Lalaukan

Informasi dunia kelautan dan perikanan serta kegiatan penyuluhan perikanan

Showing posts with label pakan ikan. Show all posts
Showing posts with label pakan ikan. Show all posts

Friday, May 8, 2020

Cara Mudah Kultur Pakan Alami Daphnia sp

Daphnia adalah jenis zooplankton yang hidup di air tawar, mendiami kolam atau danau. Daphnia dapat tumbuh optimum pada suhu perairan sekitar 21 °C dan pH antara 6,5 - 8,5. Jenis makanan yang baik untuk pertumbuhan Daphnia adalah bakteri, fitoplankton dan detritus.
Daphnia sp

Langkah kerja kultur dapnia :
Alat
  1. Bak kultur,
  2. Aerator,
  3. Saringan (100 mikron)
Bahan
  1. Media kultur (air tawar)
  2. Pupuk (kotoran ayam, bekatul)
Metode :
  1. Siapkan bak kultur dan medianya
  2. Tambahkan postal (3 kg/1000 liter) atau bekatul (1 kg/1000 liter)
  3. Media diaerasi kuat untuk mengaduk pupuk
  4. (biarkan 3 hari)
  5. Tambahkan bibit Daphnia sp
  6. Panen dapat dilakukan tergantung kepadatan Daphnia
  7. Panen dilakukan dengan menyaring Daphnia dengan saringan 100 mikron.
Sumber : BPPP Tegal

Semoga Bermanfaat...

Monday, May 4, 2020

Analisa Proksimat

Bahan makanan ternak akan selalu terdiri dari zat-zat makanan yang terutama diperlukan oleh ternak dan harus kita sediakan. Zat makanan utama antara lain protein, lemak dan karbohidrat perlu diketahui sebelum menyusun ransum. Untuk itu perlu dilakukan analisa laboratorium guna mengetahuinya.

Analisa proksimat merupakan metode analisa kimia untuk mengindentifikasi kandungan nutrisi seperti protein, karbohidrat, lemak dan serat pada suatu zat makanan dari bahan pakan atau pangan. Agroteknologi sendiri berhubungan dengan pengelolaan tanaman hingga menghasilkan produk (pangan) yang aman dan berdaya saing tinggi. Oleh karena itu analisa proksimat sangat erat hubungannya dengan produk hasil agroteknologi.

Henneberg dan Stohmann dari Weende Experiment Station di Jerman membagi pakan menjadi 6 (enam) fraksi, yaitu : kadar air, abu, protein, lemak kasar, serat kasar dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (Beta-N). Pembagian zat makanan ini kemudian dikenal sebagai Skema Proksimat. Untuk melakukan analisa proksimat bahan harus bentuk tepung dengan ukuran maksimum 1 mm. Bahan berkadar air tinggi misalnya rumput segar perlu diketahui dahulu berat awal (segar), berat setelah penjemuran/pengeringan oven 70oC agar dapat dihitung komposisi zat makanan dari rumput dalam keadaan segar dan kering matahari.

Monday, April 27, 2020

Mengenal Istilah Dalam Ilmu Makanan Ikan/ Ternak

Beberapa istilah yang sering dijumpai dalam pengetahuan bahan makanan ternak diantaranya :
Bahan Baku Pakan Ikan / Ternak

  1. Ampas : Residu limbah industri pangan yang telah diambil sarinya melalui proses pengolahan secara basah (ampas kelapa, ampas kecap, ampas tahu, ampas bir, ampas ubi kayu/onggok).
  2. Abu / ash / mineral : Sisa pembakaran pakan dalam tungku/tanur 500 – 600 derajat C sehingga semua bahan organik terbakar habis.
  3. Analisis proksimat (Proximate analysis ) : Analisa kimiawi pada pakan/bahan yang berlandaskan cara Weende yang akan menghasilkan air, abu, protein kasar, lemak dan serat kasar dalam satuan persen.
  4. Analisis Van Soest : Metoda analisa berdasarkan kelarutannya dalam larutan detergen asam dan detergen netral..
  5. BETN (Bahan Ekstrak Tanpa N) / NFE (Nitrogen Free Extract) : Karbohidrat bukan serat kasar. Dihitung sebagai selisih kandungan kerbohidrat dengan serat kasar. Merupakan tolak ukur secara kasar kandungan karbohidrat pada suatu pakan/ransum.
  6. Bahan kering (Dry Matter) : Pakan bebas air. Dihitung dengan cara 100 – kadar air, di mana kadar air diukur merupakan persen bobot yang hilang setelah pemanasan pada suhu 105 0C sampai beratnya tetap.
  7. Bahan makanan ternak / pakan (Feeds, Feedstuff) : Semua bahan yang dapat dimakan ternak.
  8. Bahan organik (Organik matter) : Selisih bahan kering dan abu yang secara kasar merupakan kandungan karbohidrat, lemak dan protein.
  9. Bahan organik tanpa nitrogen (BOTN) / Non nitrogenous organik matter : Selisih bahan organik dengan protein kasar yang merupakan gambaran kasar kandungan karbohidrat dan lemak suatu bahan/pakan.
  10. Dedak (Bran) : Limbah industri penggilingan bijian yang terdiri dari kulit luar dan sebagian endosperm seperti dedak padi, dedak gandum (pollard), serta dedak jagung.
  11. Energi bruto / Gross energy (GE) : Jumlah kalori (panas) hasil pembakaran pakan dalam bom kalorimeter.
  12. Fodder : Hijauan dari kelompok rumput bertekstur kasar seperti jagung dan sorghum beserta bijinya yang dikeringkan untuk pakan.
  13. Hijauan makanan ternak (Forage) : Pakan yang berasal dari bagian vegetatif tumbuhan/tanaman dengan kadar serat kasar > 18 % dan mengandung energi tinggi.
  14. Hijauan kering (Hay) : Hijauan makan ternak (HMT) yang dikeringkan dengan kadar air biasanya < 10 %.
  15. Jerami (Straw) : Hijauan limbah pertanian setelah biji dipanen dengan kadar serat kasar umumnya tinggi, bisa berasal dari gramineae maupun leguminoceae.
  16. Karbohidrat : Senyawa C, H dan O bukan lemak. Merupakan selisih BOTN dan lemak.
  17. Bungkil : Bahan limbah industri minyak seperti bungkil kelapa, bungkil kacang tanah, bungkil kedele, dll.
  18. Lemak kasar (Ether extract) : Semua senyawa pakan/ransum yang dapat larut dalam pelarut organik.
  19. Lignin : Bagian serat detergen asam yang tidak larut dalam H2SO4 72 % dan terbakar habis pada tanur 500– 600 0C pada metoda analisis Van Soest.
  20. Pakan imbuhan / Feed additive : Zat yang ditambahkan dalam ransum untuk memperbaiki daya guna ransum yang bersifat bukan zat makanan.
  21. Protein kasar (PK) / Crude protein : Kandungan nitrogen pakan/ransum dikalikan faktor protein rata-rata (6,25) karena rata-rata nitrogen dalam protein adalah 16 %, sehingga faktor perkalian protein 100/16 = 6,25. Terdiri dari asam-asam amino yang saling berikatan (ikatan peptida), amida, amina dan semua bahan organik yang mengandung Nitrogen.
  22. Ransum (Ration, Diet) : Sejumlah pakan/campuran pakan yang dijatahkan untuk ternak dalam sehari.
  23. Ransum konsentrat : Campuran pakan yang mengandung serat kasar < 18 % dan tinggi protein.
  24. Selulosa : Rangkaian molekul glukosa dengan ikatan kimia b - 1,4 glukosida dan terdapat dalam tanaman.
  25. Serat detergen asam (SDA, ADF) : Bagian dinding sel tanaman yang tidak larut dalam detergen asam pada metoda analisis Van Soest.
  26. Serat kasar (SK) / Crude fiber (CF) : Bagian karbohidrat yang tidak larut setelah pemasakan berturut-turut, masing-masing 30 menit pada H2SO4 1,25 % (0,255 N) dan NaOH 1,25 % (0,312 N).
  27. Setara protein telur (Chemical score) : Kadar asam amino esensial pembatas protein suatu bahan dibandingkan dengan asam amino protein telur sebagai standar.
  28. Silase / Silage : Hasil pengawetan hijauan dalam bentuk segar dengan cara menurunkan pH selama penyimpanan.
  29. Silika (SiO2) / Insoluble ash : Bagian serat detergen asam yang tidak larut dalam H2SO4 72 % dan tersisa sebagai abu pada pembakaran 500 – 600 0C pada metoda analisis Van Soest.
  30. Zat makanan (Nutrient) : Zat organik dan inorganik dalam pakan yang dibutuhkan ternak untuk mempertahankan hidup, memelihara keutuhan tubuhnya dan mencapai prestasi produksinya.
  31. Pakan tambahan (Feed supplement) : Pakan/campuran pakan yang sangat tinggi kandungan salah satu zat makanannya, seperti protein suplemen, mineral suplemen, vitamin suplemen, dll.
  32. Total digestible nutrient (TDN) : Total energi zat makanan pada ternak yang disetarakan dengan energi dari karbohidrat. Dapat diperoleh secara uji biologis ataupun perhitungan menggunakan data hasil analisis proksimat.
  33. Asam amino esensial (EAA) : Asam amino yang kerangka karbonnya tidak cukup/tidak dapat dibuat oleh tubuh sehingga harus cukup tersedia dalam protein makanan/ransum sehari-hari.
  34. Asam amino pembatas (Limiting amino acid) : Asam amino esensial yang paling kurang dalam protein suatu pakan dibandingkan dengan asam amino tersebut dalam protein telur. Erat kaitannya dengan kualitas protein.
  35. Probiotik : Kultur mikroorganisme yang dapat merangsang/meningkatkan pertumbuhan dari mikroorganisme saluran pencernaan yang diinginkan.
Sumber : Pengetahuan Bahan Makanan Ternak. Tim Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan IPB

Semoga Bermanfaat...

Friday, April 24, 2020

Sumber Bahan Makanan Untuk Ikan / Ternak

Pakan merupakan faktor tumbuh terpenting karena merupakan sumber energi yang menjaga pertumbuhan, serta perkembangbiakan. Nutrisi yang terkandung dalam pakan harus benar-benar terkontrol dan memenuhi kebutuhan ikan tersebut. Kualitas dari pakan ditentukan oleh kandungan yang lengkap mencakup protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Pakan merupakan sumber energi dan materi bagi kehidupan ikan.
Bahan Baku Dalam Pembuatan Pakan Ikan

Ketersediaan pakan berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan. Jumlah pakan yang dibutuhkan oleh ikan setiap harinya berhubungan erat dengan ukuran berat dan umurnya. Tetapi persentase jumlah pakan yang dibutuhkan semakin berkurang dengan bertambahnya ukuran dan umur ikan.

Pakan ikan adalah campuran dari berbagai bahan pangan (biasa disebut bahan mentah), baik nabati maupun hewani yang diolah sedemikian rupa sehingga mudah dimakan dan dicerna sekaligus merupakan sumber nutrisi bagi ikan yang dapat menghasilkan energi untuk aktivitas hidup. Kelebihan energi yang dihasilkan akan disimpan dalam bentuk daging yang dipergunakan untuk pertumbuhan (Djarijah.

Pakan ikan terdiri dari dua macam yaitu pakan alami dan pakan buatan. Pakan ikan alami merupakan makanan ikan yang tumbuh di alam tanpa campur tangan manusia secara langsung. Pakan ikan alami biasanya digunakan dalam bentuk hidup dan agak sulit untuk mengembangkannya. Pakan ikan buatan merupakan makanan ikan yang dibuat dari campuran bahan-bahan alami dan atau bahan olahan yang selanjutnya dilakukan proses pengolahan serta dibuat dalam bentuk tertentu sehingga tercipta daya tarik (merangsang) ikan untuk memakannya dengan mudah dan lahap. Pakan buatan dapat diartikan secara umum sebagai pakan yang berasal dari olahan beberapa bahan baku pakan yang memenuhi nutrisi yang diperlukan oleh ikan.

PEMBAGIAN JENIS BAHAN BAKU PAKAN IKAN
1. Berdasarkan Kandungan Serat Kasar Bahan Baku
Berdasarkan kandungan serat kasarnya bahan makanan ternak/ikan dapat dibagi kedalam dua golongan yaitu :
  • Bahan penguat (konsentrat). Konsentrat dapat berasal dari bahan pangan atau dari tanaman seperti serealia (misalnya jagung, padi atau gandum), kacang-kacangan (misalnya kacang hijau atau kedelai), umbi-umbian (misalnya ubi kayu atau ubi jalar), dan buah-buahan (misalnya kelapa atau kelapa sawit). Konsentrat juga dapat berasal dari hewan seperti tepung daging dan tepung ikan. Disamping itu juga dapat berasal dari industri kimia seperti protein sel tunggal, limbah atau hasil ikutan dari produksi bahan pangan seperti dedak padi dan pollard, hasil ikutan proses ekstraksi seperti bungkil kelapa dan bungkil kedelai, limbah pemotongan hewan seperti tepung darah dan tepung bulu, dan limbah proses fermentasi seperti ampas bir.
  • Hijauan. Hijauan dapat berupa rumput-rumputan dan leguminosa segar atau kering serta silase yang dapat berupa jerami yang berasal dari limbah pangan (jerami padi, jerami kedelai, pucuk tebu) atau yang berasal dari pohon-pohonan (daun gamal dan daun lamtoro).
2. Berdasarkan Kandungan Gizi Bahan Baku
Klasifikasi berdasarkan kandungan gizinya bahan makanan ternak dapat dibagi atas :
  • Sumber energi (misalnya dedak ubi kayu),
  • Sumber protein yang berasal dari tanaman (misalnya bungkil kedelai dan bungkil kelapa) dan sumber protein hewani (tepung darah, tepung bulu dan tepung ikan). 
  • Sumber mineral (misalnya tepung tulang, kapur dan garam), serta sumber vitamin (misalnya ragi dan minyak ikan).
  • Feed Aditif. Beberapa bahan seperti antibiotika, preparat hormon, preparat enzim, dan buffer dapat digunakan untuk meningkatkan daya guna ransum. Bahan-bahan tersebut digolongkan dalam pakan imbuhan (feed aditif).
3. Berdasarkan Penggunaan Bahan Baku
Pengelompokan yang lain adalah berdasarkan penggunaannnya. Pakan berdasarkan penggunaannya dibagi atas :
  • Bahan makanan konvensional (seperti bungkil kedelai dan dedak)
  • Nonkonvensional (seperti ampas nenas dan isi rumen).

Komposisi kimia bahan makanan ternak sangat beragam karena tergantung pada varieteas, kondisi tanah, pupuk, iklim, cara pengolahan, lama penyimpanan dan lain-lain. Berdasarkan penelitian, beberapa padi yang berasal dari beberapa pola tanam yang berbeda digiling disuatu penggilingan yang sama maka keragaman dedak padi dari beberapa pola tanam berbeda tersebut tidak banyak berbeda komposisinya. Sedangkan bila padi dari beberapa pola tanam yang sama digiling dibeberapa penggilingan, maka komposisi dedak padi tersebut akan beragam. Dari hal ini cara pengolahan lebih menyebabkan keragaman komposisi dedak padi dibandingkan dengan pola tanam.

Umumnya bahan makanan ternak yang berasal dari limbah pertanian/industri tidak dapat digunakan sebagai bahan satu-satunya (pakan tunggal) dalam ransum baik untuk hewan ruminansia maupun non ruminansia, oleh karena kandungan zat-zat makanannya tidak dapat memenuhi standar kebutuhan ternak. Disamping itu, bahan-bahan makanan tersebut sering mempunyai kendala-kendala baik berupa racun maupun antinutrisi sehingga penggunaannya pada ternak perlu dibatasi.

Sumber : Pengetahuan Bahan Makanan Ternak. Tim Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan IPB

Semoga Bermanfaat...

Wednesday, July 4, 2018

Budidaya Azolla Mycrophyla

Azolla adalah nama tumbuhan paku-pakuan akuatik yang mengapung di permukaan air. Bentuk Azolla adalah sudut segitiga polygonal dan mengambang di permukaan air secara individu atau bergerombol. Diameter tanaman berkisar antara 0,3 – 1 inchi (1-2,5 cm) bagi spesies kecil seperti Azolla pinnata, sampai 6 inchi (15 cm) atau lebih bagi Azolla nilotica, Azolla filiculoides yang di kembangkan di Hawai awal abad ke-20. Lingkungan ideal bagi Azolla adalah kolam-kolam berisi air segar atau daerah berair/lembab berlumpur.


Selengkapnya dapat dilihat pada tayangan berikut :


Semoga Bermanfaat...

Monday, July 2, 2018

Cara Membuat Probiotik Dengan Bahan Baku Murah

Probiotik merupakan kumpulan bakteri baik yang dapat membantu metabolisme ikan menjadi lebih baik serta dapat membantu menjaga kualitas air sebagai media hidup ikan. Saat ini dipasaran beredar berbagai probiotik dengan berbagai merk. Harga probiotik dipasaran bervariasi dari mulai dari harga puluhan ribu hingga ratusan ribu. 
Yakult, probiotik yang biasa dikonsumsi manusia [sumber]
Dimasyarakat pembudiaya ikan sendiri berkembang teknik - teknik membuat probiotik menggunakan bahan - bahan yang ada disekitar kita sehingga lebih murah.

Berikut salahsatu teknik membuat probiotik menggunakan bahan - bahan yang ada disekitar kita.

BAHAN
1. Yakult 2 botol
2. Nanas matang 1 buah (jika berukuran besar) atau 2 buah (jika berukuran kecil)
3. Air 15 liter
4. Gula merah 500 gr

ALAT
1. Panci besar
2. Blender
3. Kompor
4. Pengaduk dari kayu
5. Saringan
6. Jerigen kapasitas 25 liter

CARA PEMBUATAN
1. Blender nanas hingga hancur.
2. Saring menggunakan saringan sampai betul - betul terambil sarinya.
3. Campurkan sari buah nanas dengan air dan gula merah pada panci, kemudian aduk.
4. Panaskan campuran tadi sampai mendidih.
5. Angkat kemudian dinginkan campuran bahan sampai betul - betul dingin.
6. Campuran yakult 2 botol dengan larutan nanas aduk rata.
7. Masukkan kedalam jerigen, tutup rapat serta difermentasikan selama 4 - 5 hari.

CARA PENGGUNAAN
Larutan yang sudah jadi dapat digunakan pada pakan ikan (pelet) dengan dosis 50 ml/kg pakan, didiamkan selama 15 menit atau sampai probiotik meresap pada pakan kemudian dapat diberikan ke ikan.


Sumber : Pengalaman pribadi

Semoga bermanfaat...

Wednesday, March 9, 2016

Azolla Microphylla Pakan Ikan Yang Murah dan Mudah

Bentuk Azolla adalah sudut segitiga polygonal dan mengambang di permukaan air secara individu atau bergerombol. Diameter tanaman berkisar antara 0,3 – 1 inchi (1-2,5 cm) bagi spesies kecil seperti Azolla pinnata, sampai 6 inchi (15 cm) atau lebih bagi Azolla nilotica, Azolla filiculoides yang di kembangkan di Hawai awal abad ke-20. Lingkungan ideal bagi Azolla adalah kolam-kolam berisi air segar atau daerah berair/lembab berlumpur.
Azolla microphylla

KANDUNGAN UNSUR HARA AZOLLA



















Sebagai pakan ikan, Azolla menyimpan kandungan nutrisi yang komplit. Selain kaya protein, Azolla juga mengandung Vitamin A, B12, Asam Amino Esensial, Beta Carotene. Lemak, Karbohidrat dan mineral. Kandungan protein Azolla mencapai 25-35%, Mineral 10-15%, Lemak 7-7.5% dan Karbohidrat 6-6.5%.

Jika diberikan sebagai pakan ikan, Azolla dapat diberikan langsung dalam keadaan segar. Alternatif lain, Azolla bisa diolah terlebih dahulu menjadi tepung Azolla. Tepung Azolla ini kemudian dijadikan campuran untuk membuat pellet ikan

Bagi pembudidaya ikan tentunya penggunaan Azolla sebagai pakan ikan akan menekan biaya produksi. Namun sayang, belum banyak pembudidaya yang mengembangkan Azolla sebagai pakan ikan.

CARA MEMPERBANYAK AZOLLA
Buatlah stok Azolla dengan bak plastik atau di kolam yang tidak ada ikannya. Semprot stok setiap 1 bulan sekali dengan pupuk P (satu sendok makan SP-36 per liter air). Sebaiknya Sp-36 digerus halus agar mudah larut dalam air.

Pembiakan Azolla di kolam bisa dilakukan dengan mempersiapkan lahan tanam persis seperti pengolahan tanah untuk bertanam padi. Bedanya ketebalan tanah kolam dari dasar setidaknya antara 5-10 cm, lalu diberi pupuk dasar N,P dan K, di genangi dengan air dan jangan dibiarkan kering. Bila bibit azolla didapat dari lapang jangan di tanam di kolam besar yang terkena sinar matahari langsung. Sebaiknya diadaptasikan dulu di kolam kecil untuk beradaptasikan dengan lingkungan yang baru. Lalu kemudian ditransplantasikan ke kolam induk.

Sumber : Materi Pelatihan Pakan Alternatif

Semoga Bermanfaat...

Monday, March 7, 2016

Mengenal Azolla Pakan Alami Mudah dan Murah

Azolla merupakan satu-satunya genus dari paku air mengapung suku Azollaceae. Terdapat tujuh spesies yang termasuk dalam genus ini. Suku Azollaceae sekarang dianjurkan untuk digabungkan ke dalam suku Salviniaceae.

Azolla dikenal mampu bersimbiosis dengan bakteri biru-hijau Anabaena azollae dan mengikat nitrogen langsung dari udara. Potensi ini membuat Azolla digunakan sebagai pupuk hijau baik di lahan sawah maupun lahan kering. Pada kondisi optimal Azolla akan tumbuh baik dengan laju pertumbuhan 35% tiap hari Nilai nutrisi Azolla mengandung kadar protein tinggi antara 24-30%. Kandungan asam amino essensialnya, terutama lisin 0,42% lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrat jagung, dedak, dan beras pecah (Arifin, 1996) dalam Akrimin 2002.

Tanaman Azolla Sp. memang sudah tidak diragukan lagi konstribusinya dalam memengaruhi peningkatan tanaman padi. Hal ini telah dibuktikan dibeberpa tempat dan beberapa negara. Konstribusi terbesar azolla adalah dengan menjaga hasil panen tetap tinggi. Meskipun penggunaannya sebagai pupuk hijau pada tanaman padi masih dilakukan di China dan Vietnam, dengan adanya peningkatan biaya tenaga kerja, membuatnya kurang diminati.

Meskipun demikian, seiring dengan perkembangan pupuk hijau, penggunaan azolla ini kini lebih banyak dimanfaatkan untuk budidaya perikanan.

SPECIES AZOLLA
  1. Azolla japonica Franch. & Sav. dari Jepang

  2. Azolla filiculoides Lam.

  3. Azolla pinnata R. Br. dari Asia Tenggara, juga dari Afrika

  4. Azolla nilotica Dcne. ex Mett.
  5. Azolla caroliniana Willd., dari Amerika Utara

  6. Azolla mexicana Presl., dari Meksiko

  7. Azolla microphylla Kaulf.


Sumber : Materi Pelatihan Pakan Alternatif

Semoga Bermanfaat...

Tuesday, August 4, 2015

Teknik Budidaya Cacing Sutera

Budidaya cacing sutera dapat dilakukan pada kolam tanah, kolam plastik maupun di rak nampan plastik bertingkat. Semua wadah mempunyai keunggulannya masing - masing. Namun yang paling mudah dan menghemat ruang adalah budidaya cacing sutera pada rak nampan plastik bertingkat.
Cacing Sutera
Budidaya cacing sutra dengan Tray/Nampan terhitung baru dilakukan. Sistem ini sebetulnya bukan hal baru pada sistem pembesaran pada budidaya udang. Sistem ini pada dasarnya mengolah dan menggunakan kembali air yang sudah dipakai pada proses budidaya udang. Pengisian air  baru dari luar sistem hanya dilakukan untuk mengganti air yang susut/berkurang akibat kebocoran ataupun evaporasi. Pada sistem budidaya cacing sutra dengan menggunakan nampan/tray ini mempunyai beberapa keuntungan, yaitu : 
  1. Lebih hemat dalam penggunaan air. Air yang sudah melewati susunan media pada    nampan/tray ditampung dengan wadah yang ada dibagian bawah rak untuk kemudian dialirkan kembali ke media yang paling atas dengan menggunakan pompa air/dab.
  2. Menghemat Penggunaan Probiotik dan Obat-obatan lainnya. Probiotik dan obat-obatan yang dicampur pada media tumbuh/substrat budidaya cacing sutra yang ikut terbawa arus air tidak terbuang dengan percuma ke perairan luar. Probiotik yang ikut tertampung pada wadah bagian bawah wadah rak bersama air bisa digunakan kembali dengan cara dialirkan ke media yang paling atas dengan bantuan pompa air/dab.
  3. Budidaya cacing sutra dengan sistem ini tidak membutuhkan lahan yang luas, karena medianya disusun ke atas secar vertikal yang cenderung bisa juga dilahan yang sempit seperti disela-sela sekatan rumah ataupun tempat lainnya. Agar kapasitas produksinya bisa maksimal ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam budidaya tubifex sp  dengan sistem tray/nampan ini, yaitu : 

  • Nampan diusahakan agar yang awet dan tahan pecah, sehingga bibit yang sudah ada dimedia tidak mesti mengulang dari awal budidaya yang biasanya membutuhkan waktu 50 – 57 hari mulai dari awal sampai dengan panen.
  • Kayu balok dan reng bambu yang dipakai juga diusahakan agar kwalitasnya juga bagus untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan seperti patah/roboh akibat kayu/reng bambunya patah atau gampang rapuh. 
  • Jumlah nampan/tray diatur sebanyak mungkin dengan tetap memperhatikan kekuatan rangka yang ada 
  • Semakin banyak rak/susunan kerangka akan semakin banyak produksi cacing sutra

Rak nampan plastik bertingkat
Perkembangbiakan Cacing Sutera
Khairuman dan Amri (2002), menyatakan cacing sutra ( Tubifek sp ) adalah termasuk organism hermaprodit. Pada satu individu organism ini terdapat dua alat kelamin dan berkembangbiak dengan cara bertelur dari betina yang telah matengtelur. Sedangkan menurut Chumaidi dan Suprapto ( 1986 ), telur cacing sutra terjadi didalam kokon yaitu suatu bangunan berbentuk bangunan bulat telur, panjang 1mm dan diameter 0,7 mm yang dihasilkan oleh kelenjar epidermis dari salah satu segmen tubuh yang disebut kitelum. Tubuhnya sepanjang 1,5-2,5cm, terdiri dari 30-60 segmen atau ruas. Telur yang ada didalam tubuh mengalami pembelahan, selanjutnya berkembang membentuk segmen-segmen.Setelah beberapa hari embrio cacing sutra akan keluar dari kokon.

Induk yang dapat menghasilkan kokon dan mengeluarkan telur yang menetas menjadi cacing sutra mempunyai usia sekitar 40-45 hari. Jumlah telur dalam setiap kokon berkisar antara 4-5 butir.Waktu yang dibutuhkan untuk proses perkembangbiakan telur didalam kokon sampai menetas menjadi embrio tubifex membutuhkan waktu sekitar 10-15 hari. Daur hidup cacing sutra dari telur, menetas hingga menjadi dewasa serta mengeluarkan kokon dibutuhkan waktu sekitar 50-57 hari

Syarat Hidup Cacing Sutera
Cacing sutra memiliki bentuk dan ukuran yang kecil serta ramping dengan panjangnya 1,5-2,5 cm, sepintas tampak seperti koloni merah yang melambai-lambai karena warna tubuhnya kemerah-merahan, sehingga sering juga disebut dengan cacing rambut. Cacing ini merupakan salah satu jenis benthos yang hidup di dasar perairan tawar daerah tropis dan subtropis, tubuhnya beruas-ruas dan mempunyai saluran pencernaan, termasuk kelompok Nematoda. Cacing sutera hidup diperairan tawar yang jernih dan sedikit mengalir. Dasar perairan yang disukai adalah berlumpur dan mengandung bahan organik. Makanan utamanya adalah bagian-bagianorganik yang telah terurai dan mengendap di dasar perairan tersebut.

Cacing sutera merupakan organisme hermaprodit yang memiliki dua alat kelamin jantan dan betina sekaligus dalam satu tubuh. Berkembangbiak dengan bertelur, proses peneluran terjadi di dalam kokon yaitu suatu segmen yang berbentuk bulat telur yang terdiri dari kelenjaar epidermis dari salah satu segmen tubuhnya. Telur tersebut mengalami pembelahan, kemudian berkembang membentuk segmen-segmen. Setelah beberapa hari embrio dari cacing ini akan keluar dari kokon. Cacing ini mulai berkembangbiak setelah 7-11 hari .

Cacing sutera yang dikenal sebagai cacing rambut ini dapat hidup pada subtract lumpur dengan kedalaman antara 0 – 4 cm. pada prinsipnya Sama dengan hewan air lainnya, namun dalam kehidupannya cacing sutera ini senang dengan air, dan air memiliki peran  fungsi yang sangat penting untuk hidup tumbuh berkembang dengan baik diperlukan kwalitas air yang sesuai yaitu:
  • Pada pH : 5,5 – 8.0
  • Suhu yang baik antara 25 – 28 derajat celcius
  • DO ( oksigen terlarut ) : 2,5 – 28 ppm
  • Untuk kebutuhan debit air secukupnya dan tidak terlalu besar mengingat cacing ini sangat kecil
Cacing sutra tergolong hewan hermaprodit yang berkembangbiak melalui telur dengan pembuahan secara eksternal. telur yang dibuahi oleh jantan akan membelah jadi dua sebelum saat menetas.

Makanan Cacing Sutera
Semua bahan organik yang dilemebekkan alangkah bagusnya jika difermentasi, jika difermentasi akan meningkatkan kandungan nutrisi yang sangat dibutuhkan oleh cacing sutra. Di alam fermentasi itu terjadi secara alami, sehingga menumbuhkan tumbuhan ganggang yang bervilamen dan pakan alami seperti fittoplankton, yooplankton dan Hewan kecil lainnya . Itulah sebagian makanan cacing sutra dialam. Untuk pakan budidaya cacing sutra yang paling efisien menggunakan ampas tahu yang di fermentasi, karena ampas tahu sudah steril dan lembek. Ampas tahu bisa ditambahkan lagi dengan buah-buahan, tepung ikan, dan bahan yang mudah didapat.

Pembuatan Media Hidup Cacing Sutera
  1. Ambil Lumpur Kolam yg mengandung pasir yang Sudah Disaring
  2. Siapkan Kotoran Ayam  dan ampas tahu yg sudah difermentasi, bahan makanan tsb dicampur dengan perbandingan kohe 1 ampas tahu 10.
  3. Pencampuran makanan tadi dicampur lagi dg Lumpur media. Dg perbandingan makanan 1 lumpur halus 7. kemudian diamkan selama minimal 1 hari.
  4. Teknik budidaya cacing sutera secara umum dapat dilakukan pada media lumpur yang dicampur dengan kotaran ayam dan bekatul, yg sudah difermentasi.
Panen
Untuk mencapai masa panen, budidaya cacing sutra sebenarnya tidak membutuhkan waktu yang lama. Jika cara beternak yang diterapkan sudah benar, maka cacing sutra sudah dapat dipanen setelah 8 sampai 10 hari sejak penebaran bibit. Setelah itu, hasil panen sudah dapat dijual di tempat-tempat penjualan pakan ikan atau di toko ikan.

Panen cacing sutera perdana sekitar 2 bulanan kemudian dapat dilakukan 7 – 10 hari sekali. Jika dibiarkan terlalu lama, maka jumlah cacing sutera akan berkurang kembali, karena secara alami terjadi persaingan antar-cacing itu sendiri.

Konsep panen cacing sutera ialah mengurangi koloni, yaitu jika bagian atas dipanen maka bagian bawah cacing akan tumbuh. Dalam satu wadah/nampan bisa menghasilkan 100-150 ml cacing sutera.Panen cacing sutera dilakukan setelah budidaya berlangsung beberapa minggu dan berturut-turut bisa dipanen setiap dua minggu sekali. Pemanenan cacing sutra dilakukan dg mengambil ca-sut yg ada dipermukaan bersama lumpurnya.Setelah terkumpul, hasil panen casut dicuci dg jaring khusus sampai lumpur halus keluar. Kemudian tiriskan sebentar.
Letakkan cacing sutrayg masih bercampur lumpur kasar kedlm wadah dg ketebalan 3-4 cm.


Semoga Bermanfaat...

Wednesday, August 6, 2014

Membuat Pakan Ikan Buatan : Teknik Pembuatan Pakan Ikan

Dalam pembuatan pakan ikan, bahan yang digunakan dibagi menjadi 2 bagian menurut kandungan protein yang dikandungnya yakni bahan suplemen dan bahan basal.

Bahan suplemen yaitu yaitu bahan untuk pembuatan pakan yang memiliki kandungan protein lebih dari 20%. Sedangkan bahan basal yaitu yaitu bahan baku untuk membuat pakan dengan kandungan protein kurang dari 20%.

Contoh bahan baku suplemen

Contoh bahan baku basal

Bahan tambahan
  • Vitamin
  • Mineral
  • Minyak Ikan

TEKNIK PEMBUATAN PAKAN IKAN
Secara umum pembuatan pakan ikan dibagi menjadi 8 tahap yakni :
  1. Menyusun formulasi bahan yang akan digunakan
  2. Penggilingan bahan baku
  3. Pengayakan bahan baku
  4. Penimbangan bahan baku
  5. Pemcampuran bahan baku
  6. Pencetakan
  7. Penjemuran
  8. Pengepakan
Hal pertama yang dilakukan dalam pembuatan pakan ikan yaitu menyusun bahan baku yang akan digunakan. dalam penyusunan ini diperlukan perhitungan yang tepat agar mendapatkan pakan/pelet dengan kandungan protein sesuai yang kita inginkan. Metode penghitungan bahan yang umum digunakan adalah dengan menggunakan metode person square atau lebih dikenal metode kotak. Metode ini digunakan untuk menentukan jumlah bahan baku yang akan digunakan. Hasil yang diperoleh diharapkan mendekati kandungan protein yang dikehendaki.

1. Menyusun Formulasi Bahan
Contoh penggunaan metode kotak dari dua jenis bahan baku :
Tersedian bahan baku dedak halus dengan kandungan protein 9,6% dan tepung ikan dengan kandungan protein 60%. Dari kedua jenis bahan baku tersebut ingin dibuat pelet sebanyak 20 kg dengan kandungan protein 30%.

Perhitungan prosentase bahan

  

Jadi kebutuhan baku untuk masing - masing bahan adalah sebagai berikut :
1. Dedak halus = 59,5% x 20 kg = 11,9 kg
2. Tepung ikan = 40,5% x 20 kg = 8,1 kg

Contoh penggunaan metode kotak dari lebih dari 2 jenis bahan baku :
Tersedian bahan berupa dedak halus protein 9,6%, bungkil kelapa protein 13,45%, tepung ikan protein 60%, dan tepung kedelai protein 44%.Dari bahan tersebut akan dibuat pakan buatan/pelet sebanyak 30 kg dengan kandungan protein 30%.

Perhitungan prosentase bahan :


Prosentase masing - masing bahan :


Jadi kebutuhan masing masing bahan adalah sebagai berikut :

2. Penggilingan Bahan Baku
Bahan pakan yang sudah kering digiling sampai menjadi partikel yang ukurannya halus dan seragam. Hal ini bertujuan supaya pakan ikan yang dihasilkan padat, kompak dan tidak mudah hancur.
Penggilingan bahan baku

3. Pengayakan Bahan Baku
Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan bahan baku yang halus, agar pada saat penggilingan pelet menjadi kompak dan tidak mudah pecah.
Pengayakan bahan baku
4. Penimbangan Bahan Baku
Apabila sudah dilakukan penghitungan maka akan didapat berat masing – masing dari setiap bahan yang akan digunakan. Langkah selanjutnya yakni melakukan penimbangan bahan sesuai dengan hasil perhitungan sebelumnya. Timbangan yang digunakan ada dua yaitu timbangan digital dan timbangan biasa.
Penimbangan bahan baku
5. Pencampuran Bahan Baku
Pencampuran bahan baku menggunakan mixer besar agar hasilnya merata. Dalam pencampuran jangan lupa menambahkan perekat bisa berupa tepung tapioka yang sudah dimasak dengan air sehingga menjadi bentuk seperti lem. Untuk 1 kg bahan membutuhkan 50 gram tepung tapioka. Selain perekat tambahkan juga bahan pelengkap seperti vitamin dan mineral sebanyak 2 gram untuk 1 kg bahan.
Pencampuran bahan
6. Pencetakan Bahan Baku
Bahan yang sudah tercampur merata dimasukkan kedalam mesin pencetak dan dicetak sampai habis. Pellet yang sudah dicetak ditampung pada tempat penjemur/tampah.
Pencetakan bahan baku
7. Penjemuran/Pengeringan
Sebelum dijemur dibawah matahari, pellet yang selesai dicetak dimatangkan terlebih dahulu. Pematangan dilakukan dengan cara memasukkan pellet kedalam mesin pengering dan dimasak selama ±30 detik. Hal ini bertujuan mematangkan pellet sehingga pellet menjadi tidak mudah hancur. Pellet yang sudah dimasak selanjutnya dijemur dibawah sinar matahari selama 2 – 3 hari.
Penjemuran
8. Pengepakan
Pelet yang sudah kering tidak langsung dipak, karena pellet masih panas dikhawatirkan apabila langsung dipak akan menimbulkan uap air didalam karung sehingga pellet menjadi basah dan dengan mudah akan menimbulkan jamur. Setelah dijemur pellet didiamkan terlebih dahulu sampai dingin ±30 – 60 menit kemudian dipak menggunakan karung yang didalamnya sudah diberi lapisan plastic. Tiap kantong diisi 30 kg, selanjutnya ditutup dengan cara menjahit karung  serapat mungkin.
Pengepakan pakan
9. Penyimpanan
Pelet yang sudah dipak harus disimpan dengan baik. Pellet yang sudah dikarungi kemudian disimpan kedalam ruangan yang tidak terkena sinar matahari langsung. Lantai ruangan diberi kayu/falet agar tidak bersentuhan langsung dengan lantai.
Peyimpanan pakan digudang

Demikian proses pembuatan pakan buatan untuk ikan.

Semoga bermanfaat...

Tuesday, August 5, 2014

Membuat Pakan Ikan Buatan : Mengetahui Keunggulan dan Kebutuhan Nutrisi Ikan

Kandungan nutrisi dan pemberian pakan memegang peranan penting untuk kelangsungan usaha budidaya hewan akuatik.Penggunaan pakan yang efisien dalam suatu usaha budidaya sangat penting oleh karena pakan merupakan factor produksi yang paling mahal. Oleh karena itu, upaya perbaikan komposisi nutrisi dan perbaikan efisiensi penggunaan pakan perlu dilakukan guna meningkatkan produksi hasil budidaya dan menguangi biaya pengadaan pakan, serta meminimalkan produksi limbah pada media budidaya. Untuk mencapai sasaran tersebut diperlukan pemahaman tentang nutrisi dan kebutuhan nutrient dari kultivan, teknologi pembuatan pakan, serta kemampuan dalam pengelolaan pakan untuk setiap tipe budidaya dari kultivan tertentu.
Pakan ikan bentuk Pellet
Pakan ikan yang banyak digunakan dalam kegiatan budidaya salah satunya pelet. Pengadaan pelet saat ini masih mengandalkan pasokan dari pabrik pakan. Hal ini karena masih belum banyak yang mengetahui mengenai teknik pembuatan pakan ikan (Pelet).

Pakan buatan (Pellet adalah Pakan yang diramu dari beberapa jenis bahan yang diolah dan dicetak menjadi bentuk batangan kecil-kecil.

Keuntungan Menggunakan Pakan Buatan :
  1. Dapat meningkatkan produksi melalui padat penebaran tinggi dan waktu pemeliharaan yang pendek
  2. Dapat meningkatkan limbah industri pertanian
  3. Tidak perlu mendirikan jamban diatas kolam 
  4. Rasa daging ikan dapat diatur sesuai dgn selera
Keunggulan pakan ikan buatan (Pellet) dibanding ikan rucah :

Pakan buatan (Pellet) yang baik harus memenuhi kriteria berikut :
  1. Tidak berjamur
  2. Memiliki stabilitas yang baik ketika berada  dalam air sehingga tidak mudah hancur dalam air
  3. Kandungan gizi sesuai (tertera pada label)
  4. Tidak mengandung racun sehingga tidak berbahaya baik pada ikan ataupun lingkungan
  5. Bisa disimpan dalam waktu yang cukup lama
  6. Baunya merangsang (khas bau pelet)
  7. Mudah untuk memperolehnya hal ini berkaitan dengan bahan-bahan pembentuk pakan tersebut
  8. Pakan tidak banyak debu halus/debu pakan.
Dalam pembuatan pakan buatan untuk ikan perlu memperhatikan kebutuhan nutrisi bagi ikan yang kita pelihara. Nilai nutrisi (gizi) pakan pada umumnya dilihat dari komposisi zat gizinya. Beberapa komponen nutrisi yang penting dan harus tersedia dalam pakan ikan antara lain: Protein, Lemak, Karbohidrat, Vitamin dan Mineral.

Protein
Sebagai zat pembangun protein berfungsi  membangun/membentuk jaringan baru untuk pertumbuhan,pengganti jaringan yang rusak dan bereproduksi. Sebagai zat pengatur protein berperan dalam pembentukan enzim dan hormone penjaga dan pengatur metabolism dalam tubuh ikan. Sebagai zat pembakar yaitu sebagai sumber energy pada saat kebutuhan energy tidak terpenuhi oleh karbohidrat dan lemak.

Lemak
Fungsi lemak pada tubuh ikan yaitu: a). Sebagai sumber energy yang paling besar diantara protein dan karbohidrat, b). Membantu proses metabolisme , c). Menjaga keseimbangan daya apung ikan dalam air dan d). Memelihara bentuk dan fungsi membrane (fospolipid). Kelebihan lemak akan disimpan sebagai cadangan energy untuk melakukan aktifitas selama periode tanpa makanan. Pakan yang baik mempunyai kandungan lemak antara 4%-18%.

Karbohidrat
Karbohidrat pada  ikan berfungsi sebagai sumber energy. Sumber karbohidrat untuk pakan buatan bisa didapat dari : tepung jagung,bekatul,tepung terigu,beras,tepung tapioca,tepung sagu dll. Selain sebagai karbohidrat bahan-bahan diatas berfungsi sebagai perekat pada pembuatan pakan ikan.

Vitamin
Vitamin adalah zat  yang diperlukan tubuh ikan dalam jumlah sedikit. Fungsinya vitamin sangat penting yaitu: a). Untuk mempertahankan pertumbuhan dan pemeliharaan kondisi tubuh ikan, b). Mengatur proses metabolisme, c). Mempertahankan fungsi berbagai jaringan tubuh, d). Mempengaruhi pertumbuhan dan pembentukan sel-sel baru

Mineral
Fungsi utama mineral adalah : a). Sebagai komponen utama struktur gigi dan tulang, b). Menjaga keseimbangan asam dan basa, c). Menjaga keseimbangan tekanan osmosis dengan lingkungan perairan d). Sebagai komponen utama dari enzim,vitamin,hormon,pigmen dan sebagai enzim aktivator.

Thursday, March 20, 2014

BPPP TEGAL ADAKAN GELAR PELATIHAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

Dalam rangka meningkatkan kompetensi pelaku utama dan pelaku usaha kelautan dan perikanan, serta mendukung program – program Kementerian Kelautan dan Perikanan (Industrialisasi, Blue Economy, PUGAR, Kesetaraan Gender dan PKN) Balai Pendidikan dan Pelatihan Perikanan (BPPP)  Tegal menyelenggarakan kegiatan Gelar Pelatihan Kelautan dan Perikanan yang diikuti oleh 190 orang peserta.

Kegiatan yang diselenggarakan selama 4 hari bertempat di Kampus Balai Pendidikan dan Pelatihan Perikanan Tegal ini bertujuan untuk meningkatkan komptensi pelaku utama dan pelaku usaha kelautan dan perikanan serta menubuhkan wirausahawan baru di bidang kelautan dan perikanan.

Adapun jenis kompetensi yang dilatihkan meliputi pengolahan hasil perikanan, pembenihan ikan lele, pembesaran ikan lele di kolam tanah, pembesaran ikan lele sistem bioflok, pembenihan ikan gurame, pembesaran ikan gurame, budidaya kepiting soka, pembuatan kerajinan kulit kerang, penyemaian mangrove, pembuatan garam skala rumah tangga, pembuatan pakan ikan dan perbaikan mesinperikanan.

Pada kesempatan kali ini perekrutan calon peserta pelatihan sedikit berbeda, biasanya pihak BPPP Tegal mengirimkan surat kepada Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota atau BP4K untuk menyediakan calon peserta, tetapi kali ini BPPP Tegal menggunakan media cetak, website BPPP Tegal, media sosial untuk mengumumkan kegiatan tersebut dan hasilnya diluar dugaan ternyata peminatnya luar biasa. Dari kuota yang ditetapkan sebanyak 190 orang tercatat pendaftar sebanyak 600 orang, sehingga dilakukan seleksi berdasarkan bidang pekerjaan yang ditekuni saat ini serta motivasi calon peserta untuk mengikuti kegiatan pelatihan ini.

Untuk mengetahui efektifitas metode perekrutan peserta serta penyelenggaraan pelatihan, pihak BPPP Tegal akan melakukan monitoring dan evaluasi 6 bulan setelah peserta mengikuti pelatihan. Diharapkan dengan mengikuti pelatihan ini maka peserta dapat meningkatkan kompetensi dibidang usahanya atau dapat menjadi wirausahawan baru dibidang kelautan dan perikanan, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraannya serta membuka lapangan pekerjaan baru dibidang kelautan dan perikanan.

Direncanakanpada akhir pelaksanaan pelatihan yakni pada hari Minggu tanggal 23 Maret 2014 akan dilakukan gelar produk hasil pelatihan yang dapat dihadiri oleh masyarakat umum dengan tujuan dapat lebih menarik minat masyarakat untuk melakukan usaha dibidang kelautan dan Perikanan.

Semoga Bermanfaat...

Wednesday, January 8, 2014

Teknik Kultur Daphnia

Daphnia sp adalah jenis pakan alami yang sering digunakan untuk pemenuhan pakan ikan air tawar pada usia larva dan industri ikan hias (Delbare dan Dheart, 1996). Hewan ini termasuk pada subordo Cladocera, yaitu jenis krustacea yang berukuran kecil. Sebutan lain Daphnia sp oleh praktisi ikan hias adalah kutu air.
Daphnia sp

Jenis zooplankton ini biasa hidup di perairan tawar, ditemukan mulai dari perairan tropis hingga artik. Di perairan alam ditemukan ada 50 spesies, namun hanya enam spesies yang ditemukan di daerah tropis. Jenis ini dapat hidup mulai dari perkolaman ukuran kecil hingga danau air tawar yang berukuran luas. Reproduksi dilakukan secara parthenogenesis dan seksual. Pada usia lima hari, induk Daphnia sp akan mulai beranak, dengan jumlah 10 – 28 individu per induk.

ALAT DAN BAHAN
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam budidaya daphnia adalah sebagai berikut :
Alat
Bahan
Akuarium
Aerator
Selang Aerasi
Batu Aerasi
Kain Strimin
Mikrokop
Cawan petri
Alat penghitung
Pipet
Air bersih
Kotoran ayam


LANGKAH KERJA KULTUR DAPHNIA
Langkah kerja yang dilakukan dalam kultur daphnia adalah sebagai berikut :
  1. Masukkan air kedalam akuarium dengan volume 100 liter.
  2. Pada kelompok I media yang dilakukan untuk kultur daphnia adalah kotoran ayan dengan dosis 100 gr/100 liter.
  3. Timbang kotoran ayam, kemudia masukan kedalam kain trilin dan diikat agar tidak tercecer kemana – mana.
  4. Masukkan kotoran ayam yang telah dibungkus dengan kain trilin kedalam air yang ada diakuarium.
  5. Remas – remas kain trilin yang berisi kotoran ayam dengan tangan agar sari – sari kotoran ayam keluar.
  6. Setelah air media berwarna coklat, air media didiamkan selama 1 hari.
  7. Setelah didiamkan 1 hari kemudian masukkan bibit artemia kedalam air media. Bibit daphnia yang dimasukkan kedalam akuarium adalah 1000 ekor.

Panen dilakukan setelah berumur 7 hari dari penebaran bibit dengan daphnia yang dihasilkan berjumlah 5.824 ekor. Adapun cara penghitungan yang dilakukan dengan cara volumetric menggunakan  gelas minum plastic yang bervolume 240 ml caranya sebagai berikut :
Ambil air sampel yang berisi daphnia sebanyak 240 ml sebanyak 2 kali. Pada pengambilan pertama daphnia yang diperoleh sebanyak 13 ekor dan pada pengambilan kedua sebanyak 15 ekor sehingga rata – ratanya adalah 14 ekor. Volume air yang digunakan untuk mengkultur daphnia sebanyak 100 liter (100.000 ml), sehingga daphnia yang dipanen adalah 100.000 ml/240 ml = 416 gelas. 416 gelas x 14 ekor = 5824 ekor. Jadi daphnia yang dipanen totalnya mencapai 5824 ekor.

Semoga Bermanfaat...

Sumber : Hartati, Sri. 1986. Kultur Makanan Alami. Direktorat Jendral Perikanan dan Internasional Development Research Centre. Jakarta.

Monday, January 6, 2014

Makanan Alami Benih Ikan

Pakan alami merupakan pakan hidup bagi larva ikan yang mencakup fitoplankton, zooplankton, dan benthos.
Jenis – jenis makanan alami yang dimakan oleh ikan sangat bermacam – macam, tergantung pada jenis ikan dan tingkat umurnya. Burayak ikan yang baru saja belajar mencari makan, pertama – tama yang mereka makan adalah plankton. Bahkan ada juga beberapa ikan yang tetap setia sebagai pemakan plankton sepanjang hidupnya.

Pada umumnya burayak ikan itu mula – mula makan plankton nabati (fitoplankton). Kemudian semakin besar ikannya, makanannya pun mulai berubah pula. Mula – mula mereka beralih dari fitoplankton ke zoopalankton (plankton hewani), seperti antara lain protozoa (hewan bersel satu), mikrokrustasea (udang – udangan renik), invertebrate mikroskopik (hewan – hewan tak bertulang belakang yang kecil - kecil), dan telur berbagai jenis hewan lainnya termasuk telur ikan.

Beberapa jenis fitoplankton yang sudah banyak dibudidayakan antara lain adalah :
  • Diatomae, yaitu Chaetoceros calcitrans, Skeletonema costatum, Phaeodactylum trocornotum, Nitzschia closterium, Cyclotella mana dan Navicula sp.

  • Chlorophyceae, yaitu Chlorella sp.,Monas sp., Chlamydomonas sp., Platymonas sp (Tetraselmis)tetratele, Isochrysis sp., Monochrysis sp.,  dan Dunaliella terteolecta.

Sedangkan beberapa zooplankton yang sudah banyak dibudidayakan antara lain adalah :
  • Rotifer, terutama Brachionus sp.
  • Cladocera, terutama Moina sp., dan Daphnia sp.
  • Branchiopoda, terutama Artemia sp.
  • Berbagai macam plankton lainnya, seperti infusoria (Paramecium), jentik – jentik nyamuk, anak tiram, anak tritip (Ballanus sp), anak bintang laut (Arabica sp.) dan lain – lain.

KEUNGGULAN MAKANAN ALAMI
Pakan alami untuk larva/benih ikan mempunyai beberapa kelebihan karena ukurannya relative kecil dan sesuai dengan bukaan mulutnya, nilai nutrisinya tinggi, mudah dibudidayakan, gerakannya dapat merangsang ikan untuk memangsanya, dapat berkembangbiak dengan cepat sehingga ketersediaanya dapat terjamin, dan biaya pembudidayaannya relative murah.

Jika dalam awal hidupnya ikan dapat menemukan pakan yang mempunyai ukuran sesuai dengan bukaan mulutnya maka ikan tersebut diperkirakan dapat meneruskan hidupnya. Namun, jika dalam waktu singkat ikan tidak dapat menemukan pakan yang sesuai dengan bukaan mulutnya maka ikan itu akan menjadi lemah dan selanjutnya mati. Hal inilah yang menyebabkan kematian ikan pada tingkat larva cukup tinggi.

Selain kelebihan tersebut, pakan alami juga tidak mencemari media pemeliharaan sehingga diharapkan dapat menekan angka mortalitas benih akibat kondisi air yang kurang baik.
Berikut ini adalah kandungan gizi beberapa jenis pakan alami :

KELEMAHAN MAKANAN ALAMI
Bibit yang ditebar biasanya berasal dari alam sehingga sangat berisiko tinggi. Di kota – kota besar seperti Jakarta, sering ditemui pemburu kutu air di saluran – saluran air yang kemungkinan telah tercemar logam berat. Padahal setiap organism pakan alami sangat responsive dalam menyerap unsure hara/logam dari media hidupnya sehingga pakan alami yang diperoleh kemungkinan besar juga ikut tercemari.

Karena pakan alami merupakan pakan hidup maka dalam membudidayakannya harus mengetahuimorfologi, habitat, daur hidup, cara perkembangbiakannya, kebiasaan makan, serta jenis pakannya.

Semoga Bermanfaat...

Friday, November 1, 2013

Dekapsulasi Artemia

Dekapsulasi artemia adalah Pemisahan secara sempurna nauplius artemia dari cangkang selalu tidak memungkinkan dan cangkang mengandung banyak bakteri. Oleh karena itu jika dimakan oleh larva ikan akan menyebabkan pengaruh yang buruk. Selain itu, sekitar 30% energy embrio digunakan hanya untuk proses penetasan cangkang yang keras. Chorion kista artemia bisa dihilangkan tanpa mempengaruhi kelangsungan hidup embrio dengan penggunaan larutan hipoklorit terhadap kista yang terhidrasi.
Artemia sebagai pakan benih ikan

Teknik dekapsulasi akan mensuci hamakan kista dan kista hasil dekapsulasi akan digunakan langsung sebagai makanan larva.

ALAT :
1. Corong plastic
2. Refraktometer
3. Thermometer
4. Saringan 120 mikron
5. Aerator 

BAHAN :
1. Air Tawar
2. Air Larut
3. Kaporit
4. Soda kue
5. Kapur tohor
6. Larutan NaOH 40%
7. HCI 0,1%
8. Es batu
9. NaOCl (Natrium hipoklorit) atau Ca (OCl)2 (Kalsium hipoklorit)
10. Kista artemia

PROSEDUR APLIKASI :
Untuk lebih jelasnya, beberapa alternatif larutan pendekapsulasi pada jumlah kista 100 g adalah sebagai berikut :
Berbagai Macam Larutan Alternatif Yang Digunakan Pada Dekapsulasi Artemia


LANGKAH KERJA :
  1. Masukkan kista kering dalam wadah berbentuk kerucut dan hidrasi selama 1 – 2 jam dalam air tawar atau air laut (maksimal 35 ppt). Pengaerasian diberikan untuk menjamin hidrasi secara sempurna.
  2. Siapkan larutan dekapsulasi yaitu NaOCl, NaOH 40% dan air laut 35 ppt. untuk tiap gram kista dibutuhkan 0,5 gram bahan aktif, 14 ml larutan dekapsulasi dan 0,33 ml NaOH 40%.
  3. Pindahkan kista kedalam larutan dekapsulasi segera setelah semuanya terhidrasi.
  4. Aduk kista dalam larutan dekapsulasi dengan menggunakan aerasi kuat atau secara manual.
  5. Catat peningkatan temperature.
  6. Pertahankan temperature jangan sampai meningkat melebihi 400C (jika perlu tambahkan es batu).
  7. Secara periodic periksa kondisi telur dengan mengamati perubahan warna dibawah mikroskop (perubahan warna dari cokelat gelap menjadi abu – abu kemudian orange).
  8. Jangan mempertahankan kista dalam larutan dekapsulasi lebih dari 15 menit.
  9. Saring kista dari larutan dekapsulasi dengan saringan 120 mikron dan cuci kista sepenuhnya dengan air sampai tidak tercium lagi bau khlorin dan tidak ada lagi busa.
  10. Celupkan kista sebanyak dua kali dalam larutan HCl 0,1 N.
  11. Selanjutnya cuci kista dengan air bersih.
  12. Jika diperlukan, kista hasil dekapsulasi dapat diberikan kepada larva dengan menggunakan aerasi besar.
  13. Untuk penyimpanan kista dekapsulasi, dehidrasi kista dalam larutan garam minimal selama 3 jam.
  14. Ganti larutan garam yang lama dengan yang baru dan simpan dalam wadah polythene dan ditempatkan dalam refrigerator 0 – 4 derajat C.
Selamat mencoba dan semoga bermanfaat.....

<div class="fb-comments" data-href="http://lalaukan.blogspot.com" data-numposts="5"></div>