Kegiatan Penyuluhan

Kegiatan Penyuluhan Perikanan Bertujuan Meningkatkan Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan Pelaku Utama dan Pelaku Usaha Perikanan.

Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP)

P2MKP Memberdayakan Pelaku Utama Perikanan dan Masyarakat.

Pelatihan Kelautan dan Perikanan

Meningkatkan keterampilan para pelaku utama kelautan dan perikananm.

AUTO MATIC FEEDER

Solusi Memberi Makan Ikan Menjadi Mudah Dan Tepat.

Friday, July 26, 2013

PENETAPAN MASALAH DAN PENETAPAN TUJUAN

PENETAPAN MASALAH
  • Masalah adalah sesuatu yang tidak diinginkan atau segala sesuatu Masalah adalah sesuatu yang tidak diinginkan atau segala sesuatu (alasan, faktor penyebab) yang mengakibatkan tidak dicapainya tujuan, kehendak, atau keinginan.
  • Masalah merupakan selisih/kesenjangan/ gaf antara data potensial dengan data aktual.
  • Masalah umum, disebut juga induk masalah, merupakan permasalahan yang sangat kompleks, terdiri dari banyak unsur dan pemecahannya memerlukan waktu relatif lama (tidak cukup 1 tahun).
  • Masalah khusus disebut juga anak masalah merupakan bagian atau salah satu masalah dari masalah umum, yang untuk pemecahannya dapat dilaksanakan denga kegiatan tertentu dalam waktu relatif cepat.


Contoh Masalah Umum dan Masalah Khusus
Uji Prioritas Masalah
TUJUAN

  • Tujuan adalah pernyataan tentang pemecahan masalah atau pernyataan tentang apa yang diinginkan sehubungan dengan masalah yang dihadapi.
  • Tujuan umum dimaksudkan untuk memecahkan masalah umum.
  • Tujuan khusus dimaksudkan untuk memecahkan masalah khusus.


Penetapan Tujuan Umum dan Khusus
Sumber : BPSDMKP, 2010

TEKNIK - TEKNIK PADA PRA

Dalam perkembangannya telah banyak dikembangkan beberapa teknik PRA yang pada intinya merupakan bentuk implementasi dari metode PRA.  Sudah barang tentu teknik-teknik yang dikembangkan tersebut disesuaikan dengan maksud dan tujuan penerapan metode PRA sendiri, serta semestinya tidak menutup kemungkinan atau bahkan dapat disebutkan mengharuskan adanya improvisasi dan modifikasi terhadap metode PRA itu sendiri.
Beberapa teknik penerapan PRA antara lain :
1. Pengumpulan Data Sekunder
  • Tujuan : Diketahuinya gambaran awal keadaan desa, masyarakat dan lingkungannya.
  • Data yang diambil : Kependudukan, Kelembagaan, Batas Wilayah, Sarana dan Prasarana Desa, Program Pembangunan, dll.

2. Pembuatan Peta Wilayah/Desa
  • Tujuan : a) Diketahuinya kondisi, potensi lingkungan dan masalah yang ada dalam wilayah desa; b) Menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun program dan tata ruang pembangunan.
  • Data yang diambil : Sumberdaya Alam, Batas Wilayah, Perumahan, Tata Letak Lahan, Tata Letak Sarana dan Prasarana.

Contoh Peta Desa 1
Contoh Peta Desa 2
3. Pembuatan Peta Transek
  • Tujuan : Diketahuinya gambaran potensi suatu wilayah lengkap dengan informasi kondisi dan ekosistem dengan gambaran membelah wilayah/desa.
  • Data yang diambil : Topografi dan kemiringan wilayah, jenis flora dan fauna, Tata guna lahan, Kepemilikan lahan.

Contoh Peta Transek
4. Pembuatan Diagram Venn (Hubungan Kelembagaan)
  • Tujuan : Diketahuinya hubungan pengaruh, kedekatan, manfaat suatu lembaga, baik formal maupun non formal dimasyarakat.
  • Data yang diambil : Jenis lembaga, Keterkaitan antar lembaga, Manfaat lembaga, dan kualitas lembaga.

Contoh Diagram Venn
5. Pembuatan Kalender Musim
  • Tujuan : Diketahuinya kegiatan, peristiwa, masalah dan peluang dalam suatu siklus waktu.
  • Data yang diambil : Iklim, pola tanam, hama penyakit, musim ikan, harga, dan pergantian usaha.

Contoh Kalender Musim
6. Kalender/Diagram Harian
  • Tujuan : a) Diketahuinya gambaran pola kegiatan keluarga; b) Diketahuinya gambaran peluang dalam pemanfaatan sumberdaya keluarga.
  • Data yang diambil : Data umum aktivitas keluarga, pemanfaatan waktu oleh keluarga.

Contoh Kalender Kegiatan Harian Istri Pelaku Utama Perikanan
Contoh Kalender Kegiatan Harian Suami Pelaku Utama Perikanan
Contoh Kalender Kegiatan yang digabung
7. Peta Mobilitas
  • Tujuan : Diketahuinya hubungan masyarakat antar perseorangan atau kelompok dengan luar lingkungannya.
  • Data yang diambil : Letak lokasi, jenis kegiatan, jarak/waktu, jenis transportasi dll.

Contoh Peta Mobilitas
Contoh Tabel Mobilitas
8. Bagan Perubahan dan Kecenderungan
  • Bagan Perubahan dan Kecenderungan merupakan teknik PRA yang memfasilitasi masyarakat dalam mengenali perubahan dan kecenderungan berbagai keadaan, kejadiaan serta kegiatan masyarakat dari waktu ke waktu. Hasilnya digambar dalam suatu matriks. Dari besarnya perubahan hal-hal yang diamati dapat diperoleh gambaran adanya kecenderungan umum perubahan yang akan berlanjut di masa depan. Demikian Bagan Perubahan memfasilitasi masyarakat untuk memperkirakan arah kecenderungan umum dalam jangka panjang serta mengantisipasi kecenderungan tersebut. Hasilnya adalah bagan/matriks perubahan dan kecenderungan yang umum desa atau yang berkaitan dengan topik tertentu, misalnya hasil panen, jumlah penebaran ikan, cuaca dan lain-lain.

Contoh Bagan Perubahan dan Kecenderungan Kegiatan Budidaya Ikan
Contoh Bagan Perubahan dan Kecenderungan Nelayan
9. Rangking Kesejahteraan
  • Ranking Kesejahteraan merupakan suatu teknik PRA yang sangat berguna dalam mengidentifikasi tingkatan kesejahteraan dalam satu wilayah (dusun/ desa). Ranking Kesejahteraan memfasilitasi masyarakat dalam mengembangkan kriteria-kriteria terhadap kesejahteraan masyarakat serta menilai perbedaan-perbedaan dalam kesejahteraan di wilayah mereka. Melalui metode ini dapat diperoleh suatu gambaran tentang perbedaan-perbedaan kesejahteraan masyarakat dan dapat membantu lembaga untuk mengidentifikasi kelompok sasaran suatu program.

Contoh Ranking Kesejahteraan
Sumber : BPSDMKP, 2010

Participatory Rural Appraisal (PRA)

PARTICIPATORY adalah Partisipatif (Bersifat partisipasi)
RURAL adalah Desa
APPRAISAL adalah Pengkajian atau pemahaman

Participatory Rural Appraisal
PARTISIPATIF yaitu bukan masyarkat yang berpartisipasi terhadap orang luar, namun orang luar yang berpartisipasi terhadap ide - ide masyarakat atau diartikan sebagai keikutsertaan atau keterlibatan masyarakat dalam suatu kegiatan untuk kebutuhannya sendiri.

RURAL yaitu tidak hanya dapat diterapkan pada masyarakat desa , tetapi juga pada masyarakat kota atau daerah pertemuan desa dengan kota.

APPRAISAL yaitu bukan sekedar untuk pengumpulan data, tetapi merupakan proses pembelajaran masyarakat.

Secara umum PRA dapat diartikan sebagai pendekatan dan metode yang memungkinkan masyarakat secara bersama-sama menganalisis masalah kehidupan dalam rangka merumuskan perencanaan dan kebijakan secara nyata.
Diskusi Dalam Pelaksanaan PRA

PRINSIP - PRINSIP METODE PRA
  • Keberpihakan; PRA mengutamakan keberpihakan kepada masyarakat yang terabaikan  memperoleh kesempatan untuk berperan dan memperoleh manfaat dalam kegiatan program pembangunan.
  • Pemberdayaan Masyarakat; Kegiatan PRA adalah meningkatkan kemampuan masyarakat dalam proses pengkajian keadaan, pengambilan keputusan sampai pada penilaian dan koreksi terhadap kegiatan, sehingga mengurangi ketergantungan terhadap pihak luar.
  • Masyarakat Sebagai Pelaku; PRA menempatkan masyarakat sebagai pusat dari kegiatan pembangunan, pihak luar hanyalah sebagai fasilitator yang membantu kelancaran pelaksanaan kegiatan. Masyarakat adalah narasumber utama yang lebih memahami keadaan masyarakat itu sendiri.
  • Demokratis; Setiap anggota masyarakat mempunyai hak yang sama untuk menyampaikan idenya baik tertulis , ucapan maupun gambar.
  • Terbuka; PRA merupakan metode dan perangkat yang perlu terus dikembangkan sesuai dengan situasi , kondisi dan kebutuhan setempat.
  • Belajar dari Kesalahan; Melakukan kesalahan adalah yang wajar, yang terpenting bukan kesempurnaan dalam penerapan tetapi penerapan sebaik - baiknya sesuai dengan kemampuan yang ada. Belajar dari kesalahan untuk menjadi lebih baik lagi, dan PRA bukanlah kegiatan coba - coba tanpa perhitungan.
TEKNIK - TEKNIK PRA
  • Pengumpulan Data Sekunder
  • Pengamatan langsung
  • Wawancara semi struktur dengan : kelompok, pelaku utama dan tokoh masyarakat.
  • Pembuatan Peta Desa
  • Pembuatan Transek
  • Pembuatan diagram Venn pengaruh berbagai lembaga pedesaan kepada nelayan, pembudidaya dan pengolah.
  • Kalender Musiman
  • Mobilitas
  • Peta Mata Pencaharian
  • Bagan Perubahan dan Kecenderungan 
  • Jadwal Harian /Sehari Pelaku Utama
  • Alur Sejarah 
Sumber : BPSDMKP, 2010

Thursday, July 25, 2013

Teknik Pengumpulan Data

Identifikasi Potensi Wilayah
adalah kegiatan penggalian data dan informasi potensi wilayah (data sekunder dan data primer) yang dilakukan secara partisipatif.

Tujuannya
Identifikasi potensi dan peluang  yang dapat dimanfaatkan, serta kendala yang harus diantisipasi dalam kegiatan Pembangunan Perikanan. 

Manfaat/Kegunaan

Untuk menyusun rencana kegiatan penyuluhan yang benar-benar sesuai dengan potensi dan peluang yang ada di tiap wilayah, serta menetapkan metode penyuluhan.

Identifikasi Potensi Secara Partisipatif
Dalam menjalankan kegiatan penyuluhan seorang penyuluh perikanan membutuhkan data dan informasi yang akurat baik data potensi wilayah maupun data kependudukan dan permasalahan yang ada di pelaku utama (nelayan, pembudidaya dan pengolah ikan) serta pelaku usaha perikanan. Data tersebut dapat diperoleh dari data primer dan data sekunder.

Penyuluhan Partisipatif

Programa Penyuluhan Perikanan
Hasil kegiatan identifikasi dituangkan dalam bentuk programa penyuluhan perikanan. Programa adalah suatu pernyataan tertulis tentang keadaan, masalah, tujuan dan cara mencapai tujuan yang disusun secara sistematis dan teratur.

Penetapan Keadaan
Keadaan pada programa penyuluhan perikanan adalah data, fakta dan keterangan - keterangan yang diperoleh, dihimpun atau dikumpulkan pada saat akan disusun suatu programa yang terdiri dari data aktual dan data potensial.

Data Aktual
Adalah data, fakta dan keterangan yang telah dapat dicapai oleh sebagian masyarakat setempat dengan pola dan teknik yang umum dipraktekkan.

Data Potensial
Adalah data, fakta dan keterangan yang telah dapat dicapai dalam skala kecil (dempond) dan dapat dicapai dengan potensi yang ada diwilayah setempat.

Contoh Data Aktual dan Potensial



PERUMUSAN DATA AKTUAL
Keadaan Sumberdaya Alam
  • Luas lahan potensial untuk budidaya ikan dan luas lahan aktual yang baru dimanfaatkan.
  • Produksi potensial yang dapat dicapai baik kegiatan budidaya, penangkapan, maupun pengolahan dan produksi aktual yang baru dicapai pelaku utama baik untuk kegiatan budidaya , penangkapan maupun pengolahan.
  • Data potensial penggunaan perahu /alat tangkap untuk penangkapan, dan data aktual yang baru dimanfaatkan nelayan.
Keadaan Sumberdaya Manusia
Jumlah penduduk potensial  yang dapat melakukan usaha (budidaya, pengolah dan nelayan) dan data aktual yang baru berusaha.

Keadaan Pendukung Usaha
  • Keberadaan instansi (Dinas, Badan, Kantor dll) dan pemanfaatan riil dari pelaku utama;
  • Potensi penyuluh perikanan dan data riil yang dilakukan;
  • Keadaan sarana/prasarana pendukung usaha (kios dll) dan pemanfaatan yang baru dapat dilakukan oleh pelaku utama.
PEROLEHAN DATA PRIMER
  1. Kunjungan singkat/Survei Kilat : dapat dilakukan secara lebih cepat, lebih murah, secara akademis sulit dipertanggung jawabkan, dan belum tentu disetujui masyarakat.
  2. Rapid Rural Appraisal (RRA) : Relatif cepat, relatif murah, multi disiplin, secara akademis dapat dipertanggung jawabkan.
  3. Participatory Rural Appraisal (PRA)Relatif cepat, relatif murah, multi disiplin, secara akademis dapat dipertanggung jawabkan, secara sosial dapat diterima.
sumber : BPSDMKP, 2010

Wednesday, July 24, 2013

KKP Latih Blue Economy di Bantul

Peran Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal sangat diperlukan bagi pembangunan kelautan dan perikanan. Apalagi banyak potensi sumberdaya kelautan dan perikanan  yang tinggi dan beranekaragam, sehingga perlu kesiapan SDM yang memadai. Oleh karenanya, peningkatan kapasitas SDM khususnya pelaku utama bidang kelautan dan perikanan adalah mutlak dilakukan, baik melalui pendidikan, pelatihan maupun penyuluhan. Pada kesempatan ini,Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan (BPSDM KP) melatih 150 orang masyarakat kelautan dan perikanan di seluruh Kabupaten/Kota di DIY, di antaranya untuk pemberdayaan keluarga melalui program Posdaya. "Pelatihan ini berbasis Blue Economy." Demikian ditegaskan Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif C. Sutardjo, pada kegiatan Safari Ramadhan di kawasan Budidaya Air Tawar Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Senin (22/7).
 
Menteri Kelautan dan Perikanan mengunjungi Stand Pameran hasil kegiatan pelatihan di Kabupaten Bantul
Menteri Kelautan dan Perikanan menjelaskan, pelatihan berbasis Blue Economy dilaksanakan untuk pengembangan bisnis inovatif dan kreatif berdasarkan prinsip zero waste (tidak ada limbah yang terbuang), efisien, pro kelestarian lingkungan, menciptakan kesempatan wirausaha dan lapangan kerja serta memperbaiki modal sosial dengan inovasi dan kreativitas. Karenanya pada pelatihan kali ini, dicontohkan bagaimana ikan pari dimanfaatkan keseluruhannya tanpa ada yang terbuang. Dagingnya untuk konsumsi, kulitnya untuk dijadikan tas dan sepatu, serta ekornya untuk dijadikan ikat pinggang. “Sebagai khalifatullah, kita harus selalu melakukan upaya pengelolaan secara bijak terhadap alam ini, sehingga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan alam semesta secara umum,” tandasnya.
  
Ketua Yayasan Dana Sejahtera Mandiri, Haryono Suyono berinteraksi dengan peserta pelatihan
Dalam hal menjalankan fungsi pendidikan, lanjutnya, KKP memiliki lembaga pendidikan tinggi dan menengah yang bertujuan menyiapkan SDM terdidik dan kompeten bidang kelautan dan perikanan. Setiap tahunnya, lembaga pendidikan KKP meluluskan sedikitnya 1.400 orang yang siap diserap para pelaku usaha/bisnis di dunia usaha dan dunia industri. Di bidang pelatihan, sasarannya adalah peningkatan keterampilan para pelaku utama kelautan dan perikanan. KKP juga telah menyiapkan SDM penyuluh yang siap mendampingi pelaku utama dan pelaku usaha dalam menjalankan usahanya agar efektif dan efisien. Pada kegiatan Safari Ramadhan ini, para pelaku utama tersebut melakukan asah terampil, salah satunya melalui Gerakan Nasional Masyarakat Peduli Industrialisasi Kelautan dan Perikanan (GEMPITA). Fokus utama Gempita adalah pemberdayaan masyarakat perdesaan, keberpihakan kepada nelayan, pembudidaya dan pengolah ikan, serta petambak garam skala kecil. “Kegiatan Gempita terangkum dalam kelompok pelaku utama dan pelaku usaha. Kelompok terbaik setiap provinsi ditampilkan dalam lomba Kelompencapir yang menyajikan pelestarian warisan budaya dan kearifan lokal,” ujarnya.

Monday, July 15, 2013

Undang - Undang No 16 Tahun 2006 Tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan

UU-SP3K Nomor. 16 Tahun 2006 merupakan satu titik awal yang cerah dalam pemberdayaan para pelaku utama perikanan, khususnya bagi para penyuluh perikanan PNS, Swasta, dan penyuluh perikanan Swadaya. Titik awal ini harus kita syukuri dan cermati dengan baik sehingga mendorong semangat kita untuk bekerja lebih baik.

Beberapa hal yang paling mendasar dalam UU-SP3K Nomor : 16 Tahun 2006 antara lain yang tercantum dalam konsideran, yang mengamanatkan bahwa penyuluhan sebagai bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan umum, merupakan hak azasi warga negara Republik Indonesia dan kewajiban pemerintah untuk menyelenggarakannya, sehingga sangat jelas bahwa penyuluhan di bidang pertanian, perikanan, dan kehutanan merupakan kewajiban pemerintah dan merupakan hak bagi petani.

Implementasi UU-SP3K harus direspon dengan baik oleh semua jajaran pertanian, perikanan, dan kehutanan di pusat maupun daerah untuk membangun sistem penyuluhan dan penyelenggaraan penyuluhan yang terintegrasi. Untuk mencapai hal ini, perlu adanya sosialisasi yang luas kepada seluruh pemangku kepentingan untuk membangun kesamaan persepsi dalam operasionalisasinya sehingga penyelenggaraan penyuluhan Perikanan dapat berjalan dengan produktif, efektif dan efisien di setiap tingkatan dalam satu kelembagaan yang kuat, didukung oleh sumberdaya yang memadai dan penyuluh yang profesional. Selanjutnya implementasi UU-SP3K tidak dapat mengabaikan aspek-aspek hukum, sosial, budaya, politik, dan ekonomi, yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu semua aspek tersebut perlu dipertimbangkan dengan sebaik-baiknya dan ditangani dengan bijaksana.

Untuk lebih jelasnya dapat di download disini

Ikan Nila Best, Harapan Baru, Jaminan Mutu

Perkembangan budidaya nila di Indonesia sebenarnya tergolong cukup pesat, dan awalnya dikonsentrasikan pada optimalisasi teknik dan budidaya serta penyediaan benih agar produksi semakin meningkat. Namun, pengembangan genetis komoditas masih tertinggal. Dalam upaya perbaikan mutu genetis, dilakukan dengan mendatangkan varietas unggul dari luar negeri.
Ikan nila diintroduksi dari Taiwan pada 1969 diikuti nila khusus berwarna hitam antara lain Chitralada dari Thailand (1989), GIFT dari Filipina (1994 dan 1997). Sedangkan NIFI, nila khusus berwarna merah, pertama kali didatangkan dari Thailand di 1989. Setelah generasi ke-6 ikan nila GIFT yang didatangkan dari Filipina (1997), telah mengalami penurunan kualitas genetis karena kurang tepatnya pengelolaan induk-induk yang dikembangbiakan sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan. Saat itu, ikan nila di Indonesia mengandalkan ikan jenis ini. Akibatnya, penurunan produksi, produktivitas serta pendapatan pembudidaya ikan nila tidak bisa dihindari.
Ini mendorong dibentuknya Pusat Pengembangan Induk Ikan Nila Nasional (PPIINN) di Sukabumi. Dengan meng galang para ahli genetika ikan, PPIINN diharapkan dapat mengembangkan beberapa varietas unggul baru ikan nila dalam negeri yang berasal dari sumber daya genetik yang ada di Indonesia. Sudah banyak varietas unggulan yang dihasilkan, di antaranya Nirwana dari Wanayasa (Jawa Barat) tahun 2006, Gesit (Genetically Enhanced Supermale Indonesian Tilapia)dari Sukabumi tahun 2006, dan Umbulan asal Jawa Timur (2008). Teranyar, salah satu varietas baru yang akan dilepas adalah ikan nila BEST (Bogor Enhanced Strain Tilapia), asal Bogor tahun 2009.
VARIETAS UNGGUL BARU
Ikan Nila BEST dikembangkan dari generasi ke-6 nila GIFT hasil evaluasi Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar (BRPBAT) dalam kurun waktu 2004-2008 dan dilakukan di instalasi penelitian Cijeruk, Bogor.
Pembentukan populasi ikan nila Best ini dikarakterisasi berdasarkan pada profil DNA yang dimiliki. Generasi pertama ikan ini diperoleh dari hasil pemilihan individu-individu terbaik dari famili-famili terbaik. Setelah itu, generasi ke dua yang didapat, diseleksi lagi untuk menghasilkan individu-individu yang terbaik dari masing-masing famili yang dibentuk. Akhirnya, di generasi ke tiga inilah diperoleh perbaikan respon seleksi sebesar 28,95% untuk individu jantan dan 10,20% untuk betina. Dari generasi pertama hingga ke tiga, dilakukan pengujian program seleksi melalui evaluasi keragaman terhadap pertumbuhan di lingkungan kolam dan danau.
Awalnya, hasil seleksi pengujian ini, menunjukkan bahwa ikan nila BEST lebih cocok di lingkungan kolam. Selain itu, pengujian varietas ikan nila ini juga dilakukan secara multilokasi dengan mengikutsertakan pembudidaya ikan secara langsung. Hasil pengujian menunjukkan bahwa dengan berbagai tipe pemeliharaan dan skala usaha, ikan nila BEST tetap lebih unggul dan hasilnya lebih baik dibandingkan dengan ikan nila jenis lainnya yang ada di masyarakat.
Pengujian setiap generasi ini berfungsi untuk mendeteksi arah seleksi sehingga tidak menghasilkan “negative selection” dan tindakan pencegahan dapat segera dilakukan untuk generasi berikutnya. Selain itu, pengamatan terus dilakukan terhadap parameter pertumbuhan, respon seleksi dan keragaman genetis. Monitoring ini dilakukan agar parameter tersebut tidak mengalami penurunan berdasarkan sebaran populasi dan profil DNA hasil analisis molekuler. Data yang dikoleksi dari generasi pertama menunjukkan peningkatan yang positif hingga generasi ke tiga. Ini indikasi kestabilan yang diperoleh dari program seleksi yang dilakukan.
Selanjutnya, varietas ikan nila BEST ini perlu dijaga agar tidak mengalami penurunan kualitas. Caranya dengan melakukan pengelolaan indukan yang tepat dan mencukupi jumlahnya. Dalam perkawinan, juga harus dijaga agar tidak terjadi perkawinan dari keturunan sekerabat. Untuk itu, pembinaan kepada pembudidaya yang melakukan pembenihan perlu dilakukan secara ketat. Pengawalan dalam kualitas akan dilakukan terus dengan melakukan pengamatan terhadap laju pertumbuhan ikan, keragaman populasi dan genetis. Kelak material ikan nila BEST yang dimiliki ini dapat dijadikan sebagai bahan dasar bagi pengembangan populasi atau varietas baru untuk tujuan khusus, seperti lingkungan dan sistem budidaya tertentu.
KEUNGGULAN IKAN NILA BEST
Secara fisik, ikan nila Best masih serupa dengan ikan nila GIFT yang sudah lebih dahulu dikenal masyarakat karena perbaikan yang dilakukan lebih ke arah genetis yang mempengaruhi pertumbuhan. Nila BEST memiliki keunggulan dibandingkan ikan
nila pendahulunya yang sudah dikenal masyarakat, yaitu dari segi pertumbuhan dan daya tahan terhadap lingkungan buruk dan penyakit.
Varietas ikan nila ini diharapkan memiliki tingkat toleransi yang luas sehingga akan tetap lebih unggul dalam lingkungan dan budidaya yang berbeda, sehing ga dapat dibudidayakan dalam berbagai skala usaha dan perlakuan berbeda.
Lebih spesifik, nila BEST memiliki ketahanan 140% lebih tahan terhadap penyakit Streptococcus dibanding ikan nila non unggulan dan varietas yang sudah ada. Selain itu, ia juga memiliki daya toleransi geografis, maupun sistem budidayanya. Dalam produksi anakan, ikan nila BEST juga lebih unggul. Ikan ini bias memproduksi anakan 3-5 kali lebih banyak dibandingkan varietas lainnya. Ikan nila BEST memiliki nilai konversi pakan sebesar 1,1 yang artinya 1,5 – 2 kali lebih baik. Dalam tahap pendederan, ikan nila BEST memiliki ukuran telur dan larva lebih besar dari yang lain. Benih varietas ini dapat mencapai ukuran 2-3 cm hanya dalam kurun waktu 8-10 hari, sedangkan ikan lain lebih lama yaitu 14 hari. Demikian juga untuk mencapai ukuran 4-5 cm, diperlukan waktu 20-30 hari, berbeda dengan ikan lain membutuhkan 30 hari. Sedangkan untuk mencapai ukuran 5-8 cm, diperlukan waktu 45 hari atau lebih cepat 15 hari disbanding ikan lain.
Di tahap pembesaran, pembudidaya yang menggunakan benih ukuran 10g di kolam, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menghasilkan ikan dengan berat 300-500g, ini berarti produksinya 1,5 – 2 kali lebih besar dibanding dengan ikan non unggulan. Ikan nila BEST memberikan harapan yang cukup menjanjikan dalam meningkatkan produksi dan pendapatan, dan siap untuk dikembangkan secara komersial dengan cara bermitra dengan pembudidaya sehing g a prog ram pengembangan kawasan budidaya dan revitalisasi perikanan dapat terealisasi.
PELUANG PASAR BESAR
Di pasar Internasional, konsumsi ikan nila dari tahun ke tahun, baik Amerika Utara dan Eropa semakin meningkat. Amerika Utara mengimpor nila sebesar 112.945 ton pada 2004, meningkat 25% dibandingkan 2003. Dibandingkan 2002, angka tersebut lebih tinggi sebesar 68%. Setengah dari impor Amerika Utara, dipasok oleh China, sedangkan sisanya oleh Taiwan, Thailand dan Indonesia.
Adanya dukungan dari USDA (US Department of Agriculture), agar ketiga Negara pengimpor utama dapat mengambil alih porsi impor China, menjadi peluang positif yang diperhitungkan. Namun, perlu diupayakan budidaya yang efisien agar bias menghadapi pesaing handal, terutama dari Amerika Selatan karena transportasi yang lebih murah.
Di 2004, produksi nila nasional sebesar 97.116 ton, meningkat 237% dalam kurun waktu 4 tahun. Dengan adanya kasus KHV (Koi Herpes Virus) pada ikan mas, nila menjadi alternatif ikan air tawar yang dibudidayakan masyarakat dan salah satu andalan dalam program revitalisasi perikanan. Dengan varietas baru unggulan, ikan nila BEST, peningkatan produksi dan pendapatan pembudidaya diharapkan terjadi.
Sumber : Rudhy Gustiano, Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar (BRPBAT), Bogor