Kegiatan Penyuluhan

Kegiatan Penyuluhan Perikanan Bertujuan Meningkatkan Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan Pelaku Utama dan Pelaku Usaha Perikanan.

Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP)

P2MKP Memberdayakan Pelaku Utama Perikanan dan Masyarakat.

Pelatihan Kelautan dan Perikanan

Meningkatkan keterampilan para pelaku utama kelautan dan perikananm.

AUTO MATIC FEEDER

Solusi Memberi Makan Ikan Menjadi Mudah Dan Tepat.

Monday, March 31, 2014

Pengenalan Kredit

Kredit berasal dari bahasa Yunani “Credere” yang berarti “Kepercayaan” atau dalam bahasa Latin “Creditum” yang berarti kepercayaan akan kebenaran. Pengertian Kredit berdasarkan UU Pokok Perbankan No. 10 Tahun 1998. Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam - meminjam antara Bank dengan Pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.

Perkreditan merupakan proses kegiatan perbankan/lembaga keuangan dalam menyalurkan dana yang dihimpun dari masyarakat, yang disalurkan kembali kepada masyarakat khususnya pengusaha, dalam bentuk pinjaman yang lebih dikenal dengan kredit. Penyaluran dana dalam bentuk kredit tidak lain agar perbankan/lembaga keuangan dapat memperoleh keuntungan seoptimal mungkin. Keuntungan utama bisnis perbankan adalah selisih antara bungan dari sumber - sumber dana dengan bunga yang diterima dari alokasi dana tertentu.

PRODUK - PRODUK PERKREDITAN
Jenis- jenis  produk  perkreditan  berdasarkan  tujuan penggunaan antara lain adalah :  
  1. Kredit  modal  kerja :  kredit  yang  diberikan  untuk memenuhi  modal  kerja  yang  habis  dalam satu siklus usaha. Termasuk KMK adalah Trade Finance yaitu : produk  perbankan  untuk membiayai kegiatan perdagangan  nasabah yang berkaitan dengan transaksi ekspor impor.
  2. Kredit  investasi  :  kredit  jangka  menengah/panjang yang diberikan kepada calon debitur untuk membiayai barang - barang modal dalam rangka rehabilitasi, modernisasi, perluasan ataupun pendirian proyek baru, misalnya  untuk pembelian mesin - mesin, bangunan dan tanah untuk pabrik, yang pelunasannya dari hasil usaha dengan barang modal yang dibiayai.
  3. Kredit  Konsumsi : kredit  yang   diberikan  kepada perorangan untuk segala keperluan konsumtif seperti pembelian/perbaikan rumah, pembelian kavling siap bangun, pembelian kendaraan bermotor, biaya  sekolah, berlibur dan keperluan konsumtif lainnya.
  4. Kredit atas dasar Cash Collateral yaitu Kredit atas dasar jaminan deposito yang diterbitkan oleh Bank dengan kuasa  pencairan. Asli deposito dikuasai oleh Bank.

Skim pembiayaan UMKM oleh Perbankan
SIFAT - SIFAT KREDIT :
Menurut  BI  Denpasar  (2007),  Sifat- sifat  kredit  adalah sebagai berikut :  
  1. Revolving (berulang), Jenis kredit yang dapat ditarik sesuai dengan kebutuhan dana dari pihak debitur. Jangka waktu kredit dapat berulang/diperpanjang selama kegiatan usahanya berjalan baik.
  2. Einmalig (sekali tarik), Jenis kredit dengan satu kali penarikan untuk suatu jangka waktu tertentu dan harus di lunasi sekaligus pada saat kegiatan usaha yang dibiayai dengan kredit tersebut selesai. Umumnya untuk jenis kredit a/d kontrak  (kmk kontraktor).
  3. Plafond menurun, Jenis kredit yang secara sistematis plafondnya turun bertahap sesuai jadwal angsuran yang ditentukan, yaitu secara annuitas atau baki debet menurun. 

PRINSIP - PRINSIP KREDIT
Untuk dapat melaksanakan kegiatan perkreditan secara sehat, dikenal adanya prinsip - prinsip perkreditan yaitu :
  1. Character : Watak/sifat dari debitur,  baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam lingkungan usaha. Kegunaannya untuk mengetahui sampai sejauh mana tingkat kejujuran, integritas serta itikad debitur untuk memenuhi kewajiban sesuai perjanjian yang telah ditetapkan.
  2. Capacity : Kemampuan nasabah dalam menjalankan usahanya guna memperoleh laba yang diharapkan. Kegunaannya untuk mengukur sampai sejauh mana nasabah mampu melunasi hutang - hutangnya secara tepat waktu dari kegiatan usahanya.
  3. Capital : Dilihat dari kemampuan untuk menyediakan modalsendiri/self financing sampai jumlah tertentu.
  4. Collateral : Barang- barang yang diserahkan nasabah sebagai agunan terhadap kredit yang diterimanya. Bentuk Jaminan : a) Jaminan Kebendaan : Jaminan utama dan Jaminan Tambahan ; dan b) Jaminan dari Pihak Ketiga .
  5. Condition  of  social,  economy  and  environment : Situasi dan kondisi politik, sosial, ekonomi dan budaya yang mempengaruhi keadaan perekonomian pada suatu saat yang kemungkinannya mempengaruhi kelancaran usaha nasabah.
  6. Constraint :  Batasan - batasan  atau  hambatan - hambatan yang tidak memungkinkan seseorang melakukan bisnis di suatu tempat.
UNSUR - UNSUR PEMBERIAN KREDIT 
Pemberian  kredit  oleh  perbankan  mengandung beberapa unsur, yaitu :  
  1. Kepercayaan;  keyakinan  pemberi  kredit  bahwa  kredit yang diberikan akan benar - benar diterima kembali,
  2. Kesepakatan; suatu  perjanjian  dimana  masing - masing pihak menandatangani hak dan kewajibannya  masing -masing.
  3. Jangka  waktu; masa pengembalian kredit yang telah disepakati bersama.
  4. Resiko ; adanya suatu tenggang waktu pengembalian akan menyebabkan suatu resiko tidak tertagihnya/macet pemberian kredit.
  5. Balas  jasa ; keuntungan atas pemberian suatu kredit atau pembiayaan yang dikenal sebagai bunga untuk bank konvensional atau bagi hasil untuk bank syariah.
PROSEDUR PEMBERIAN KREDIT
Prosedur  pemberian  dan  penilaian  kredit  oleh perbankan pada umumnya tidak jauh berbeda. Perbedaannya terletak pada persyaratan yang ditetapkan dan pertimbangan masing-masing. Prosedur pemberian kredit adalah sebagai berikut :
  1. Pengajuan berkas - berkas, Pengajuan proposal kredit hendaklah berisi antara lain: (a) latar belakang perusahaan/kelompok  usaha;  (b) maksud dan tujuan; (c) besarnya kredit dan jangka waktu; (d) cara pengembalian kredit; dan (e) jaminan kredit.
  2. Pemeriksaan berkas - berkas, Untuk mengetahui apakah berkas pinjaman yang diajukan sudah lengkap sesuai persyaratan dan sudah benar. Jika belum lengkap atau cukup, maka nasabah diminta untuk segera melengkapinya dan apabila sampai batas waktu tertentu nasabah tidak sanggup melengkapi kekurangannya, maka permohonan kreditnya dapat dibatalkan.
  3. Wawancara I, Merupakan  penyelidikan kepada calon peminjam dengan langsung berhadapan dengan calon peminjam.
  4. On the Spot, Merupakan kegiatan pemeriksaan ke lapangan dengan meninjau berbagai obyek yang akan dijadikan usaha atau jaminan. Kemudian hasilnya dicocokkan dengan hasil wawancara I.
  5. Wawancara II, Merupakan bagian perbaikan berkas, jika mungkin ada kekurangan pada saat setelah dilakukan on the spot dilapangan.
  6. Penilaian dan analisis kebutuhan modal, Merupakan kegiatan yang dilakukan dalam rangka menilai kebutuhan kredit yang sebenarnya.
  7. Keputusan Kredit, Keputusan kredit dalam hal ini adalah menentukan apakah kredit akan diberikan atau ditolak, jika diterima, maka dipersiapkan administrasinya.
  8. Penandatanganan akad kredit/perjanjian lainnya, Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari diputuskannya kredit, maka sebelum kredit dicairkan terlebih dahulu calon nasabah menandatangani akad kredit.
  9. Realisasi Kredit, Diberikan setelah penandatanganan surat - surat yang diperlukan dengan membuka rekening giro atau tabungan di bank yang bersangkutan.
  10. Penyaluran/Penarikan, Adalah pencairan atau pengambilan uang dari rekening sebagai realisasi dari pemberian kredit dan dapat diambil sesuai ketentuan dan tujuan kredit.
  11. Penilaian Kredit, Sebelum suatu fasilitas kredit diberikan maka bank harus merasa yakin bahwa kredit  yang  diberikan  benar-benar akan kembali.
Sumber : Fahrur Razi, S.ST, Pengenalan Kredit, 2013

Semoga Bermanfaat...

Saturday, March 29, 2014

Pembenihan Ikan Hias Botia

Botia (Chromobotia macracanthus Bleeker) dengan nama dagang Clown loach adalah ikan asli perairan Indonesia, khususnya sungai - sungai Sumatera Selatan dan Kalimantan. Ikan ini sangat populer untuk para hobiis ikan hias baik dari dalam negeri maupun luar negeri, sehingga ekspornya tidak pernah berkurang dari tahun ke tahun. Sayangnya ikan ini masih susah ditangkarkan sehingga kelestariannya di alam dapat terancam, karena penangkapan yang terus menerus.
Ikan Botia (Chromobotia macracanthus Bleeker)
Sehingga untuk menjaga kelestarian ikan Botia diperlukan upaya pemijahan buatan agar pupolasi di alam tetap terjaga.

PEMATANGAN GONAD
Induk ikan botia yang dapat digunakan untuk pemijahan minimum ukuran 60 gram dan akan lebih baik bila lebih dari 100 gram.
Induk jantan dan betina ikan botia
Dapat dipelihara dalam bak  kayu atau fiberglass. Tutup bak perlu untuk mendapatkan efek fotoperiod (sinar) pendek. Pakan induk adalah pelet udang dan cacing tanah.
Tempat pematangan induk
PEMIJAHAN BUATAN
Induk matang gonad distimulasi dengan suntikan "ovaprim" 1 ml/kg berat induk. Penyuntikan untuk betina 2 kali (1/3 dan 2/3 kadar) dengan interval 6 jam. Induk jantan hanya satu kali saja. 
Penyuntikan ovaprim
Penentuan induk matang dengan cara kanulasi, telur siap ovulasi sudah harus berukuran minimal 1,4 mm.
Kanulasi telur
 Ovulasi dan spermiasi dilakukan dengan cara "stripping" atau pengurutan perut ikan. Telur ditampung dalam wadah dan sperma disedot dengan spuit. Sperma sebelum dicampurkan ketelur diencerkan 4 kali dengan larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%).
Stripping

Pengambilan sperma
PENETASAN TELUR
Penetasan telur dilakukan dalam bak berbentuk corong yang dilengkapi dengan sirkulasi (air mengalir). Setelah telur menetas (sekitar 18 jam), larva dapat dipindahkan ke akuarium dan dapat diberi pakan tetasan artemia, setelah 3 - 4 hari.
Inkubasi telur
Perkembangan telur ikan botia
Pakan cacing sutera atau pellet buatan daat diberikan setelah larva umur 10 hari. Benih berukuran 2,5 cm dapat dipanen dalam waktu sekitar 25 hari.
Pemeliharaan larva
Perkembangan larva ikan botia
Sumber : Balai Riset Budidaya Ikan Hias Depok, 2011)

Semoga Bermanfaat...

Friday, March 28, 2014

Pembenihan Ikan Synodontis

Ikan sinodontis (Synodontis nigriventris) merupakan ikan hias air tawar introduksi yang habitat aslinya dari sungai didaerah Zaire, Afrika. dikenal ikan hias air tawar yang unik dan juga sebagai ikan "up side down" karena senang berenang terbalik dengan perut diatas. termasuk dalam familia Mochohidae, ordo siluriformes (lele - lelean), ikan ini juga berkumis dan mempunyai patil walaupun tidak beracun.
Ikan Synodontis
Ikan hias sinodontis mempunyai nilai ekonomis tinggi saat ini sudah banyak dibudidayakan di Indonesia terutama didaerah sentra budidaya ikan hias air tawar Jabodetabek dengan cara pemijahan buatan, stimulasi hormone gonadotropin untuk merangsang ovulasi dan spermiasi yang umum digunakan pada ikan - ikan yang sulit memijah.

PEMELIHARAAN INDUK
Induk sinodontis dapat dipelihara di dalam bak beton atau fiberglas maupun dalam akuarium. Biasanya wadah pemeliharaan dilengkapi dengan filter untuk efisien air dan dilengkapi dengan aerasi.
Wadah Pemeliharaan Induk
Pakan diberikan dapat berupa pelet yang kualitasnya bagus, tetapi biasanya lebih disukai pakan alami berupa cacing, serangga, udang dan tanaman air. Pakan diberikan secara libitum (sekenyangnya).
Pelet dan cacing sebagai pakan induk
Bobot induk mulai dapat dipijahkan sekitar 50 gram untuk induk betina dan 70 gram induk jantan, berumur kira - kira 15 bulan, panjang antara 15 - 30 cm.
Induk Sinodontis
PENYUNTIKAN HORMON DAN PEMBUAHAN
Penyuntikan hormon ovaprim ± 1 cm dibawah sirip punggung.
Penyuntikan ovaprim
untuk rangsangan ovulasi telur, suhu media yang baik yaitu pada 28 - 30°C. Ovulasi akan terjadi 13 - 25 jam sesudah suntikan hormon.
Proses Pemijahan
Perkembangan embrio
PEMELIHARAAN LARVA
Pemeliharaan dilakukan di akuarium atau baskom plastik dengan tinggi air 15 - 20 cm. Larva mulai makan 4 - 5 hari dengan diberi nauplii artemia, setelah umur 10 hari diberi tubifex sp. Setelah 1,5 bulan benih mencapai ukuran 2 - 2,5 cm.
Tempat pemeliharaan larva
PENDEDERAN BENIH
Benih dipelihara dalam akuarium dengan volume air 50 - 80 liter, dengan tinggi air 15 - 26 cm. Padat tebar benih 300 - 500 ekor per akuarium. Pakan diberikan berupa cacing tubifex sp minimal 20% dalam keadaan basah dari biomassa benih.
Benih umur 1,5 bulan setelah pembuahan
TABEL 1. Hasil Pemijahan Sinodontis

TABEL 2. SIfat Fisika dan Kimia Air Untuk Pemeliharaan Ikan synondontis nigriventris

Sumber : Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias Depok, 2013

Semoga Bermanfaat... 

Thursday, March 27, 2014

Habitat Dan Penyebaran Kepiting

Kepiting merupakan fauna yang habitat dan penyebarannya terdapat di air tawar, payau dan laut. Jenis-jenisnya sangat beragam dan dapat hidup di berbagai kolom di setiap perairan. Sebagaian besar kepiting yang kita kenal banyak hidup di perairan payau terutama di dalam ekosistem mangrove. Beberapa jenis yang hidup dalam ekosistem ini adalah Hermit Crab, Uca sp, Mud Lobster dan kepiting bakau. Sebagian besar kepiting merupakan fauna yang aktif mencari makan di malam hari (nocturnal) (Prianto, 2007).

Kepiting pada fase larva (zoea dan megalopa) hidup di dalam air sebagai plankton. Kepiting mulai kehidupan di darat setelah memasuki fase juvenil dan dewasa seiring dengan pembentukan carapace. Ilustrasi ini dapat dilihat pada gambar berikut, dimana yang menjadi contoh pada gambar tersebut adalah kepiting kelapa. 

Tahap - tahap morofologi dan perkembangan kepiting kelapa (Birgus latro) dan habitat yang ditempatinya
(Sumber : Hsieh, 2004)

Sedangkan habitat dan penyebaran kepiting (dalam contoh kepiting merah Cancer magister) di estuary dan zona intertidal terlihat pada gambar berikut :
    
Siklus hidup, habitat dan penyebaran kepiting merah (Cancer Magister) di wilayah estuaria dan zona intertidal
(sumber : www.shim.bc.ca, 2008
Kepiting dan rajungan tergolong dalam satu suku (familia) yakni Portunidae dan seksi (sectio) Brachyura. Cukup banyak jenis yang termasuk dalam suku ini. Dr. kasim Moosa yang banyak menggeluti taksonomi kelompok ini mengemukakan bahwa di Indo-Pasifik Barat saja diperkirakan ada 234 jenis, dan di Indonesia ada 124 jenis. Di Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu diperkirakan ada 46 jenis. Tetapi dari sekian jenis ini, hanya ada beberapa saja yang banyak dikenal orang karena biasa dimakan, dan tentu saja berukuran agak besar. Jenis yang tubuhnya berukuran kurang dari 6 cm tidak lazim dimakan karena terlalu kecil dan hampir tidak mempunyai daging yang berarti. Beberapa jenis yang dapat dimakan ternyata juga dapat menimbulkan keracunan (Nontji, 2002).

Menurut Prianto (2007), bahwa di seluruh dunia terdapat lebih dari 1000 spesies kepiting yang dikelompokkan  ke dalam 50 famili. Sebagian besar kepiting hidup di laut, tersebar di seluruh lautan mulai dari zona supratidal hingga di dasar laut yang paling dalam. Sebagian jenis kepiting ada yang hidup di air tawar. Keanekaragaman kepiting yang paling tinggi ada di daerah tropis dan di selatan Australia, disini lebih dari 100 jenis kepiting telah diidentifikasi.

Konsentrasi maksimum kepiting terjadi pada malam hari pada saat air pasang. Kebanyakan kepiting memanjat akar mangrove dan pohon untuk mencari makan. Pada saat siang hari, waktu pasang terendah kebanyakan kepiting tinggal di dalam lubang untuk berlindung dari serangan burung dan predator lainnya. Beberapa spesies seperti Sesarma erythrodactyla dan Paragrapsus laevis pada saat air surut, turun ke bawah untuk berasosiasi dengan telur-telur ikan.

Kepiting mangrove seperti Scylla serrata (Mud Crab) merupakan hewan yang hidup di wilayah estuaria dengan didukung oleh vegetasi mangrove. Hewan ini merupakan hewan omnivora dan kanibal, memakan kepiting lainnya, kerang dan bangkai ikan. Kepiting ini dapat tumbuh sampai ukuran 25 cm atau dengan berat mencapai 2 kg, dimana kepiting betina ukurannya lebih besar dari yang jantan (DPI & F, 2003).

Sumber :
  1. Prianto, E. 2007. Peran Kepiting Sebagai Spesies Kunci (Keystone Spesies) pada Ekosistem Mangrove. Prosiding Forum Perairan Umum Indonesia IV. Balai Riset Perikanan Perairan Umum. Banyuasin.
  2. www.shim.bc.ca. 2008. Red Rock Crab, (Online), (diakses 15 Mei 2008).
  3. Hsieh, H.L. 2004. Towards Wetland Restoration for the "Wetland Three Musketeers”, A Horseshoe Crab, A Fiddler Crab, and A Coconut Crab, (Online), Research Center for Biodiversity, Academia Sinica, Taipei, (biodiv.sinica.edu.tw, diakses 14 Mei 2008).
  4. Nontji, A. 2002. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan. Jakarta
  5. DPI & F. 2003. Fish Guide. Saltwater, Freshwater and Noxious Species, (Online), The Great Outdoors Publications, Brisbane, (www2.dpi.qld.gov.au, diakses 13 Mei 2008).

Semoga Bermanfaat...

Wednesday, March 26, 2014

Daur Hidup Kepiting

Seperti hewan air lainnya reproduksi kepiting terjadi di luar tubuh, hanya saja sebagian kepiting meletakkan telur-telurnya pada tubuh sang betina. Kepiting betina biasanya segera melepaskan telur sesaat setelah kawin, tetapi sang betina memiliki kemampuan untuk menyimpan sperma sang jantan hingga beberapa bulan lamanya. Telur yang akan dibuahi selanjutnya dimasukkan pada tempat (bagian tubuh) penyimpanan sperma.

Setelah telur dibuahi telur-telur ini akan ditempatkan pada bagian bawah perut (abdomen).  Jumlah telur yang dibawa tergantung pada ukuran kepiting. Beberapa spesies dapat membawa puluhan hingga ribuan telur ketika terjadi pemijahan. Telur ini akan menetas setelah beberapa hari kemudian menjadi larva (individu baru) yang dikenal dengan “zoea”. Ketika melepaskan zoea ke perairan, sang induk menggerak-gerakkan perutnya untuk membantu zoea agar dapat dengan mudah lepas dari abdomen. Larva kepiting selanjutnya hidup sebagai plankton dan melakukan moulting beberapa kali hingga mencapai ukuran tertentu agar dapat tinggal di dasar perairan sebagai hewan dasar (Prianto, 2007). Daur hidup kepiting dapat dilihat pada gambar berikut.
Daur Hidup Kepiting 

Daur hidup kepiting meliputi telur, larva (zoea dan megalopa), post larva atau juvenil, anakan dan dewasa . Perkembangan embrio dalam telur mengalami 9 fase (Juwana, 2004). Larva yang baru ditetaskan (tahap zoea) bentuknya lebih mirip udang dari pada kepiting. Di kepala terdapat semacam tanduk yang memanjang, matanya besar dan di ujung kaki-kakinya terdapat rambut-rambut. Tahap zoae ini juga terdiri dari 4 tingkat untuk kemudian berubah ke tahap megalopa dengan bentuk yang lain lagi (Gambar 6 dan 7). Larva kepiting berenang dan terbawa arus serta hidup sebagai plankton (Nontji, 2002). Beberapa hasil penelitian menyebutkan bahwa larva kepiting hanya mengkonsumsi fitoplankton beberapa saat setelah menetas dan segera setelah itu lebih cenderung memilih zooplankton sebagai makanannya (Umar, 2002). Keberadaan larva kepiting di perairan dapat menentukan kualitas perairan tersebut, karena larva kepiting sangat sensitif terhadap perubahan kualitas perairan (Sara, dkk., 2006).
Skema Bagian  - Bagian Tubuh Larva Kepiting (zoea dan megalopa)
Perkembangan Larva Kepiting
Siklus Hidup Rajungan dan Scylla sp
Sumber : 
  1. Juwana,  S. 2004. Penelitian Budi Daya Rajungan dan Kepiting: Pengalaman Laboratorium dan lapangan, Prosiding Simposium Interaksi Daratan dan Lautan. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta.
  2. Nontji, A. 2002. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan. Jakarta.
  3. Sara, L. dkk. 2006. Abundance and Distribution Patterns of Scylla spp. Larvae in the Lawele Bay, Southeast Sulawesi, Indonesia, Asian Fisheries Science, (Online), Vol. 19; 331-347, (www.asianfisheriessociety.org, diakses 1 Mei 2008).
  4. Prianto, E. 2007. Peran Kepiting Sebagai Spesies Kunci (Keystone Spesies) pada Ekosistem Mangrove. Prosiding Forum Perairan Umum Indonesia IV. Balai Riset Perikanan Perairan Umum. Banyuasin.
  5. Umar, N.A. 2002. Hubungan antara Kelimpahan Fitoplankton dan Zooplankton (Kopepoda) dengan Larva Kepiting di Perairan Teluk Siddo Kabupaten Barru Sulawesi Selatan, (Online), IPB.

Semoga Bermanfaat...

Tuesday, March 25, 2014

Mengenal Kepiting Dan Anatominya

Kepiting adalah binatang crustacea berkaki sepuluh, yang biasanya mempunyai "ekor" yang sangat pendek (bahasa Yunani: brachy = pendek, ura = ekor), atau yang perutnya sama sekali tersembunyi di bawah thorax. Hewan ini dikelompokkan ke dalam Phylum Athropoda, Sub Phylum Crustacea, Kelas Malacostraca, Ordo Decapoda, Suborder Pleocyemata dan Infraorder Brachyura. Tubuh kepiting umumnya ditutupi dengan exoskeleton (kerangka luar) yang sangat keras, dan dipersenjatai dengan sepasang capit. Kepiting hidup di air laut, air tawar dan darat dengan ukuran yang beraneka ragam, dari pea crab, yang lebarnya hanya beberapa milimeter, hingga kepiting laba-laba Jepang, dengan rentangan kaki hingga 4 m.
Berbagai Jenis Kepiting
Walaupun kepiting mempunyai bentuk dan ukuran yang beragam tetapi seluruhnya mempunyai kesamaan pada bentuk tubuh. Seluruh kepiting mempunyai chelipeds dan empat pasang kaki jalan. Pada bagian kaki juga dilengkapi dengan kuku dan sepasang penjepit, chelipeds terletak di depan kaki pertama dan setiap jenis kepiting memiliki struktur chelipeds yang berbeda-beda. Chelipeds dapat digunakan untuk memegang dan membawa makanan, menggali, membuka kulit kerang dan juga sebagai senjata dalam menghadapi musuh. Di samping itu, tubuh kepiting juga ditutupi dengan  Carapace. Carapace merupakan kulit yang keras atau dengan istilah lain exoskeleton (kulit luar) berfungsi untuk melindungi organ dalam bagian kepala, badan dan insang.

Kepiting sejati mempunyai lima pasang kaki; sepasang kaki yang pertama dimodifikasi menjadi sepasang capit dan tidak digunakan untuk bergerak. Di hampir semua jenis kepiting, kecuali beberapa saja (misalnya, Raninoida), perutnya terlipat di bawah cephalothorax. Bagian mulut kepiting ditutupi oleh maxilliped yang rata, dan bagian depan dari carapace tidak membentuk sebuah rostrum yang panjang. Insang kepiting terbentuk dari pelat-pelat yang pipih (phyllobranchiate), mirip dengan insang udang, namun dengan struktur yang berbeda. Insang yang terdapat di dalam tubuh berfungsi untuk mengambil oksigen biasanya sulit dilihat dari luar. Insang terdiri dari struktur yang lunak terletak di bagian bawah carapace. Sedangkan mata menonjol keluar berada di bagain depan carapace.
Tubuh Bagian Dorsal Kepiting Dewasa 
Tubuh Bagian Ventral Kepiting Dewasa
Berdasarkan anatomi tubuh bagian dalam, mulut kepiting terbuka dan terletak pada bagian bawah tubuh. Beberapa bagian yang terdapat di sekitar mulut berfungsi dalam memegang makanan dan juga memompakan air dari mulut ke insang. Kepiting memiliki rangka luar yang keras sehingga mulutnya tidak dapat dibuka lebar. Hal ini menyebabkan kepiting lebih banyak menggunakan sapit dalam memperoleh makanan. Makanan yang diperoleh dihancurkan dengan menggunakan sapit, kemudian baru dimakan. Anatomi tubuh kepiting bagian dalam dapat dilihat pada gambar berikut :
Anatomi Tubuh Bagian Dalam Dari Kepiting Dewasa
Kepiting bakau ukurannya bisa mencapai lebih dari 20 cm. Sapit pada jantan dewasa lebih panjang dari pada sapit betina. Kepiting yang bisa berenang ini terdapat hampir di seluruh perairan pantai Indonesia, terutama di daerah mangrove, di daerah tambak air payau, muara sungai, tetapi jarang ditemukan di pulau-pulau karang (Nontji, 2002). Disamping morfologi sapit, kepiting jantan dan betina dapat dibedakan juga berdasarkan ukuran abdomen, dimana abdomen jantan lebih sempit dari pada abdomen betina.
Perbedaan Morfologi Kepiting Jantan dan Betina
Irmawati (2005) melaporkan bahwa, kepiting bakau dapat diidentifikasi dengan mengamati ciri-ciri meristik dan morfometril serta pola warna dengan mengacu pada kunci identifikasi Keenan, Carpenter dan Niem (l998). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa berdasarkan warna, bentuk duri pada frontal dan jumlah duri pada karpus, teridentifkasi 3 spesies kepiting bakau di kawasan Mangrove Sungai Keera Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan, yaitu Scylla olivacea, Scylla serrata dan Scylla paramamosain dimana Scylla olivacea adalah jenis yang dominan, yaitu 92% dari total sampel. Terdapat perbedaan karakter meristik yang dimiliki oleh ketiga spesies kepiting bakau yang ditemukan di kawasan mangrove tersebut.

Sebagian besar kepiting yang hidup di mangrove memperlihatkan adaptasi morfologis saat bernafas ketika berada di darat. Ukuran insang kepiting berkorelasi dengan habitat dan aktivitas metabolik. Spesies intertidal di daerah temperate umumnya telah mereduksi luas insang dibanding dengan spesies akuatik. Gejala ini terjadi pada spesies kepiting mangrove Ocypode  dan Uca  yang mempunyai beberapa filamen insang dibanding kerabat dekatnya di spesies akuatik. Filamen insang mengeras sebagai pemelihara bentuk, orientasi  dan fungsi tubuh bila kepiting keluar dari air. Celah insang menjadi vaskular dan dapat berfungsi sebagai paru-paru. Kepiting ini memompa udara melalui udara yang tertahan di dalam celah insang yang harus diperbaharui secara teratur dengan sering masuk ke dalam air (Hutching, dan Saenger, 2001 dalam Prianto, 2007).

Menurut Prianto (2007) bahwa, bagian tubuh kepiting juga dilengkapi bulu dan rambut sebagai indera penerima. Bulu-bulu terdapat hampir di seluruh tubuh tetapi sebagian besar bergerombol pada kaki jalan. Untuk menemukan makanannya kepiting menggunakan rangsangan bahan kimia yang dihasilkan oleh organ tubuh. Antena memiliki indera penciuman yang mampu merangsang kepiting untuk mencari makan. Ketika alat pendeteksi pada kaki melakukan kontak langsung dengan makanan, chelipeds dengan cepat menjepit makanan tersebut dan langsung dimasukkan ke dalam mulut. Mulut kepiting juga memiliki alat penerima sinyal yang sangat sensitif untuk mendeteksi bahan-bahan kimia. Kepiting mengandalkan kombinasi organ perasa untuk menemukan makanan, pasangan dan menyelamatkan diri dari predator.

Kepiting memiliki sepasang mata yang terdiri dari beberapa ribu unit optik. Matanya terletak pada tangkai, dimana mata ini dapat dimasukkan ke dalam rongga pada carapace ketika dirinya terancam. Kadang-kadang kepiting dapat mendengar dan menghasilkan berbagai suara. Hal yang menarik pada berbagai spesies ketika masa kawin, sang jantan mengeluarkan suara yang keras dengan menggunaklan chelipeds-nya atau menggetarkan kaki jalannya untuk menarik perhatian sang betina. Setiap spesies memiliki suara yang khas, hal ini digunakan untuk menarik sang betina atau untuk menakut-nakuti pejantan lainnya

Sumber :
  1. www.portofpeninsula.org. 1997. Crab. Washington State Department of Fish & Wildlife, (Online), (diakses 15 Mei 2008).
  2. Prianto, E. 2007. Peran Kepiting Sebagai Spesies Kunci (Keystone Spesies) pada Ekosistem Mangrove. Prosiding Forum Perairan Umum Indonesia IV. Balai Riset Perikanan Perairan Umum. Banyuasin.
  3. Nontji, A. 2002. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan. Jakarta.
  4. Irmawati. 2005. Keanekaragaman Jenis Kepiting Bakau Scylla sp Di Kawasan Mangrove Sungai Keera Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan, Lembaga Penelitian UNHAS, (Online), (http://www.unhas.ac.id, diakses 30 April 2008).
Semoga Bermanfaat...

Monday, March 24, 2014

Kepiting Sebagai Keystone Species (Spesies Kunci) di Alam

Seluruh fauna yang hidup di dalam ekositem pesisir mempunyai peranan yang penting dalam menjaga keseimbangan ekologi. Sekian banyak fauna yang hidup terdapat beberapa spesies kunci (keystone species) yang memegang peranan yang sangat penting. Salah satu spesies tersebut adalah kepiting yang hidup di dalam ekosistem pesisir. Kepiting diusulkan sebagai keystone species di kawasan pesisir karena setiap aktivitasnya mempunyai pengaruh utama pada berbagai proses paras ekosistem. Peran kepiting di dalam ekosistem diantaranya mengkonversi nutrien dan mempertinggi mineralisasi, meningkatkan distribusi oksigen di dalam tanah, membantu daur hidup karbon, serta tempat penyedia makanan alami bagi berbagai jenis biota perairan (Prianto, 2007).

Spesies kunci (keystone species) adalah suatu spesies yang menentukan kelulushidupan sejumlah spesies lain. Dengan kata lain spesies kunci adalah spesies yang keberadaannya menyumbangkan suatu keragaman hidup dan kepunahannya secara konsekuen menimbulkan kepunahan bentuk kehidupan lain (Power & Mills, 1995 dalam Prianto, 2007).
Kepiting Bakau

Secara tindak langsung melalui pola tingkah laku dan kebiasaannya, kepiting telah memberikan manfaat yang besar terhadap keberlangsungan proses biologi di dalam ekosistem pesisir, seperti hutan mangrove. Menurut Prianto (2007), beberapa peran kepiting di dalam ekosistem pesisir, adalah sebagai berikut :

  1. Konversi nutrien dan mempertinggi mineralisasi; Kepiting berfungsi menghancurkan dan mencabik-cabik daun/serasah menjadi lebih kecil (ukuran detritus) sehingga mikrofauna dapat dengan mudah menguraikannya. Hal ini menjadikan adanya interaksi lintas permukaan, yaitu antara daun yang gugur akan berfungsi sebagai serasah (produsen), kepiting sebagai konsumen dan detrivor, mikroba sebagai pengurai;
  2. Meningkatkan distribusi oksigen dalam tanah; Lubang yang dibangun berbagai jenis kepiting mempunyai beberapa fungsi diantaranya sebagai tempat perlindungan dari predator, tempat berkembang biak dan bantuan dalam mencari makan. Disamping itu, lubang-lubang tersebut berfungsi untuk komunikasi antar vegetasi misalnya mangrove, yaitu dengan melewatkan oksigen yang masuk ke substrat yang lebih dalam sehingga dapat memperbaiki kondisi anoksik;
  3. Membantu daur hidup karbon; Dalam daur hidup karbon, unsur karbon bergerak masuk dan keluar melewati organisme. Kepiting dalam hal ini sangat penting dalam konversi nutrien dan mineralisasi yang merupakan jalur biogeokimia karbon, selain dalam proses respirasinya;
  4. Penyedia makanan alami; Dalam siklus hidupnya kepiting menghasilkan ratusan bahkan pada beberapa spesies dapat menghasilkan ribuan larva dalam satu kali pemijahan. Larva-larva ini merupakan sumber makanan bagi biota-biota perairan, seperti ikan. Larva kepiting bersifat neuston yang berarti melayang-layang dalam tubuh perairan, sehingga merupakan makanan bagi ikan-ikan karnivora.

Semoga Bermanfaat...

Cara Pembuatan Lele Crispy

Lele adalah ikan yang sampai saat ini cukup banyak penggemarnya, mungkin hanya sedikit orang yang tahu dari sekian banyak olahan lele. Biasanya yang kita tahu adalah olahan lele yang biasa seperti pecel lele, lele bakar ataupun goreng. apabila anda bosan dengan olahan ikan lele yang itu - itu saja, berikut saya sampaikan resep Lele Crispy.
Fillet Lele Crispy

Bahan Adonan Tepung Crispy :
Campur semua bahan sampai merata (Homogen)


Bumbu Untuk Rendaman Fillet Lele :
Semua Bumbu dihaluskan

Cara Membuat :

  1. Fillet ikan lele agar didapat daging ikan lele tampa duri.
  2. Rendam lele yang sudah difillet ke bumbu rendaman kira - kira 10 menit agar bumbu dapat meresap ke fillet lele.
  3. Tepung crispy yang sudah tercampur, ditaruh kedalam 2 baskom plastik (Tepung I dan Tepung II)
  4. Ambil potongan fillet lele yang sudah direndam kemudian tiriskan.
  5. Masukkan kedalam tepung crispy yang pertama sampai merata.
  6. Kemudia masukkan kedalam adonan telur (Telur : Air = 1 telur : 0,5 gelas air).
  7. Setelah dimasukkan kedalam adonan telur selanjutnya adalah memasukkan kedalam adonan tepung crispy yang kedua.
  8. Penggorengan dilakukan apabila minyak goreng telah panas dengan api kecil. Selain hal tersebut diatas pada tahap penggorengan yang perlu diperhatikan adalah posisi kulit ikan ditaruh dibawah sedangkan daging ikan yang timbul crispynya ditaruh pada posisi diatas. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan bentuk crispy yang telah terbentuk tidak rusak pada saat penggorengan.

Terbentuk adonan crispy ada titik kritis yang perlu diperhatikan yaitu pada tahap ini. Hal - hal yang perlu diperhatikan supaya terbentuknya crispy adalah :


  • Tiriskan terlebih dahulu potongan fillet setelah diangkat dari adonan telur.
  • Masukkan potongan ikan kedalam adonan tepung II secara bertahap, setiap tahap 2 - 3 potong.
  • aduk secara perlahan dari bawah keatas dengan putaran yang sama secara terus - menerus sampai terbentuknya crispy.
  • bila telah terbentuk adonan crispy langsung digoreng sesuai ketentuan tahap penggorengan.
  • tahap membentuk adonan crispy selanjutnya dilanjutkan sampai potongan fillet ikan lele hasis.
Sumber : Materi Pengolahan Hasil Perikanan, BPPP Tegal

Semoga Bermanfaat...

Sunday, March 23, 2014

Seleksi Induk Ikan Lele Siap Pijah

Memilih induk ikan  yang siap pijah adalah persyaratan yang paling kursial dalam kegiatan pemijahan ikan, hal ini dikarenakan dari hasil seleksi yang kurang baik maka benih yang akan dihasilkan juga tidak akan baik.

Induk ikan lele yang bersifat unggul akan mempengaruhi kualitas benih yang dihasilkan. Banyak sekali pembenih ikan melakukan pemijahan dengan menggunakan induk yang tidak jelas keturunannya sehingga sering terjadi kawin kerabat (Inbreeding) yang mengakibatkan kualitas benih yang dihasilkan jauh dari standar. Induk ikan lele yang digunakan sebaiknya tidak mengalami kelainan fisik maupun dari satu keturunan. Umur dan ukuran dari induk ikan lele sebaiknya berbeda untuk lebih memastikan keturunan dari induk dalam kegiatan pembenihan, maka sebaiknya dilakukan seleksi terhadap induk yang bersifat unggul sehingga hanya induk-induk produktif saja yang dipelihara sehingga dapat menekan biaya perawatan induk karena untuk merawat induk diperlukan biaya pakan dan lain-lain yang tidak sedikit.

Induk ikan lele yang berkualitas dapat ditentukan melalui ciri fisik dan faktor genetik. Induk yang bagus memiliki struktur organ yang lengkap dan proporsional sesuai dengan umur ikan. Sedangkan untuk ciri genetik dapat ditunjukkan dengan adanya sertifikat induk unggul dari unit produksi induk yang sudah melalui tahap uji. Induk ikan lele yang unggul akan memiliki keturunan dengan Feed Convertion Ratio (FCR) rendah sehingga akan meningkatkan penghasilan pendapatan bagi pembudidaya.

Adapun ciri-ciri induk ikan lele yang baik adalah sebagai berikut :
  • Organ tubuh lengkap dan normal
  • Umur induk betina  mencapai 1,5 tahun
  • Umur induk jantan mencapai 1 tahun 
  • Bobot induk minimal 1 kg
  • Betina gemuk tidak berlemak (betina)
  • Tubuh langsing dan rongga perut tidak berlemak (jantan)
  • Alat kelamin normal dan kemerah-merahan
  • Selama perawatan FCR rendah

Induk Ikan Lele

Untuk mengetahui induk yang siap untuk dipijahkan,berikut ini ciri-ciri induk ikan lele yang baik :

Induk Betina :

Induk Betina Ikan Lele
  • Perut membesar dan lembek
  • Gerakan agak lambat dan jinak
  • Alat kelamin bulat, berwarna kemerahan dan tampak membesar
  • Warna tubuh secara umum menjadi coklat kemerahan
  • Warna sirip cenderung kemerahan
  • Bila perut diurut kearah alat kelamin akan keluar telur

Alat Kelamin Induk Betina
Induk Jantan :

  • Tubuh gemuk ramping
  • Gerakan lincah dan lebih gesit
  • Alat kelamin runcing dan mencapai sirip anus
  • Warna sirip cenderung kemerahan

Alat Kelamin Induk Jantan
 Setelah dilakukan seleksi induk siap pijah langkah selanjutnya adalah sebagai berikut :

  • Induk dimasukkan dalam wadah terpisah dan dipuasakan
  • Untuk induk betina dilakukan pengecekan tingkat kematangan telur dengan menggunakan kateter (selang kanulasi)

Pengecekan Kematangan Telur Menggunakan Selang Kateter


  • Letakkan telur yang diperoleh diatas cawan petri atau diatas kulit, jika telur terpisah satu dengan yang lainnya maka siap untuk dipijahkan

Telur Ikan Lele



  • Ciri-ciri telur yang siap pijah ukuran seragam dan kuning telur menepi
  • Ciri-ciri sperma siap pijah berwarna putih kental dan pH sperma 6,5 – 7,5
  • Tempatkan induk kedalam wadah dan siap untuk dipijahkan.


Semoga Bermanfaat...

Friday, March 21, 2014

Teknik Budidaya udang Galah

Udang galah merupakan komoditi ikan air twara yang dapat dipasarkan baik untuk kebutuhan dalam maupun luar negeri. Ukurannya mlai 100 gr s.d. 200 gr per ekor. Bahkan udang yang tertangkap diperairan umum dapat mencapai 300 gr per ekor. Udang galah dapat dipelihara di kolam-kolam oleh para pembydidaya udang, baik secara polikultur maupun monokultur dengan  biaya  yang cukup rendah sehingga dapat meningkatkan penghasilan pembudidaya. Mengingat prospek pemasarannya yang baik maka petunjuk teknis budidaya udang galah perlu dikembangkan.
Udang Galah

Sistem Pemeliharaan Tunggal (Monokultur)  
Pada pemerilhaaran udang galah secara tunggal, kolam yang dipergunakan sebaiknya berukuran lebih dari 500 meter persegi dan kedalaman air minimal 1 M. Dasar kolam pemeliharaan adalah tanah yang sedikit berpasir, sedangkan pematang kolah dapat berupa tanah atau  tembokan semen.
Air yang digunakan untuk pemeliharaan ini harus bebas polusi, baik yang berasal dari limbah produksi, pabrik pertanian maupun rum ah tangga. Debit air yang diperlukan adalah 1 – 5 liter per detik untuk luasan 1000 meter persegi.
Kolam Pemeliharaan Monokultur

Sistem Pemeliharaan Campuran (Polikultur)
Pemeliharaan udang galah dengan system polikultur banyak dilakukan oleh pembudidaya. Kombinasi yang dianjurkan adalah dengan ikanikan jenis herbivora (pemakan tumbuhan) seperti tawes, grass carp dan gurami. Perlakuan kolam untuk pemeliharaan campuan tersebut hamper sama dengan yang dilakukan untuk pemeliharaan tunggal. Diperlukan air yang mengalir secar tetap dan pemupukan dengan kadar lebih tingg dari 100-250 gram/m2 ditambah makan buatan (pellet).
Kolam Pemeliharaan Polykultur
Periapan Kolam

  • Perbaikan pematang
  • pengeringan dan penggemburan kolam selama 3-5 hari
  • Pemasangan shelter yang terbuat dari bamboo atau daun kelapa dengan luasan 50-60% dari luas area yang digunakan
  • Pengapuran dengan dosis 25-50 g/m2 cara pengepuran yaitu : kapur dilarutkan dalam air selanjutnya disebar merata keseluruh permukaan kolam. Biarkan selama 2-3 hari
  • Pengisian air sampai kedalaman 50 cm
  • Pemupukan dengan pupuk organik dengan dosis 250-500 g/m2, biarkan 3-5 hari
  • Pengisian air sampai kedalaman yang ditentukan
  • Penebaran benih

Persiapan Kolam
Pentokolan I
  • Wadah yang digunakan berupa kolam dengan luas 100-300m2, debit air 0,25 L/detik
  • Penebaran benih dengan ukuran 0,002-0,004 gram
  • Padat tebar 50 ekor/m2
  • lama pemeliharaan 2 bulan
  • Pemberian pakan dengan dosis 20-10% dengan frekuensi 3-4 kali/hari dan kandungan proteinnya >30%
Benur Udang Galah
Pentokolan II
  • Wadah 300-500 m2
  • Debit air 0,5 L/detik
  • Penebaran benih tokolan 1 ukuran 4-6 gram
  • Padat penebaran 15-20 ekor/m2
  • Lama pemeliharaan 2-2,5 bulan
  • Pemberian pakan dengan dosis 10-5 % dari BBM dengan frekuensi 3-4 kali/hari
Pembesaran
  • wadah 300-1000 m2
  • debit air 0,5-1 L/detik
  • penebaran tokolan 2 ukuran 15-20 gram
  • padat penebaran 5-10 ekor/m2
  • lama pemeliharaan 2-3 bulan
  • pemberian pakan dengan dosis 5-3 % dari BBM  dengan frekuensi 3-4 kali/hari
Udang Galah Ukuran Konsumsi

Semoga Bermanfaat...