Lalaukan

Informasi dunia kelautan dan perikanan serta kegiatan penyuluhan perikanan

Monday, July 29, 2019

Penyakit Virus Pada Ikan : Sleepy Grouper Disease (SGD)

Penyakit sleepy grouper disease (SGD) adalah salah satu penyakit yang cukup mendapat perhatian terkait komoditas air laut, khususnya pada ikan kerapu. Penyakit ini disebabkan oleh grouper iridovirus (GIV). Beberapa ikan yang diinfeksi adalah yellow grouper (Epinephelus awoara), brown-spotted grouper (Epinephelus tauvina), dan nursing grouper (Epinephelus malabaricus). Infeksi iridovirus diketahui sebagai suatu penyakit yang mematikan pada budidaya ikan laut. Infeksi pada ikan dapat menyebabkan pergerakan ikan menjadi ekstrim dan terjadi perubahan warna kulit ikan menjadi kegelapan. Di Indonesia, penyakit SGD pertama kali ditemukan menyerang ikan kerapu lumpur (E. tauvina) di wilayah Sumatera utara. Peristiwa tersebut menyebabkan kematian massal hingga 80%. Sedangkan di negara lain, serangan Iridovirus dilaporkan juga terjadi di negara Taiwan, Thailand, dan Jepang dengan tingkat mortalitas 80-90%. Bentuk infeksi dan morfologi virus SGD disajikan pada Gambar berikut.

Bentuk infeksi dan morfologi SGD

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Friday, July 26, 2019

Penyakit Virus Pada Ikan : Infectious Hypodermal and Hematopoietic Necrosis Virus (IHHNV)

Penyakit infeksi lainnya yang banyak ditemukan menyerang komoditas perikanan, khususnya udang Penaeid adalah infectious hypodermal and hematopoietic necrosis virus (IHHNV). Virus IHHNV merupakan virus dengan tipe single stranded DNA yang pertama kali dideteksi menyerang Penaeus stylirostris pada awal tahun 1980s. Virus ini memiliki diameter sebesar 22 nm, berbentuk icosahedron tanpa envelope dengan densitas sebesar 1.40 g/ml, memiliki genom linear single-stranded DNA dengan panjang 4.1 kb, dan kapsidnya mengandung empat polypeptide dengan berat molekul 74, 47, 39, serta 37.5 kD. Berdasarkan karakteristik yang dimilikinya, IHHNV dikelompokkan ke dalam anggota Parvoviridae dan Genus Brevidensovirus. Infeksi IHHNV banyak ditemukan pada spesies-spesies Penaeid yang dibudidayakan, seperti P. monodon (black tiger), P. vannamei (pacific white shrimp), dan P. stylirostris (pacific blue shrimp). Pada beberapa kasus yang menyerang P. stylirostris, virus dapat menyebabkan akut epizootic dan kematian massal (>90%). Beberapa inang lainnya yang dapat menjadi perantara virus IHHNV adalah grooved tiger prawn (Penaeus semisulcatus), kuruma prawn (Penaeus japonicus), western white shrimp (Penaeus occidentalis), yellow-leg shrimp (Penaeus californiensis), chinese white shrimp (Penaeus chinensis), gulf banana prawn (Penaeus merguiensis), indian banana prawn (Penaeus indicus), northern brown shrimp (Penaeus aztecus), northern pink shrimp (Penaeus duorarum), dan northern white shrimp (Penaeus setiferus).

Transmisi virus IHHNV dapat terjadi secara horizontal dan vertikal dimana infeksi horizontal terjadi melalui aktivitas kanibalisme atau kontaminasi air, sedangkan infeksi vertikal terjadi melalui telur. Infeksi pada telur dapat mengakibatkan kegagalan penetasan. Pada fase inang dewasa, virus ini mengakibatkan kerusakan karapas, deformitas (perubahan bentuk), serta menyerang organ-organ target seperti insang, epitelium kutikula (hypodermis), semua jaringan penghubung, jaringan haematopoietic, organ lymphoid, kelenjar antennal, serta syaraf ventral nerve dan ganglianya. Selain itu, organ internal yang juga dirusak adalah usus, otot, dan lain sebagainya. Bentuk infeksi dan morfologi IHHNV disajikan pada Gambar berikut.

Bentuk infeksi dan morfologi IHHNV

Penyebab : Parvovirus

Bio – Ekologi Patogen :

  1. Penularan dapat terjadi secara horizontal dan vertikal. Transmisi IHHNV relatif cepat dan efisien melalui luka akibat kanibalisme udang terutama pada periode lemah uang (terutama selama molting); ko-habitasi melalui transfer dalam air.
  2. Transmisi vertikal dari induk ke larva umumnya berasal dari ovari induk betina terinfeksi (sperma jantan terinfeksi umumnya bebas virus)
  3. Larva yang terinfeksi IHHNV secara vertikal tidak tampak sakit, namun setelah berumur diatas 35 hari mulai muncul gejala klinis yang diikuti dengan kematian masal.
  4. Individu udang yang pernah terinfeksi dan resisten terhadap IHHNV akan berlaku sebagai pembawa (carrier).
  5. Infeksi IHHNV pada udang vannamei akan mengakibatkan pertumbuhan yang sangat beragam (mblantik), rostrum bengkok dan kutikula kasar.

Gejala Klinis :

  1. Nafsu makan menurun, pertumbuhan lambat, perubahan warna kulit/karapas dan perubahan tingkah laku
  2. Berenang di permukaan secara perlahan, hilang keseimbangan dan bergerak berputar dan selanjutnya tenggelam perlahan dalam posisi terbalik
  3. Bercak-bercak putih terutama antara segmen eksoskeleton dan karapas
  4. Udang yang sekarat umumnya berwarna merah kecoklatan atau pink
  5. Populasi udang dengan gejala-gejala tersebut umumnya akan mengalami laju kematian yang tinggi dalam tempo 3-10 hari.

Diagnosa :

Polymerase Chain Reaction (PCR)

Udang vannamei yang terinfeksi Infectious Hypodermal &
Haematopoietic Necrosis (IHHN) sejak awal (vertical transmission),
pertumbuhannya tidak seragam (mblantik)
Udang vannamei yang terinfeksi Infectious Hypodermal &
Haematopoietic Necrosis (IHHN) pada saat pemeliharaan di tambak (horizontal
transmission), pertumbuhannya tidak seragam (mblantik)
Udang vannamei yang terinfeksi Infectious Hypodermal &
Haematopoietic Necrosis (IHHN), mengalami deformitis pada rostrum (bengkok)

Pengendalian :

  1. Belum ada teknik pengobatan yang efektif, oleh karena itu penerapan biosecurity total selama proses produksi (a.l penggunaan benur bebas IHHNV, pemberian pakan yang tepat jumlah dan mutu, stabilitas kuialitas lingkungan) sangat dianjurkan.
  2. Menjaga kualitas lingkungan budidaya agar tidak menimbulkan stress bagi udang (misalnya aplikasi mikroba esensial: probiotik, bacterial flock, dll.).
  3. Sanitasi pada semua peralatan dan pekerja dalam semua tahap proses produksi.
  4. Desinfeksi suplai air dan pencucian dan/atau desinfeksi telur dan nauplius juga dapat mencegah transmisi vertikal
  5. Pemberian unsur imunostimulan (misalnya suplementasi vitamin C pada pakan) selama proses pemeliharaan udang

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Monday, July 22, 2019

Penyakit Virus Pada Ikan : Taura Syndrome Virus (TSV)

Taura syndrome merupakan salah satu jenis penyakit yang juga banyak menyerang udang, khususnya vannamei (L. vannamei). Sejak ditemukan pada awal tahun 1990, virus ini dapat dikatakan memiliki tingkat virulensi yang tinggi karena dapat mengakibatkan kematian mulai 5% hingga 95% udang vannamei. Selain pada udang vannamei, TSV juga terdeteksi pada blue shrimp (Penaeus stylirostrus), pacific white shrimp (Penaeus vannamei), chinese white shrimp (Penaeus chinensis), giant black tiger prawn (Penaeus monodon), kuruma prawn (Penaeus japonicus), northern brown shrimp (Penaeus aztecus), northern pink shrimp (Penaeus duorarum), northern white shrimp (Penaeus setiferus), dan southern white shrimp (Penaeus schmitti).

Taura syndrome disebabkan oleh taura syndrome virus (TSV), yaitu virus RNA yang diklasifikasikan ke dalam Keluarga Dicistroviridae. Partikel virion TSV sebesar 32 nm, berbentuk ikosahedron tanpa envelope dengan densitas sebesar 1.338 g/ml. Genom yang dimiliki oleh TSV berbentuk linear, single
stranded RNA (+) dengan 10,205 nukleotida. Daerah serangan virus TSV antara lain epitelium kutikula (hypodermis), eksoskeleton, saluran pencernaan, alat pernafasan, jaringan penghubung, jaringan haematopoietic, organ lymphoid, dan kelenjar antennal.

Taura syndrome memiliki tiga fase serangan, yaitu akut, transisi, dan kronis. Pada kondisi akut, lesi patognomonik terjadi pada epitelium kutikula, sedangkan pada fase transisi dan kronis penyakit tidak tampak lesi patognomonik dan pendeteksian dilakukan dengan metode molekular dan antibodi. Serangan virus TSV dapat dikenali dengan sejumlah tanda klinis seperti kosongnya perut hingga terjadinya proliferasi warna, karapas yang lunak, perubahan warna ekor udang menjadi merah, kerusakan nekrosis epitel kutikula, serta kematian massal udang vannamei sebesar 40% hingga lebih dari 90% pada fase post-larvae, juvenile, dan dewasa. Bentuk infeksi dan morfologi TSV disajikan pada Gambar berikut.

Bentuk infeksi dan morfologi TSV

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Friday, July 19, 2019

Penyakit Virus Pada Ikan : Hemorrhagic Septicemia (VHS)

Viral hemorrhagic septicemia (VHS) adalah salah satu penyakit infeksius yang menyerang ikan dan dapat mengakibatkan kematian. Penyakit ini disebabkan oleh viral hemorrhagic septicemia virus (VHSV) yang dikenal juga dengan nama Egtved virus. Pada awalnya, VHS ditemukan menginfeksi ikan salmonid di Eropa Barat pada tahun 1963 oleh M. H. Jenson. Virus VHS merupakan kelompok dari virus genom RNA negatif single-stranded pada Ordo Mononegavirales, Keluarga Rhabdoviridae, dan Genus Novirhabdovirus dimana virus ini memiliki envelope, partikel berbentuk peluru dengan panjang sekitar 180 nm serta berdiameter 60 nm, dan diselimuti poplomer dengan panjang 5 nm hingga 15 nm.

Viral hemorrhagic septicemia (VHS) adalah penyakit sistemik pada ikan dan penyebarannya dapat dibawa oleh paling sedikit 50 jenis ikan air tawar dan air laut. Beberapa jenis yang terinfeksi oleh VHS adalah berasal dari kelompok Salmoniformes (salmon dan trout), Pleuronectiformes (flounder, sole, dan jenis flatfishes lainnya), Gadiformes (cod), Esociformes (pike), Clupeiformes (herring), Osmeriformes (smelt), Scorpaeniformes (rockfish dan sculpin), Perciformes (perch dan drum), Anguilliformes (eel), Cyprinodontiformes (mummichog), serta Gasterosteiformes (sticklebacks).

Ikan yang terserang VHS akan mengalami hemorragik atau pendarahan pada organ internal, kulit, dan otot. Beberapa gejala lainnya adalah infeksi yang mengakibatkan pembengkakan pata mata, kerusakan abdomen, lesi, serta tampak memar kemerahan pada organ mata, kulit, insang, dan sirip. Bentuk infeksi dan morfologi VHS disajikan pada Gambar berikut.

Bentuk infeksi dan morfologi VHS

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Monday, July 15, 2019

Penyakit Virus Pada Ikan : Infectious Pancreatic Necrosis (IPN)

Penyakit infectious pancreatic necrosis (IPN) pertama kali terjadi pada tahun 1941 yang menyerang benih trout di Canada. Infectious pancreatic necrosis adalah jenis virus Birnavirus yang memiliki tingkat bahaya yang tinggi dan sistemik pada ikan Salmonid muda. Virus ini juga menyerang rainbow trout (Oncorhynchus mykiss), brook trout (Salvelinus fontinalis), brown trout (Salmo trutta), atlantic salmon (Salmo salar), dan pacific salmon (Oncorhynchus spp).

Penularan virus IPN dapat terjadi secara vertikal, dengan virus berada dalam telur, atau horizontal, melalui air, urin, feces, sekresi sexual, serta ikan mati atau sakit yang dikonsumsi oleh ikan lain. pada umumnya ikan yang sembuh (survivors atau carriers) dapat menjadi non clinical carriers atau pembawa penyakit, mungkin selama hidupnya dan carrires tersebut juga bertindak sebagai reservoir virus untuk ikan-ikan lain yang sebelumnya belum terinfeksi. Selain itu masa inkubasi IPN relatif pendek, antara 3-5 hari sebelum tanda klinis dan kematian terjadi. Faktor-faktor seperti umur inang, suhu rendah dan spesies ikan dapat memperpanjang masa inkubasi.

Pada suatu serangan wabah, tanda-tanda pertama adanya kematian mendadak dan biasanya yang terserang pertama kali adalah ikan yang masih muda. Tanda klinis dapat bervariasi antara lain pergerakan lambat, pigmen warna ikan menjadi gelap, bergerak berputar-putar, exopthalmia (mata menonjol), perut membesar dan terdapat cairan visceral, perdarahan di daerah bawah perut/ventral
termasuk di daerah sirip, hati dan limpa pucat dan membesar, serta tidak terdapat makanan dalam perut dan usus biasanya mengandung eksudat mucoid yang berwarna kekuningan atau keputihan. Bentuk infeksi dan morfologi IPN disajikan pada Gambar berikut.

Bentuk infeksi dan morfologi IPN

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Friday, July 12, 2019

Penyakit Virus Pada Ikan : Nervous Necrosis (VNN)

Salah satu virus yang sering menyerang ikan air laut adalah viral nervous necrosis (VNN). Viral nervous necrosis memiliki nama lain, seperti paralytic syndrome, viral encephalophaty and retinopathy, spinning grouper diseases, piscine neurophaty, atau fish encephalitis.

Beberapa organisme yang menjadi host serangan VNN antara lain atlantic
cod (Gadus morhua), atlantic halibut (Hippoglossus hippoglossus), australian bass (Macquaria novemaculata), barfin flounder (Verasper moseri), barramundi (Lates calcarifer), cobia (Rachycentron canadum), common sole (Solea solea), estuary cod (Epinephelus tauvina), european eel (Anguilla anguilla), european seabass (Dicentrarchus labrax), flounders (Paralichthyidae), gilt-head seabream (Sparus aurata), greater amberjack (Seriola dumerili), grouper and estuary cod (Epinephelus spp), humpback grouper (Cromileptes altivelis), japanese flounder (Paralichthys olivaceus), japanese parrotfish (Oplegnathus fasciatus), japanese puffer (Takifugu rubripes), japanese seabass (Lateolabrax japonicus), longtooth grouper (Epinephelus moara), malabar grouper (Epinephelus malabaricus), red drum (Sciaenops ocellatus), red snapper (Lutjanus erythropterus), brown-marbled grouper (Epinephelus fuscoguttatus), shi drum (Umbrina cirrosa), silver trevally (Pseudocaranx dentex), striped trumpeter (Latris lineata), turbot (Psetta maxima), white seabass (Atractoscion nobilis), winter flounder (Pseudopleuronectes americanus), australian catfish (Cnidoglanis macrocephalus), barcoo grunter (Scortum barcoo), golden perch (Macquaria ambigua), macquarie perch (Macquaria australasica), dan sleepy cod (Oxyeleotris lineolatus)

Agen etiologi VNN adalah noda virus, yaitu virus RNA dengan diameter antara 20-25 nm. Penyakit ini paling umum menyerang pada larva ikan umur kurang dari 20 hari. Secara makroskopik penyakit ditandai oleh adanya warna pucat pada hati, saluran pencernaan yang kosong dengan usus berisi cairan kehijauan, dan terdapat spot-spot merah pada limpa. Replikasi virus pada otak, bagian distal sumsun tulang belakang, dan retina mata menimbulkan histologik berupa vakuolisasi. Multiplikasi juga terjadi pada gonad, hati, lambung, dan usus. Serangan VNN yang menyerang larva dan juvenil dapat menyebabkan kematian hingga 95% pada larva dan 30% pada juvenil.

Penularan terjadi secara horizontal melalui kontak antara ikan sakit dengan ikan sehat terjadi selama kurang lebih 4 hari. Selain itu, penularan dapat terjadi secara vertikal terhadap anakan yang diinfeksikan oleh ikan-ikan yang lebih besar sebagai karier. Penularan vertikal dicurigai melalu induk-induk yang positif virus. Bentuk infeksi dan morfologi VNN disajikan pada Gambar berikut.

Bentuk infeksi dan morfologi VNN

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Monday, July 8, 2019

Penyakit Virus Pada Ikan : Yellow Head Virus (YHV)

Penyakit yellow head virus disease awalnya ditemukan di Thailand sekitar tahun 1990 dan kemudian menyebar ke China, Taiwan, Indonesia, Malaysia, dan Philippines sejak tahun 1986. Yellow head virus (YHV) adalah salah satu patogen virulen yang menyerang udang black tiger (Penaeus monodon). Yellow head virus disease disebabkan oleh virus dengan tipe genom single stranded RNA dari Genus Okavirus pada Keluarga Ronaviridae yang menyerang udang L. vannamei, P. monodon, P. stylirostris, P. setiferus, P. aztecus, dan P. duorarum.

Virus YHCD termasuk ke dalam virus (+) ssRNA yang memiliki kemiripan dengan gill-associated virus (GAV) dari Australia, memiliki virion berbentuk batang (bacilliform) dengan envelope yang berukuran sekitar 11 nm dari permukaan, memiliki ukuran panjang antara 150 nm hingga 200 nm dan diameter 40 nm hingga 50 nm, berat molekul virus 16,325.5 Da, memiliki filamentus nucleocapsid berbentuk simetri helilal dengan diameter 20-30 nm, serta terletak di dalam sitoplasma sel yang terinfeksi dan ruang-ruang intersellular.

Bentuk serangan YHVD adalah tampak perubahan warna pada tubuh insang, dan hepatopankreas, yaitu menjadi putih pucat dan kekuningan yang mulai tampak antara 50 sampai 70 hari setelah penebaran udang di tambak. Selain itu, cephalothorax tampak kuning dan warna tubuh menjadi agak putih, pencernaan melunak, serta nafsu makan udang meningkat pada beberapa hari dan kemudian berhenti pada hari-hari selanjutnya. Transmisi penyakit terjadi secara horizontal dan vertikal melalui organisme yang terinfeksi, seperti udang dan jenis crustacea lainnya. Lokus yang ditargetkan oleh virus ini adalah jaringan ektodermal dan mesodermal, meliputi organ lymphoid, haemocyte, jaringan haematopoietic, lamellae insang, usus, kelenjar antennal, gonad, dan syaraf. Bentuk infeksi dan morfologi YHVD disajikan pada Gambar berikut.

Bentuk infeksi dan morfologi YHVD

Penyebab : Yellow Head Virus (YHD), corona-like RNA virus (genus Okavirus, family Ronaviridae dan ordo Nidovirales)

Bio – Ekoloi Patogen :

  1. Krustase yang sensitif terhadap infeksi virus ini antara lain: Penaeus monodon, P. merguensis, P. semisulcatus, Metapenaeus ensis, Litopenaeus vannamei, dll. Udang windu merupakan jenis udang yang sangat sensitif, pada kasus akut dapat mengakibatkan kematian hingga 100% dalam tempo 3-5 hari sejak pertama kali gejala klinis muncul.
  2. Penularan terjadi secara horizontal melalui air atau kanibalisme terhadap udang yang sedang sakit atau pakan yang terinfeksi virus.
  3. Post larvae (PL) udang windu berumur < 15 hari relatif resisten terhadap infeksi virus ini dibandingkan dengan PL yang berumur 20-25 hari atau juvenil.
  4. Secara molekuler (sequencing DNA) dari produk reversetranscription polymerase chain reaction (RT-PCR) virus yellow head memiliki kemiripan dengan gill-associated virus (GAV), meskipun berbeda jenis atau strain.

Gejala Klinis :

  1. Juvenil udang berukuran antara 5-15 gram memiliki nafsu makan yang tinggi (abnormal) selama beberapa hari, untuk selanjutnya berhenti (menolak) makan secara tiba-tiba.
  2. Sekitar 3 hari setelah menolak makan, mulai terjadi kematian massal
  3. Udang yang sekarat berkumpul di dekat permukaan air atau ke sisi pematang kolam/tambak
  4. Insang berwarna putih, kuning atau coklat
  5. Cephalothorax berwarna kekuningan, sedangkan bagian tubuh lain berwarna pucat.
  6. Penyakit ini dapat menimbulkan kematian massal dalam waktu 2-4 hari
Diagnosa :
Polymerase Chain Reaction (PCR)


Pengendalian :

  1. Gunakan benur yang benar-benar bebas YHV/SPF
  2. Menjaga status kesehatan udang agar selalu prima melalui pemberian pakan yang tepat jumlah dan mutu.
  3. Menjaga kualitas lingkungan budidaya agar tidak menimbulkan stress bagi udang Lakukan pemanenan di tambak/kolam pada saat terjadinya serangan penyakit, pemanenan dini tidak dapat mengurangi tetapi hanya mengeliminasi kerugian ekonomi.


Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Friday, July 5, 2019

Penyakit Virus Pada Ikan : White Spot Syndrome Virus (WSSV)

White syndrome disease dikenal juga dengan nama white spot disease (WSD) merupakan penyakit menular akibat virus yang menyerang udang jenis Penaeid. Penyakit lain yang juga sering ditemukan pada udang adalah penyakit yang disebabkan oleh adanya infeksi hepatopancreatic parvovirus (HPV) dan monodon baculovirus (MBV). Berkenaan dengan infeksi virus WSSV, beberapa jenis udang Penaeid yang dibudidayakan dapat menjadi inang bagi WSSV, yaitu P. monodon, Marsupenaeus, L. vannamei, dan Fenneropenaeus. Beberapa jenis crustacea lainnya seperti rajungan (Portunus spp), lobster (Panulirus spp dan Cherax spp), kepiting (Scylla spp), serta udang air tawar (Macrobrachium spp) juga dapat terinfeksi WSSV.

Penyakit ini disebabkan oleh white spot syndrome virus (WSSV), yaitu suatu jenis virus yang memiliki envelope, berbentuk batang (rod) yang mengandung double-stranded DNA genom. Virus WSSV dikelompokkan ke dalam anggota Keluarga Nimaviridae. Virus ini menginfeksi berbagai jenis
crustacean, khususnya udang. Udang yang terkena penyakit ini memiliki gejala klinis, yaitu munculnya bintik-bintik putih berdiameter 0.5-2.0 mm, perubahan warna menjadi kemerahan, dan pelepasan kutikula udang. Luka sering dijadikan indikasi kerusakan sistemik jaringan ektodermal dan mesodermal, termasuk jaringan haemopoietic, insang, epitelium subkutikula, epidermis kutikula perut, dan organ lymphoid. Indikasi terinfeksinya jaringan ditunjukkan oleh adanya titik nekrosis yang tersebar dan sel-sel yang terdegenerasi diitandai dengan adanya inti-inti yang mengalami hiperthrophy (membesar) dengan kromatin yang terpinggirkan, inklusi intranuklear eosinofil sampai basofil, dan enkapsulasi hemosit dari sel nekrosis terlihat sebagai massa berwarna coklat di dalam perut. Bentuk infeksi dan morfologi WSSV dapat dilihat pada Gambar 25.

Bentuk infeksi dan morfologi wssv

Penyebab : White Spot Baculovirus Complex

Bio – Ekologi Patogen :
  1. Memiliki kisaran inang yang luas yaitu golongan udang penaeid (Penaeus monodon, P. japonicus, P. chinensis, P. indicus, Litopenaeus vannamei, dll.) serta beberapa krustase air.
  2. Sangat virulen dan menyebabkan kematian hingga 100% dalam beberapa hari. Individu yang bertahan hidup pada saat terjadi kasus tetap berpotensi sebagai carrier.

Penularan umumnya terjadi melalui kanibalisme terhadap udang yang sakit dan mati, atau langsung melalui air. Beberapa jenis krustase juga diketahui sangat potensial sebagai pembawa (carriers).
  1. Burung dapat menularkan WSSV dari satu petak tambak ke petak lainnya melalui bangkai udang yang lepas dari gigitannya.
  2. WSSV mampu bertahan dan tetap infektif di luar inang (di dalam air) selama 4-7 hari.

Gejala Klinis :
  1. Infeksi akut akan mengakibatkan penurunan konsumsi pakan secara drastic
  2. Lemah, berenang ke permukaan air, tidak tidak terarah atau mengarah ke pematang tambak
  3. Tampak bercak putih di karapas dan rostrum, tidak selalu tampak pada fase acute tetapi akan tampak pada fase subacute dan kronis
  4. Udang yang sekarat umumnya berwarna merah kecoklatan atau pink
  5. Populasi udang dengan gejala-gejala tersebut umumnya akan mengalami laju kematian yang tinggi hingga 100% dalam tempo 3-10 hari.

Diagnosa :
Polymerase Chain Raection (PCR)

Udang windu yang terinfeksi white spot syndrome virus (WSSV),
tampak adanya bercak putih di seluruh tubuhnya

Karapas udang vannamei yang terinfeksi white spot syndrome virus
(WSSV), penuh dengan bercak putih

Pengendalian :
  1. Belum ada teknik pengobatan yang efektif, oleh karena itu penerapan biosecurity total selama proses produksi (a.l penggunaan benur bebas WSSV, pemberian pakan yang tepat jumlah dan mutu, stabilitas kuialitas lingkungan) sangat dianjurkan.
  2. Menjaga kualitas lingkungan budidaya agar tidak menimbulkan stress bagi udang (misalnya aplikasi mikroba esensial: probiotik, bacterial flock, dll.).
  3. Desinfeksi suplai air dan pencucian dan/atau desinfeksi telur dan nauplius juga dapat mencegah transmisi vertikal
  4. Pemberian unsur imunostimulan (misalnya suplementasi vitamin C pada pakan) selama proses pemeliharaan udang.
  5. Teknik polikultur udang dengan spesies ikan (mis: tilapia) dapat dilakukan untuk membatasi tingkat patogenitas virus WSSV dalam tambak, karena ikan akan memakan udang terinfeksi sebelum terjadi kanibalisme oleh udang lainnya.

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...

Monday, July 1, 2019

Penyakit Virus Pada Ikan : Lymphocystis Virus

Penyakit lymphocystis disebabkan oleh virus Iridovirus yang merupakan virus DNA. Virus lymphocystis berbentuk partikel berbidang banyak dengan sekitar 0,13-0,26 ┬Ám dan terdiri dari inti DNA yang dibungkus oleh lapisan protein. Virus ini umumnya menyerang ikan yang hidup di perairan payau dan laut. Akan tetapi, virus ini juga dapat dijumpai pada beberapa jenis air tawar, meskipun aktivitas serangannya relatif tidak berbahaya dibandingkan dengan pada kondisi lingkungan asin.

Virus ini menyebabkan hypertrophy (penebalan) dari sel-sel jaringan ikat, menimbulkan tonjolan pada daerah sirip atau kulit (nodul) yang dapat terjadi secara satu-satu atau kelompok. Infeksi pada ikan yang terserang menyebabkan tumbuhnya sel jaringan. Sel yang tumbuh dikenal dengan nama lymphocystis menyerupai butiran sagu, kemudian sel tersebut membentuk tumor pada kulit dan sirip. Infeksi iridovirus penyebab limfosistis terjadi melalui kerusakan jaringan epidermal dan selanjutnya menyerang fibroblas kulit. Tinjauan histopatologi pada iridovirus limfosistis menunjukkan bahwa fibroblas mengalami pembesaarn (cytomegaly) dan mengandung partikel-partikel basofilik pada sitoplasma dan kapsul hialin yang tebal. Bentuk serangan virus ini pada beragam spesies ikan air laut maupun ikan air tawar, misalnya viral erythrocytic necrosis pada ikan salmonid atau penyakit limposistis (lymphocystis), yaitu kerusakan kulit pada ikan. Iridovirus juga ditemukan pada ikan hias (Carassius auratus), pada ikan gurami ditemukan di limpa dan jaringan intestinal ikan yang sakit dengan tandatanda penyakit sistematik. Tingkat ikan yang terinfeksi rendah (0,5-10%) hingga sedang (50%) dan biasanya kematian berlangsung dalam 24-48 jam. Bentuk infeksi dan morfologi virus lymphocystis disajikan pada Gambar berikut.
Bentuk infeksi dan morfologi virus lymphocystis 

Sumber : Penyakit Akuatik. Andri Kurniawan; Buku Saku Penyakit Ikan. DJPB

Semoga Bermanfaat...