuran kapasitas mulai dari 50 kg, 100 kg dan 200 kg yang dilengkapi dengan lubang penirisan (drain hole) untuk membuang air lelehan es. Dengan ukuran kecil ini penempatannya di kapal bubu rajungan lebih luwes, yang penting ditempat yang terlindung dari cahaya matahari langsung.
  • Bak pendinginan (chilling) dan pencuci rajungan ukuran 0,5 – 2 m3, sebagai tempat mencuci sekaligus chilling rajungan setelah dilepas dari Bubu Rajungan saat hauling, dimana bak ini akan diisi air laut yang diberi es. Sebaiknya bak ini bertutup dan berisolasi agar dapat menghemat pemakaian es. Perbandingan es curai dan air laut = 2 : 1.
  • Keranjang plastik. Terbuat dari bahan HDPE yang cukup kuat dengan kapasitas maksimum 25-30 kg rajungan,  agar cukup ringan sehingga mudah ditangani secara manual. Keranjang ini didesign sedemikian rupa sehingga air lelehan es dapat mengalir dengan lancar dan dapat ditumpuk tanpa memberikan tekanan produk rajungan yang ada didalamnya. Keranjang ini memiliki dua fungsi yaitu untuk wadah rajungan hasil seleksi, tempat melakukan pencucian sekaligus wadah rajungan selama penyimpanannnya dalam palkah. Jumlahnya disesuaikan agar dapat menampung semua hasil produksi,
  • Terpal.untuk membuat pelindung dari panas matahari bagi area dek kapal Bubu Rajungan.

2). Rajungan Kukus
  • Penanganan rajungan segar merupakan salah satu bagian penting dari mata rantai perdagangan rajungan ataupun industrial rajungan. Penanganan rajungan pada dasarnya terdiri dari dua tahap, yaitu penanganan di atas kapal dan penanganan di darat. Penanganan rajungan setelah penangkapan memegang peranan penting untuk memperoleh nilai jual rajungan yang maksimal. Tahap penanganan ini menentukan nilai jual dan proses pemanfaatan selanjutnya serta mutu produk olahan rajungan yang dihasilkan.
  • Peralatan perebusan hasil tangkap rajungan berfungsi untuk melindungi rajungan dari kemunduran mutu daging rajungan setelah proses penangkapan sehingga memberikan peluang dapat dipertahankannya mutu dan kualitas rajungan dalam keadaan mati ataupun menjamin daging rajungan hasil tangkapan bubu tidak mengalami kemunduran mutu selama proses operasi penangkapan sehingga memberikan nilai jual rajungan yang lebih tinggi.
  • Peralatan perebusan banyak dipergunakan oleh nelayan rajungan, yang merupakan peralatan perebusan yang cukup sederhana baik kontruksi maupun penggunaan bahan peralatan perebusan. Dengan adanya peralatan perebusan diatas kapal nelayan yang cukup sederhana, maka penanganan rajungan diatas kapal bisa ditingkatkan dengan cara melakukan modernisasi peralatan perebusan sehingga higinitas dan sanitasinya dapat terjamin atau dapat lebih tinggi.
Cara perebusan meliputi :
1) Pensortiran
Pensortiran dilakukan terhadap rajungan hasil tangkapan yang akan direbus. Setelah proses pensortiran dilakukan proses pencucian dilakukan untuk mengurangi mikroba yang ada dipermukaan tubuh rajungan.

2) Pencucian
Rajungan yang sudah dikeluarkan dari bubu dicuci dengan air laut hingga bersih dari lumpur atau kotoran-kotoran yang menempel

3) Perebusan
Setelah proses pencucian dilakukan proses perebusan atau pengukusan pada suhu 80⁰ - 90⁰ C selama 20 – 40 menit sesuai dengan ukuran rajungan. Tujuan dari perebusan ini adalah menghentikan aktifitas bakteri pembusuk jamur maupun enzim sehingga dapat memperpanjang daya awet produk olahan dan mempermudah pengelupasan kulit rajungan. Dalam standard penanganan rajungan diatas perahu untuk produk yang sudah direbus harus diperlakukan dengan kriteria sesuai dengan bentuk produk rajungan yang disediakan dari atas perahu. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan standard dalam proses perebusan di atas perahu/kapal yaitu setiap 50 kg rajungan direbus dengan menggunakan air sebanyak 20 liter dan direbus selama  20 – 40 menit. Langkah selanjutnya setelah perebusan agar dianginkan selama 45 menit lalu disimpan di wadah yang dijaga kebersihannya dan terhindar dari kontaminasi bahan atau benda lain sekecil apapun hingga sampai disetor ke miniplant terdekat.

4) Penyimpanan
Rajungan yang telah direbus selanjutnya disimpan di dalam cool box menggunakan es curah (1 basket ½ balok), maksimal 3 basket @ 25 kg

Friday, February 15, 2019

Rancang Bangun Alat Tangkap Bubu

Rancang bangun alat tangkap bubu dititik beratkan pada konstruksi yang dirancang agar menjadikan alat tangkap ini menjadi alat tangkap yang ramah lingkungan yaitu memberi kesempatan ikan atau rajungan yang berukuran kecil dapat melepaskan diri.

Pertimbangan penting dalam membuat rancang bangun (desain) bubu adalah :
  1. Bubu hendaknya mudah dibawa dalam jumlah banyak dan mudah dioperasikan termasuk mudah penataannya diatas geladak perahu;
  2. Ringan dan cukup kompak sehingga mudah ditenggelamkan dan mudah diangkat selama operasi penarikan;
  3. Stabilitas bubu agar posisinya benar-benar tegak pada saat dipasang di atas dasar perairan; konstruksi bubu yang tidak terlalu tinggi dengan nilai ratio tinggi dan panjang dasar bubu berkisar 0.35 – 0,4 dan berbentuk kubah merupakan salah satu penampilan yang stabil,;
  4. Ketahanan bubu agar dapat digunakan lebih lama sehingga diperlukan bahan jaring sintetis ;
  5. Konstruksi bubu yang sederhana, mudah dilipat dan murah biaya pembuatannya, disamping itu lebih ringan dan mudah sewaktu dilakukan pengangkatan untuk dipindahkan.

Adapun bubu ini terdiri dari bagian-bagian sebagai berikut :
1). Rangka (frame)
Bagian ini berfungsi untuk membentuk badan bubu sehingga dapat mempertahankan bentuk bubu ketika dioperasikan, terbuat dari besi atau kawat.
Kerangka Bubu
2). Bagian badan (rongga).
Pada bagian badan bubu, salah satu bagian badannya (bawah) tertutup rapat dengan jaring (webing), sedangkan bagian lainnya dapat dibuka (pintu bubu) yang berfungsi untuk memasang umpan dan mengambil hasil tangkapan dari dalam rongga bubu. Bahan jaring pada badan bubu ini Polyethylene (PE) berwarna hijau dengan ukuran benang 380/d6 dan ukuran mata jaring 1,25 inci.
Jaring yang menjadi bagian badan bubu
3). Bagian mulut (ijeb) 
Bagian mulut berjumlah 2 buah bagian sisi kiri dan kanan yang berbentuk pipih dan menjorok kedalam (mengerucut kedalam) sepanjang 20 cm. Bagian ini berfungsi sebagai jalur masuknya target tangkapan (ikan atau rajungan) ke dalam bubu, target tangkapan mudah masuk namun kesulitan untuk keluar.
Bagian mulut bubu
Pada bubu lipat bagian ini terlatak di bagian sisi kiri dan kanan, bentuknya seperti corong dengan lubang corong dari bibir dan lubang yang mengarah ke dalam semakin menyempit membentuk celah untuk menyulitkan ikan keluar dari bubu. Bagian mulut ini terbuat dari bahan Polyethylene (PE) berwarna hijau dengan ukuran benang 380/d6 dan ukuran mata jaring 1,25 inci, dengan rincian panjang bibir bawah 15 mata panjang 3 mata, bibir atas 15 mata dan lebar bibir atas 3 mata. 

4). Bagian pintu
Pintu terletak pada bagian tengah badan bubu agar mudah untuk mengeluarkan hasil tangkapa setelah bubu dibuka pada saat hauling. Bagian pintu terletak di bagian atas  bubu dan jaringnya dapat dibuka-tutup. Pada bubu lipat bagian ini digantikan dengan sayap depan dan sayap belakang yang dapat dibuka (dilipat) dan ditutup.
Bagian pintu bubu
5). Celah pelolosan
Celah pelolosan dibuat agar ikan-ikan yang belum layak tangkap dari segi ukuran dapat dapat keluar dari bubu dan hidup bebas untuk melanjutkan pertumbuhannya. Pada bubu lipat celah pelolosan ini terletak antara sayap depan dan sayap belakang yang dapat dibuka-tutup dan diantaranya terdapat celah (tidak tertutup rapat) .
Celah pelolosan bagi ikan yang berukuran lebih kecil
6). Tempat umpan (Bait Hook)
Bagian ini terbuat dari besi (kawat seng) Ø 4 mm ditekuk seperti leter U dan digantungkan ditengah-tengah rongga bubu yang diapit diantara ragangan bubu, berfungsi untuk mengaitkan umpan.
Tempat umpan
7). Tali Utama (main line)
Tali utama (main line) terbuat dari bahan PE Ø 6 - 8  mm  Panjang tali utama ini    disesuaikan dengan jumlah bubu yang dibutuhkan atau diturunkan sewaktu setting. Setiap jarak 10 meter pada tali utama ini terdapat tali cabang penghubung bubu dengan tali utama.
Tali utama pada pembuatan bubu
8). Tali cabang (Branch line) atau tali pengikat
Tali cabang (branch line) terbuat dari PE Ø 4 mm diikat kan pada bubu dengan panjang 200 cm dan dihubungkan dengan tali utama .
Tali pengikat pada pembuatan bubu
9). Tali guci (tali segitiga) yang terbuat dari PE Ø 4 mm diikat kan pada bubu dengan panjang 40 cm dan dihubungkan dengan tali cabang.
Tali segitiga
10). Pelampung tanda
Pelampung tanda berjumlah 2 buah berupa pelampung dari bahan sterafoam yang dilengkapi dengan tiang dan bendera.

Penempatan pelampung pada pemasangan bubu di perairan [sumber]
11). Pemberat
Pemberat dipasang pada bubu berfungsi untuk menahan bubu agar tidak hanyut (bergeser dari tempatnya) akibat pengaruh pasang surut, arus dan gelombang laut. Pemberat diperlukan terutama apabila bubu dianggap terlalu ringan sehingga mudah dihanyutkan arus atau gelombang.

Penempatan pemberat pada pemasangan bubu di perairan [sumber]

Sumber : Modul Pembuatan dan Pengoperasian Alat Tangkap Bubu. BPPP Tegal

Semoga Bermanfaat...

Monday, February 11, 2019

Ruang Lingkup Penyuluhan : Berusaha Yang Lebih Menguntungkan (Better Bussiness)

Dalam menghadapi persaingan dunia usaha yang semakin ketat.  Sekarang ini kita dituntut untuk dapat mengembangkan usaha , supaya usaha kita dapat maju dan besar serta menjadi pengusaha yang sukses. Definisi pengembangan usaha itu sendiri adalah terdiri dari sejumlah tugas dan proses yang pada umumnya bertujuan untuk  mengembangkan dan mengimplementasikan peluang pertumbuhan. Tetapi pada kenyataanya untuk mengembangkan usaha yang pada awalnya  dimulai dari nol besar atau baru memulai usaha sangatlah sulit .
Ilustrasi keuntungan [sumber]
Banyak hambatan – hambatan yang dihadapi seperti kekurangan modal, tenaga kerja yang ahli atau terampil, kinerja keuangan usaha yang buruk , dan sebagainya . Tetapi hambatan- hambatan  itu semua dapat diatasi  dengan cara mengembankan dan menerapkan strategi pengembangan usaha yang baik .  Pengembangan usaha bukan saja dibarengi dengan modal yang banyak atau tenaga kerja yang terampil , tetapi juga harus dibarengi dengan niat dari diri kita sendiri. Dengan niat yang sungguh – sungguh kita bisa mengembangkan usaha kita menjadi lebih besar. Jika tidak mengembangkan usaha dengan sungguh – sungguh maka sebaliknya usaha akan kita akan bangkrut.

Cara lain yang harus dilakukan untuk dapat mengembangkan usaha dengan baik adalah dengan memberikan pendidikan meningkatkan keahlian kepada pengusaha (wirausaha) seperti memberi pelatihan workshop tentang pengembangan usaha , dan sebagainya. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan yang  lebih kepada pengusaha terhadap pengembangan usaha yang baik.Dan perlu diingat bahwa pengembangan usaha itu merupakan bagian dari perencanaan pemasaran (marketing plan) oleh karena itu setiap pengusaha baik pengusaha kecil maupun besar harus mampu membuat marketing plan terlebih dahulu sebelum mengembangkan usahanya . Di dalam marketing plan itu dimuat hal- hal sebagai berikut seperti analisa situasi , tujuan pemasaran , anggaran pemasaran , kontrol / pengawasan terhadap pemasaran dan lain sebagainya.

Berikut beberapa upaya yang dapat menunjang kegiatan pengembangan usaha agar lebih menguntungkan :

1. Kemudahan dalam Akses Permodalan
Salah satu permasalahan yang dihadapi UKM adalah aspek permodalan. Lambannya akumulasi kapital di kalangan pengusaha mikro, kecil, dan menengah, merupakan salah satu penyebab lambannya laju perkembangan usaha dan rendahnya surplus usaha di sektor usaha mikro, kecil dan menengah. Faktor modal juga menjadi salah satu sebab tidak munculnya usaha-usaha baru di luar sektor ekstraktif. Oleh sebab itu dalam pemberdayaan UKM pemecahan dalam aspek modal ini penting dan memang harus dilakukan.
Ilustrasi modal [sumber]
Yang perlu dicermati dalam usaha pemberdayaan UKM melalui aspek permodalan ini adalah: (1) bagaimana pemberian bantuan modal ini tidak menimbulkan ketergantungan; (2) bagaimana pemecahan aspek modal ini dilakukan melalui penciptaan sistem yang kondusif baru usaha mikro, usaha kecil, dan usaha menengah untuk mendapatkan akses di lembaga keuangan; (3) bagaimana skema penggunaan atau kebijakan pengalokasian modal ini tidak terjebak pada perekonomian subsisten. Tiga hal ini penting untuk dipecahkan bersama. Inti pemberdayaan adalah kemandirian masyarakat. Pemberian hibah modal kepada masyarakat, selain kurang mendidik masyarakat untuk bertanggungjawab kepada dirinya sendiri, juga akan dapat mendistorsi pasar uang. Oleh sebab itu, cara yang cukup elegan dalam memfasilitasi pemecahan masalah permodalan untuk usaha mikro, usaha kecil, dan usaha menengah, adalah dengan menjamin kredit mereka di lembaga kuangan yang ada, dan atau memberi subsidi bunga atas pinjaman mereka di lembaga keuangan. Cara ini selain mendidik mereka untuk bertanggung jawab terhadap pengembalian kredit, juga dapat menjadi wahana bagi mereka untuk terbiasa bekerjasama dengan lembaga keuangan yang ada, serta membuktikan kepada lembaga keuangan bahwa tidak ada alasan untuk diskriminatif dalam pemberian pinjaman. 

Sebelum krisis ekonomi tahun 1997, kredit Perbankan lebih banyak terkonsentrasi pada kredit korporasi dan juga konsumsi dan hanya segelintir kredit yang disalurkan ke sektor Usaha Kecil dan Menengah. Oleh karena itu, untukmeningkatkan kapasitas UKM ini, Perbankan harus menjadikan sektor ini sebagai pilar terpenting perekonomian negeri. Bank diharapkan tidak lagi hanya memburu perusahaan-perusahaan yang telah mapan, akan tetapi juga menjadi pelopor untuk mengembangkan potensi perekonomian dengan menumbuhkan wirausahawan melalui dukungan akses permodalan bagi pengembangan wirausaha baru di sektor UKM. Perbankan harus meningkatkan kompetensinya dalam memberdayakan Usaha Kecil-Menengah dengan memberikan solusi total mulai dari menjaring wiraushawan baru potensial, membinanya hingga menumbuhkannya. Pemberian kredit inilah satu mata rantai dalam pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah secara utuh. 

2. Bantuan Pembangunan Prasarana 
Usaha mendorong produktivitas dan mendorong tumbuhnya usaha, tidak akan memiliki arti penting bagi masyarakat, kalau hasil produksinya tidak dapat dipasarkan, atau kalaupun dapat dijual tetapi dengan harga yang amat rendah. Oleh sebab, itu komponen penting dalam usaha pemberdayaan UKM adalah pembangunan prasarana produksi dan pemasaran. 
Penyerahan bantuan sarana usaha perikanan [sumber]
Tersedianya prasarana pemasaran dan atau transportasi dari lokasi produksi ke pasar, akan mengurangi rantai pemasaran dan pada akhirnya akan meningkatkan penerimaan petani dan pengusaha mikro, pengusaha kecil, dan pengusaha menengah. Artinya, dari sisi pemberdayaan ekonomi, maka proyek pembangunan prasarana pendukung desa tertinggal, memang strategis. 

3. Pengembangan Skala Usaha 
Pemberdayaan ekonomi pada masyarakat lemah, pada mulanya dilakukan melalui pendekatan individual. Pendekatan individual ini tidak memberikan hasil yang memuaskan, oleh sebab itu, semenjak tahun 80-an, pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan kelompok. Alasannya adalah, akumulasi kapital akan sulit dicapai di kalangan orang miskin, oleh sebab itu akumulasi kapital harus dilakukan bersama-sama dalam wadah kelompok atau usaha bersama. Demikian pula dengan masalah distribusi, orang miskin mustahil dapat mengendalikan distribusi hasil produksi dan input produksi, secara individual.
Ilustrasi pengembangan usaha [sumber]
Melalui kelompok, mereka dapat membangun kekuatan untuk ikut menentukan distribusi. Pengelompokan atau pengorganisasian ekonomi diarahkan pada kemudahan untuk memperoleh akses modal ke lembaga keuangan yang telah ada, dan untuk membangun skala usaha yang ekonomis. Aspek kelembagaan yang lain adalah dalam hal kemitraan antar skala usaha dan jenis usaha, pasar barang, dan pasar input produksi. Aspek kelembagaan ini penting untuk ditangani dalam rangka pemberdayaan ekonomi masyarakat. 

4. Pengembangan Jaringan Usaha, Pemasaran dan Kemitraan Usaha
Upaya mengembangkan jaringan usaha ini dapat dilakukan dengan berbagai macam pola jaringan misalnya dalam bentuk jaringan sub kontrak maupun pengembangan kluster. Pola-pola jaringan semacam ini sudah terbentuk akan tetapi dalam realiatasnya masih belum berjalan optimal. Pola jaringan usaha melalui sub kontrak dapat dijadikan sebagai alternatif bagi eksistensi UKM di Indonesia. Meskipun sayangnya banyak industri kecil yang justru tidak memiliki jaringan sub kontrak dan keterkaitan dengan perusahaan-perusahaan besar sehingga eksistensinya pun menjadi sangat rentan. Sedangkan pola pengembangan jaringan melalui pendekatan kluster, diharapkan menghasilkan produk oleh produsen yang berada di dalam klaster bisnis sehingga mempunyai peluang untuk menjadi produk yang mempunyai keunggulan kompetitif dan dapat bersaing di pasar global.
Ilustrasi pengembangan jaringan usaha [sumber]
Selain jaringan usaha, jaringan pemasaran juga menjadi salah satu kendala yang selama ini juga menjadi faktor penghambat bagi Usaha Kecil Menengah untuk berkembang. Upaya pengembangan jaringan pemasaran dapat dilakukan dengan berbagai macam strategi misalnya kontak dengan berbagai pusat-pusat informasi bisnis, asosiasi-asosiasi dagang baik di dalam maupun di luar negeri, pendirian dan pembentukan pusat-pusat data bisnis UKM serta pengembangan situs-situs UKM di seluruh kantor perwakilan pemerintah di luar negeri. 

Penguatan ekonomi rakyat melalui pemberdayaan UKM, tidak berarti mengalienasi pengusaha besar atau kelompok ekonomi kuat. Karena pemberdayaan memang bukan menegasikan yang lain, tetapi give power to everybody. Pemberdayaan masyarakat dalam bidang ekonomi adalah penguatan bersama, dimana yang besar hanya akan berkembang kalau ada yang kecil dan menengah, dan yang kecil akan berkembang kalau ada yang besar dan menengah. 

Daya saing yang tinggi hanya ada jika ada keterkaiatan antara yang besar dengan yang menengah dan kecil. Sebab hanya dengan keterkaitan produksi yang adil, efisiensi akan terbangun. Oleh sebab itu, melalui kemitraan dalam bidang permodalan, kemitraan dalam proses produksi, kemitraan dalam distribusi, masing-masing pihak akan diberdayakan. 

5. Pengembangan Sumber Daya Manusia 
Sumber daya manusia merupakan faktor penting bagi setiap usaha termasuk juga di sektor usaha kecil. Keberhasilan industri skala kecil untuk menembus pasar global atau menghadapi produk-produk impor di pasar domestik ditentukan oleh kemampuan pelaku-pelaku dalam industri kecil tersebut untuk mengembangkan produk-produk usahanya sehingga tetap dapat eksis. Kelemahan utama pengembangan usaha kecil menengah di Indonesia adalah karena kurangnya ketrampilan sumber daya manusia. Manajemen yang ada relatif masih tradisional. 

Oleh karena itu dalam pengembangan usaha kecil menengah, pemerintah perlu meningkatkan pelatihan bagi Usaha Kecil Menengah baik dalam aspek kewiraswastaan, administrasi dan pengetahuan serta ketrampilan dalam pengembangan usaha. Peningkatan kualitas SDM dilakukan melalui berbagai cara seperti pendidikan dan pelatihan, seminar dan lokakarya, on the job training, pemagangan dan kerja sama usaha. Selain itu, juga perlu diberi kesempatan untuk menerapkan hasil pelatihan di lapangan untuk mempraktekkan teori melalui pengembangan kemitraan rintisan (Hafsah, 2004). 
Ilustrasi sumberdaya manusia [sumber]
Selain itu, salah satu bentuk pengembangan sumber daya manusia di sektor UKM adalah Pendampingan. Pendampingan UKM memang perlu dan penting. Tugas utama pendamping ini adalah memfasilitasi proses belajar atau refleksi dan menjadi mediator untuk penguatan kemitraan baik antara usaha mikro, usaha kecil, maupun usaha menengah dengan usaha besar. Yang perlu dipikirkan bersama adalah mengenai siapa yang paling efektif menjadi pendamping masyarakat. Pengalaman empirik dari pelaksanaan IDT, P3DT, dan PPK, dengan adanya pendamping, ternyata menyebabkan biaya transaksi bantuan modal menjadi sangat mahal. Selain itu, pendamping eksitu yang diberi upah, ternyata juga masih membutuhkan biaya pelatihan yang tidak kecil. Oleh sebab itu, untuk menjamin keberlanjutan pendampingan, sudah saatnya untuk dipikirkan pendamping insitu, bukan pendamping yang sifatnya sementara. Sebab proses pemberdayaan bukan proses satu dua tahun, tetapi proses puluhan tahun. 

6. Mewujudkan iklim bisnis yang lebih kondusif
Perkembangan Usaha Kecil Menengah akan sangat ditentukan dengan ada atau tidaknya iklim bisnis yang menunjang perkembangan Usaha Kecil Menengah. Persoalan yang selama ini terjadi iklim bisnis kurang kondusif dalam menunjang perkembangan usaha seperti terlihat dengan masih rendahnya pelayanan publik, kurangnya kepastian hukum dan berbagai peraturan daerah yang tidak pro bisnis merupakan bukti adanya iklim yang kurang kondusif. Oleh karena perbaikan iklim bisnis yang lebih kondusif dengan melakukan reformasi dan deregulasi perijinan bagi UKM merupakan salah satu strategi yang tepat untuk mengembangkan UKM.
Ilustrasi bisnis yang konduisf [sumber]
Dalam hal ini perlu ada upaya untuk memfasilitasi terselenggaranaya lingkungan usaha yang efisien secara ekonomi, sehat dalam persaingan dan non diskriminatif bagi keberlangsungan dan peningkatan kinerja UKM. Selain itu perlu ada tindakan untuk melakukan penghapusan berbagai pungutan yang tidak tepat, keterpaduan kebijakan lintas sektoral, serta pengawasan dan pembelaan terhadap praktek-praktek persaingan usahah yang tidak sehat dan didukung penyempurnaan perundang-undangan serta pengembangan kelembagaan.

                2. Pengembangan Usaha

Semoga Bermanfaat...

Friday, February 8, 2019

Ruang Lingkup Penyuluhan : Teknik Produksi Perikanan Yang Lebih Baik (Better Farming)

Secara garis besar dunia perikanan dibagi menjadi dua kelompok yaitu perikanan budidaya dan perikanan tangkap, dan mempunyai keunikan tersendiri dalam manajemen perikanan itu sendiri. Dalam upaya meningkatkan produksi perikanan diperlukan suatu manajemen dalah setiap kegiatan usaha perikanan. Di bawah ini ada sedikit pembahasan mengenai peran manajemen dalam pengembangan usaha perikanan.

MANAJEMEN PERIKANAN BUDIDAYA
Bisnis perikanan yang cukup kompleks sifatnya memerlukan pemikiran yang cermat agar terhindar dari resiko yang tidak diharapkan. Aspek produksi ini mencakup hal-hal mengenai persiapan dan proses produksi
Hatchry Budidaya Perikanan [sumber]
A. Persiapan Produksi Budidaya Perikanan
Hal hal yang harus menjadi perhatian dalam persiapan produksi perikanan meliputi:
  1. Perencanaan produk, jenis ikan apa yang hendak diproduksi? Apakah mempunyai pasaran yang baik? Apakah sesuai dengan lahan yang tersedia? Pertanyaan pertanyaan seperti ini perlu dipikirkan dalam mengambil keputusan.
  2. Perencanaan lokasi usaha, lokasi yang tepat akan mempunyai pengaruh positif bagi kelangsungan usaha.oleh karena itu, dalam penentuan lokasi juga di pertimbangkan hal hal yang berdampak positif ataupun negatif dan faktor faktor yang berpengaruh (aspek teknis ekonomis, aspek iklim, aspek agronomis).
  3. Perencanaan standar produksi, pengusaha yang berpikir maju tidak hanya sekedar mementingkan jumlah produksi saja, tetapi juga mengutamakan kualitas produksinya, hal ini sangat berperan dalam menentukan segmen pasar.
  4. Pengadaan tenaga kerja, bisnis perikanan mencakup beberapa bidang pekerjaan, secara mudahmya dibagi menjadi bidang budi daya dan manajemen (administrasi). Kedua bidang ini terdiri dari bermacam macam pekerjaann dari yang sederhana sampai yang rumit. Banyak sedikitnya jumlah pekerja dan tinggi rendahnya suatu upah harus disesuaikan dengan kemampuan dan tanggung jawab yang diemban.

B. Proses Produksi Budidaya Perikanan
Tujuan budi daya perikanan yaitu untuk mendapatkan produksi perikanan yang lebih baik atau lebih banyak dibandingkan dengan hasil dari ikan yang hidup di alam secara liar. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam budidaya perikanan antara lain:
  1. Penyediaan benih, benih yang baik dan berkualitas unggul sangat penting untuk memperoleh produksi yang tinggi.
  2. Pembuatan tempat pemeliharaan, luas tempat yang disediakanuntuk pembudidayaan harus sesuai dengan jumlah populasi yang ditebar, tidak kalah penting yang harus dilakukan adalah untuk memahami karakteristik dan tingkah laku ikan.
  3. Pengairan, tanpa sistem pengairan yang baik tidak mungkin usaha perikanan bisa berhasil. Oleh karena itu kebersihan air dan debit yang cukup, penting demi kelancaran pemeliharaan. Pintu saluran air perlu selalu diperiksa untuk mengatur pengeluaran dan pemasukan air.
  4. Pakan dan Pemupukan, peranan pakan sangat penting untuk meningkatkan produksi. Kandungan gizi pakan lebih berperan dibandingkan dengan jumlah yang deberikan. Usahakan memberi pakan sesuai dengan kebutuhan, jangan kebanyakan atau kekurangan. Baru baru ini banyak di galakkan menggunakan pakan alami, karena ramah lingkungan.
  5. Pengendalian hama dan penyakit, untuk membasmi hama yang hidup di air, dapat digunakan bahan beracun organik, seperti tepung biji teh yang mengandung racun saponin, akar tuba yang mengandung racun rotenon, atau tembakau yang mengandung racun nikotin. Hal yang penting untuk pengendalian hama dan penyakit ini yaitu perawatan dan pemeliharaan kesehatan air serta kebersihan lingkungan disekitar kolam.

C. Pascapanen
Produksi ikan bersifat musiman, terutama ikan laut. Terkadang sangat melimpah, sedangkan pada suatu saat sangat rendah. Oleh karena itu untuk menjaga keseimbangan dan mencegah proses pembusukan perlu dikembangkan dengan berbagai cara pengawetan. Dalam hal ini mencakup:
  1. Penanganan ikan hidup, dalam penanganan ikan hidup ini yang terpenting yaitu cara mengusahakan agar ikan ikan tersebut sampai ke tangan konsumen masih dalam keadaan hidup, segar dan sehat. Hal hal yang harus diperhatikan antara lain adalah: kebutuhan oksigen, alat dan transportasi untuk mengangkut ikan, waktu pengangkutan, jumlah ikan dalam alat pengangkutan jangan terlalu padat.
  2. Penanganan ikan segar, atau istilah lainnya adalah handling, merupakan salah satu bagian penting dalam mata rantai industri perikanan. Baik buruknya ikan segar akan mempengaruhi mutu ikan sebagai bahan makanan atau sebagai bahan mentah untuk proses pengolahan lebih lanjut.
  3. Pengawetan, dasar pengawetan ikan adalah untuk mempertahankan ikan selama mungkin dengan menghambat atau menghentikan proses pembusukan, baik dengan cara tradisional (pengeringan, pengasapan, penggaraman, fermentasi), cara modern (pendinginan, pembekuan, pengalengan ikan, tepung ikan).
  4. Packing, dilakukan terutama untuk konsumsi ikan segar, cara packing harus disesuaikan dengan jarak lokasi usaha ke konsumen. Yang terpengting yaitu mempertahankan keawetan ikan segar sampai ke konsumen agar harganya tidak turun.


D. Aspek Pemasaran
Pasar sangat penting untuk kelangsungan produksi. Bila kemampuan pasar untuk menyerap produksi sangat tinggi maka tidak menjadi masalah. Dengan harga jual yang pas telah dapat menghasilkan keuntungan. Sebaliknya, nbila pasar tidak menyediakan kemungkinan menyerap produk, mau tidak mau usaha yang dirintis mengalami kerugian. Apabila manajemen produksi telah berjalan maka keberhasilan pengusaha perikanan ditentukan oleh kemampuannya dalam menganalisis dan mengantisipasi pasar.

Ada beberapa hal yang harus diketahui oleh seorang manajer atau pengusaha perikanan sebelum melangkah ke aspek pemasaran ini. Hal tersebut yaitu:

  1. Sasaran pemasaran, berkaitan dengan pemilihan jenis ikan yang akan diproduksi. Siapa konsumen yang ingin dituju? Berapa besar kira kira permintaannya? Semua itu tergantung pada keadaan sosial konsumen dan daya belinya.
  2. Persaingan, merupakan suatu hal yang wajar dlama bidang usaha, apalagi dibidang usaha perikanan karena pada umumnya bidang ini tidak mengenal monopoli. Jadi, semua produksi perikanan bersaing bebas di pasaran. Oleh karena itu, usah untuk menghadapi dan mengatasi persaingan harus dilakukan dengan manajemen yang baik, agar produk laku di pasaran.
  3. Strategi pemasaran, suatu tindakan penyesuaian sebagai reaksi terhadap situasi pasar dengan berdasarkan pertimbangan yang matang. Tindakan tindakan yang di ambil itu merupakan pendekatan terhada berbagai faktor.


E. Aspek Permodalan
Pentingnya manajemen permodalan, Setiap orang atau suatu perusahaan yang bergerak dalam suatu bisnis, tak terkecuali bisnis di bidang perikanan, tentu mengharapkan laba atau keuntungan yang sesuai, tak seorangpun berniat merugi. Kerugian berarti kehilangan sebagian modal atau tenaga dan pikiran yang telah dicurahkan untuk kelangsungan bisnis itu. Sedangkan keuntungan berarti memperoleh kelebihan hasil dari modal yang telah ditanamkan (investasi), maka dari itu sangat diperlukan manajemen yang baik agar investasi terus meningkat.Persoalan modal dan keuangan merupakan aspek penting dalam kegiatan suatu bisnis. Tanpa memiliki modal, suatu usaha tidak akan dapat berjalan, walaupun syarat syarat lain untuk mendirikan suatu bisnis sudah dimiliki.

Cara mendapatkan modal, Hal yang lumrah dalam bidang usaha bila seseorang mencari bantuan permodalan untuk memulai usaha atau meiningkatkan usaha. Salah satu lembaga yang dapat memberikan bantuan keuangan adalah bank, bantuan tersebut dalam bentuk kredit. Kita harus cermat memilih dan menentukan besaran pinjaman yang dibutuhkan secara realistis, agar tidak menjadi boomerang bagi kita. Hal ini dikarenakan jika pendapatan kita tidak lebih kecil daripada kewajiban untuk melunasi ke pihak bank. Alternatif lain selain meminjam kredit ke bank adalah kerjasama dengan pihak lain yang berminat dalam bisnis perikanan dengan prjanjian yang telah disepakati bersama. Atau juga dengan kerjasama dengan pihak asing ( joint venture) biasanya dengan skala skala besar.

MANAJEMEN PERIKANAN TANGKAP
Tindakan manajemen perikanan tangkap adalah mekanisme untuk mengatur, mengendalikan dan mempertahankan kondisi sumber daya ikan pada tingkat tertentu yang diinginkan.  Pengendalian perikanan tangkap dilakukan dengan aturan yang bersifat teknis, bersifat manajemen upaya penangkapan dan manajemen hasil tangkapan dan pengendalian ekosistem.
Usaha Perikanan Tangkap [sumber]
Pengaturan bersifat teknis mencakup pengaturan alat tangkap dan pembatasan daerah maupun musim perikanan tangkap.  Pembatasan alat tangkap lebih pada spesifikasi untuk menangkap ikan spesies tertentu atau meloloskan ikan bukan tujuan tangkap serta efek terhadap ekosistem. Guna melindungi komponen stok ikan diberlakukan pembatasan daerah dan musim perikanan tangkap sekaligus dibentuk fisheries refugia maupun daerah perlindungan laut bagi jenis ikan yangkehidupannya relatif menetap.

Manajemen upaya penangkapan umumnya dilakukan dengan pembatasan   jumlah dan ukuran kapal, jumlah waktu penangkapan atau upaya penangkapan. Pengendalian ini lebih mudah dan lebih murah dari sisi pemantauan dan penegakan aturan dibandingkan pengendalian hasil tangkapan.  Namun penentuan jumlah upaya masing-masing unit penangkapan merupakan hambatan dalam memakai aturan pengendalian ini.

Manajemen hasil tangkapan untuk membatasi jumlah hasil tangkapan yang diperbolehkan bagi suatu area dalam waktu tertentu dan selanjutnya menjadi pembatasan jumlah hasil tangkapan setiap unit penangkapan.  Hasil tangkapan yang diperbolehkan berdasarkan jenis spesies tertentu menjadi kendala dalam perikanan multispesies seperti di Indonesia.  Era baru sektor perikanan dalam konteks pembangunan yang berkelanjutan adalah diadosinya Code Of Conduct For Responsible Fisheries (CCRF).  Perikanan yang berkelanjutan bukan ditujukan semata hanya pada kelestarian perikanan dan ekonomi namun pada keberlanjutan komunitas perikanan yang ditunjang oleh keberlanjutan institusi.  Disini diperlukan pendekatan manajemen yang inovatif dan alternatif untuk mencapai tujuan tersebut.

Dengan demikian, beberapa hal perlu ditingkatan sesuai dengan kaidah perikanan berkelanjutan sebagai berikut:

Paradima limited access harus ditingkatkan;
  1. Implementasi log-book penangkapan harus dibarengi dengan peraturan yang berkaitan dengan kerahasiaan;
  2. Perbaikan sistem statistik perikanan;
  3. Meningkatkan kemampuan diplomasi internasional;
  4. Penyusunan rencana manajemen perikanan diterapkan di setiap upaya manajemen perikanan;
  5. Partisipasi pemangku kepentingan diperlukan dalam penyusunan rencana manajemen perikanan;
  6. Meningkatkan efektifitas peradilan perikanan; dan
  7. Meningkatkan peran sebagai negara pelabuhan (port state) dan negara bendera (flag state).

Manajemen perikanan menjamin kegiatan penangkapan ikan dan pengolahan dilaksanakan sesuai dengan kaidah untuk meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan, mengurangi limbah, dan menjaga mutu ikan hasil tangkap.  Nelayan wajib mencatat kegiatan operasi penangkapan mereka dan  pemerintah juga perlu menetapkan prosedur penegakan hukum. Negara perlu menggunakan informasi sains terbaik yang tersedia dalam menyiapkan kebijakan serta mempertimbangkan kegiatan penangkapan ikan tradisional.  Jika informasi yang tersedia terbatas, negara perlu bertindak sangat hati-hati dalam menetapkan batasan perikanan tangkap.

Sumber : Manajemen Perikanan

Semoga Bermanfaat...