Kegiatan Penyuluhan

Kegiatan Penyuluhan Perikanan Bertujuan Meningkatkan Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan Pelaku Utama dan Pelaku Usaha Perikanan.

Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP)

P2MKP Memberdayakan Pelaku Utama Perikanan dan Masyarakat.

Pelatihan Kelautan dan Perikanan

Meningkatkan keterampilan para pelaku utama kelautan dan perikananm.

AUTO MATIC FEEDER

Solusi Memberi Makan Ikan Menjadi Mudah Dan Tepat.

Thursday, October 31, 2013

Budidaya Ikan Lele Menggunakan Sistem BIOFLOC (Bagian 4, Perawatan Media dan Panen)

Dalam perawatan media perlu diperhatikan hal - hal berikut :

APLIKASI YEAST DAN PROBIOTIK
Ragi Tempe 1 sendok dan ragi tape 1 butir / m3 / minggu, pada saat ukuran sangkal sampai panen dosis di tambah menjadi 2x lipat/ 2butir / m3 / minggu 
Aplikasi 1 minggu sekali bersamaan dengan probiotik dan molase pada waktu pagi hari pada kondisi puasa. 
Dari banyaknya kegagalan saat aplikasi molase pada sistem biofloc yang disebabkan kurangnya aerasi dan perubahan pH, maka diperlukan inokulan bakteri yang tidak membutuhkan oksigen sehingga kebutuhan oksigen untuk bakteri dapat ditekan. Konsorsium bakteri yang semakin banyak akan membuat keragaman bakteri menguntungkan dalam kolam semakin banyak sehingga populasi bakteri menguntungkan semakin kuat dalam bersaing dengan bakteri yang merugikan (bakteri pembusuk dan bakteri pathogen). Dari Kelompok jamur (yeast)  bisa digunakan Ragi yang mikrobianya sangat efektif digunakan untuk menyerap amonia dan tidak membutuhkan oksigen dalam bekerjanya.

TEKNIK PERGANTIAN AIR

  • Situasional, selama ikan merasa nyaman sehat air tidak perlu diganti.
  • Pergantian air Maksimal 30%, untuk menghindari goncangan media yang dapat menyebabkan ikan stress dan mengalami penyusutan berat badan.
  • Air yang diganti lapisan paling bawah, kualitas  air bawah rendah dengan kandungan amonia dan nitrit tinggi.
  • Pergantian dengan cara sirkulasi, untuk menghindari Perubahan yang ekstreem dan   membuat ikan stress.
  • Penerapakan teknologi biofloc 2, tidak berarti tanpa buang air sama sekali. Akan tetapi bila bisa memanfaatkan secara baik terhadap biofloc yang terbentuk, maka pergantian air dapat diminimalkan. Pemberlakuan puasa pada saat tertentu, sangat membantu dalam pengelolaan kualitas air. Hal ini akan memberikan kesempatan bagi ikan untuk memanfaatkan biofloc sebagai makanan tambahan yang sudah tersedia secara alami dalam kolam. Sehingga kepekatan biofloc dapat terjaga, tidak terlalu pekat sehingga mengurangi kebutuhan air untuk sirkulasi. Ikan, memiliki kemapuan yang berbeda terhadap kepekatan floc di dalam air. Ikan lele merupakan ikan yang cukup tahan dengan kondisi kepekatan floc yang tinggi. Karena ikan ini masih bisa bertahan dengan baik dengan kondisi volume floc yang mencapai 15% (150 cc dalam 1 liter air media). Namun, disarankan agar pemberlakuan puasa / pengurangan pemberian pakan sudah dilakukan sejak ketebalan floc kurang dari 5 % (50 cc per liter air).
  • Pengaruh kepekatan biofloc dalam air kolam akan memberikan pengaruh pada konsumsi oksigen. Disamping itu juga akan memberikan pengaruh pada pernafasan ikan. Oleh karena itu, pergantian air tetap diperlukan untuk mengurangi kepekatan biofloc dalam air kolam. Untuk membuang endapan dalam kolam sangat dibutuhkan pergantian air. 


AIR SEHAT 
Warna cerah, tidak terlalu pekat, tidak berminyak 
Perilaku ikan : aktif bergerak, nafsu makan tinggi, pada saat siang hari ikan berada didasar kolam 
Air tidak berbau → bau asam amino 


AIR TIDAK SEHAT 
Warna kusam, pekat, permukaan berminyak 
Akibat dominasi Blue Green Algae 
Perilaku ikan : gerakan lamban, menggantung dipermukaan atau pinggir kolam, nafsu makan kurang 
Bau menyengat → amoniak atau anyir

APLIKASI KAPUR DOLOMIT
Pengapuran berfungsi untuk mempertahankan/ menaikkan pH air dan alkalinitas (buffer pH). Disamping itu dapat berfungsi mengikat karbondioksida dalam air, mengurangi/ menghilangkan bau asam dan bau kentut serta menyediakan mineral Ca dan Mg. 
Kapur Dolomit
Pengapuran dapat dilakukan seminggu sekali. Waktu aplikasi terbaik adalah malam hari. Jenis kapur yang bisa diaplikasikan antara lain : kapur pertanian, dolomit di berikan seudah aplikasi  probiotik,molase&ragi dosis 150-200 gram. 

PEMILIHAN BENIH UGGUL
o Benih dari induk yang unggul 
o Benih sehat, gerak aktif dan lincah 
o Ukuran sama 
o Dari satu induk yang sama (kecepatan tumbuh sama) 
o Warna seragam 
o Organ lengkap 
o Bentuk proporsional 
o Benih dari pembenih/ hatchery yang terpercaya 
Benih Ikan Lele

TEKNIK PEMANENAN
Persiapan sebelum panen
Satu hari mejelang panen sebaiknya ikan dipuasakan, ini bertujuan untuk mengurangi stress pada ikan lele, sehingga resiko kematian akan lebih aman/ sedikit.

Perawatan kolam pasca panen
Setelah panen sebaiknya kolam segera dibersihkna sebersih mugkin, sehingga tidak menimbulkan bau yang tidak enak karena telah dipakai untuk budidaya (amis, dlsb).

Semoga bermanfaat....

Sumber : Modul Pembesaran Ikan Lele Dengan Sistem Biofloc P2MKP Mina Pantura

Budidaya Ikan Lele Menggunakan Sistem BIOFLOC (Bagian 3, Manajemen Manajemen Pakan)

MANAJEMEN PAKAN

1.  Pemilihan pakan yang naik dan berkualitas

  • Pakan berkualitas (referensi dari pembudidaya yang sudah mencoba) dan ketersediaan di wilayah sekitar (efisiensi biaya transportasi), pemilihan produk didasarkan pada bukti.
  • Ukuran pakan disesuaikan dengan bukaan mulut ikan, dengan tujuan pertumbuhan ikan rata (racak)
Pakan Ikan Berbagai Ukuran

2.  Fermentasi pada pakan
Fermentasi pakan dengan probiotik 5 cc/ kg pakan, selama 2-3 hari, ditutup untuk menghindari kontaminator.

3.  Teknik pemberian pakan
  • Porsi makan 80% dari daya kenyang, disediakan ruang dilambung untuk produksi enzym-enzym pencernaan. Diharapkan efisiensi pakan 100% terserap sempurna.
  • Ikan lele memiliki kodrat mulutnya lebar selebar badan / kepalanya. filosofinya ikan ini rakus makan. ikan akan makan sampai lambungnya penuh. nah bayangkan kalo lambung sudah penuh kemudian pakan mengembang.. apa jadinya?
    perut/pencernaan akan membengkak, mungkin juga luka. selanjutnya bakteri dalam pencernaan menyerang. biasanya penyakit perut bengkak/kembung karena infeksi bakteri Edwardsiella sp. bakteri ini susah diberantas tuntas karena membentuk cysta.
  • Efek lain kalau kekenyangan ikan akan terdiam, hati-hati bila terjadi sesuatu yg mengejutkan ikan akan muntah, efeknya air akan rusak dan ikan akan keracunan.
  • Efek yang lain lagi kalau ikan diam menggantung parasit akan mudah menyerang (hati-hati bila timbul bintik putih, atau bintik merah) maka akan terjadi kematian yang lumayan banyak. cegahlah selagi bisa dgn menerapkan pemberian pakan yg secukupnya saja (80% dari kekenyangan ikan). disamping efisien pakan juga hemat.
  • Frekuensi pakan sesuai dengan metabolisme ikan 2 x sehari, metabolisme ikan berkisar 8 jam, bila waktu pemberian pakan 7 pagi dan 5 sore. Maka ada rentang waktu 2 jam untuk istirahat organ-organ pencernaan, dengan tujuan organ pencernaan tetap sehat, ikan pun sehat. (untuk pakan benih    PF-800/ PF-1000 bisa 3 x sehari tergantung cuaca dan musim)
  • Pakan difermentasi menggunakan probiotik EBS Pro untuk menghasilkan enzim : protease, amilase, lipase dan cellulose. Sistem ini meringankan kerja dari organ pencernaan 30%, dan membantu pemotongan rantai panjang pada protein dan lemak.
  • Rutinitas sesuai jam biologis/ naluri (tepat waktu), pemberian pakan yang berubah-ubah jelas mengganggu/merusak jam biologis makan ikan.
  • Teknik pergantian pakan, pergantian pakan sangat berpengaruh pada tingkat keseragaman ukuran ikan. Pada saat pergantian pakan sebaiknya di mix/campur dengan ukuran pakan pengganti.
  • Program puasa 1 x makan setiap minggu, bertujuan untuk memberikan kesempatan pada organ pencernaan untuk istirahat. Teknik ini terbukti efektif dan tidak menganggu daya tumbuh ikan.
  • Pengurangan porsi makan hingga 30%, bila sudah terbentuk substrat/ polymer/ biofloc yang terjadi bila porsi pakan mencapai 500 kg/ hari/ hektar.
Lanjut di Bagian 4.....
Sumber : Modul Pembesaran Ikan Lele Dengan Sistem Biofloc P2MKP Mina Pantura

Budidaya Ikan Lele Menggunakan Sistem BIOFLOC (Bagian 2, Manajemen Air)

A. APLIKASI PROBIOTIK
Dosis Probiotik adalah 5 ml/ m3. Air dikondisikan 7-10 hari. Aplikasi setiap 1 minggu sekali 5 ml / m3.
Probiotik

B. APLIKASI TETES TEBU/ MOLASE
Dengan penambahan Molase 10 ml/ m3 dan Aerasi menjadikan Populasi bakteri pendukung (dekomposer)mendominasi media.

Molase
Molase atau tetes, digunakan sebagai sumber energi bagi mikroba agar perkembangan mikroba dalam air kolam dapat berkembang secara baik. Disamping itu, dengan penambahan molase maka penyerapan amonia oleh bakteri menjadi lebih baik. Pengguaan molase pada teknologi biofloc sangat lazim. Penambahan molase pada penerapan teknologi biofloc selain sebagai energi bagi mikroba, juga memiliki tujuan untuk meningkatkan nilai C/N ratio pada media. Bila C/N ratio di bawah 10 maka bakteri akan menggunakan N dari N-organik (seperti protein, asam amino, urea, dll). Bila C/N ratio 20 atau lebih maka bakteri akan menggunakan N-anorganik (amonia, nitrat). Dan bila C/N ratio antara 10 – 20 maka bakteri akan menggunakan kedua-duanya.

Penggunaan molase disesuaikan dengan komposisi pakan yang digunakan. Untuk protein yang lebih tinggi maka kebutuhan molasenya semakin banyak. Dosis 10 ml / m3.

C. APLIKASI YEAST/ RAGI
Ragi Tempe 1 sendok dan ragi tape 1 butir / m3 / minggu, pada saat ukuran sangkal sampai panen dosis di tambah menjadi 2x lipat/ 2butir / m3 / minggu. Aplikasi 1 minggu sekali bersamaan dengan probiotik dan molase pada waktu pagi hari pada kondisi puasa.
Dari banyaknya kegagalan saat aplikasi molase pada sistem biofloc yang disebabkan kurangnya aerasi dan perubahan pH, maka diperlukan inokulan bakteri yang tidak membutuhkan oksigen sehingga kebutuhan oksigen untuk bakteri dapat ditekan. Konsorsium bakteri yang semakin banyak akan membuat keragaman bakteri menguntungkan dalam kolam semakin banyak sehingga populasi bakteri menguntungkan semakin kuat dalam bersaing dengan bakteri yang merugikan (bakteri pembusuk dan bakteri pathogen). Dari Kelompok jamur (yeast)  bisa digunakan Ragi yang mikrobianya sangat efektif digunakan untuk menyerap amonia dan tidak membutuhkan oksigen dalam bekerjanya.


Lanjut di Bagian 3.....

Sumber : Modul Pembesaran Ikan Lele Dengan Sistem Biofloc P2MKP Mina Pantura

Budidaya Ikan Lele Menggunakan Sistem BIOFLOC (Bagian 1, Persiapan Media Kolam)

Peluang pengembangan usaha perikanan bidang penangkapan ikan sejak tahun 2004 mulai mengalami stagnasi karena over fishing. Untuk menutupi kekurangan produksi ikan dan terus meningkatkan konsumsi ikan, maka Kementerian Kelautan Melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya mengambil kebijakan untuk melakukan revitalisasi bidang budidaya perikanan. 

Visi dari Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya yaitu Perikanan Budidaya sebagai sumber pertumbuhan ekonomi andalan melalui sistem usaha budidaya yang berdaya saing, berkelanjutan dan berkeadilan. Untuk dapat mencapai visi tersebut, maka salah satu kebijakan yang mendukung adalah pengembangan kawasan pembudidayaan di air tawar, payau dan laut yang berbasis IPTEK sesuai daya dukung lahan dengan tetap menjaga kelestarian sumberdaya ikan dan lingkungan hidup guna mewujudkan sistem usaha budidaya yang berdaya saing, berkelanjutan dan berkeadilan.

Dalam pencapaian visi tersebut, terdapat banyak kendala yang dihadapi baik kendala internal maupun eksternal. Dan salah satu kendala yang menjadi awal dari kurangnya produksi ikan budidaya adalah belum banyak dikuasainya teknik pembenihan ikan. Dengan dikuasainya teknik pembenihan, maka stok benih melimpah dan akan dapat mendorong peningkatan produksi ikan konsumsi yang kurang maksimal perkembangannya karena kurangnya stok benih.

Perikanan budidaya air tawar memiliki peluang pengembangan produksi yang sangat besar jika didukung dengan peningkatan produksi benih. Untuk itu perlu adanya intensifikasi usaha pembenihan secara terintegrasi untuk merealisasi peningkatan produksi tersebut. Namun demikian, peningkatan produksi benih tersebut harus tetap mengacu pada Good Management Practice (GMP), dan untuk dapat mencapai GMP, pembesaran harus menerapkan standar Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB).

Mengingat vitalnya peran dari pengetahuan dan ketrampilan pembenihan ikan yang sesusai dengan CBIB, maka disusunlah bahan ajar ini agar dapat mengarahkan pada para pelaku usaha budidaya ikan lele pada CBIB. Sehingga target pengembangan dan pencapaian visi dari direktorat jenderal perikanan budidaya dapat tercapai.

A. PEMBUATAN KOLAM PORTABLE
Teknik Pembuatan saluran pembuangan (Outlet)
Pertama kita bersihkan dahulu pekarangan/ lokasi untuk pembuatan kolam dengan desain kemiringan diletakkan pada bagian paling tengah (pusat), dengan kemirigan  + 10 cm, ini bertujuan agar endapan dapat mengumpul pada satu titik, sehingga pada titik tersebut akan ada semburan aerasi, sehingga tidak akan terjadi pegendapan kotoran.
Setelah itu pasagan paralon dengan dari sumbu ke pinggir/ batas luar kolam dan keduanya dipasang knee dan di lem dengan lem paralon, posisikan paralon agar tidak sejajar atau menjorok keluar area kolam agar air dapat terbuang semua. Kemudian ratakan dengan tanah kembali.
Saluran pembuangan
Teknik pemasangan wiremesh
Setelah pembuatan saluran pembuangan selesai selajutnya kita memasang besi wiremes yang berfungsi untuk menyangga terpal, mula-mula besi kita potong sesuai ukuran, kemudian kita satukan sehingga menjadi bentuk bulat, pada pertemuan besi wiremesh tersebut kita satukan dengan cara kita ikatkan salah satu besi dengan sehigga akan menyatu dengan kuat.
Selanjutya kita pasang penutup bagian dalam wiremesh dengan karpet talang kita ukur sesuai kebutuhan dan kita pasang di dalam besi wiremesh kemudian kita ikat dengan kawat bendrat agar tidak lepas, ini bertujuan untuk menghindari benjolan-benjolan yang diakibatkan oleh air ketika kolam sudah diisi oleh air.

Besi Wiremesh
Teknik Pemasangan terpal GM
Selanjutya, kita pasang terpal dengan langsung kita posisikan dari tegah, atau dicari sumbu tegahnya sehingga akan lebih mudah dan akan sesuai yang kita harapkan, kemudian pelan-pelan kita buka sehigga menutupi semua area wiremesh, setelah wiremesh terpasang dengan rapi kemudian langkah selajutnya yakni membuat lubang  pembuangan yakni dengan cara menyobek menggunakan silet/ cutter pada bagian atas knee pembuangan, kemudian kita masukkan paralon yang sudah kita lubangi dan diberi penutup.

Besi Wiremesh yang sudah dipasang terpal
B. PEMASANGAN AERASI

Teknik instalasi aerator
Aerator berfungsi selain sebagai penyuplai oksigen di media (air) aerator ini juga berfungsi sebagai alat pegadukan yang sangat dibutuhkan dalam sistem budidaya Biofloc 2 ini, didalam sistem ini pegadukan dan penambahan oksigen ke media sangat berpegaruh pada pembetukan floc.
Pada dasarnya instalasi aerator sangatlah mudah, pertama kita siapkan aerator kemudian dipasang saluran outlet kemudian kita pasang selang sesuai kebutuhan pada kolam kita, selajutnya lubang output aerator yang tidak terpakai kita tutup menggunakan selang yang kita potong dan kita satukan dengan lubang yang tidak terpakai sebelahnya atau dengan cara kita bakar salah satu ujung selang sehingga akan tertutup salah satu lubangnya.

Aerator
Teknik instalasi airstone
Airstone ini berfungsi sebagai pemecah oksigen agar dapat terurai menjadi kecil/ lembut keluarannya, sehingga oksigen yang akan terlarut semakin sempurna, pemasangan airstone kita hanya tinggal memasangkan airstone dengan selang yang sudah terhubung dengan aerator.
Batu Aerasi (Airstone)
Teknik penempatan airstone
Penempatan airstone hendaknya diletakan pada area tengah kolam bundar, sehingga pengadukan dapat lebih sempurna dan menyebar ke segala penjuru.

Penempatan batu aerasi

Lanjut di Bagian 2.....

Sumber : Modul Pembesaran Ikan Lele Dengan Sistem Biofloc P2MKP Mina Pantura

Friday, October 25, 2013

PRODUKSI GARAM DI LAHAN SEMI INTENSIF

Pada proses pembuatan garam menggunakan teknik semi intensif membutuhkan modifikasi lahan tambak dengan penambahan ulir pada tahap peminihan dengan tujuan untuk mempercepat proses penuaan air. Penambahan ulir disini dimaksudkan untuk mempercepat penguapan pada air laut sehingga saat tiba di petak penampungan sudah mencapai 20 Be dalam waktu yang lebih singkat apabila kondisi cuaca dan iklim memungkinkan. 

Pada teknik semi intensif ini, ulir dibuat berbentuk petakan – petakan kolam tanah yang berkelok – kelok dengan dasar yang tidak rata untuk membuat arus air secara alami sehingga terjadi proses penguapan yang di bantu cahaya matahari dan angin. Dengan adanya ulir ini diharapkan dapat mempercepat waktu penuaan air laut sehingga proses produksi dapat lebih singkat.Ketinggian air pada ulir berkisar antara 10 – 20 cm. Perbandingan luas lahan peminihan dengan lahan kristalisasi adalah 35 : 65.  

Disamping peningkatan kuantitas garam dengan teknologi ulir, peningkatatan kulaitas garan juga sangat diperlukan untuk meningkatkan harga jual garam. Salah satu metode untuk meningkatkan kualitas garam adalah dengan menggunakan teknologi GEOMEMBRAN. 

Teknologi Geomembran adalah upaya menghindari kontak langsung antara dasar meja kristalisasi (tanah) dengan air laut yang akan dikristalkan dengan cara melapisi dasar meja kristalisasi dengan terpal plastik sehingga kualitas garam yang dihasilkan bebas dari kotoran/tidak bercampur dengan tanah.

Alur Proses Produksi Garam Pada Lahan Semi Intensif
 
SALURAN AIR MUDA/AIR LAUT (CAREN)
Saluran air muda/caren berfungsi mengangkut air laut dari laut menuju lahan garam. Pengaliran air laut bisa menggunakan bantuan mesin pompa atau mengandalkan pasang air laut. Kepekatan air laut di Pantai Utara Jawa berkisar 20 BE, selama proses pengaliran air laut di caren kepekatan air laut akan mengalami peningkatan dari 20 Be menjadi 40 Be.

Saluran air muda/air laut (Caren)
KOLAM PENAMPUNG AIR MUDA 
Air laut dari saluran primer (caren) kemudian dialirkan ke kolam penampung air muda. Luas kolam penampung air muda ini sekitar 10% dari total luas lahan garam. Air muda yang tersimpan di kolam penampung diendapkan selama 7 – 10 hari dengan ketinggian air ± 1 meter. Selama proses ini kepekatan air akan meningkat dari 40 Be menjadi 70 Be (panas normal). Selain sebagai kolam penampung, kolam ini juga berfungsi untuk mengendapkan kotoran yang terbawa oleh air laut , kemudian air dari kolam penampung dialirkan ke kolam ulir.
Kolam Penampung Air muda
KOLAM ULIR
Luas lahan kolam ulir sekitar 20% dari total luas lahan garam. Untuk mengalirkan air dari kolam penampungan air muda ke kolam ulir digunakan pompa kincir angin. Air dikolam ulir akan mengalir melewati pematang yang dibuat zig – zag. Proses penuaan air di kolam ulir berlangsung selama ±4 hari, dengan ketinggian air 10 cm. Kepekatan air akan meningkat dari 70 Be menjadi 12 – 180 Be. Kepekatan ini akan cepat terjadi pada kolam ulir karena air tersebut selalu bergerak atau mengalir perlahan – lahan pada jarak yang panjang.

Kolam Ulir

KOLAM PENAMPUNG AIR TUA (BUNKER)
Air hasil penuaan di kolam ulir kemudidan ditampung di kolam penampung air tua. Luas kolam penampung air tua sekitar 5% dari luas lahan garam. Kolam ini berfungsi untuk menyalurkan air tua ke meja Kristal. Kedalaman air tua di kolam ini sekitar 50 cm. air di kolam bunker berfungsi sebagai stok air tua. Kepekatan air di kolam bunker berkisar antar 22 – 250 Be, sehingga air tua tersebut siap untuk dilepas ke meja Kristal.

Kolam Penampung Air Tua (Bunker)

MEJA KRISTAL
Air tua selanjutnya dialirkan ke meja - meja kristal. Luas meja kristal yakni sekitar 65 % dari luas lahan tambak. Didalam meja Kristal air tua diendapkan selama  5 - 10 hari dengan kedalaman air ±5 cm. seiring dengan lamanya waktu air tua akan mengkristal menjadi Kristal garam.
Meja kristal sistem Geomembran

PANEN
Garam yang terbentuk di meja kristalisasi selama 5 hari selanjutnya dipanen dengan cara dikerik menggunakan alat pengerik yang terbuat dari kayu. Garam hasil panen kemudian dimasukkan kedalam karung dan selanjutnya diangkut ke gudang penyimpanan.

Panen Garam
Sumber : Hasil kunjungan lapangan di Desa Krangkeng Kec. Krangkeng Kab. Indramayu tanggal 22 Oktober 2013.

PRODUKSI GARAM DI LAHAN GARAM TRADISIONAL

Garam merupakan salah satu pelengkap dari kebutuhan pangan dan merupakan sumber elektrolit bagi tubuh manusia. Walaupun Indonesia termasuk negara maritim, namun usaha meningkatkan produksi garam belum diminati, termasuk dalam usaha meningkatkan kualitasnya.

Di lain pihak untuk kebutuhan garam dengan kualitas baik (kandungan kalsium dan magnesium kurang) banyak diimpor dari luar negeri, terutama dalam hal ini garam beryodium serta garam industri.

Di Indonesia proses pembuatan garam banyak dilaksanakan pada lahan garam tradisional. Pada lahan tradisional  air laut dari kolam penampung air muda akan melewati kolam – kolam peminihan sampai akhirnya menjadi air tua dan siap dilepas ke meja Kristal.
Secara umum alur proses pembuatan garam secara tradisional dapat dilihat pada gambar berikut :
Alur Proses Produksi Garam Pada Lahan Tradisional

SALURAN AIR MUDA (CAREN)
Saluran air muda/caren berfungsi mengangkut air laut dari laut menuju lahan garam. Pengaliran air laut bisa menggunakan bantuan mesin pompa atau mengandalkan pasang air laut. Kepekatan air laut di Pantai Utara Jawa berkisar 2 derajat BE, selama proses pengaliran air laut di caren kepekatan air laut akan mengalami peningkatan dari 2 derajat Be menjadi 4 derajat Be.

Saluran Air Muda (Caren)

KOLAM PENAMPUNG AIR MUDA 
Air laut dari saluran primer (caren) kemudian dialirkan ke kolam penampung air muda. Luas kolam penampung air muda ini sekitar 25% dari total luas lahan garam. Air muda yang tersimpan di kolam penampung diendapkan selama 7 – 10 hari dengan ketinggian air ± 1 meter. Selama proses ini kepekatan air akan meningkat dari 4 derajat Be menjadi 7 derajat Be (panas normal). Selain sebagai kolam penampung, kolam ini juga berfungsi untuk mengendapkan kotoran yang terbawa oleh air laut , kemudian air dari kolam penampung dialirkan ke kolam peminihan I.

Kolam Penampung Air Muda

KOLAM PEMINIHAN I
Didalam kolam peminihan I air diendapkan selama  2 – 4 hari dengan kedalaman air ±40 cm. Selama proses penuaan air di kolam peminihan I air mengalami penguapan sehingga terjadi peningkatan kepekatan dari 7 derajat Be menjadi 10 derajat Be. Luas kolam peminihan I sekitar 10 % dari luas lahan garam.
Kolam Peminihan I

KOLAM PEMINIHAN II
Didalam kolam peminihan II air diendapkan selama  2 – 4 hari dengan kedalaman air ±30 cm. Selama proses penuaan air di kolam peminihan II air mengalami penguapan sehingga terjadi peningkatan kepekatan dari 10 derajat Be menjadi 12 - 14 derajat Be. Luas kolam peminihan II sekitar 10 % dari luas lahan garam.
Kolam Peminihan II
KOLAM PEMINIHAN III
Didalam kolam peminihan III air diendapkan selama  2 – 4 hari dengan kedalaman air ±20 cm. Selama proses penuaan air di kolam peminihan III air mengalami penguapan sehingga terjadi peningkatan kepekatan dari 12 - 14 derajat Be menjadi 16 - 18 derajat Be. Luas kolam peminihan III sekitar 10 % dari luas lahan garam.
Kolam Peminihan III

KOLAM PEMINIHAN IV
Didalam kolam peminihan IV air diendapkan selama  2 – 4 hari dengan kedalaman air ±10 cm. Luas kolam peminihan IV sekitar 10 % dari luas lahan garam. Selama proses penuaan air di kolam peminihan IV air mengalami penguapan sehingga terjadi peningkatan kepekatan dari 16 - 18 derajat Be menjadi 20 derajat Be yang disebut air tua. Setelah kepekatan dianggap mencukupi  menjadi air tua (20 derajat Be)maka air tua tersebut dilepas ke meja Kristal.

Kolam Peminihan IV

MEJA KRISTAL
Air tua selanjutnya dialirkan ke meja kristal. Luas meja kristal yakni sekitar 35 % dari luas lahan tambak. Didalam meja Kristal air tua diendapkan selama  5 - 10 hari dengan kedalaman air ±5 cm. seiring dengan lamanya waktu air tua akan mengkristal menjadi Kristal garam.
Meja Kristal

PANEN
Garam yang terbentuk di meja kristalisasi selama 5 hari selanjutnya dipanen dengan cara dikerik menggunakan alat pengerik yang terbuat dari kayu. Garam hasil panen kemudian dimasukkan kedalam karung dan selanjutnya diangkut ke gudang penyimpanan.
Panen Garam

Sumber : Hasil kunjungan lapangan di Desa Rawa Urip Kec. Pangenan Kab. Cirebon tanggal 21 Oktober 2013.

Friday, October 18, 2013

Budidaya Ikan Nila Ras Wanayasa (Nirwana)

Salah satu upaya untuk melakukan perbaikan genetik ikan Nila adalah dengan membuat jenis ikan nila baru diantaranya adalah jenis ikan nila Nirwana (Nila Ras Wanayasa). Upaya membuat ikan nila nirwana ini telah dilakukan oleh Balai Pengembangan Benih Ikan Air Tawar (BPBIAT) Wanayasa ,Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat sejak beberapa tahun yang lalu dan mulai dirilis tahun 2006. Kini perkembangan pemuliaan genetik ikan Nila Nirwana ini telah sampai pada generasi ke II. Upaya perbaikan genetik Ikan nila Nirwana ini menggunakan metode seleksi individu mengajukan permohonan untuk dilakukan penilaian terhadap jenis ikan Nila Wanayasa baru dengan kelas induk dasar (Grand Parent Stock) yang layak untuk dilepas atau diperbanyak.

Berikut video mengenai cara budidaya ikan nila Nirwana....


sumber : Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya

Tuesday, October 8, 2013

Penyerahan Bantuan PUMP Budidaya Bagi Pembudidaya Ikan Kota Tegal

Untuk kesekian kalinya bantuan PUMP (Pengembangan Usaha MinaPedesaan) diserahkan bagi para pelaku utama perikanan. Pada hari Selasa, 1 Oktober 2013, bertempat di Aula Kelurahan Pesurungan Lor dilaksanakan penyerahan bantuan PUMP secara simbolis bagi pembudidaya ikan di Kota Tegal.

Dalam kesempatan kali ini, penyerahan bantuan PUMP dihadiri oleh Walikota Tegal, Camat Margadana, Camat Tegal Timur, Kepala Dinas Kelautan dan Pertanian Kota Tegal serta perwakilan dari masing - masing kelompok yang mendapatkan bantuan.
Kelompok serta tamu undangan yang menghadiri acara
penyerahan bantuan PUMP secara simbolis

Rasmanto, ketua kelompok Tri Tunggal Jaya dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih atas bantuan dari segala pihak baik Dinas maupun penyuluh perikanan yang selalu membimbing sehingga bantuan dapat terealisasi. Rasmanto juga mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang telah memberikan bantuan kepada pembudidaya ikan Kota Tegal.

Sambutan kedua disampaikan oleh Noor Fuady, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Tegal. "Bantuan PUMP bertujuan untuk meningkatkan produksi serta kemampuan pelaku utama perikanan dalam hal ini pembudidaya ikan yang diharapkan akan memberikan dampak terhadap kesejahteraan pembudidaya ikan, sehingga diharapkan kelompok yang mendapatkan bantuan dapat menggunakannya dengan sebaik - baiknya" imbuh Noor Fuady.
Penyerahan bantuan PUMP secara simbolis oleh Walikota Tegal

Pada tahun 2013 Kota Tegal mendapatkan bantuan PUMP Budidaya bagi Delapan Kelompok Pembudidaya Ikan (POKDAKAN). Kelompok tersebut tersebar di empat kelurahan, yakni di Kelurahan Muarareja dengan kelompok Tambak Berkah, Tambak Muara, Mina Reja dan Ulam Sari, Kelurahan Pesurungan Lor dengan kelompok Tri Tunggal Jaya I da Tri Tunggal Jaya II, Kelurahan Cabawan dengan kelompok Cakra Sela dan Kelurahan Panggung dengan Kelompok Panggung.