Kegiatan Penyuluhan

Kegiatan Penyuluhan Perikanan Bertujuan Meningkatkan Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan Pelaku Utama dan Pelaku Usaha Perikanan.

Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP)

P2MKP Memberdayakan Pelaku Utama Perikanan dan Masyarakat.

Pelatihan Kelautan dan Perikanan

Meningkatkan keterampilan para pelaku utama kelautan dan perikananm.

AUTO MATIC FEEDER

Solusi Memberi Makan Ikan Menjadi Mudah Dan Tepat.

Friday, July 20, 2018

Kebiasaan Makan Artemia Salina

Artemia adalah binatang yang sederhana cara makannya, yaitu dengan menyaring makannya atau disebut non-selective filter feeder, maka Artemia akan terus menerus memakan apa saja yang ukurannya lebih kecil dari 50 μm.
Artemia salina [sumber]
Makanan Artemia di alam adalah detritus bahan organik dan ganggang renik (ganggang hijau, ganggang biru, cendawan atau ragi laut). Beberapa jenis ganggang hijau yang sering dijadikan makanan oleh Artemia antara lain Euglena, Dunaliella salina dan Cladophora sp. Seluruh partikel suspensi yang mungkin dapat dimakan oleh artemia secara terus menerus akan diambil dari media kultur dengan gerakan terakopoda yang mempunyai fungsi ganda sebagai respirasi dan pengumpul makanan sehingga tidak ada alternative lain bagi artemia untuk terus menerus menyaring makanan.

Artemia memakan sesuatu yang berasal dari bahan hidup (misal detritus organik dari perairan hutan bakau) dan organisme hidup pada kisaran ukuran yang sesuai bukaan mulut (bakteri dan mikro alga). 

Sumber : Paper Kultur Artemia

Semoga Bermanfaat...

Wednesday, July 18, 2018

Kebiasaan Hidup (Ekologi) Artemia Salina

Artemia dapat tumbuh cepat pada perairan laut, tetapi tidak mempunyai pertahanan tubuh yang mampu melawan predator. Namun demikian, artemia memiliki mekanisme pertahanan ekologik yang sangat efisien melalui adaptasi fisiologik terhadap media hidup yang bersalinitas tinggi, sehingga predator tidak dapat hidup. Artemia memiliki sistem osmoregulasi yang terbaik diantara binatang. Disamping itu, artemia mampu mensintesis pigmen respirasi atau hemoglobin untuk mengatasi kandungan oksigen rendah pada alinitas tinggi. Dengan demikian artemia mempunyai kemampuan menghasilkan kista yang tahan terhadap kondisi lingkungan yang ekstrim.
Artemia salina [sumber]
SUHU
Artemia tidak dapat bertahan hidup pada suhu kurang dari 6oC atau lebih dari 35oC. Akan tetapi, hal ini tergantung pada ras dan kebiasaan tempat hidup mereka. Kista yang kering dapat lebih tahan terhadap perubahan suhu, artemia yang kering dapat tahan pada suhu -273 derajat C sampai 100 derajat C tetapi untuk telur basah tidak demikian halnya.

KANDUNGAN ION
Daya tahan artemia terhadap perubahan kandungan ion kimia dalam air sangat tinggi.apabila kandungan ion natrium (Na+) dibandingkan dengan ion kalium (K+) di dalam air laut alami adalah 28, maka artemia masih dapat bertahan pada perbandingan 8-173. Untuk ion klor (CL) dan karbonat (CO3) di dalam air laut perbandingannya 137. Sedangkan artemia dapat bertahan pada perbandingan antara 101-810. Perbandingan ion klor (CL-) dan ion sulfat (SO4) did dalam air laut sekitar 7. Sedangkan artemia dapat bertahan pada perbandingan 0,5-90.

KADAR GARAM
Untuk perkembangan artemia  membutuhkan kadar garam tinggi. Sebab, pada kadar garam tinggi musuh-musuh bagi artemia tidak dapat hidup lagi, sehingga mereka dapat hidup lebih aman tanpa gangguan. Pada umumnya musuh-musuh artemia sudah mati jika memiliki kadar air garam 80-100 permil. Walaupun demikian terdapat jenis ikan yang belum mati pada kadar garam antara 100-130 permil. Untuk pertumbuhan telur (kista), ternyata dibutuhkan kadar garam yang rendah. Apabila kadar garam lebih tinggidari 85 permil, maka telurnya tidak akan menetas. Sebabnya adalah tekanan osmose di luar telur lebih tinggi, sehingga telurnya tidak dapat menyerap air yang cukup untuk proses metabolismenya (Mudjiman, 1989). Kultur biomassa Artemia yang baik pada kadar garam antara 30-50 ppt. Untuk Artemia yang mampu menghasilkan kista membutuhkan kadar garam diatas 100 ppt.

OKSIGEN TERLARUT
Artemia hidup pada kadar oksigen terlarut antara 1,67-6,21 ml/l, di daerah Tuticorin (India). Yang dikehendaki oleh artemia agar dapat hidup lebih baik, kadar oksigen terlarutnya harus mendekati titik kejenuhan yaitu sekitar 3 ml/l. Artemia sangat pandai menyesuaikan diri terhadap perubahan kadar oksigen, sifat hewan yang demikian disebut dengan euroksibon.

ASAM BASA (pH)
Artemia terdapat pada perairan netral atau sedikit basa (lebih dari 7). Di Tuticorin (India), artemia dapat hidup pada kisaran PH 7,8 - 8,4.  Sebenarnya pengaruh PH terhadap kehidupan artemia muda dan dewasa masih belum jelas. Yang sudah jelas adalah pengaruh PH terhadap penetasan kista. Apabila PH air untuk penetasan artemia kurang dari 8, maka efisiensi penetasan akan menurun.

Sumber : Paper Kultur Artemia Salina

Semoga Bermanfaat..

Monday, July 16, 2018

Morfologi Artemia Salina

Saat ini telur artemia sudah diproduksi secara massal oleh perusahaan pakan ikan yang tujuannya tentu untuk mensuplai pakan bagi larva ikan. Telur - telur artemia dipasarkan dalam wadah kaleng yang dapat bertahan hingga bertahun - tahun. Pada saat akan digunakan baru telur artemia ditetaskan menggunakan air laut /larutan garam sehingga memudahkan pembudidaya ikan dalam penyediaan pakan larva ikan.

Berikut tahapan sikuls hidup artemia dimulai dari telur hingga dewasa.

1. Kista / Telur
Telur artemia atau kista berbentuk bulat berlekuk dalam keadaan kering dan bulat penuh dalam keadaan basah. Warnanya coklat yang diselubungi oleh cangkang yang tebal dan kuat . Kista merupakan telur yang telah berkembang menjadi embrio yang diselubungi oleh cangkang yang tebal dan kuat. Cangkang ini berguna untuk melindungi embrio terhadap pengaruh kekeringan, benturan keras, sinar ultra violet, dan mempermudah pengapungan . Kista merupakan telur yang terbungkus korion, kista dapat diartikan sebagai telur yang mengalami fase cryptobiosis (fase tidur atau istirahat). 

Telur artemia dalam bentuk kista berwarna coklat dengan garis tengah antara 200-300 µm, berat antara 1,60-2,22 µg. Jika dimasukan kedalam air laut, kista kering yang berbentuk cekung akan mengalami hidrasi menjadi berbentuk bulat penuh dan mulai terjadi metabolisme embrio dalam cangkang. 

Kista ini disimpan dalam kantong telur atau uterus dengan jumlah berkisar 38-45 butir kista dalam satu individu betina. Perkembangan warna kista dalam uterus di tubuh induknya dimulai dari warna putih, menjadi hijau muda, biru dan selanjutnya coklat tua.

Pada salinitas 90-200 ‰, Artemia dapat menghasilkan kista. Sedangkan pada salinitas < 85 ‰ Artemia akan memproduksi nauplius. Akibatnya keberhasilan pemeliharaan Artemia untuk memproduksi kista akan mencapai maksimal apabila media ada pada salinitas yang optimal. 

Penampang kista artemia menunjukan dari luar ke dalam lapisan-lapisan korion, kutikula embrio dan embrio atau calon nauplius. Lapisan korion yang keras dan berwarna coklat terdiri dari lapisan epidermis, lapisan kortikal dan lapisan alveolar.
Lapisan cangkang telur/kista Artemia salina
Lapisan korion berfungsi sebagai pelindung terhadap gangguan mekanik, lapisan kutikula embrio berfungsi sebagai pelindung embrio dari goncangan mekanik dan sebagai sumber enzim tahalose yang membantu dalam proses penetasan. Diantara kedua lapisan korion dan kutikula embrio terdapat selaput luar kutikula embrio. Setelah 15-20 jam pada suhu 25oC kista akan menetas menjadi embrio. Artemia selama masa hidupnya yang sekitar 50 hari dalam kondisi super ideal bisa memproduksi kista sebanyak 300 butir per 4 hari.

2. Pre Nauplius
Setelah 24 jam, cangkang kista akan pecah (breaking stage atau E-1) dan akan muncul embrio yang dikelilingi oleh selaput penetasan. Dalam beberapa jam, embrio meninggalkan cangkang kista dan bergantung dibawah cangkang yang kosong dalam keadaan masih melekat (umberella stage atau E-2).

Perkembangan naupli Artemia salina
Di dalam selaput penetasan, nauplius berkembang sempurna dan anggota badan mulai bergerak. Dalam waktu singkat, selaput penetasan pecah dan muncul nauplius yang berenang bebas.

3. Nauplius
Anderson (1967) dalam Cholik dan Daulay (1985) menggambarkan 10 stadia larva artemia :
Stadia I panjangnya antara 450-475 µm dan berwarna jingga kecoklatan karena masih mengandung kuning telur, mempunyai 3 pasang anggota badan yaitu (1) antena sensor kecil yang disebut antena pertama, (2) antena yang berkembang sempurna yang mempunyai alat gerak dan berfungsi sebagai penyaring makanan, dan (3) mandibula yang belum sempurna. Mata nauplius berwarna merah terletak pada bagian kepala diantara antena pertama. Pada stadia I artemia belum dapat mengambil makanan karena sistem pencernaan belum berfungsi (mulut dan anus masih tertutup). Pada suhu 20oC stadia I berlangsung selama 20 jam.

Stadia II panjangnya 630 µm dan nampak lebih bening.makanan yang berukuran partikel kecil (algae, bakteria dan detritus) yang ukurannya berkisar antara 1-40 µm akan disaring oleh antena kedua dan dicerna di dalam saluran pencernaan, Stadia ini berlangsung selama 10 jam.

Stadia III berukuran sekitar 725 µm, saluran pencernaan tampak jelas, kuning telur yang dikandungnya jauh berkurang. Tiga ruas pertama dari tubuhnya semakin nyata dan 3 ruas berikutnya mulai nampak sebagai lingkaran, telson sudah mulai nampak. Stadia ini berlangsung selama 40 jam.

Stadia IV panjangnya sekitar 800 µm. Dapat dibedakan dengan jelas, perkembangan duri yang terletak pada ujung eksopod dari antena telah sempurna. Duri ini dapat digerak-gerakan. Perkembangan lain yaitu pembentukan maksilula dan maksila.
Stadia Artemia salina [sumber]
Artemia tumbuh melalui sekitar 15 ganti kulit, yaitu (1) truncus dan perut memanjang, (2) anggota badan lobular yang berpasangan yang muncul pada bagian truncus dan akan berkembang menjadi thorakopoda dan (3) bagian lateral mata yang berkembang pada kedua sisi mata nauplius.

Perubahan morfologi masih terjadi sebelum artemia menjadi dewasa. Sejak instar ke-10 perubahan-perubahan morfologi yang terpenting antara lain hilangnya fungsi antena sebagai alat gerak dan perubahan bentuk menunjukan terjadinya perbedaan kelamin jantan dan betina. Kaki berkembang menjadi bagian-bagian yang fungsinya berbeda-beda, yaitu menjadi telopodit yang berfungsi sebagai saringan, endopodit untuk bergerak dan eksopodit untuk pernapasan.

4. Dewasa
Setelah stadia X artemia menjadi dewasa. Waktunya berkisar 7- 15 hari tergantung pada keadaan lingkungan. Perubahan morfologi yang tampak setelah artemia menjadi dewasa adalah terbentuknya mata, antenula, alat pencernaan yangmemanjang dan 11 pasang thorakopoda. Perbedaan antara artemia jantan dan betina yaitu pada artemia jantan terdapat alat penangkap dan sepasang penis yang terdapat dibagian belakang tubuhnya. Pada artemia betina, antena berfungsi sebagai alat peraba. Sepasang ovari terletak memanjang pada kedua sisi saluran pencernaan di belakang thorakopoda.
Morfologi Artemia salina
Perbedaan induk jantan dan betina Artemia salina

Sumber : Paper Kultur Artemia Salina

Semoga Bermanfaat...

Friday, July 13, 2018

Mengenal Artemia Salina

Artemia merupakan salah satu makanan hidup yang sampai saat ini paling banyak di gunakan dalam kegiatan budidaya ikan, khususnya dalam pengolahan pembenihan. Sebagai makanan hidup, artemia tidak hanya digunakan dalam bentuk nauplius, tetapi juga dalam bentuk dewasanya. Nilai nutrisi artemia dewasa mempuyai kandungan proteinya meningkat dari rata – rata 42%  pada nauplius menjadi 60% pada artemia dewasa yang telah di keringkan.

TAKSONOMI
Pennak (1978) dan Dales (1981) menyatakan bahwa Artemia Salina diklasifikasikan sebagai berikut :
Phylla : Arthropoda 
ClassCrustaceae
Subclass : Branchiopoda
OrdoAnostraca
FamilyArtemiidae
Genus : Artemia
Species : Artemia salina
Artemia salina [sumber]
Nama species tersebut diberikan oleh Schlossser yang menemukan artemia ini untuk pertama kalinya di suatu danau asin pada tahun 1755.

REPRODUKSI DAN DAUR HIDUP
Berdasarkan perkembangbiakannya ada dua jenis yaitu biseksual dan partenogenesis. Perkembangbiakan jenis biseksual melalui proses perkawinan, sedangkan partenogenetik tanpa perkawinan. Selanjutnya pada pekembangbiakan secara biseksual maupun partenogenesis, keduanya dapat terjadi secara ovovivipar maupun ovipar. Pada ovovivipar yang dihasilkan induk adalah burayak yang disebut nauplius dan biasanya terjadi bila keadaan lingkungan cukup baik dengan kadar garam kurang dari 5‰ dan kandungan oksigen terlarutnya cukup. Sedangkan pada cara ovipar yang dihasilkan induk berupa telur bercangkang tebal yang dinamakan kista, dan biasanya terjadi bila kondisi lingkungan memburuk dengan kadar garam diatas 150‰ dan oksigen terlarutnya rendah, Anonimous (2002).
Siklus hidup Artemia salina
Cholik dan Daulay (1985), mengatakan dalam kehidupan artemia dikenal dua macam cara reproduksi yaitu secara ovovivipar dimana telur yang telah dibuahi menetas menjadi nauplius dan kemudian dilepas oleh induknya didalam air. Cara lainya adalah ovipar yaitu telur yang telah dibuahi telah mencapai stadia gastrula yang terbungkus dengan kulit luar yang relatif tebal dikeluarkan oleh induknya dalam bentuk kista.

Reproduksi secara ovovivipar terjadi pada kadar garam rendah, sedangkan ovipar terjadi pada garam tinggi, yaitu 100-200 ppt, dan kadar oksigen rendah. Telur artemia dalam bentuk kista apabila keadaan memungkinkan, pada salinitas 30-35 ppt akan menetas menjadi nauplius yang ukurannya bekisar antara 450-475 mikron, larva ini akan tumbuh dan berkembang setelah melalui 15 kali ganti kulit akan tumbuh menjadi dewasa, (Sorgeloos dan Kulasekarapandian, 1987).

Berdasarkan jenis kelaminnya, artemia dapat dibedakan antara individu yang berkelamin jantan dan betina. Dalam siklus hidupnya, proses reproduksi atau perkembangbiakan dilakukan secara generatif. Dalam proses generatif dihasilkan telur-telur atau kista yang berbentuk butiran-butiran halus. Apabila berada ditempat kering atau di air yang bersalinitas tinggi maka kista tetap dalam keadaan dorman atau tidur. Keadaan tersebut dikenal dengan istilah fase cryptobiosis. Apabila kista tersebut direndam didalam air laut dengan salinitas 30-35 ppt maka akan terjadi hidrasi. Setelah 24 jam, membran luar akan pecah dan kista menetas menjadi embrio. Beberapa jam kemudian, embrio berkembang menjadi nauplius dan mampu berenang bebas didalam air,  Harefa (2003).

Individu yang baru ditetaskan dikenal dengan instar I. Instar I ini akan berganti kulit menjadi instar II, demikian seterusnya sampai 15 kali. Setiap tahap pergantian kulit dinamai nomor instar pada tahap tersebut sehingga pergantian kulit yang terakhir disebut instar XV. Selanjutnya artemia berkembang menjadi individu dewasa dengan ukuran 10-20 mm, Harefa (2003).

Perkembangan artemia dari proses penetasan sampai menjadi individu dewasa membutuhkan waktu sekitar 7-10 hari. Pada saat telah menjadi dewasa, artemia siap untuk melakukan proses proses perkawinan. Proses perkawinan pada artemia ditandai dengan penempelan individu jantan pada tubuh individu betina (riding position). Keadaan seperti ini berlangsung hingga telur masak, Harefa (2003).
Dalam kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan, misalnya salinitas air amat tinggi atau kadar oksigen rendah, telur segera dibungkus oleh kulit luar yang disebut korion. Korion yang diproduksi oleh kelenjar kulit ini cukup keras, tidak mudah pecah, ringan, dan berwarna coklat tua. Dengan terbentuknya korion ini maka telur hanya mampu berkembang hingga fase gastrula dan kemudian berlanjut kepada fase dormansi atau diapauze, Harefa (2003).

Pada saat terbentuk korion, proses metabolisme menjadi terhenti. Telur kemudian disebut dengan kista. Kista ini dilepas induknya kedalam air dan mengapung dibawa oleh angin atau arus air karena beratnya yang sangat ringan. Proses pelepasan kista dari induknya disebut dengan ovipar. Kista artemia terbentuk bulat dan cukup keras sehingga tidak mudah pecah, Harefa (2003).
Dalam kondisi lingkungan yang baik dan salinitas rendah, telur langsung menetas menjadi larva yang disebut nauplius. Larva ini akan membebaskan diri dari induknya dengan berenang bebas didalam air. Proses penetasan telur langsung menjadi larva ini disebut dengan ovovivipar, (Harefa 2003).

Sumber : Paper Kultur Artemia

Semoga Bermanfaat...

Wednesday, July 11, 2018

Teknik Aklimatisasi Benur Udang

Kegiatan aklimatisasi merupakan kegiatan penyesuaian ikan yang baru dibeli atau datang dari tempat asal ke tempat baru terhadap lingkungan baru baik suhu, pH, salinitas, DO dll. Kegiatan ini sangat perlu dilakukan pada ikan yang baru datang agar ikan yang dipelihara tidak stress atau bahkan mengalami kematian.
Aklimatisasi benur udang [sumber]
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat kita akan membeli benur udang untuk dipelihara :
  1. Semua organ tubuh benur yaitu ekor, mata, kaki, antara kulit dalam keadaan lengkap dan tidak cacat; 
  2. Gerakan benur lincah dan suka melawan arus; 
  3. Bentuk tubuh ramping memanjang; 
  4. Warna tubuh jernih / putih kecoklatan; 
  5. Benur sensitif atau peka terhadap gangguan fisik pada lingkungannya, seperti benur akan segera bergerak cepat atau bila dikejutkan; 
  6. Keadaan tubuh benur bersih dari kotoran dan Iumut; 
  7. Benur aktif mencari makan dan nafsu makan tinggi; 
  8. Tidak ada perubahan warna yang mencolok pada benur pada kondisi terang maupun gelap; 
  9. Kuaiitas air berbagai media hidup benur harus benar-benar baik dan bebas penyakit; 
  10. Fototatis positif yaitu suka pada cahaya; 
  11. Ukuran benur relatif seragam. 
  12. Benur berukuran seragam dan berumur sama.
  13. Tubuh benur sehat memiliki garis memanjang yang berwarna cokelat.
Sebelum benur ditebar pastikan kolam pembesaran udang sudah siap bai dari air maupun perlengkapan lainnya.

Cara Aklimatisasi Benur Udang :
  1. Biarkan kantor benur mengapung dikolam pembesaran selama lebih kurang 15 menit;
  2. Setelah 15 menit bukan kantor benur dan masukkan air kolam secara perlahan, biarkan benur udang keluar dengan sendirinya.
Upayakan pada saat penebaran benur udang pada saat suhu rendah (pagi atau sore hari).

Semoga Bermanfaat...

Monday, July 9, 2018

Penanganan Hama Ikan

Hama adalah organisme pengganggu yang dapat memangsa, membunuh dan mempengaruhi produktivitas ikan, baik secara langsung maupun secara bertahap.
Beberapa jenis hama ikan
Hama terdiri dari :
1. Predator (Pemangsa)
2. Kmpetitor (Pesaing)
3. Pengganggu

HAMA IKAN PREDATOR
1. Yuyu / Kepiting
Yuyu /Kepiting
Penanganan : Perencanaan kolam, menangkap dan membunuhnya, menaburkan sekam padi pada lubang yuyu.

2. Ikan Gabus
Ikan gabus
Penanganan : Pengeringan kolam, pemasangan saringan inlet, penangkapan langsung, meracun ikan gabus pada saat persiapan kolam : akar tuba (rotenone) 10 kg/ha, biji teh (saponin) 150-200 kg/ha, tembakau (nikotin) 200 – 400 kg/ha.

3. Belut dan Ular
Belut
Penanganan : Menjaga kebersihan kolam, penembokan pematang, penangkapan langsung, meracun belut/ular pada saat persiapan kolam : akar tuba (rotenone) 10 kg/ha, biji teh (saponin) 150-200 kg/ha, tembakau (nikotin) 200 – 400 kg/ha.

4. Burung
Burung
Penanganan : Pengawasan kolam, menutup area kolam dengan jaring, memberi penghalang dari pita kaset

5. Kini - Kini (Larva capung)
Larva capung
Penanganan : Hindari penggunaan pupuk kandang berlebih, memasang saringan pada inlet, penangkapan langsung pada malam (fototaksis positif),  kurangi padat tebar benih, penyemprotan minyak tanah diatas permukaan air.

6. Ucrit (Larva cybister)
Ucrit
Penanganan : Hindari penggunaan pupuk kandang berlebih, memasang saringan pada inlet, penangkapan langsung pada malam (fototaksis positif),  kurangi padat tebar benih, penyemprotan minyak tanah diatas permukaan air

7. Bebeasan (Notonecta)
Bebeasan
Penanganan : Hindari penggunaan pupuk kandang berlebih, memasang saringan pada inlet, penangkapan langsung pada malam (fototaksis positif),  kurangi padat tebar benih, penyemprotan minyak tanah diatas permukaan air.

Berikut materi penanganan hama ikan dalam bentuk tertayang :


Semoga Bermanfaat...

Friday, July 6, 2018

Penyakit Ikan Non Infeksi (Lingkungan) Pada Budidaya Ikan

Penyakit ikan akibat lingkungan sering mngakibatkan kerugian yang serius, karena kematian yang terjadi secara singkat dan umumnya mematikan seluruh populasi ikan seperti umbalan diwaduk, blooming plankton, dan keracunan limbah.

Berikut beberapa penyakit ikan yang disebabkan oleh lingkungan :
1. Ikan tercekik (Kekurangan Oksigen)
Ikan yang kekurangan oksigen
Umum terjadi dikolam atau perairan umum (waduk) menjelang pagi akbibat populasi fitiplankton yang tinggi, dan kurang cahaya matahari yang lama.

PENGENDALIAN : Penggantian air, meningkatkan difusi oksigen (penggunaan kincir, aerasi), padat tebar disesuaikan dengan daya dukung kolam.

2. Keracunan Nitrit
Ikan yang mengalami keracunan nitrit (menyerang pada sistem pernafasan ikan)
Nitrit berasal dari metabolisme protein pakan, disebut juga penyakit darah coklat, ntrit bersifat toksik ≥ 0,5 ppm, nitrit masuk ke insang sehingga sel darah merah tidak mampu membawa oksigen, ikan lemas, loncat – loncat, berkumpul di dekat air masuk, insang berwarna kecoklatan.

PENGENDALIAN : Meningkatkan kelautan oksigen, penggantian air baru, penggunaan probiotik pereduksi N (Nitrobacter, Nitrosomonas)

3. Keracunan Amoniak
Ikan yang keracunan amoniak
 Daya racun amoniak tergantung pH dan suhu air, semakin tinggi pH air atau suhu, maka makin tinggi daya racun amoniak, gejalanya ikan terlihat lemas, meloncat, berkumpul disaluran masuk air. 

PENGENDALIAN : Meningkatkan kelautan oksigen, mengurangi jumlah pakan terbuang, penggantian air baru, penggunaan probiotik pereduksi N (Nitrobacter, Nitrosomonas).

4. Emboli gas (Gas Bubble Disease)
Ikan yang terserang emboli gas
Kondisi gas yang kelewat jenuh (N, O2, CO2) dalam tubuh ikan sehingga terjadi gelembung udara pada jaringan dan darah ikan, ikan sulit bernafas, mata menonjol. Terjadi karena kenaikan suhu yang berlangsung cepat, blooming algae, tekanan air.

PENGENDALIAN : Menghindari hal-hal pemicu kelautas gas berlebih, aerasi yang kuat, memindahkan ikan sakit ke air yang normal.

5. Fluktuasi Suhu Air Yang Ekstrem
Ilustrasi suhu yang ekstrem
Ikan tidak mampu beradaptasi pasa perubahan suhu yang cepat yang berakibat stres bahkan kematian mendadak.

PENGENDALIAN : Menjaga kestabilan suhu pada kisaran optimum (25 – 32 derajat Celcius).

6. Limbah Polutan
Limbah rumah tangga yang dibuang ke sungai
Berasal dari pestisida, insektisida, polutan limbah industri, limbah rumah tangga, dapat memicu stress bahkan kematian massal.

PENGENDALIAN : Memasang filter air, memindahkan ikan ke kolam yang airnya normal.

7. Malnutrisi (Kekurangan Nutrisi)
Jarang menunjukkan gejala yang spesifik

PENGENDALIAN : Pemberian pakan yang sesuai dengan kebutuhan nutrisi ikan yang dipelhara (karnivora, herbivora, omnivora), menambahkan vitamin/mineral.

8. Penyakit Dari Genetis
Ikan yang mengalami kecacatan pada tubuhnya
Akibat perkawinan sekerabat (in breeding) yang berlangsung terus menerus. Pertumbuhan lambat (kuntet), lebih mudah terserang penyakit, organ tubuh tidak sempurna.

PENGENDALIAN : Hindari perkawinan sekerabat



Semoga Bermanfaat...

Wednesday, July 4, 2018

Budidaya Azolla Mycrophyla

Azolla adalah nama tumbuhan paku-pakuan akuatik yang mengapung di permukaan air. Bentuk Azolla adalah sudut segitiga polygonal dan mengambang di permukaan air secara individu atau bergerombol. Diameter tanaman berkisar antara 0,3 – 1 inchi (1-2,5 cm) bagi spesies kecil seperti Azolla pinnata, sampai 6 inchi (15 cm) atau lebih bagi Azolla nilotica, Azolla filiculoides yang di kembangkan di Hawai awal abad ke-20. Lingkungan ideal bagi Azolla adalah kolam-kolam berisi air segar atau daerah berair/lembab berlumpur.


Selengkapnya dapat dilihat pada tayangan berikut :


Semoga Bermanfaat...

Tuesday, July 3, 2018

Manajemen Kelompok

Manajemen Kelompok diharapkan mampu meningkatkan kemampuan pelaku utama perikanan sebagai kader pelaksana dalam mengelola Kelompok KP diberbagai bidang kegiatan dan usaha agar mampu meningkatkan kapasitas pribadi maupun kelembagaan.

Dalam melakukan manajemen kelompok ada beberapa hal yang dapat dilakukan diantaranya :
1. Pembentukan kelompok
2. Kerjasama antar kelompok
3. Dinamika kelompok
4. Pengembangan kelompok
5. Administrasi kelompok

A. PEMBENTUKAN KELOMPOK
Adapun syarat-syarat dalam pembentukan kelompok tani adalah sebagai berikut :
  1. Adanya kepentingan dan tujuan bersama antara anggota
  2. Adanya pertemuan tentang pembentukan kelompok
  3. Pertemuan harus dihadiri dan diketahui oleh penyuluh, kepala desa serta tokoh masyarakat setempat
  4. Membuat ad/art serta peraturan-peraturan lain yang dianggap perlu
  5. Penumbuhan dan pengembangan kelompok tani didasari prinsip dari, oleh dan untuk petani
  6. Jumlah anggota minimal 20 orang petani atau disesuaikan dengan kondisi lingkungan masyarakat dan usahataninya
  7. Setiap anggota harus melampirkan e-ktp dan nik
  8. Kelompok harus didaftarkan pada dinas/instansi terkait agar dinas/instansi terkait dapat mengeluarkan sertifikat kelompok
  9. Sebaiknya kelompok tani berbadan hokum atau memiliki akta notaris
B. KERJASAMA KELOMPOK
  1. Komunikasi
  2. Paham Hak dan Kewajiban
  3. Berperan serta dalam kelompok
Manfaat kerjasama kelompok :
Kerjasama dapat menambah produktivitas dan meningkatkan moral pengurus. Apalagi jika dilengkapi dengan sikap yang lebih baik terhadap tugasnya tanpa pamrih.

Kerjasama menjadi efektif  jika :
  1. Pengurus perlu memahami segala ketentuan dan mekanisme kerja yang ditetapkan.
  2. Setiap pengurus diharapkan ikut memecahkan masalah
  3. Pengurus perlu menyadari kemungkinan saran yang diajukan oleh Bidang lain untuk Bidang mereka.
  4. Mengenali masalah dari Bidang lain, sehingga dapat membantu memberikan sumbangan bagi Bidang tersebut.
Pola dan perilaku yang tidak efektif bagi kelompok kerja, antara lain :
  1. Saling tidak menyetujui tindakan pengurus Bidang lain.
  2. Mempertahankan pendapat masing-masing secara kaku atau menolak gagasan pihak lain tanpa alasan yang jelas, atau menarik diri jika pendapatnya tidak disetujui
  3. Tidak mau membantu, masalah pengurus bidang lain
  4. Menjatuhkan kawan sesama Pengurus
  5. Memaksakan usulan tanpa kejelasan manfaatnya atau jika usulan dilaksanakan, maka akan meningkatkan biaya besar atau makin mempersulit proses kerja.

C. DINAMIKA KELOMPOK
Kelompok akan dinamis apabila memiliki :
  1. Tujuan bersama
  2. Kebersamaan
  3. Disiplin
  4. Jiwa Kepemimpinan
  5. Komunikasi
  6. Peran aktif
D. PENGEMBANGAN KELOMPOK
apabila kelompok sudah dinais serta adanya tujuan mengembangkan atau meningkatkan skala usaha maka usaha tersebut dapat ditingkatkan menjadi lebih besar seperti Gabungan Kelompok Perikanan (Gapokkan), Asosiasi,maupun Korporasi.

E. ADMINISTRASI KELOMPOK
Bahwa kelompok yang baik dimulai dari lancarnya kegaitan administrasi di kelompok, dalam hal ini kelompok secara rutin mengisi buku - buku administrasi kelompok sesuai peruntukkannya.

Buku administrasi kelompok terdiri dari :
  1. Buku data anggota
  2. Buku tamu
  3. Buku absen rapat
  4. Buku inventaris kelompok
  5. Buku kas
  6. Buku rencana kelompok
  7. Buku notulen rapat
  8. Buku surat
Berikut materi yang disampaikan dalam bentuk bahan tayang :




Semoga bermanfaat...

Monday, July 2, 2018

Cara Membuat Probiotik Dengan Bahan Baku Murah

Probiotik merupakan kumpulan bakteri baik yang dapat membantu metabolisme ikan menjadi lebih baik serta dapat membantu menjaga kualitas air sebagai media hidup ikan. Saat ini dipasaran beredar berbagai probiotik dengan berbagai merk. Harga probiotik dipasaran bervariasi dari mulai dari harga puluhan ribu hingga ratusan ribu. 
Yakult, probiotik yang biasa dikonsumsi manusia [sumber]
Dimasyarakat pembudiaya ikan sendiri berkembang teknik - teknik membuat probiotik menggunakan bahan - bahan yang ada disekitar kita sehingga lebih murah.

Berikut salahsatu teknik membuat probiotik menggunakan bahan - bahan yang ada disekitar kita.

BAHAN
1. Yakult 2 botol
2. Nanas matang 1 buah (jika berukuran besar) atau 2 buah (jika berukuran kecil)
3. Air 15 liter
4. Gula merah 500 gr

ALAT
1. Panci besar
2. Blender
3. Kompor
4. Pengaduk dari kayu
5. Saringan
6. Jerigen kapasitas 25 liter

CARA PEMBUATAN
1. Blender nanas hingga hancur.
2. Saring menggunakan saringan sampai betul - betul terambil sarinya.
3. Campurkan sari buah nanas dengan air dan gula merah pada panci, kemudian aduk.
4. Panaskan campuran tadi sampai mendidih.
5. Angkat kemudian dinginkan campuran bahan sampai betul - betul dingin.
6. Campuran yakult 2 botol dengan larutan nanas aduk rata.
7. Masukkan kedalam jerigen, tutup rapat serta difermentasikan selama 4 - 5 hari.

CARA PENGGUNAAN
Larutan yang sudah jadi dapat digunakan pada pakan ikan (pelet) dengan dosis 50 ml/kg pakan, didiamkan selama 15 menit atau sampai probiotik meresap pada pakan kemudian dapat diberikan ke ikan.


Sumber : Pengalaman pribadi

Semoga bermanfaat...